Bagian #52 Risalah 52 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Allah menguji sekelompok mukmin yang menjadi khalifah-khalifah-Nya dan yang memiliki ilmu ruhani, agar mereka berdoa kepadanya, dan Dia senang menerima doa-doa mereka. Bila mereka berdoa, Ia senang menerima doa mereka, agar bisa Ia anugerahi kemurahan haknya, sebab ia memohon kepada Allah Yang Maha perkasa lagiLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Arsip Kategori: Tidak Dikategorikan
Fathul Ghaib
Bagian #51 Risalah 51 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Orang soleh menerima pahala dua kali lipat. Pertama, karena penolakannya akan dunia/zuhud, sehingga ia tak terpesona olehnya, bertentangan dengan nafsunya, dan memenuhi perintah Allah, sehingga ia terpilahkan darinya. Bila ia menjadi musuh diri, maka ia menjadi pentahkik kebenaran, pilihan Allah, badal dan arif (yang tahuLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #50 Risalah 50 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Kau mungkin dekat kepada Allah atau jauh dari-Nya.Jika kau jauh dari-Nya, kenapa berlengah diri, tak berupaya mendapatkan rahmat, kemuliaanmu, keamanan dan kecukupan diri di dunia ini dan di akhirat. Segeralah terbang kepada-Nya dengan dua sayap. Sayap pertama berupa penolakan akan kesenangan, keinginan-keinginan tak halal; sayapLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #49 Risalah 49 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Barangsiapa lebih menyukai tidur daripada sholat malam, yang membawa ke arah ketakwaan, berarti ia memilih sesuatu yang buruk, sesuatu yang mematikannya dan membuatnya acuh tak acuh terhadap segala keadaan. Sebab, tidur adalah saudara kematian. Kerananya, Allah tak tidur, sebab Ia bersih dari segala kecacatan. BegituLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #48 Risalah 48 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Seorang mukmin, pertama-tama, menunaikan yang wajib. Bila ia telah menunaikan yang wajib, maka ia menunaikan yang sunnah. Bila ia telah menunaikan keduanya, maka ia menunaikan yang tambahan. Nah, bila seseorang belum melaksanakan yang wajib, sedang ia melaksanakan yang sunnah, maka hal itu merupakan kebodohan, takkanLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #47 Risalah 47 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Seorang tua bertanya kepadaku dalam mimpiku: “Apa yang membuat seorang hamba Allah dekat kepada Allah?”Aku berkata: “Proses ini berawal dan berakhir, awalnya yaitu Wira’i/kesolehan dan akhirnya yaitu keredhaan kepada Allah dan kepasrahan diri sepenuhnya kepada-Nya.
Fathul Ghaib
Bagian #46 Risalah 46 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Nabi Suci saw. bersabda dari Rabnya: “Barangsiapa senantiasa mengingat-Ku dan tak sempat minta sesuatu pun dari-Ku, maka akan Kuberikan kepadanya yang lebih baik daripada yang Kuberikan kepada mereka yang meminta.” Hal ini dikeranakan bila Allah menghendaki seorang mukmin bagi maksud-maksud-Nya sendiri, maka Ia melalukannya melalui aneka keadaanLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #45 Risalah 45 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Ketahuilah bahawa ada dua macam manusia. Yang pertama ialah manusia yang dikurniai kebaikan-kebaikan duniawi. Yang kedua ialah manusia yang diuji dengan ketentuan-Nya. Manusia yang mendapatkan kebaikan duniawi, tak bebas dari noda dosa dan kegelapan dalam menikmati yang mereka dapatkan itu. Manusia semacam itu bermewah-mewah dengan kurniaLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #44 Risalah 44 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Sesungguhnya do’a orang yang berpengetahuan ruhani kepada Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, tak dikabulkan, dan setiap janji yang dibuat kepadanya tak dipenuhi, agar ia tak hancur kerana keterlalu-optimis. Sebab setiap keadaan atau maqam ruhani mempunyai ketakutan dan harap. Dengan demikian, orang yang berpengetahuanLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
Fathul Ghaib
Bagian #43 Risalah 43 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Barangsiapa meminta sesuatu dari manusia, bererti ia tak tahu akan Allah, lemah iman, lemah pengetahuan tentang hakikat, dan tak sabar; sedang barangsiapa tak meminta, bererti ia amat tahu akan Allah, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, kuat imannya, kian bertambah pengetahuan tentang-Nya dan ketakwaan kepada-Nya,Lanjutkan membaca “Fathul Ghaib”
