“Bahkan andai dia, Ustman bin Affan hendak menyalibku. Aku patuh dan taati maunya. Aku bersabar dan sadarkan diri. Aku meyakini itu sebaik-baiknya bagiku.
Padahal kita tahu dari pemberitaan sejarah (Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Peri hidup 60 Sahabat Rasulullah. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Mahyuddin Syaf, dkk).
Utsman “membuang”Abi Dzar ke tanah gersang. Sepi. Tanpa Tuan. Memuaskan nafsu ketidaksukaan sang sepupu. Bisikan anak pamannya. Muawiyah bin Abu Sufyan. Sepupu Utsman bin Affan.
Yel-yel Abi Dzar kesohor hingga pelosok negeri. Sebuah kalimat peringatan sekaligus perlawanan.”Wahai para penumpuk harta. Ingatlah pada adzab yang akan menyetrika kening hingga pinggangmu. Alat setrika neraka memerahkan sekujur tubuhmu.”
Gubahan. Lirik yang dilagukan seolah jadi fatwa sang Prabu Revolusi. Dimanapun kaki Abi Dzar menjejak. Yel-yel “setrika neraka untuk penumpuk harta ” sontak menyorak, bersama perlawanan rakyat setempat. Perlawanan massa kasta dasar.
Masyarakat yang kelewat muak. Pengalang harta negara. Mereka yang menggunakannya secara istimewa. Sema-mena.
Di Suriah saat Abu Dzar menemui Gubernur Muawiyah. Dia bilang “ bandingkan rumahmu di Mekkah dengan istana ini. Wahai putra Sufyan. Jika kau bangun istana ini dari uang rakyat. Kamu dholim. Jika asal uang adalah dana pribadi. Kamu teman setan. Pemboros. Wahai orang-orang penumpuk harta. Ingatlah tentang sebuah adzab Allah yang akan menyetrika kening hingga pinggang. Menyetrika sekujur tubuhmu hingga memerah sewarna neraka.”
Muawiyah terkesima mendengarnya. Tanpa bisa berkata-kata. Terpanah peringatan. Ujung panah telak. Menancap menembus jantung. Sayang Muawiyah tetap sombong. Tidak suka makan peringatan. Apalagi datang dari sang gembara. Mantan Penyamun.
Kemudian.
Gubernur Suriah itu menyurati sepupunya. Ustman bin Affan. Amirulmukminin di Madinah.
“Abi Dzar telah merusak moral orang-orang Suriah. Panggil dia. Tarik pulang ke Madinah,” kata Muawiyah memerintah sepupunya yang perasa. Tua. Renta.
Abi Dzar berkemas. Menyingsingkan celana. Menghadap Utsman ke Madinah. Sesampainya di Madinah Utsman mengisolasi Abi Dzar ke Rabzah. Tanah tanpa kehidupan. Hanya dikelilingi kesepian. Sepanjang mata memandang.
Abi Dzar dibuang. Sendirian. Ketika keluarga, anak, dan istrinya berdiam di Suriah.
Dia menyadari pengusiran adalah jalan takdir.
Lalu dia kata.“Inilah kebenaran ucapan Rasul.”
“Rasul mengatakan apa, padamu ?” kata Ustman“Kamu akan diusir ke Rabzah. Dan mati sana. Jenazahmu akan diurus kafilah Irak yang lewat menuju Hijaz.”
Sebelum Abi Dzar duduk di kendaraan. Di punguk unta. Unta yang disiapkan Ustman. Ali Bin Abi Thalib menitah anak-anaknya menyalami Abi Dzar. Mengucapkan salam perpisahan. Mereka sadar itu pertemuan pamungkas. Dikemudian hari Utsman melarang siapa saja menemui Abi Dzar di pengasingan.
Ali berkata.
“Jangan Khawatir Saudaraku. Hanya orang tamak, serakah, dan hubbuddunya takut padamu. Engkau tidak takut pada mereka karena imanmu. Sampai tiba saat, mereka membuangmu.
Abu Dzar. Setiap jenis masalah datang pada dia yang salih. Tapi ingatlah bahwa Allah merancang sarana pembebasan luar biasa. Tidak ada yang bisa memberimu penghiburan kecuali ‘kebenaran’. ‘Kebenaran’ jadi temanmu memecah kesepian. Saya tahu bahwa engkau sangat terganggu dengan adanya ketidakbenaran. Dan (sekarang) itu tidak bisa lagi mendekatimu.”
Kemudian Ali menyuruh anak-anaknya mengucapkan selamat tinggal kepada Abu Dzar.
Hasan bin Ali menyesali perpisahan dengan Abi Dzar Al-Ghifari, dia berkata, “wahai Paman tersayang. Semoga Allah mengasihimu. Kami melihat apa yang sedang dilakukan kepadamu. Hati kami terbakar. Jangan khawatir. Allah menuntunmu. Wahai paman! Bersabarlah melewati bencana ini. Sampai tiba waktunya engkau bertemu Kakekku. Dia pasti bahagia untukmu.”
Kemudian Husain bin Ali berkata, “Wahai Paman, orang-orang telah membuat hidupmu menderita. Tentu saja engkau tidak peduli. Biarkan dunia memisahi-mu. Cepat atau lambat. Paman jangan risau. Allah pemilik kuasa segala hal. Dia akan hapus setiap masalahmu. Di mana pun engkau ada. Kemuliaan-Nya luar biasa.
Dan Abi Dzar bergerak. Memacu kekang kudanya menuju Rabzah. Rabzah sebuah padang pasir sunyi lagi sepi. Sejarawan berpendapat bahwa jarak Madinah ke Rabzah hanya sekitar lima kilometer (5 km).
Rabzah terletak dekat Zate Araq. Sebuah tempat yang akan dilewati setiap kafilah menuju Hijaz. Jangan bandingkan dengan masa sekarang. Pada waktu itu Rabzah adalah sebuah tempat tidak berpenghuni. Sangat terpencil. Di sana hanya ada kehidupan sepi dan alam liar itu sendiri.
Di pengasingan Rabzah. Teman panjang Abi Dzar adalah kesunyian gurun. Sesekali singgah kafilah lewat. Di sana sang putra suku Ghifar itu mendirikan sebuah masjid. Yang sekarang diziarahi jamah haji sebagai masjid Abi Dzar Al-Ghifari.eseorang bertanya keadaan Abi Dzar. Tentang keputusan yang mengenaskan.
Abi Dzar menjawab. Gundah namun tegar.
“Saya pikir Suriah adalah tempat tinggal. Di sana banyak orang menghajatkan ilmu dan fatwa. Namun Muawiyah terganggu dan menyuruh saya pulang ke Madinah. Di Madinah saya pikir akan hidup tenteram di kota Nabi. Sayang, Utsman membuang saya ke Rabzah. Tempat yang tidak boleh ada kontak manusia kepada saya.”
Kondisi Politik Zaman Ustman Bin Affan
Utsman bin Affan berkata kepada Ali bin Abu Thalib. ‘Seperti engkau tahu bahwa Umar mengangkat Muawiyah jadi gubernur selama masa pemerintahannya. Maka patutkah disalahkan jika aku mengangkatnya juga?’ Ali menjawab, ‘Tetapi tahukah engkau? Bahwa takutnya Muawiyah kepada Umar lebih besar daripada takutnya budak kepada Umar.’”
“Itu benar!” ujar Utsman.
“Nah, orang ini (Muawiyah) telah memutuskan sendiri urusan-urusan tanpa merundingkan lebih dahulu denganmu. Dan engkau diam saja. “
Sampai wafat Utsman tidak pernah memberhentikan Muawiyah.
Di kesempatan lain Ali r.a, juga mengingatkan Utsman. Saat itu…
“Mengapa disalahkan jika aku mengangkat Ibnu Amir ( kerabat utsman— padahal lebih banyak kelebihan Mughirah dibanding Ibu Amir) ?”
“Baiklah aku terangkan,” kata Ali. “Jika Umar mengangkat seorang pejabat. Dipegangnya kepala orang itu. Dicucuk hidungnya. Dan jika terdengar telinga Umar, pejabatnya berbuat kesalahan. Saat itu juga ditariknya hidung pejabat itu dan dibentaknya sejadi-jadinya. Tetapi engkau tidak melakukan itu. Sikapmu lembek. Terlalu baik hati pada kerabatmu sendiri.
“Bukankah mereka juga kaum kerabatmu, Ali?” Jawab Utsman.
“Tidak salah. Tapi kebaikan dan keutamaan. Mereka tidak punya.
Berbeda dari Ali yang tegas dan sederhana. Utsman adalah pribadi lembut juga perasa.
Alih jabatan gubernur dimonopoli kerabat. Utsman berdalih keluarga sendiri layak dipercaya (meski tidak mampu/non skill). Mereka bisa diandalkan dan sanggup melindungi. Ini memicu pemberontakan di tingkat masyarakat akar rumput. Mereka menantang pemerintahan Utsman bin Affan.
Terhadap situasi tersebut, Ali bin Abu Thalib memberi masukan. Ali berpendapat bahwa Thulaqa (orang-orang yang dibebaskan = narapidana ; red) tidak berhak jadi seorang gubernur. Apalagi orang-orang cacat (punya catatan hitam). Itu kelemahan. Baik sebelum maupun setelah memeluk Islam.
Penggantian pejabat negara itu wajar. Asal sesuai dan adil. Kalau ada orang-orang berniat buruk memanfaatkan situasi. Pihak pembela kebenaran jangan diam. Beri nasihat pada penguasa.
Menurut Ali Bin Abi Thalib kriteria pengangkatan seorang gubernur adalah ketakwaannya. Takwa lebih penting ketimbang mampu. Dan jujur lebih berharga dari sekedar pandai. Jangan biarkan ummat tersesat lebih jauh. Kebenaran ucapan Ali ini. Peristiwa yang dikemudian hari terbukti.
Mengenai harta, lain lagi pandangan mereka. Terhadap kaum muslimin yang gemar menumpuk harta, Baik Umar Bin Khatab maupun Utsman bin Affan memiliki kesamaan pandangan. Harta akan membahayakan ummat yang mengabdi pada dakwah dan jihad. Makna “bahaya”keduanya berbeda tafsir.
Bagi Umar apalagi harta haram, yang halal saja perlu dibatasi. (dalam urusan bersenang-senang). Sedang Utsman menganggap boleh dinikmati sepanjang memerlancar urusan.
Selama menjabat Gubernur Suriah. Muawiyah melakukan perilaku menghambur harta negara. Seenaknya. Bagi-bagi pada pejabat dan tokoh masyarakat. Politik anggaran sejak dini disiapkan. Tujuannya membulatkan dukungan. demi sebuah kekuasaan yang dirindukan.
Abi Dzar Al-Ghifari, dari suku Ghifar ( salah satu suku yang gemar merampok) adalah seorang tokoh gerakan hidup sederhana. Abi Dzar melakukan dakwah “Face to Face”pada penguasa. Itu juga dilakukan pada Gubernur Suriah Muawiyah.
Menurutnya harta adalah amanah yang harus dikeluarkan hati-hati. Sekedarnya saja.
Namun ketika Abi Dzar di tanya Rasulullah :
“Apa yang kamu lakukan terhadap penguasa penumpuk harta ?”
“Saya akan tebang batang lehernya.”
“Itu baik. Jika kamu bersabar. Itu lebih baik.”
Mendengar jawaban Rasulullah, Abi Dzar yang sangar dan radikal tersentuh. Dia menyarungkan kilau pedang. Kilat tajam yang dipegangnya.
Pada masa awal pemerintahan islam di Madinah. Abi Dzar datang sendirian menghadap Rasulullah. Kemudian ke Mekkah dan menyatakan keislamannya secara terbuka di depan ka’bah—dia mengundang bahaya. Dipukuli massa pro berhala.
Tugas penting Abi Dzar setelah islam adalah perintah Rasulullah. Pulang. Berdakwah pada orang-orang sukunya. Beberapa waktu setelah tugas tersebut.
Sekumpulan pasukan bak barisan perang menunggu nabi di mulut kota Madinah. Andai mereka tidak meneriakkan takbir. Nabi dan ummat islam menduga itu adalah serangan. Rombongan musuh yang marah.
Pimpinan rombongan itu bukan orang asing Melihat wajah Abi Dzar, Nabi tersenyum dan mengatakan Suku Ghifar telah dighaffar (diampuni ) oleh Allah Taala.
***
Pada akhir kisah. Saat ajal menjemput Abi Dzar yang sekarat di gurun Rabzah.
Istrinya menangis sambil tangan mereka menaut erat.
“Mengapa engkau menangis ?” katanya memandang jauh ke sumber airmata sang istri.
“Aku telah melalui masa panjang hingga pemerintahan Muawiyah. Lihatnya para sahabat Nabi. Sekarang tinggal aku seorang. Sebentar lagi ajalku tiba. Tunggulah di sini. Bersabarlah hingga jenazahku diurus kafilah dari Irak yang lewat menuju Hijaz.” (***)
