Kisah Sahabat#Utsman Bin Thalhah Al Adawi Ra

Utsman Bin Thalhah Al Adawi Ra

Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah al Adawi, pada masa jahiliahnya ia adalah penjaga Baitullah sekaligus pemegang kunci Ka’bah. Ia memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah atas ajakan Khalid bin Walid. Dalam perjalanan ke Madinah, mereka bertemu dengan Amr bin Ash yang juga memutuskan untuk berba’iat kepada Nabi SAW dalam keislaman. 

Ketika tiba di Madinah, Nabi SAW menyambut gembira kehadiran mereka, bahkan ketika melihat kedatangan ketiganya, beliau bersabda, “Makkah telah melepaskan jantung hatinya…!”

Walau ucapan ini lebih ditujukan kepada Amr bin Ash dan Khalid bin Walid, tetapi kemuliaan itupun melingkupi dirinya karena berba’iat dalam Islam bersama-sama dengan dua orang yang kelak menjadi pahlawan yang mengharumkan nama Islam ke seantero dunia.

Seusai Fathul Makkah dan Nabi SAW membersihkan Ka’bah dan Baitullah dari berhala-berhala, Ali bin Abi Thalib menghampiri Nabi SAW sambil membawa kunci Ka’bah dan berkata, “Wahai Rasulullah, serahkanlah kewenangan menjaga Ka’bah dan memberi minum orang-orang yang berhaji kepada kami. Semoga Allah senantiasa melimpahkan salam dan shalawat kepada engkau…”

Riwayat lain menyebutkan, Abbas bin Abdul Muthalib yang menyatakan permintaan tersebut. Tetapi Nabi SAW berkata, “Mana Utsman bin Thalhah?”

Setelah Utsman dipanggil dan datang menghadap Nabi SAW, beliau bersabda, “Ambillah kunci ini sebagai pusaka abadi, tidak ada yang merampasnya dari kalian kecuali orang yang dzalim. Wahai Utsman, Sesungguhnya Allah menyerahkan keamanan rumahNya kepada kalian. Ambillah yang diberikan dari rumah ini dengan cara yang ma’ruf.”

Maka tugas memegang kunci Ka’bah tersebut berada di tangan Utsman bin Thalhah dan anak keturunannya, bahkan sampai saat ini.

Suatu ketika saat masih musyrik, Utsman sedang berada di Tan’im, tidak jauh di luar kota Makkah, ia melihat seorang wanita bersama anaknya mengendarai onta sendirian keluar dari Kota Makkah. Setelah dekat, ia-pun bertanya kepada wanita tersebut, yang ternyata adalah Ummu Salamah. “Hendak kemanakah engkau, hai anak perempuan Abu Umayyah?”

Ummu Salamah menjelaskan kalau ia dan anaknya akan ke Madinah untuk menemui suaminya. Sudah sekitar setahun ia terpisahkan sejak suaminya hijrah ke Madinah, sedang ia dan anaknya ditahan oleh kerabatnya. Kini ia dibebaskan dan ingin tinggal bersama suaminya di Madinah, ia berangkat sendirian hanya ditemani Allah. Mendengar penjelasan tersebut, Utsman berkata, “Demi Allah, engkau tidak pantas dibiarkan sendirian begitu saja.”

Setelah itu Utsman memegang kendali unta Ummu Salamah dan menuntunnya berjalan cepat. Jika tiba waktunya istirahat, ia mendudukkan unta agar Ummu Salamah bisa turun, menambatkan unta dan beristirahat di bawah pohon lainnya. Jika akan berangkat lagi, ia mendudukkan unta agar Ummu Salamah mudah menaikinya, kemudian menuntunnya berjalan cepat. Begitu berulang-ulang dilakukan tanpa banyak percakapan.

Setelah beberapa hari perjalanan, mereka sampai di pinggiran kota Madinah, yakni di kampung Quba yang didiami Bani Amr bin Auf, Utsman berkata kepada Ummu Salamah, “Suamimu tinggal di kampung itu, masuklah kamu ke dalamnya dengan berkah dari Allah!” Setelah itu ia menyerahkan kendali unta ke Ummu Salamah, dan berjalan pulang ke arah Makkah.

Kisah Sahabat#Abu Aqil Al Unaifi Ra

Abu Aqil Al Unaifi Ra

Abu Aqil al Unaifi adalah salah seorang sahabat Anshar. Pada perang Yamamah, perang melawan pemberontakan nabi palsu, Musailamah al Kadzdzab, Abu Aqil yang pertama kali cedera terkena panah. Panah tersebut menancap antara bahu dan ulu hatinya tetapi agak melenceng sehingga tidak mematikan. Ketika dicabut, darah mengucur deras dan tubuhnya jadi lemah. Ia-pun diistirahatkan di dalam kemah. 

Pertempuran makin memuncak, dan pasukan muslim makin terdesak dan tercerai-berai. Ia mendengar Ma’n bin Adi berteriak menyeru orang-orang Anshar, “Allah! Allah! Kembalilah kalian menyerang musuh-musuh kalian…!”

Kemudian terdengar seruan lagi agar orang-orang Anshar berkumpul dan memilih orang-orang istimewa untuk memimpin. Abu Aqil bangkit untuk memenuhi seruan tersebut. Hal ini diketahui oleh Abdullah bin Umar, dan berkata, “Seruan tersebut tidak ditujukan untuk orang-orang yang terluka.”

Tetapi Abu Aqil berkata, “Aku adalah lelaki Anshar, dan aku akan menyambut seruan itu walau harus merangkak…!”

Abu Aqil mengeratkan tali sabuknya dan bergerak tertatih-tatih ke tempat orang-orang Anshar berkumpul. Dalam suatu kesempatan, mengangkat pedang dengan tangan kanannya, kemudian ia berkata, “Wahai orang-orang Anshar, bergeraklah menyerang sebagaimana di perang Hunain..!”

Memang, dalam Perang Hunain pasukan muslim yang jumlahnya lebih banyak porak-poranda. Sebagian dari mereka memang baru memeluk Islam saat Fatkhul Makkah yang baru beberapa hari berlalu. Sebagian anggota pasukan lagi, mereka yang masih memeluk agama jahiliahnya. Saat itu keadaan Nabi SAW cukup berbahaya karena hanya bersama beberapa orang saja. Tiba-tiba Nabi SAW berseru, “Wahai orang-orang Anshar!”

Para sahabat Anshar segera berkumpul di sekitar Nabi SAW, dan mereka mulai menyerang lagi, tentunya dengan didukung sahabat muhajirin terdahulu, dan akhirnya bisa membalikkan keadaan dan memperoleh kemenangan.

Seruan Abu Aqil seolah mengantar ingatan mereka saat bersama Nabi SAW di Perang Hunain, dan semangat mereka kembali bergelora untuk bertahan dan menyerang pasukan Musailamah. Akan halnya Abu Aqil, walau keadaannya sangat lemah, ia tidak mau tertinggal untuk menghadang serangan musuh, sampai akhirnya ia jatuh terkapar tak berdaya.

Ketika pasukan musuh telah dilumpuhkan dan Musailamah terbunuh, Abdullah bin Umar melihat Abu Aqil terlentang di tanah dengan nafas satu-satu. Tangannya yang tadinya cedera terkena panah telah putus dari bahunya, terdapat empat belas luka tusukan pada tempat-tempat yang mematikan. Ibnu Umar memanggil namanya.

“Labbaik,” Kata Abu Aqil dengan suara cadel karena lemahnya, “Siapa yang memperoleh kemenangan?”

“Bergembiralah engkau!,” Kata Ibnu Umar, “Musuh Allah telah terbunuh!!”

Abu Aqil mengangkat jarinya ke langit dan memuji Allah, kemudian wafat.

  Ketika Ibnu Umar menceritakan peristiwa ini kepada ayahnya, Umar berkata, “Semoga Allah merahmatinya. Tak putus-putusnya ia memohon dan mencari-cari kesyahidan. Sejauh yang aku ketahui, ia adalah sahabat Nabi SAW yang terbaik dan termasuk orang yang pertama-tama memeluk Islam (dari kalangan Anshar).”

Kisah Sahabat#Zaid Bin Khaththab Ra

Zaid Bin Khaththab Ra

Zaid bin Khaththab, adik dari Umar, tetapi ia memeluk Islam terlebih dahulu daripada kakaknya tersebut. Pada perang Uhud, ia tidak memakai baju besi, maka Umar melepas baju besinya dan berkata, “Pakailah baju besiku ini, saudaraku!”

“Aku juga ingin syahid seperti yang engkau kehendaki,” Kata Zaid dan menolak untuk memakainya.

Akhirnya mereka berdua terjun di pertempuran tanpa memakai baju besi.

Dalam pertempuran Yamamah melawan pasukan murtad yang dipimpin nabi palsu Musailamah al Kadzdzab pasukan muslim sempat mengalami kekalahan. Pasukan pertama yang dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal telah kalah, pasukan kedua juga sempat kocar-kacir, kemudian Khalid bin Walid merubah strategi dengan mengelompokkan pasukan sesuai kabilah dan golongannya.

Untuk membangkitkan semangat orang-orang Muhajirin, Zaid bin Khaththab berkata, “Wahai manusia, demi Allah aku tidak akan berkata-kata lagi setelah perkataanku ini, hingga Musailamah dimusnahkan, dan ia akan dikalahkan dengan hujahku ini.”

Zaid sendiri diserahi panji dari golongan kaum Muhajirin. Ia mengikatkan panji pada tubuhnya kemudian berperang dengan pedangnya dengan perkasanya. Sasaran utamanya adalah Musailamah, tetapi dia disembunyikan dan dilindungi dengan ketat oleh pasukannya. Tetapi ia sempat bertemu Rajjal, salah satu orang kepercayaan Musailamah, dan ia berhasil membunuhnya. Kematian Rajjal menurunkan semangat pasukan Musailamah, sebaliknya memberi dorongan semangat lebih kepada pasukan muslim. Setelah bertempur beberapa lamanya, Zaid menemui syahidnya dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Panji tersebut akhirnya diambil oleh Salim, bekas budak (maula) Abu Hudzaifah, sesuai dengan perintah Khalid bin Walid sebagai pimpinan pasukan muslim.

Kisah Sahabat#Wanita Tua Dari Bani Adi Bin Najjar

Wanita Tua Dari Bani Adi Bin Najjar

Setelah diba’iat sebagai Khalifah, Abu Bakar membagi-bagikan hartanya kepada orang banyak. Zaid bin Tsabit diminta mengirimkan juga kepada seorang wanita tua dari Bani Najjar yang tampaknya memang berhak dan memerlukannya. Tetapi wanita tua itu mempertanyakan, bahkan menolak harta tersebut. Zaid memberikan penjelasan, “Ini adalah bagian harta dari Abu Bakar yang dibagikan untuk kaum wanita.”

“Apakah dia (Abu Bakar) ingin menyuapku agar aku menjual agamaku?” Tanya wanita tua itu.

“Tidak!!” Kata Zaid.

“Apakah kalian takut aku akan meninggalkan agama Islam yang aku peluk ini?” Tanyanya lagi.

“Tidak!!” Kata Zaid lagi.

“Demi Allah, aku tidak akan menerima harta apapun dari dirinya selama-lamanya!” Wanita tua itu memutuskan dengan tegas.

Tidak ada pilihan lain bagi Zaid kecuali membawa kembali harta tersebut. Sungguh suatu sikap yang teguh menjaga kemurnian beragama. Padahal pemberian itu semata-mata karena wanita tua tersebut termasuk dalam golongan yang berhak menerima shadaqah.

Kisah Sahabat#Suhail Bin Amr Ra

Suhail Bin Amr Ra

Suhail bin Amr adalah seorang yang mempunyai kemuliaan dan kedudukan tinggi di kalangan kaum Quraisy. Dia ditunjuk mewakili kaum musyrikin Makkah ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah dengan Nabi SAW, dan dengan pongahnya ia menolak ketika Nabi SAW meminta perjanjian itu dibuka dengan “Bismillahirrahmanirrahiim.” Ia berkata, “Demi Allah aku tidak tahu, siapa itu Ar Rahman? Tetapi tulislah, Bismika Allahumma…!!”

Nabi SAW mengalah, begitu juga ketika Ali bin Abi Thalib, penulis perjanjian itu menulis nama, “Muhammad, utusan Allah.” Segera saja Suhail berkata, “Andaikata kami tahu (yakin) bahwa engkau Rasul Allah,, kami tidak akan menghalangimu masuk Masjidil Haram dan tidak pula memerangimu. Karena itu tulislah : Muhammad bin Abdullah!!”

Ali menolak untuk mengubahnya, tetapi Nabi SAW mengalah dan memerintahkan Ali untuk menggantinya seperti permintaan Suhail. Kemudian beliau bersabda, “Bagaimanapun aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian semua mendustakan aku!!”

Sikapnya itu sangat disesalinya ketika kemudian ia menjadi Islam dan mengikuti Haji Wada’ bersama Rasulullah SAW. Di Mina, Suhail menyerahkan unta kurbannya kepada Nabi SAW, dan beliau sendiri yang menyembelihnya. Suhail memunguti dan mengumpulkan rambut Rasulullah SAW waktu tahallul, sambil menangis dan bertobat, menyesali perbuatannya saat perjanjian Hudaibiyah tersebut, Potongan rambut beliau itu diletakkan di atas matanya.

Ketika terjadi Fathul Makkah, dimana Nabi SAW bersama hampir seluruh kaum muslimin memasuki Makkah dengan penuh kemenangan atas kaum musyrikin, Suhail mengunci diri dalam rumahnya. Ia merasa tidak aman dari pembunuhan karena sikap permusuhannya terhadap Islam selama ini, karena itu ia menyuruh anaknya, Abdullah bin Suhail, menemui Nabi SAW untuk meminta perlindungan.

Ketika Abdullah bin Suhail menghadap Nabi SAW dan menyampaikan maksud bapaknya ini beliau bersabda, “Ya, ia aman dengan perlindungan dari Allah, maka hendaknya ia menampakkan dirinya.”

Dan Nabi SAW berpaling pada kaum muslimin di sekeliling beliau dan bersabda, “Barang siapa bertemu dengan Suhail, janganlah ia memandangnya dengan pandangan amarah. Biarkan ia keluar, demi hidupku, sesungguhnya Suhail mempunyai kemuliaan dan kebijaksanaan, tidak mungkin orang seperti dia tidak tahu tentang Islam. Dan sungguh ia telah menyaksikan bahwa kuda yang ia pacu dengan cepat untuk melawan kaum muslimin tidak bermanfaat sama sekali!!”

Setelah Abdullah kembali dan melaporkan apa yang didengar dan dilihatnya, Suhail berkata, “Demi Allah, beliau adalah orang yang sangat baik, ketika masih muda ataupun setelah tua.”

Namun pengakuannya ini belum membuatnya mantap mengikuti risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Selagi Nabi SAW dan kaum muslimin masih berada di Makkah, kabilah-kabilah Arab yang tidak mau tunduk pada Nabi SAW dan merasa kuat, bersatu untuk memerangi kaum Muslimin. Mereka bermarkas di dekat Hunain, sepuluh mil lebih dari Arafah. Nabi SAW mengerahkan pasukan muslimin dan beberapa kabilah yang bersekutu, walaupun belum memeluk Islam, dan Suhail ikut serta dalam peperangan ini. Sekembalinya dari pertempuran, di daerah bernama Ji’ranah, Suhail menyatakan dirinya memeluk Islam, dan Nabi SAW memberikan bagian ghanimah perang Hunain.

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab RA, ia bersama beberapa pembesar Quraisy yang telah memeluk Islam, di antaranya Abu Sufyan bin Harb dan Harits bin Hisyam akan menemui khalifah, tetapi tertahan di depan pintu rumah karena Umar belum mengijinkannya. Beberapa saat kemudian muncul Shuhaib, Bilal dan Ammar yang langsung diijinkan masuk oleh Umar.

Abu Sufyan dan beberapa lainnya terlihat marah melihat perlakuan Umar tersebut, tetapi Suhail berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah melihat apa yang ada di wajah kalian. Sekiranya kalian ingin marah, marahlah pada diri kalian sendiri. Kita semua diseru kepada Islam, mereka bersegera menyambutnya, tetapi kalian terlambat. Sungguh keutamaan yang telah mereka peroleh dahulu lebih banyak yang terluput dari kalian, daripada sekedar keistimewaan pintu Umar yang kalian berlomba memasukinya.” 

Menyadari kekurangannya ini, Suhail memutuskan meninggalkan tanah kelahirannya, Makkah Mukarramah, untuk bergabung dengan pasukan yang berjaga di garis depan di Syam. Ketika berangkat disertai Abu Said bin Fadhalah, salah seorang sahabat Nabi SAW, Suhail berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Berdirinya seseorang di jalan Allah walau sesaat, lebih baik daripada amal sepanjang hidupnya.’ Sungguh aku akan berjaga berjaga di garis depan dan tidak akan kembali lagi ke Makkah.”

Suhail tetap berada di Syam bersama pasukan yang berjuang di sana, hingga akhirnya wafat karena wabah penyakit tha’un yang melanda kotaAmawas.

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Ja’far Ra

Abdullah Bin Ja’far Ra

Abdullah bin Ja’far masih keponakan Rasulullah SAW, ia putra dari Ja’far bin Abi Thalib. Ia masih berusia tujuh tahun ketika berba’iat kepada Nabi SAW. Ketika Ja’far bin Abi Thalib gugur syahid di perang Mu’tah, Rasulullah SAW memanggil anak-anaknya, Abdullah, Aun dan Muhammad. Beliau menentramkan hati mereka karena kehilangan ayahnya, dan mendoakan agar selalu diberikan rahmat Allah. Doa Nabi SAW inilah yang membuat Abdullah menjadi sangat pemurah dan baik hati seperti bapaknya, sehingga ia digelari ‘Qutbus Sakha’, Kepala para Dermawan. 

Sewaktu masih kecil, Ibnu Ja’far pernah membantu pamannya Ali bin Abi Thalib menolong seseorang, dan ia diberi hadiah orang yang ditolongnya itu sebanyak empat ribu dirham, tetapi ia menolak dan berkata, “Kami tidak menjual amalan baik kami.”

Suatu ketika ia diberi uang oleh seseorang sebanyak duaribu dirham, dan dalam sekejab uang itu habis dibagi-bagikan di jalan Allah. Pada kali yang lain, ada pedagang yang membawa sejumlah besar gula ke pasar, tetapi dagangannya tidak laku, tidak ada orang yang membelinya. Abdullah menyuruh pembantunya memborong semua gula tersebut dan membagikannya secara cuma-cuma pada penduduk sekitarnya.

Ketika sahabat Zubair bin Awwam gugur, anaknya, Abdullah bin Zubair menemuinya dan berkata, “Wahai Abdullah, kutemukan dalam catatan keuangan ayahku, engkau berhutang satu juta dirham.”

“Baiklah,” Kata Abdullah bin Ja’far, “Engkau dapat mengambil uang itu, kapan saja kamu suka!”

Tetapi tidak berapa lama Abdullah bin Zubair kembali dan meminta maaf karena terjadi kekeliruan, ayahnya-lah yang mempunyai hutang satu juta dirham kepada Abdullah bin Ja’far. Maka Abdullah berkata, “Jika demikian, aku halalkan hutang ayahmu kepadaku!”

Tetapi Abdullah bin Zubair tidak mau hutang ayahnya dihalalkan begitu saja, ia tetap ingin membayar hutang tersebut. Maka Abdullah bin Ja’far berkata, “Baiklah jika demikian, engkau boleh membayar sesuai kemampuanmu!”

“Maukah engkau menerima sebidang tanah kecil yang tandus sebagai pembayarannya?” Kata Ibnu Zubair.

Abdullah bin Ja’far dengan senang hati menerimanya sebagai pelunas hutang Zubair bin Awwam, walau nilainya tidak sebanding. Ia mendatangi tanah tandus tersebut dan memerintahkan pembantunya untuk membentangkan sajadah di atasnya, kemudian ia shalat dua rakaat dan bersujud cukup lama. Setelah selesai shalat, ia menunjuk satu titik, dan menyuruh pembantunya untuk menggali. Tak terlalu lama menggali, muncullah mata air di tanah tandus tersebut. Abdullah bin Ja’far menikahi dua orang cucu Rasulullah SAW, putri Fatimah dan Ali, secara berturutan. Pertama ia menikahi Zainab binti Ali, ia mempunyai dua orang anak yang diberi nama Abdullah dan Aun, tetapi keduanya meninggal ketika masih kecil. Setelah itu ia menikahi Ummu Kultsum binti Ali, kakak Zainab, yang sebelumnya telah menikah dengan Umar bin Khaththab dan dua orang saudaranya, Aun bin Ja’far dan Muhammad bin Ja’far.

Kisah Sahabat#Abu Salamah Ra

Abu Salamah Ra

Abu Salamah RA, atau nama aslinya Abdullah bin Abdul Asad, memeluk Islam pada masa permulaan Islam, begitu juga dengan istrinya, Ummu Salamah. Sebagian riwayat menyebutkan, ia orang ke sepuluh yang memeluk Islam. Karena tekanan dan gangguan yang begitu hebat dari kaum Quraisy, mereka berdua ikut hijrah ke Habasyah. Disanalah lahir anak mereka yang pertama Salamah. Setelah beberapa waktu di Habasyah, mereka kembali lagi ke Makkah.

Ketika datang perintah hijrah ke Madinah, Abu Salamah dan Istrinya, Ummu Salamah pun memenuhi perintah ini, mereka berangkat menaiki onta. Anak satu-satunya yang masih kecil, Salamah dalam gendongan ibunya di dalam sekedup. Tetapi kaum kerabat Ummu Salamah, Bani Mughirah, tidak rela jika salah satu anggota kaumnya pergike Madinah, karena itu beberapa orang mengejar Abu Salamah dan merebut kendali onta yang membawa istri dan anaknya, mereka berkata, “Ini jiwamu, engkau memenangkannya atas kami. Tidakkah engkau tahu, atas dasar apa kami membiarkanmu berjalan dengannyadi negeri ini?”

Abu Salamah pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi tidak cukup sampai disitu, kerabat Abu Salamah dari Banu Abdul Asad ternyata tidak rela kalau Salamah sebagai bagian dari kaumnya berada di Banu Mughirah, karena itu mereka merebutnya dari Ummu Salamah. Setelah berhasil, ternyata mereka tidak membiarkan Salamah untuk ikut ayahnya hijrah ke Madinah.

Walau kecintaannya begitu besar terhadap istri dan anaknya, perintah Allah dan RasulNya di atas segalanya. Abu Salamah tetap meneruskan hijrah ke Madinah tanpa orang-orang yang dicintainya. Setelah sekitar satu tahun berpisah, barulah Ummu Salamah dibiarkan kaumnya menyusul suaminya ke Madinah. Salamahpun diberikan bani Abdul Asad pada Ummu Salamah untuk dibawa ke Madinah.

Abu Salamah ikut terjun dalam perang Badar dan Uhud. Pada perang Uhud, ia mengalami luka parah, yang berakibat ia menderita berkepanjangan. Ketika lukanya belum sembuh sepenuhnya, Rasulullah SAW menunjuk dirinya untuk memimpin pasukan kecil berkekuatan 150 orang sahabat, untuk menyerang Bani Asad bin Khuzaimah. Bani Asad menghimpun kekuatan secara rahasia untuk menyerang Madinah, yang dikoordinasikan oleh dua orang bersaudara, Thalhah dan Salamah bin Khuwailid.

Pasukan yang dipimpin Abu Salamah ini berhasil melumpuhkan Bani Asad. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam tahun 4 hijriah. Tetapi akibat pertempuran ini, luka-lukanya pada perang Uhud yang belum sepenuhnya sembuh, menjadi kambuh kembali, bahkan semakin parah, sehingga akhirnya ia menemui syahid pada bulan Jumadil Akhir tahun 4 hijriah.

Dari pernikahannya dengan Ummu Salamah, ia mempunyai empat anak. Selain Salamah, anak lainnya adalah Umar, Durah, dan Zainab. Zainab ini masih di dalam kandungan ketika Abu Salamah wafat.

Ketika masih hidupnya, Ummu Salamah pernah menginginkan agar mereka saling berjanji untuk tidak menikah lagi, jika salah satu dari mereka meninggal terlebih dahulu. Tetapi Abu Salamah menginginkan agar Ummu Salamah taat kepadanya sebagai suaminya, dan ia berkata, “Jika aku meninggal dahulu, menikahlah engkau,'”

Setelah itu Abu Salamah berdoa, “Ya Allah, apabila saya meninggal nanti, nikahkanlah Ummu Salamah dengan lelaki yang lebih baik daripada saya, yang tidak akan menjadikan hatinya bersedih, yang tidak akan memberikan kesulitan kepadanya.”

Allah mengabulkan doa Abu Salamah ini, dan sepeninggal dirinya, ternyata Rasulullah SAW berkenan untuk menikahi Ummu Salamah.

Kisah Sahabat#Ummu Haram Binti Milhan Ra

Ummu Haram Binti Milhan Ra

Ummu Haram adalah bibi Anas bin Malik, saudara ibunya Ummu Sulaim (Rumaisha) binti Milhan. Nabi SAW sering mengunjungi rumahnya dan beristirahat di sana. Suatu ketika Nabi SAW beristirahat di rumahnya sampai tertidur. Tak lama kemudian beliau bangun dan tersenyum. Melihat hal itu, Ummu Haram bertanya, “Ya Rasulullah, demi ayah dan ibu saya, mengapa engkau tersenyum?”

Nabi bersabda, “Telah diperlihatkan padaku, ada beberapa umatku yang mengikuti pertempuran di samudra, mereka itu ada yang berjalan, dan ada yang duduk di singgasana bagaikan raja.”

“Wahai Rasulullah,” Kata Ummu Haram, “Berdoalah kepada Allah agar saya termasuk dalam rombongan tersebut.”

“Ya, engkau termasuk dalam rombongan tersebut.” Kata Nabi SAW, menegaskan.

Ummu Haram-pun gembira dengan berita itu. Nabi SAW beristirahat kembali sampai tertidur, dan ketika terbangun lagi, beliau bersabda seperti tadi lagi, tentang umatnya yang bertempur di samudra. Seperti sebelumnya, Ummu Haram meminta Nabi SAW mendoakannya agar termasuk dalam rombongan tersebut, tetapi beliau bersabda, “Engkau hanya termasuk alam rombogan yang pertama.”

Berlalulah waktu, pada masa khalifah Utsman bin Affan, Muawiyah bin Abu Sufyan yang menjadi gubernur di Syam (Syiria), meminta ijin pada khalifah untuk menyerang dan menguasai kepulauan Siprus. Khalifah Utsman mengijinkan, dan Muawiyah membentuk suatu pasukan yang menyeberangi samudra menuju kepulauan Siprus, Ummu Haram dan suaminya, Ubadah bin Shamit, termasuk anggota pasukan tersebut.

Usai pertempuran, mereka mengendarai keledai, tetapi tiba-tiba keledai yang dinaikinya mengamuk, yang menyebabkan Ummu Haram terjatuh hingga lehernya patah, dan akhirnya meninggal dunia. Ia dimakamkan di Siprus. Benarlah apa yang dikatakan Nabi SAW, ketika beberapa waktu kemudian pasukan ini mengarungi samudra menuju pulau lainnya, Ummu Haram telah menjadi syahidah di Siprus. Artinya ia tidak termasuk dalam rombongan yang kedua, yang “dilihat” Nabi SAW dalam tertidurnya beliau yang kedua kalinya di rumah Ummu Haram tersebut.

Kisah Sahabat#Ummu Abdullah Ra

Ummu Abdullah Ra (Laila Binti Abu Hatsmah)

Laila binti Abu Hatsmah, atau lebih dikenal dengan nama Ummu Abdullah tengah bersiap-siap untuk hijrah ke Habasyah bersama rombongan sahabat yang dipimpin Ja’far bin Abu Thalib.Tiba-tiba Umar bin Khaththab yang saat itu masih musyrik, berdiri di hadapannya. Tentu saja Ummu Abdullah menjadi terkejut, karena selama ini Umar sering menganiaya dan menyiksa kaum muslimin. Saat itu suaminya, Amir bin Rabiah tengah mempersiapkan perbekalan untuk perjalanan hijrah tersebut. Kemudian Umar berkata, “Hai Ummu Abdullah, engkau jadi meninggalkan tanah airmu?”

“Ya,” Kata Ummu Abdullah dengan tegas, “Demi Allah, kami akan keluar menuju suatu negeri di bumi Allah, karena kalian telah berlaku kejam kepada kami, sehingga Allah memberikan kami jalan keluar dari kesusahan ini.”

Ummu Abdullah telah bersiap-siap untuk memperoleh siksaan dan gangguan dengan jawabannya tersebut, tetapi ternyata Umar tidak bertindak apa-apa sebagaimana biasanya. Bahkan tampak kelembutan dan kesedihan di raut wajah Umar, kemudian keluar perkataan singkat dari mulutnya sebelum ia berlalu pergi, “Semoga Allah bersama kamu!!”

Ummu Abdullah sempat terkesima dengan sikap Umar tersebut. Ketika suaminya datang, ia berkata, “Hai Abu Abdullah, andai engkau melihat raut wajah Umar tadi, tampak adanya kelembutan dan kesedihan karena kepergian kita ini.”

“Sepertinya engkau menginginkan dia memeluk Islam?” Kata Amir.

Ummu Abdullah mengiyakan.

“Orang seperti Umar itu,” Kata Amir, “Tidak akan memeluk Islam hingga keledai Umar memeluk Islam.” Ungkapan tersebut adalah semacam keputus-asaan. Melihat kerasnya Umar memusuhi Islam, tidak mungkin ia akan memeluk Islam. Tetapi hidayah Allah memang tidak bisa diramalkan akan jatuh kepada siapa, dari kerasnya permusuhan itulah akhirnya Umar memeluk Islam.

Kisah Sahabat#Abu Mihjan As Tsaqafi Ra

Abu Mihjan As Tsaqafi Ra

Abu Mihjan tertangkap basah sedang minum arak, dan ia dikenai hukuman dera rotan oleh Sa’d bin Abi Waqqash yang adalah amir (komandan) pasukan. Dan ketika itu berulang-ulang, Sa’d memutuskannya untuk mengikat dan memenjarakannya. Dan ia juga ditinggalkan ketika pasukan berangkat menuju perang Qadisiyah. 

Dalam kesendiriannya, Abu Mihjan seolah melihat pasukan muslim terdesak oleh pasukan musyrikin. Ia pun menulis surat kepada istri Sa’d, bahwa jika ia dibebaskan, diberi seekor kuda dan senjata, ia akan bertemput bersama kaum muslimin, dan ia berjanji untuk menjadi orang pertama yang kembali (untuk diikat dan dipenjara lagi), kecuali jika ia terbunuh. Dengan demikian tidak ada orang yang tahu kalau ia dibebaskan.

Surat tersebut ternyata ditanggapi dengan baik, istri Sa’d membawakan kuda Abu Mihjan sendiri yang belang-belang berikut senjatanya. Abu Mihjan segera memacu kudanya ke tempat pertempuran, dan ia langsung menyerbu pasukan kaum musyrikin. Saat itu posisi kaum muslimin memang sedang terdesak, dan dengan pertolongan Allah, kehadiran Abu Mihjan membuka pintu kemenangan. Tidak ada satu kelompok musuh yang diserang oleh Abu Mihjan, kecuali Allah membuatnya porak-poranda.

Pasukan muslimin yang melihat sepak terjangnya, dan mereka tidak mengetahui kalau dia adalah Abu Mihjan, berkata, “Lelaki itu bagaikan seorang malaikat…!!”

Sa’d bin Abi Waqqash sendiri sempat berkata, “Ketangkasan dan lompatan kuda belang, serta sepak terjangnya itu adalah milik Abu Mihjan, tetapi bukannya Abu Mihjan sedang terikat kedua kakinya…”

Ketika posisi telah berbalik menjadi kemenangan bagi kaum muslimin, Abu Mihjan segera berbalik pulang. Ia mengembalikan kuda dan senjata kepada istri Sa’d dan kembali ke penjara, bahkan mengikat sendiri kedua kakinya.

Usai pertempuran dan mereka telah kembali ke markasnya, istri Sa’d bertanya tentang jalannya pertempuran kepada suaminya. Sa’d berkata, “Kami terus bertempur dan hampir terjepit oleh serangan musuh yang bertubi-tubi, sampai Allah menghantar seorang lelaki yang menunggang kuda belang-belang (serta memporak-porandakan musuh). Kalau saja aku tidak meninggalkan Abu Mihjan dalam keadaan terikat, tentu aku menyangka itu dirinya karena ia memiliki beberapa sifat Abu Mihjan.”

“Demi Allah, sesungguhnya itu memang Abu Mihjan…” Kata istri Sa’d.

Kemudian ia menceritakan apa yang telah terjadi sebelumnya. Sa’d pun menyahut, “Demi Allah, aku tidak menemui seorang lelaki (seperti itu) pada hari ini, yang membantu kaum muslimin dalam keadaan Allah tengah menguji mereka seperti pada hari Qadisiah tersebut…!”

Kemudian ia memerintahkan untuk membebaskan Abu Mihjan. Setelah dibawa kehadapannya, Sa’d berkata, “Kami tidak akan pernah merotan/menghukum kamu lagi karena minum arak selama-lamanya.”

Abu Mihjan berkata, “Aku telah minum arak, dan jika hukuman telah ditetapkan untukku, aku akan membersihkan diri darinya. Dan karena engkau membebaskan aku, maka aku tidak akan pernah meminumnya lagi selama-lamanya.”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai