Kisah Sahabat#Haram Bin Milhan Ra

Haram Bin Milhan Ra

Haram bin Milhan merupakan salah satu dari kelompok 70 sahabat huffadz Qur’an, yang mengalami tragedi Bi’r Ma’unah, yakni pembantaian para sahabat tersebut oleh Amir bin Thufail dan sekutunya, ia merupakan orang pertama yang syahid. 

Ketika rombongan ditetapkan untuk berhenti di Bi’r Ma’unah, pimpinan rombongan, Mundzir bin Amr memerintahkan Haram bin Milhan untuk menyampaikan surat Nabi SAW kepada Amir bin Thufail. Haram berangkat menuju kampung bani Amir disertai dua orang. Haram tahu benar bahwa Amir bin Thufail adalah seorang yang amat kejam dan berangasan, yang terkadang tidak memperdulikan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam pergaulan orang Arab.

Mendekati perkampungan bani Amir, ia berkata kepada dua temannya, “Kamu berdua menunggu saja di sini, apabila aku selamat, kalian boleh menyusulku. Tetapi jika mereka berkhianat, segera saja tinggalkan tempat ini. Lebih baik kehilangan satu orang daripada tiga orang.”

Mereka berdua setuju, dan Haram berangkat sendiri. Ketika sampai di depan Amir bin Thufail, Haram menyerahkan suratNabi SAW. Amir menerimanya dengan pongah, suratitu tidak dibuka, apalagi membacanya, bahkan ia memerintahkan orangnya melemparkan tombak ke tubuh Haram dari belakang, hingga tembus ke dadanya. Darah mengucur deras dari luka tersebut, Haram langsung berseru keras, “Allahu Akbar, Demi Tuhan Pemelihara Ka’bah, aku telah beruntung,”

Sesaat kemudian ia menemui syahidnya.

Menurut riwayat lainnya, yang mengatakan kalimat tersebut adalah Amir bin Fuhairah, yang juga tewas dalam peristiwa Bi’r Ma’unah tersebut. Penombaknya, Jabbar bin Sulma al Kilabi akhirnya memeluk agama Islam setelah menerima penjelasan tentang kalimat tersebut, yakni keberuntungan yang dimaksudkan tersebut adalah jannah.

Amir mengajak kaumnya, bani Amir, untuk menyerang perkemahan kaum muslimin di Bi’r Ma’unah, tetapi mereka menolak, karena kaum muslimin tersebut telah mendapat jaminan keamanan dari Abu Bara’, yang tak lain adalah paman dari Amir bin Thufail. Karena gagal mempengaruhi kaumnya, ia menemui bani Sulaim dengan ajakan yang sama. Beberapa kabilah lainnya menyambut ajakannya, yaitu kabilah Ushayyah, Ri’l dan Dzakwan. Mereka mengepung dan membantai tanpa ampun para sahabat huffadz Qur’an tersebut, kecuali Ka’b bin Zaid bin an Najjar yang berpura-pura mati dengan luka tombak di tubuhnya

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Abbas Ra

Abdullah Bin Abbas Ra

Abdullah bin Abbas masih sepupu Nabi SAW sendiri walaupun usianya berbeda jauh, ia putra dari Abbas bin Abdul Muthalib, paman beliau. Ia hidup dan bergaul bersama Rasulullah SAW ketika masih anak-anak. Ia berhijrah ke Madinah pada tahun 5 hijriah ketika berusia 8 tahun. Ia berangkat bersama kakaknya, Fadhl bin Abbas RA dan seorang budaknya, Abu Rafi. Mereka sempat tersesat di Rakubah sebelum akhirnya sampai di kediaman Bani Amr bin Auf dan masuk ke Madinah. 

Suatu ketika Nabi SAW menariknya mendekat, menepuk-nepuk bahunya dan berdoa untuknya, “Ya Allah, berilah ia ilmu agama yang mendalam, ajarkanlah kepadanya ta’wil (yakni, ilmu tentang tafsir Al Qur’an) .” (Allahumma, faqqihu fiddiin, wa ‘allimu fit ta’wiil).

Doa ini diulangi beberapa kali oleh Nabi SAW ketika beliau bertemu Ibnu Abbas, sehingga ia benar-benar menjadi orang yang sangat mendalam ilmu agamanya dan menjadi ahli tafsir Al Qur’an.

Abdullah bin Abbas memang selalu menghadiri majelis pengajaran Nabi SAW, dan menghafalkan apa yang beliau sampaikan. Ketika berusia 10 tahun, ia telah mampu menghafal Al Qur’an hingga manzil (yang diturunkan) terakhir. Ketika Rasulullah wafat, ia berusia 13 tahun dan saat itu ia telah menjadi seorang ahli tafsir Al Qur’an yang diakui oleh para sahabat lainnya. Namun demikian ia tidak berhenti menggali dan mencari ilmu dari para sahabat-sahabat Nabi SAW yang terdahulu. Ia tidak segan memacu tunggangannya mengarungi padang pasir menemui seorang sahabat, yang tidak terkenal sekalipun, bila didengarnya ia pernah memperoleh pengajaran (atau suatu hadits) langsung dari Nabi SAW. Sungguh, kehausannya akan ilmu agama, apalagi yang bersangkutan dengan al Qur’an dan hadits Nabi SAW seakan tak pernah terpuaskan.

Suatu ketika Ibnu Abbas melihat Nabi SAW sedang shalat sunnah, segera saja ia berdiri di belakang beliau dan mengikuti shalat. Melihat Ibnu Abbas, beliau menarik tangannya hingga berdiri sejajar, kemudian meneruskan shalatnya. Tetapi Abdullah bin Abbas mundur selangkah sambil tetap meneruskan shalat. Setelah selesai shalat, Nabi SAW menanyakan kenapa ia mundur lagi ke belakang, Ibnu Abbas berkata, “Wahai Rasulullah, engkau adalah pesuruh Allah, bagaimana mungkin saya dapat berdiri sejajar denganmu.”

Rasulullah SAW tersenyum, dan kembali mendoakannya seperti sebelumnya, yakni : Allahumma faqqihu fiddiin, wa ‘allimu fit ta’wiil.

Seusai perang Hunain, Nabi SAW menyatakan bahwa sepeninggal beliau kelak, orang-orang Anshar akan mengalami perlakuan pilih kasih dari pihak yang berkuasa, hal ini terekam kuat dalam ingatannya walau saat itu ia masih kecil. Hal itu memunculkan tekad dalam hatinya untuk membela orang-orang Anshar jika saat itu tiba.

Pada masa khalifah Umar atau Utsman (perawi Abu Zinad ragu antara Umar atau Utsman), sekelompok sahabat, di antaranya Hasan bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas, mewakili orang-orang Anshar meminta kepada khalifah agar memenuhi hajat kebutuhan mereka. Beberapa sahabat berdiri mengutarakan keutamaan orang-orang Anshar dan jasa-jasa mereka saat bersama Nabi SAW, dengan harapan khalifah bisa memenuhinya.

Kebutuhan orang-orang Anshar yang diperjuangkan saat itu memang nilainya cukup besar, sehingga khalifahpun memberikan berbagai argumen dan alasan, karena tidak bisa memenuhinya begitu saja. Beberapa orang sahabat akhirnya menerima alasan khalifah, termasuk sebagian sahabat Anshar. Tetapi ternyata Ibnu Abbas tidak mau menyerah begitu saja, selalu terngiang-ngiang “ramalan” Rasulullah SAW tentang ketidak-adilan yang akan dialami kaum Anshar. Ia akan merasa sangat bersalah jika ia melihat sisi ketidak-adilan tersebut muncul, dan tidak berbuat apa-apa untuk melawannya.

Tiba-tiba Ibnu Abbas berdiri dan dengan tegas ia mendebat semua argumentasi khalifah. Doa Nabi SAW,”Faqqihu fid diin wa ‘allimu fit ta’wil” benar-benar mewujud dalam dirinya. Semua argumen dan alasan itu dapat dipatahkannya sehingga mau tidak mau khalifah memenuhi kebutuhan para sahabat Anshar tersebut. Ini bukan sikap menang-menangan, tetapi bagaimana mendudukkan masalah sehingga khalifah terhindar dari sikap pilih kasih, dan tetap berdiri di atas keadilan. Dan khalifah sendiri akhirnya menyadari, bukannya marah, tetapi justru ia berterima kasih atas nasehat yang diberikan Abdullah bin Abbas.

Hassan bin Tsabit, yang digelari sebagai ‘Penyair dan Pembela Rasulullah SAW’, berkata kepada para sahabat yang bersama-sama menghadap khalifah, “Demi Allah! Sesungguhnya ia (Ibnu Abbas RA) adalah yang paling utama di antara kalian, karena ia adalah sisa kenabian dan pewaris Ahmad SAW. Kesamaan ras dan kemiripan wataknya memberi petunjuk kepadanya.”

Begitu juga yang terjadi dengan sahabat Abu Ayyub al Anshari. Sahabat Anshar ini menyediakan rumahnya untuk ditempati Nabi SAW ketika beliau pertama kali tiba di Madinah. Selama berbulan-bulan beliau tinggal di rumahnya sampai kaum muslimin selesai membangun Masjid Nabawi, dan rumah tinggal beliau di serambi masjid tersebut. Pada masa khalifah Muawiyah, ia mengalami masalah keuangan dan terlilit hutang. Ketika menghadap khalifah dan menyampaikan permasalahannya, ia tidak memperoleh apapun kecuali “nasehat” untuk bersabar, sebagaimana diramalkan Rasulullah SAW. Akhirnya ia berkunjung kepada Abdullah bin Abbas di Bashrah.

Ibnu Abbas menyambut kehadiran Abu Ayyub al Anshari dengan hangat. Ia membiarkan rumahnya ditempati Abu Ayyub dan semua kebutuhannya dipenuhi sehingga bisa menyelesaikan masalah hutangnya, bahkan masih banyak kelebihannya. Ibnu Abbas berkata kepada Abu Ayyub, “Aku akan berbuat baik kepadamu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepada Rasulullah SAW.Aku dan keluargaku pindah dari rumah ini agar engkau bisa menempatinya, sebagaimana engkau dan keluargamu telah mengosongkan rumahmu untuk bisa ditinggali oleh Rasulullah SAW.”

Pada masa tuanya, Ibnu Abbas menjadi buta. Suatu ketika ia masuk ke Masjidil Haram dengan dituntun oleh Wahab bin Munabbih. Ketika didengarnya beberapa orang bertengkar dengan suara keras, ia meminta Wahab membawanya ke sana. Ia memberi salam dan meminta ijin duduk. Setelah duduk, ia berkata, “Apakah kamu tidak mengetahui hamba-hamba Allah yang sebenarnya? Mereka adalah manusia yang tidak ingin berkata-kata karena takut kepada Allah, padahal ia tidak bisu bahkan sangat fasih tutur bahasanya, tetapi karena selalu sibuk memuji Allah dan mereka tidak dapat berkata yang sia-sia. Pada tingkat keimanan yang seperti itu, mereka selalu bersegera berbuat kebaikan, mengapa kalian menyimpang dari jalan itu?”

Mereka yang sedang bertengkar atau berdebat tersebut menjadi reda emosinya, dan meminta nasehat lebih banyak kepada Abdullah bin Abbas.

Sebagian riwayat menyebutkan, Abdullah bin Abbas memilih untuk menghabiskan masa hidupnya di Thaif, dan bukannya di Tanah Haram Makkah, walaupun sebenarnya ibadah atau kebaikan yang dilakukan di sana  dilipat-gandakan sebanyak seratus ribu kali. Tetapi yang menjadi alasannya untuk tidak tinggal di Makkah, adalah sikap hati-hati (wara’) dan rasa takutnya (khauf) kepada Allah SWT. Dalam pemikiran dan penafsiran Ibnu Abbas, orang-orang yang baru tersirat dan berniat saja untuk berbuat keburukan dan berada di Tanah Haram (Makkah dan Madinah), ia sudah jatuh dalam keburukan dan berdosa, bahkan bisa jadi dosanya sudah berganda sesuatu tingkat kekuatan niatnya. Padahal kalau di tanah halal, yakni diluar Makkah dan Madinah, niat saja belum jatuh dalam keburukan dan berdosa, jika ia belum merealisasikan niatnya tersebut. Bahkan bisa jadi ia memperoleh pahala jika ia membatalkan niatnya tersebut.

Sungguh suatu sikap hati-hati (wara’) dan takut kepada Allah SWT (khauf) yang tiada taranya. Padahal seorang sahabat “selevel” Ibnu Abbas, yang telah didoakan kebaikan oleh Nabi SAW, apa masih mungkin tersirat suatu niat untuk berbuat keburukan?? Tetapi itulah memang ciri khas para sahabat Nabi SAW, walaupun kebaikan dan jaminan keselamatan dari Nabi SAW telah mereka terima dari sabda-sabda beliau, tetapi mereka masih merasa ‘tidak aman’ dengan Makar Allah, sungguh suatu sikap tawadhu’ yang patut diteladani.

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Jahsy Ra

Abdullah Bin Jahsy Ra

Abdullah bin Jahsy al Asadi adalah sepupu sekaligus saudara ipar Rasulullah SAW. Ibunya, Umaimah binti Abdul Muthalib bin Hasyim adalah bibi beliau, dan adiknya, Zainab binti Jahsy RA adalah salah seorang dari Ummahatul Mukminin. Ia termasuk sahabat yang memeluk Islam pada masa awal, yakni sebelum Nabi SAW mengajar di rumah al Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam). 

Abdullah bin Jahsy pernah hijrah ke Habasyah untuk menghindari siksaan orang-orang kafir Quraisy, tetapi tidak lama kemudian ia kembali ke Makkah, karena tidak sanggup berpisah lama dengan Nabi SAW. Ketika perintah hijrah ke Madinah datang, Ibnu Jahsy beserta seluruh anggota keluarganya segera menyambutnya. Ia meninggalkan rumah dan segala perlengkapannya begitu saja.

Abu Jahal dan Utbah bin Rabiah menyatroni rumahnya dan membuka paksa pintunya, kemudian menjarah isinya layaknya perampok. Mendengar kabar tentang ulah Abu Jahal tersebut, Ibnu Jahsy mengadukan hal tersebut kepada Nabi SAW, dan beliau bersabda, “Apakah engkau tidak ridha, wahai Abdullah, padahal Allah akan memberikanmu rumah di surga?”

“Aku ridha, ya Rasulullah!” Jawab Abdullah, hatinya menjadi tenang dan air mata haru mengalir mendapat penjelasan Nabi SAW tersebut.

Pada bulan Rajab tahun 2 hijriah, Abdullah bin Jahsy memimpin 12 orang sahabat (pada riwayat lain, 8 sahabat) yang diperintahkan Nabi SAW menuju suatu arah, dan diberi suatu surat tertutup, yang baru boleh dibuka setelah dua hari perjalanan. Setelah dua hari, ia membuka surat tersebut, dan isinya adalah perintah Nabi SAW kepada dirinya dan pasukannya untuk menuju ke Nakhlah, tempat antara Makkah dan Thaif, untuk menyelidiki pergerakan dan kafilah dagang orang Quraisy dan melaporkannya kepada Nabi SAW.

Sampai di Nakhlah, mereka melihat kafilah dagang kaum kafir Quraisy sebagaimana disebutkan Nabi SAW. Ibnu Jahsy bermusyawarah dengan pasukannya tindakan apa yang harus dilakukan. Saat itu adalah akhir Bulan Rajab, bulan haram yang dilarang berperang di dalamnya. Kalau menunggu malam harinya, dimana sudah masuk Bulan Sya’ban dan diperbolehkan berperang, kafilah itu akan masuk tanah suci (tanah haram), dan haram pula berperang di tempat itu. Setelah melalui berbagai pertimbangan, ia memutuskan untuk menyerang kafilah tersebut. Satu orang Quraisy tewas dan dua orang tertawan, sisanya melarikan diri. Dengan membawa tawanan dan ghanimah, Abdullah bin Jahsy dan pasukannya pulang ke Madinah.

Sampai di Madinah, ternyata Rasulullah SAW tidak sependapat dengan keputusannya tersebut. Beliau bersabda, “Aku tidak memerintahkan kalianuntuk berperang di Bulan Suci (Bulan Haram)…!!”

Beliau menolak untuk menerima tawanan dan ghanimah yang telah dibawanya. Abdullah bin Jahsy dan pasukannya merasa sangat malu pada Nabi SAW, dunia jadi terasa sempit dan menyesakkan dada mereka. Hal inipun dimanfaatkan oleh oleh orang-orang Quraisy untuk melontarkan tuduhan dan fitnah kepada Nabi SAW, bahwa beliau menghalalkan bulan haram, membunuh dan menawan orang dan merampas harta bendanya, sehingga keadaan jadi kemelut yang rumit.

Tetapi kemudian Allah SWT menurunkan wahyu, Surah al Baqarah 217, yang isinya membenarkan tindakan Abdullah bin Jahsy, yakni mengecualikannya karena sebelumnya kaum kafir Quraisy telah melakukan tindakan yang jauh lebih besar dosanya, yakni mengusir penduduknya (yang muslim) dari Tanah Haram Makkah. Nabi SAW menjadi gembira dan ridha dengan tindakan Ibnu Jahsy, dan menerima tawanan dan ghanimah yang dibawanya, dan membagikannya kepada yang berhak. Itu adalah tawanan dan ghanimah pertama dalam Islam.

Peristiwa tersebut merupakan babak baru yang menunjukkan bagaimana kekuatan orang-orang Islam. Sebaliknya, orang-orang kafir Quraisy mulai dirasuki ketakutan, orang-orang yang dahulu disiksa dan dimusuhinya, bahkan diusir dari tanah kelahirannya, sekarang menjadi batu perintang yang menghalangi jalur perdagangannya ke Syam. Apalagi di bulan Sya’ban itu juga, turun surah al Baqarah ayat 190-193 yang mewajibkan orang-orang Islam untuk berperang melawan orang-orang yang memerangi dan menghalangi mereka dari jalan kebenaran.

Dalam perang Uhud, Abdullah bin Jahsy menemui sahabatnya, Sa’ad bin Abi Waqqash dan mengajaknya berdoa bergantian dan saling mengaminkan, karena doa seperti itu akan mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Sa’ad setuju dengan usulan sahabatnya tersebut. Merekapun menuju suatu tempat agak menjauh dari yang lain dan mulai berdoa.

Sa’ad memperoleh giliran pertama, ia berdoa, “Ya Allah, saat aku berada di tengah pertempuran esok hari, dengan limpahan Kasih SayangMu, ya Allah, hadapkanlah aku dengan musuh yang kuat dan garang, biarkanlah ia menyerangku sekuat tenaganya, dan aku akan menghadangnya sekuat tenagaku, Setelah itu, ya Allah, ijinkahlah aku memperoleh kemenangan dan membunuhnya karenaMU, dan biarkanlah aku memperoleh ghanimah atas limpahan karuniaMU, ya Allah!”

“Amin…!” Abdullah bin Jahsy, menutup doa Sa’ad.

Kemudian ganti ia berdoa, “Ya Allah ya Tuhanku, dalam pertempuran esok hari, hadapkanlah aku dengan musuh yang paling kuat, biarkanlah dia menyerangku dengan kemarahan membara, dan berilah aku keberanian untuk menghadangnya dengan segala kekuatan yang ada padaku. Kemudian, ya Allah, biarkanlah musuhku itu membunuhku, dan biarkanlah musuhku itu memotong hidung dan telingaku. Sehingga pada hari kiamat kelak, saat aku berdiri di hadapanMu untuk diadili, Engkau akan bertanya, ‘Wahai Abdullah, mengapa hidung dan telingamu terpotong?’ Maka aku akan menjawab, ‘Hidung dan telinga saya telah terpotong karena berjuang di jalanMu dan jalan RasulMu..’ Maka Engkau akan berkata, ‘Benar, semuanya terpotong karena berjuang di jalanKu’,…. ya Allah, kabulkanlah doaku ini!!”

“Amin…!” Kata Sa’ad, mengaminkan doa yang dipanjatkan Abdullah bin Jahsy, yang tampak aneh dan mengherankan. Tetapi, itulah wujud kecintaannyakepada Allah dan kerinduannya akan alam akhirat yang kekal abadi.

Esok harinya, pertempuran berlangsung sengit, dan doa keduanya dikabulkan oleh Allah. Sa’ad memperoleh kemenangan dan ghanimah yang banyak, sedang Abdullah menemui syahidnya dengan hidung dan telinga terpotong, sehingga untuk menempelkannya diikat dengan benang, tubuhnyapun luka tercincang tak karuan, seperti keadaan jasad pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib RA.

Melihat keadaannya tersebut, Sa’ad berkata, “Doa Ibnu Jahsy lebih mulia daripada doaku!”

Kisah Sahabat#Amir Bin Fuhairah Ra

Amir Bin Fuhairah Ra

Amir bin Fuhairah RA adalah hamba sahaya milik Abu Bakar yang telah dibebaskan. Sungguh Islam telah mengangkat derajat seseorang, dari seorang budak, ia dimuliakan tiada tarakarena akhirnya ia menjadi seorang hafidz (Seseorang yang Hafal) Al Qur’an.

Ketika Nabi SAW dan Abu Bakar berhijrah ke Madinah, dua orang bersahabat ini bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk menghindari pengejaran kaum Quraisy. Dalam tiga hari tersebut, Amir menggembalakan kambing seperti biasanya bersama penggembala lain, tetapi ketika pulang, ia berlambat-lambat hingga gelap malam, dan membawa kambing-kambing tersebut ke Gua Tsur, sehingga Nabi SAW dan Abu Bakar dapat meminum susunya. Pada pagi harinya ia telah berada di padang gembalaan bersama dengan penggembala lainnya, sehingga orang-orang kafir Quraisy sama sekali tidak curiga atas apa yang dilakukannya.

Sebagai seorang Hafidz Qur’an, iadipilih Nabi SAW menjadi salah satu dari 70 sahabat yang dikirim kepada Bani Amir di Najd untuk mendakwahi mereka. Tetapi kelompok dakwah sahabat ini dikhianatidan mengalami tragedi pembantaian di Bi’r Ma’unah. Ketika tombak telah menembus tubuhnya, dalam keadaan sakit yang tidak terkira, Amir bin Fuhairah berkata, “Demi Allah, aku telah berjaya…”

Setelah itu tubuhnya terkulai roboh, tetapi tiba-tiba jenazahnya terangkat ke langit. Kejadian ini disaksikan langsung oleh pembunuhnya, Jabbar bin Salma, dan selalu terngiang-ngiang ucapan Amir bin Fuhairah dan peristiwa ajaib tersebut. Di kemudian hari ia memperoleh penjelasan bahwa “kejayaan” dimaksud adalah surga. Jabbarpun akhirnya memeluk Islam karena peristiwa ini. Sungguh suatu tambahan kemuliaan bagi Amir, karena kesyahidannya membawa hidayah bagi orang lain.  Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa sahabat yang ditombak oleh Jabbar tersebut adalah Haram bin Milhan.

Kisah Sahabat#Amarah Bin Hazm Ra

Amarah Bin Hazm Ra

Amarah bin Hazm adalah seorang sahabat Anshar dari kabilah Bani Malik. Pada perang Tabuk, pada mulanya Amarah diserahi untuk memegang panji dari Bani Malik, tetapi kemudian Rasulullah SAW mengambilnya kembali, dan menyerahkannya kepada Zaid bin Tsabit. Amarah jadi berfikir, jangan-jangan ia telah melakukan kesalahan sehingga beliau mengubah keputusannya tentang pemegang panji itu. Amarah menemui Nabi SAW, dan meminta maaf kalau memang melakukan kesalahan. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ada orang yang melaporkan kepada engkau tentang diri saya?”

Nabi SAW yang memahami maksud sahabatnya ini, bersabda, “Tidak, tidak ada kesalahanmu, tetapi ini saya lakukan itu karena ternyata Zaid lebih banyak menghafal Al Qur’an daripada kamu. Al Qur’anlah yang menyebabkan ia lebih didahulukan dalam memegang panji dari kaummu!!”

Amarah lega, dan iapun ikhlas panji Bani Malik dipegang oleh Zaid karena kelebihannya dalam menghafal Al Qur’an.

Dalam suatu perjalanan atau pertempuran, unta Nabi SAW lepas talinya dan menghilang entah kemana? Para sahabat menyebar ke berbagai arah untuk mencarinya, sedang Nabi SAW menunggu di tenda milik Amarah bin Hazm. Tanpa disadari oleh Amarah, seorang lelaki munafik bernama Zaid bin Lashit al Qainuqa’i ikut serta tinggal di tendanya. Orang munafik tersebut berkata dengan pelan (mengguman) kepada beberapa orang di sekitarnya,“Bukankah Muhammad ini mengaku sebagai Nabi dan ia mengklaim dirinya mengabarkan kepada kalian tentang berita dari langit, tetapi mengapa ia tidak tahu dimana untanya??”

Nabi SAW dan Amarah tidak mendengar perkataannya, tetapi tiba-tiba Malaikat Jibril datang mengabarkan tentang lelaki munafik tersebut serta keberadaan unta beliau. Nabi SAW berkata kepada Amarah, “Ada  orang yang mengatakan : Muhammad ini mengaku sebagai Nabi dan ia mengklaim dirinya mengabarkan kepada kalian tentang berita dari langit, tetapi mengapa ia tidak tahu dimana untanya…”

Nabi SAW memandang sekitar beliau, kemudian bersabda lagi, “Demi Allah, aku tidak tahu apa-apa selain hal-hal yang diberitahukan Allah kepadaku. Dan Allah telah menunjukkan kepadaku akan untaku tersebut, ia berada di lembah ini, di jalan ini dan itu, ia tertahan untuk kembali ke sini karena tali kekangnya tersangkut pada sebuah pohon. Pergilah ke tempat itu dan bawalah ini kemari…!!”

Amarah segera pergi ke tempat yang ditunjukkan Nabi SAW dan menemukan unta beliau di sana. Ia segera kembali dan menyerahkan unta tersebut kepada Nabi SAW, dan beliau menunjukkan si orang munafik tersebut kepadanya. Amarah segera berdiri dan berkata lantang, “Demi Allah, sangat menakjubkan apa yang dikatakan Rasulullah SAW, tentang perkataan seseorang yang telah diiformasikan Allah kepada beliau, yakni …begini dan begini…”

Amarah menceritakan dengan jelas tentang peristiwa tersebut. Tampaknya Zaid bin Lashit merasa “tersentil” oleh perkataan Amarah, maka ia berkata, “Demi Allah, ia  (Nabi SAW) mengatakan hal itu sebelum ia (Nabi SAW) datang kepadaku (untuk mengkonfirmasi)…!!”

Dengan perkataannya tersebut seakan-akan ia membantah telah berkata seperti itu, bahkan “menuduh” Nabi SAW berbohong karena tidak mengkonfirmasikan sebelumnya kepadanya. Tentu saja Amarah menjadi marah dengan perkataannya tersebut, sosok Nabi SAW yang begitu dicintai dan diyakini kebenarannya tanpa reserve, secara tidak langsung telah dituduh berbohong oleh Zaid bin Lashit. Segera saja Amarah berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, di tendaku ada seorang yang licik sementara aku tidak menyadarinya…”

Kemudian Amarah menujukan pedangnya kepada Zaid sambil berkata, “Keluar dari tendaku wahai musuh Allah, jangan bersamaku…!!”

Zaid yang kurang sigap berkelit sempat terkena ujung pedang pada lehernya hingga terluka, kemudian ia melarikan diri.

Kisah Sahabat#Ayyasy Bin Abu Rabiah Ra

Ayyasy Bin Abu Rabiah Ra

Ayyasy bin Abi Rabiah masih kerabat Nabi SAW dan memeluk Islam pada masa-masa awal. Ketika akan hijrah ke Madinah, ia berencana berangkat bertiga dengan Umar bin Khaththab dan Hisyam bin Ash, dan bertemu di lembah Tanadhib, 6 mil dari Makkah. Tetapi Hisyam dihalangi dan disiksa oleh kaum kafir Quraisy, sehingga mereka hanya berangkat berdua. 

Setelah beberapa saat tiba di Quba, Abu Jahal bin Hisyam dan Harits bin Hisyam, yang masih saudara sepupunya datang membawa berita bahwa ibunya bersumpah tidak akan menyisir rambutnya bertemu dengannya, tidak akan berteduh dari panas matahari hingga melihat wajahnya. Mendengar hal itu, Ayyasy menjadi kasihan dengan ibunya, iapun bermaksud kembali ke Makkah. Tetapi Umar mengingatkannya, bahwa itu hanyalah tipu muslihat orang kafir agar ia meninggalkan agama Islam. Karena cintanya kepada sang ibu, Ayyasy berkata, “Aku akan kembali dan melaksanakan sumpah ibuku itu, sekaligus aku akan mengambil hartaku yang kutinggalkan di Makkah.”

Sekali lagi Umar mengingatkan akan kelicikan muslihat orang kafir Quraisy, bahkan ia menjanjikan membagi dua hartanya dengan Ayyasy asalkan tidak kembali ke Makkah. Tetapi Ayyasy telah berketetapan hati kembali demi ibunya yang sangat dicintai dan dihargainya. Akhirnya Umar merelakan sahabatnya tersebut kembali, tetapi ia memberikan untanya yang penurut kepada Ayyasy, dengan pesan , jika sewaktu-waktu ia melihat gelagat tidak baik, hendaknya ia memacu unta tersebut kembali ke Madinah. 

Mereka bertiga kembali ke Makkah. Dan seperti yang dikhawatirkan Umar, Abu Jahal dan Harits memperdaya Ayyasy, tidak lama setelah mereka meninggalkan batas Madinah. Abu Jahal berkata, “Wahai keponakanku, demi Allah, ontaku ini sudah sangat kepayahan. Maukah engkau memboncengkan aku di punggung ontamu??”

“Boleh!!” Kata Ayyasy, tanpa prasangka apapun.

Kemudian ia menderumkan untanya, dan Abu Jahal naik di belakang Ayyasy. Tetapi seketika itu ia mendekap tubuh Ayyasy dengan erat, dan Hisyam mengeluarkan tali yang telah dipersiapkannya, dan mengikat Ayyasy dengan erat. Mereka membawanya ke Makkah dalam keadaan terikat. Sampai di Makkah, ia disiksa dengan hebat dan dipaksa untuk murtad, sehingga akhirnya ia menuruti kemauan mereka. Hal yang sama terjadi pada Hisyam bin Ash yang terpaksa murtad karena beratnya siksaan yang ditimpakan kepada mereka.

Saat itu ada anggapan, orang yang murtad tidak akan diterima lagi taubatnya dan tidak berarti lagi keislamannya. Karena itu keduanya selalu dirundung kesedihan walaupun dalam keadaan bebas bergerak di Makkah. Tetapi kemudian turun wahyu Allah, surat az Zumar ayat 53-55, yang berisi larangan berputus asa dari Rahmat Allah, bahwa Allah mengampuni semua dosa-dosa. Umar mengirim seorang utusan dengan membawa surat kepada dua sahabatnya itu, yang memberitahukan turunnya wahyu Allah tersebut. Kemudian keduanya mengikuti utusan Umar tersebut ke Madinah dengan sembunyi-sembunyi, dan kembali ke pangkuan Islam.

Sebagian riwayat menyebutkan, mereka berdua tidak sampai murtad, karena itu mereka diikat dan dipenjarakan di suatu tempat. Suatu ketika Nabi SAW bersabda kepada para sahabat yang sedang berkumpul, “Siapakah yang sanggup mempertemukan aku dengan Ayyasy (bin Abi Rabiah) dan Hisyam (bin Amr)??”

Walid bin Walid, yakni saudara Khalid bin Walid yang telah memeluk Islam sejak awal didakwahkan, berkata, “Wahai Rasulullah, sayalah yang akan membawa keduanya ke hadapan engkau!!”

Setelah berpamitan kepada Nabi SAW, Walid segera memacu untanya menuju Makkah. Ia memasuki kotaMakkah dengan sembunyi-sembunyi, dan secara kebetulan ia bertemu dengan wanita yang ditugaskan mengantar makanan untuk Hisyam dan Ayyasy. Iapun mengikuti wanita tersebut, hingga mengetahui tempat penahanan keduanya, yakni sebuah rumah tanpa atap, tetapi pintunya dikunci dengan kuat.

Ketika keadaan sepi dan aman, Walid memanjat tembok rumah tersebut untuk memasukinya. Setelah melepaskan ikatan yang membelenggu Hisyam dan Ayyasy, ketiganya keluar dengan memanjat tembok juga, dan meninggalkan Makkah dengan menunggang unta milik Walid yang memang cukup kuat, sehingga mampu membawa tiga orang tersebut hingga sampai di Madinah dengan selamat.

Dalam perang Yarmuk di masa Khalifah Umar, Ayyasy terluka parah, begitu juga dengan Harits bin Hisyam dan Ikrimah bin Abu Jahl. Harits meminta dibawakan air, tetapi kemudian menyuruhnya untuk diberikan kepada Ikrimah. Sebelum sempat minum, Ikrimah meminta agar air diberikan kepada Ayyasy. Tetapi Ayyasy wafat sebelum sempat minum air tersebut. Ketika dibawa kembali ke Ikrimah, ia telah meninggal. Begitu juga ketika dibawa kepada Harits, ia telah wafat sebelum air minum itu kembali kepadanya.

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Abu Hadrah Al Aslamy Ra

Abdullah Bin Abu Hadrad Al Aslamy Ra

Abdullah bin Abu Hadrad al Aslamy telah menikahi seorang wanita dari kaumnya dan menjanjikan mahar 200 dirham. Ia datang kepada Nabi SAW meminta bantuan untuk membayar mas kawinnya tersebut. Beliau berkata, “Subkhanallah, demi Allah, jika engkau meminjamnya dari penduduk wadi ini, takkan mencukupi untuk kamu. Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu untuk membantumu. Tunggulah beberapa hari di sini..!” 

Saat itu, seorang lelaki dari bani Jasham bin Muawiyyah yang biasa dipanggil Rifaah bin Qis atau Qis bin Rifaah bersama beberapa orang dari kaumnya sedang berada di suatu hutan untuk menghimpun orang Quraisy. Tujuan tidak lain untuk menyerang Rasulullah SAW. Beliau memanggil Abdullah bin Abu Hadrad dan dua orang sahabat lainnya dan bersabda, “Pergilah kalian menemui lelaki tersebut, dan jangan kembali sebelum kalian mengetahui keadaannya..”

Beliau memberi seekor unta betina yang telah tua dan lemah untuk tunggangan, begitu lemahnya sehingga untuk bangun harus dibantu diberdirikan. Dengan bersenjata pedang dan panah mereka berangkat ke tempat yang ditunjukkan Rasulullah SAW. Mereka tiba di tempat itu ketika matahari telah tenggelam.

Abdullah mengatur strategi dengan bersembunyi di tempat yang berseberangan, di tengahnya adalah Rifaah dan kaumnya. Ia berkata kepada dua temannya, “Jika kalian mendengar aku bertakbir dan menyerang musuh, hendaklah kalian juga bertakbir dan menyerang mereka.”

Mereka menunggu sampai malam semakin gelap dan tidak ada kejadian apapun. Kemudian terdengar perbincangan tentang penggembala ternak mereka yang belum kembali. Rifaah bermaksud untuk mencarinya dan sebagian kaumnya ingin menyertai atau menggantikannya mencari. Tetapi Rifaah menolak ditemani atau digantikan. Ia pun berangkat sendiri dengan menyandang pedangnya.Ternyata Rifaah melalui tempat dimana Abdullah bersembunyi, yang segera saja ia siapkan senjatanya untuk menyerang. Ketika telah yakin dengan sasarannya, Abdullah melepaskan anak panahnya dan tepat mengenai jantung Rifaah. Dan sebelum Rifaah sempat mengucap sepatah kata, ia telah menyerang dan memenggal kepala Rifaah. Kemudian Abdullah bertakbir dengan keras dan menyerang musuh, diikuti dua temannya yang juga bertakbir dan menyerang dari arah berlainan. Musuh pun ketakutan karena menyangka diserang dengan pasukan yang lebih banyak, mereka lari menyelamatkan diri dengan membawa harta sekenanya, termasuk wanita dan anak-anaknya. Tetapi harta yang masih tertinggal masih lebih banyak lagi. Mereka bertiga membawa harta rampasan tersebut kepada Nabi SAW, dan Abdullah diberi tiga belas ekor unta untuk biaya mahar dan pernikahannya.

Kisah Sahabat#Anas Bin Nadhar Ra

Anas Bin Nadhar Ra

Anas bin Nadhar adalah seorang sahabat Anshar, paman dari Anas bin Malik, sahabat Nabi SAW yang banyak meriwayatkan hadits. Ia tertinggal (tidak ikut serta) pada perang Badar, karena pada awalnya pasukan yang dibawa Nabi SAW hanya bermaksud mencegat kafilah dagang Quraisy. Anas sangatmenyesal dengan ketertinggalannya tersebut, sehingga ia berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, saya tidak ikut dalam permulaan perang melawan orang-orang musyrik. Sungguh, kalau Allah mengikutkan saya memerangi orang-orang musyrik, niscaya Allah akan mengetahui apa yang saya perbuat.”

Dalam perang Uhud, ketika terjadi peristiwa genting, dimana kaum muslimin berbalik mengalami kekalahan, Anas bin Nadhar melewati beberapa orang sahabat yang kehilangan semangat karena mendengar kalau Rasulullah SAW telah wafat terbunuh. Mereka meletakkan senjatanya di tanah dengan wajah kelu penuh kesedihan. Melihat hal itu, Anas berkata, “Wahai kalian…Jika Nabi SAW memang telah wafat terbunuh, maka Allah SWT, Tuhannya Muhammad tidak akan pernah mati, lalu apa yang bisa kalian kerjakan dalam hidup ini jika beliau telah wafat? Berperanglah kalian demi sesuatu yang Nabi SAW berperang untuknya…dan matilah kalian demi sesuatu yang beliau wafat karenanya…”

Sesaat kemudian ia berdoa, “Ya Allah, aku memohonkan ampunan kepadaMu atas apa yang mereka (kaum muslimin) lakukan, dan aku berlepas diri dan berlindung kepadaMu dari apa yang mereka (orang-orang musyrik) lakukan!”

Setelah itu ia meloncat untuk meneruskan jihadnya. Ia sempat bertemu Sa’d bin Mu’adz yang bertanya kepadanya, “Mau kemana engkau, wahai Abu Umar?’

Anas berkata, “Wahai Sa’d, sungguh aku mencium bau surga di balik Bukit Uhud ini.”

  Anas bertempur dengan perkasa menerjang barisan musuh, jumlah mereka yang ratusan tidak membuatnya gentar, hingga akhirnya ia menemui syahidnya. Setelah pertempuran selesai, tidak ada yang bisa mengenali jasad Anas, sampai akhirnya saudara perempuannya yang bernama Bisyamah, yang tahu ciri-ciri khusus dirinya yang bisa mengenalinya. Tak kurang dari delapan puluh luka mengkoyak-koyak tubuhnya, tusukan tombak, hunjaman anak panah dan luka sayatan pedang yang ada di wajah dan tubuhnya, sehingga ia tidak mudah dikenali.

Kisah Sahabat#Seorang Wajib Zakat

Seorang Wajib Zakat

Seorang peternak di suatu daerah didatangi oleh Ubay bin Ka’ab, sahabat Nabi SAW yang diutus beliau untuk memungut zakat dari orang tersebut. Setelah menerima informasi tentang jumlah ternaknya, Ibnu Ka’ab berkata, “Engkau wajib mengeluarkan zakat, seekor anak unta yang berusia setahun!” 

Mendengar penuturan Ubay, orang tersebut berkata, “Apa gunanya seekor anak unta yang berusia setahun? Engkau tidak dapat mengambil susunya atau menungganginya. Aku memiliki seekor unta betina yang telah dewasa, ambillah itu sebagai gantinya.”

Ka’ab berkata, “Tugas yang diberikan kepadaku, tidak membenarkan aku mengambil lebih dari apa yang ditetapkan oleh syariat.”

Tetapi peternak tersebut agak memaksa untuk menerima unta betina dewasanya, sedang Ibnu Ka’ab “tidak berani” menerima sesuatu melebihi dari wewenangnya yang ditetapkan syara’. Karena itu ia berkata, “Sekarang ini Rasulullah dalam perjalanan, saya akan menghadap beliau, jika beliau tidak berkeberatan, aku akan menerimanya, jika sebaliknya, aku tidak bisa menerimanya kecuali apa yang kutentukan sebelumnya.” 

Akhirnya orang tersebut mengikuti Ubay bin Ka’ab menemui Rasulullah SAW, sambil membawa unta betinanya. Ketika telah sampai, ia berkata pada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, wakilmu telah datang kepadaku untuk mengumpulkan zakat. Demi Allah, aku belum pernah memperoleh kesempatan untuk membayar sesuatu kepada engkau atau wakilmu. Setelah kuhitung kekayaanku dan keberitahukan kepadanya, ia hanya menetapkan zakatku seekor anak unta yang berumur setahun, padahal anak unta seperti itu belum bisa memberikan manfaat apa-apa. Karena itu kuusulkan untuk menerima unta betina yang telah dewasa sebagai gantinya, tetapi wakilmu tidak berani menerimanya tanpa persetujuanmu.”

Nabi SAW tersenyum mendengar penjelasan peternak tersebut, kemudian bersabda, “Memang benar, hanya sekedar itulah yang wajib kau keluarkan seperti ditetapkan wakilku, tetapi jika engkau ingin memberikan lebih dari yang ditetapkan, itu dibolehkan.”

Orang tersebut merasa puas dan sangat gembira dengan penjelasan Nabi SAW, dan menyerahkan unta betina dewasa kepada beliau. Nabi SAW pun mendoakan keberkahan bagi orang tersebut.

Kisah Sahabat#Seorang Pecinta Rasulullah Saw

Seorang Pecinta Rasulullah Saw

Seseorang mendatangi Nabi SAW kemudian berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya mencinta engkau!”  

Mendengar pernyataan itu, Nabi SAW bersabda, “Pikirkanlah dahulu perkataanmu itu!”

“Saya memang mencintai engkau, ya Rasulullah!” Jawab orang itu menegaskan. Nabi SAW mengulangi pernyataan beliau, dan sampai tiga kali orang tersebut tetap dengan keyakinannya kalau ia mencintai Nabi SAW. Maka beliau bersabda, “Baiklah, jika engkau benar-benar tulus dengan ucapanmu itu, bersiaplah menghadapi kefakiran yang akan menerjangmu dari segala arah. Karena kefakiran akan datang dengan cepat pada orang-orang yang benar-benar mencintaiku, sebagaimana air terjun yang mengalir.”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai