Kisah Sahabat#Abdullah Bin Mughaffal Al Muzanni Ra

Abdullah Bin Mughaffal Al Muzanni Ra

Abdullah bin Mughaffal bersama Abu Laila mendatangi Nabi SAW yang sedang memobilisasi pasukan ke Tabuk, mereka berdua meminta kendaraan dan perbekalan untuk bisa ikut berjihad pada pertempuran tersebut, tetapi pada Nabi SAW sudah tidak memiliki apa-apa lagi yang bisa diberikan. Mereka berdua sangat sedih tidak bisa ikut serta berjihad, pulang dengan menangis. 

Di perjalanan pulang, mereka bertemu dengan Ibnu Yamin an Nashri, seseorang yang beragama Nashrani, ia menanyakan mengapa mereka menangis. Setelah Ibnu Mughaffal menjelaskan permasalahannya, Ibnu Yamin memberikan unta dan kurma kering pada keduanya untuk bisa mengikuti pasukan jihad. Dengan berboncengan mereka menyusul Nabi SAW ke Tabuk.

Pada hari Penaklukan Makkah (Fathul Makkah), Abdullah bin Mughaffal berkendara tidak jauh dari Nabi SAW. Ia melihat dan mendengar Nabi SAW terus-menerus membaca surah al Fath sampai berulang-ulang, sehingga ia-pun menjadi hafal bacaan surat Al Fath tersebut, ia juga menegtahui berapa kali beliau mengucapkannya.

   Ia mendengar Nabi SAW bersabda, bahwa bermain ketepel tidak ada gunanya, tidak bisa untuk berburu dan tidak dapat mengalahkan musuh, bahkan sebaliknya bisa menyakiti mata dan melukai gigi. Suatu ketika ia melihat keponakannya yang masih kecil bermain katepel, maka ia menasehatinya untuk tidak memainkannya sebagaimana sabda Nabi SAW yang didengarnya. Tetapi keponakannya tersebut tetap melakukannya, maka ia bersumpah tidak mau berbicara dengannya dan tidak akan menghadiri jenazahnya jika ia mati lebih dahulu. Ibnu Mughaffal tidak rela kalau larangan Nabi SAW tersebut dilanggar, terutama oleh anggota keluarganya.

Kisah Sahabat#Rib’i Bin Amir Ra

Rib’i Bin Amir Ra

Menjelang terjadinya Perang Qadisiah di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, pemimpin pasukan Persia, Rustum meminta kepada pemimpin pasukan muslim, Sa’ad bin Abi Waqqash mengirim seorang utusan menemuinya untuk melakukan pembicaraan, maka Sa’ad mengirim Rib’i bin Amir RA.

Dengan mengendarai kudanya yang kerdil, berpakaian lusuh, berbaju besi dan bertopi baja, serta tetap menyandang senjatanya, Rib’i memasuki kastil Rustum yang dipisahkan dengan sebuah jembatan. Memasuki ruang pertemuan yang telah dihiasi dengan bantal-bantal bertahtakan emas dan beralaskan sutera, Rib’i tidak turun dari kudanya. Setelah berhadapan dengan Rustum, barulah Rib’i turun dari kudanya, dan menambatkannya pada salah satu bantal yang ada. Salah seorang pembesar Rustum berkata, “Letakkan senjatamu…!”

Rib’i menolak perintah itu dan berkata, “Bukan aku yang ingin datang menemuimu, tetapi kamu sendirilah yang memanggilku untuk menemuimu. Jika engkau membiarkanku seperti ini, aku akan menunggu. Jika tidak, aku akan kembali.”

Rustum meminta pembesarnya untuk membiarkannya, kemudian ia menanyakan apa yang diinginkan orang-orang Islam mendatangi negerinya. Rib’ipun menjelaskan tentang Islam, dan menyerunya untuk memeluk Islam. Setelah terjadi beberapa tanya jawab, akhirnya Rustum meminta tangguh beberapa hari untuk bermusyawarah dengan pembesar-pembesarnya. 

Rib’i berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan sunnah agar kami menangguhkan lebih dari tiga hari. Oleh karena itu, bicarakanlah dengan mereka, dan pilihlah tiga hal dalam tiga hari ini : Masuk Islam, membayar jizyah (pajak), atau kita berperang…!”

Mendengar keputusan tegas yang dikatakan Rib’i tersebut, Rustum berkata, “Apakah engkau pemimpin pasukan mereka?”

“Bukan,” Kata Rib’i, “Tetapi kami umat Islam seumpama satu tubuh manusia, yang di atas akan melindungi yang di bawah, yang di bawah mendukung yang di atas..!!”  Setelah itu, Rib’ipun meninggalkan ruang pertemuan dengan Rustum tersebut.

Ternyata dalam tiga hari tersebut, Rustum selalu meminta kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, komandan pasukan muslim untuk mengirimkan seorang utusan. Tetapi akhirnya Rustum tidak bisa “didakwahi” dengan baik-baik untuk memeluk Islam, atau mengijinkan Islam didakwahkan di tanah Persia dengan membayar Jizyah ke Madinah. Setelah tiga hari tersebut, pecahlah Perang Qadisiah, walau jumlah pasukan Rustum sebanyak 120.000 prajurit, tetapi bisa diporakporandakan oleh pasukan muslim yang hanya berjumlah 30.000 prajurit.

Kisah Sahabat#Amr Bin Anbasah Ra

Amr Bin Anbasah Ra

Amr bin Anbasah, atau dikenal dengan nama kunyahnya Abu Najih adalah seorang sahabat yang berasal dari Bani as Sulam, suatu kabilah yang tinggal agak jauh di luar kota Makkah. Ia dikenal sebagai orang ke empat dalam Islam (dari kalangan lelaki dewasa).

Ketika masih jahiliah, ia mempunyai pendapat bahwa semua manusia saat itu dalam kesesatan karena percaya kepada berhala, karenanya ia sama sekali tidak percaya kepada berhala. Ketika terdengar berita adanya seorang lelaki (yakni Rasulullah SAW) yang suka mencela berhala-berhala di Makkah, ia segera datang ke Makkah untuk menemui Rasulullah SAW, saat itu beliau masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Dalam pertemuan di rumah beliau, ia bertanya, “Siapakah engkau?”

“Aku seorang Nabi,” kata Rasulullah SAW.

“Apakah Nabi itu?”

“Utusan Allah!!”

“Allah mengutus kamu??” Amr menegaskan pertanyaannya.

Untuk diketahui, masyarakat Arab ketika itu sebenarnya mempercayai Allah sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta, hanya saja mereka juga mempercayai berhala sebagai sembahan, di satu sisi sebagai penghubung (washilah) peribadatannya kepada Allah, di sisi lain mereka mempercayai berhala tersebut bisa mengabulkan permintaan mereka.

Setelah Nabi SAW mengiyakannya, Amr kembali bertanya, “Untuk apa Allah mengutus kamu?”

“Supaya kami kami meng-Esakan Allah dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu, menghancurkan patung berhala dan menyambung tali persaudaraan…” Nabi SAW menjelaskan.

“Siapakah yang bersama kamu?” Amr bertanya lagi.

“Orang merdeka dan hamba sahaya.”

Orang merdeka yang dimaksudkan Nabi SAW adalah Abu Bakar, dan hamba sahaya yang dimaksudkan adalah Bilal bin Rabah.

Setelah beberapa pembicaraan lagi, akhirnya Amr memutuskan memeluk Islam mengikuti risalah yang dibawa Nabi SAW. Ia bermaksud uintuk tinggal bersama Nabi SAW di Makkah, tetapi beliau berkata, “Saat ini kamu belum bisa, kembalilah kamu ke keluargamu. Jika nanti kamu mendengar kabar aku telah berhasil, datanglah kepadaku…”

Seperti diketahui, Amr bin Anbasah tinggal di luar kota Makkah, jika ia tinggal bersama beliau, sedangkan ia tidak mempunyai kerabat yang bisa melindunginya di Makkah, beliau khawatir ia akan mengalami penyiksaan-penyiksaan seperti dialami oleh Bilal. Karena itu beliau menyuruhnya untuk tinggal di kampung halamannya saja.

Ia kembali ke kampung halamannya dalam keadaan Islam, dan terus menunggu-nunggu berita tentang Nabi SAW. Ketika terdengar kabar beliau telah hijrah ke Madinah, ia segera menyusul ke sana. Amr bin Anbasah menemui beliau dan berkata,

“Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenali saya?”

“Ya, bukankah engkau yang datang kepadaku di Makkah??”

Sebagai seorang Nabi dan Rasul, tentu saja beliau memiliki ingatan yang tajam. Dan jawaban beliau itu amat menggembirakan bagi Amr bin Anbasah, ia berkata,

“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apa yang Allah ajarkan kepada engkau…” Maka Nabi SAW mengajarkan kepadanya tentang shalat, waktu-waktu shalat dan cara berwudlu sebagai persyaratan sebelum shalat. Dan ia tetap tinggal bersama Nabi SAW, ikut berjuang membela panji-panji keimanan hingga beliau wafat.

Kisah Sahabat#Al Aqamah Bin Harits Ra

Al Aqamah Bin Harits Ra

Al Aqamah bin Harits dan enam orang temannya, mewakili kaumnya yang telah memeluk Islam mendatangi Nabi SAW, dan menyatakan diri mereka sebagai ‘orang-orang yang beriman’. Nabi SAW menyambut gembira keislaman mereka dan kaumnya tersebut, tetapi mendengar ‘pengakuan’ keimanannya, Nabi SAW bersabda, “Apakah hakikat keimanan kalian?” 

Al Aqamah berkata, “Wahai Rasulullah, kami memiliki limabelas sifat/perkara, lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan utusan engkau kepada kami, dan lima sifat yang kami miliki sejak jahiliah dan masih terus kami amalkan, kecuali jika nantinya engkau melarangnya.”

Ketika Nabi SAW bertanya lebih lanjut tentang hal tersebut, Al Aqamah menjelaskan :

Lima perkara yang diperintahkan Nabi SAW adalah : Beriman kepada Allah SWT, kepada malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, dan kepada takdir Allah, baik ataupun buruk.

Limaperkara yang diperintahkan utusan Nabi SAW kepada mereka ketika menyeru kepada Islam adalah : Mengucap dua kalimah syahadat, mengerjakan shalat lima waktu, membayar zakat, puasa di Bulan Ramadhan dan berhajji ke Baitullah jika mampu.

Limasifat yang menjadi akhlak mereka sejak jahiliah tetapi tetap diamalkan adalah : Bersyukur ketika mendapat kesenangan, bersabar ketika ditimpa musibah, keras dan berani di medanperang, ridha atas takdir yang ditetapkan Allah, dan tidak gembira atas musibah yang menimpa musuh.

Dengan gembira Nabi SAW membenarkan dan memuji mereka ini, beliau bersabda, “Kalian adalah orang-orang yang faqih dan beradab, hampir saja kalian seperti nabi-nabi karena sifat-sifat kalian yang begitu indahnya. Dan aku tambahkan lima wasiyat, agar Allah SWT menyempurnakan bagi kalian sifat-sifat kebaikan kalian, yaitu :

1. Janganlah kalian mengumpulkan makanan, yang tidak akan kalian makan. 

2. Janganlah membangun rumah yang tidak kalian tinggali.

3. Janganlah kalian berlomba-lomba mengumpulkan sesuatu yang pasti akan kalian tinggalkan di kemudian hari.

4. Takutlah kepada Allah, yang pada suatu hari nanti kalian akan dikumpulkan di hadapanNya.

5. Hendaklah kalian mencintai alam akhirat, yang pasti akan kalian tempati dan kalian kekal di dalamnya.”

Kisah Sahabat#Syifa Binti Abdullah Ra

Syifa Binti Abdullah Ra

Syifa binti Abdullah bin Abdu Syams termasuk sahabiah (sahabat wanita) yang memeluk Islam pada masa-masa awal, yakni sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah. Ia menikah dengan Abu Hatsmah bin Hudzaifah dan memiliki seorang anak bernama Sulaiman bin Abu Hatsmah. Ia seorang wanita yang terpelajar, sedikit dari wanita yang mengerti baca tulis pada masa jahiliah. Ia juga mempunyai keahlian meruqyah penyakit gatal yang disebut namlah (artinya : semut, karena orang yang menderita penyakit tersebut merasa ada semut yang merayap di sekujur tubuhnya).

Dalam keislamannya, ia ditugaskan Nabi SAW untuk mengajar baca tulis kepada wanita-wanita muslim, termasuk kepada Hafshah binti Umar, salah satu dari ummahatul mukminin. Suatu ketika Syifa menunjukkan kemampuannya meruqyah penyakit namlah di hadapan Nabi SAW. Saat itu beliau sedang berada di rumah Hafshah, maka beliau bersabda, “Tidakkah engkau Hafshah meruqyah penyakit namlah sebagaimana engkau menhajarinya baca tulis??”

Karena kemampuannya tersebut, Nabi SAW menempatkan Syifa di suatu rumah di Madinah, yang penduduk sekitarnya sering mengalami penyakit gatal-gatal. Ia tinggal di sana bersama putranya, Sulaiman, dan Nabi SAW sering mengunjunginya.

Suatu ketika Syifa binti Abdullah datang kepada Nabi SAW meminta sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi beliau tidak bisa memberikan apapun karena memang sedang tidak ada. Ia sempat menggerutu karena tidak memperoleh apa-apa dari beliau.

Pada waktu ashar, ia pergi ke rumah menantunya, Syurahbil bin Hasanah. Didapatinya menantunya tersebut masih berada di rumah, tidak bergegas ke masjid, langsung saja ia mencela sikapnya itu, tetapi Syurahbil malah berkata, “Wahai bibi, jangan memarahiku. Aku hanya mempunyai sehelai pakaian (untuk shalat), dan itu sedang dipinjam Rasulullah SAW.”

Mendengar penuturan itu Syifa jadi menyesal, ia berkata,”Demi ibu dan bapakku sebagai tebusannya, aku baru saja datang kepada Nabi SAW dan mencela beliau, padahal hari ini beliau tidak memiliki pakaian dan aku tidak tahu.”

“Wahai bibi, itu hanya pakaian panjang yang baru saja kami tambal,” Kata Syurahbil. Mendengar penuturan menantunya tersebut, Syifapun makin menyesali sikapnya kepada Rasulullah SAW.

Kisah Sahabat#Amr Al Uqaisy Ra

Amr Al Uqaisy Ra

Amr bin Uqaisy mempunyai tagihan bunga pinjaman yang cukup besar semasa jahiliah, dan ia masih menginginkan “haknya” tersebut diperoleh, mungkin rasa “hubbud dunya”nya masih tinggi. Hal itulah yang menghalangi dia untuk memeluk Islam, sebagaimana saudara dan kerabatnya yang lain. Islam memang melarang untuk mengambil riba kecuali pokok pinjamannya saja, walaupun hal itu telah disepakati pada akad pinjam meminjam sebelum memeluk Islam. Amr berfikir, kalau ia telah menerima semua bunga pinjaman tersebut, barulah ia akan masuk Islam. 

Suatu ketika pada hari terjadinya perang Uhud, ia bertanya kepada orang sekitarnya, “Dimanakah para kemenakanku?”  

Mereka menjelaskan kalau mereka sedang berperang di Uhud bersama Rasulullah SAW.

“Di Uhud?” Katanya.

Sejenak Amr terpekur, seakan-akan ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Tak lama kemudian ia memakai baju besi dan menaiki kudanya, memacunya ke arah Uhud. Ketika pasukan Islam melihat kedatangannya, mereka berkata, “Menyingkirlah dari kami, hai Amr!”

Amr berkata, “Sesungguhnya aku telah beriman.”

Kemudian ia menerjunkan diri dalam pertempuran, menerjang musuh dengan semangat membara, tak kalah dengan sahabat-sahabat lainnya. Setelah pertempuran usai, Amr ditemukan mengalami luka yang cukup parah dan ia diantarkan kembali kepada keluarganya.  

Beberapa hari berselang, sahabat Sa’d bin Muadz datang mengunjunginya. Ia menyuruh adik perempuan Amr untuk menanyakan kepada kakaknya tersebut, ia berperang itu untuk membela dan melindungi keluarganya, atau marah demi Allah dan RasulNya. Ketika hal itu ditanyakan sang adik, Amr berkata, “Aku berperang karena marah demi Allah dan RasulNya.” Beberapa waktu kemudian ia meninggal, dan Nabi SAW menggolongkannya sebagai ahlu jannah, walaupun ia belum sempat shalat sama sekali dalam keislamannya tersebut.

Kisah Sahabat#Abu Ayyub Al Anshari Ra

Abu Ayyub Al Anshari Ra

Kalimat “Lapangkanlah jalannya, karena ia terperintah” diucapkan Rasulullah SAW ketika beliau memasuki kotaMadinah dalam perjalanan hijrah beliau. Yang dimaksud “ia” itu adalah unta yang beliau kendarai. Hal ini terjadi karena hampir semua penduduk Madinah berkerumun di sekitar unta Nabi SAW, dan berusaha untuk membawanya ke rumah masing-masing yang pintunya telah dibuka lebar. Walaupun penduduk Madinah tidak semuanya berkelebihan secara ekonomi, tetapi mereka semua sangat ingin menjamu dan menampung Rasulullah di rumah mereka masing-masing.

Karena keadaan yang seperti itu, untuk tidak menyinggung perasaan mereka dan bersikap adil kepada semuanya, maka Nabi SAW melepaskan kendali unta beliau dan membiarkannya berjalan menuju rumah yang dikehendaki Allah.

Untapun berjalan tanpa dikendalikan, orang-orang Anshar yang rumahnya hanya dilewati merasa kecewa, tetapi bagaimana lagi, Allah yang telah mengarahkan jalannya unta tersebut. Dan kemuliaan itu ternyata jatuh pada Khalid bin Zaid bin Kulaib, atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Ayyub al Anshari RA. Unta itu menderum, tetapi Nabi SAW belum mau turun, unta berdiri lagi dan berjalan beberapa langkah, kemudian kembali ke tempat semula dan menderum, barulah Nabi SAW turun. Tempat berhentinya unta yang kemudian didirikan di atasnya Masjid an Nabawy, masih termasuk milik kerabat beliau dari pihak ibu, yakni Bani Najjar.

Abu Ayyub menuntun unta Nabi SAW ke rumahnya dan memindahkan barang bawaan beliau ke dalamnya. Rumah Abu Ayyub bertingkat dua, ia telah mengosongkan lantai atas untuk kemungkinan ini. Tetapi Nabi SAW memilih untuk tinggal di lantai bawah, maka Abu Ayyub segera memindahkan barang miliknya ke lantai atas.

Malam harinya, ketika ia dan istrinya naik ke loteng, tiba-tiba ia menjadi pucat, ia berkata kepada istrinya, “Celaka kita, apa yang telah kita lakukan? Pantaskah Rasulullah SAW tinggal di bawah dan kita berada lebih tinggi daripada beliau? Apakah pantas kita berjalan di atas kepala beliau? Apakah kita duduk di antara Nabi SAW dan wahyu? Kalau demikian, sungguh kita akan binasa!!”

Dalam keadaan bingung, takut dan sesal, mereka berdua meringkuk di sudut loteng tanpa bisa tidur, khawatir kalau ternyata berada di atas Nabi SAW. Berjalanpun mereka berjinjit, seolah takut menginjak lantai. Keesokan harinya Abu Ayyub menceritakan apa yang terjadi dan dirasakannya, dan meminta beliau agar bersedia tinggal di atas. Mendengar penuturannya, beliau bersabda, “Kasihan engkau Abu Ayyub, tetapi aku merasa lebih baik di bawah, agar orang banyak yang ingin menemuiku lebih mudah melakukannya.”

Abu Ayyubpun mematuhi beliau. Tetapi malam itu berulang lagi, bahkan kali ini karena cuaca dingin, air sempat masuk karena bubungan rumahnya memang agak rusak. Khawatir air akan mengenai Nabi SAW, ia mengelapnya dengan satu-satunya kain untuk alas tidur. Keesokan harinya, ia menghadap Nabi SAW dan memohon dengan sangat agar beliau bersedia pindah ke atas. Nabi SAW akhirnya menyetujui permintaan Abu Ayyub.

Nabi SAW tinggal di rumah Abu Ayyub sekitar tujuh bulan. Setelah masjid selesai dibangun, Nabi SAW dan istri-istri beliau pindah ke kamar-kamar yang dibangun di sekitar masjid.

Abu Ayyub mempunyai kebiasaan untuk menyimpan makanan atau susu yang disiapkan untuk Nabi SAW. Pada suatu ketika Nabi SAW tidak datang sampai agak siang, sehingga Abu Ayyub beranggapan Nabi SAW tidak mampir pada hari itu, dan ia memberikan jatah tersebut pada keluarganya, kemudian ia berangkat ke kebun. Tetapi tak lama kemudian Nabi SAW beserta Abu Bakar dan Umar datang di rumahnya, tetapi hanya menjumpai istrinya.

Ketika mengetahui kehadiran Nabi SAW di rumahnya, Abu Ayyub segera meninggalkan kebunnya, ia sempatkan memetik beberapa tangkai kurma kering, kurma masak dan kurma muda. Ia menyambut kehadiran tamu-tamunya dengan hangat dan menyuguhkan kurma yang dibawanya. Nabi SAW bersabda,”Apa yang engkau maksudkan? Mengapa tidak engkau petik kurma kering saja untuk kami?”

“Wahai Rasulullah,” Kata Abu Ayyub, “Aku ingin tuan memakan kurma ini sambil menunggu aku menyembelih seekor kambing untuk tuan.”

Abu Ayyub berlalu untuk menyembelih kambing, sebagian dagingnya dipanggang dan sebagian digulai. Ia juga menyuruh istrinya untuk membuat roti. Setelah semua siap, makanan itu dihidangkan kepada Nabi SAW dan dua sahabatnya tersebut. Nabi SAW mengambil satu potong roti dan meletakkan daging kambing di atasnya, dan berkata kepada Abu Ayyub, “Antarkanlah makanan ini kepada Fathimah, karena sudah beberapa hari ia tidak makan makanan seperti ini.”

Abu Ayyub berlalu mengantarkan makanan kepada Fathimah seperti yang diperintahkan Nabi SAW. Beliau dan dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar tampak sangat menikmati jamuan yang diberikan Abu Ayyub, bisa jadi telah berhari-hari lamanya tiga orang mulia tersebut tidak menikmati makanan selezat itu. Hal itu sangat menggembirakan hati Abu Ayyub dan istrinya.

Ketika selesai makan dan akan kembali bersama kedua sahabatnya, beliau berpesan agar Abu Ayyub menemui beliau besoknya. Ketika menemui Nabi SAW keesokan harinya, beliau memberikan seorang budak perempuan miliknya kepada Abu Ayyub sambil bersabda, “Hai Abu Ayyub, nasehatilah dia dan perlakukan dia dengan baik, karena selama bersama kami hanya kebaikan saja yang kami dapati dalam dirinya.”

Abu Ayyub membawa budak itu pulang, dan sampai di rumah ia berembug dengan istrinya, dan berkata, “Untuk memenuhi wasiat Nabi SAW, tidak ada yang lebih baik bagi budak ini kecuali kebebasannya…”

Iapun memerdekakan budak perempuan pemberian Nabi SAW tersebut.

Seusai perang Hunain, Nabi SAW menyatakan bahwa sepeninggal beliau kelak, orang-orang Anshar akan mengalami perlakuan pilih kasih dari pihak yang berkuasa, dan ini juga dialami oleh Abu Ayyub.

Pada jaman Muawiyah menjabat Amirul Mukminin, ia mempunyai hutang yang cukup besar. Ia menemui Muawiyah mengadukan persoalan hutangnya dengan harapan akan dibantu dalam pelunasannya, tetapi harapannya itu sia-sia saja. Ketika ia menceritakan “ramalan” Nabi SAW seusai Perang Hunain tersebut, Muawiyah justru bertanya, “Apakah yang dinasehatkan Rasulullah SAW kepada kalian?”

“Bersabar!!” Kata Abu Ayyub.

“Kalau begitu, bersabarlah kalian!” Kata Muawiyah.

“Demi Allah!” Kata Abu Ayyub, “Setelah hari ini, aku tidak akan meminta suatu apapun kepadamu selama-lamanya.”

Bagaimanapun beban hutang harus diselesaikan, karena itu Abu Ayyub pergi ke Bashrah dengan harapan akan memperoleh jalan keluar dari persoalannya. Ia disambut dengan hangat oleh Abdullah bin Abbas, yang menjabat Amir dan memintanya tinggal di rumahnya. Bahkan ia meminta semua anggota keluarganya meninggalkan rumah tersebut untuk ditempati Abu Ayyub. Ibnu Abbas berkata, “Aku akan berbuat baik kepadamu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepada Rasulullah SAW. Aku dan keluargaku pindah dari rumah ini agar engkau bisa menempatinya, sebagaimana engkau dan keluargamu telah mengosongkan rumah untuk bisa ditempati oleh Rasulullah SAW.”

Abu Ayyub mendapat perlakuan dan pelayanan yang istimewa dari Ibnu Abbas, haknya dari baitul mal juga dibayarkan oleh Ibnu Abbas, bahkan diberikan lima kali lipat dari seharusnya sehingga Abu Ayyub bisa menyelesaikan persoalan hutangnya, bahkan masih banyak kelebihannya, yang bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhannya.

Abu Ayyub tak pernah absen dari berjuang bersama Rasulullah SAW untuk meninggikan dan memenangkan panji-panji Islam, begitu juga ketika beliau telah wafat.

Dalam perang penaklukan Konstantinopel di jaman Muawiyah, ketika itu ia telah berusia sekitar 80 tahun, ia jatuh sakit sebelum pertempuran dimulai. Ketika kondisinya makin kritis menjelang sakaratul maut, ia berkata, “Sampaikan salamku kepada seluruh tentara islam, katakan kepada mereka bahwa Abu Ayyub berwasiat, masuklah kalian sejauh mungkin ke bumi orang-orang kafir, dan kuburkanlah jasadku di sekitar tembok kotaKonstantinopel.”

Pasukan muslim ternyata mampu mendesak pasukan musuh hingga terus mundur dan bertahan di kota Konstantinopel, dan di sanalah jasad Abu Ayyub dimakamkan.

Dalam masa-masa akhir hidupnya tersebut, ia juga sempat “mengajarkan” tafsiran yang benar dari Surah al Baqarah 195. Saat dua pasukan telah berhadapan, ada seorang lelaki muhajirin yang maju sendirian menyerbu tentara Romawi sehingga membuka jalan penyerangan. Beberapa tentara muslim berteriak melihat kenekatannya, “Hentikan-hentikan, Laa Ilaha illallah, ia menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan..!!”

Mendengar teriakan tersebut, yang seakan-akan menyitir surah al Baqarah 195, Abu Ayyub berkata, “Bukan seperti itu (maksud dari ayat tersebut), ayat tersebut diturunkan untuk kita orang-orang Anshar. Ketika Allah telah menolong NabiNya dan memenangkan Islam dan menjadikannya kuat, kami kaum Anshar berkata, ‘Marilah sekarang kita mengurus dan memperbaiki kebun-kebun kita yang telah telantar (karena ditinggal berjihad)’. Maka Allah menurunkan ayat tersebut sebagai celaan akan niat kita tersebut dan meninggalkan jihad.”

Kisah Sahabat#Abdul Rahman Al Harits At Taimimi Ra

Abdul Rahman Al Harits At Taimimi Ra

Abdul Rahman al Harits at Taimimi pernah berada dalam suatu pasukan (sariyah) yang dikirim Nabi SAW menuju suatu perkampungan Arab. Ketika telah dekat dengan tempat tujuan, Abdul Rahman memacu tunggangannya mendahului teman-temannya. Kedatangannya disambut dengan jeritan dan teriak ketakutan dari penduduk perkampungan itu. Abdul Rahmanpun berkata, “Masuklah Islam, ucapkanlah Laa ilaaha illallaah Muhammadar rasuulullah, maka kalian akan selamat…” 

Merekapun memenuhi anjurannya dan mengucapkan kalimah syahadat. Ketika teman-temannya datang dan mendapati penduduk perkampungan tersebut telah memeluk Islam, mereka marah kepada Abdul Rahman dan memakinya, “Kamu menyebabkan kami tidak memperoleh ghanimah, padahal harta itu hampir telah menjadi milik kami.”

Abdurrahman diam saja tanpa menanggapi kemarahan teman-temannya.

Ketika pasukan kembali ke Madinah dan mereka menceritakan kepada Rasulullah SAW apa yang terjadi, beliau justru memuji sikap yang diambil Abdul Rahman. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menuliskan untukmu satu kebajikan, untuk setiap satu orang yang memeluk Islam dari kalangan mereka.” 

Itu karena Abdul Rahman telah menjadi penyebab keislaman mereka. Tentu saja hal itu sangat menggembirakan bagi Abdul Rahman. Kemudian Nabi SAW bersabda lagi, “Aku akan menulis satu surat  untukmu, sebagai wasiatku untuk orang-orang yang memimpin umat Islam sepeninggalku.” 

Setelah surat itu selesai ditulis oleh juru tulis Nabi SAW, beliau memberikan kepada Abdul Rahman. Beliau juga mewasiatkan kepadanya agar ia membaca doa “Allahumma ajjirnaa minan naar,” tujuh kali setelah shalat subuh dan shalat maghrib, sebelum ia berbicara dengan siapapun. Maka, jika ia meninggal pada hari itu atau malam itu, Allah akan menyelamatkannya dari api neraka.

Setelah Rasulullah wafat, Abdul Rahman membawa suratitu kepada Abu Bakar RA sebagai khalifah. Setelah membacanya, Abu Bakar memberikan sedikit harta dari zakat untuk menunjang kehidupannya, dan mengembalikan suratitu kepada Abdul Rahman. Hal inipun berulang ketika Umar bin Khaththab RA dan Utsman bin Affan RA menjadi khalifah.

Setelah Abdul Rahman wafat pada zaman khalifah Utsman,  surat itu disimpan oleh putranya, Muslim bin al Harits at Taimimi. Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, ia menulis suratpada amil di tempat tinggalnya agar memberikan bagian zakat kepada Muslim at Taimimi, putra Abdul Rahman tersebut, sebagaimana Nabi SAW telah mewasiatkan agar memberikan kepada ayahnya.

Kisah Sahabat#Abu Umamah, Shudday Bin Ajlan Ra

Abu Umamah, Shudday Bin Ajlan Ra

Abu Umamah, atau nama aslinya Shudday bin Ajlan datang sendirian menghadap Nabi SAW di Madinah untuk memeluk Islam. Setelah beberapa hari tinggal untuk mempelajari seluk-beluk keislaman, ia diperintah Rasulullah SAW untuk mendakwahi kaumnya, maka ia segera kembali ke perkampungannya. 

Tiba di antara kaumnya, ia sempat akan dijamu sebagaimana kebiasaan kalau mereka baru tiba dari bepergian, tetapi ia menolak karena makanan mereka terus disembelih tanpa menyebut nama Allah. Kemudian Abu Umamah menceritakan tentang keislamannya, dan menyeru mereka untuk memeluk Islam juga. Mereka menolak seruannya dengan keras, bahkan memintanya untuk kembali kepada agama jahiliahnya, tentu saja Abu Umamah bertahan dengan keislamannya.

Ketika ia merasa sangat haus, ia meminta kaumnya untuk memberinya air, tetapi mereka menolaknya kecuali jika ia mau kembali kepada agama jahiliahnya. Mereka juga mengancam akan membiarkannya hingga mati kehausan. Dalam keadaan lelah, lapar dan kehausan, Abu Umamah tertidur di padangpasir di bawah teriknya matahari, ia hanya menutupi kepalanya dengan sorban.

Dalam tidurnya, Abu Umamah didatangi seorang lelaki yang membawa gelas kaca, yang ia tidak pernah melihat ada manusia manapun yang pernah membawa gelas seindah itu. Di dalam gelas tersebut terdapat minuman, yang ia tidak pernah mendengar ada manusia manapun pernah menceritakan tentang kelezatan minuman seperti itu. Lelaki itu menyerahkan minuman itu kepadanya. Setelah minum dalam mimpinya tersebut sampai habis, tiba-tiba Abu Umamah terjaga dan rasa hausnya telah hilang. Dan setelah itu ia tidak pernah merasakan kehausan lagi walau tidak minum apapun.

Setelah terbangun tersebut, ada beberapa orang dari kaumnya yang merasa kasihan dan membawakan susu, tetapi Abu Umamah menolaknya dan berkata, “Aku tidak membutuhkannya!” Tentu saja mereka heran, karena beberapa saat sebelumnya mereka tahu pasti bahwa Abu Umamah sangat membutuhkan minuman, bahkan hampir mati kehausan. Tetapi mereka juga melihat kenyataan bahwa keadaan Abu Umamah segar bugar, tidak seperti orang yang sedang kehausan. Melihat keheranan kaumnya tersebut, Abu Umamah menceritakan mimpinya, dan segera saja mereka semua memeluk Islam.

Kisah Sahabat#Seorang Peminta Burdah Rasulullah Saw

Seorang Peminta Burdah Rasulullah Saw

Suatu ketika seorang wanita datang kepada Nabi SAW dengan membawa sebuah burdah yang ditenun dan berpita. Burdah adalah sebuah baju lapang yang menyelubungi seluruh tubuh. Wanita tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, kain ini tenunanku sendiri, saya bawa untuk tuan, semoga tuan bersedia memakainya..”

Nabi SAW menerima pemberian tersebut dengan gembira, apalagi saat itu beliau memang sedang sangat membutuhkannya. Ketika beliau datang di antara para sahabat dengan pakaian tersebut, salah seorang di antara mereka berkata dengan kagumnya, “Alangkah bagusnya pakaian itu, sudikah tuan memberikannya kepadaku…”

Orang-orangpun mencela sikap orang tersebut dengan berkata, “Permintaanmu itu tidak pantas, beliau sangat memerlukannya tetapi kamu memintanya. Padahal kamu tahu bahwa beliau tidak pernah menolak permintaan orang.”

Orang yang meminta burdah itu berkata, “Demi Allah, pakaian itu saya minta bukan untuk saya pakai sekarang, tetapi untuk kafan saya nanti…” Nabi SAW hanya tersenyum mendengar pembicaraan di antara para sahabatnya, dan menjanjikan akan memberikannya pada saatnya nanti. Dan memang, ketika orang tersebut meninggal, ia dikafani dengan burdah yang dipakai Nabi SAW tersebut. Sungguh itu suatu kemuliaan dan kebanggaan baginya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai