Pengertian Pemimpin Diktator dalam Pandangan Islam

Setelah keruntuhan Khilafah di Turki tahun 1924, umat Islam di seluruh dunia dipimpin oleh para pemimpin diktator (al-mulk al-jabri). Rezim diktator ini merupakan fase sekaligus model keempat dari sistem pemerintahan yang di-nubuwat-kan 14 abad lalu oleh Nabi saw. bakal memimpin umat. Beliau bersabda: تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَLanjutkan membaca “Pengertian Pemimpin Diktator dalam Pandangan Islam”

Harta bisa menjadikan manusia memiliki 5 Sifat yg tercela

Dalam Islam, harta merupakan bagian penting yang tidak dipisahkan dan selalu diupayakan oleh manusia dalam kehidupannya. Menurut syariat sendiri harta adalah segala sesuatu yang bernilai, bisa dimiliki, dikuasai, dimanfaatkan yang menurut syariat yang berupa (benda dan manfaatnya). Harta dalam bahasa Arab disebut al-maal yang berasal dari kata مَالَ – يَمِيْلُ – مَيْلاَ yang berarti condong atau cenderung. Al-Qur’an menyebut kata al-maal (harta) tidakLanjutkan membaca “Harta bisa menjadikan manusia memiliki 5 Sifat yg tercela”

Risalah Al Muawwanah#42

Tata Cara Makan dan Minum وإذا أكلت أو شربت فابدأ باسم الله واختم بالحمد لله، وكل واشرب بيمينك، وإذا قدم إليك طعام فقل: اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وأطعمنا خيراً منه إلا أن يكون لبناً فقل: وزدنا منه فإنه لا شيء خير منه كما ورد. Makan dan Minum Bacalah basmalah sebelum makan atau minum, sertaLanjutkan membaca “Risalah Al Muawwanah#42”

Risalah Al Muawwanah#41

Tata Cara Tidur وإذا أردت النوم وإذا أردت النوم فاضطجع على جنبك الأيمن مستقبلاً للقبلة تائباً من جميع الذنوب عازماً على قيام الليل قائلاً: باسمك اللهم ربي وضعت جنبي وباسمك أرفعه فاغفر لي ذنبي، اللهم قني عذابك يوم تجمع عبادك “ثلاثاً” أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه “ثلاثاً” وقل:Lanjutkan membaca “Risalah Al Muawwanah#41”

Risalah Al Muawwanah#40

Cara Duduk Nabi Saw (وعليك) إذا جلست بالتحفظ على عورتك واجلس مستقبلاً القبلة على هيئة الخشوع والوقار ولا تكثر الاضطراب والتحرك والقيام من مجلسك. (وإياك) والإكثار من الحك والتمطط والتجشؤ والتثاؤب في وجوه الناس وإذا أخذك التثاؤب فضع يدك اليسرى على فيك. (وإياك) وكثرة الضحك فإنه يميت القلب وإن استطعت أن تجعل ضحكك التبسم فافعل،Lanjutkan membaca “Risalah Al Muawwanah#40”

Risalah Al Muawwanah#39

Jangan Melangkah kecuali ke arah Kebaikan (وعليك) أن لا تنقل قدميك إلا إلى خير أو في حاجة، وإذا مشيت فلا تستعجل، ولا تختال في مشيتك ولا تتبختر فتسقط بذلك من عين الله، ولا تكره أن يمشى أمامك ولا تحب أن يوطأ عقبك ويمشى خلفك فإن ذلك من أخلاق المتكبرين، ولا تكثر الالتفات وأنت تمشي ولاLanjutkan membaca “Risalah Al Muawwanah#39”

Nasihat Ulama

“Marahilah dirimu sendiri, karena malas bergaul dan mengabaikan orang-orang yang ta’at kepada Allah, karena engkau menyangka, kekuasaan yang engkau miliki, akan menyelamatkanmu di dunia dan akhirat.” Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki (93-197 H /712-798 M), mengirim surat kepada Sultan Harun Ar Rasyid, raja Bani Abassiyah kelima (170-193 H/786-809 M). Surat itu berisi nasihatLanjutkan membaca “Nasihat Ulama”

10 Ulama Salaf dalam Kriminalisasi

DALAM dinamika sejarah, kriminalisasi ulama bukanlah hal baru. Ada banyak ulama yang demi kebenaran, berani mengkritik penguasa. Mereka ini ulama-ulama lurus yang tidak silau dengan iming-iming penguasa dan kepentingan duniawi. Yang benar akan dikatakan benar; dan yang salah akan dikatakan salah. Hadits nabi mengenai keutamaan jihad kepada penguasa yang lalim dan tiran dipegang dengan baik olehLanjutkan membaca “10 Ulama Salaf dalam Kriminalisasi”

Sikap Imam Madzhab yg Empat terhadap para Penguasa

DALAM buku “Biografi Imam Syafi’i: Untold Story, Imam Syafi’i & Kitab-Kitabnya” (2016: 1-2), Ahmad Baihaqi menyebut dengan cukup lugas bagaimana sikap politik Imam Empat Madzhab, khususnya interaksi mereka dengan penguasa. Pada galibnya, mereka adalah sosok yang menjaga jarak dari penguasa. Imam Abu Hanifah (80-150 H/ 699-767) misalnya, beliau adalah sosok ulama yang tidak mau dekat-dekat denganLanjutkan membaca “Sikap Imam Madzhab yg Empat terhadap para Penguasa”

Risalah Al Muawwanah#38

Jauhi Ghibah, Namimah, adu domba, senda gurau dan setiap pembicaraan yg tidak bersusila (وإياك) والغيبةَ والنميمة والإكثارَ من المزاح، واجتنب سائر الكلام القبيح، وأمسك عن رديء الكلام كما تمسك عن مذمومه، وتفكر فيما تقول قبل أن تقول فإن كان خيراً فقل وإلا فاصمت. وقال عليه الصلاة والسلام: “كل كلام ابن آدم عليه لا له إلاLanjutkan membaca “Risalah Al Muawwanah#38”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai