Bagian #71 Risalah 71 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Kau tentu berada dalam salah satu dari kedua hal ini: pengupaya atau yang diupayakan. Bila kau seorang pengupaya, maka kau terbebani dan penanggung beban yang memikul segala yang sulit dan berat. Hal ini dikeranakan kau adalah seorang pengupaya. Seorang pengupaya mesti bekerja keras dan disalahkan,Lanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Arsip Kategori: Tidak Dikategorikan
Fathul Ghaib
Bagian #70 Risalah 70 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Bagaimana baik bagimu berbangga akan kebajikanmu, padahal kau mengatakan bahawa hal ini berasal dari kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah, melalui pertolongan, daya, kehendak dan kurnia-kurnia-Nya? Begitu pula dengan pencampakan dosa, hal ini dikeranakan oleh perlindungan dan pertolongan dari-Nya. Bagaimana kau bisa tak bersyukur atas halLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #69 Risalah 69 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Bagaimana baik bagimu berbangga akan kebajikanmu, padahal kau mengatakan bahawa hal ini berasal dari kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah, melalui pertolongan, daya, kehendak dan kurnia-kurnia-Nya? Begitu pula dengan pencampakan dosa, hal ini dikeranakan oleh perlindungan dan pertolongan dari-Nya. Bagaimana kau bisa tak bersyukur atas halLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #68 Risalah 68 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Bila Allah mengabulkan dia hamba-Nya dan memberinya yang dimintanya, maksud-Nya sendiri, dengan demikian, tak terpatahkan dan telah diketahui-Nya sebelumnya. Tapi, doa itu sesuai dengan kehendak Allah dan terjadi pada saat yang telah ditentukan-Nya. Nah, diterimanya dia dan dipenuhinya kebutuhan, terjadi pada saat yang telah ditentukan,Lanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #67 Risalah 67 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Bila kau bertanya melawan dan berhasil mengatasi diri, maka Allah membangkitkannya kembali, dan ia menuntut darimu pemuasan keinginan, baik yang diharamkan mahupun yang dihalalkan, hingga kau berupaya lagi mengatasi diri, sampai pahala tertulis bagimu begitu kau berupaya kembali. Inilah makna sabda Nabi saw:“Kita telah kembaliLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #66 Risalah 66 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Jangan berkata: “Aku tak mahu memohon sesuatu kepada Allah, sebab bila yang kumohon itu telah ditentukan bagiku, tentu akan datang kepadaku, entah diminta atau tidak. Bila hal itu bukan bahagianku, Dia takkan memberikannya kepadaku, walau kuminta.” Jangan. Mintalah kepada-Nya segala yang kau inginkan, asalkan yangLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #65 Risalah 65 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Kenapa marah kepada Tuhan, karena do’a-do’a belum dikabulkan? Kau bilang bahwa tak boleh meminta kepada orang, dan diperintahkan meminta kepada-Nya, tapi permohonanmu kepada-Nya tak dikabulkan-Nya. Jawabku: Bebas atau terikatkah engkau? Jika kau berkata bahawa kau seorang bebas, berarti kau tidak beriman. Jika kau bilang bahawaLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #64 Risalah 64 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Suatu hari, suatu masalah mengusik benakku Jiwaku tertekan. Kuberkata: “Aku menginginkan kematian, yang di dalamnya tiada kehidupan, dan kehidupan, yang di dalamnya tiada kematian.”Aku ditanya, kematian apakah yang di dalamnya tiada kehidupan, dan kehidupan apakah yang didalamnya tiada kematian yang tiada memiliki kehidupan ialah kematiankuLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #63 Risalah 63 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Kuberkata dalam mimpi: “Wahai yang menyekutukan Tuhan di dalam benak dengan diri sendiri, dalam sikap lahiriah dengan ciptaan-Nya, dan dalam tindakan dengan nafsu!” Bertanyalah seorang di sampingku, “Pernyataan apakah ini?” “Itulah suatu pengetahuan ruhani,” jawabku.
Fathul Ghaib
Bagian #62 Risalah 62 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Sungguh aneh, kenapa sering berkata, si fulan dekat kepada Allah, si fulan di anugerahi, si fulan menjadi kaya, si fulan menjadi miskin, si fulan senantiasa sehat, si fulan sakit, si fulan mulia, si fulan hina, si fulan terpuji, si fulan tercela, si fulan terpercaya danLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
