Kisah Sahabat#Thufail Bin Amr Ad Dausi Ra

Thufail Bin Amr Ad Dausi Ra

Thufail bin Amr ad-Dausi, seorang bangsawan yang mulia dan bijaksana sekaligus penyair cendekiawan dari bani Daus di Yaman. Ketika ia datang di Mekah, segera saja orang-orang Quraisy menemuinya dan memperingatkannya dari Nabi SAW, dari kata-kata beliau yang mempesonakan, yang dianggapnya sebagai sihir yang hendak memecah-belah seseorang dengan keluarganya. Memisahkan seorang ayah dari anaknya, seorang istri dari suaminya, bahkan dirinya sendiri dari kaumnya. Mereka menyarankan agar Thufail tidak berbicara dan mendengarkan ucapan Nabi SAW. Mereka khawatir kalau peristiwa yang terjadi di Mekah itu akan menimpa Bani Daus, kaumnya Thufail.

Orang-orang Quraisy begitu gencar mengingatkannya sehingga ia menetapkan diri untuk tidak menemui Nabi SAW. Tetapi ternyata takdir menentukan nasibnya, suatu hari Thufail pergi ke Ka’bah, dan pada saat yang sama, Nabi SAW sedang berada di sana. Tanpa sengaja ia mendengarkan kata-kata Rasulullah SAW, dan itu amat berkesan di hatinya.

Hati kecilnya terusik, “Bagaimanapun aku seorang cendekiawan dan penyair, aku dapat mengenal mana yang baik dan mana pula yang buruk. Apa salahnya kalau aku mendengarkan sendiri apa yang akan dikatakan orang itu! Jika ternyata baik akan kuterima, kalau buruk akan kutinggalkan.”

Ia mengikuti Rasulullah SAW sampai ke rumah beliau dan bertamu, kemudian menceritakan tentang apa dikatakan kaum Quraisy kepadanya dan apa yang terlintas dalam hatinya itu. Nabi SAW memaklumi sikap orang-orang Quraisy tersebut, dan menjelaskan tentang risalah Islam kepadanya. Beliau juga membacakan beberapa ayat-ayat Quran. Akal sehatnya tidak bisa lagi tertutup dari kebenaran, Thufail langsung memeluk Islam saat itu juga.

Thufail adalah seorang tokoh yang ditaati oleh kaumnya, Bani Daus, ia meminta ijin Nabi SAW untuk mendakwahkan Islam kepada kaumnya, dan beliau menyetujuinya. Ia juga meminta Nabi SAW mendoakannya agar Allah SWT memberikan suatu tanda sebagai penolong dalam usaha dakwahnya, dan beliau juga mendoakannya.

Dalam perjalanan pulang ke kaumnya, ia kemalaman di suatu tempat di antara dua gunung. Dalam kegelapan malam itu, tiba-tiba muncul sinar di antara dua matanya. Thufail merasa ini adalah pengabulan doa Nabi SAW atas tanda yang dimintanya. Tetapi ia khawatir kalau adanya sinar di wajahnya justru dianggap kaumnya sebagai hukuman karena ia memecah belah kaumnya dengan dakwah islamnya itu, karena itu ia berdoa kepada Allah agar sinar itu dipindahkan dari wajahnya. Allah mengabulkan doanya, dan sinar itu berpindah ke ujung cambuknya.

Ketika sampai di kalangan kaumnya, pertama kali ia mendakwahi keluarganya. Ayah dan istrinya menyambut ajakannya memeluk Islam, sedang ibunya menundanya. Tidak mudah bagi Thufail mengajak kaumnya memeluk Islam, beberapa orang bahkan mendustakan dan memusuhinya karena dakwahnya tersebut.

Setelah beberapa waktu lamanya berdakwah hanya beberapa orang saja menyambut ajakannya memeluk Islam, sebagian besar malah memusuhinya. Ia kembali menemui Nabi SAW di Makkah, dan berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah kebinasaan untuk Bani Daus, karena kebanyakan dari mereka mendustakanmu…!!”

Nabi SAW tersenyum mendengar permintaan Thufail tersebut, kemudian mengangkat tangan beliau dan berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada Daus..”

Setelah itu beliau berpaling kepada Thufail dan bersabda, “Kembalilah engkau kepada kaummu, serulah mereka kepada Islam dengan lemah lembut.”

Thufail sangat terkesan dengan sikap beliau tersebut. Ia segera kembali ke kampungnya, dan mendakwahi kaumnya dengan sabar dan lemah lembut. Pada tahun 7 hijriah, ia berhijrah ke Madinah dengan tujuhpuluh atau delapanpuluh keluarga yang semuanya telah memeluk Islam, termasuk di antaranya Abu Hurairah. Saat itu Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau sedang dalam peperangan Khaibar, maka mereka, kecuali wanita dan anak-anak, segera menyusul dan ikut terjun dalam pertempuran melawan kaum Yahudi tersebut. Thufail meninggal pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash Shididiq, ia syahid dalam perang Yamamah, peperangan dalam rangka menumpas nabi palsu, Musailamah al Kadzdzab.

Kisah Sahabat#Mush’ab Bin Umair Ra

Mush’ab Bin Umair Ra

Islamnya Mush’ab bin Umair

Masa remaja Mush’ab bin Umair adalah masa remaja yang paling diidamkan oleh umumnya remaja, hidup berlimpah kekayaan, tampan, cerdas, dimanjakan orang tua, diinginkan oleh banyak wanita dan dihargai oleh lingkungannya karena dari keluarga terpandang dan banyak memberikan solusi dalam majelis-majelis.

Namun semuakelebihan dan fasilitas yang dipunyainya jadi tak berarti ketika ia mulai mendengar adanya dakwah yang dibawa Nabi SAW. Tekanan dan siksaan yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap pemeluk Islam tidak membuatnya gentar untuk mengenal lebih jauh ajaran agama baru ini. Akhirnya cahaya hidayah membawanya ke rumah Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam), dimana biasanya Rasulullah SAW mengajar sahabat-sahabat beliau, dan ia berba’iat memeluk Islam. Lantunan ayat-ayat Al Qur’an membuat hatinya bergemuruh, penuh gairah dan haru yang membludak, sampai akhirnya Rasullullah SAW mengusap dadanya, sehingga hatinya menjadi tenang dan damai bagaikan lubuk sungai yang dalam.

Hal yang ditakutkan setelah menjadi Islam adalah ibunya. Ibunya, Khunas binti Malik adalah sosok yang dominan, berkepribadian kuat, berpendirian yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena itu Mush’ab menyembunyikan keislamannya dari ibunya, dan diam-diam ia selalu pergi ke rumah Arqam untuk memperdalam keislamannya. Namun pada akhirnya ibunya tahu juga perubahan keyakinan anaknya dari seseorang bernama Utsman bin Thalhah.

Tak pelak lagi, Mush’ab diinterogasi ibunya di depan pembesar-pembesar Quraisy, namun kekuatan iman telah menyatu-padu dalam hatinya sehingga tak mungkin ia kembali ke kepada agama jahiliah. Bahkan ia berdiri tegar di depan ibunya yang selama ini dihormati dan ditakutinya sambil membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Dalam puncak kemarahannya, ibunya mengurung Mush’ab dalam ruangan sempit dan terpencil dengan penjagaan ketat.

Ketika Nabi SAW menitahkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Habsyi, Mush’ab berhasil memperdaya penjaganya dan lolos untuk mengikuti beberapa sahabat hijrah ke Habsyi. Sungguh harga yang mahal untuk mempertahankan keimanan. Kemewahan dan kemegahan masa remaja ditukar dengan hidup merana dan terlunta di negeri orang. Memang kenikmatan batin karena manisnya iman tidak akan bisa dijual dengan sebanyak apapun kemewahan dunia ini.

Beberapa waktu kemudian Mush’ab hadir dalam majelis Nabi SAW bersama sahabat-sahabatnya, mereka menundukkan dan memejamkan mata, sebagian menangis haru melihat penampilan Mush’ab yang memakai jubah usang bertambal-tambal. Rasanya belum lama berselang ketika mereka melihat Mush’ab yang bagaikan bunga di taman, begitu cemerlang memikat dan menebarkan aroma wewangian di sekitarnya. Tetapi justru inilah yang memunculkan pujian Rasulullah SAW atas dirinya, Beliaubersabda, “Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya tetapi semua itu ditinggalkan karena cintanya pada Allah dan RasulNya.”

Muballigh Pertama di Kota Madinah

Dakwah Nabi SAW pada beberapa kelompok suku yang sedang melaksanakan haji, kebanyakan mengalami penolakan. Tetapi enam orang dari Suku Khazraj yang dipimpin oleh As’ad bin Zurarah dari Bani Najjar menerima ajakan Rasulullah dengan baik. Pada musim haji berikutnya, dua belas orang datang lagi dan berba’iat pada Nabi SAW, tujuh orang di antaranya baru masuk silam. As’ad bin Zurarah yang juga memimpin rombongan ini meminta Rasullullah SAW mengirim seseorang yang mampu memberikan pengajaran dan memimpin dakwah di Madinah.

Pilihan Nabi SAW jatuh pada Mush’ab bin Umair. Walaupun masih muda, pengalamannya di masa jahiliah dalam majelis-majelis dan kepandaiannya saat berguru pada Rasullullah tentunya menjadi pertimbangan Nabi untuk memilihnya dalam tugas mulia ini. Ia tinggal bersama As’ad bin Zararah.

Bersama As’ad, Mush’ab mendatangi berbagai kabilah, rumah-rumah dan mejelis-majelis untuk mengajak mereka memeluk Islam. Saat berdakwah pada kabilah Abdul Asyhal, iasempat disergap oleh Usaid bin Hudlair, pemuka kabilah tersebut karena dianggap mengacau dan membuat anak buahnya menyeleweng dari agamanya Tetapi dengan kemampuan diplomasinya dan wajahnya yang teduh serta tenang, Mush’ab mampu meredam kemarahan Usaid, dan memaksanya untuk duduk mendengarkan.

Mush’ab pun membacakan ayat-ayat Qur’an dan menjelaskan risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dengan gaya bahasa yang halus penuh ketulusan, Mush’ab mampu menyentuh hati nurani Usaid yang terdalam, dan membawanya pada hidayah Allah untuk memeluk Islam, yang dalam beberapa jam kemudian disusul dengan keislaman Sa’ad bin Mu’adz, tokoh Bani Abdul Asyhal lainnya. Keislaman dua pemukanya ini dikiuti oleh hampir seluruh anggota kabilah tersebut.

Tersebarnya kabartentang keislaman Usaid bin Hudlair dan Sa’ad bin Mu’adz membuat tokoh-tokoh Madinah lainnya mencari tahu tentang agama baru ini. Beberapa pemuka kabilah di Madinah akhirnya memeluk Islam, antara lain Sa’ad bin Ubadah dan Amr bin Jamuh, dimana tokoh ini membuat pemusnahan banyak berhala yang selama ini dijadikan sesembahan.

Masyarakat Madinahpun makin banyak yang masuk Islam menyusul tokoh-tokohnya. Mereka berpendapat, “Kalau Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu? Marilah kita datang ke Mush’ab untuk menyatakan keislaman.”

Syahidnya Mush’ab bin Umair

Pada Perang Uhud, Mush’ab bin Umair dipilih oleh Rasulullah sebagai pembawa bendera. Dengan strategi yang jitu dan pengaturan pasukan yang sempurna oleh Nabi, pasukan Quraisy pun kocar-kacir berlarian meninggalkan harta benda di medan pertempuran. Tetapi ketidak-disiplinan sebagian besar dari 50 pasukan pemanah yang ditempatkan Nabi di atas bukit, membuat situasi berbalik. Hampir 40 orang turun untuk mengambil ghanimah dan membiarkan pertahanan dari bukit terbuka. Peringatan Abdullah bin Jubair, komandan pasukan pemanah untuk tetap tinggal di atas bukit diabaikan begitu saja.

Khalid bin Walid yang memimpin satu kelompok pasukan Qureisy melihat situasi ini, dan ia bergerak menaiki bukit. Sekitar sepuluh orang yang bertahan di atas bukit tak mampu menahan gempuran Khalid dan mereka syahid semua. Kemudian Khalid menggempur pasukan Islam di bawahnya, bahkan serangan-pun mengarah pada Nabi SAW. Mush’ab melihat keadaan bahaya yang mengancam Nabi SAW, ia bergerak cepat dengan bendera di tangan kiri yang diangkat tinggi, tangan kanan mengayun pedang dan mulutnya bergemuruh dengan takbir, mencoba membendung arus musuh yang mendatangi Rasullullah.

Tetapi kekuatan yang tidak berimbang mematahkan serangan Mush’ab, tangan kanannya ditebas Ibnu Qumai’ah hingga putus, Mush’ab hanya berkata, “Muhammad tidak lain hanya seorang Rasul, sebagaimana Rasul-rasul yang telah mendahuluinya.”

Kemudian bendera dikepit dengan sisa lengan kanannya, dan tangan kirinya mengayun pedang menyerang musuh yang terus berdatangan. Ketika tangan kiri itu ditebas juga hingga putus dan bendera jatuh. Lagi-lagi Umair mengulang ucapannya, “Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rasul, sebagaimana Rasul-rasul yang telah mendahuluinya.”

Namun demikian dengan kedua pangkal lengannya, Mush’ab masih berusaha menegakkannya bendera itu, sampai akhirnya sebuah tombak menusuk tubuhnya hingga patah, dan gugurlah Mush’ab sebagai syahid.

Setelah perang Uhud berakhir, Nabi berdiri di dekat jasad Mush’ab dengan mata berkaca. Sesosok tubuh yang masa mudanya dibalut dengan pakaian halus, mahal dan wangi, kini jasadnya hanya tertutup kain burdah yang begitu pendek, jika ditutup kepalanya, kakinya akan terbuka, jika ditutup kakinya, kepalanya yang terbuka. Maka Nabi bersabda, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan tutupilah kakinya dengan rumput idzkir.”

Kisah Sahabat#Urwah Bin Mas’ud Ats Tsaqafi Ra

Urwah Bin Mas’ud Ats Tsaqafi Ra

Urwah bin Mas’ud masih kafir ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, bahkan ia menjadi utusan kaum kafir Quraisy untuk mencegah niat Nabi SAW dan para sahabat yang akan melaksanakan umrah. Ketika berbincang dengan Nabi SAW, ia berusaha memegang janggut beliau, suatu kebiasaan orang arab ketika sedang bercakap-cakap. Tetapi ada seorang lelaki yang selalu memukul tangannya dengan sarung pedang, ketika ia mengulurkan tangannya, sambil berkata, “Undurkan tanganmu dari janggut Rasulullah SAW!”

 Ketika ia tahu orang tersebut adalah Mughirah bin Syu’bah, ia menjadi marah, karena pada masa jahiliah ia pernah membantu Mughirah ketika ia mengalami permasalahan yang bisa membuat nyawanya melayang. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak, karena ia melihat begitu kuatnya ikatan persaudaraan orang muslim saat itu. Bahkan Rasulullah SAW sendiri menyatakan pembelaannya atas Mughirah, terlepas dari apa yang dilakukannya pada masa jahiliah.

 Urwah bin Mas’ud RA adalah salah satu pemuka bani Tsaqif di Thaif, satu kabilah yang terlibat dalam sekutu untuk memerangi Nabi SAW di perang Hunain, yang sangat dicintai dan ditaati kaumnya. Usai peperangan yang dimenangkan oleh kaum muslimin, hatinya tergerak untuk memeluk Islam, iapun berusaha menemui Nabi SAW, tetapi beliausudah berangkat meninggalkan Makkah.

Tekadnya yang sudah menguat membuat Urwah memacu untanya untuk mengejar rombongan kaum muslimin, dan berhasil menyusul beliau di suatu tempat dekat Madinah. Di hadapan Nabi SAW, ia berba’iat memeluk Islam dan dengan gembira Nabi SAW menerimanya. Urwah meminta ijin untuk kembali kepada kaumnya untuk mendakwahkan Islam, tetapi Rasulullah SAW melarangnya. Beliau tahu betul bahwa kabilah tsb. sangat kuat penolakannnya kepada penyeru dari kaumnya sendiri, beliau mengkhawatirkan keselamatan Urwah.

Urwah bin Mas’ud yang telah merasakan manisnya iman, merasakan sejuknya jiwa bersama Rasulullah SAW, ingin sekali mengajak serta kaum kerabatnya yang mencintai dan dicintainya, merasakan hal yang sama. Karena itu dengan agak memaksa ia tetap meminta ijin kepadaNabi SAW. Ia berdalih kepada beliau, “Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang sangat disukai oleh mereka, lebih besar daripada kecintaan mereka pada anak-anak perempuannya sendiri..!”

Melihat begitu besar keinginannya untuk menyeru kaumnya kepada kebenaran, Nabi SAW akhirnya mengijinkannya. Urwah segera memacu tunggangannyakembali ke keluarganya di Thaif. Ketika sampai di rumahnya pada waktu isya’, beberapa orang menyambutnya dan mengucapkan salam dengan salam jahiliah sebagaimana biasanya, tetapi Urwah tidak menjawab salam itu, ia justru berkata, “Hendaklah kalian mengucapkan salam dengan ucapan salam ahli jannah, yakni Assalamualaikum…”

Mendengar ucapannya itu, mereka menjadi marah dan menyakitinya, tetapi Urwah tetap memperlakukan mereka dengan lembut. Beberapa tokoh bani Tsaqif berkumpul untuk menentukan tindakan selanjutnya terhadap Urwah yang dianggapnya telah murtad.

Ketika fajar menyingsing, Urwah berdiri di bagian atas rumahnya dan beradzan untuk shalat subuh. Orang-orang keluar menuju rumah Urwah, mereka melempari dan memanah ke arah Urwah, seseorang dari bani Malik bernama Aus bin Auf berhasil memanahnya sehingga Urwah terluka parah. Melihat keadaan ini, beberapa kerabat Urwah menyiapkan senjata untuk membalas bani Malik, di antaranya adalah Ghailan bin Salamah, Kinanah bin Abdul YaLil, Hakim bin Amrudan beberapa orang dari bani Ahlaf. Tetapi Urwah mencegah niat mereka, ia berkata, “Janganlah membunuh mereka karena aku, sesungguhnya aku bersedekah dengan darahku ini untuk memperbaiki hubungan di antara kalian!!”

Seseorang bertanya kepadanya, “Apa pendapatmu mengenai darahmu yang mengalir ini?

“Ini adalah kemuliaan, yang Allah telah memuliakan aku, dan persaksian yang Allah berikan kepadaku. Tiada sesuatupun pada diriku melainkan apa yang ada pada mereka yang syahid bersama Rasulullah SAW, karena itu kuburkanlah aku bersama mereka.” Kata Urwah pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya. 

Memang, setelah kekalahannya di perang Hunain, sebagian besar pasukan musyrik lari ke Thaif dan bertahan di sana. Nabi SAW memimpin pengepungan benteng Thaif selama beberapa hari dan melakukan penyerangan. Lebih kurang duapuluh orang muslim mati syahid dan dimakamkan disana. Bersama mereka inilah Urwah bin Mas’ud ingin dimakamkan.

Ketika peristiwa pembunuhan Urwah bin Mas’ud ini sampai kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan Urwah di antara kaumnya adalah seperti sahabat Yasin di antara kaumnya.”

Yang dimaksud Nabi SAW dengan sahabat Yasin adalah Habib (Khubaib) An Najjar, yang menyeru penduduk kotaThakiyyah agar mereka beriman kepada utusan Nabi Isa AS, tetapi mereka justru membunuhnya. Suatu peristiwa yang diabadikan Allah dalam Al Qur’an Surah Yasin ayat 20-21.

Kisah Sahabat#Ubay Bin Ka’ab Ra

Ubay Bin Ka’ab Ra

Ubay bin Ka’ab adalah seorang sahabat Anshar dari suku Khazraj, ia memeluk Islam pada masa awal yakni ketika terjadinya Ba’iatul Aqabah. Ia juga aktif berbagai pertempuran bersama Nabi SAW seperti Badar, Uhud, dan lain-lainnya, sebagaimana kebanyakan sahabat Anshar lainnya. Tetapi kekhususan Ubay bin Ka’ab di sisi Rasulullah SAW adalah tentang Al Qur’an.

Ubay bin Ka’ab termasuk dalam jajaran sahabat penulis dan penghafal wahyu-wahyu yang turun, dan beliau pernah bersabda kepadanya, “Hai Ubay bin Ka’ab, saya diperintahkan untuk menyampaikan al Qur’an kepadamu…!!”

Antara senang dan cemas kalau “kepedean”, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, ibu bapakku menjadi tebusan anda, benarkah namaku disebut oleh Allah…?”

“Benar,” Kata Nabi SAW, “Namamu dan keturunanmu di tingkat tertinggi…!!”

Suatu ketika Nabi SAW sedang mengimami shalat jamaah, dan terselip satu ayat yang beliau tidak membacanya. Ubay yang berada di belakang Nabi SAW berbisik perlahan kepada Nabi SAW. Usai shalat, beliau bertanya “Siapakah yang tadi membetulkan bacaanku?”

Orang-orangpun menunjuk kepada Ubay bin Ka’ab. Nabi SAW tersenyum dan berkata, “Aku telah menduga, pasti Ubaylah orangnya…”

Suatu ketika ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi SAW tentang penyakit yang dialaminya, dan apa yang akan diterimanya karena penyakitnya tersebut. Nabi SAW bersabda, “Itu adalah penghapus dosa (kaffarah).”

Ubay yang saat itu hadir, seketika bertanya, “Walau sakit yang sedikit, wahai Rasulullah!”

“Ya,” Kata Nabi SAW, “Walau hanya tertusuk duri, atau yang lebih ringan dari itu.”

Suatu ketika Ubay bin Ka’ab merasakan demam, ia teringat akan sabda Nabi SAW tersebut, maka iapun berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta, agar Engkau tidak menghilangkan demam panas ini dari tubuh Ubay bin Ka’ab, hingga aku bertemu denganMu. Tetapi janganlah demam ini menghalangi aku dari shalat, puasa, haji dan jihad di jalanMu.”

 Maka sakit demamnya berkepanjangan, hingga tiada seorang yang memegangnya kecuali merasakan panas tubuhnya. Namundemikian ia tetap bisa beribadah dan berjuang tanpa kesulitan, hingga ajal menjemputnya.

Kisah Sahabat#Ziad Bin Harits Ash Shada’i Ra

Ziad Bin Harits Ash Shada’i Ra

Ziad bin Harits adalah pemuka Bani ash Shada’i yang tinggal di Yaman. Ia mendatangi Nabi SAW untuk memeluk Islam, tetapi ternyata beliau telah terlanjur mengirimkan pasukan menuju perkampungannya. Ziad berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, tariklah kembali pasukan itu, dan aku akan bertanggung jawab untuk mengajak mereka memeluk Islam, dan ketaatan mereka kepada engkau.”

Nabi SAW memenuhi permintaan Ziad, dan menyuruhnya untuk menyusul pasukan tersebut, tetapi Ziad mengatakan kalau tunggangannya kelelahan sehingga tak mungkin ia bisa menyusulnya. Beliaupun mengirim seorang utusan kepada pasukan tersebut dan memintanya kembali. Setelah pasukan kembali, Ziad menulis surat untuk kaumnya dan mengirimkannya melalui seorang utusan.

Beberapa waktu kemudian datanglah serombongan orang untuk memeluk Islam, mereka adalah kaumnya Ziad as Shada’i. Nabi SAW sangat gembira, dan bersabda kepada Ziad, “Wahai as Shada’i, sungguh engkau orang yang ditaati di kalangan kaummu!”

Mendengar pujian ini, Ziad tahu diri, iapun berkata, “Allah-lah yang telah mengaruniakan kepada mereka hidayahNya sehingga mereka memeluk Islam.”

Nabi SAW tersenyum mendengar jawaban Ziad. Beliau menawarkan untuk mengangkatnya sebagai Amir bagi kaumnya, dan Ziad bersedia. Beliaupun memerintahkan juru tulisnya untuk menulis suratpengangkatan Ziad sebagai Amir bagi kaumnya. Sekali lagi beliau memerintahkan untuk menulis suratbagi pengangkatan sebagai amil untuk mengambil zakat dari kaumnya, sehingga Ziad mengantongi dua jabatan sekaligus.

Ziad tidak langsung kembali kepada kaumnya di Yaman, tetapi ia menyertai rombongan Rasulullah SAW beberapa waktu lamanya. Suatu ketika beliau singgah di suatu perkampungan yang penduduknya telah memeluk Islam. Tiba-tiba para penduduknya mendatangi Nabi SAW dan mengadukan perilaku amil mereka yang bertindak semena-mena ketika mengambil harta mereka dengan dalih zakat.

“Benarkah ia melakukan hal itu?” Tanya Rasulullah SAW menegaskan.

Mereka mengiyakan. Beliau berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda, “Tidak ada kebaikan bagi seorang lelaki beriman jika ia memiliki imarah (pengangkatan sebagai amir, termasuk amil).” 

Beberapa orang mendatangi Nabi SAW untuk meminta bagian zakat, tetapi beliau tidak mengabulkannya, tetapi justru beliau bersabda, “Barang siapa meminta-minta kepada manusia sedangkan ia berkecukupan, maka hal itu akan membuatnya sakit kepala dan sakit perut, tanpa sebab yang jelas.”

Pada yang lainnya beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak ridha zakat-zakat ini dibagikan mengikuti keputusan Nabi atau yang lainnya, tetapi Allah sendiri yang membaginya. Jika engkau termasuk dalam delapan golongan yang berhak menurut Allah, aku akan memberikan bagian kepadamu.”

Peristiwa demi peristiwa tersebut seolah menjadi pengajaran bagi Ziad, dan ternyata membawa kesan yang sangat kuat bagi dirinya. Usai shalat, ia membawa surat pengangkatannya sebagai amir dan amil bagi kaumnya kepada Nabi SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, cabutlah pengangkatan jabatan ini dariku.”

“Apa yang terlintas dalam pikiranmu?” Dengan heran beliau bertanya kepada Ziad.

Ia menceritakan apa yang dilihat dan juga dirasakannya ketika Rasulullah SAW menyampaikan kepada penduduk perkampungan itu. Ia ingin menjadi seseorang yang benar-benar beriman, karenanya ia khawatir jika masih memegang keamiran. Begitu juga, ia termasuk orang yang berkecukupan, sehingga ia khawatir dengan jabatan amilnya.

Nabi SAW tersenyum dengan penjelasannya tersebut dan bersabda, “Begitulah yang sebenarnya. Tetapi jika engkau mau, terimalah pengangkatan itu dan engkau jaga amanahnya, jika tidak, maka tinggalkan saja.”

“Aku memilih melepaskan jabatan-jabatan ini, ya Rasulullah!!” Kata Ziad dengan tegas.

Nabi SAW menerima pengunduran dirinya, dan memintanya untuk menunjukkan seseorang dari kaumnya untuk memegang jabatan tersebut. Ziadpun menunjukkan seseorang yang layak untuk jabatan-jabatan tersebut.

Kisah Sahabat#Nu’man Bin Muqarrin Ra

Nu’man Bin Muqarrin Ra

Suatu ketika Nu’man sedang mengerjakan shalat di masjid, tiba-tiba khalifah Umar mendatangi dan duduk di sebelahnya menunggunya selesai shalat. Setelah ia mengucap salam, Umar berkata, 

“Aku ingin memberimu tugas.

“Aku menolak kalau menjadi pemungut zakat dan jizyah (pajak),” Kata Nu’man, “Aku ingin menjadi pejuang di medanpertempuran!”

Umarpun menjelaskan kalau memang tugas itulah yang akan diberikan kepadanya. Ia ditugaskan memimpin pasukan untuk memperkuat tentara muslim yang berperang melawan pasukan Persia di Ashbahan, pemimpinnya adalahMughirah bin Syu’bah. Ia pun segera berangkat bersama pasukannya.

Ketika Mughirah melihat kedatangan Nu’man dan pasukannya, ia segera menyambutnya dan berkata, “Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya pasukan muslim diserang dengan panah oleh pasukan Persia. Maka majulah (untuk memimpin pasukan)”

Nu’man menerima amanah tersebut dari Mughirah. Ia berkata, “Sesungguhnya aku telah menyertai Rasulullah SAW dalam banyak peperangan. Kebiasaan beliau, jika tidak berperang pada pagi hari, beliau akan mengundurnya hingga tergelincir matahari, angin bertiup dan turunlah pertolongan Allah.”

Kemudian Nu’man menghadap ke pasukan yang telah bergabung untuk menjelaskan strateginya. Ia memutuskan untuk mengikuti kebiasaan Nabi SAW, memundurkan penyerangan hingga diperoleh waktu yang tepat untuk berperang. Nantinya, ia akan menggerakkan panji tiga kali. Pada gerakan pertama, hendaknya seseorang yang berhajat, melaksanakan hajatnya kemudian berwudlu. Pada gerakan kedua, hendaknya memeriksa kesiapan senjatanya dan tali sandalnya. Pada gerakan ketiga, hendaklah mereka menggempur dan jangan seorangpun menoleh kepada sahabatnya. Walau Nu’man sendiri yang terluka dan terbunuh, jangan menoleh kepadanya, teruslah menggempur musuh.

Mereka memahami strategi yang dijabarkan Nu’man. Ketika pasukan muslim telah siap, Nu’man menghadapkan wajah ke pasukannya, ia meminta mereka mengaminkan karena ia akan berdoa. Ia mengangkat tangannya dan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku memintaMu untuk menyejukkan mataku pada hari ini dengan kemenangan yang memuliakan Islam dan merendahkan orang-orang kafir. Kemudian ambillah nyawaku sebagai syahid….”

Mereka mengaminkannya dengan rasa haru, bahkan sebagian ada yang menangis. Nu’man kembali menghadapkan wajah ke musuh, ia menggerakkan panjinya sekali, beberapa saat kemudian yang kedua. Kemudian Nu’man melepas baju besinya, dan ia menggerakkan panjinya untuk ketiga kalinya, dan mereka menghambur ke arah pasukan Persiadengan Nu’man pada posisi terdepan.

Pertempuran berlangsung sengit. Nu’man menjadi orang pertama yang jatuh terkapar bersimbah darah dari pasukan muslim setelah ia berhasil memporak-porandakan garis pertahanan pasukan Persia. Ma’qil bin Yasar sempat melihatnya roboh, dan ia bermaksud menolongnya tetapi dibatalkan karena teringat pesan Nu’man tadi. Ia hanya meninggalkan tanda dan kembali bertempur.

Dengan pertolongan Allah, pasukan muslim akhirnya memperoleh kemenangan. Ma’qil bin Yasar mendatangi Nu’man yang sedang sekarat, ia membersihkan tanah dari wajahnya dengan air yang dibawanya. Nu’man memandangnya, tampaknya pandangannya telah kabur sehingga ia tidak bisa mengenali, karena itu ia bertanya tentang siapa dirinya dan bagaimana keadaan peperangan. Ma’qil menjelaskan siapa dirinya dan mengabarkan kalau Allah telah memberikan kemenangan kepada mereka. Nu’man memerintahkan Ma’qil untuk menulis surat  kepada Umar melaporkan jalannya pertempuran tersebut, kemudian ia meninggal.

Kisah Sahabat#Nudhair Bin Harits Al Abdari Ra

Nudhair Bin Harits Al Abdari Ra

Nudhair bin Harits termasuk orang yang berilmu dari kaum Quraisy, tetapi ia juga bersemangat memacu kendaraannya bersama kaum Quraisy memusuhi Islam. Setelah Fathul Makkah, ia belum juga memeluk Islam, tetapi ia menyertai Rasulullah SAW dalam Perang Hunain dengan niat akan menolong pasukan Islam jika mengalami kekalahan. Niat ini tidak kesampaian karena pasukan Islam memperoleh kemenangan. 

Usai peperangan, ketika masih berada di Ji’ranah, Nabi SAW menghampiri Nudhair dan menyapanya. Nudhair mendekati Nabi SAW dan beliau bersabda, “Ini adalah lebih baik daripada apa yang engkau niatkan pada perang Hunain.”

Setelah Nudhair makin dekat, beliau bersabda lagi, “Telah sampai waktunya bagimu untuk melihat keadaan dimana kamu berada di dalamnya.”

“Aku telah melihatnya, Ya Muhammad,” Kata Nudhair.

Mendengar ini, Nabi SAW kemudian berdoa, “Ya Allah, tambahkanlah baginya keyakinan yang kokoh.”

Selesai beliau membaca doa tersebut, hati Nudhair seperti terbuka, terasa hatinya begitu kokoh berada di jalan Islam dan menguat semangatnya untuk menjadi pembela kebenaran Islam. Iapun bersyahadat menyatakan Islam di depan Nabi SAW, beliau menyambutnya dengan gembira.

Beberapa saat kemudian ketika ia telah sampai di rumahnya di Makkah, seorang lelaki dari bani Daul datang dan berkata, “Hai Abu Harits, Rasulullah memerintahkan untuk memberimu seratus ekor unta dari ghanimah perang Hunain, karena itu berilah aku beberapa ekor karena aku mempunyai hutang.” 

Mendengar berita ini, Nudhair berkata, “Tidak lain ini adalah ta’alluf, aku tidak mau disuap untuk memeluk Islam. Demi Allah, aku tidak pernah menuntut dan tidak pernah meminta unta-unta ini karena keputusanku memeluk Islam.”

Ta’alluf adalah hadiah yang diberikan untuk menyenangkan orang yang baru memeluk Islam. Jika yang dibagikan zakat, mereka termasuk kelompok mu’allaf. Nudhair berkehendak untuk tidak mengambil pemberian ini, karena keislamannya tidaklah karena harta.

Tetapi kemudian ia sadar, apa yang diputuskan Rasulullah SAW harus ditaatinya walaupun mungkin ia tidak sependapat. Apalagi dilihatnya lelaki bani Daul itu juga sangat membutuhkan dan sangat berharap dari bagian yang diberikan Rasulullah SAW untuknya dari ghanimah perang Hunain. Karena itu ia mengambil unta-unta bagian ghanimah itu, dan memberikan sepuluh ekor kepada lelaki bani Daul tersebut.

Kisah Sahabat#Suhaib Bin Sinan Ra

Shuhaib Bin Sinan Ra

Shuhaib bin Sinan memeluk Islam pada masa awal didakwahkan sehingga ia termasuk dalam kelompok as Sabiqunal Awwalin. Ia bertemu dengan Ammar bin Yasir di pintu rumah al Arqam untuk menemui Nabi SAW dan memeluk Islam bersamaan dengannya, sekaligus juga menerima siksaan dan cacian ari orang kafir Quraisy sebagaimana yang dialami oleh Ammar.  

Ketika ia memutuskan untuk hijrah ke Madinah, kaum kafir Quraisy mengirim satu pasukan untuk menghalanginya, Shuhaib memasang panahnya dan berkata, “Kalian semua tahu aku pemanah yang handal, selama aku memiliki anak panah, kalian tidak akan mampu mendekati aku, dan jika anak panahku telah habis, pedang ini yang akan melawan kalian,”

Sambil menunjuk pada pedang yang disandangnya. Kemudian ia berkata lagi, “Jika kalian bersedia, biarkanlah aku pergi ke Madinah, dan akan aku tunjukkan tempat penyimpanan hartaku, dan ambillah itu berikut dua hamba wanita yang kutinggalkan di Makkah sebagai penebus diriku!”

Ternyata orang kafir Quraisy menyetujui pertukaran ini, sehingga Shuhaib bisa meneruskan perjalanan hijrahnya ke Madinah, dan berhasil menyusul Nabi SAW yang telah berada di Quba. Ketika bertemu Nabi SAW, beliau bersabda, “Perniagaan yang sungguh menguntungkan, wahai Abu Yahya…!”

Beliau mengulang sabdanya tersebut sampai dua kali.

“Wahai Rasulullah SAW,” Kata Shuhaib, “Tidak ada orang yang mendahuluiku untuk mengabarkan peristiwa ini kepadamu. Pastilah Jibril AS yang memberitahumu…”

Nabi SAW hanya tersenyum, dan peristiwa ini menjadi Asbabun Nuzul dari ayat 207 dari surah Al Baqarah.

Shuhaib cukup akrab dengan Nabi SAW, hal ini tampak ketika Shuhaib sedang sakit mata. Saat itu bersama Rasulullah dan sahabat lainnya mereka menyantap kurma. Tiba-tiba Nabi SAW nyeletuk, “Hai Shuhaib, engkau memakan kurma sedangkan matamu sakit?”

“Tetapi saya memakan kurma dengan mata saya yang sehat, ya Rasulullah…!” Kata Shuhaib.

Nabi SAW jadi tersenyum mendengar jawaban Shuhaib ini.

Ketika Umar bin Khaththab hampir meninggal, ia mewasiatkan agar Shuhaib bin Sinan yang menjadi imam shalat sebagai pengganti dirinya.

Kisah Sahabat#Hakim Bin Hizam Ra

Hakim Bin Hizam Ra

Suatu ketika Hakim bin Hizam mendatangi Rasulullah SAW, dan meminta agar beliau memberinya sesuatu, Nabi SAW memenuhi permintaannya. Pada kesempatan lainnya, Hakim meminta sesuatu lagi, dan beliau memberikannya. Pada ketiga kalinya, ketika Hakim meminta sesuatu pada Nabi SAW, beliau masih memberinya, tetapi kemudian bersabda, “Wahai Hakim, harta memang bagaikan tanaman yang menghijau, sepintas dia adalah sesuatu yang manis. Harta merupakan keberkahan jika kita merasa cukup dan qanaah. Sebaliknya, ia tidak akan memberikan keberkahan jika kita mempunyai sifat serakah.”

Mendengar nasehat ini, Hakim berjanji kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, mulai saat ini aku tidak akan pernah meminta sesuatu apapun kepada siapapun.”

Janji ini dipegang teguh oleh Hakim bin Hizam, bahkan setelah Nabi SAW telah wafat. Saat Abu Bakar menjadi khalifah, beliau memberikan harta dari Baitul Mal kepada ibnu Hizam, sebagaimana yang dibagikan kepada orang muslim lainnya yang berhak, tetapi Hakim menolaknya. Begitu juga ketika Umar bin Khaththab menjadi Amirul Mukminin, dimana harta melimpah ruah memenuhi Baitul Mal, Hakim menolak ketika ia akan diberi pembagian sesuai dengan haknya.  Ia pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang kebaikan yang pernah dilakukannya semasa jahiliah seperti sedekah, memerdekakan budak dan silaturahmi, beliau bersabda, “Kamu telah Islam dengan memperoleh kebaikan yang engkau lakukan di masa lalu..”

Kisah Sahabat#Hathib Bin Abi Balta’ah Ra

Hathib Bin Abi Balta’ah Ra

Hathib bin Abi Balta’ah RA diutus oleh Nabi SAW membawa surat  ajakan memeluk agama Islam kepada penguasa Iskandariah di Mesir, Muqauqis. Kehadirannya disambut dengan baik oleh Muqauqis, ia dipersilahkan untuk menginap di istananya. Muqauqis mengumpulkan pembesar dan ahli perangnya untuk menemui Hathib. Setelah membaca suratdari Nabi SAW, terjadilah beberapa pembicaraan di antara mereka.

“Beritahukanlah kepadaku tentang sahabatmu itu, bukankah ia seorang nabi?” Tanya Muqauqis.

“Beliau adalah seorang utusan Allah,” Kata Hathib mengawali, kemudian ia memberikan penjelasan lagi tentang Nabi SAW dan risalah Islam yang dibawa beliau.

Muqauqis bertanya lagi, “Mengapa ia -dalam kedudukannya sebagai seorang nabi- tidak berdoa supaya kaumnya dibinasakan karena mereka telah mengusirnya dan orang-orang yang mempercayainya dari kampung halamannya?”

“Bukankah engkau percaya Isa bin Maryam seorang utusan Allah?” Kata Hathib diplomatis.

Ketika Muqauqis mengiyakan, ia berkata lagi, “Mengapakah ia -ketika kaumnya ingin menyiksa dan menyalibnya- tidak mau berdoa untukkeburukan kaumnya, dengan memohon agar Allah membinasakan mereka, malah Allah mengangkatnya ke langit dunia?”

Muqauqis tidak berkutik ketika pertanyaannya menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri. Kemudian ia berkata, “Engkau adalah orang yang bijaksana, datang dari sisi orang yang sangat bijaksana.”

Muqauqis belum bersedia memeluk Islam, tetapi tidak menghalangi dakwah Islam di Iskandariah dan sekitarnya. Ia memberikan hadiah untuk Nabi SAW berupa kain, baghal dan tiga hamba sahaya, dua di antarannya wanita, yakni Mariyah al Qibtiyah yang dinikahi Rasulullah SAW, dan satunya lagi dihadiahkan Nabi SAW kepada Hassan bin Tsabit al Anshari. Sedangkan hamba lelaki bernama Sirin, dihadiahkan Nabi kepada Muhammad bin Qais al Abdi.   Nabi SAW membalas dengan memberikan hadiah-hadiah lebih baik dan menakjubkan kepada Muqauqis.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai