Fathul Ghaib

Bagian #42 Risalah 42 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Keadaan ruhani manusia itu: bahagia dan duka. Bila duka, maka timbul kecemasan, keluhan, ketaksenangan, penyalahan terhadap perilaku buruk, dosa kerana menyekutukan sang Pencipta dengan makhluk dan sarana-sarana duniawi, dan akhirnya kekafiran. Bila bahagia, ia menjadi korban kerakusan, kehinaan hawa nafsu. Bila nafsu diperturutkan, ia punLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”

Fathul Ghaib

Bagian #41 Risalah 41 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Akan kami paparkan bagimu sebuah misal tentang kelimpahan, dan kami berkata, “Tidakkah kau lihat seorang raja yang menjadikan seorang biasa sebagai gubernur kota tertentu, memberinya pakaian kehormatan, bendera, panji-panji dan tentera, sehingga ia merasa aman mulai yakin bahawa hal itu akan kekal, bangga dengannya, danLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”

Fathul Ghaib

Bagian #40 Risalah 40 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Jangan berharap menjadi saleh, jika kau belum menjadi musuh kedirianmu, dan benar-benar terlepas dari semua organ tubuhmu, dan terlepas dari semua hubungan dengan kemaujudanmu, dengan gerak-gerimu dan kediamanmu, dengan pendengaranmu dan penglihatanmu, dengan pembicaraan dan dengan diammu, dengan upaya, tindakan dan pemikiranmu, dan dengan segalaLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”

Fathul Ghaib

Bagian #39 Risalah 39 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Melakukan sesuatu kerana nafsu, bukan kerana perintah Allah, berarti menyimpang dari kewajiban dan menentang kebenaran. Melakukan sesuatu, bukan kerana nafsu, berarti selaras dengan kebenaran, sedang mencampakkannya, berarti kemunafikan.

Fathul Ghaib

Bagian #38 Risalah 38 Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani Barangsiapa menunaikan perintah Tuhannya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, bererti ia mencampakkan segala selain-Nya siang dan malam. Wahai manusia , jangan mengaku kepunyaanmu segala yang tak kau miliki. Esakanlah Allah, jangan sekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan jadikanlah dirimu sasaran kehendak-Nya, yang takkan mematikanmu, tapi melukaimu.Lanjutkan membaca “Fathul Ghaib”

Fathul Ghaib

Bagian #37 Majelis ke  37 MEMBESUK ORANG SAKIT Jum’at pagi tanggal 5 Rajab tahun 545 di Madrasah, Beliau berkata:Nabi saw. bersabda :“Besuklah si sakit dan antarkanlah jenazahnya, karena hal itu suatu jalan mengenang akhirat.”Tujuan Rasulullah saw. sehungan dengan sabda tersebut adalah agar kamu ingat akhirat, sedang saat ini kamu menjauhi peringatan itu, sebaliknya terlalu cint dunia.Lanjutkan membaca “Fathul Ghaib”

Fathul Ghaib

Bagian #36 Majelis ke  36 BERAMAL IHLAS KARENA ALLAH Selasa sore tanggal 2 Rajab tahun 545 Hijriyah di Masrasah, Beliau berkata:Dunia ini dalah pasar, tapi tak sampai lama, tiada seseorang pun yang tinggal di sana. Kala malam tiba, penghuninya sama pergi. Bermujahadahlah bahwa kamu tidak akan berjual beli di pasar ini kecuali, sesuatu yang bermanfaat diLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”

Fathul Ghaib

Bagian #35 Majelis ke 35 MENENTANG ALLAH Beliau berkata:Betapa celaka orang yang sombong, ketahuilah penghambaanmu itu tidak membenam dalam bumi tetapi naik ke langit. Firman Allah :“Kepada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang baik itu dimuliakan oleh Tuhan.” (Qs. XXXV:10).Allah berkuasa atas Arasy dan Dia pemeliharan kekuasaan itu, ilmu-Nya mengakar ke segala penjuru yangLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”

Fathul Ghaib

Bagian #34 Majelis Ke 34 MENCEGAH DARI PERKARA MUNKAR Beliau berkata:Orang-orang yang bersibuk diri menghabiskan waktu dan memberi hak permulaannya untuk ciptaan berarti waktunya tersita dan terberi untuk mereka, waktu mereka tersisa oleh Fadl dari Allah dan rakhmat-Nya, dan terberi untuk orang-orang fakir miskin yang terjepit mereka. Mereka melabrak dewan-dewan orang beragama yang lemah atasLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”

Fathul Ghaib

Bagian #33 Majelis ke  33. MEMANDANG WAJAH ALLAH DI HARI QIYAMAH Ahad pagi tanggal 15 Jumadil Akhir tahun 545 Hijriyah di Pondok,  Beliau berkata:Barangsiapa mengetahui orang yang dicintai Allah berarti telah mengetahui orang yang mengenal Allah melalui hatinya yang masuk dalam sirrinya. Tuhan kita Azza wa Jalla adalah Dzat yang wujud yang bisa dilihat. Ini sebagaimanaLanjutkan membaca “Fathul Ghaib”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai