Fathul Ghaib

Penutup

Penutup

Wasiat Syeikh kepada putra-putranya
Kala sang wali menghadapi sakaratul maut, puteranya, Abdul Wahab berkata kepadanya, “Apa yang mesti kulakukan sepeninggal ayah?” “Kamu mesti takut kepada-Nya, jangan takut kepada selain-Nya, jangan berharap kepada selain-Nya, dan berpasrahlah hanya kepada-Nya,” jawabnya.
Selanjutnya beliau berkata, “Ketika hati sudah bersama Allah, maka tidak akan sunyi dari segala sesuatu, dan tidak akan keluar darinya segala sesuatu.
Selanjutnya beliau berkata, “Aku adalah biji tak berkulit.
beliau berkata, “Menjauhlah dari sekelilingku, karena pada lahirnya aku bersama kalian. tapi pada batinnya aku bersama selain kalian.
beliau berkata, “Orang lain telah datang kepadaku; berilah mereka tempat dan hormatilah mereka. Inilah manfaat nan besar. Jangan membuat tempat ini penuh sesak dengan ini.
 beliau berkata, “Alaikum salam wa rahmatullohi wabarokatuh (Atas mu kedamaian, kasih dan rahmat Allah). Semoga Dia melmengampuniku dan kamu, dan menerima taubatku dan kamu. Ku mulai senantiasa dengan asma Allah.”
Ia terus berkata begini satu hari satu malam,
beliau berkata, “Celakalah kau, aku tak takut sesuatu pun, baik malaikat mahupun malakul maut. Duhai malakul maut! Bukanlah kau, tapi sahabatku yang bermurah kepadaku.”
Lantas pada malam kewafatannya, ia memekik keras,
dan kata kedua puteranya,Syeikh  Abdur-Razaq dan Syeikh Musa, dia mengangkat dan merentangkan kedua tangannya lalu berkata, “Wa alaikum salam wa rohmatullohi wabarokatuh(Atasmu kedamaian, kasih dan rahmat Allah). Bertaubatlah dan ikutilah jalan ini. Kini aku datang kepadamu.”Dia berkata, “Tunggu”. Dan, meninggallah dia. Beliau berkata, ” Antara aku, kau dan ciptaan-Nya hanya ada Dia, sebagaimana antara langit dan bumi. Maka, jangan memandangku sebagai mereka, jangan pula memandang mereka sebagai aku.Bertanyalah Abdul Aziz, puteranya, kepadanya tentang keadaannya. “Hendaknya jangan bertanya kepadaku tentang sesuatu pun. Aku sedang mengalami perubahan ma’rifat,” jawabnya.Selanjutnya dikatakan, Abdul Aziz bertanya kepadanya tentang penyakitnya. “Tak satu insan pun, tak satu jin pun, tak satu malaikat pun tahu penyakitku. Pengetahuan-Nya tak terhapus oleh perintah-Nya. Perintah berubah, sedang pengetahuan tak berubah. Allah berfirman “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh). (ar-Ro’du 39)
“Dia tak ditanya tentang yang dilakukan-Nya, tapi merekalah yang ditanya.” (QS.21:23)Puteranya, Abdul Jabbar, bertanya kepadanya, “Mana yang sakit?” “Sekujur tubuhku sakit, kecuali hatiku,” jawabnya.Ia berkata, “Aku mencari pertolongan Allah dengan, ‘Tiada sesembahan selain Dia, Maha agung, Maha mulia lagi Maha abadi Dia, dan Muhammad adalah Rasul-Nya.”Puteranya,  Syeikh Musa, berkata bahawa ia berupaya mengucapkan kata Taazzaza, tapi lidahnya tak mampu mengucapkannya dengan benar. Maka, dia ulang-ulang kata Taazzaza ini, diperpanjangnya bunyinya dan ditekannya, sehingga ia bisa mengucapkannya dengan benar. Lalu ia berkata, “Allah, Allah, Allah,” suaranya melemah, lidahnya melekat pada langit-langit mulut, dan pergilah jiwa mulianya dari jasadnya -redha Allah atasnya.Semoga Dia menganugerahi kita dan semua Muslim husnul khatimah, dan semoga Dia memampukan kita menjadi saleh. Amin! Amin! Amin!

Diterbitkan oleh NUN78

Adalah sarana Pengetahuan tentang Agama, serta aspek kehidupan yang bisa membekali diri, sehingga diharapkan mampu menjadi pribadi yang Bertaqwa

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai