Kisah Sahabat#Utbah Bin Ghazwan

Utbah Bin Ghazwan Ra

Utbah bin Ghazwan adalah sahabat muhajirin, dan termasuk dalam kelompok awal yang memeluk Islam (As sabiqunal awwalin). Ia sempat berhijrah ke Habasyah karena begitu kerasnya tekanan dan siksaan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy. Walau suasana tenang dan terlindungi untuk beribadah di sana, tetapi ia memilih untuk kembali ke Makkah karena kerinduannya kepada Nabi SAW. Tidak masalah kalau hari-harinya dalam kesulitan, siksaan dan teror asal setiap saat ia bisa bertemu dan bergaul dengan Nabi SAW.

Seperti kebanyakan sahabat Nabi SAW dalam kelompok as sabiqunal awwalin, Utbah tidak ingin tertinggal dalam perjuangan menegakkan panji-panji Islam bersama Nabi SAW. Pola hidupnya juga tak jauh berbeda dengan beliau, tekun beribadah, menjauhi kemewahan hidup duniawiah dan tidak mencari jabatan. Dalam kebanyakan pertempuran yang diterjuninya, ia hanyalah seorang prajurit biasa yang mempunyai keahlian dalam memanah dan melemparkan tombaknya.

Tipikal orang-orang seperti Utbah itulah yang dicari oleh khalifah Umar untuk mendukung pemerintahannya. Tidak ayal lagi, Umar memilih Utbah bin Ghazwan untuk memimpin pasukan untuk menaklukan kota Ubullah, sebuah daerah di perbatasan yang sering dijadikan batu loncatan tentara Persia untuk menyerang wilayah Islam. Pada mulanya Utbah menolak keras menjadi pemimpin, dan lebih memilih menjadi prajurit biasa dalam pasukan itu. Tetapi keputusan Umar memang tidak bisa ditawar lagi, sehingga ia berangkat dalam pasukan itu sebagai komandan untuk pertama kalinya.

Ternyata tidak terlalu sulit bagi Utbah menaklukan Ubullah, karena penduduknya sendiri lebih banyak mendukung kedatangan pasukan muslim, sehingga lebih mudah mengalahkan dan mengusir pasukan Persia dari wilayah tersebut. Memang, pasukan Persia selama itu lebih banyak menyengsarakan penduduk Ubullah daripada melindunginya. Di tempat tersebut, Utbah dan pasukannya dengan didukung penduduk setempat melakukan pembangunan kota, tentunya dengan bercirikan keislaman dengan masjid besar menjadi pusat kotanya. Kota ini kemudian dikenal dengan nama Bashrah, dan secara otomatis Utbah menjadi wali negerinya.

Setelah pemerintahan berjalan lancar, Utbah bermaksud kembali ke Madinah dan menyerahkan kendali kota kepada sahabat-sahabatnya. Sungguh, jabatan yang dipegangnya itu membuat hidupnya tidak nyaman. Apalagi perkembangan kota yang dipimpinnya makin pesat saja, seolah menjadi “pesaing” kemewahan yang ditampilkan oleh kota-kota lainnya di wilayah Persia. Jiwa zuhud, wara dan sederhana sebagai hasil didikan Nabi SAW seolah memaksanya untuk “melarikan-diri” dari semua itu. Tetapi ketika ia mengajukan pengunduran diri dari jabatannya, khalifah Umar menolak, bahkan menentang keras keputusannya. Terpaksalah Utbah menjalankan lagi tugasnya tersebut.

Utbah bin Ghazwan menyibukkan dirinya dengan membimbing penduduk Bashrah tentang kewajiban-kewajiban agama, menjalankan ibadah, menegakkan hukum dengan adil, dan tentu saja yang tidak ketinggalan, menerapkan jiwa zuhud, wara dan sederhana dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tentu saja sikapnya ini tidak seratus persen mendapat dukungan, bahkan penentangan secara terang-terangan kadang terjadi. Karena itu ia sering berkata, “Demi Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku bersama Rasulullah SAW, sebagai salah seorang dari kelompok tujuh, yang tidak punya makanan kecuali hanya daun-daun kayu, sehingga bagian dalam mulut kami menjadi pecah-pecah dan luka.”

Ia juga pernah berkata, “Suatu hari aku memperoleh hadiah baju burdah dari Nabi SAW, dan baju itu kupotong jadi dua. Sepotong untuk dipakai Sa’ad bin Malik dan sepotong untukku sendiri…..!!”

Begitulah cara Utbah mengajarkan pola hidup yang dipeganginya, semuanya disandarkan dan dikembalikan kepada Nabi SAW. Tentu, bagi pemeluk Islam belakangan yang tidak sempat hidup bersama Rasulullah SAW, dan tidak mengalami masa-masa sulit mempertahankan keimanan dan keislaman, hal-hal tersebut terasa mustahil, seperti dongeng saja dan bukan kenyataan. Bagaimanapun juga, suasana dan pengaruh magnetis yang dipancarkan dari sosok Nabi SAW bisa memotivasi seseorang berbuat sesuatu yang di luar nalar, seolah di bawah kendali kekuatan ghaib yang bernama keimanan.

Orang-orang tersebut terus mendorongnya untuk merubah pola hidupnya, dan seakan ingin menyadarkan kedudukannya sebagai seorang penguasa muslim. Keteguhan sikapnya dalam zuhud dan kesederhanan seolah-olah mencoreng ‘nama-baik’ Islam di antara penguasa lainnya seperti Persia dan Romawi. Tetapi dengan tegas Utbah berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari sanjungan orang-orang terhadap diriku karena kemewahan duniawi, yang sesungguhnya nilainya sangat kecil di sisi Allah…!!”

Ketika tampak sekali ekspresi wajah-wajah tidak sepakat dengan pendiriannya tersebut, ia berkata lagi, “Besok atau lusa, kalian akan menjumpai dan melihat amir (yang kalian inginkan itu), menggantikan diriku!”

Pada suatu musim haji, ia menyerahkan pimpinan pemerintahan Bashrah kepada sahabatnya dan ia pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Usai haji, ia pergi ke Madinah dan menghadap Khalifah Umar, dan mengajukan pengunduran dirinya dari jabatan wali negeri Bashrah. Tetapi seperti bisa diduga, Umar menolak dengan tegas keinginannya tersebut, dengan ucapannya yang sangat terkenal, “Apakah kalian membai’at aku dan menaruh amanat khilafah di pundakku, kemudian kalian meninggalkanaku dan membiarkan aku memikulnya seorang diri? Tidak, demi Allah tidak kuizinkan kalian melakukan itu!!”

Kalaulah tipikal amir atau wali negeri itu suka bermewah-mewahan dengan harta duniawiah, tidak perlu diminta, Umar akan segera memecatnya seperti terjadi pada Muawiyah ketika menjabat amir di Syam. Terpaksalah Utbah harus meninggalkan Madinah, kota Nabi SAW yang selalu menjadi kerinduannya, dan kembali ke Bashrah yang justru sangat ingin dihindarinya karena harus memegang jabatan wali negeri di sana. Tampak keresahan dan kegamangan melingkupi wajahnya. Sebelum menaiki tunggangannya, ia menghadap kiblat dan berdoa, “Ya Allah, janganlah aku Engkau kembalikan ke Bashrah, janganlah aku Engkau kembalikan kepada jabatan pemerintahan selama-lamanya….!!”

Ternyata Allah SWT mengabulkan permintaannya. Walaupun ia tidak mengingkari perintah khalifah Umar untuk kembali ke Bashrah, tetapi dalam perjalanan kembali tersebut, Allah berkenan memanggilnya ke haribaan-Nya, menghindarkan dirinya dari kegalauan dan keresahan jiwa karena memegang jabatan wali negeri. Sebagian riwayat menyebutkan ia terjatuh dari tunggangannya ketika belum jauh meninggalkan kota Madinah. Tampaknya ia tidak ingin dipisahkan lagi dari Rasulullah SAW terlalu jauh.

Kisah Sahabat#Habib Bin Zaid Ra

Habib Bin Zaid Ra

Habib bin Zaid merupakan sahabat Anshar yang memeluk Islam pada masa awal, sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah, yakni pada Ba’iatul Aqasbah kedua. Saat itu ia hadir di Mina (Bukit Aqabah) bersama kedua orang tuanya, Zaid bin Ashim dan Nusaibah binti Ka’ab, pahlawan wanita Islam yang lebih dikenal dengan nama Ummu Umarah. Bisa jadi sebelumnya mereka telah memeluk Islam di Madinah lewat dakwah sahabat Nabi SAW, Mush’ab bin Umair, dan mengukuhkan keislamannya di hadapan Nabi SAW pada Ba’iatul Aqabah kedua tersebut.

Seperti umumnya sahabat pada masa awal, Habib membaktikan hidupnya untuk berjuang membela dan menegakkan panji-panji Islam di bumi Arabia. Pada perang Uhud, ia berjuang bahu membahu dengan ibunya Nusaibah dan beberapa sahabat lainnya dalam menghadang serangan kaum kafir Quraisy yang mengarah kepada Nabi SAW. Saat itu keadaan beliau sangat kritis, karena terjatuh dalam lubang dan dalam keadaan terluka. Tetapi kisah paling menarik dalam kehidupannya adalah ketika Musailamah al Kadzdzab mengangkat dirinya sebagai nabi, sebagai sekutu dari Nabi Muhammad SAW dalam kenabian.

Musailamah adalah seorang tokoh dari Bani Hanifah di Yamamah, ia mempunyai kekuatan pasukan perang yang ditakuti oleh kabilah Arab lainnya. Sebelum dipegang Musailamah, pemimpin Yamamah adalah Haudzah bin Ali. Nabi SAW pernah mendakwahi Haudzah untuk memeluk Islam. Sahabat Salith bin al Amiry yang membawa surat dakwah Nabi SAW ini diterima dengan baik dan ramah oleh Haudzah. Ia bersedia memeluk Islam sesuai ajakan Nabi SAW, tetapi mengajukan syarat untuk berbagi kekuasaan. Ia mengirim surat balasan tersebut dan memberikan berbagai macam hadiah bagi Nabi SAW, tetapi beliau tidak menanggapi syarat Haudzah.

Ketika Nabi SAW dalam perjalanan pulang dari Fathul Makkah, beliau mendengar kabar kematian Haudzah dari Malaikat Jibril. Beliau memberitahukan kematian Haudzah kepada para sahabat, kemudian bersabda, “Dari Yamamah ini, akan muncul seorang pendusta yang mengaku sebagai nabi. Dia akan menjadi pembunuh sepeninggalku…”

Ketika ada yang bertanya tentang siapa yang dibunuhnya, beliau bersabda, “Kalian dan teman-teman kalian…..”

Pengakuan Musailamah sebagai nabi dan rasul tersebut ternyata mendapat dukungan cukup besar, khususnya dari pasukannya dan penduduk Yamamah. Dengan kekuatan yang dimilikinya, ia melakukan penyebaran kebohongannya tersebut dan memaksa mereka mempercayainya. Jika menolak, mereka akan mengalami teror dan penyiksaan yang tak terkira. Dan puncak kedurhakaannya adalah ketika ia mengirim surat kepada Nabi SAW untuk menuntut hak kenabian dan kekuasaan karena merasa berserikat dalam kenabian, bahkan dengan kurang ajarnya, ia menulis dalam awal suratnya,”Dari Musailamah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah…..”

Nabi SAW mengirim balasan surat kepada Musailamah untuk membuka kedok kebohongannya, dan agar menghentikan provokasinya kepada masyarakat Arab. Dan pilihan Nabi SAW untuk membawa surat tersebut adalah Habib bin Zaid. Habib tahu betul resiko apa yang akan dihadapinya jika bertemu Musailamah dalam menyampaikan surat Nabi SAW. Tetapi baginya, resiko tersebut tidak ada bedanya dengan menerjuni berbagai pertempuran yang selama ini dilakukannya bersama beliau dan para sahabat lainnya, justru kesyahidan-lah yang selalu didambakannya. Karena itu dengan tegar dan semangat baja, dibawalah langkahnya menuju tempat kediaman Musailamah di Yamamah.

Sesungguhnya telah menjadi etika umum saat itu, seorang utusan tidak boleh dilukai dan dibunuh, semarah apapun kepada mereka dan pengirimnya, kecuali jika ia juga menjadi mata-mata. Tetapi Musailamah memang penipu yang licik dan sombong, yang tidak lagi menghargai etika dalam hubungan antar bangsa dan kabilah. Ketika Habib menyerahkan surat dari Nabi SAW, Musailamah membaca dengan angkuhnya kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Habib dan menyiksanya tanpa peri kemanusiaan.

Keesokan harinya, Musailamah mengumpulkan rakyat Yamamah dan para pendukungnya seperti ketika ada peristiwa dan pertemuan penting. Ia berfikir, setelah siksaan demi siksaan yang ditimpakan kepada Habib, utusan Rasulullah SAW itu akan berubah pikiran dan bersedia mengakui kenabian dirinya, dan ia ingin menunjukkan hal itu kepada rakyat Yamamah untuk mengokohkan kedudukannya.

Setelah rakyat Yamamah berkumpul mengitari suatu panggung yang disiapkan, Habib didatangkan. Masih jelas terlihat bekas-bekas siksaan di tubuhnya, wajahnya tampak lesu dan patah semangat seakan-akan telah menyerah. Musailamah sangat gembira melihat penampilan Habib tersebut, ia sudah sangat “kepedean” bahwa rencananya akan berhasil. Ia menghadap kepada Habib dan berkata, “Apakah engkau mengakui Muhammad itu sebagai utusan Allah?”

“Benar,” Kata Habib, “Saya mengakui Muhammad SAW adalah utusan Allah!!”

Musailamah berkata lagi, “Dan engkau mengakui juga aku sebagai utusan Allah?”

“Apa?” Kata Habib seolah-olah ia orang yang tuli, “Engkau berkata apa? Aku tidak mendengar apapun?”

Wajah Musailamah menjadi merah padam tanda kemarahan mulai menyelimutinya. Tetapi ia masih mencoba mengendalikan dirinya. Sekali lagi ia berkata, “Apakah engkau mengakui Muhammad itu sebagai utusan Allah?”

“Benar, saya mengakui Muhammad adalah utusan Allah!!” Kata Habib.

Dan ketika Musailamah berkata lagi, “Dan engkau mengakui juga aku sebagai utusan Allah?”

Seakan-akan ia orang yang tuli, Habib berkata dengan lantang, “Apa? Engkau berkata apa? Aku tidak mendengar apapun?”

Musailamah memuncak amarahnya, wajahnya menjadi hitam. Ia memerintahkan algojonya untuk menusuk Habib dengan pedangnya, tetapi tidak sampai membunuhnya. Kemudian algojo tersebut menyayat dan memotong tubuh Habib bagian demi bagian, seonggok daging demi seonggok daging, yang kesemuanya itu tidak langsung membunuhnya. Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya, tetapi tidak sedikitpun kata keluhan keluar dari mulut Habib kecuali kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah, hingga ruhnya naik menuju hadirat Allah SWT.

Sebenarnyalah kalau Habib “berpura-pura” mengakuinya, tetapi jauh di dalam hatinya menolak pengakuan tersebut dan memantapkan hatinya atas kalimat tauhid, tentulah ia masih dimaaafkan. Hal ini pernah disampaikan Nabi SAW kepada Ammar bin Yasir, dan juga beliau pernah berkomentar tentang tawanan Musailamah (Lihat kisah “Dua Tawanan Musailamah al Kadzdzab”). Tetapi keimanan telah merasuk ke dalam tulang sum-sumnya sehingga bagi Habib tidak ada kompromi dan tawar-menawar dalam hal keyakinannya akan Allah dan RasulNya.

Berita syahidnya Habib bin Zaid ini sampai ke Madinah, Nabi SAW mendoakan kebaikan bagi Habib, sementara Nusaibah, ibu Habib bin Zaid langsung mengucapkan sumpah untuk melakukan balas dendam kepada Musailamah. Ia berkesempatan mengikuti perang Yamamah di masa Abu Bakar, ia berperan serta memporak-porandakan pasukan Musailamah yang sebelumnya sempat mengalahkan pasukan muslim, tetapi ia tidak sempat membunuh Musailamah, karena telah didahului oleh Wahsyi dengan tombak mautnya, tombak yang juga telah menewaskan paman dan sahabat Nabi SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib di perang Uhud.

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Amr Bin Haram Al Anshary Ra

Abdullah Bin Amr Bin Haram Al Anshary Ra

Abdullah bin Amr bin Haram atau dikenal dengan nama Abu Jabir, adalah sahabat Anshar yang juga pemuka dari bani Salamah, termasuk suku Khazraj. Ia adalah ayah dari sahabat yang banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW, Jabir bin Abdullah. Ibnu Amr bin Haram ini termasuk sahabat Anshar yang mula-mula memeluk Islam, yakni ketika terjadinya Ba’iatul Aqabah kedua, yang dalam peristiwa tersebut, ia ditunjuk sebagai salah satu dari duabelas pemimpin kaum Anshar Madinah. Ia juga termasuk dari Ahlu Badar, sahabat yang mengikuti perang Badar dan mendapat pujian Allah dalam Al Qur’an dan jaminan masuk surga.

Ketika akan berangkat ke perang Uhud, seakan telah mendapat firasat menemui syahid, ia berkata kepada anaknya, Jabir bin Abdullah, “Wahai anakku, sungguh tidak kulihat diriku kecuali aku akan menemui ajal dalam pertempuran ini. Aku tidak rela ada seseorang yang mencintai Rasulullah SAW, yang cintanya lebih besar daripada cintamu kepada beliau, anakku!! Selain itu, aku mempunyai hutang, maka lunasilah hutang-hutang tersebut. Dan aku wasiatkan agar engkau menjaga saudaramu sebaik-baiknya…..!!”

Dalam perang Uhud, Nabi SAW menempatkan limapuluh orang pemanah ulung di atas bukit, yang menjadi titik pertahanan pasukan muslimin dari serangan pasukan kaum kafir Quraisy. Abu Jabir termasuk dalam pasukan pemanah yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair ini. Nabi SAW berpesan agar mereka tetap tinggal di bukit itu, baik dalam keadaan menang atau kalah, kecuali jika beliau sendiri yang memerintahkan mereka untuk turun.

Pertempuran berlangsung beberapa lama, dan pasukan Quraisy dapat dipukul mundur. Mereka berlari meninggalkan gelanggang sekaligus meninggalkan barang-barangnya terserak di medan pertempuran Uhud. Bagaimanapun nyawa lebih penting daripada barang-barang berharga yang dibawanya dalam pertempuran. Para pemanah di atas bukit tampaknya tergiur dengan barang-barang orang Quraisy, dan mereka turun bukit untuk mengambilnya. Abdullah bin Jubair berteriak mengingatkan pesan Nabi SAW, tetapi mereka mengabaikannya, tinggallah hanya sekitar sepuluh orang, termasuk Abu Jabir yang bertahan di atas bukit.

Sekelompok pasukan berkuda Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin Walid, yang sebenarnya telah cukup jauh meninggalkan Uhud melihat keadaan itu. Ia menyadari, kekalahan pasukannya yang lebih besar dan lebih banyak jumlahnya tidak terlepas dari peran para pemanah di atas bukit tersebut. Dengan berkurangnya kekuatan pertahanan di bukit tersebut, Ibnu Walid yakin bahwa ia bisa membalikkan keadaan. Maka ia memerintahkan pasukannya bergerak menaiki bukit tersebut.

Ibnu Jubair, Abu Jabir dan sekitar delapan kawannya menghujani mereka dengan panah untuk menghadang gerakannya, tetapi itu tidak banyak berarti karena panah yang mereka lontarkan tak ubahnya gerimis saja. Dalam sekejab mereka berhadapan dan terjadilah pertempuran tidak seimbang, mereka berjuang mati-matian menghambat laju Khalid dengan tombak dan pedangnya, tetapi akhirnya mereka semua tewas mengenaskan dengan luka-luka yang sangat parah, termasuk Ibnu Amr bin Haram atau Abu Jabir.

Pasukan Khalid bin Walid turun dari bukit dan menyerang pasukan muslim sehingga mereka porak poranda. Melihat manuver Ibnu Walid tersebut, pasukan Quraisy lainnya segera kembali ke arena perempuran dan menyerbu dengan gencarnya sehingga keadaan berbalik jadi kekalahan bagi pasukan muslimin, bahkan keadaan Rasulullah SAW sangat kritis, beliau terluka parah dan terjatuh ke dalam suatu lubang.

Usai perang Uhud, ketika Nabi SAW dan para sahabat memeriksa jenazah para syahid, mereka mendapati wajah Abu Jabir seperti disayat-sayat. Memang, dalam pertempuran Uhud ini kaum kafir Quraisy seakan melampiaskandendam kekalahannya di perang Badar, salah satunya dengan cara merusak jenazah para syahid, seperti yang juga terjadi pada jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW.

Jabir bin Abdullah, saudara-saudaranya, dan beberapa kaum muslimin lainnya mendatangi Uhud setelah pasukan Quraisy meninggalkan arena pertempuran. Ia menangisi jazad ayahnya karena keadaannya yang sangat mengenaskan. Bahkan Fathimah, putri Nabi SAW sempat menjerit melihat keadaan wajah Abu Jabir. Melihat reaksi mereka ini, Nabi SAW bersabda, “Janganlah kalian menangis, sesungguhnya para malaikat terus menerus menaunginya dengan sayap-sayap mereka…!”

Beberapa hari berselang setelah perang Uhud tersebut, Jabir bin Abdullah mendatangi Nabi SAW dan mengatakan bahwa ayahnya yang telah syahid tersebut meninggalkan hutang, dan juga banyak tanggungan keluarga. Ia menyangka ayahnya akan terhalang memperoleh pahala karena tanggungan yang ditinggalkannya tersebut, sebagaimana pernah disabdakan beliau. Tetapi Nabi SAW dengan tersenyum bersabda kepadanya, “Maukah aku beritahukan kabar gembira tentang apa yang dijumpai ayahmu di sisi Allah.”

“Tentu, ya Rasulullah, ” Kata Jabir.

Kemudian Nabi SAW menceritakan bahwa Allah SWT menjadikan Abu Jabir hidup lagi dan mengajaknya berbicara langsung, padahal tidak ada seorangpun yang diajak berbicara oleh Allah melainkan dari balik tabir. Allah berfirman kepadanya, “Wahai hamba-Ku, apa yang engkau inginkan!!”

“Ya Allah,” Kata Abu Jabir, “Kembalikanlah aku ke bumi agar aku dapat berjuang dan sekali lagi gugur syahid di jalan-Mu…!!”

Allah berfirman kepadanya, “Telah tetap ketentuan-Ku, bahwa siapapun yang telah mati, tidak akan dikembalikan lagi ke bumi…!!”

“Kalau memang demikian, Ya Allah, sampaikanlah keadaanku ini kepada orang-orang di belakangku,” Kata Abu Jabir.

Maka turunlah Surah Ali Imran ayat 169-170 sebagai realisasi permintaan Abdullah bin Amr ini. Yakni Allah berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Sebagian riwayat lain menyebutkan, asbabun nuzul ayat tersebut adalah kesedihan sebagian besar sahabat karena syahidnya para sanak saudara mereka dalam Perang Uhud, dan tubuhnya dirusak oleh orang-orang kafir Quraisy. Seolah-olah Allah memberikan hiburan kepada para sahabat yang masih hidup, sekaligus memberi motivasi dan semangat untuk terus berjihad di jalan Allah.

Abu Jabir dimakamkan dalam satu lubang dengan sahabatnya yang juga syahid di Perang Uhud, yakni Amr bin Jamuh. Nabi SAW menyatakan bahwa dua orang itu bersahabat dan saling sayang menyayangi selagi hidup di dunia, sehingga sudah sepantasnya jika mereka tetap bersama dalam satu pemakaman.

Kisah Sahabat#Tsa’labah Bin Abdurrahman Ra

Tsa’labah Bin Abdurrahman Ra

Tsa’labah bin Abdurrahman adalah salah sahabat yang juga seorang pelayan Nabi SAW. Suatu ketika ia melewati rumah seorang wanita Anshar yang kebetulan pintunya terbuka. Spontan Tsa’labah memandang ke dalamnya, dan ternyata wanita Anshar tersebut tengah mandi. Sesaat ia terpesona melihat pemandangan tersebut, dan ketika sadar, ketakutan yang amat sangat menyelimutinya, takut dan malu jika Nabi SAW mengetahui perbuatannya, apalagi bila turun wahyu yang menjelaskan perbuatan maksiatnya. Karena itu ia lari dari kota Madinah dan bersembunyidi pegunungan antara Madinah dan Makkah.

Nabi SAW yang merasa kehilangan sahabat dan pelayannya tersebut. Beliau terus mencari-carinya dan menanyakan kepada para sahabat lainnya, tetapi tidak ada yang mengetahuinya. Setelah empatpuluh hari berlalu tidak ditemukan, Malaikat Jibril datang kepada beliau dan memberitahukan kalau Tsa’labah berada di pegunungan antara Madinah dan Makkah. Maka Nabi SAW menyuruh Umar bin Khaththab dan Salman al Farisi untuk mencari dan membawa Tsa’labah pulang ke Madinah.

Dua orang sahabat tersebut pergi ke tempat yang ditunjukkan Rasulullah SAW, tetapi ternyata tidak mudah untuk menemukan Tsa’labah. Pada suatu malam, mereka bertemu seorang penggembala bernama Dzufafah, dan menanyakan keberadaan sahabat yang menghilang tersebut. Dzufafah berkata, “Mungkin yang kalian maksudkan, adalah pemuda yang ingin lari dari Neraka Jahanam??”

“Bagaimana engkau tahu ia ingin lari dari Jahanam?” Tanya Umar.

“Jika tengah malam menjelang, ia keluar dari kumpulan kami menuju ke atas bukit. Sambil meletakkan tangannya di kepala, ia menangis dan berkata, : Duhai, seandainya Engkau mencabut ruhku di antara berbagai ruh, jasadku di antara berbagai jasad, janganlah Engkau menelanjangiku di hari pengadilan Kiamat kelak…!!”

“Itulah orang yang kami cari…!!” Kata Umar dan Ammar serentak.

Dzufafah mengantar kedua sahabat tersebut ke tempat di mana Tsa’labah berada. Ketika telah bertemu, dan Umar menyampaikan salam Nabi SAW serta tugas yang diberikan kepada mereka, Tsa’labah berkata, “Apakah Rasulullah SAW mengetahui dosaku?”

“Aku tidak tahu,” Kata Umar, “Tetapi beliau menyebut namamu dengan lirih dan sembunyi-sembunyi kemudian mengutusku dan Salman untuk menjemputmu…!!”

“Wahai Umar,” Kata Tsa’labah, “Janganlah engkau pertemukan aku dengan Rasulullah SAW, kecuali saat beliau sedang shalat, atau Bilal sedang mengucapkan : Qad iqamatish shalah!!”

“Baiklah!!” Kata Umar.

Mereka bertiga kembali ke Madinah. Setibanya di sana mereka langsung masuk masjid, saat itu Nabi SAW sedang shalat. Begitu mendengar bacaan Nabi SAW dalam shalat tersebut, Tsa’labah langsung pingsan. Berhari-hari lamanya Tsa’labah menahan kerinduan untuk mendengar dan menatap wajah yang penuh mulia tersebut, tetapi ia juga dilanda ketakutan dan kekhawatiran akan kemarahan Nabi SAW karena perbuatan dosanya. Konflik perasaan yang begitu hebat mencapai puncaknya ketika ia melihat dan mendengar suara Nabi SAW secara langsung, sehingga ia jatuh pingsan.

Setelah mengucap salam menutup shalatnya, Nabi SAW melihat keberadaan Umar dan Salman, dan keduanya membawa beliau kepada Tsa’labah yang sedang pingsan. Nabi SAW meletakkan kepalanya di pangkuan beliau dan beusaha menyadarkannya. Begitu ua sadar, beliau bersabda, “Apa yang membuatmu lari dariku, wahai Tsa’labah!!”

“Dosaku, ya Rasulullah,” Kata Tsa’labah.

“Maukah engkau kuajarkan suatu ayat yang bisa menghapuskan dosa dan kesalahan?” Kata Nabi SAW.

Tsa’labah mengiyakan, dan beliau bersabda, “Ucapkanlah : Allahumma rabbanaa aatinaa fid dunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqinaa adzaabannar.”

“Ya Rasulullah, dosaku lebih besar daripada itu…!!”

“Tetapi Kalamullah pastilah lebih besar…” Kata Nabi SAW meyakinkannya.

Tsa’labah tidak menjawab lagi, walau mungkin ia belum yakin benar. Bukan karena ia tidak percaya dengan ucapan Rasulullah SAW, tetapi lebih karena ia merasa dosanya begitu besarnya, sehingga Allah tidak akan dengan mudah begitu saja mengampuni dosanya. Dalam beberapa riwayat lainnya disebutkan, Tsa’labah tidak hanya melihat, tetapi terjatuh dalam perzinahan dengan wanita tersebut. Melihat keadaannya itu, Nabi SAW menyuruhnya pulang ke rumahnya, tetapi sampai di rumahnya ia jatuh sakit.

Setelah tiga hari menderita sakit dan tidak bangkit dari tempat tidurnya, Salman melaporkan keadaan Tsa’labah kepada Nabi SAW. Beliau mengajaknya mengunjungi rumahnya, dan setibanya di sana, beliau meletakkan kepala Tsa’labah di pangkuan beliau, tetapi Tsa’labah menarik kepalanya. Nabi SAW berkata, “Mengapa engkau menarik kepalamu dari pangkuanku, ya Tsa’labah!!”

“Karena penuh dosa, ya Rasulullah…!” Kata Tsa’labah.

“Apa yang engkau rasakan?”

“Ya Nabiyallah, aku merasa seperti ada semut-semut yang merayap di sekujur kulit dan tulangku!” Kata Tsa’labah.

“Apa yang engkau inginkan?” Tanya Nabi SAW.

“Ampunan Allah…!!”

Maka Nabi SAW memberikan pengajaran kepadanya tentang hakikat dosa dan taubat, tentang keluasan Rahmat Allah dan Maghfirah-Nya, tentang larangan berputus asa dari rahmat Allah, dan beberapa hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Tampak jelas penyesalan di wajahnya, dan airmatanya tak henti mengalir. Tetapi tiba-tiba terbayang lagi satu dosa yang telah dilakukannya itu, Tsa’labah berteriak keras penuh ketakutan dan seketika meninggal dunia.

Nabi SAW mengajak beberapa sahabat mengurus jenazahnya, bahkan beliau sendiri yang memandikan dan mengkafaninya. Usai dishalatkan, beliau ikut memikul jenazahnya ke kuburnya, tetapi beliau berjalan sambil berjingkat. Beberapa sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat engkau berjalan berjingkat, ada apakah kiranya?”

Nabi SAW bersabda, “Aku hampir tidak dapat meletakkan kakiku di tanah karena banyaknya malaikat yang ikut ta’ziah dan mengiring jenazahnya…!”

Kisah Sahabat#Sa’d Bin Ubadah Ra

Sa’d Bin Ubadah Ra

Sa’d bin Ubadah adalah sahabat Anshar pada angkatan pertama, ia memeluk dan mengukuhkan keislamannya di hadapan Nabi SAW pada Ba’iatul Aqabah kedua. Ia seorang tokoh dari suku Khazraj, putra dari Ubadah bin Dulaim bin Haritsah, seorang tokoh yang terkenal kedermawanannya di masa jahiliah. Ubadah bin Dulaim selalu menyediakan makanan bagi tamu dan musafir siang dan malam, pada siang hari ia menugaskan orang untuk mengundang siapa saja untuk makan dirumahnya. Dan pada malam harinya ia menyuruh seseorang lainnya menyalakan api sebagai petunjuk jalan, sekaligus mengundang orang untuk makan malam di rumahnya. Tidak heran jika sifat dan sikap tersebut menurun pada diri anaknya, Sa’d bin Ubadah.

Pada masa awal hijrah di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan orang-orang Muhajirin, yang kebanyakan dalam keadaan miskin karena meninggalkan harta kekayaannya di Makkah dengan seorang sahabat Anshar. Umumnya para sahabat Anshar menjamin dan melayani dua atau tiga orang sahabat Muhajirin, tetapi Sa’d bin Ubadah membawa 80 orang Muhajirin ke rumahnya. Karena kebiasaan sejak nenek moyangnya yang sulit atau tidak bisa ditinggalkannya itu, Sa’d pernah berdoa, “Ya Allah, tiadalah (harta) yang sedikit ini memperbaiki diriku, dan tidak pula baik bagiku….”

Nabi SAW mendengar doanya, dan beliau memahami bahkan sangat memuji sifat dermawannya tersebut. Maka beliau ikut mendoakannya, “Ya Allah, berilah keluarga Sa’d bin Ubadah, karunia dan rahmat-Mu yang tidak terbatas!!”

Karena doa Rasulullah SAW tersebut, Sa’d bin Ubadah beserta keluarganya selalu dilimpahi kelebihan harta sehingga “tradisi” kedermawanan seolah menjadi “brandmark” keluarga besar ini. Putranya, Qais bin Sa’d juga mempunyai “kegemaran” yang sama, bahkancenderung berlebihan dalam bersedekah pada usianya yang masih sangat muda. Sa’d tidak pernah melarang atau mencegahnya, sehingga Abu Bakar dan Umar pernah memperbincangkan “gaya hidup” pemuda tersebut dengan berkata, “Kalau kita biarkan pemuda ini dengan kedermawanan dan kepemurahannya, pastilah akan habis tandas kekayaan orang tuanya….!”

Ketika pembicaraan tersebut sampai kepada Sa’d bin Ubadah, ia berkata, “Siapakah yang dapat membela/memberi hujjah diriku atas Abu Bakar dan Umar? Diajarkannya kepada anakku bersikap kikir dengan memakai namaku…!”

Sa’d bin Ubadah juga terkenal sebagai tokoh Madinah yang sering memberikan perlindungan dan menjamin keamanan perdagangan dari mereka yang lewat atau berkunjung di Madinah, termasuk kafilah dagang kaum Quraisy. Ada peristiwa menarik yang terjadi pada Ba’iatul Aqabah kedua.

Sekitar tujuh puluh lima atau lebih orang Yatsrib yang berba’iat kepada Nabi SAW sebenarnya hanya sebagian saja dari rombongan haji (tradisi jahiliah) dari kota tersebut yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketika ba’iat yang dilakukan pada sepertiga malam akhir di salah satu hari tasyriq telah selesai, tiba- tiba ada orang yang memergoki pertemuan tersebut dan berteriak memanggil kaum Quraisy. Nabi SAW segera menyuruh mereka kembali ke perkemahannya, berbaur dengan kaum musyrikin Yatsrib lainnya dan pura-pura tidur.

Pada pagi harinya ketika kaum Quraisy mendatangi perkemahan orang Yatsrib untuk mengecek kebenaran berita tentang pertemuan (sebagian) mereka dengan Nabi SAW, dan tentu saja Abdullah bin Ubay menolak dengan keras ‘tuduhan’ tersebut. Memang, selama ini penduduk Yatsrib selalu memberitahukan kepada Abdullah bin Ubay, tindakan dan keputusan yang mereka ambil, mereka tidak berani melangkahinya begitu saja. Tetapi pada peristiwa ini, untuk pertama kalinya mereka menyembunyikan sikapnya dari pemimpinnya tersebut, yang kemudian hari menjadi pimpinan dan tokoh dri kaum munafik. Kaum kafir Quraisy tidak bisa berbuat banyak dengan penolakannya itu, tetapi diam-diam mereka melakukan penyelidikan.

Ketika musim haji telah selesai dan para peziarah telah pulang ke daerahnya masing-masing, kaum kafir Quraisy memperoleh bukti dan saksi kuat bahwa orang-orang Yatsrib memang terlibat dalam pertemuan tersebut. Merekamelakukan pengejaran, tetapi terlambat, hanya saja mereka mendapati dua orang yang tertinggal, yakni Sa’d bin Ubadah dan Mundzir bin Amir. Mereka melepaskan Mundzir karena tampak lemah, sedang Sa’d diikat dan dibawa kembali ke Makkah.

Sampai di Makkah, Sa’ddikerumuni, lalu dipukul dan disiksa layaknya kalangan miskin di Makkah yang memilih memeluk Islam, padahal ia adalah tokoh terpandang dan dermawan yang sangat dihormati di Madinah. Inilah sahabat Anshar pertama yang disiksa karena keislamannya, atau bisa jadi Sa’d satu-satunya sahabat Anshar yang “menikmati” pengalaman pahit sahabat muhajirin yang memeluk Islam, yakni penyiksaan tokoh-tokoh kaum kafir Quraisy. Ketika penyiksaan makin memuncak dan ia mulai tampak lemah, ada seseorang yang berkata kepadanya, “Tidak adakah kalangan di antaramu yang mengikat jaminan perlindungan dengan salah seorang Quraisy?”

“Ada..!!” Kata Sa’d bin Ubadah.

“Siapa orang Quraisy itu?”

“Jubeir bin Muth’im dan Harits bin Harb bin Umayyah…!”

Sa’d bin Ubadah memang pernah memberikan jaminan perlindungan kepada kafilah dagang mereka berdua ketika melewati Madinah, bahkan menjamu mereka dengan baik. Lelaki itu menghubungi kedua tokoh Quraisy tersebut dan mengabarkan tentang lelaki Khazrajbernama Sa’d bin Ubadah yang disiksa. Segera saja keduanya datang ke tempat penyiksaan dan membebaskan Sa’d dari tangan-tangan jahat orang kafir Quraisy.

Sa’d segera meninggalkan Makkah menyusul rombongan haji Yatsrib, khususnya sekelompok orang yang telah memeluk Islam. Mereka ini harap-harap cemas menunggu kedatangan Sa’d dan berembug untuk kembali ke Makkah menyusul Sa’d. Tetapi belum sempat mereka mewujudkan niat tersebut, terlihat Sa’d datang dalam keadaan luka dan lemah.

Sa’d bin Ubadah adalah seorang yang mempunyai karakter keras dan teguh pendirian, tidak mudah digoyahkan oleh pendirian dan pendapat orang lain. Pengalaman pahit setelah Ba’iatul Aqabah kedua tersebut makin mengukuhkan kekerasan sikapnya dalam membela Nabi SAW dan Islam, terkadang terlihat menjadi ekstrim seperti yang terjadi saat Fathul Makkah.

Fathul Makkah, berawal dari pelanggaran kaum Quraisy atas perjanjian Hudaibiyah. Bani Bakr yang menjadi sekutu Quraisy menyerang Bani Khuza’ah yang menjadi sekutu Nabi SAW di Madinah, bahkan kaum Quraisy diam-diam memberikan dukungan senjata dan personal kepada Bani Bakr. Ketika orang-orang Bani Khuza’ah berlindung ke tanah suci Makkah yang memang diharamkan menumpahkan darah di sana, mereka tetap membunuhnya, dan kaum Quraisy sebagai “pengelola” tanah suci Makkah membiarkan itu terjadi.

Beberapa orang Bani Khuza’ah pergi melaporkan peristiwa tersebut kepada Nabi SAW di Madinah. Beliau-pun menghimpun pasukan besar berbagai kabilah, dan masing-masing dipimpin oleh tokoh kabilahnya. Dan bendera kaum Anshar diserahkan kepada Sa’d bin Ubadah. Ketika mulai memasuki Kota Makkah, terbayanglah di pelupuk matanya bagaimana Nabi SAW dan para sahabat pada masa awal mengalami berbagai siksaan dan ancaman dari kaum kafir Quraisy. Terbayang juga bagaimanaperilaku mereka ketika merusak dan menyayat jenazah para syahid di medan perang Uhud. Bahkan masih jelas terasa siksaan yang dialaminya ketika ia selesai mengikuti Ba’iatul Aqabah kedua. Karena itu ia berkata, “Hari ini hari berkecamuknya perang, hari ini dihalalkan hal yang disucikan, hari ini Allah akan menghinakan Quraisy!!”

Perkataannya ini terdengar oleh Abu Sufyan yang merupakan pucuk pimpinan kaum Quraisy, walau saat itu ia telah mulai tertarik untuk memeluk Islam, dan melaporkannya kepada Nabi SAW. Utsman dan Abdurrahman bin Auf juga mengkhawatirkan sikapnya, bahkan Umar bin Khaththab berkata, “Ya Rasulullah, dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Sa’d bin Ubadah, saya khawatir kalau-kalau ia akan menyerang kaum Quraisy hingga tumpas…!!”

Mendengar pendapat-pendapat tersebut, Nabi bersabda, “Justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah, dimuliakannya kaum Quraisy…”

Setelah itu Nabi SAW mengirim utusan untuk memerintahkan Sa’d menyerahkan bendera Anshar kepada anaknya, Qais bin Sa’d. Sebagian riwayat menyebutkan bendera tersebut diserahkan kepada Ali atau Zubair bin Awwam. Tentu saja dengan senang hati Sa’d memenuhi perintah Nabi SAW tersebut, karena apa yang dikatakannya, hanyalah ekspresi dirinya dalam rangka membela Nabi SAW dan Islam, bukan sikap dendam pribadi.

Sikap tegas dan jauh dari kemunafikan tampak pada diri Sa’d bin Ubadah seusai perang Hunain. Pada pertempuran tersebut, banyak sekali ghanimah (rampasan perang) yang diperoleh pasukan muslim, tetapi Nabi SAW mendahulukan membagikannya kepada orang-orang Quraisy yang baru memeluk Islam, bahkan ada yang masih menunda memeluk Islam, padahal pada awal peperangan mereka ini sempat meninggalkan arena pertempuran. Sementara kepada kaum Anshar, beliau tidak menyisakan sedikitpun dari ghanimah tersebut, padahal justru mereka yang banyak berperan melindungi Nabi SAW, dan akhirnya berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan pertempuran.

Para sahabat Anshar hanya berbisik-bisik memperbincangkan sikap beliau tanpa berani menyampaikannya kepada Nabi SAW. Keadaan ini tidak disukai oleh Sa’d, karena itu ia menghadap Nabi SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, golongan Anshar merasa kecewa atas sikap engkau dalam hal harta rampasan (ghanimah) yang kita peroleh. Engkau membagi-bagikan kepada kaummu dan pemimpin-pemimpin Quraisy secara berlebih, sementara kepada kaum Anshar engkau tidak memberikan sedikitpun…”

Nabi SAW tersenyum mendengar perkataan Sa’d yang terus terang tersebut, dan bersabda, “Bagaimana dengan dirimu (sikapmu) sendiri wahai Sa’d?”

“Ya Nabiyallah, aku ini tidak lain hanyalah salah satu dari kaumku saja…!!”

Nabi SAW memerintahkan Sa’d mengumpulkan kaum Anshar di suatu tempat. Sa’d melaksanakan perintah beliau, beberapa orang Muhajirin ingin ikut serta tetapi Sa’d menolaknya, tetapi pada sebagian yang lain Sa’d membolehkan mereka hadir dalam kumpulan kaum Anshar tersebut. Setelah semua berkumpul, Sa’d menjemput Nabi SAW.

Di majelis kaum Anshar ini Nabi SAW berbicara panjang lebar mengenai apa yang menjadi ganjalan dan beban terpendam dalam diri mereka soal ghanimah, beliau juga mengingatkan tentang masa jahiliah dan keislaman mereka. Terlalu panjang untuk dijabarkan pada kisah Sa’d ini, tetapi pada ujungnya, Nabi SAW seolah menetapkan bagaimana sebenarnya ketinggian dan keutamaan kaum Anshar di mata Allah dan Rasul-Nya, dan itu semua tidak terlepas dari “keberanian” Sa’d berterus terang kepada beliau walaupun tampaknya kurang sopan dan tidak etis.

Antara lain Nabi SAW bersabda, “….Tidakkah kalian rela, wahai kaum Anshar, mereka pulang membawa unta, domba dan harta lainnya, sedang kalian pulang membawa Rasulullah ke tanah tumpah darah kalian. Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, kalau tidaklah karena hijrah, tentulah aku ini termasuk kaum Anshar. Jika orang-orang menempuh jalan di celah gunung, dan orang Anshar menempuh jalan di celah lainnya, tentulah aku mengikuti jalan yang ditempuh orang-orang Anshar……Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak orang-orang Anshar, cucu orang-orang Anshar, generasi demi generasi…..”

Orang-orang Anshar, termasuk Sa’d menangis sesenggukan mendengar penjelasan Nabi SAW tersebut, hingga air mata membasahi jenggot-jenggot mereka. Dengan haru mereka berkata, “Kami ridha dengan pembagian Allah dan Rasul-Nya….!!”

Ketika Nabi SAW wafat, dan para tokoh muslimin bertemu di saqifah Bani Saidah untuk menentukan khalifah pengganti beliau, Sa’d berdiri pada kelompok sahabat Anshar yang menuntut agar kekhalifahan dipegang kaum Anshar. Tetapi ketika musyawarah mengarah kepada dipilihnya Abu Bakar, yang memang sudah sangat dikenal keutamaannya di sisi Rasulullah SAW, ia bersama kaum Anshar yang mendukungnya dengan ikhlas hati berba’iat kepada Abu Bakar dan melepaskan tuntutannya.

Ketika Abu Bakar wafat dan Umar terpilih sebagai khalifah, Sa’d ikut berba’iat kepadanya. Hanya saja ia sadar, Umar mempunyai watak keras dan teguh pendirian seperti dirinya juga, yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi perbenturan yang berakibat buruk. Sangat mungkin terjadi perpecahan karena kaum Anshar pasti akan berdiri di belakangnya menghadapi Umar, karena itu, ia bermaksud pindah dari tanah kelahiran yang dicintainya. Namun seolah tidak ingin kehilangan sikap terus terangnya dan takut dihinggapi kemunafikan, ia mendatangi Umar dan berkata, “Demi Allah, sahabat anda, Abu Bakar lebih aku sukai daripada anda…!!”

Setelah itu Sa’d pergi ke Syria (Syam), tetapi ketika ia singgah di Hauran (sudah termasuk wilayah Syam), ia sakit dan meninggal dunia di sana.

Kisah Sahabat#Zaid Al Khoir Ra

Zaid Al Khoir Ra

Zaid al Khoil, seorang badui (dari desa atau pedalaman padang pasir Arabia) yang telah memeluk Islam datang ke Madinah untuk menemui Nabi SAW. Setelah menambatkan untanya di depan masjid dan menyampaikan salam kepada Nabi SAW, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya telah melelahkan kendaraanku selama sembilan hari. Setelah itu saya menuntunnya lagi selama enam hari secara terus menerus. Berpuasa di siang hari dan jarang tidur di malam harinya, sehingga tungganganku sangat lelah. Semua itu saya lakukan hanya untuk menanyakan dua masalah yang merisaukan saya sehingga saya susah tidur….!!”

Nabi SAW memandang lelaki badui itu dengan kagum, seorang muslim sederhana yang telah berjuang begitu beratnya menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh penjelasan langsung dari Nabi SAW tentang dua masalah. Beliau bersabda, “Siapakah engkau?”

“Zaid al Khoil (Zaid, sang unta)…” Kata Zaid.

Tampaknya Nabi SAW kurang berkenan dengan namanya tersebut, seolah-olah kurang jelas mendengar jawabannya, beliau bersabda, “Oh, jadi namamu Zaid al Khoir (Zaid, yang penuh kebaikan)…!!”

Jelas sekali kalau Nabi SAW ingin mengganti namanya, dan Zaid sangat senang dengan penamaan Nabi SAW tersebut. Ia berkata, “Benar, ya Rasulullah, saya Zaid al Khoir!!”

Setelah itu beliau berkata lagi, “Tanyakanlah..!! Kemungkinan sesuatu yang sukar itu sudah pernah ditanyakan kepadaku sebelumnya…”

Zaid berkata, “Saya ingin bertanya kepadamu tentang tanda orang yang disukai Allah dan tanda orang yang dimurkai-Nya..!”

“Untung…Untung…” Kata Nabi SAW, tampak sekali kegembiraan beliau atas pertanyaan tersebut, tidak salah kalau namanya memang ‘Al Khoir’. Kemudian beliau bertanya lagi, “Bagaimana keadaanmu kini, hai Zaid?”

Zaid menjawab, “Saya sekarang ini senang dengan amal kebaikan, senang dengan orang-orang yang mengamalkan kebaikan, dan senang dengan tersebarnya amal kebaikan. Saya menyesal jika tertinggal akan amal kebaikan dan rindu untuk melakukan kebaikan. Jika saya melakukan kebaikan, sedikit atau banyak, saya yakin akan pahalanya….!!”

Nabi SAW bersabda, “Ya itu, itulah dia tandanya….andaikata Allah tidak suka kepadamu, tentu engkau disiapkan untuk melakukan hal yang lain (yang berlawanan) dari yang kaukatakan itu, dan Dia tidak akan perduli di jurang mana engkau akan binasa….”

“Cukup, cukup, ya Rasulullah…!!” Kata Zaid, seolah ia tidak ingin beliau menjelaskan lebih lanjut.

Setelah mengucap terima kasih dan mengucapkan salam perpisahan, Zaid keluar dari masjid dan menaiki kendaraannya, dan memacunya pulang.

Wajah Nabi SAW makin bersinar saja tanda beliau sangat gembira. Bagaimana tidak gembira? Musafir dari jauh ini tidak setiap saat bertemu dan bergaul dengan Nabi SAW, tetapi dia bisa merasakan nuansa kasih sayang Allah begitu mendalam, sebagaimana yang dirasakan sahabat-sahabat yang selalu hadir di sekitar sosok “Rahmatan lil ‘alamin” ini, Nabi Muhammad SAW.

Kisah Sahabat#Kultsum Bin Hikam Ra

Kultsum Bin Hikam Ra

Dalam suatu pasukan atau misi dakwah yang dikirim Rasulullah SAW, Kultsum bin Hikam ditugaskan beliau sebagai imam dalam melaksanakan shalat. Ia mempunyai kebiasaan unik, setiap selesai membaca Al Fatihah dan surat yang dipilihnya, ia selalu menutupnya dengan membaca surat al Ikhlas (Qul huwallahu ahad…dst) sebelum ruku, pada setiap rakaat pada semua shalatnya.Beberapa orang anggota pasukan sempat memperbincangkan masalah tersebut. Mereka menganggapnya sebagai hal baru yang dibuat-buat (bid’ah) karena Nabi SAW tidak pernah melakukannya. Tetapi mereka juga tidak berani menegur karena ia merupakan imam pilihan Nabi SAW.

Ketika kembali ke Madinah, barulah mereka melaporkan hal tersebut kepada Nabi SAW tentang kebiasaan unik Kultsum tersebut. Atas pengaduan ini, beliau bersabda, “Tanyakanlah langsung kepadanya mengapa ia berbuat demikian..!!”

Mereka segera menemui Kultsum dan menanyakan alasannya berbuat seperti itu sebagaimana diperintahkan Nabi SAW. Kultsum berkata, “Karena dalam ayat-ayat tersebut (yakni surat al Ikhlas), terdapat kandungan sifat Dzat Yang Maha Pemurah, maka saya senang sekali membacanya dalam shalat…!!”

Mereka membawa jawaban Kultsum ini kepada Nabi SAW, dan beliau bersabda, “Kabarkanlah kepadanya (Kultsum), bahwa Allah SWT mencintai dirinya karena kebiasaannya dalam shalat itu…!!”

Sungguh keberuntungan bagi Kultsum, mungkin hanya ijtihadnya sendiri membaca Surat al Ikhlas dalam setiap rakaat shalat, dengan dalih adanya sifat Pemurah Allah dalam surat tersebut. Tetapi ternyata itu menjadi sebab ia dicintai Allah SWT.

Kisah Sahabat#Usamah Bin Zaid Ra

Usamah Bin Zaid Ra

Usamah bin Zaid adalah putra dari sahabat kesayangan Rasulullah SAW, Zaid bin Haritsah, yang beliau pernah menjadikannya sebagai anak angkat, dari status sebelumnya sebagai budak dan pelayan beliau. Ibunya-pun adalah orang yang dekat dan disayang Rasulullah SAW, Ummu Aiman, bekas sahaya beliau. Keduanya merupakan orang-orang yang mula-mula memeluk Islam, sehingga tak heran Usamah-pun menjadi kesayangan beliau seperti juga ayahnya.

Usamah lahir pada tahun ketiga atau keempat dari kenabian, sehingga praktis ia ia tidak pernah mengalami masa jahiliah. Didikan masa kecil dan remajanya adalah akhlak kenabian, baik dari kedua orang tuanya yang adalah didikan Nabi SAW, atau bahkan terkadang beliau turun langsung dalam membentuk akhlak Usamah. Kondisi seperti inilah yang menambah rasa sayang beliau kepadanya.

Beberapa sahabat-pun sangat sayang pada remaja ini melebihi anaknya sendiri, seperti yang terjadi pada Umar bin Khaththab. Saat menjadi khalifah, Umar pernah membagi-bagikan uang pada masyarakat, dan jumlahnya berbeda-beda berdasarkan kedudukan dan jasa mereka kepada Islam, dan juga penilaian Nabi SAW atas mereka. Ketika tiba giliran anaknya, Abdullah bin Umar, ia memberikan satu bagian. Giliran Usamah bin Zaid, Umar memberikannya dua bagian dari bagian anaknya.

Abdullah bin Umar jadi bertanya-tanya, bukan masalah jumlahnya karena pada dasarnya ia juga didikan Nabi SAW yang mengutamakan kehidupan zuhud dan sederhana seperti juga Umar, ayahnya. Hanya saja ia takut ada yang kurang dalam amal ketaatan dan kesalehannya, karena itu ia bertanya, “Wahai ayah, mengapa engkau mengutamakan Usamah dibanding anakmu sendiri? Bukankah saya mengikuti pertempuran yang tidak atau belum diikutinya bersama Rasulullah??”

Tetapi jawaban Umar tegas dan tidak dapat dibantah lagi, ia berkata, “Usamah lebih dicintai Rasulullah daripada dirimu, seperti juga ayahnya lebih disayang Rasulullah daripada ayahmu….!!”

Dalam usianya yang masih sangat muda, ia telah ikut menerjuni beberapa pertempuran bersama Nabi SAW. Dalam Fathul Makkah, ketika Nabi SAW akan memasuki Ka’bah, beliau membawa Bilal di sisi kanan dan Usamah bin Zaid di sisi kiri beliau. Sungguh kehormatan besar yang diberikan Nabi SAW kepada keduanya, bukan Abu Bakar atau Umar, atau delapan sahabat lainnya yang telah beliau jamin masuk surga. Dua orang itu adalah bekas budak yang secara umum, mungkin kedudukannya tampak rendah di masyarakat.

Nabi SAW pernah mengirimkan suatu pasukan di bawah kepemimpinan Usamah bin Zaid, pengalaman pertamanya memimpin suatu pasukan setelah sebelumnya hanya sebagai prajurit biasa. Pasukannya ini memperoleh kemenangan gemilang, dan sebagai orang yang disayang, Nabi SAW langsung menyambutnya dan memintanya menceritakan pengalamannya. Mulailah Usamah menceritakan jalannya pertempuran. Tampak wajah Nabi SAW berseri karena senangnya dengan apa yang dijalani “Kesayangan Rasulullah SAW, putra dari kesayangan Rasulullah SAW”, begitu kebanyakan sahabat menyebut Usamah bin Zaid ini.

Ketika Usamah menceritakan, bahwa seorang pemanggul panji musyrik yang perkasabanyak membunuh dan melukai tentara muslim sehingga pedangnya berlepotan darah dan daging para syahid masih menempel. Usamahpun mengejar dan memerangi langsung orang tersebut. Ia berhasil melumpuhkannya, tetapi ketika ia akan melakukan pukulan terakhir dengan tombaknya, orang tersebut mengucap “La ilaaha illallah”. Usamah sempat bimbang, tetapi dipikirnya, itu hanya siasat untuk menyelamatkan diri saja, karena itu ia terus menombaknya hingga tewas.

Tiba-tiba saja wajah Nabi SAW berubah merah padam tanda beliau marah, beliau berkata, “Celaka engkau wahai Usamah, begitukah tindakanmu terhadap orang yang mengucap ‘La ilaaha illallah’??”

“Wahai Rasulullah,” Kata Usamah mencoba menjelaskan dan membela diri, walau dengan ketakutan, “Dia mengatakan kalimat itu hanya untuk menyelamatkan diri saja….!!”

“Begitu!!” Kata Nabi SAW, masih dengan nada tinggi, pertanda beliau masih marah, “Mengapa tidak engkau belah dadanya dan engkau lihat apakah ia mengatakannya itu ikhlas dari hatinya atau karena pura-pura semata??”

Memang, bukanlah hak dan kewajiban kita menilai apa yang ada di dalam hati seseorang, apa yang tampil dan terlihat itu saja yang menjadi ukuran kita dalam mengambil sikap. Itulah pelajaran berharga yang ingin disampaikan Nabi SAW pada pemuda kesayangan beliau tersebut, sekaligus kepada kita semua.

Atas peristiwa tersebut, Nabi SAW menyatakan Usamah telah bersalah, tetapi tidak ditetapkan qishas (hukum bunuh, dipancung) atas dirinya, karena “pembunuhan” yang dilakukannya tidak sengaja, hanya suatu kesalahan. Nabi SAW mengumpulkan harta benda untuk membayar diyat (seratus ekor unta) kepada keluarga pemanggul panji musyrik yang mengucap “La ilaaha illallaah” tersebut.

Usamah sendiri tak henti-hentinya bertobat dan menyesali “kelancangannya” tersebut, sehingga menyebabkan Nabi SAW begitu murka kepadanya, walaupun kemudian beliau mendoakan untuk mendapat rahmat dan maghfirah Allah baginya. Tetapi setiap kali mengingat peristiwa tersebut, selalu saja ia menangis dan menyesal sambil berkata, “Amboi, andai saja ibuku tidak pernah melahirkan diriku…..!!”

Beberapa hari sebelum wafat, Nabi SAW menghimpun pasukan besar yang akan dikirim ke Syam, tepatnya di wilayah Palestina, pada tempat bernama Abna. Latar belakang pengiriman pasukan ini adalah terbunuhnya Farwah bin Amr al Judzami, bekas komandan pasukan Arab yang berpihak Romawi, yang juga gubernur Ma’an karena keputusannya memeluk Islam. Ia disalib dan dipenggal kepalanya oleh penguasa Romawi di Palestina.

Pasukan besar tersebut terdiri dari pejuang-pejuang senior dari kaum Muhajirin dan Anshar ini, termasuk Umar bin Khaththab dan para Ahlul Badr lainnya. Nabi SAW memutuskan pimpinan pasukan diserahkan kepada Usamah bin Zaid. Keputusan beliau ini ternyata menimbulkan perbincangan dan kritikan dari beberapa orang sahabat. Yang paling keras komentarnya adalah Ayyasy bin Abi Rabiah, ia berkata, “Anak kecil itu menjadi komandan dan amir dari kaum muhajirin awal??”

Saat itu Nabi SAW telah sakit cukup parah dan beliau tidak mengetahui secara langsung perbincangan pro-kontra yang terjadi dan berkembang di masyarakat Madinah. Ketika Umar mengabarkan hal tersebut, beliau bangkit dan mengikat kepala beliau dengan sorban untuk mengurangi rasa sakit. Sambil memakai selimut, beliau naik ke atas mimbar di mana orang-orang sedang berkumpul. Setelah memuji Allah, beliau bersabda, “Telah kudengar sebagian dari kalian mengecam kepemimpinan Usamah. Demi Allah, jika kalian mengecamdirinya, berarti kalian mengecam bapaknya. Demi Allah, sungguh ia (Zaid bin Haritsah) layak sebagai pemimpin, dan sepeninggal bapaknya, putranya sangat layak sebagai pemimpin. Dan sungguh, Zaid adalah orang yang sangat aku kasihi, demikian juga Usamah. Keduanya layak untuk mendapat semua kebajikan, karena itu, berwasiatlah kalian dalam kebajikankarena ia adalah sebaik-baiknya orang di tengah kalian…!!”

Peristiwa tersebut terjadi pada hari sabtu tanggal 10 Rabi’ul Awal. Setelah khutbah beliau itu, para sahabatyang ikut dalam pasukan tersebut berpamitan kepada Nabi SAW, termasuk Umar bin Khaththab. Hari Ahadnya, Usamah menemui Nabi SAW, keadaan sakit beliau makin parah dan sempat pingsan. Setelah siuman, Usamah membungkuk dan mencium beliau sambil matanya berkaca-kaca. Tetapi Nabi SAW hanya mengangkat tangannya, seakan-akan berdoa, kemudian beliau mengusapkannya ke wajah Usamah. Usamah menangkap isyarat tersebut sebagai doa restu untuk keberangkatannya, ia pun berangkat menuju tempat pasukan berkumpul di Jurf, sebuah tempat tidak jauh di luar Madinah, sekitar tiga mil.

Senin pagi tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 hijriah, seharusnya ia memberangkatkan pasukannya ke Palestina, tetapi Usamah merasa tidak tenang dengan kondisi Nabi SAW yang ditinggalkannya kemarin. Karena itu ia kembali ke rumah Nabi SAW, dan setibanya disana, beliau tampak sehat, Usamah-pun gembira. Beliau sekali lagi mendoakan Usamah, kemudian bersabda, “Berangkatlah engkau dengan berkat dari Allah…!!”

Usamah kembali ke pasukannya di Jurf, ia segera mempersiapkan diri untuk segera berangkat. Tetapi belum sempat bergerak, datang utusan dari ibunya, Ummu Aiman, yang memberi kabar bahwa Nabi SAW telah wafat. Usamah memerintahkan pasukan untuk kembali ke Madinah. Buraidah bin Hushaib, sahabat yang diperintahkan Nabi SAW membawa dan menyerahkan panji ke rumah Usamah, membawanya kembali dan menancapkannya di sebelah rumah beliau.

Setelah wafatnya Nabi SAW dan Abu Bakar terpilih jadi khalifah, wacana pasukan yang dipimpin Usamah kembali mengemuka. Sebagian sahabat yang dipimpin Umar bin Khaththab berpendapat bahwa pengiriman pasukan tersebut harus dibatalkan, karena banyak sekali kabilah yang murtad dan bersiap menyusun kekuatan kembali untuk lepas dari pemerintahan Islam di Madinah. Mereka ini khawatir jika kabilah-kabilah tersebut menyerang Madinah. Usamah sendiri berada dalam kelompok ini, karena pendapat tersebut yang paling masuk akal. Tetapi bukan Ash-Shiddiq namanya kalau Abu Bakar hanya menuruti pendapat yang hanya berdasar logika semata, karena itu ia berkeras mengirim pasukan tersebut sesuai perintah Nabi SAW.

Setelah gagal mempengaruhi Khalifah baru untuk membatalkan keberangkatan pasukan ke Palestina, muncullah wacana kedua, yakni penggantian pimpinan pasukan karena Usamah hanya seorang pemuda 20 tahunan. Di antara personal pasukan tersebut terdapat sahabat-sahabat utama yang ikut terjun dalam pertempuran bersama Nabi SAW di dalam perang Badar, Uhud dan peperangan lainnya yang cukup terkenal kepahlawanannya, misalnya saja Sa’d bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Jarrah, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan lain-lainnya termasuk Umar sendiri, mereka itu yang lebih pantas menjadi komandan. Sekali lagi, tokoh pengusul ini adalah Umar bin Khaththab, dan kali ini reaksi Abu Bakar cukup keras, “Celaka engkau wahai Ibnu Khaththab!! Pantaskah saya memecat seseorang sebagai komandan pasukan (yakni Usamah bin Zaid), padahal Rasulullah SAW sendiri yang telah mengangkatnya??”

Dengan reaksi yang begitu keras dan tegas ini, para sahabat tidak ada lagi yang berani mengemukakan pendapat. Abu Bakar yang biasanya mereka kenal lemah lembut dan gampang menangis, tiba-tiba menjadi begitu keras dan tegas. Tetapi sikap seperti itulah yang memang diperlukan di saat kondisi kaum muslimin sedang labil karena wafatnya Rasulullah SAW.

Abu Bakar berkata, “Berangkatkanlah pasukan Usamah, sesungguhnya aku tidak perduli jika binatang-binanang buas akan menerkam dan mencabik-cabikku di Madinah karena berangkatnya pasukan tersebut. Sesungguhnya telah turun wahyu kepada Nabi SAW, ‘Berangkatkan pasukan Usamah!!’, dan aku tidak akan mengubah keputusan beliau. Hanya sajaaku meminta kepada Usamah agar mengijinkan Umar tinggal di Madinah karena aku memerlukan buah pikirannya untuk membantuku di sini. Tetapi jika Usamah tidak mengijinkan aku tidak akan memaksanya lagi…..!!”

Tentu saja dengan senang hati Usamah ‘mengijinkan’, atau lebih tepatnya memenuhi permintaan Abu Bakar tersebut agar Umar tetap tinggal di Madinah.

Pasukan Usamah kembali bergerak ke arah Jurf, tempat dimana Nabi SAW telah menetapkan untuk berkumpul. Abu Bakar mengiring keberangkatan pasukan dengan berjalan kaki dan menuntun tunggangan Usamah, sedang tunggangan Abu Bakar dituntun oleh Abdurrahman bin Auf. Abu Bakar juga sempat berkata, “Siapapun mereka yang pernah ditunjuk Rasulullah untuk berangkat bersama Usamah, janganlah sampai tertinggal. Demi Allah, tidaklah didatangkan kepadaku orang yang tertinggal tersebut, kecuali aku akan memerintahkan dirinya menyusul Usamah dengan berjalan kaki…..!!!!”

Usamah merasa tidak enak dengan Abu Bakar yang berjalan kaki, apalagi menuntun tunggangannya layaknya seorang budak atau penunjuk jalan saja. Ia berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, naikilah tungganganmu, atau aku akan turun saja berjalan kaki bersamamu…!!”

“Jangan…!!” Kata Abu Bakar, “Tetaplah engkau di tungganganmu, aku ingin kakiku berdebu di jalan Allah, karena menurut Nabi SAW, untuk setiap langkah di jalan Allah itu akan dituliskan tujuhratus kebaikan, dinaikkan tujuhratus derajad, dan akan dihapuskan tujuhratus kesalahan…”

Usamah membawa pasukannya menyusuri kabilah demi kabilah, baik yang tetap memeluk Islam, atau yang ragu-ragu dan bersiap-siap untuk murtad. Rombongan besar pasukan Usamah ini ternyata memunculkan logika tersendiri pada mereka sehingga mereka berteguh memeluk Islam. Sebelumnya mereka mengira dengan wafatnya Nabi SAW, Madinah akan menjadi lemah dan tak mampu lagi memerangi musuh-musuhnya. Tetapi melihat besarnya pasukan yang dikirim ke perbatasan Romawi di Abna, Palestina ini, mereka berfikir, pasukan yang mempertahankan Madinah tentunya akan lebih besar lagi. Apalagi, ternyata Abu Bakar juga mengirim beberapa pasukan dari personal yang tertinggal di Madinah untuk memerangi kabilah-kabilah yang murtad dan yang menolak membayar zakat.

Kedatangan pasukan Usamah ternyata mengejutkan pasukan Romawi di Palestina yang telah mengeksekusi Farwah bin Amr al Judzami. Mereka sama sekali tidak menyangka kedatangan pasukan sebesar itu setelah wafatnya Nabi SAW. Mereka telah begitu mengenal bagaimana sikap heroik dan semangat tempur pasukan muslim dan tidak mau beresiko menghadapi pasukan muslim pimpinan Usamah. Karena itu mereka memilih melarikan diri dan meninggalkan barang ghanimah yang banyak bagi pasukan Usamah.

Kemenangan pasukan Usamah memberikan dukungan psikologis yang positif terhadap kelangsungan Islam ketika Nabi SAW wafat. Mungkin beliau telah menerima isyarat bagaimana suasana masyarakat Islam ketika beliau wafat, dan kekacauan yang akan terjadi. Karena itu, tampak sekali beliau “memaksakan” untuk membentuk dan mengirim pasukan Usamah, walau saat itu keadaan beliau sakit parah. Dan terbukti kemudian nubuwah ini, bahwa perintah beliau memberikan manfaat besar bagi umat Islam di masa kritis pergantian pimpinan pemerintahan Islam ke khalifah Abu Bakar.

Karena pengalamannya mendapat celaan Rasulullah SAW, Usamah jadi sangat berhati-hati dalam urusan jiwa manusia. Ketika terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, ia mengurung diri di rumahnya. Sebenarnya ia mengetahui kalau Ali dalam jalan kebenaran, tetapi ia memilih untuk tidak berpihak kepada keduanya. Ia mengirim surat kepada Ali, yang ia ikut memba’iatnya sebagai khalifah, sebagai berikut, “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, seandainya anda meminta saya untuk menemani anda memasuki kandang harimau, saya pasti akan melakukannya. Tetapi sekali-kali saya tidak akan menyentuh kulit seorang muslimdengan ujung pedang saya….”

Ketika beberapa sahabat yang memihak Ali juga berusaha untuk mengubah pendiriannya, Usamah berkata tegas, “Saya tidak akan pernah memerangi orang-orang yang mengucapkan La ilaaha illallaah selama-lamanya…!!”

Salah satu dari mereka sempat mendebatnya, “Bukankah Allah telah berfirman : Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah, dan agama seluruhnya adalah milik Allah…!!”

Usamah-pun menjawab, “Ayat itu ditujukan untuk memerangi orang-orang musyrik, dan kita telah memerangi mereka hingga fitnah telah lenyap dan agama seluruhnya menjadi milik Allah…!!”

Bagaimana tidak, dalam suatu pertempuran melawan kaum musyrik, dimana berlaku hukum “membunuh atau dibunuh (kill or to be kill)”, ia telah dicela dengan keras oleh Rasulullah SAW karena membunuh seorang kafir yang membaca “La ilaaha illallaah”, yang menurut pemahaman (ijtihad)-nya hanyalah untuk menyelamatkan diri saja. Sangat mungkin terjadi si kafir itu akan balik membunuhnya jika ia melepaskannya saat itu, apalagi pedangnya-pun masih terhunus. Tetapi itupun bukan alasan yang bisa diterima Rasullullah SAW. Bagaimana lagi ia akan mempertanggung-jawabkan kepada Nabi SAW jika ia membunuh seseorang yang jelas-jelas beriman kepada Allah dan Rasul-Nya? Jelas-jelas orang yang beragama Islam dan menjalankan shalat seperti dirinya dan kaum muslimin lainnya?

Seorang sahabat lainnya memang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, atas suatu peristiwa dalam pertempuran, yang lebih kurang sama dengan peristiwa Usamah tersebut. Nabi SAW bersabda, “Kalau itu terjadi, si kafir akan akan memperoleh balasan seperti keadaan engkau sebelum membunuhnya,dan engkau akan memperoleh balasan seperti keadaan si kafir sebelum ia terbunuh…..!!”

Maksudnya, orang kafir tersebut, yang membaca ‘Laa ilaaha illallaah’ ketika akan terbunuh akan memperoleh pahala syahid, sedang sang sahabat yang membunuh bisa jatuh dalam kemusyrikan dan kekafiran, kalau ia tidak bertaubat.

Usamah terus menyendiri di tengah pergolakan kaum muslimin, dan ia tidak mau terlibat dengan pertentangan mereka. Saat itu terdapat dua kutub kekuatan Islam, Muawiyah yang menjabat sebagai khalifah berkedudukan di Syam, sedang kelompok oposisi, yang merasa keturunan Ali bin Abi Thalib lebih berhak atas jabatan khalifah bermarkas di Kufah, Irak, tetapi tanpa pimpinan (atau khalifah) yang jelas. Di saat itulah, di Tahun 54 hijriah Usamah bin Zaid meninggal dunia.

Kisah Sahabat#Farwah Bin Amr Al Judzamy

Farwah Bin Amr Al Judzamy Ra

Farwah bin Amr al Judzamy RA adalah seorang Arab yang menjadi gubernur di bawah kekuasaan Romawi di Mu’an, sebuah wilayah di Syam. Ia juga menjadi komandan dari pasukan Arab yang tunduk di bawahkekaisaran Romawi. Dalam perang Mu’tah, dimana tiga komandan dari 3.000 pasukan muslimin gugur secara berturutan, Farwah menjadi salah satu komandan dari 200.000 tentara Romawi, khususnya yang berkebangsaan Arab.

Walau pasukannya boleh dibilang menang, tetapi timbul kekaguman pada diri Farwah atas kehebatan dan sikap heroik pasukan muslim, yang notabene pasukan Arab seperti dirinya. Mereka mampu lolos dari kehancuran total walaupun hanya berjumlah tiga ribu pejuang. Padahal 200.000 personal pasukan Romawi mengepung mereka dari segala arah. Saat itu yang mengambil alih tampuk pimpinan pasukan muslimin adalah Khalid bin Walid.

Setelah beberapa waktu berlalu, Farwah bin Amr menyatakan dirinya masuk Islam dan ia mengirim utusan kepada Nabi SAW di Madinah untuk mengabarkan keislamannya, sambil menghadiahkan seekor baghal berwarna putih kepada beliau. Tetapi keputusannya ini harus dibayar mahal, penguasa Romawi menangkap dan memenjarakannya. Ia diberi dua pilihan, keluar dari Islam atau mati. Walau diberi waktu yang cukup untuk memikirkan pilihannya, ternyata pilihan Islam adalah harga mati bagi Farwah, karena itu penguasa Romawi menyalibnya di dekat mata air Afra’ di Palestina, setelah itu mereka memenggal lehernya.

Karena kecongkakan dan sikap sewenang-wenang penguasa Romawi tersebut, Nabi SAW menghimpun pasukan besar di bawah pimpinan Usamah bin Zaid untuk mengamankan wilayah perbatasan dan menyerang pasukan Romawi jika mereka melanggar batas dan kehormatan orang-orang muslim. Tetapi pasukan ini sempat tertunda karena Nabi SAW wafat, dan diteruskan oleh khalifah Abu Bakar.

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Amr Bin Ash Ra

Abdullah Bin Amr Bin Ash Ra

Abdullah bin Amr bin Ash RA adalah putra dari seorang ahli strategy perang dan negarawan ulung, Amr bin Ash,tetapi ia lebih dahulu memeluk Islam daripada bapaknya itu. Ia seorang yang saleh, banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah, kecuali jika sedang berjihad di jalan Allah. Ketika menyandang senjata untuk mempertahankan dan meninggikan kalimat-kalimat Allah,ia akan berada di barisan terdepan karena sangat merindukan memperoleh ‘rezeqi’ kesyahidan.

Dalam usianya yang masih muda, aktivitas ibadahnya begitu tinggi, siang berpuasa, malam dihabiskan dengan tahajud dan membaca Al Qur’an sehingga ia mampu mengkhatamkannya dalam sehari. Ia begitu zuhud, bahkan tidak pernah ia membicarakan masalah duniawiah sejak ia berba’iat kepada Nabi SAW, padahal lingkungan keluarga termasuk kalangan bangsawan dan kaya-raya. Ketika ia dinikahkan, beberapa hari kemudian ayahnya datang mengunjungi dan bertemu istrinya. Amr bin Ash berkata, “Bagaimana keadaan kalian?”

Istrinya berkata, “Sungguh aku tidak mencela akhlak dan kesalehannya, tetapi sepertinya ia tidak membutuhkan seorang wanita di sisinya!!”

Amr bin Ash menatap tidak mengerti, tetapi kemudian ia mendapat penjelasan, kalau Abdullah bin Amr sama sekali belum menyentuhnya dalam beberapa hari setelah menikah itu. Ia begitu intens beribadah seperti biasanya, sehingga tidak ada sedikitpun waktu untuk istrinya. Hal itu memaksa Amr bin Ash melaporkannya kepada Rasululah SAW, sehinggabeliau campur tangan untuk ‘mengerem’ semangat ibadahnya. Tetapi di hadapan Rasulullah SAW, Abdullah bin Amr justru berkata, “Ya Rasulullah, ijinkanlah saya menggunakan sepenuh tenaga saya untuk beribadah kepada Allah?”

Nabi SAW bersabda, “Jika engkau melakukan semua itu, badanmu akan lemah, matamu akan sakit karena tidak tidur semalaman. Sesungguhnya badanmu punya hak, keluargamu juga punya hak, dan para tamupun punya hak atas dirimu…!”

Maka terjadilah “tawar-menawar” antara Abdullah dan Rasulullah SAW dalam soal ibadahnya. Kalau umumnya manusia akan meminta ijin beribadah seringan dan sesedikit mungkin, maka Abdullah meminta ijin untuk beribadah sebanyak dan seberat mungkin. Dalam soal puasa misalnya, Nabi SAW menyarankannya agar berpuasa tiga hari dalam sebulan, tetapi Abdullah minta tambahan, diberi dua hari dalam seminggu, masih minta tambahan lagi, akhirnya ditetapkan Nabi SAW sehari berpuasa sehari berbuka, yakni puasanya Nabi Dawud AS.

Begitu juga dalam soal mengkhatamkan Al Qur’an, pertama Nabi SAW menyarankannya untuk khatam sebulan sekali saja. Abdullah melakukan penawaran, sehingga Nabi SAW menetapkan 20 hari sekali, kemudian 10 hari sekali, dan seminggu sekali. Tetapi Ibnu Amr bin Ash masih meminta lebih lagi, akhirnya Nabi SAW menetapkannya untuk khatam Al Qur’an setiap tiga hari sekali (dalam riwayat lain, lima hari sekali). Begitu juga soal shalat malam, beliau melarang Abdullah menghabiskan waktu malam untuk shalat sunnah terus-menerus, harus ada waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur, dan mempergauli istrinya.

Walau telah dinasehati langsung oleh Nabi SAW, semangatnya untuk beribadah tidak segera mengendor begitu saja, tetapi ia tidak melalaikan kewajiban dan hak-hak keluarga, badan, tamu dan lain-lainnya. Ibadahnya dengan intensitas tinggi masih saja berlangsung tanpa bisa dihalangi lagi. Melihat keadaannya itu, Nabi SAW akhirnya bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak tahu, bisa jadi Allah akan memanjangkan umurmu…!!”

Benarlah apa yang disabdakan Nabi SAW, ia mencapai usia tua, tubuhnya mulai lemah dan tulangnya seakan tak mampu menyangga tubuhnya dalam waktu lama. Ia susah payah menetapi amal istiqomah yang telah “dijanjikannya” kepada Nabi SAW di masa mudanya. Ia jadi menyesal mengapa tidak menerima nasehat beliau saat mudanya itu. Ia seringkali berkata, “Aduhai malangnya nasibku, mengapa tidak aku ikuti keringanan yang diberikan Rasulullah SAW…!!”

Abdullah bin Amr mempunyai kebiasaan mencatat apapun yang disabdakan Nabi SAW, dalam sebuah catatan yang disebut Shadiqah, hal ini dimaksudkan agar ia mudah menghafalkannya. Rasulullah SAW memang pernah melarang para sahabat untuk mencatat sabda-sabda beliau karena dikhawatirkan akan tumpang tindih dengan ayat-ayat Al Qur’an. Tetapi kemudian Nabi SAW secara khusus menugaskan beberapa orang sahabat untuk mencatat firman-firman Allah tersebut, dan Ibnu Amr bin Ash tidak termasuk di dalamnya sehingga beliau membiarkannya.

Beberapa sahabat juga berkata, “Rasulullah SAW juga manusia biasa, terkadang beliau marah, dan dalam marahnya ini beliau mengatakan sesuatu. Begitu juga terkadang beliau hanya bercanda dalam ucapannya itu. Karena itu jangan engkau mencatat apapun yang beliau sabdakan!!”

Karena nasehat mereka ini, Abdullah bin Amr sempat menghentikan kebiasaannya tersebut. Tetapi tampaknya ia merasa ‘gatal’ jika sesaat saja tidak ‘merekam’ apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Karena itu ia bertanya kepada Nabi SAW tentang apa yang dilakukannya, termasuk nasehat beberapa orang sahabat, maka beliau bersabda, “Teruskanlah menulis, demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, setiap perkataanku adalah kebenaran, walaupun aku dalam keadaan marah, ataupun senang.”

Abu Hurairah juga pernah berkomentar atas kebiasaan Abdullah bin Amr ini, “Di antara para sahabat, tidak ada yang menyamai saya dalam hal hafalan hadits-hadits Nabi SAW, kecuali Ibnu Amr bin Ash, karena dia selalu mencatat segala apa yang disabdakan Nabi SAW, sedangkan saya hanya mengandalkan ingatan saja.”

Ketika terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, sesungguhnya ia tidak ingin berpihak kepada kedua kelompok sebagaimana dianut beberapa sahabat seperti Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, dan beberapa sahabat lainnya. Tetapi menjelang terjadinya perang Shiffin, ayahnya, Amr bin Ash yang berpihak kepada Muawiyah mendatanginya dan mengajaknya berperang di pihaknya. Abdullah bin Amrberkata, “Bagaimana mungkin? Rasulullah SAW telah berwasiat kepadaku untuk tidak menaruh pedangku di leher seorang muslim untuk selama-lamanya…..!!”

Bukan Amr bin Ash namanya kalau tidak mampu bersiasat, ia mengemukakan berbagai alasan, terutama menyangkut “menuntut bela atas pembunuhan Utsman bin Affan”. Setelah beberapa argumen ayahnya mampu dipatahkannya, akhirnya Amr bin Ash berkata, “Ingatkah engkau wahai Abdullah wasiat terakhir Nabi SAW, beliau mengambil tanganmu dan meletakkan di atas tanganku, dan memerintahkan engkau untuk taat kepada ayahmu ini? Dan sekarang saya menghendaki engkau turut bersama kami, berperang bersama kami….!!”

Mendengar argumen ini, Abdullah bin Amr dilanda kebimbangan yang amat sangat. Jauh di dalam hatinya, kebenaran yang sangat diyakininya, ia tidak ingin terlibat dalam pertikaian itu. Tetapi ia seakan tidak punya kekuatan menolak ketika diingatkan akan pesan Nabi SAW dan janjinya untuk melaksanakannya. Akhirnya ia mengikuti pertempuran tersebut dengan setengah hati dan berada di pihak Muawiyah. Ia mengetahui bahwa Ammar bin Yasir berperang di pihak Ali, dan masih jelas terngiang nubuwat Nabi SAW tentang kematian Ammar bin Yasir di tangan para pendurhaka. Ia hadir juga dalam penggalian parit khandaq ketika Nabi SAW menyabdakan hal itu.

Sebagian riwayat menyebutkan, ia tidak pernah mengangkat senjatanya walau ia berada di antara personal pasukan Muawiyah. Tetapi begitu ia mendengar kabar bahwa Ammar bin Yasir telah terbunuh, ia langsung berteriak keras, “Apa? Ammar telah terbunuh, dan kalian pembunuhnya? Kalau demikian kalianlah kaum pendurhaka itu, kalian berperang di jalan yang salah…..!!”

Abdullah bin Amr berjalan berkeliling sambil meneriakkan kata-kata tersebut sehingga melemahkan semangat pasukan Muawiyah. Ketika hal itu dilaporkan kepada Muawiyah, ia memanggil Amr bin Ash dan anaknya tersebut, dan berkatakepada Amr bin Ash, “Kenapa tidak engkau bungkam anakmu yang gila ini..!!”

Amr bin Ash hanya diam, tetapi justru Abdullah berkata dengan tegas tanpa ketakutan sedikitpun, “Aku tidak gila, tetapi aku telah mendengar Nabi SAW bersabda kepada Ammar, bahwa ia akan dibunuh oleh kaum yang durhaka atau aniaya…!!”

“Kalau begitu, kenapa engkau ikut bersama kami??” Tanya Muawiyah.

“Tidak, ” Kata Abdullah bin Amr, “Aku hanya mengikuti wasiat Nabi SAW untuk taat kepada ayahku, dan akutelah menaatinya dengan pergi kesini, tetapi aku tidak pernah ikut berperang bersamamu…!!”

Di tengah pembicaraan tersebut, pengawal Muawiyah mengabarkan kalau pembunuh Ammar ingin menghadap masuk. Abdullah bin Amr langsung berkata, “Suruhlah dia masuk, dan sampaikan kabar gembira kepadanya, dia akan menjadi umpan api neraka…!!”

Muawiyah menjadi murka mendengar perkataannya tersebut, tetapi Abdullah bin Amr tetap bertahan dengan perkataannya tersebut, bahwa pembunuh Ammar bin Yasir adalah kaum yang durhaka dan berperang di jalan yang salah, begitu Nabi SAW mengabarkan bertahun-tahun sebelumnya, dan ia meyakini akan kebenarannya. Ia berpaling kepada ayahnya dan berkata, “Kalau tidaklah Rasulullah menyuruh saya menaati ayah, saya tidak akan pernah menyertai perjalanan ayah ke sini, dan kini saya telah memenuhi wasiat beliau…”

Setelah itu Abdullah bin Amr kembali ke Madinah dan mengurung diri di mushalla rumahnya. Ia tidak habis-habisnya menyesali keterlibatannya di perang Shiffin dan berada di pihak Muawiyah. Ia selalu menangis dan mengeluh, “Wahai, apa perlunya aku ke Shiffin…apa perlunya aku memerangi kaum muslimin…!!!”

Suatu hari ia duduk di masjid bersama beberapa orang sahabat, lewatlah Husein bin Ali. Setelah menyampaikan salam, ia berlalu masuk ke masjid tanpa memperdulikan kumpulan sahabat. Abdullah bin Amr berkata, “Tahukah kalian penduduk bumi yang paling dicintai penduduk langit? Dialah Husein bin Ali yang baru saja berlalu di hadapan kita. Sejak perang Shiffin, ia tidak mau berbicara denganku…Sungguh, ridhanya kepadaku lebih aku sukai daripada barang berharga apapun juga…!!”

Ia meminta tolong kepada sahabat Abu Sa’id al Khudri untuk bisa bertemu dengan Husein, dan mereka diijinkan untuk berkunjung ke rumah cucu kesayangan Rasulullah SAW itu. Terjadilah berbagai macam pembicaraan, sampai akhirnya Husein bertanya, “Apa yang membawamu ikut berperang di pihak Muawiyah?”

Abdullah bin Amr berkata, “Ayahku pernah mengadukan aku kepada Rasulullah karena berpuasa setiap hari, shalat malam sepanjang malam dan mengkhatamkan al Qur’an setiap hari, maka Nabi SAW berwasiat kepadaku, ‘Hai Abdullah puasalah dan berbuka, shalatlah malam dan tidurlah, bacalah Qur’an dan berhentilah, dan taatilah ayahmu…’ Saat perang Shiffin terjadi, ayahku mendatangiku dan memaksaku mengikutinya dengan membawa wasiat Nabi SAW tersebut…tetapi demi Allah, aku tidak pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah pada perang tersebut….”

Abdullah bin Amr juga menjelaskan apa yang dilakukannya terhadap Muawiyah setelah terbunuhnya Ammar bin Yasir, dan sikapnya meninggalkan pertempuran tersebut. Husein akhirnya ridha kepadanya setelah semua penjelasannya tersebut. Abdullah bin Amr menangis penuh haru.

Pada masa pemerintahan Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr meninggal pada usia 72 tahun di mushalla rumahnya, ketika itu ia baru selesai menjalankan shalat dan sedang bermunajat kepada Allah. Sungguh saat akhir yang amat indah (khusnul khotimah) yang amat dirindukan oleh semua kaum muslimin.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai