Bagian 2
Allah Ta’ala berfirman :
Artinya :”Maka mengapa tidak ada dari umat umat yang sebelum kamu orang orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada(mengerjakan) kerusakan dimuka bumi kecuali sebagian kecil diantara orang orang yang zhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka dan mereka adalah orang orang yang berdosa” (Hud : 116)
Maka Allah Ta’ala(*dalam ayat ini) menerangkan bahwa Dia membinasakan semua mereka selain sedikit dari mereka yang melarang daripada mengerjakan kebinasaan.
Allah Ta’ala berfirman :
Artinya :”Wahai orang orang yang beriman, jadilah kamu orang orang yang benar benar penegak keadilan menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu” (An Nisa’ :135)
Demikian itu adalah amar ma’ruf kepada kedua orang tua dan para kerabat.
Allah Ta’ala berfirman :
Artinya :”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan bisikan dari orang orang yang menyuruh(*manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf atau mengadaka perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” (An Nisa’ : 114)
Allah Ta’ala berfirman :
Artinya :”Jika ada dua golongan dari orang orang mu’min berperang, maka damaikanlah antara keduanya. jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berlaku adil” (Al Hujurat : 9)
Mendamaikan adalah mencegah daripada penganiayaan dan mengembalikan kepada kethaatan kepada Allah. lalu kalau ia tidak mau, maka Allah menyuruh memeranginya.
Allah Ta’ala berfirman :
Artinya :”Maka perangilah golongan yang menganiaya sehingga kembali kepada perintah Allah” (Al Hujurat :9)
Demikian ini adalah melarang berbuat perbuatan yang munkar.
Adapun hadits hadits maka diantaranya apa yang diriwayatkan Abu Bakar Ash Shiddiq ra. bahwa ia berkata dalam suatu khutbah yang ia khutbahkan :”Hai manusia!? Sesungguhnya kamu membaca ayat ini dan menta’wilkannya dengan ta’wil yang berbeda dengan yang sebenarnya yaitu :
Artinya :”Hai orang orang yang beriman, jagalah dirimu tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk” (Al Maidah :105)
dan sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Tidaklah dari suatu kaum yang berbuat maksiat dan dikalangan mereka ada orang yang mampu ingkar kepada mereka, lalu ia tidak berbuat melainkan hampir hampir Allah meratakan mereka dengan adzab dari sisi-Nya (H.R. Abu Dawud, At Turmudzi dan Ibnu Majah)
dan diriwayatkan dari Abi Tsa’labah Al Khasani bahwa bertanya kepada Rasulullah Saw tentang penafsiran firman Allah Ta’ala
Artinya :”Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk” (Al Maidah :105)
Lalu beliau bersabda :”Hai Abu Tsa’labah!? perintahlah berbuat perbuatan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang munkar. lalu apabila kamu melihat kepada kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang di ikuti, keduniaan yang dipentingkan dan kekaguman tiap tiap orang dengan pendapatnya, maka jagalah dirimu dan tinggalkanlah orang awam. Sesungguhnya dibelakangmu fitnah fitnah seperti potongan potongan malam yang amat gelap, bagi orang yang berpegang teguh padanya seperti yang kamu berada padanya adalah pahala lima puluh orang dari kamu. “Ditanyakan :”Tidak, bahkan dari kamu karena kamu mendapatkan pembantu pembantu untuk berbuat kebaikan sedangkan mereka tidak mendapatkan pembantu pembantu untuk berbuat kebaikan” (HR. Abu Dawud dan At Turmudzi dan dipandang hasan oleh Ibnu Majah).
Ibnbu Mas’ud ra ditanya tentang penafsiran ayat ini lalu ia menjawab :”Sesungguhnya ini bukan zaman ayat tersebut, sesungguhnya ayat itu pada hari ini diterima, tetapi benar benar hampir hampir datang zamannya, kamu memerintah berbuat baik lalu diperlakukan begini dan begini denganmu dan kamu berkata lalu tidak diterima darimu, maka pada saat itu jagalah dirimu tidaklah orang sesat itu memberi madharat kepadamu apabila kamu mendapat petunjuk.”
Rasulullah Saw bersabda : “Hendaklah kamu menyuruh berbuat kebaikan dan hendaklah kamu melarang berbuat perbuatan munkar atau hendaklah Allah memberikan kekuasaan atasmu orang orang yang jahat diantara kamu kemudian orang orang baik diantara kamu berdo’a lalu tidak dikabulkan do’a mereka (HR. Al Bazzar dari hadits Umar bin Khattab ra dan Ath Thabrani dari hadits Abu Hurairah ra)
Pengertiannya adalah kewibawaan mereka jatuh dari pandangan orang orang yang jahat lalu mereka tidak takut kepada orang orang baik baik tersebut.
Rasulullah Saw bersabda : “Hai Manusia!? Sesunguhnya Alah berfirman :”Hendaklah kamu menyuruh berbuat kebaikan dan sungguh kamu mencegah berbuat perbuatan yang munkar sebelum kamu berdo’a lalu tidak dikabulkan do’amu” (HR Ahmad dan Al Baihaqi dari hadits A’isyah ra)
Rasulullah Saw bersabda : “Tidaklah perbuatan kebajikan pada jihad dijalan Allah melainkan seperti sekali ludah dalam laut yang luas lagi dalam. dan tidaklah perbuatan kebajikan dan jihad dijaan Allah melainkan seperti sekali ludah dalam laut yang luas lagi dalam” (HR. Abu Manshur Ad Dailami dari Hadits Jabir dengan sanad Dhaif)
Rasulullah Saw bersabda :”Sesungguhnya Allah Ta’ala menanyakan hambaNya :”Apa yg mencegahmu apabila kamu melihat perbuatan yang munkar untuk melarangnya?” apabila Allah mengajarkan hujah(alasan) kepada hambaNya, maka ia berkata :”wahai Tuhanku?! saya percaya denganMu dan saya berpisah dari manusia” (HR. Ibnu Majah)
Rasulullah Saw bersabda :”Jauhilah duduk dijalan jalan. “para sahabat bertanya:”keharusan bagi kami karena sesungguhnya jalan itu tempat duduk duduk kami dimana kami berbicara itempat tersebut. “beliau bersabda:”apabila kamu menolak selain demikian, maka berilah kepada jalan akan hak-nya.”mereka berkata :”apakah haknya?” beliau menjawab :”memejamkan penglihatan, mencegah menyakiti orang, menjawab salam, amar ma’ruf dan nahi munkar.” (Muttafaq ‘alaih)
Rasulullah Saw bersabda :”Perkataan anak Adam semuanya adalah atasnya(*memberatkannya) tidak untuknya(berfaidah baginya) selain amar ma’ruf(memerintahkan kebaikan) atau nahi munkar(melarang kemunkaran) atau berdzikir kepada Allah Swt”
Rasulullah Saw bersabda :”Sesungguhnya Allah tidak menyiksa orang orang khusus dengan dosa dosa orang awwam sehingga orang khusus melihat perbuatan yang munkar dihadapan mereka sedangkan mereka mampu untuk mengingkarinya tapi mereka tidak mengingkarinya” (HR. Ahmad dari Hadits Abidin Umairah).
Abu Umamah Al Bahili meriwayatkan dari Rasululah Saw bahwa beliau bersabda :”Bagaimana keadaanmu apabila isterimu durhaka, pemuda pemudamu fasik dan kamu meninggalkan jihad.”para sahabat itu bertanya:”Apakah demikian pasti terjadi wahai Rasulullah?!”Beliau bersabda :”Ya, demi Dzat yang diriku dalam kekuasaanNya dan yang lebih berat daripada itu?!” Beliau bersabda :”Bagaimana keadaanmu apabila kamu melihat perbuatan yang baik menjadi perbuatan yang munkar dan perbuatan yang munkar menjadi perbuatan yang baik?” Mereka bertanya :”Apakah demikian itu terjadi wahai Rasulullah?” Ya, dan demi Dzat yang diriku dalam kekuasaanNya dan yang lebih berat daripadanya?” Beliau bersabda :”Bagaimana keadaanmu apabila kamu menyuruh berbuat perbuatan yang munkar dan melarang berbuat perbuatan yang baik.” Mereka bertanya :”Apakah demikian itu terjadi wahai Rasulullah?”Beliau bersabda :”Ya, demi Dzat yang diriku dlam kekuasaannYa dan yang lebih berat daripadanya. Allah Ta’ala berfirman :”Dengan Aku, Aku bersumpah, sungguh Aku menjatuhkan kepada mereka cobaan dimana orang yang lapang dada menjadi bingung” (HR Ibnu Abid Dunya dengan sanad lemah).
dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ra, berkata : Rasulullah Saw bersabda :”Janganlah kamu berdiri di sisi laki laki yang dibunuh secara teraniaya karena sesungguhnya laknat(kutukan) turun atas orang yang mendatanginya dan ia tidak membelanya dan janganlah kamu berdiri di sisi laki laki yang dipukul secara aniaya karena sesungguhnya laknat turun atas orang yang mendatanginya dan tidak membelanya.” (HR. Ath Thabrani dari Ibnu Abbas dengan sanad yang lemah).
Rasulullah Saw bersabda :”Tidak seyogyanya bagi seseorang yang menyaksikan kedudukan yang padanya ada kebenaran, melainkan ia mengatakan dengan kebenaran itu, karena sesungguhnya hal itu tidak akan mendahulukan ajalnya dan tidak akan menghalanginya dari rizki yang untuknya.” (HR. Al Baihaqi dari hadits Ibnu Abbas dan At Thirmidzi dan dipandangnya sebagai hadits Hasan).
Hadits ini menunjukkan bahwa diperbolehkan memasuki rumah orang orang zhalim dan orang orang fasiq dan tidak diperbolehkan menghadiri tempat tempat yg dipersaksikan perbuatan yang munkar padanya dan ia mampu merubahnya karena Rasulullah Saw bersabda :”Kutukan itu turun kepada orang yang menghadiri”. dan tidak diperbolehkan baginya menyaksikan perbuatan yang munkar tanpa keperluan alasan bahwa ia adalah lemah. Karena ini sekelompok dari orang salaf memilih uzlah karena mereka menyaksikan perbuatan perbuatan munkar dipasar pasar, hari hari raya dan tempat tempat perkumpulan dan mereka lemah dari merubahnya. Dan ini menuntut wajibnya meninggalkan makhluq.
Karena ini Umar bin Abdul Aziz ra berkata :”Tidaklah para pengembara itu mengembara dan mereka meninggalkan rumah rumah mereka dan anak anak mereka kecuali disebabkan apa yang turun menimpa kita ketika mereka melihat kejelekan kejelekan telah terang terangan dan kebaikan telah terhapus dan mereka melihat bahwa tidak diterima dari orang yang berkata benar dan melihat macam macam fitnah dan mereka tidak selamat bahwa fitnah fitnah akan menimpa mereka dan adzab akan turun pada kaum itu lalu mereka tidak akan selamat dari adzab itu. Lalu mereka melihat bahwa bertetangga dengan binatang binatang buas dan makan sayur mayur adalah lebih baik dari bertetangga dengan mereka itu dalam kenikmatan mereka. Kemudian Umar bin Abdul Aziz membaca ayat : “Maka segeralah kembali kepada mentaati Allah sesungguhnya Aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah.” (Adz Dzariyat:50)
Umar bin Abdul Aziz berkata :”Lalu suatu kaum kembali, jikalau Allah-Maha Besar Pujian kepadaNya tidak menjadikan rahasia pada kenabian, tentu kami mengatakan bahwa tidaklah para nabi lebih utama daripada mereka itu, tentang apa yang telah sampai kepada kami bahwa Malaikat as menjumpai mereka berjabat tangan mereka sedangkan awan dan binatang buas melewati salah seorang dari mereka lalu ia memanggilnya lalu awan dan binatang buas menjawabnya dan ia bertanya :”Kemana kamu disuruh?” Lalu awan dan binatang buas memberitahukan kepadanya sedangkan ia bukan seorang nabi.
Abu Huraiah ra berkata :”Rasulullah Saw bersabda :” Barangsiapa menghadiri perbuatan maksiat lalu ia membencinya, maka ia seolah olah tidak menghadirinya, dan barangsiapa tidak menghadirinya lalu ia menyukainya, maka seolah olah ia menghadirinya.” (HR. Ibnu Adi).
Pengertian hadits ini adalah bahwa ia menghadiri karena suatu keperluan atau bertepatan terjadinya perbuatan maksiat itu dihadapannya. Adapun menghadiri dengan sengaja maka dilarang dengan dalil hadits yang pertama.
Ibnu Mas’ud ra berkata : Rasulullah Saw bersabda :”Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengutus seorang Nabi melainkan ia mempunyai pembantu pembantu lalu Nabi itu berdiam di tengah tengah mereka menurut kehendak Allah Ta’ala, ia mengamalkan kitab Allah ditengah tengah mereka dan mengamalkan perintahNya sehingga apabila Allah mengambil NabiNya, maka para pembantu itu berdiam dengan mengamalkan kitab Allah, perintahNya dan sunah NabiNya. lalu apabila mereka habis, maka setelah mereka ada suatu kaum yang naik diatas mimbar, mereka mengatakan apa yang mereka mengerti dan berbuat perbuatan yang mereka ingkari. Apabila kamu melihat demikian, maka wajib bagi setiap orang mu’min berjihad kepada mereka dengan tangannya, kalau tidak mampu, maka dengan lidahnya, kalau ia tidak mampu, maka dengan hatinya dan tidak ada Islam di balik demikian”. (HR. Muslim).
