Kisah Sahabat#Amr Bin Tsabit Al Waqsy Ra

Amr Bin Tsabit Al Waqsy (Al Ushairim) Ra

Amr bin Tsabit al Waqsy adalah salah seorang ahli jannah yang belum pernah sekalipun menjalankan shalat. Ia dikenal sebagai al Ushairim bani Abdul Asyhal, karena itu kisahnya lebih dikenal sebagai kisah al Ushairim. Ia tidak mau memeluk Islam karena takut kepada kaumnya. Tetapi, ketika Nabi SAW dan para sahabat tengah berperang di Uhud, tiba-tiba saja menguat niatnya untuk memeluk Islam. Segera ia mengucap syahadat, kemudian mengambil pedang dan tunggangannya. Pagi-pagi sekali ia melesat ke Uhud, sesampainya di sana, ia langsung menerjunkan diri dalam pertempuran.

Ketika perang usai, beberapa lelaki dari bani Abdul Asyhal mencari korban dari kaumnya, dan mereka kaget menemukan Ushairim yang telah sekarat. Mereka berkata, “Demi Allah, dia adalah Ushairim. Apakah yang menyebabkan ia kemari? Kami telah meninggalkannya karena ia tidak mau memeluk Islam!” 

Merekapun menanyakan hal tersebut kepada Ushairim. Dengan tertatih dan nafas yang terputus-putus ia menjawab, “Aku kemari karena rasa cinta kepada Islam. Aku telah beriman kepada Allah dan RasulNya dan memeluk Islam, kemudian berangkat kemari untuk menyertai Rasulullah SAW berjuang, hingga keadaanku seperti ini.”

Tak lama kemudian ia wafat, dan ketika mereka menceritakan peristiwa ini kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya ia dari kalangan ahli jannah!”

Kisah Sahabat#Anas Bin Abu Martsad Al Ghanawi Ra

Anas Bin Abu Martsad Al Ghanawi Ra

Ketika pasukan beristirahat menjelang perang Hunain, Nabi SAW bersabda, “Siapakah di antara kalian yang bersedia meronda pada malam ini?”

“Saya ya Rasulullah,” Kata Anas bin Abu Martsad al Ghanawi.

Nabi SAW menyuruhnya naik ke kudanya dan mendekat, dan beliau bersabda, “Pergilah engkau ke bukit itu sampai ke puncaknya, jangan sampai karena kelalaianmu kita diserang musuh!”

Anas pergi memenuhi perintah Nabi SAW. Ia naik ke puncak bukit untuk mengamati keadaan, tetapi keadaan aman, tidak terlihat adanya pergerakan musuh.Semalaman ia berjaga di tempat itu sambil mengerjakan shalat. Pagi harinya ia kembali berkeliling dan menaiki puncak bukit untuk mengamati keadaan, tetapi ternyata belum ada gerakan musuh, dan ia kembali untuk menemui Nabi SAW.

Sementara di perkemahan, pagi subuh itu Nabi SAW menanyakan tentang kedatangan Anas sampai dua kali. Tetapi para sahabat menyatakan belum. Setelah salam dari shalat subuh, tiba-tiba Nabi SAW bersabda, “Bergembiralah kalian, penunggang kuda kalian telah datang…!”

Tak lama kemudian, para sahabat melihat kehadiran Anas yang bergerak cepat di antara pepohonan. Ketika sampai di hadapan Nabi SAW, Anas mengucap salam dan menyampaikan laporan tugasnya. Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau tidur tadi malam?”

“Tidak, saya sibuk mengamati keadaan sambil mengerjakan shalat dan menunaikan hajat!” Jawab Anas.

Nabi SAW bersabda, “Kamu telah melakukan perbuatan yang mewajibkan surga bagimu, sehingga tidak masalah jika kamu tidak mengerjakan amalan sunnah setelah jaga malammu itu.”

Kisah Sahabat#Abbad Bin Bisyr Al Anshari Ra

Abbad Bin Bisyr Al Anshari Ra

Dalam perjalanan pulang dari Perang Dzatur Riqa, Nabi SAW memutuskan untuk bermalam di suatu tempat sambil beristirahat. Beliau menawarkan kalau ada yang bersedia untuk menjaga keselamatan pasukan malam itu. Berdirilah satu orang Anshar, yakni Abbad bin Bisyr, dan seorang Muhajirin, yakni Ammar bin Yasir. Rasulullah SAW menyuruh mereka berdua untuk berjaga di suatu tempat yang disebut pintu syi’b. Mereka berduapun berangkat ke sana.

Sampai di pintu syi’b tersebut, Abbad bertanya kepada Ammar, “Pada bagian malam manakah engkau inginkan aku berjaga, awal malam atau akhir malam?”

“Biarlah aku berjaga di akhir malam,” Kata Ammar, kemudian ia tidur.

Sambil berjaga, Abbad mengerjakan shalat malam. Ternyata malam itu ada seorang musyrik yang mengikuti mereka dengan diam-diam. Tetapi lelaki musyrik dari Nakhl ini lebih ke masalah pribadi, bukan permusuhannya kepada Islam. Dia ingin membalas dendam, karena istrinya telah disakiti oleh salah seorang anggota pasukan muslim. 

Begitu melihat dua orang yang berjaga, dimana salah satunya sedang tidur, Lelaki musyrik itu melepas anak panahnya dan mengenai Abbad yang sedang shalat. Walau terpanah, Abbad tidak menghentikan shalatnya. Ia mencabut panah tersebut dan terus shalat. Lelaki musyrik itu memanah lagi dan mengenainya, tetapi itupun belum menghentikan Abbad bin Bisyr dari shalatnya. Pada kali ketiga ketika panah mengenainya, Abbad ruku dan sujud, kemudian membangunkan Ammar dan berkata, “Bangun dan duduklah, aku telah terpanah dan tertahan di tempatku!” 

Lelaki musyrik tersebut telah melompat keluar dari persembunyiannya untuk menyerang, tetapi begitu melihat dua orang yang bersiap dan mengetahui kehadirannya, ia segera melarikan diri. Melihat keadaan Abbad yang berlumuran darah, Ammar berteriak kaget, “Subkhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan aku saat pertama ia memanahmu?” 

“Saat itu aku sedang membaca satu surat,” Kata Abbad menjelaskan, “Aku tidak suka menghentikan membacanya kecuali telah tamat satu surattersebut. Demi Allah, jika tidak karena khawatir melalaikan tugas Nabi SAW untuk berjaga, aku lebih suka mati daripada menghentikan bacaan qur’anku tersebut.”

Dalam suatu riwayat dijelaskan, saat itu Abbad sedang membaca surat al Kahfi. 

Hari-hari menjelang perang Yamamah di masa kekhalifahan Abu Bakar, Abbad bin Bisyr menemui Abu Sa’id al Khudri, salah seorang sahabat Nabi SAW lainnya yang banyak meriwayatkan hadits-hadits beliau, kemudian berkata, “Hai Abu Sa’id, semalam aku bermimpi seolah langit terbelah, kemudian mengatup (menelan) diriku. Insya Allah, itu adalah tanda kesyahidan.”

“Demi Allah, engkau bermimpi yang baik…” Kata Abu Sa’id al Khudri.

Bertiga dengan Abu Dujanah dan Barra bin Malik, ia memimpin sekitar 400 orang-orang Anshar dalam perang Yamamah tersebut. Mereka bertiga dianggap yang paling pemberani, sehingga bisa memberi teladan dan menguatkan hati anggota pasukan lainnya. Abbad berseru, “Pecahkan sarung pedang kalian, dan jadilah kalian orang-orang istimewa yang berbeda dengan kebanyakan orang…!” 

Merekapun berperang dengan perkasa, dan terus maju hingga berhenti di kebun Musailamah, di Qana Hajar, pertahanan terakhir dimana akhirnya Musailamah terbunuh oleh tombaknya Wahsyi, dan akhirnya pasukan nabi palsu dan pendusta besar tersebut dikalahkan. Abbad sendiri akhirnya menemui syahidnya dengan luka-luka yang begitu banyak, termasuk di wajahnya, sehingga ia sulit dikenali, kecuali dengan tanda yang ada di tubuhnya.

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Salam Ra

Abdullah Bin Salam Ra

Abdullah bin Salam adalah salah seorang ulamanya kaum Yahudi di Madinah. Ketika Nabi SAW telah sampai di Madinah, iapenasaran dengan pengakuan kenabian beliau tersebut, karena itu ia segera menemui beliau. Sebagian riwayat menyebutkan, ia telah siap menyambut dan menemui beliau di Quba karena telah mengetahui rencana kedatangan beliau, riwayat lain ketika Nabi SAW telah tinggal di Madinah.

Ketika telah bertemu beliau ia berkata, “Sesungguhnya aku akan bertanya kepadamu tentang tiga hal, yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi. Yakni, apakah permulaan tanda-tanda kiamat, apakah makanan pertama yang dimakan penduduk surga, dan apa sebabnya anak menyerupai ayahnya dan juga ibunya?”

Nabi SAW tersenyum mendengar penuturan tersebut dan berkata bahwa Malaikat Jibril baru saja memberitahukan tentang perkara-perkara tersebut. Tetapi Abdullah bin Salam menyatakan bahwa Malaikat Jibril tersebut adalah musuh dari kaum Yahudi, karena itu ia tidak percaya dengan penuturannya.

Sekali lagi beliau tersenyum tanpa terlalu mendebatnya, kemudian bersabda, “Adapun permulaan tanda kiamat, adalah munculnya api yang mengumpulkan manusia dari arah timur ke barat. Dan makanan pertama dari penduduk surga adalah tambahan hati ikan Hut. Mengenai keserupaan seorang anak, apabila air mani (sperma) sang bapak mendahului air mani (sel telur) sang ibu, maka anak tersebut akan menyerupai bapaknya. Sebaliknya, jika air mani (sel telur) ibunya mendahului air mani (sperma) bapaknya, maka anak tersebut akan menyerupai ibunya.”

Sungguh bijak sekali Nabi SAW tidak mendebatnya masalah Malaikat Jibril. Tetapi begitu jawaban melalui Malaikat Jibril tersebut disampaikan, Abdullah bin Salam langsung mengucap syahadat untuk memeluk Islam tanpa sedikitpun keraguan. Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang Yahudi itu kaum pendusta. Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka, tentu mereka akan menyebutku pendusta…”

Tidak berapa lama, beberapa orang Yahudi mendatangi Nabi SAW, segera saja Abdullah bin Salam bersembunyi. Beliau bertanya kepada mereka, “Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam di antara kalian?”

Merekapun menjelaskan, “Dia adalah orang yang terpandai di antara kami, dan anak dari orang yang terpandai di antara kami. Dia adalah orang yang terbaik di antara kami, anak dari orang yang terbaik di antara kami.”

“Bagaimana pendapat kalian jika Abdullah bin Salam telah memeluk Islam?” Nabi SAW bertanya.

Mereka menjawab,”Semoga Allah melindunginya dari hal tersebut!”

Mereka mengulang ucapan tersebut sampai dua atau tiga kali. Segera saja Abdullah bin Salam keluar dari persembunyiannya dan mengucapkan syahadat menyatakan dirinya sebagai seorang muslim di hadapan kaumnya. Dan benarlah apa yang dikatakan Abdullah bin Salam sebelumnya. Segera saja mereka mencaci maki dirinya, dan berkata kepada Nabi SAW, “Dialah orang yang terburuk di antara kami, anak dari orang yang terburuk di antara kami…” 

Sahabat Sa’d bin Abi Waqqash pernah menyatakan, bahwa Nabi SAW menyebutkan Abdullah bin Salam adalah seorang penghuni surga yang sedang berjalan di muka bumi. Abdullah bin Salamlah yang dirujuk sebagai saksi dari Bani Israil yang mengakui kebenaran Islam, seperti disebutkan dalam surah al Ahqaf 10 : “…Wa syahida syahidun min bani israa-ila ‘alaa mitslihii fa aamanna…” (…Dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui [kebenaran] yang serupa dengan [yang tersebut dalam] Al Qur’an lalu dia beriman…).

Setelah keislamannya tersebut, Abdullah bin Salam mengajak dua keponakannya, Salamah dan Muhajir untuk memeluk Islam. Ia berkata, “Kalian berdua tahu bahwa Allah telah berfirman dalam Taurat, bahwa Dia akan mengutus dari keturunan Ismail, seorang Nabi bernama Ahmad. Siapa yang mengikutinya ia telah mendapat hidayah, dan siapa yang tidak iman kepadanya akan dilaknat. Hendaklah kalian memeluk Islam”

Maka Salamah memeluk Islam dan Muhajir menolaknya. Menurut satu riwayat, peristiwa ini menjadi asbabun nuzul dari Surah Al Baqarah ayat 130.

Kisah Sahabat#Salim Ra

Salim Ra, Maula Abu Hudzaifah Ra

Salim RA, walaupun statusnya sebagai maula, bekas budak yang dimerdekakan oleh tuannya, namun Islam telah mengangkat derajatnya karena kemampuannya dalam hal Al Qur’an. Nabi SAW pernah bersabda, “Mintalah dibacakan (diajari) al Qur’an dari empat orang, yakni : Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’b dan Mu’adz bin Jabal.” 

Tuan yang membebaskannya, Abu Hudzaifah, adalah putra dari tokoh kafir Quraisy Utbah bin Rabiah. Ia telah memeluk Islam sejak awal, dan segera membebaskan Salim sebagai budaknya, kemudian mengikat persaudaraaan dengannya. Bahkan ia menikahkan dengan keponakannya yang juga memeluk Islam, Fathimah binti Walid bin Utbah, untuk lebih mempererat persaudaraannya tersebut. 

Dalam pertempuran Yamamah melawan pasukan kaum murtad yang dipimpin nabi palsu Musailamah al Kadzdzab, pasukan muslim sempat mengalami kekalahan. Pasukan pertama yang dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal telah kalah, pasukan kedua juga sempat kocar-kacir, kemudian yang ditunjuk memimpin pasukan adalah Khalid bin Walid.

Khalid merubah strategi pertempuran dengan mengelompokkan pasukan sesuai kabilah dan golongannya. Salim diserahi Khalid untuk memegang panji kaum Muhajirin. Beberapa orang sepertinya meragukan semangat juangnya, dan akan goncang dari kedudukannya sebagai pemegang panji. Mereka khawatir musuh akan memfokuskan diri menyerang kaum Muhajirin karena dianggap pemimpinnya hanya seorang maula yang lemah semangat. Atas sikap mereka ini, Salim, yang digelari Nabi SAW : ‘Pendukung Al Qur’an’ berkata dengan tegas, “Seburuk-buruknya pendukung Al Qur’an adalah aku, jika kalian diserang karena aku!”

Perlawanan dari pasukan Musailamah dan bani Hanifah memang cukup hebat sehingga mampu membuat pasukan muslim porak-poranda beberapa kali. Hal ini menyebabkan beberapa orang menjadi gentar, bahkan ada yang berlari mundur. Melihat keadaan tersebut, Salim dan Tsabit bin Qais, pemegang panji kaum Anshar berkata, “Kami tidak berperang seperti ini pada zaman Rasulullah SAW…”

Keduanya kemudian menggali lubang sebatas lutut dan berdiri di dalamnya sehingga tidak mungkin mundur, dan menahan serangan musuh dengan semangat baja. Tindakan heroik dua sahabat Nabi SAW ini ternyata mampu membangkitkan semangat pasukan muslim lainnya. Mereka berangsur bangkit dan akhirnya mampu mengalahkan pasukan Musailamah al Kadzdzab.

Salim dalam keadaan sekarat dengan kaki masih terpendam sebatas lutut. Ketika orang-orang melepaskan kakinya dari lubang dan akan membaringkannya, ia sempat berkata, “Bagaimanakah keadaan Abu Hudzaifah?”

“Ia telah menemui syahidnya!!” Salah seorang sahabat menjelaskan.

“Baringkanlah aku di sebelahnya,” Kata Salim, seolah-olah sebagai permintaan terakhir.

Mereka mengangkat tubuh Salim dan membaringkannya di dekat jenazah Abu Hudzaifah. Salah seorang berkata, “Ini dia Salim, engkau telah berbaring di sampingnya, ia telah menemui syahidnya di tempat ini…!!”

Tampak sesungging senyum mengembang di mulut Salim mendengar penjelasan itu, tak lama kemudian ia menemui syahidnya menyusul saudara dan bekas tuannya tersebut.

Kisah Sahabat#Tsabit Bin Qais Syammas Ra

Tsabit Bin Qais Bin Syammas Ra

Tsabit bin Qais adalah seorang sahabat Anshar, paman dari Anas bin Malik, beberapa kali ia mengikuti perang bersama Rasulullah SAW. Ketika turun ayat tentang larangan mengeraskan suara di atas suara Nabi SAW (QS al Hujurat ayat 2), ia pun mengurung diri di rumah dan menangis, ia merasa kebaikannya habis dan termasuk ahli neraka karena termasuk yang terkena larangan tersebut.

Ashim bin Adi bin Ajlan lewat di depan rumahnya dan mendengar tangisannya. Iasinggah danmenanyakan penyebabnya, maka Tsabit berkata, “Aku khawatir ayat yang baru turun tersebut berkenaan dengan diriku, karena aku ini orang yang bersuara keras.”

Ashim melaporkan hal tersebut kepada Nabi SAW, dan beliau memerintahkan untuk menghadirkan Tsabit kepada beliau.

Riwayat lain menyebutkan, Nabi SAW yang tidak bertemu dengan Tsabit dalam beberapa hari, karena itu beliau menyuruh seorang sahabat untuk mencarinya. Ketika tahu keadaannya di rumah dalam keadaan bersedih dan menangis, sahabat tersebut menceritakan kepada Nabi SAW dan beliau menyuruh untuk menghadirkan Tsabit di majelis beliau.

Ketika Tsabit telah datang menghadap, Nabi SAW bersabda, “Apakah engkau tidak ridha jika engkau hidup terpuji, mati syahid dan kemudian masuk surga?”

“Saya ridha, ya Rasulullah,” Kata Tsabit, “Dan saya berjanji tidak akan mengeraskan suara saya di hadapan engkau selama-lamanya…!!”

Dalam pertempuran Yamamah melawan pasukan murtad yang dipimpin nabi palsu Musailamah al Kadzdzab, pasukan muslim sempat mengalami kekalahan. Pasukan pertama yang dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal telah kalah, pasukan kedua juga sempat kocar-kacir, kemudian Khalid bin Walid memegang komando pasukan dan merubah strategi dengan mengelompokkan pasukan sesuai kabilah dan golongannya. 

Tsabit bin Qais diserahi untuk memegang panji-panji kaum Anshar. Ketika melihat pasukan muslim porak-poranda, Anas bin Malik berkata kepadanya, “Wahai paman, apakah engkau tidak melihat?”

Tsabit mengerti maksud keponakannya tersebut, kemudian ia bersuara lantang lagi, “Bukan begini kami biasa berperang bersama Rasulullah, amat buruklah apa yang kalian lakukan terhadap musuh kalian dalam perang ini (yakni, lari mundur).” 

Kemudian ia berdoa, “Ya Allah, sungguh aku berlepas diri dari apa yang mereka lakukan (yakni orang-orang murtad yang dipimpin oleh Musailamah al Kadzdzab), dan aku juga berlepas diri dari sikap mereka (kaum muslimin yang mundur).”

Kemudian bersama Salim, maula Abu Hudzaifah yang membawa panji Muhajirin, mereka menghadang serangan musuh. Bahkan untuk tidak berlari mundur, mereka menggali lubang sebatas lutut dan berperang dengan semangat tinggi. Sikap heroik mereka berdua ini membangkitkan kembali semangat berjuang dan berjihad dari pasukan muslim sehingga akhirnya mereka memetik kemenangan. Tsabit bin Qais sendiri menemui syahidnya dalam pertempuran ini.

Kisah Sahabat#Ukasyah Bin Mihshan Ra

Ukasyah Bin Mihshan Ra

Ukasyah bin Mihshan al Asadi adalah seorang sahabat Muhajirin yang berasal dari Bani Abdu Syams. Ia telah memeluk Islam pada masa-masa awal sehingga termasuk dalam as Sabiqunal Awwalin.

Suatu ketika Nabi SAW menceritakan kepada sahabat-sahabatnya, bahwa kelak di hari kiamat beliau akan memamerkan umat beliau di hadapan para pemimpin (Nabi-nabi terdahulu). Dengan bangganya beliau akan memperlihatkan umat beliau yang begitu banyak hingga memenuhi dataran dan bukit. Lalu Allah berfirman kepada Nabi SAW, “Ridhakah engkau, ya Muhammad?”

Maka Nabi SAW akan menjawab, “Aku ridha, ya Tuhanku!”

Kemudian Allah berfirman lagi, “Sesungguhnya ada tujuh puluh ribu dari umatmu yang masuk surga tanpa hisab dengan wajah seperti bulan purnama.”

Para sahabat pun terkagum-kagum dengan cerita Nabi SAW. Namun tiba-tiba Ukasyah mendekati beliau dan berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah aku termasuk golongan itu.”

“Engkau termasuk golongan mereka!!” Kata Nabi SAW.

Melihat tindakan Ukasyah, beberapa sahabat mendekati beliau dan meminta didoakan seperti halnya Ukasyah. Beliau tersenyum melihat reaksi para sahabat tersebut dan bersabda, “Kalian sudah didahului Ukasyah.”

Perang Badar merupakan perang yang banyak memunculkan pahlawan-pahlawan Islam. Perang pertama yang sangat menentukan, apakah Islam akan tenggelam dan lenyap selagi masih embrio, ataukah akan terus tumbuh berkembang pesat? Dan sejarah membuktikan, 313 orang yang belum cukup berpengalaman dengan persenjataan terbatas dan perbekalan seadanya, apalagi memang tidak dipersiapkan untuk bertempur tetapi hanya untuk mencegat kafilah dagang Quraisy, ternyata mampu mengalahkan seribu orang pasukan kafir Quraisy yang dipimpin Abu Jahal yang berpengalaman, dengan persenjataan lengkap dan perbekalan yang lebih banyak. Tentunya semua itu terjadi tidak lepas dari pertolongan Allah SWT. 

Salah satu pahlawan yang lahir di medanperang Badar ini adalah Ukasyah bin Mihshan bin HarsanAl-Asadi. Begitu dahsyatnya ia bertempur sehingga pedangnya pun patah. Melihat hal itu, Rasulullah SAW menghampiri Ukasyah sambil membawa sebuah ranting pohon, sambil bersabda, “Berperanglah dengan ini wahai Ukasyah.”

Begitu diterima dari Nabi SAW dan digerak-gerakkan, ranting pohon itupun berubah menjadi sebuah pedang yang panjang, kuat, mengkilat dan tajam. Ukasyahpun meneruskan pertempurannya hingga Allah memberikan kemenangan pada umat Islam.

Pedang yang kemudian diberi nama “Al ‘Aun” menjadi senjata andalan Ukasyah dalam setiap pertempuran yang diikutinya, baik bersama atau tanpa Rasulullah SAW. Begitupun ketika Ukasyah menjemput syahidnya di Perang Riddah, pedang dari ranting pemberian Nabi SAW setia menemaninya.

Pembunuh Ukasyah adalah Thulaihah al Asadi yang saat itu mengaku sebagai nabi, tetapi kemudian menjadi sadar dan kembali kepada Islam dan menjadi baik keislamannya. Ketika Umar bertemu dengan Thulaihah, ia berkata, “Apakah engkau yang telah membunuh orang yang saleh, Ukasyah bin Mihshan??” 

Thulaihah menjawab, “Ukasyah menjadi orang yang bahagia (menjadi syahid) karena diriku, dan aku menjadi orang celaka karena dirinya. Tetapi aku memohon ampun kepada Allah…”

Kemudian Thulaihah menyitir sabda Nabi SAW, “Surga itu diliputi oleh hal-hal yang dibenci dan neraka itu ditaburi oleh hal-hal yang disukai…” Umar bin Khaththab hanya tersenyum dan membenarkan Thulaihah.

Kisah Sahabat#Basyir Bin Muawiyyah Ra

Basyir Bin Muawiyah (Abu Alqamah) Ra

Basyir bin Muawiyah atau bergelar Abu Alqamah adalah sepupu Uskup Najran. Ia sedang bersama sang uskup ketika utusan yang dikirim kepada Nabi SAW kembali menemui mereka, dan menyerahkan suratbalasan Nabi SAW. Masih dengan mengendarai untanya, sang uskup membaca surat Nabi SAW, dan tiba-tiba unta yang dikendarai Basyir jatuh tersungkur dan Basyir terlempar. Seketika itu Basyir mendoakan kehancuran untuk Nabi SAW, karena dianggapnya beliaulah penyebab tersungkurnya ia ke tanah.

Mendengar perkataannya tersebut, sang Uskup berkata, “Sungguh, demi Allah, engkau telah mendoakan kecelakaan bagi Nabi yang diutus?”

Tampaknya Basyir menangkap pembenaran dalam perkataan sang Uskup tersebut, karena itu ia menaiki kembali untanya dan berkata, “Tidak mengapa, demi Allah, tidak akan kulepaskan tali kekang ini hingga aku menemui Rasulullah itu.”

Tetapi ternyata pernyataan sang uskup tersebut tidaklah dimaksudkan sebagai pembenaran atas Nabi SAW, karena kemudian ia menanggapi perkataan Basyir, “Pahamilah maksudku, aku berkata seperti itu hanya agar sampai kepada orang-orang Arab yang taat itu. Aku khawatir mereka berpendapat kita telah mengambil haknya (sebagai Nabi), atau kita tidak ridha dengan nama baiknya yang telah tersebar luas, atau kita mengakui tunduk kepadanya, yang orang-orang Arab lainnya tidak tunduk kepadanya, padahal kita adalah orang-orang yang paling kuat dan bersatu di antara mereka.”

Mendengar pernyataan yang tidak tegas tersebut, justru menguatkan niat Basyir untuk menemui Nabi SAW, ia berkata kepada sang Uskup, “Tidak, aku tidak mau menerima perkataan apapun lagi yang keluar dari kepalamu selama-lamanya.”

Basyir menepuk untanya dan berlalu meninggalkan sang Uskup, sambil terus bersyair, “Aku menuju kepadamu, Muhammad SAW, Sang Penunggang unta yang bersyair dalam keresahan, menentang apa yang dipegang kaumnya, menolak agama Nashrani yang menjadi agamanya.”

Basyir terus memacu untanya hingga tiba di Madinah dan berhasil menemui Rasulullah SAW. Ia  akhirnya memeluk Islam. Ia tetap tinggal bersama Nabi SAW hingga akhirnya menemui syahidnya dalam suatu pertempuran bersama Rasulullah SAW.

Kisah Sahabat#Basyir Bin Khashashiyyah Ra

Basyir Bin Khashashiyyah Ra

Nama aslinya an Nadzir (pengancam), kemudian Nabi menyebutnya sebagai al Basyir (pembawa berita gembira) setelah ia menyatakan dirinya memeluk Islam. Ia salah satu sahabat ahlush Shuffah, sekelompok sahabat miskin yang tinggal di serambi masjid Nabi SAW. Mereka ini makan dan mendapat pakaian lewat pemberian beliau, kalau Nabi SAW sedang lapar otomatis mereka juga kelaparan. Padahal beliau sendiri tidak pernah dalam keadaan kenyang dalam tiga hari berturut-turut, bahkan lebih sering laparnya, terkadang melebihi tiga hari sehingga beliau mengganjal perut beliau dengan batu. Seperti itu pulalah yang dialami oleh para sahabat ahlush Shuffah.

Suatu ketika Nabi SAW bersabda kepada Basyir, “Apakah engkau tidak ridha Allah mengalihkan pendengaran, penglihatan dan hatimu kepada Islam, kemudian sebagian orang-orang Bani Rabiah al Faras berkata : Kalau tidak karena mereka (termasuk Basyir bin Khashashiyyah), niscaya bumi akan terbalik beserta seluruh isinya.”

Ini adalah sebuah penghargaan atas keputusan Basyir dan beberapa orang dari kaumnya untuk memeluk Islam, kemudian mereka ini tekun dan istiqomah menjalankan ajaran-ajarannya. Padahal ketika ia berba’iat memeluk Islam dan Nabi SAW menyampaikan apa saja yang harus diamalkan, ia sempat berkata, “Ya Rasulullah SAW, aku mampu melakukan itu semua kecuali dua, zakat dan jihad. Aku tidak memiliki harta kecuali hanya beberapa (2-9) ekor unta. Unta itu untuk sumber makanan dan susu bagi keluargaku dan kendaraan untuk bepergian. Sedangkan jihad, sesungguhnya aku ini seorang penakut. Aku khawatir jika aku ikut pertempuran, aku akan lari, padahal ancaman bagi orang yang lari dari medan jihad sangat berat, kemurkaan dari Allah”

“Hai Basyir,” Kata Nabi SAW, “Tanpa jihad dan sedekah? Maka dengan apa lagi engkau akan memasuki surga?”Kemudian Nabi SAW meludahi telapak tangannya, dan menarik tangan Basyir untuk berba’iat lagi. Begitu tangannya menyatu dengan tangan Rasulullah SAW, dadanya terasa begitu lapang, tiada ketakutan dan kekhawatiran apapun lagi untuk menjalankan ajaran Islam.

Kisah Sahabat#Abdurahman Bin Auf Ra

Abdurrahman Bin Auf Ra

Abdurrahman bin Auf termasuk dalam kelompok sahabat as Sabiqunal Awwalun, ia memeluk Islam pada hari-hari pertama Islam didakwahkan, yakni lewat perantaraan Abu Bakar ash Shiddiq. Ia juga termasuk dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ketika masih hidupnya. Sembilan orang lainnya adalah empat khalifah Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar Utsman dan Ali, kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam R.Hum.

Abdurrahman bin Auf termasuk seorang sahabat yang selalu berhasil dalam perniagaannya, sehingga hartanya selalu berlimpah. Apapun bidang usaha yang ditekuninya selalu memberikan keuntungan, sehingga ia sempat takjub atas dirinya sendiri, dan berkata, “Sungguh mengherankan diriku ini, seandainya aku mengangkat batu tentulah kutemukan emas dan perak di bawahnya.”

Namun kekayaannya yang melimpah tidak menjadikannya takabur. Orang yang belum pernah mengenalnya, bila bertemu untuk pertama kali, mereka tidak akan bisa membedakan antara dirinya sebagai tuan dan pelayan/pegawainya, karena kesederhanaan penampilannya.

Pernah ia dipusingkan dengan hartanya yang begitu berlimpah sehingga ia begitu gelisah dan tidak bisa tidur. Istrinya yang bijak dan penuh keimanan memberikan saran yang bisa menentramkan hatinya. Sang istri berkata, “Hendaknya hartamu engkau bagi tiga, dengan sepertiganya, engkau carilah saudaramu seiman yang berhutang dan lunasilah hutang mereka. Sepertiganya lagi, carilah saudaramu seiman yang memerlukan uang dan berilah mereka pinjaman. Dan sepertiganya lagi, engkau pakai sebagai modal perniagaanmu…” 

Ketika Nabi SAW menyeru agar umat Islam bersedekah untuk mendanai Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menyedekahkan seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 200 uqiyah atau 8000 dirham. Umar bin Khaththab mengadukan sikap Abdurrahman kepada Nabi SAW karena tidak menyisakan apapun untuk keluarganya, sedangkan ia sendiri menyedekahkan separuh hartanya sebanyak 100 uqiyah, separuhnya lagi ditingalkan untuk keperluan keluarganya.

Karena pengaduan Umar ini, Rasulullah SAW memanggilnya, kemudian bertanya, “Wahai Abdurrahman, apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluarga yang engkau tinggalkan!”

“Benar, ya Rasulullah!” Kata Abdurrahman, “Aku telah meninggalkan untuk keluargaku sesuatu yang lebih baik dan lebih banyak daripada apa yang kusedekahkan!”

“Berapa?” Nabi SAW bertanya.

“Kebaikan dan rezeqi yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya!”

Rasulullah SAW membenarkan sikapnya dan menerima alasan Abdurrahman tersebut.

Suatu hari, beberapa tahun setelah Rasulullah SAW wafat, terdengar suara bergemuruh dan debu mengepul menuju kota Madinah, seolah-olah ada pasukan yang sedang menyerbu kotaMadinah. Ummul Mukminin, Aisyah RA berkata, “Apa yang sedang terjadi di kota Madinah ini?”

Seseorang menjelaskan bahwa kafilah dagang Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam, sebanyak 700 kendaraan penuh dengan barang yang bermacam-macam. Masyarakat Madinah menyambut dengan gembira kedatangan kafilah tersebut karena mereka pasti akan ikut merasakan manfaatnya. Mendengar penjelasan tersebut, Aisyah tercenung sesaat seolah-olah mengingat sesuatu, kemudian ia berkata, “Aku ingat Rasulullah SAW pernah bersabda : Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan. Ini yang mungkin dimaksud beliau….”

Sebagian riwayat menyebutkan, sabda Nabi SAW tentang dirinya tersebut dengan redaksi yang berbeda, yakni : Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak, dan beberapa redaksi lainnya yang intinya adalah ia “tertunda” karena terlalu banyaknya harta kekayaannya. Walaupun ia memperoleh harta kekayaannya dengan jalan halal dan membelanjakan atau mengeluarkan dengan jalan halal pula, tetapi ia harus melewati hisab yang tentunya lebih lama dibanding sahabat-sahabat as Sabiqunal Awwalin lainnya.

Sebagian sahabat yang mendengarkan ucapan Aisyah tersebut menyampaikan ucapan tersebut kepada Abdurrahman bin Auf. Ia segera ingat, bahwa Nabi SAW memang pernah bersabda seperti itu, dan ia juga ingat bahwa beliau memberitakan, bahwa pertanyaan akhirat tentang umur dan ilmu hanya satu, tetapi tentang harta ada dua, bagaimana mendapatkannya dan dimana/bagaimana membelanjakannya? <;br />
Sebelum sempat barang perniagaannya diturunkan dari kendaraan, ia bergegas menemui Aisyah, dan berkata, “Anda telah mengingatkanku akan hadits, yang sebelumnya tak pernah kulupakan. Dengan ini saya memohon dengan sangat anda menjadi saksi, bahwa kafilah dagang dan semua muatan berikut kendaraan dan perlengkapannya kubelanjakan di jalan Allah SWT.”

Sewaktu ia sakit keras menjelang ajalnya, Aisyah mendatanginya dan menawarkan agar jenazahnya nanti dimakamkan di halaman rumahnya, sehingga berdekatan dengan makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar yang ada di dalam rumahnya. Tetapi ia memang seorang yang rendah hati, ia merasa malu diberikan penghargaan yang setinggi itu, ia memilih untuk dimakamkan didekat makam sahabatnya yang telah mendahuluinya, Utsman bin Madz’um RA di Baqi.

Pada detik-detik terakhir nyawanya akan dicabut, ia sempat menangis dan berkata, “Aku khawatir dipisahkan dari sahabat-sahabatku karena kekayaanku yang melimpah ini…”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai