Mengenaskan Adhudud Daulah bin Buwaih, Sang Pemimpin Zalim

SETIAP pemimpin akan diminta untuk bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Baik ia seorang pemimpin dirinya sendiri, kepala rumah tangga bagi seluruh anggota keluarganya, pemimpin di masyarakat, bahkan sebuah negara.

Di mana dan sebagai apa pun kita saat menjadi pemimpin, janganlah bersikap zalim. Berlakulah dengan adil sesuai kemampuan terbaik yang dimiliki. Sebab para pemimpin zalim pasti mendapatkan akhir kisah yang amat mengenaskan, dan kegetiran hidupnya akan senantiasa dibicarakan oleh umat manusia hingga akhir zaman.

Namanya Adhudud Daulah bin Buwaih. Di dalam bukunya, Kisah-Kisah Inspiratif, Dr ‘Aidh al-Qarni menyebutkannya sebagai seorang pempimpin besar yang berlaku zalim.

Suatu ketika, dia mengumpulkan banyak pembesar kerajaan. Mereka duduk mengelilingi sang penguasa sembari menenggak minuman yang memabukkan, khamr. Beberapa jenak setelah mereka memulai minum, hujan turun dengan lebat.

Lantas sang pemimpin zalim ini menyenandungkan syair yang menunjukkan kepongahannya.

Tidaklah meminum khamr lebih indah, kecuali di waktu hujan turun

daripada ditemani wanita genit lagi bermata jeli

Adhudud Daulah, pemimpin umat manusia

Hakim umat dan penakluk takdir

Sombong adalah selendang Allah Ta’ala dan sifat-Nya yang mulia. Tak seorang pun makhluk yang dibiarkan bersikap sombong. Iblis menjadi bukti, betapa Allah Ta’ala lekas menyampaikan azab kepada hamba-Nya yang bersikap sombong.

Setali tiga uang dengan iblis, Fir’aun, Namrud, Qarun, Haman, dan seluruh manusia yang berlaku sombong mendapatkan nasib yang mengenaskan. Mereka ditimpa azab yang menyesakkan dada hingga merenggut nyawanya dalam keadaan yang paling buruk.

Terkait Adhudud ini, Dr ‘Aid al-Qarni melanjutkan penuturannya, “Allah Ta’ala pun menimpakan penyakit, kehinaan, dan kemiskinan kepadanya. Dia mati dalam keadaan terpuruk, hati yang tersiksa, dan seburuk-buruk tempat kembali.”

Mari memeriksa hati. Jangan biarkan sombong bersemayam, meski seberat biji sawi yang paling ringan. Enyahkan sikap buruk itu dengan senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, menyadari asal penciptaan, kesalahan diri, kotornya badan, dan akhir yang akan dihadapi setelah kematian.

Tidaklah sombong seorang hamba yang mengenakan pakaian terbaik, sebab menunjukkan karunia Allah Ta’ala kepada makhluk dengan niat kebaikan adalah ibadah. Tetapi mereka yang menolak nasihat dan merasa benar itulah kesombongan yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.

Ancaman Pemimpin Zhalim bukan hanya di Akhirat saja

Sungguh berat beban seorang pemimpin. Sebab, pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia yang fana ini, melainkan juga akhirat kelak.

Sungguh berat beban seorang pemimpin. Sebab, pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia yang fana ini, melainkan juga akhirat kelak.

Oleh karena itu, sifat amanah harus melekat pada dirinya. Allah SWT menebar ancaman kepada para pemimpin yang berbuat zalim kepada rakyat atau orang yang dipimpinnya.

Azab yang pedih

“Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka” (HR Ahmad). Demikian sabda Nabi Muhammad SAW. Allah mengancam orang yang semena-mena.

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada sesama manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapatkan siksa yang pedih” (QS asy-Syura: 42).

Seorang pemimpin yang zalim akan merasakan akibatnya pada Hari Pembalasan. “Sungguh, manusia yang paling dicintai Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil. Orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah pemimpin yang zalim” (HR Tirmidzi).

Didoakan kesukaran

Rasulullah SAW mendoakan kesusahan bagi para penguasa yang menindas umat beliau. “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia,” demikian munajat beliau, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim.

Doa itu menyiratkan dua tipikal pejabat. Ada yang kerap menyusahkan rakyatnya. Ada pula yang cenderung memudahkan hidup mereka.

Semestinya, seorang pemimpin menjalankan tugas dengan baik dan seadil-adilnya. Bila ia terus berupaya, insya Allah, pertolongan dari-Nya akan datang.

Jika ia justru menyepelekan amanah, kesulitan akan menimpanya. “Tidaklah seseorang diamanahi memimpin suatu kaum kemudian ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, maka diharamkan baginya surga” (HR Bukhari-Muslim).

Dijauhi rakyat

Rasulullah SAW berpesan agar kaum Muslimin mematuhi pemimpin (ulil amri) dari kalangan mereka, selama pemimpin itu tidak menyuruh bermaksiat kepada Allah.

Jika rakyat diperintahkan untuk maksiat, maka hilanglah kewajiban untuk taat.

“Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf,” sabda beliau, seperti diriwayatkan Imam Bukhari. Maka, pemimpin yang zalim akan cenderung dijauhi orang-orang yang masih berpegang teguh pada kebenaran.

Inilah pentingnya nasihat atau kritik. Kalangan ulama atau orang-orang berilmu dapat mengingatkan penguasa agar tetap amanah dan tak salah arah. Ujaran pun disampaikan dengan tegas, tetapi baik dan sopan. Tidak kemudian dibumbui niat ingin mempermalukan penguasa.

Kisah Seorang Pemuda dan Raja Zhalim

“Galilah parit-parit besar dan nyalakan api di dalamnya! Siapa saja yang enggan keluar dari keyakinannya menyembah Allah, bakarlah hidup-hidup di dalam parit itu!” ujar sang raja geram. Ia merupakan raja pemimpin Bani Israil.

Tapi, kala itu Bani Israil bukan lagi para hamba Allah seperti di masa Nabi Musa. Mereka diliputi kekafiran dan kemaksiatan, serta melakukan perbuatan keji yang dimurkai Allah. Lupa sudah ajaran Musa dan peringatan Taurat.

Hingga kemudian, hiduplah seorang raja yang memimpin mereka, seorang raja yang kafir nan kejam. Raja itu menganggap dirinya sebagai Tuhan dan geram jika warganya menyembah selainnya.

Kisah bermula ketika sang raja mengutus seorang pemuda untuk mempelajari sihir. Kala itu, tukang sihir kerajaan telah berusia sepuh. Ialah yang meminta raja merekrut sang pemuda untuk menggantikan dirinya bertugas menjadi “penasihat” kerajaan. “Sungguh, saya telah tua. Maka, carilah seorang pemuda yang akan saya ajarkan sihir,” pinta si tukang sihir pada raja. Raja pun menyanggupi dan segera menugaskan pemuda belia untuk belajar sihir pada tukang sihir tersebut.

Maka, berangkatlah si pemuda menuju kediaman tukang sihir untuk segera mendapatkan ilmu-ilmu hitam darinya. Tapi, ditengah jalan ia justru bertemu seorang rahib Yahudi yang beriman dan bertakwa pada Allah. Sang rahib tengah memberikan pelajaran agama dalam sebuah perkumpulan kecil.

Di tengah kacau balaunya agama Bani Israil, masih hidup rahib yang terus mengagungkan asma Allah. Si pemuda pun tertarik padanya. Bukan melanjutkan perjalanan, ia justru memilih duduk dalam majelis si rahib.

Setelah pelajaran sang rahib usai, barulah si pemuda melanjutkan perjalanannya. Begitu tiba di tempat si tukang sihir, tentu si pemuda mendapat murka penyihir. Apalagi, setelah mengatakan hal yang membuatnya terlambat, yakni majelis sang rahib.

Mendengarnya, si tukang sihir langsung memukul si pemuda. Sekembalinya dari rumah penyihir, pemuda itu pun mengadu hal yang menimpa dirinya pada sang rahib. Lalu sang rahib pun menasihatinya untuk tak lagi menemui tukang sihir.

Dalam kondisi kebimbangan tersebut, sang pemuda yang tengah merenung didatangi seekor binatang raksasa. Binatang tersebut kemudian mengganggu sekumpulan orang yang tengah melakukan safar. Melihatnya, sang pemuda merasa harus menyelamatkan mereka.

Ia pun kemudian berdoa, “Ya Allah, jikalau ajaran si rahib itu lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir maka bunuhlah binatang ini agar manusia bisa berlalu,” doa si pemuda. Ia pun kemudian melempar batu itu ke arah hewan raksasa itu. Matilah hewan buas itu. Para musafir selamat dan melanjutkan perjalanannya. Tapi, yang terpenting si pemuda mendapati kepastian bahwa jalan si rahiblah yang benar dan ridhai Allah.

Allah telah memberikan keutamaan pada si pemuda. Tak lama, pemuda tersebut menjadi seorang saleh yang mulia. Ia memiliki beragam kemampuan atas rahmat Allah. Ia mampu mengobati orang yang buta, sopak, dan penyakit lain. Tak sedikit warga yang disembuhkan oleh pemuda. Namanya pun sontak terkenal di seluruh penjuru negeri.

Kabar kemampuan luar biasa pemuda itu pun sampai ke istana. Seorang teman raja yang menderita buta kemudian menemui sang pemuda. Ia membawa banyak hadiah bagi si pemuda agar dapat menyembuhkan buta matanya. Teman raja itu pun kemudian beriman kepada Allah. Penyakitnya lalu diangkat oleh Allah atas rahmat dan kekuasaan-Nya.

Sang raja kemudian menelusuri siapakah gerangan yang menyembuhkan temannya, siapakah gerangan yang menyembah Allah. Kemampuan sang pemuda pun sampai ke telinga raja. Ia pun memanggilnya dan tersentak karena si pemuda itu ternyata bukan lain adalah calon tukang sihir kerajaan yang pernah ia utus. Awalnya, sang raja pun girang karena menyangka kemampuan si pemuda merupakan hasil pembelajaran sihir.

Namun, kegembiraan sang raja dalam waktu singkat berubah menjadi angkara murka ketika mendapati si pemuda merupakaan hamba Allah yang taat. Sang pemuda dianggap berkhianat dan menentang sang raja. Hingga kemudian, raja mendapati kabar sang rahib yang menjadi guru si pemuda. Maka, sang rahib pun ditangkap dan dibawa ke hadapan raja.

Setelah menghukum sang rahib, giliran si pemuda yang mendapati hukuman mati. Sama seperti si rahib, si pemuda pun diminta meninggalkan keimanannya pada Allah. Tapi, si pemuda menolak. Sang raja pun segera memberikan perintah untuk membunuhnya. Semua usaha tersebut gagal.

Namun, si pemuda kemudian memberitahukan cara membunuhnya. Hingga, akhirnya raja zalim melakukannya. Maka, tewaslah si pemuda. Pascakematiannya, penduduk kerajaan mengikuti jejaknya beriman kepada Allah. Raja pun menjadi murka. Dia menyuruh pasukannya membuat parit dan membakar hidup-hidup mereka yang beriman kepada Allah. Maka, dibakarlah seluruh Muslimin yang jumlahnya tak sedikit di dalam parit itu. Salah satu warga yang dihukum raja ialah seorang wanita yang menggendong bayinya. Saat melihat api menyambar dari dalam parit, si wanita sempat merasa takut dan terus mundur.

Namun, kemudian si bayi berkata pada ibunya, “Wahai ibunda, bersabarlah. Karena, sesungguhnya engkau di atas kebenaran,” ujar si bayi menunjukkan kekuasaan Allah. Maka, si ibu bersama bayinya pun meraih syahid menuju rahmat Allah yang luas. Demikian pula seluruh Muslimin di negeri kuasa sang raja yang zalim.

Kisah di atas terdapat dalam Alquran surah al-Buruj ayat 1-10. Allah mengisahkannya dalam firman-Nya sebagai pelajaran bagi umat manusia. Dalam kisah ini, didapati bagaimana menghadapi ujian dan cobaan dengan kesabaran. Setiap Muslimin tentu tak lepas dari ujian dan cobaan hidup. Menghadapinya, hanya perlu bersabar dan istiqamah dalam beriman kepada-Nya.

Tentang Aqiqah

Hukum aqiqah

Aqiqah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ini hukum melaksanakannya sesuai dengan pendapat mayoritas ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad adalah sunah muakkad atau diutamakan bagi orang yang mampu. Dengan begitu, orang mampu dianjurkan untuk dapat melaksanakannya sesuai waktu yang telah ditetapkan.

Sementara beberapa ulama seperti Imam Laits dan Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah wajib dilaksanakan. Namun pendapat mereka dianggap sangat lemah dan ditolak oleh sebagian besar ulama, Bunda.

Ustaz Buya Yahya pun mengatakan bahwa hukum aqiqah tidak wajib, tapi sunah muakkad. Ibadah ini disunahkan kepada ayah atau wali orang tua untuk anaknya.

“Beban aqiqah itu sunah bukan kewajiban. Aqiqah itu disunahkan bersama atau dibarengi pencukuran rambut di usia anak 7 hari kalau punya uang. Tapi jangan maksain namanya juga sunah,” ucapnya, dikutip dari YouTube Al Bahjah TV.

Tata cara aqiqah 

1. Waktu pelaksanaan

Aqiqah dilakukan pada hari ketujuh terhitung sejak bayi dilahirkan, Bunda. Misalnya bayi lahir pada hari Sabtu, maka walinya disunahkan aqiqah pada Jumat pekan depan.

Namun sunah aqiqah ini tidak hilang meski sudah lewat dari tujuh hari pertama sejak bayi dilahirkan. Menurut pendapat ulama Hambali, jika aqiqah tidak bisa dilaksanakan pada hari ke tujuh, maka dapat dilaksanakan pada hari ke-14 dan ke-21

“Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, ke-14, atau ke-21.” (Hadis riwayat Baihaqi dan Thabrani)

Namun ulama Syafi’i mengatakan bahwa aqiqah dapat dikerjakan kapanpun, asal anak masih belum memasuki masa balig. Jika anak sudah memasuki masa tersebut, maka tanggung jawab aqiqah pada orang tua pun menjadi gugur, dan anak dapat melakukannya untuk diri sendiri.

“Kalau anak sudah balig, enggak lagi dibebankan ke orang tua. Kita boleh melakukannya (aqiqah untuk diri sendiri), jatuhnya jadi sedekah,” ujar Ustaz Buya Yahya.

2. Syarat hewan untuk aqiqah

Syarat hewan aqiqah bagi anak perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan, Bunda. Jika mampu, hewan yang disembelih untuk aqiqah anak laki-laki berjumlah dua ekor. Sedangkan bagi anak perempuan, cukup satu ekor saja.

Namun jika orang tua bayi laki-laki hanya mampu satu ekor, maka hal tersebut pun tidak masalah. Selain itu, hewan ternak yang dipilih biasanya kambing atau domba. Syaratnya sama dengan hewan qurban, yakni telah berusia 2 tahun, sehat, dan tidak cacat.

3. Mencukur rambut dan pemberian nama

Dalam proses aqiqah juga dilakukan pemberian nama sambil mencukur rambut anak, Bunda. Hal ini menjadi anjuran dan disebut dalam hadist Rasulullah SAW, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqah. Sembelih aqiqahnya pada hari ketujuh lalu cukur rambut serta berikan nama.”

Sementara itu, doa saat mencukur rambut bayi saat aqiqah, yakni:

Bismillahirohmanirrohiim alhamdulillahirobbil ‘aalamiin allahuma nurussamawati wanurussyamsi walqomari allahuma syirullahi nurunnubuwati rosulallahi salallahu alaihi wasalama walhamdu lillahi robbil ‘alamin.”

Artinya: Dengan menyebut nama Allah Yang maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, cahaya langit, matahari dan bulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian Rasulullah SAW dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Adapun tata cara mencukur harus dimulai dari sebelah kanan ke kiri, dan rambut bayi dicukur semua (gundul). Setelah itu, memberikan nama bayi dan berilah nama yang baik untuk buah hati. Ini sesuai sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

“Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka baguskanlah namamu.” (HR Muslim)

4. Menyembelih hewan aqiqah

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan cara yang baik kepada tiap-tiap segala sesuatu. Maka apabila kamu membunuh, hendaklah membunuh dengan cara yang baik dan jika kamu menyembelih, hendaklah menyembelih dengan cara yang baik dan hendaklah ia memudahkan (kematian) binatang yang disembelihnya.” (HR Muslim).

Sementara itu, doa yang dibaca saat menyembelih hewan aqiqah, yaitu:

Bismillah wallahu Akbar. Allahumma minka wa laka. Allahuma taqabbal minni. Hadzihi ‘aqiqatu… (sebutkan nama bayi).”

Artinya: Dengan menyebut nama Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah dari kami. Inilah aqiqahnya… (nama bayi)

5. Bacaan doa untuk bayi yang diaqiqah

Sementara itu, bacaan doa untuk anak yang diaqiqah:

U’iidzuka bi kalimaatillaahit min kulli syaitooni wa haammah. Wa min kulli ‘ainin laammah.”

Artinya: Saya perlindungan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang prima, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang penuh kebencian.

Adapun doa lain dalam aqiqah atau doa walimatul aqiqah yang biasanya dibacakan, yakni:

Ahummahfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyâni wa min jamî’is sayyiâti wal ‘ishyâni wahrishu bihadlânatika wa kafâlatika al-mahmûdati wa bidawâmi ‘inâyatika wa ri’âyatika an-nafîdzati nuqaddimu bihâ ‘alal qiyâmi bimâ kalaftanâ min huqûqi rububiyyâtika al-karîmati nadabtanâ ilaihi fîmâ bainanâ wa baina khalqika min makârimil akhlâqi wa athyabu mâ fadldlaltanâ minal arzâqi. Allâhummaj’alnâ wa iyyâhum min ahlil ‘ilmi wa ahlil khairi wa ahlil qur`âni wa lâ taj’alnâ wa iyyâhum min ahlisy syarri wadl dloiri wadz dzolami wath thughyâni.”

Artinya: Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummu shibyan, serta gejala kejelekan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan dan perlindungan-Mu yang lestari. Dengan hal tersebut, aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada di antara kami dan makhluk-Mu, yakni akhlak mulia dan anugerah yang paling indah. Ya Allah, jadikan kami dan mereka sebagai ahli ilmu, kebaikan, dan Al-Qur’an. Jangan jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercela.”

6. Makan dan membagikan hewan aqiqah

Setelah tata cara itu dilakukan, terakhir adalah makan bersama atau membagikan daging aqiqah. Daging aqiqah yang diberikan harus dalam keadaan matang, bukan mentah seperti daging qurban.

Ucapan aqiqah

Sementara itu, Bunda dan Ayah bisa mempersiapkan beberapa ucapan aqiqah untuk anak sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, yang biasanya ditulis dalam secarik kertas atau kartu ucapan dengan foto buah hati yang biasanya disertakan bersamaan dengan kotak nasi. Dalam ucapan tersebut disematkan ucapan syukur kepada Allah, nama bayi dan tanggal lahir, serta doa untuk buah hati.

Nah berikut ini 10 ide ucapan aqiqah saat melakukan aqiqah anak tercinta, dikutip dari berbagai sumber:

1. “Alhamdulillah telah lahir putera/puteri kami bernama (nama anak) yang lahir pada (tanggal lahir anak). Tiada kata paling berharga selain doa, semoga putra/putri kami menjadi anak yang saleh/salehan, berbakti kepada orang tua, dan berguna bagi bangsa.”

2. “Bismillahirrohmanirrahiim. Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga bisa melaksanakan aqiqah putra/puti kami: (nama dan tanggal aqiqah). Semoga Allah SWT menjadikannya anak salah/salehan, berbakti kepada orang tua dan bermanfaat bagi agama dan bangsa. Amin.”

3. “Bismillahirrohmanirrahiim. Alhamdulillah telah lahir anak kedua kami tercinta (nama anak) pada (tanggal lahir anak). Tiada kata terindah selain doa restu semoga anak kami menjadi anak yang saleh/salehah, berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama dan bangsa.”

4. “Aqiqah anak kami yang pertama. (Nama anak dan tanggal lahir). Semoga menjadi anak yang saleh/salehan, berbakti kepada kedua orang tua, berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.”

5. Bismillahirrohmanirrahiim. Tasyakuran & Aqiqah. Putri/Putra kami yang bernama (nama anak, tanggal acara dan jam serta alamat diadakannya aqiqah). Semoga kelak bisa menjadi anak saleh/salehah, berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama, masyarakat, bangsa & negara. Amin.”

6. “Bismillahirrohmanirrahiim. Alhamdulillah atas berkat rahmat dan ridha Allah SWT telah lahir anak kami yang pertama dan kami beri nama (nama anak dan tanggal lahir). Semoga menjadi anak yang saleh/salehah, berbakti kepada kedua orang tua, dan berguna bagi agama, nusa, bangsa dan negara. Aamin.”

7. “Bismillahirrohmanirrahiim. Assalamualaikum Wr Wb. Tengadah jemari kehadirat Allah SWT, Ucapan syukur atas pertolongan-Nya sehingga lahir dengan selamat anak kami yang pertama pada hari (tanggal lahir). Dalam menuntun titian hidup kami sebagai amanah-Nya untuk dibesarkan dan dibina dengan besar hati pula kami beri nama (nama anak). Semoga langkah anak kami dalam menuju hidup dan kehidupan mengutamakan kepatuhannya kepada Allah, Rasulullah, kedua orang tua, agama, dan bangsa. Amin. Wassalamualaikum Wr Wb.”

8. “Alhamdulillah Aqiqah anak kami: (nama anak dan tanggal lahir). Kami mengharapkan doa Bapak/Ibu/Saudara/Saudari. Semoga Allah menjadikannya anak yang saleh/salehah. Amin Ya Robbal Alamin.”

9. “Bismillahirrohmanirrahiim. Seja tasyakur bini’ matilah kana lahirna pun anak anu kahiji (nama dan tanggal lahir anak). Pidu’a ani diseja ti sadayana mugia pun anak sing janten mutangkalih anu salehah/saleh. Aamiin.”

10. “Puji lan syukur tansah diparingi ngarsane Gusti Allah SWT tumrap sedoyo rezeki, Kuwasan lan Kuwasae, sampun lair Putri Katelu: (nama anak). Dina lan tanggal lair (tanggal lahir anak). Proses aqiqah sampun ditindakake kados engkang sampun ditindakake. Boten enten tembung luwih sae engkang saged diujar saliyane nyuwun berkah supoyo Ananda (nama anak) ditresnani kados engkan alim lan dikabdi kagem tiang sepuh. Mugunani kagem kelairan, bangsa lan kulawarga. Amin.”

Pelaksanaan Aqiqah secara Sunah

Aqiqah merupakan salah satu ajaran yang wajib dijalankan setiap Muslim ketika memiliki anak. Anjuran melaksanakan aqiqah ini sesuai sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Karena itu, setiap Muslim harus mengetahui tata cara aqiqah anak perempuan dan laki-laki sesuai sunnah Rasulullah. Selain itu, Sahabat Dream juga perlu mengetahui masalah tata cara aqiqah orang dewasa menurut Islam.

Dengan mengenal tata cara aqiqah yang sesuai sunnah, Muslim bisa menjalankan hidupnya dengan tenang karena telah melaksanakan ibadah yang diperintahkan Nabi Muhammad SAW. Untuk lebih jelasnya, berikut ini pengertian aqiqah, menurut bahasa dan istilah.

Apa Itu Aqiqah?

Dari segi bahasa Arab, aqiqah berasal dari kata al qat’u yang berarti memotong. Kata ini memiliki dua pengertian. Makna pertama adalah memotong rambut bayi yang baru lahir. Sementara makna ke dua memotong atau melakukan penyembelihan hewan.

Sementara, menurut istilah, aqiqah adalah proses pemotongan hewan ternak pada hari ke tujuh setelah bayi dilahirkan. Penyembelihan hewan ternak saat aqiqah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Hukum Aqiqah Anak

Hukum aqiqah anak perempuan dan laki-laki merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.

Yang artinya: ” Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh, dicukur (rambutnya), dan diberi nama. (HR. Tirmidzi no. 2735, Abu Dawud no. 2527, Ibnu Majah no. 3165. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab al-Irwa’ no. 1165).

Sahabat Dream mungkin banyak yang bertanya tentang kalimat setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya.

Nah, di antara pendapat para ulama adalah anak yang tidak diaqiqahkan lalu meninggal dunia, maka anak itu tidak akan memberi syafaat bagi kedua orang tuanya.

Hukum aqiqah anak adalah sunnah muakkad menurut jumhur ulama. Sedangkan tata cara aqiqah sudah dijelaskan oleh para ulama dengan berdasarkan pada hadis Rasulullah SAW di atas.

Waktu Terbaik Aqiqah

Dalam tata cara aqiqah sesuai sunnah Rasulullah, waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah adalah di hari ke tujuh setelah kelahiran bayi.

Hal itu sudah diterangkan dengan jelas pada hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah sebelumnya.

Lantas, bagaimana menentukan hari ke tujuh untuk melaksanakan aqiqah? Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyah bahwa jika bayi lahir siang hari, maka sudah termasuk hari pertama dari tujuh hari.

Sedangkan jika bayi dilahirkan pada waktu malam, tidak termasuk dalam hitungan. Hari pertama adalah hari berikutnya.

Misalnya, ketika bayi lahir hari Sabtu pagi, maka hari tersebut sudah dianggap sebagai hari pertama dari tujuh hari. Sehingga orang tuanya akan mengerjakan aqiqah pada hari Jumat minggu depannya.

Sebaliknya, jika bayi lahir Sabtu malam, maka hari pertamanya adalah hari Minggu keesokan paginya. Sehingga orang tuanya boleh melaksanakan aqiqah pada hari Sabtu minggu depannya.

Namun ada sebagian yang menggunakan tata cara waktu aqiqah pada 14 atau 21 hari setelah kelahiran bayi. Menurut Mazhab Syafi’i, aqiqah tetap dapat dilaksanakan setelah melewati hari ke tujuh kelahiran bayi.

Bagaimana jika anak meninggal dunia sebelum aqiqah? Mazhab Syafi’i tetap menganjurkan aqiqah walaupun anak tersebut telah meninggal dunia sebelum hari ke tujuh.

Lalu bagaimana dengan tata cara aqiqah anak perempuan dan laki-laki yang sesuai sunnah Rasulullah? Berikut adalah penjelasan tentang tata cara aqiqah menurut Islam.

Tata Cara Aqiqah Anak Perempuan dan Laki-laki Sesuai Sunnah

Sebelumnya, Dream telah menjelaskan pengertian aqiqah, hukum aqiqah, dan waktu terbaik aqiqah. Sekarang saatnya memb

Urutan atau tata cara aqiqah anak perempuan dan laki-laki sebenarnya sama saja. Yang membedakan hanyalah jumlah kambing yang dikurbankan untuk aqiqah.

Berikut tata cara aqiqah anak perempuan dan laki-laki sesuai sunnah.

1. Menyembelih Kambing

Aqiqah identik dengan menyembelih kambing. Namun, di era modern ini, menyembelih kambing untuk aqiqah adalah hal yang merepotkan. Karena itu, banyak yang membeli masakan kambing yang sudah siap digunakan untuk acara aqiqah anak.

Jumlah kambing yang disembelih untuk aqiqah berbeda antara anak perempuan dan laki-laki. Untuk aqiqah anak perempuan orang tua menyiapkan satu ekor kambing. Sedangkan untuk anak laki-laki, orang tua menyembelih dua ekor kambing.

Soal jumlah kambing yang disembelih untuk aqiqah anak perempuan dan laki-laki ini telah disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud.

Yang artinya: Dari Ummu Kurz ia berkata, ” Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ‘Untuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk akan perempuan adalah seekor kambing. Tidak mengapa bagi kalian apakah ia kambing jantan atau betina’.” (HR. Abu Dawud no. 2834-2835).

Syarat kambing yang disembelih untuk aqiqah anak perempuan dan laki-laki ini sama dengan hewan kurban. Yaitu kambing yang berkualitas, baik dari segi jenis hingga usia. Kambing tersebut juga harus bebas dari cacat dan penyakit.

Sebelum menyembelih kambing untuk aqiqah, disunnahkan untuk membaca doa sebagai berikut:

بسم الله وبالله اللهم عقیقة عن فلان بن فلانة لحمها بلحمه بعظامه اللهم اجعلها وقعا لال محمد علیه واله وسلم

BISMILLAHI WA BILLAHI, ALLAHUMMA ‘AQIQATUN ‘AN FULAN BIN FULAN, LAHMUHA BILAHMIHI SI AZHMIHI, ALLAHUMMAJ’ALHA WIQAAN LIALI MUHAMMADIN ‘ALAIHI WA ALIHIS SALAM.

Yang artinya: ” Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan kepada keluarga Muhammad SAW.”

2. Memasak Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah selanjutnya adalah memasak daging dari hewan yang disembelih untuk aqiqah. Soal ini, ada dua pendapat ulama mengenai daging aqiqah.

Pendapat pertama mengatakan sebaiknya daging hewan aqiqah dimasak terlebih dahulu kemudian dibagikan. Pendapat ke dua menyarankan untuk membagikan daging aqiqah seperti daging kurban, tidak dimasak terlebih dahulu.

Namun jumhur ulama lebih mengajurkan untuk memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya kepada orang-orang. Hal itu diungkapkan dalam kitab Atahzib yang ditulis Imam Al-Baghawi.

Yang artinya: ” Dianjurkan untuk tidak membagikan daging hewan aqiqah dalam keadaan mentah, akan tetapi dimasak terlebih dahulu kemudian diantarkan kepada orang fakir dengan nampan.” (Imam Al-Baghawi dalam kitab Atahzib)

Kemudian, pendapat yang ditulis dalam kitab Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah yang artinya, ” Kebanyakan ahlul ilmi menganjurkan agar daging hewan aqiqah tidak dibagikan dalam keadaan mentah, namun dimasak terlebih dahulu kemudian disedekahkan pada orang fakir.”

Menurut hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, daging aqiqah sebaiknya dimasak terlebih dahulu baru dibagikan.

Yang artinya: Aisyah r.a berkata, ” Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.” (HR al-Bayhaqi)

3. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dari hadis yang diriwayatkan al-Bayhaqi, sudah jelas disebutkan bahwa daging aqiqah sebagian dimakan. Sedangkan sebagiannya lagi dibagikan kepada orang-orang.

Tata cara aqiqah membagikan daging ini hampir sama dengan daging kurban. Sebagian daging aqiqah diberikan kepada keluarga Muslim yang melaksanakan aqiqah. Sementara sisanya dapat dibagikan kepada tetangga ataupun fakir miskin.

4. Mencukur Rambut dan Memberikan Nama Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah berikutnya adalah mencukur rambut bayi yang baru lahir dan memberikan nama kepadanya. Dalam tata cara aqiqah menurut Islam, orang tua memberikan nama yang baik kepada anak yang baru lahir.

Memberikan nama yang baik mencerminkan bagaimana akhlak dan imannya nanti kepada Allah SWT.​ Hukum mencukur rambut bayi saat melakukan aqiqah menurut pendapat yang kuat di kalangan ulama adalah sunnah.

5. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah anak selanjutnya adalah mendoakan bayi yang baru lahir. Berikut adalah bacaan doa yang sebaiknya diucapkan untuk bayi yang baru lahir.

اعیذك بکلمة الله التامات من کل شیطان وهمه ومن کل عین لامه

” U’IIDZUKA BI KALIMAATILLAAHIT TAMMAATI MIN KULLI SYAITHOONI WA HAAMMAH. WA MIN KULLI ‘AININ LAAMMAH.

Yang artinya: ” Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang Perkasa, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang penuh kebencian.”

Demikianlah tata cara aqiqah anak perempuan dan laki-laki sesuai sunnah yang sebaiknya dipelajari dan dilaksanakan.

Aqiqah dalam Pelaksanaan

Pengertian

Bila merujuk pada bahasa arab, aqiqah memiliki arti yaitu memutus dan melubangi. Dalam pengertian secara umum, aqiqah adalah aktivitas ibadah menyembelih hewan berupa kambing sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya seorang anak.

Hukum atas ibadah ini berbeda berdasarkan pendapat ulama. Ada yang mengatakan bahwa ibadah aqiqah hukumnya wajib, ada yang mengatakan sunnah mu’akad dan adapula yang mengatakan sunnah.

Dari semua pendapat yang ada, yang paling shahih adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah mu’akad. Artinya ini adalah ibadah yang memang dianjurkan untuk dilaksanakan.

Dalil

Dalil atas perintah ibadah ini adalah hadist Nabi SAW. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Semua bayi tergadaikan dengan aqiqah-nya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama, dan dicukur rambutnya.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lainnya).

Kemudian dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berkata jika Rasulullah bersabda, “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” (Shahih Hadits Riwayat Bukhari).

Lalu dari Samurah bin Jundab berkata jika Rasulullah bersabda, “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya di sembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya].

Sejarah

Pelaksanaan aqiqah yaitu penyembelihan seekor hewan sebagai bagian dari upacara kelahiran seorang anak ternyata sudah pernah dilakukan di zaman jahiliyah.

Namun, pelaksanaannya tentu berbeda dengan apa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah SAW.

Buraida berkata, bahwa dahulu pada masa jahiliyah jika salah satu di antara mereka memiliki anak, maka orang itu akan menyembelih kambing dan melumuri kepala bayi itu dengan darah kambing. 

Melumuri kepala bayi dengan darah kambing? terlihat menyeramkan, bukan?

Di dalam Islam tata cara tersebut diubah menjadi yang lebih manusiawi.

Lalu, bagaimana tata cara aqiqah yang telah diajarkan Islam?

Tata Cara

1. Waktu Pelaksanaan

Hari pelaksanaan ibadah ini biasanya dilakukan 7 hari setelah anak lahir. Bisa juga dilaksanakan 14 atau 21 hari setelahnya. Sebagaimana hadist Nabi SAW. Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, menyatakan bahwa Nabi Muhamaad SAW bersabda, “Aqiqah itu disembelih di hari ke 7 atau hari ke 14 atau ke 21 (HR. Baihaqi).

Namun, tidak masalah untuk melaksanakan aqiqah di waktu-waktu lainnya.

Tidak perlu terpaku pada hari ketujuh beserta kelipatannya. Apabila kondisi orang tua memiliki kesulitan secara finansial, maka aqiqah bisa dikondisikan pada waktu dimana orang tua tersebut mampu untuk melakukannya.

2. Jumlah Hewan

Ada perbedaan jumlah hewan yang disembelih antara anak yang berjenis kelamin laki-laki dan anak yang berjenis kelamin perempuan.

Bagi anak laki-laki yang baru dilahirkan, maka aqiqahnya adalah dengan menyembelih dua ekor kambing. Adapun untuk anak perempuan diaqiqahkan dengan hanya satu kambing.

Sebagaimana pada hadist Nabi SAW.

Aisyah berkata jika Rasulullah bersabda, “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” [Shahih, Hadits Riwayat Ahmad]

3. Mencukur Rambut Bayi.

Setelah penyembelihan hewan kambing telah dilaksanakan. Maka ibadah selanjutnya adalah dengan mencukuri/menggunduli kepala bayi.

Sebagaimana hadist Nabi SAW, “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya di sembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya].

4. Melumuri dengan minyak wangi.

Setelah kepala bayi digunduli, maka kepala tersebut dapat dilumuri dengan minyak wangi. Inilah yang membedakan dengan zaman jahiliyah.

Pada zaman tersebut, kepala bayi dilumuri dengan darah kambing sedangkan di Islam, kepala bayi dilumuri dengan minyak wangi.

5. Bersedekah

Terakhir adalah dengan bersedekah. Perhitungan sedekah tersebut diambil dari berat rambut si bayi yang dipotong.

Setelah rambut bayi dipotong, maka rambut-rambut tersebut dikumpulkan kemudian ditimbang. Hasil berat timbangan tersebut kemudian dikonversi dalam bentuk perak.

Katakanlah setelah dipotong terkumpul berat sebanyak 2 gram. Maka, pemilik harus bersedekah perak sebanyak 2 gram atau yang senilai dengan itu.

Kesimpulan

Demikianlah penjelasan tentang aqiqah yang perlu untuk diketahui. Semoga penjelasan ini bisa menambah wawasan tentang ibadah aqiqah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

AQIQAH

Dalam tradisi umat Islam, kelahiran seorang anak biasanya dirayakan dengan acara aqiqahan. Acara aqiqah dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkapkan kebahagian dan memanjatkan syukur kepada Allah SWT. Upacara aqiqah biasanya dilakukan dengan prosesi penyembelihan hewan ternak seperti kambing, yang lalu dibagi-bagikan kepada keluarga dan tetangga.

Secara bahasa, aqiqah memiliki arti “memotong” yang berasal dari bahasa arab “al-qat’u”. Terdapat juga definisi lain aqiqah yaitu “nama rambut bayi yang baru dilahirkan”. Menurut istilah, aqiqah adalah proses kegiatan menyembelih hewan ternak pada hari ke tujuh setelah bayi dilahirkan. Hal ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Aqiqah biasanya dilakukan pada hari ke-7, ke-14, atau ke-21 setelah kelahiran seorang anak. Bagi anak laki-laki, untuk melaksanakan aqiqah wajib memotong dua ekor kambing sementara anak perempuan satu ekor kambing saja.

Berikut penjelasan lengkap mengenai aqiqah, yang dihimpun dari berbagai sumber.

Hukum Melaksanakan Aqiqah dalam Islam

Pelaksanaan aqiqah adalah ajaran Rasulullah SAW. Dilihat dari sisi hukumnya, aqiqah dibedakan menjadi dua yaitu berhukum sunnah dan wajib. Pembagian ini berdasarkan pada dalil-dalil dan tafsir yang telah dilakukan oleh para ulama. 

Secara sunnah, hukum aqiqah adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang harus diutamakan. Artinya, apabila seorang muslim mampu melaksanakannya (karena mempunyai harta yang cukup) maka ia dianjurkan untuk melakukan aqiqah bagi anaknya saat anak tersebut masih bayi. Sementara bagi orang yang kurang atau tidak mampu, pelaksanaan aqiqah dapat ditiadakan.

Secara wajib, menurut hadist riwayat Ahmad yang berbunyi “Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama.” (HR Ahmad), aqiqah wajib dilakukan. Dengan berpatokan pada hadist di atas, para ulama menafsirkan bahwasanya seorang anak tidak dapat memberi syafaat pada orangtuanya apabila ia belum diaqiqah. Meski demikian, pendapat ini masih kalah dengan pendapat bahwa aqiqah adalah sunnah sehingga ditolak oleh banyak ulama.

Tata Cara Aqiqah dalam Islam

1. Waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah:

Rasulullah bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.”

Berdasarkan sabda Rasulullah SAW ini, maka para ulama menyepakati bahwa waktu pelaksanaan aqiqah yang paling baik adalah pada hari ke-7 semenjak hari kelahiran. Namun jika berhalangan karena sesuatu dan lain hal, aqiqah dapat dilaksanakan pada hari ke-14 atau hari ke-21.

Namun jika seseorang tersebut berada dalam kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, maka kewajiban melaksanakan aqiqah pun gugur. Karena, apabila memang benar-benar tidak mampu, seorang muslim diperbolehkan untuk meninggalkan atau tidak melakukan ibadah aqiqah ini.

2. Syarat-syarat dalam memilih hewan untuk aqiqah:

Tata cara aqiqah dalam Islam menganjurkan hewan qurban untuk disembelih. Hewan dengan kriteria yang serupa dengan hewan kurban seperti kambing dan domba yang sehat adalah yang sebaiknya dipilih untuk prosesi aqiqah. Umur dari hewan ternak ini pun tidak boleh kurang dari setengah tahun.

3. Membagi daging hewan hasil aqiqah:

Dalam tata cara aqiqah menurut agama Islam, daging aqiqah yang sudah disembelih harus dibagikan kepada para tetangga dan kerabat. Namun terdapat perbedaan antara daging hasil aqiqah dengan daging kurban. Dalam bentuk pembagiannya, daging aqiqah harus diberikan dalam keadaan yang sudah matang, tidak boleh masih dalam kondisi mentah layaknya daging kurban.

Hadits Aisyah r.a: “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Orang yang memiliki hajat dan keluarganya juga disunnahkan untuk mengonsumsi daging aqiqah. Sementara, sepertiga daging lainnya diberikan pada tetangga dan fakir miskin.

Hal ini seperti yang tertuang dalam firman Allah SWT: “Mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan, dengan perasaan senang”. – Q.S. Al-Insan (8)

4. Memberi nama anak pada saat aqiqah:

Dalam tata cara aqiqah, pada saat menyelenggarakannya disunnahkan juga untuk mencukur rambut si bayi dan memberinya nama yang memiliki arti yang baik. Karena, nama yang baik kelak akan mencerminkan perilaku serta akhlaknya kepada Allah SWT dan lingkungan sekitarnya. 

5. Prosesi mencukur rambut pada saat aqiqah:

Mencukur rambut adalah salah satu hal yang terdapat dalam tata cara aqiqah. Rasulullah SAW sangat menganjurkan agar melakukan cukur rambut pada anak yang baru lahir di hari ke-7 nya. Dalam tata cara aqiqah menurut Islam, tidak terdapat hadits yang menjelaskan bagaimana seharusnya mencukur rambut si anak. Namun yang jelas pencukuran harus dilakukan dengan merata.

6. Bacaan doa saat menyembelih hewan aqiqah:

Berikut adalah bacaan doa yang harus dilafazkan ketika melakukan penyembelihan terhadap hewan aqiqah:

“Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.”

Artinya : “Dengan nama Allah, ya Allah terimalah (kurban) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad.” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

7. Bacaan doa bagi bayi yang diaqiqahkan:

Berikut ini adalah bacaan doa bagi anak yang sedang diaqiqah:

“U’iidzuka bi kalimaatillaahit tammaati min kulli syaithooni wa haammah. Wa min kulli ‘ainin laammah.”

Artinya : “Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang prima, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang penuh kebencian.”

Yang Membiayai Aqiqah

Sudah jelas bahwa anak adalah tanggung jawab orang tuanya. Maka dengan itu, prosesi aqiqah seorang anak menjadi tanggungjawab penuh kedua orangtuanya. Namun diperbolehkan jika nanti dalam praktiknya prosesi aqiqah dibiayai olehorang selain orang tua.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Ibnu Jibrin Rahimahullah; “Jika si anak diaqiqahi oleh kakeknya atau saudaranya atau yang lainnya maka ini juga boleh. Tidak disyaratkan harus oleh ayahnya atau dibiayai sebagiannya.” (Aktsar min Alf Jawab lil Mar’ah).

Dalil-Dalil Dasar Melakukan Aqiqah

Di bawah ini terdapat beberapa dalil yang menjelaskan tentang sunnahnya melaksanakan aqiqah bagi anak yang baru lahir.

  • Dari Samurah bin Jundab, Rasulullah SAW bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadits shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad , Ad Darimi)
  • Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, Rasulullah SAW bersabda: “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” (Hadits Riwayat Bukhari)
  • Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, Rasulullah SAW bersabda : “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” (Hadist Riwayat Ahmad, Thabrani dan al-Baihaqi)
  • Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” (Hadits Riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
  • Dari ‘Amr bin Syu’aib, Rasulullah SAW bersabda. : “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” (Hadits Riwayat Abu Dawud, Nasa’I, Ahmad)
  • Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda : “Mengaqiqahi Hasan dan Husein dengan satu kambing dan satu kambing kibas.” (HR Abu Dawud)

Hikmah dari Menjalankan Aqiqah Bagi Umat Islam

Banyak hikmah dan keutamaan yang dapat dipetik dan diraih dari proses pelaksanaan ibadah aqiqah, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Aqiqah membantu dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah SWT atas karuniaNya berupa kelahiran seorang anak. Karena nantinya anak tersebut diharapkan dapat menjadi penerus yang sholeh dan sholehah bagi keluarganya.
  • Melaksanakan aqiqah berarti meneladani dan mengikuti sunnah dari Rasulullah SAW.
  • Aqiqah adalah momen untuk berbagi pada sesama dan mempererat tali persaudaraan serta silaturahmi.
  • Aqiqah adalah bentuk perasaan gembira dan upaya membagikan kegembiraan tersebut pada orang lain.

Keutamaan Basmallah

الباب الاول فی ذکر بعض البسملة ومنافعها

قال المناوی فی شرحه الکبیر علی الجامع الصغیر روی انه لما نزلت البسملة الشریفة اهتزت الجبال لنزولها وقالت الزبانیة من قرأها لم یدخل النار وهی تسعة عشر حرفا علی عدد الملاٸکة الموکلین بالنار ومن أکثر من ذکرها رزق الهیبة عند العالم العلوی والسفلی وهی التی أقام الله بها ملك سلیمان علیه السلام فمن کتبها ستماٸة مرة وحملها معه رزق الهیبة فی قلوب الخلاٸق وقال غیره روی عن بعض الصالحینأنه قال من کتب البسملة ستماٸة وخمسة وعشرین مرة وحملها معه کساه الله هیبة عظیمة ولایقدر أحد أن یناله بسوء باذن الله تعالی قال وقد جربت ذلك وصح والحمد لله.

Bab Awal dalam menjelaskan tentang Bismillah dan Manfaatnya

Telah berkata Al Manawiy didalam Kita Syarahnya Al Kabir `ala Al Jami`is Shoghir. Telah diriwayatkan sesungguhnya Basmallah ketikaBasmallah Yg Agung itu diturunkan, maka bergoncanglah gunung gunung disebabkan karna turunnya Basmalah tsb. dan telah berkata Malaikat Zabaniyah bahwa Banrangsiapa membaca Basmalah Maka tidak akan masuk neraka. hal itu sebab Bismillah mempunyai 19 huruf. dan bilangan tsb berdasarkan jumlah Malaikat yang mewakili didalam Neraka. dan Barangsiapa yang memperbanyak membaca Basmalah, maka Rizkinya akan hebat disisi alam `alawiy(*alam malaikat atas) dan alam sufla(*alam malaikat bawah).

penjelasan =(*maksudnya akan diberikan anugerah di alam malakut berupa hikmah dan pemahaman serta kecerdasan,dll yg bersifat rizki berupa kemudahan kemudahan dialam fikir dan alam pembentukan. dan hal ini akan menjadi mungkin dimudahkannya berbagai masalah)

Dan Basmalah inilah yg menjadikan (*alasan) berdiri tegak nya kerajaan Nabi Sulaiman as. Maka barangsiapa yg menuliskannya Basmallah sebanyak 600 kali kemudian membawa bersamanya maka dianugerahi Kekaguman dan kharisma dihati semua makhluqNya.

Dan dikatakan selain dari hal itu, Telah diriwayatkan oleh sebagian orang orang shalih. Sesungguhnya Barangsiapa yang menulis Basmalah sebanyak 625 kali kemudian membawa bersamanya. Maka Allah Swt Mendandani(*memakaikan) kepadanya kehebatan(*kharisma, kedudukan) yg agung yg tinggi dan tiada yg mampu satu orang pun yg bisa sampai kepadanya kejelekan(*tidak ada satu orang pun yg bisa mencelakainya dan menghinanya dan menzhaliminya) atas idzin Allah Swt. dan telah Mujarrab hal tersebut dan memang benar dan segala puji bagi Allah.

﴿ومن خواصها﴾ كما قال بعضهم أن من کتبها فی ورقة من اول یوم المحرم ماٸة وثلاث عشر مرة وحملها لم ینله مکروه مدة عمره

Dan sebagian dari khasiyat Basmalah yaitu sebagaimana telah dikatakan oleh sebagian ulama hikmah bahwa sesungguhnya barangsiapa yg menulis diatas kertas waktu awal hari pada bulan muharram sebanyak 113, kemudian membawanya tulisan Basmalah tsb. maka tidaklah akan sampai kepadanya kejelekkan sepanjang umurnya.

﴿ومن خواصها﴾ ما روی عن بعض الصالحین انه قال من قرأ بسم الله الرحمن الرحیم اثنی عشر ألف مرة اخر کل ألف یصلی علی النبی صلی الله علیه وسلم ویسأل الله حاجته ثم یعود إلی القرأة فاذا بلغ الألف فعل مثل ذلك الی انقضاء العدد المذکور من فعل ذلك قضیت حاجته کاٸنة ماکانت باذن الله تعالی

dan sebagian dari khasiyat Basmallah adalah sebagaimana telah diriwayatkan oleh sebagian shalihin sesungguhnya berkata : barangsiapa yang membaca Bismillahir rohmanir rohiim 12000 kali. dan disetiap akhir membaca Basmallah 1000 kali diselingi oleh membaca shalawat kepada Nabi Saw. kemudian mohonlah kepada Allah Swt apa yg menjadi kebutuhannya. kemudian kembali lagi membaca Basmallah sampai 1000x. lalu membaca sholawat lagi. lalu mohonkanlah hajat kepada Allah. begitu sampai jumlah Basmalah menjadi 12000. (*artinya 12x). Barangsiapa yg mengerjakan yg demikian tersebut, maka ditunaikanlah kebutuhannya. seakan akan telah terpenuhi saat itu dengan idzin Allah Swt.

Risalah Al Muawwanah#54

Shalawat awal Waktu

(وعليك) بالمبادرة بالصلاة أول الوقت بحيث لا يؤذن المؤذن لكل مكتوبة إلا وقد توضأت وحضرت في المسجد، فإن لم تفعل ذلك فلا أقل من أن تأخذ في الاستعداد للصلاة من حين تسمع الأذان. وقد قال عليه الصلاة والسلام: “فضل أول الوقت على آخره كفضل الآخرة على الدنيا” وقال عليه الصلاة والسلام: “أول الوقت رضوان الله وآخره عفو الله”

Salat Hendaklah engkau selalu bergegas salat di awal waktu, sehingga ketika muazin menyerukan azannya engkau sudah berada di dalam masjid dan dalam keadaan berwudhu. Apabila engkau tak mampu melakukan hal itu, minimal ketika azan diserukan hendaklah sudah siap untuk salat. Sabda Rasulullah Saw. :

فَضْلُ أَوَّلِ الْوَقْتِ عَلَى آخِرِهِ كَفَضْلِ الآخِرَةِ عَلَى الدُّنْيَا.

“Keutamaan salat di awal waktu atas akhirnya bagaikan keutamaan akhirat atas dunia.” (Al-Hadits)

أَوَّلُ الْوَقْتِ رِضْوَانُ اللَّهِ وَآخِرُهُ عَفْرُاللَّهِ.

“Awal waktu itu ada keridaan Allah dan akhir waktu ada ampunan Allah.”

Risalah Al Muawwanah#53

Adzan dan Iqomah

وإذا سمعت المؤذن فقل مثل ما يقول إلا في الحيعلتين فقل: “لا حول ولا قوة إلا بالله” وفي التثويب(1)صدقت وبررت، فإذا فرغت من جوابه فصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم قل: “اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة آت سيدنا محمداً الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاماً محموداً الذي وعدته”

. Azan dan Iqamah Ketika engkau mendengarkan azan, jawablah azan itu sama dengan yang diucvapkan muazin, kecuali kalimat Hayya alash shalah dan Hayya alal falah, maka jawablah :

لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

“Tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah.” Pada salat Subuh, ketika muazin menyeru Ash-shalatu khairumminannaum, maka jawablah dengan :

صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ وَأَنَاعَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ.

“Benar dan baguslah ucapanmu dan dalam hal ini aku pun termasuk orang yang menjadi saksi.” Setelah menjawab azan, bacalah salawat Nabi Saw. lalu bacalah :

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدَنِ الْوَسِيْلَةَوَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًامَحْمُوْدَانِ الَّذِىْ وَعَدْتَهُ.

“Ya Allah, Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna ini dan salat yang akan didirikan ini, karuniakanlah pada Nabi Muhammad Saw. derajat yang tinggi dan pangkat yang mulia, dan berilah beliau kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.”

وأكثر من الدعاء بين الأذان والإقامة؛ لقوله عليه الصلاة والسلام: “الدعاء بين الأذانين لا يرد”، ومن الدعاء الوارد في هذا الوقت “اللهم إني أسألك العفو والعافية في الدنيا والآخرة” وقد ورد الحث في السنة على هذا الدعاء في غير هذا الوقت فعليك به فإنه من أجمع الأدعية وأفضلها.

Perbanyaklah doa antara azan dan iqamah, karena doa di antara dua waktu itu tak akan tertolak. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. :

اَلدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانَيْنِ لَا يُرَدُّ.

“Doa di antara azan dan iqamah itu tidak kan ditolak.” Rasulullah Saw. mengajarkan dengan doa sebagai berikut :

اللَّهُمَّ إِنِّىْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَاوَالْآخِرَةِ.

“Ya Allah, aku mohon kesehatan di dunia dan akhirat.” Doa di atas merupakan kumpulah dari beberapa doa dan merupakan doa yang paling utama.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai