Kisah Sahabat#Safinah Ra

Safinah Ra

Safinah adalah bekas budak Rasulullah SAW, yang adalah milik Ummu Salamah, istri beliau. Nama aslinya adalah Ahmar. Nama “Safinah” adalah pemberian beliau. Suatu ketika Sa’id bin Jumhan bertanya tentang namanya tersebut, yakni Safinah yang berarti kapal atau perahu. Safinah-pun menceritakan kisahnya. 

Suatu ketika Ahmar mengikuti rombongan Nabi SAW dan beberapa sahabatnya dalam suatu perjalanan atau peperangan. Beberapa sahabat merasa berat dengan barang bawaannya, apalagi saat itu akan menyeberangi suatu lembah atau sungai. Maka Nabi SAW bersabda kepada Ahmar, “Bentangkan kainmu!”

Setelah ia membentangkan kainnya, Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk meletakkan barang-barang yang telah memberatkan tersebut di atas kainnya, kemudian beliau bersabda, “Bawalah!! Tidaklah kamu pada hari ini melainkan Safinah!!”

Entah karena memang Ahmar mempunyai kekuatan lebih dalam mengangkat barang, atau memang sabda Rasulullah SAW tersebut yang memberikan berkah kekuatan kepadanya, ternyata ia mampu mengangkatnya. Padahal beberapa orang sahabat merasa payah mengangkatnya walau hanya sebagian.  

Sejak saat itulah ia lebih dikenal dengan nama Safinah. Kemudian Safinah berkata pada Sa’id, “Sekiranya waktu itu dibebankan kepadaku barang-barang yang dibawa seekor atau dua ekor unta, bahkan limaatau enam ekor unta, aku pasti mampu membawanya.”

Kisah Sahabat#Dihyah Al Kalbi Ra

Dihyah Al Kalbi Ra

Dihyah al Kalbi RA adalah seorang sahabat yang mempunyai wajah, janggut (jenggot), perawakan dan usia yang menyerupai Malaikat Jibril AS saat berwujud sebagai manusia. Usai perang Khandaq, dimana Nabi SAW dan para sahabat beristirahat, datanglah Malaikat Jibril AS dalam ujud manusia menemui Nabi SAW, dan berkata, “Apakah engkau telah meletakkan senjata?Jangan demikian! Para malaikat sama sekali belum meletakkan senjata! Keluarlah engkau menuju Bani Quraizhah, dan perangilah mereka!”

Ketika Nabi SAW melewati Bani Ghanm, penduduk sekitar masjid yang dilewati kalau menuju rumah beliau, beliau bertanya tentang siapa yang baru saja lewat, merekapun berkata, “Telah melewati kami, Dihyah bin Kalbi!”

Dalam riwayat lain disebutkan, saat itu Nabi SAW sedang bersama istri beliau, Ummu Salamah RA, Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dalam wujud manusia. Setelah Malaikat Jibril berlalu, Nabi SAW bertanya kepada istrinya itu tentang siapa tamu yang baru datang, Ummu Salamah menjawab, “Dia adalah komandan tentara, Dihyah…”

Nabi SAW tersenyum dan menjelaskan bahwa tamu tersebut adalah Malaikat Jibril AS.

Inilah kesaksian tentang kesamaan Dihyah al Kalbi dengan penjelmaan Malaikat Jibril sebagai manusia.

Dihyah al Kalbi RA diutus Nabi SAW untuk menemui Kaisar Romawi, Hiraqla (secara umum dikenal dengan nama Hiraklius) dengan membawa suratNabi SAW tentang ajakan untuk masuk Islam. Surat yang dibacakan di dalam majelis Kaisar Hiraqla, juga dihadiri Abu Sufyan dan teman-temannya yang sedang berdagang di Syam, tidak memperoleh tanggapan positif dari pembesar-pembesar Romawi yang hadir. Sedangkan Hiraqla sendiri melihat adanya kebenaran atas apa yang diserukan Rasulullah SAW, apalagi setelah tanya jawabnya yang panjang lebar dengan Abu Sufyan tentang pribadi dan latar belakang kehidupan Nabi SAW.

Hiraqla memanggil Uskup kotaIliya di Syam, Ibnu Nathur, yang biasanya menjadi rujukan dalam soal keagamaan, dan juga mendatangkan Dihyah al Kalbi dalam pertemuan tersebut. Ibnu Nathur ini di samping sebagai uskup, juga sahabat Hiraqla. Setelah mendengar penjelasan Hiraqla dan juga Dihyah, Ibnu Nathur membacakan beberapa ayat-ayat injil, dan akhirnya membenarkan kenabian Nabi Muhammad SAW dan seketika memeluk Islam. Tetapi Hiraqla sendiri tidak mau mengikuti sikap uskup ini walau sebenarnya kebenaran itu makin menguat di hatinya. Tidak ada lain yang menghalanginya memeluk Islam kecuali takut kehilangan kekuasaannya. Bahkan beberapa panglima perangnya sudah mengancam tidak akan mengakui kedudukannya jika ia memenuhi seruan Nabi SAW.

Dihyah al Kalbi sering menemui sang uskup untuk lebih mengenalkan dan mengajarkan Islam. Pada hari ahadnya, sang uskup tidak hadir untuk memberikan ceramah dan nasihat seperti biasanya, padahal orang-orang Romawi yang menjadi jamaahnya telah berkumpul. Begitupun berulang pada beberapa hari ahad berikutnya, sehingga akhirnya orang-orang Romawi mengancam untuk membunuhnya jika tidak keluar.

Sang uskup, Ibnu Nathur menitipkan suratpada Dihyah untuk Nabi SAW tentang keislamannya, dan menyampaikan pada Nabi apa yang dilihatnya. Setelah itu Ibnu Nathur keluar menemui orang-orang Romawi, tidak dengan pakaian gereja kebesaran seperti biasanya, tetapi memakai pakaian putih. Ia mengucapkan syahadat di hadapan mereka sehingga mereka begitu murka dan akhirnya membunuh sang Uskup yang selama ini dipatuhi dan mereka dengar dan patuhi nasehat-nasehatnya.

Dihyah al Kalbi yang menjadi saksi langsung peristiwa mengenaskan tersebut, menceritakan peristiwa itu kepada Nabi SAW sekaligus menyerahkan surat sang Uskup, Ibnu Nathur untuk beliau. Surat tersebut dibacakan untuk Nabi SAW, dan mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Ibnu Nathur

Kisah Sahabat#Dhamrah Bin Ibnul Ishaq Ra

Dhamrah Bin Ibnul Ishaq Ra

Dhamrah bin Ibnul Ishaq atau Dhamrah bin Jundub, adalah seorang lelaki dari Bani Laits yang telah tua dan buta matanya, tetapi kaya raya. Ia memeluk Islam sejak awal didakwahkan di Makkah. Ketika turun perintah hijrah ke Madinah, ia dengan segera menyambutnya. Tetapi orang-orang di sekitar, baik teman atau kerabatnya, berusaha untuk menahannya untuk tetap tinggal di Makkah karena keadaannya yang telah tua dan buta, sekaligus sakit-sakitan. 

Karena dorongan keimanan telah begitu merasuk dan mengental dalam jiwanya, walaupun dengan keadaannya itu ia diberi keringanan (rukhshah) untuk tidak berhijrah, dengan tegas ia berkata, “Aku tidaklah termasuk yang diberikan keringanan itu, karena aku bisa membiayai perjalananku dengan hartaku. Bawalah dan keluarkanlah aku dari negeri orang-orang musyrik ini menuju Rasulullah SAW. Aku tidak ingin bermalam lagi di tempat ini…”

Kemudian Dhamrah memerintahkan budak-budaknya mempersiapkan perbekalan dan tandu untuk membawanya menuju Madinah, dan langsung berangkat tanpa menunda-nundanya lagi. Tetapi di tengah perjalanan, yakni di Tan’im, ia meninggal dunia dan dimakamkan disana.

Beberapa sahabat di Madinah yang mendengar kabar kewafatannya, sempat menyesalkan keadaannya, karena ia belum sampai berhijrah dengan sempurna hingga menemui Nabi SAW di Madinah. Karena kesedihan para sahabat atas musibah yang dialami Dhamrah ini dan status hijrahnya, turun firman Allah QS an Nisa ayat 100 yang menyatakan bahwa ia telah memperoleh pahala sebagai muhajirin secara sempurna. Sebagian riwayat menyebutkan, ayat tersebut telah diturunkan sebelumnya berkenaan dengan sahabat lainnya dalam peristiwa yang hampir sama, dan Nabi SAW membacakannya untuk menghibur kesedihan para sahabat tersebut.

Kisah Sahabat#Ikrimah Bin Abu Jahl Ra

Ikrimah Bin Abu Jahl Ra

Saat Fathul Makkah, Ikrimah bin Abu Jahl berusaha melarikan diri karena takut dengan pembalasan, akibat kerasnya sikap permusuhan yang dilakukannya kepada kaum muslimin. Di pesisir Tihamah, ia menaiki sebuah kapal yang akan membawanya ke daerah Yaman. Nakhkoda kapal terus mengatakan kepadanya agar ia menyucikan dirinya, ketika ditanyakan tentang apa yang harus dilakukannya, sang nakhkoda berkata, “Ucapkanlah kalimat Laa ilaaha illallaah.” 

“Tidak ada yang menyebabkan aku melarikan diri dari negeriku, kecuali dari kalimat tersebut,” Kata Ikramah.

Nakhkoda tetap berkeras, kalau tidak, ia tidak akan membawanya berlayar. Dalam keadaan ini, tiba-tiba ada suara memanggilnya, yang ternyata istrinya sendiri, Ummu Hakim binti Harits bin Hisyam, yang telah memeluk agama Islam. Ikrimah menghentikan pertengkarannya dengan sang nakhkoda dan berpaling pada istrinya.

Ummu Hakim setengah berteriak berkata, “Wahai putra pamanku, aku telah datang kepadamu dari sisi orang yang paling banyak menyambung silaturahmi, sebaik-baiknya manusia dan semulia-mulianya manusia, janganlah engkau binasakan dirimu sendiri.”

Setelah dekat, ia berkata lagi, “Sesungguhnya aku telah meminta jaminan keselamatan untukmu dari Rasulullah SAW.”

“Engkau telah melakukannya?” Kata Ikrimah setengah tidak percaya.

Istrinya menjawab, “Ya, aku telah berbicara dengan Nabi SAW dan meminta jaminan keselamatan untukmu. Dan beliau memberikan jaminan keselamatan itu untukmu!”

Tampaknya tidak banyak pilihan bagi Ikrimah, karena nakhkoda kapal sendiri menolak membawanya kecuali jika ia membaca syahadat, yang artinya harus memeluk Islam. Padahal hal itu menjadi sakah satu sebab ia ingin lari ke Yaman. Ikrimah memenuhi permintaan istrinya, dan mereka berdua berjalan kembali ke Makkah.

Ummu Hakim menceritakan kalau budak Rumawi yang mengantarkannya mencoba untuk menodai kehormatannya, kemudian ditolong oleh orang-orang dari Bani ‘Akk, yang menangkap dan mengikatnya. Ikrimah menjadi marah, dan setelah menemui budaknya itu dan membunuhnya. Ketika Ikrimah ingin menggauli istrinya, Ummu Hakim menolaknya dan berkata kalau dia masih musyrik sedang dirinya seorang muslimah. Ikrimah berkata, “Sesungguhnya perkara (agama) yang menghalangimu untuk kugauli itu sangatlah besar.”

Di Makkah, Nabi SAW yang telah mengetahui bahwa Ummu Hakim berhasil membawa kembali suaminya, bersabda kepada para sahabat, “Ikrimah bin Abu Jahl akan datang kepada kalian sebagai orang yang beriman dan berhijrah, maka janganlah kalian mencaci bapaknya, karena cacian terhadap mayat akan menyakiti orang yang hidup, dan cacian tidak akan sampai kepada si mati.”

Ikrimah belumlah menyatakan beriman dan memeluk Islam. Ia kembali ke Makkah hanya karena ada jaminan keselamatan seperti yang dikatakan istrinya. Tetapi pandangan Rasulullah SAW memang bisa “menembus” ruang (tempat) dan waktu. Ketika melihat kedatangannya, Rasulullah SAW melompat mendekatinya dengan penuh gembira, sampai beliau tidak sadar bahwa bahu beliau terbuka tanpa kain selendang yang menutupinya.

Ketika telah berhadapan, Ikrimah menanyakan tentang kebenaran jaminan keselamatan dirinya yang diminta oleh istrinya, dan Nabi SAW membenarkannya. Ikrimah bertanya lagi tentang risalah yang dibawa Nabi SAW, dan beliau menjelaskannya dengan panjang lebar pokok-pokok ajaran agama Islam. Perkataan beliau yang bijak tanpa tidak ada nada paksaan tampaknya membuka pintu hatinya. Setelah penjelasan beliau tersebut, Ikrimah berkata, “Demi Allah, apa yang engkau seru adalah kebaikan, dan kepada urusan yang indah lagi baik. Demi Allah, sebelum engkau menyeru kami kepada risalah yang engkau bawa, engkau adalah orang yang terpercaya dan paling baik di antara kita.”

Nabi SAW merasa senang dengan penuturan Ikrimah ini, dan ketika Ikrimah meminta Nabi SAW untuk mengajarkan kebaikan yang harus ia katakan lagi, Rasulullah memintanya membaca dua kalimah syahadah. Ternyata ia memenuhi permintaan Nabi SAW, diucapkannya dua kalimah syahadah tanpa keraguan sedikitpun. 

Belum cukup juga, ia bertanya kepada beliau tentang apa yang harus dikatakan untuk menunjukkan kemantapannya memeluk Islam, Nabi bersabda, “Katakanlah, aku mengambil Allah sebagai saksi, dan aku bersaksi di hadapan orang-orang yang hadir, bahwa aku adalah seorang Islam yang berjihad dan berhijrah.”

Ikrimah mengucapkan perkataan yang diajarkan Nabi SAW tersebut dengan penuh keyakinan. Dan Nabi SAW tampak begitu gembira, sehingga beliau menyatakan akan memenuhi apapun permintaan Ikramah sejauh yang beliau bisa berikan pada seseorang. Mendengar penuturan ini, Ikrimah berkata, “Ya Rasulullah, hendaknya engkau memohonkan ampunan bagiku atas setiap permusuhanku terhadapmu, atas setiap perjalanan yang untaku kupacu kencang untuk memusuhimu, atau dimanapun aku menemuimu untuk menyakitimu, juga atas setiap ucapan yang keluar dari mulutku, di hadapanmu atau di belakangmu.”

Nabi SAW pun mendoakan keampunan seperti yang diminta Ikrimah, dan para sahabat yang hadir mengamininya.

“Aku telah ridlo, ya Rasulullah,” Kata Ikramah, kemudian melanjutkan, “Demi Allah, ya Rasulullah, aku akan mengorbankan hartaku di jalan Allah, dua kali lebih banyak daripada harta yang kupakai untuk menghalangimu di jalan Allah sebelum ini. Dan aku akan berperang di jalan Allah, dua kali lebih banyak daripada peperangan yang telah aku lakukan untuk menghalangimu di jalan Allah sebelum ini.”

Sesuai dengan janjinya, Ikrimah selalu menyertai Rasulullah SAW dalam setiap peperangan yang terjadi setelah keislamannya itu. Dalam perang Hunain, dimana pada awalnya pasukan muslim sempat terdesak dan kocar-kacir, Suhail bin Amr yang menyertai perang itu walau belum memeluk Islam, berkomentar dengan sinis, “Muhammad dan para sahabatnya tidak akan bisa memperbaiki apa yang telah hilang dari mereka, dan tidak akan pernah bisa mendapatkannya lagi.”

Mendengar perkataan Suhail tersebut, Ikrimah membantahnya dengan berkata, “Ini bukanlah ucapan yang tepat dan urusan ini sedikitpun bukan hak Muhammad. Jika hari ini ia dikalahkan, maka besok ia akan memiliki kesudahannya sendiri.”

Mendengar perkataan Ikrimah ini, dengan keheranan Suhail berkata, “Demi Allah, sesungguhnya jaman dimana engkau memusuhi Muhammad baru saja engkau tinggalkan.”

“Hai Abu Yazid,” Kata Ikrimah, “Demi Allah, dulu itu kita telah memacu kuda kita untuk tujuan yang sia-sia, sedang akal kita adalah akal kita sendiri. Kita dulu menyembah batu yang tidak bisa memberi manfaat dan madharat apapun pada kita.”

Suhail tak mampu lagi mendebat pernyataan Ikrimah tersebut.

Ikrimah pernah ditugaskan Rasulullah SAW menjadi pemungut zakat dari Bani Hawazin ketika beliau sedang berhaji. Bahkan ketika Nabi SAW wafat, ia sedang mengemban tugas Nabi SAW di daerah Tabalah, sebuah kotadi Yaman yang cukup terkenal. Ikrimah sendiri akhirnya mati syahid dalam pertempuran Ajnadain, pertempuran melawan pasukan Romawi pada jaman Khalifah Abu Bakar. Tetapi sebagian ulama menyatakan bahwa Ikrimah syahid pada pertempuran Yarmuk pada jaman Khalifah Umar bin Khaththab.

Pada riwayat yang menyebutkan ia syahid pada perang Yarmuk, ketika itu ia menyongsong musuh dengan beberapa sahabat, Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan sempat mencegahnya,”Jangan berbuat begitu, sungguh kematianmu akan terasa berat bagi kaum muslimin…”

Ikrimah dengan tegas berkata, “Biarkan aku, ya Khalid, sungguh engkau telah sempat berjuang bersama Rasulullah SAW, sedang aku dan ayahku berada pada barisan yang paling keras menentang beliau…”

Kemudian ia berseru pada orang-orang yang memngikutinya untuk berba’iat atas maut (syahid) bersama dirinya, di antaranya adalah pamannya Harits bin Hisyam dan Dhirar bin Azwar, dan mereka mengikutinya. Ketika pertempuran berakhir, tiga orang terluka parah berdekatan, Ikrimah, Harits bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabiah. Harits meminta air untuk minum, ketika dibawakan, ia melihat Ikrimah dan berkata, “Berikan air ini pada Ikrimah!”

Airpun dibawa ke Ikrimah. Ketika hampir minum, Ikrimah melihat Ayyasy dan berkata, “Berikan air ini pada Ayyasy!”

Airpun dibawa ke Ayyasy, tetapi Ayyasy telah meninggal sebelum air sampai kepadanya. Ketika dibawa ke Ikrimah lagi, ia juga wafat, begitu juga ketika akan dibawa ke Harits, ternyata ia telah meninggal.

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Hudzaifah As Sahmi Ra

Abdullah Bin Hudzaifah As Sahmi Ra

Dalam suatu pertempuran melawan orang-orang Romawi, Abdullah bin Hudzaifah as Sahmi tertangkap oleh pasukan musuh bersama beberapa orang Islam lainnya. Pasukan Romawi menyiapkan wajan tembaga besar yang diisi oleh minyak yang mendidih. Tawanan muslim ditawari untuk masuk agama Nashrani, jika menolak, ia akan dilemparkan. Beberapa orang telah menjadi syahid karena tidak sudi menjual keimanan dan keyakinannya. 

Ketika tiba pada giliran Abdullah bin Hudzaifah, dengan tegas dia menolak permintaan mereka. Tetapi ketika dia diangkat untuk dilemparkan, tetapi tiba-tiba Abdullah menangis. Panglima Romawipun berkata, “Ia telah gentar dan menangis, kembalikan !”

Tetapi kemudian Abdullah berkata, “Jangan kalian pikir aku menangis karena takut dengan apa yang kalian perbuat. Tetapi aku menangis karena aku hanya mempunyai satu nyawa, yang aku persembahkan kepada Allah. Aku berharap mempunyai nyawa sebanyak rambutku, dan kau paksa aku, dan kau lakukan seperti itu satu persatu pada semua nyawaku.”

Sang panglima begitu terkejut dan takjub dengan ucapan Abdullah, sehingga ia bermaksud melepaskannya, ia berkata pada Abdullah, “Ciumlah kepalaku, dan aku akan melepaskanmu!”

Abdullah menolak. Tetapi penolakannya tersebut tidak membuat sang panglima marah, tetapi malah menambah kekagumannya. Ia berfikir, alangkah baiknya jika orang seperti Abdullah bin Hudzaifah dengan kepribadian yang begitu mengagumkan tersebut menjadi saudaranya atau menjadi orang dekatnya. Sang panglima berkata lagi, “Masuklah ke dalam agama Nashrani, akan kunikahkan kau dengan putriku, dan kuberikan separuh dari kekuasaanku.”

Abdullah tetap menolak. Karena sudah berniat untuk melepaskannya, sang panglima berkata lagi, “Ciumlah kepalaku, dan akan kubebaskan engkau dan delapan puluh temanmu yang masih kutawan.”

Kali ini Abdullah menerima tawaran tersebut. Ia mencium kepala sang panglima dan kemudian pulang kembali ke pasukannya beserta delapanpuluh orang temannya. Peristiwa tersebut terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab.

Sekembalinya ke Madinah, ia menceritakannya kepada Umar. Umar begitu takjub dengan peristiwa ini dan ia berkata, “Wajib bagi orang muslim yang hadir saat ini untuk mencium kepada Abdullah, dan aku orang pertama yang akan melakukannya….”

Umar bangkit dari duduknya dan mencium kepala Abdullah, diikuti oleh kaum muslimin lainnya yang hadir saat itu.

Kisah Sahabat#Amru Bin Murrah Al Juhaini Ra

Amru Bin Murrah Al Juhaini Ra

Amru bin Murrah RA berasal dari Bani Rifaah dari kabilah Bani Juhainah. Pada masa jahiliah, ketika sedang berhaji di Makkah bersama jamaah dari bani Juhainah, ia bermimpi melihat cahaya keluar dari Ka’bah. Cahaya ini menerangi gunung-gunung di Yastrib dan Asharu Juhainah, dan dari cahaya itu keluar suara, “Kegelapan telah sirna digantikan cahaya terang benderang, penutup para Nabi telah diutus.”

Kemudian ia melihat lagi cahaya keluar dari Ka’bah, kali ini tampak istana-istana di Hiirah (Yaman), dan putihnya istana-istana di Madain (Persia/Iran). Dari cahaya itu juga keluar suara, “Islam telah menang, berhala-berhala telah dihancurkan dan silaturahmi telah dijalin.” 

Setelah itu Amru terbangun dari mimpinya dengan ketakutan, ia merasa akan terjadi sesuatu dengan kaum Quraisy, yang membuat goncang istana-istana di Yaman dan Persia. Ketika kembali ke perkampungan bani Juhainah, ia mendengar berita tentang seorang lelaki yang mengaku sebagai Nabi. Ia segera melacak kebenaran berita tersebut, yang akhirnya membawa langkahnya menuju Madinah. Saat bertemu Nabi SAW, ia menceritakan mimpinya tersebut, dan dengan gembira Nabi SAW berkata. “Selamat datang wahai, Amru…”

Nabi SAW menjelaskan risalah Islam dengan panjang lebar kepada Amru, dan menyerunya untuk memasuki agama Islam. Tanpa ragu lagi Amru menyambut seruan beliau, ia mengucapkan kalimah syahadat dan berba’iat untuk menjalankan ajaran-ajaran Islam.

Amru memohon ijin Rasulullah SAW untuk mendakwahi kaumnya dan beliau mengijinkannya. Sayangnya hanya beberapa orang saja yang menyambut seruannya. Ada satu orang yang membantahnya dengan keras, bahkan menganggapnya murtad, pendusta, dan memecah belah kaumnya. Atas sikap permusuhannya yang begitu keras, Amru berkata, “Seorang pendusta, salah satu di antara aku atau engkau akan dimusnahkan oleh Allah, dikelukan lidahnya, dan dibutakanlah matanya….”

Lelaki tersebut mati beberapa waktu kemudian. Sebelum kematiannya, mulutnya menjadi hancur sehingga ia tidak bisa menikmati makanan apapun, matanya buta dan akalnya juga rusak.

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Atik Ra

Abdullah Bin Atik Ra

Suku Aus dan Khazraj adalah dua suku yang selalu bermusuhan semasa jahiliah. Ketika cahaya Islam menyinari dan menghilangkan permusuhan mereka, sikap saling bersaing tidak bisa hilang begitu saja. Hanya saja persaingan mereka kini dalam menunjukan bakti dan perjuangan serta pembelaan kepada Nabi SAW dan Islam. 

Ketika Suku Aus yang diwakili Muhammad bin Maslamah dan teman-temannya berhasil membunuh musuh Islam, Ka’b bin Asyraf, seorang tokoh yahudi yang sering menghasut dan menyakiti orang-orang Islam, Suku Khazraj berusaha untuk bisa “mengimbangi” prestasi tersebut. Mereka teringat pada Abu Rafi Sallam bin Abu Huqaiq, tokoh Yahudi yang tinggal di Khaibar, yang juga sangat memusuhi Nabi SAW dan orang muslim lainnya. Mereka meminta ijin kepada Nabi SAW untuk membunuhnya, dan beliau mengijinkannya.

Lima orang dari Bani Salimah dan Bani Aslam, yakni Abdullah bin Atik, Mas’ud bin Sinan, Abdullah bin Unais, Abu Qatadah Harits bin Rib’i dan Khuzai bin Aswad R.hum berangkat ke Khaibar untuk melaksanakan tugasnya. Nabi SAW menetapkan Abdullah bin Atik sebagai pimpinan rombongan tersebut, dan beliau melarang membunuh wanita dan anak-anak.

Mereka tiba di benteng Abu Rafi ketika matahari telah tenggelam, dan pintu benteng hampir ditutup. Ibnu Atik berkata kepada teman-temannya, “Tetaplah kalian disini, aku akan menyiasati penjaga pintu gerbang agar aku dibolehkan masuk!”

Abdullah bin Atik duduk tak jauh dari pintu gerbang dan menutupi dirinya dengan kain seolah-olah sedang buang hajat, sementara orang-orang telah masuk semuanya. Melihat masih ada orang di luar, penjaga itu berteriak, “Hai hamba Allah! Jika engkau hendak masuk, segeralah, karena aku akan mengunci pintu ini!”

Ibnu Atik segera saja masuk dan bersembunyi. Ketika penjaga telah berlalu, ia mengambil kunci yang ditaruh pada sebuah kayu pancang dan membuka pintu benteng sehingga teman-temannya bisa masuk. Mereka mendatangi rumah Abu Rafi, tetapi masih ada tamunya. Ketika tamu itu pulang, mereka memasuki rumah dan menuju kamar Abu Rafi yang berada di lantai atas. Setiap melalui pintu, mereka menguncinya sehingga akan mempersulit bantuan kalau mereka ketahuan.

Ketika sampai di kamarnya, keadaan sangat gelap sehingga sulit diketahui dimana Abu Rafi berada. Ibnu Atik berinisiatif memanggil namanya. Abu Rafi balik bertanya, “Siapa itu?” 

Abdullah bin Atik segera saja menebaskan pedang ke arah suara itu. Terdengar jeritan, tetapi tampaknya itu belum membunuh tokoh Yahudi tersebut. Ia diam-diam keluar kamar, sesaat kemudian masuk lagi seolah-olah datang untuk membantu. Ia berkata, “Suara apa yang tadi aku dengar, wahai Abu Rafi!”

“Celakalah ibumu,” Kata Abu Rafi, “Barusan ada lelaki yang memukulku dengan pedang!”

Kali ini posisinya cukup dekat, mereka berlima memukulnya beberapa kali, dan terakhir menusuk perut Abu Rafi hingga tembus ke belakang. Setelah itu mereka segera keluar dari kamar dan rumah tersebut, tetapi Ibnu Atik kurang hati-hati sehingga terjatuh ketika menuruni tangga, betisnya retak dan ia membalutnya dengan sorban.

Beberapa saat kemudian orang-orang berkumpul ke rumah Abu Rafi karena adanya keributan, dan mereka mendapati salah satu tokohnya telah mati. Istri Abu Rafi menceritakan apa yang terjadi, ia juga sempat berkata, “Saat itu aku mendengar suara Ibnu Atik, tetapi aku menafikannya. Apa mungkin Ibnu Atik ada disini?”

Mereka berlima tidak langsung kembali ke Madinah, tetapi menunggu sampai pagi di luar dinding benteng untuk meyakinkan diri bahwa tokoh yahudi itu sudah mati. Ketika seseorang telah mengumumkan kematian Abu Rafi, mereka segera pulang. Tiba di Madinah, saat itu Nabi SAW sedang berdiri di atas mimbar, beliau langsung menyambutnya dengan bersabda, “Wajah-wajah yang telah memperoleh kemenangan!”

“Wajah engkau juga memperoleh kemenangan, Ya Rasulullah!!” sahut mereka.

Nabi SAW meminta pedang-pedang mereka untuk memastikan kematian musuh Allah tersebut, dan beliau bersabda, “Benar, ia telah mati, ini ada bekas makanannya di bagian mata pedang!!” 

Nabi SAW mengusap kaki Ibnu Atik yang sakit, dan seketika itu sembuh.

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa mereka berlima mengklaim dirinya yang membunuh Abu Rafi. Setelah memeriksa pedang-pedang mereka yang masih membekas darahnya, Nabi SAW menyatakan pedang Abdullah bin Unais yang membunuhnya, karena ada bekas sisa makanannya.

Kisah Sahabat#Muhammad Bin Maslamah Ra

Muhammad Bin Maslamah Ra

Muhammad bin Maslamah RA adalah seorang Anshar dari Suku Aus. Ketika seorang pimpinan Yahudi bernama Ka’b bin Asyraf sering menghasut dan menyakiti kaum muslimin, Rasulullah SAW memutuskan agar ia dibunuh, beliau SAW bersabda, “Siapakah yang siap membunuh Ka’b bin Asyraf, sungguh ia telah menyakiti Allah dan RasulNya!!” 

Muhammad bin Maslamah secara spontan bangkit dan berkata, “Aku, wahai Rasulullah, aku akan membunuhnya untukmu. Aku akan membunuhnya!”

“Lakukanlah, jika engkau sanggup melakukannya!!” Kata Nabi SAW.

Mungkin karena kecintaan dan ketaatannya kepada Nabi SAW, membuatnya begitu saja menyanggupi tanpa dipikirkan lebih dahulu. Mungkin juga ia khawatir kedahuluan orang lain dalam menyenangkan hati Rasulullah SAW. Setelah kembali ke rumah, barulah ia menyadari betapa berat tugas untuk membunuh Ka’b, apalagi ia kenal cukup baik dengan tokoh Yahudi itu. Tiga hari tiga malam ia tidak makan minum kecuali untuk sekedar bisa hidup.

Keadaannya ini dilaporkan kepada Nabi SAW, dan beliau memanggilnya untuk menghadap. Ketika beliau bertanya tentang apa yang dilakukannya, Ibnu Maslamah berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah mengucapkan suatu perkataan kepadamu (untuk membunub Ka’b bin Asyraf), sedangkan aku tidak tahu, apakah aku dapat melakukannya atau tidak!!”

Nabi SAW hanya tersenyum mendengar perkataannya, kemudian bersabda, “Kewajibanmu tidak lain adalah berusaha dengan sungguh-sungguh!!”

Ucapan Nabi SAW yang singkat ini telah membangkitkan semangatnya. Muncul suatu siasat di benaknya, ia berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, Izinkanlah aku mengatakan sesuatu kepadanya (yakni Ka’b bin Asyraf).”

Nabi SAW memberikan ijin. Hal itu ia perlukan karena muslihat yang akan ia lakukan, walau sedikit tetapi mengandung unsur kebohongan, bahkan bagi orang yang tidak tahu, bisa jadi ia dianggap murtad. Ia segera melangkahkan kakinya ke kediaman tokoh Yahudi tersebut.

Ketika telah bertemu dengan Ka’b, ia menceritakan kesusahannya dalam mengikuti Nabi SAW karena beban zakat, dan ia menemuinya untuk meminjam gandum. Ka’b meminta jaminan pinjamannya tersebut, yakni istri Ibnu Maslamah, tetapi ia menolaknya. Ia juga menolak ketika Ka’b meminta anaknyasebagai jaminan. Tetapi Ibnu Maslamah menjanjikan senjatanya sebagai jaminan dan Ka’b setuju, dan mereka sepakat untuk bertemu pada suatu malam.

Pada malam yang ditentukan, Muhammad bin Maslamah bersama dua atau tiga temannya berangkat menemui Ka’b di bentengnya, salah satunya adalah Ibnu Na’ilah, saudara sepersusuan Ka’b. Ia berkata kepada teman-temannya, bahwa nanti ia akan mencium dan memegang kepada Ka’b, dan saat itu hendaklah mereka menyabetkan pedangnya ke leher Ka’b. Setelah sepakat merekapun berangkat.

Nabi SAW sempat menyertai mereka sampai di Baqi al Gharqad, dan beliau melepas kepergiannya dengan ucapan, “Pergilah kalian dengan nama Allah!!” 

Dan beliau mengiringi dengan doa, “Ya Allah, bantulah mereka!!”

Ketika sampai di benteng kaum Yahudi tersebut, mereka dipersilahkan masuk. Ka’b sempat diperingatkan istrinya ketika akan menemui tamu-tamunya, bahwa ia merasa ada seseorang yang akan berbuat jahat. Tetapi Ka’b berkata dengan tenangnya, “Sesungguhnya hanya saudaraku Muhammad bin Maslamah dan saudara sepersusuanku, Ibnu Na’ilah yang akan datang. Sesungguhnya seorang yang mulia, jika diajak berkelahi pada malam hari, ia pasti akan menyambutnya!”

Setelah beberapa perbincangan, Ibnu Maslamah meminta ijin untuk mencium kepada Ka’b sebagai suatu bentuk penghormatan di kalangan orang-orang Arab kepada orang yang dimuliakan. Ka’b mengijinkannya. Begitulah, saat mencium kepala Ka’b, Ibnu Maslamah segera memegangnya dengan erat dan dengan cepat teman-temannya menyabetkan pedangnya sehingga Ka’bpun terbunuh. 

Begitu pimpinannya terbunuh, orang-orang Yahudi di benteng tersebut begitu ketakutannya dan tidak bisa berbicara apa-apa, sehingga Ibnu Maslamah dan teman-temannya bisa keluar dengan selamat dari benteng tersebut. Tentu ini tidak lepas dari doa Nabi SAW ketika melepas kepergian mereka. 

Tiba di Baqi al Gharqad, merekapun bertakbir, dan takbir ini didengar oleh Nabi SAW yang sedang shalat malam. Ketika sampai di hadapan Nabi SAW, beliau memuji Allah, menyambutnya dengan ucapan gembira, “Wajah-wajah ini telah mendapat kemenangan!”

“Juga wajah engkau, ya Rasulullah!!” Kata Muhammad bin Maslamah dan teman-temannya.

Ketika orang-orang yahudi dari Bani Nadhir mengkhianati perjanjian damai dengan Nabi SAW, dan bermaksud membunuh beliau, Nabi SAW mengerahkan pasukan mengepung perkampungan Yahudi tersebut. Muhammad bin Maslamah ditunjuk Nabi SAW menemui orang-orang yahudi tersebut untuk menyampaikan pesan kepada mereka, “Keluarlah kalian dari negeri Madinah ini, dan jangan kalian tinggal bersama kami setelah kalian merusak perjanjian antara kita. Kuberi kalian waktu selama tiga hari!”

Ketika terjadinya Perang Tabuk, iaditunjuk Nabi SAW sebagai pimpinan di Madinah, tetapi menurut riwayat lain, yang ditunjuk Nabi SAW adalah Siba’ bin Urfuthah al Ghifary RA

Kisah Sahabat#Salamah Bin Akwa Ra

Salamah Bin Akwa Ra

Salamah bin Amr bin Akwa al Aslami RA, atau lebih dikenal dengan nama Salamah bin Akwa, nama kunyahnya Abu Iyas, berba’iat kepada Nabi SAW bersama-sama kaumnya dari Bani Aslam. Setelah selesai berba’iat, ia berteduh di bawah bayang-bayang sebuah pohon. Setelah orang-orang semakin sedikit, tiba-tiba Nabi SAW memanggilnya, “Hai Ibnul Akwa, maukah kamu berba’iat!” 

“Aku telah berba’iat, Ya Rasulullah!” Jawab Salamah.

“Berba’iatlah sekali lagi…” Kata Nabi SAW.

Salamah menghampiri Nabi SAW, kemudian beliau menjabat tangan Salamah untuk berba’at dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam. Kemudian beliau memba’iat Salamah lagi, tetapi kali ini ba’iat atas maut, yakni bersedia berkorban nyawa dalam membela dan mempertahankan Islam.

Salamah bin Akwa RA, seorang anak berusia 12 atau 13 tahun yang mempunyai kemampuan berlari sangat cepat, bahkan melebihi kecepatan kuda yang berlari. Ia juga mempunyai ketrampilan memanah yang sangat baik.

Suatu ketika ia berjalan-jalan melewati Ghabah, suatu tempat di luar kota Madinah, dimana unta-unta Nabi SAW dan beberapa penduduk Madinah digembalakan. Ia melihat sekelompok orang kafir yang dipimpin oleh Abdurrahman Fazari merampok unta-unta gembalaan itu dan membunuh para gembalanya.

Salamah berlari ke suatu bukit dan berteriak sekuat tenaga ke arah Madinah untuk memberitahukan perampokan ini.Setelah itu ia berlari mengejar para perampok yang mulai kabur. Setelah agak dekat, ia juga memanah para perampok beberapa kali dengan berpindah-pindah tempat, sambil bersembunyi di balik pohon. Karena panah yang menyerang mereka dari berbagai tempat, para perampok ini sama sekali tidak menyangka kalau penyerang mereka hanya satu orang, mereka berlari ketakutan, beberapa ekor kuda yang ditungganginya roboh terkena panah.

Tak lama berselang datang kelompok perampok lain yang dipimpin Uyainah bin Hishin, yang membantu kelompok Abdurrahman, hingga mereka mengetahui bahwa penyerangnya hanya satu orang, merekapun mengejar Salamah. Salamah lari ke arah Madinah dan menaiki sebuah bukit, dan mereka terus mengejar, tetapi tidak mudah menangkap Salamah karena kemampuan larinya yang amat luar biasa.

Ketika Salamah melihat sekelompok orang datang dengan menunggang kuda dari Madinah, seketika ia berhenti dan menghadap ke arah para perampok itu, ia bekata, “Tunggulah kalian di sana! Tahukah kalian siapa aku?”

 “Siapakah engkau?” Tanya para perampok itu. 

  “Aku adalah Ibnu Akwa, demi Allah yang menguasai jiwa Rasulullah SAW, jika kalian ingin menangkapku, kalian tidak akan berhasil. Tetapi jika aku ingin menangkap salah satu dari kalian, pasti dia tak akan lolos dariku.” 

 Ketika itu, orang pertama dari Madinah telah sampai, yaitu Akhram Asadi RA. Salamah memintanya menunggu teman-teman lainnya sebelum menyerang perampok itu, tetapi Akhram berkata, “Biarlah aku mati syahid karenanya…!” 

 Setelah itu, ia menghambur dengan kudanya ke arah para perampok. Abdurrahman menyambut serangannya dan ia berhasil menyabet kaki kuda Akhram hingga terjatuh, dan segera menyerangnya lagi sehingga Akhram menemui syahidnya. Tak lama kemudian datanglah Abu Qatadah RA yang langsung menyerang, tetapi sekali lagi Abdurrahman berhasil menyabet kaki kuda Abu Qatadah hingga terjatuh. Tetapi kali ini Abu Qatadah cukup sigap, sambil terjatuh ia masih bisa menyerang Abdurrahman dan pada akhirnya berhasil memenggal lehernya.   Abu Qatadah, Salamah dan beberapa temannya menyerang para perampok kafir itu hingga banyak yang tewas, ketika makin banyak orang-orang Madinah yang datang, para perampok itu melarikan diri.

Kisah Sahabat#Suraqah Bin Malik Bin Ju’syum Ra

Suraqah Bin Malik Bin Ju’syum Ra

Suraqah bin Malik bin Ju’syum merupakan seorang tokoh terkemuka di daerah Najdyang berasal dari Bani Kinanah, dan sangat dihargai oleh kaum Quraisy Makkah. Karena itulah ketika Iblis ingin tampil sebagai manusia dalam mendukung permusuhannya kepada Nabi SAW, ia mewujudkan diri sebagai Suraqah bin Malik

Dua kali iblis muncul dalam wujud sahabat ini, pertama saat kaum Quraisy bermusyawarah di Darun Nadwah, saat itu ia mendukung dan menguatkan pendapat Abu Jahal untuk membunuh Nabi SAW. Kedua pada saat perang Badar. Ketika pasukan kafir Quraisy ragu-ragu untuk meneruskan pertempuran, sekali lagi Iblis dalam bentuk Suraqah ini mendukung dan menguatkan mereka. Tetapi ketika iblis melihat pasukan malaikat yang dipimpin Malaikat Jibril, ia segera berlari terbirit-birit. Harits bin Hisyam sempat memegang tangannya dan berkata, “Wahai Suraqah, bukankah engkau berkata akan mendukung kami dan tidak akan meninggalkan kami!!”

Tentu saja Harits mengira dia adalah benar-benar adalah Suraqah bin Malik. Iblis memukul dada Harits hingga ia terjengkang, dan berkata, “Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, siksaan Allah benar-benar sangat pedih…!!”

Sebagai hasil kesepakatan dari pertemuan kaum Quraisy di Darun Nadwah, para pemuda dari beberapa suku Arab berkumpul di depan pintu rumah Nabi SAW dengan satu tujuan, membunuh beliau. Tetapi tentu saja dengan mudah Allah menyelamatkan Nabi SAW, beliau melewati mereka, bahkan sempat menaburkan pasir di setiap kepala mereka tanpa mereka menyadarinya (sebagian riwayat menyebutkan mereka tertidur), kemudian beliau berangkat hijrah bersama Abu Bakar.

Tetapi kegagalan tersebut tidak menyurutkan maksud kaum kafir Quraisy untuk menghabisi Nabi SAW. Mereka terus melakukan pencarian dan bahkan mengadakan sayembara, siapapun yang bisa membawa atau menunjukkan keberadaan Nabi SAW akan memperoleh hadiah 200 ekor unta.

Salah seorang yang berhasil menelusuri jejak perjalanan Nabi SAW adalah Suraqah bin Malik. Ia memperoleh informasi salah seorang dari kaumnya, Bani Mudlij, yang melihat sekelompok orang berjalan di pesisir, yang dikiranya adalah rombongan Nabi SAW yang dicari-cari kaum Quraisy. Suraqah membenarkan dalam hatinya, tetapi karena tidak ingin kedahuluan orang lain untuk memperoleh hadiah yang dijanjikan, ia berkata kepada orang itu, “Bukan, mereka adalah Fulan bin Fulan yang pergi karena tidak ingin kita lihat.”

Tetapi diam-diam ia menyuruh pembantunya untuk menyiapkan kuda dan perlengkapannya. Ketika tidak ada orang yang melihatnya, ia segera memacu kendaraannya ke pesisir yang ditunjukkan orang tersebut. Suraqah mengendarai kuda yang cepat, sehingga ia bisa mengejar rombongan hijrah Nabi SAW tersebut dan jaraknya semakin dekat. Nabi Saw tetap tenang, sementara Abu Bakar yang duduk di boncengan unta Nabi SAW, terlihat cemas dan berkali-kali melihat ke belakang.

Setelah jarak makin dekat, tiba-tiba kuda Suraqah terjerembab jatuh, Nabi SAW terus saja berjalan tanpa memperdulikan Suraqah yang mengejarnya. Setelah berhasil mendekati lagi, Suraqah menyiapkan anak panahnya, tetapi lagi-lagi kudanya terjerembab, sementara Nabi SAW terus berjalan. Masih juga penasaran, setelah berhasil membebaskan kudanya, ia mengejar lagi, tetapi untuk ketiga kalinya, kudanya terjerembab dan kali ini diikuti dengan debu yang bertaburan di udara. Sadarlah Suraqah bahwa orang yang dikejarnya bukanlah orang sembarangan.

Setelah berhasil membebaskan kudanya dan tidak ada lagi niat untuk menangkap atau membunuh Nabi SAW, ia berhasil mendekati rombongan beliau dan memanggilnya. Setelah berhadapan dengan Nabi SAW, ia meminta maaf dan memohon untuk tidak diapa-apakan. Ia juga menawarkan untuk memberikan perbekalan yang dibawanya. Nabi SAW memaafkannya tetapi menolak pemberiannya, hanya saja beliau meminta untuk merahasiakan pertemuannya itu.

Suraqah meminta jaminan keamanan dari Nabi SAW, dan beliau menyuruh Amir bin Fuhairah untuk menuliskannya di sebuah kulit, dan menyerahkannya kepada Suraqah. Sesaat kemudian Rasulullah SAW berkata pada Suraqah, “Wahai Suraqah, bagaimana perasaanmu jika engkau memakai dua gelang Kisra?”

“Kisra bin Hurmuz?” Suraqah tercengang tak mengerti.Nabi SAW tersenyum memandang ekspresi Suraqah, tetapi beliau tidak menjelaskan lebih lanjut. Kemudian beliau meninggalkannya meneruskan perjalanan hijrah.

Begitulah waktu berlalu, di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, datang ghanimah dari Persia yang telah dikalahkan pasukan muslim. Umar teringat akan kisah Rasulullah SAW bersama Suraqah, ia mencari dua gelang Kisra di antara tumpukan ghanimah. Setelah ditemukan, Umar memanggil Suraqah dan berkata, “Pakailah dua gelang ini, naiklah ke mimbar dan angkat tanganmu, lalu katakan, : Mahabenar Allah dan RasulNya.”

Suraqah maju ke mimbar, ia melakukan apa yang diperintahkan Khalifah Umar dengan penuh haru. Terbayang di matanya apa yang dikatakan Nabi SAW bertahun yang lalu ketika beliau hijrah. Sungguh sangat tidak terbayangkan saat itu, bahwa orang-orang muslim akan mampu mengalahkan dan menghancurkan imperium besar yang telah berusia ratusan tahun, Kerajaan Persia. Tidak ada kejelasan riwayat, apakah Suraqah memeluk Islam saat bertemu dengan Nabi SAW di perjalanan hijrah tersebut atau waktu lainnya. Sebagian riwayat menyebutkan ia memeluk Islam ketika Nabi SAW kembali dari Haji Wada’ ketika beliau berada di Ji’ranah. Tetapi yang jelas pada akhirnyaia memeluk Islam telah menjadi saksi dari kebenaran “ramalan” beliau SAW.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai