Fathul Ghaib

Bagian #61

Risalah 61

Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani


Setiap mukmin harus  waspada di kala menerima sesuatu, hingga hukum membolehkannya, sebagaimana Nabi Suci bersabda:
“Sesungguhnya, si mukmin itu waspada, sedang si munafik menyambar (segala yang datang kepadanya).”
“Seorang mukmin ragu-ragu, campakkanlah segala penyebab keragu-raguan, dan ambillah segala yang tak menimbulkan keragu-raguan.”Seorang mukmin ragu-ragu terhadap segala makanan, minuman, pakaian, perkawinan dan segala hal, sebelum dikukuhkan oleh hukum, bila ia sholeh; dikukuhkan oleh perintah batin, bila ia seorang wali; dikukuhkan oleh ma’rifat, bila ia seorang badal dan ghauts; dikukuhkan oleh tindakan-Nya, bila ia dalam keadaan fana.Lalu datanglah keadaan, yang di dalamnya didapat segala yang datang kepada orang, perintah batin atau ma’rifat; tapi bila hal-hal ini bertentangan dengan keadaan sebelumnya, yang di dalamnya berkuasa keragu-raguan dan pemudahan, sedang pada keadaan kedua, berkuasa penerimaan dan penggunaan hal-hal yang dibutuhkan.Datanglah keadaan ketiga, yang di dalamnya penerimaan dan penggunaan hal-hal yang diperlukan menjadi rahmat. Inilah hakikat ka-fana-an. Pada keadaan ini, sang mukmin menjadi kebal terhadap segala bencana dan pelanggaran hukum, dan segala kejahatan terjauhkan darinya, sebagaimana Allah yang Maha mulia berfirman: “Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba pilihan Kami.” (QS.12:24)Maka sang hamba menjadi terlindung dari segala pelanggaran hukum. Segala yang datang kepadanya telah di bersihkan dari segala kesulitan di dunia dan akhirat, dan demikian selaras dengan kehendak dan ridha-Nya. Tiada keadaan melebihi ini. Inilah tujuannya. Inilah yang dimaksudkan bagi kepala-kepala para wali besar, yang tersucikan, yang memiliki hikmah – orang yang telah mencapai ambang pintu kenabian.

Fathul Ghaib

Bagian #60

Risalah 60

Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani


Awal kehidupan ruhani berupa keterlepasan dari kedirian, keberadaan dalam arena hukum, dan kembali kepada kedirian setelah mampu menjaga hukum. Lepaslah dari kedirian, semisal makan, minum, berpakaian, menikah, tempat-tinggal, dan kecenderungan-kecenderungan dan masuklah ke dalam hukum. Ikutilah Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
“Ambillah yang dibawa nabi kepadamu, dan hindarilah yang dilarangnya.”
“Katakanlah: jika kau mencintai Allah, ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu.” (QS.3:31)Bila telah terlepas dari kedirian dan ketakpatuhan, baik lahiriah mahupun batiniah, maka yang ada padamu hanyalah keesaan Allah, dan yang ada pada lahiriahmu hanyalah kepatuhan dan pengabdian kepada Allah. Hal ini kemudian menjadi sikap, pakaian, gerak dan diammu, di kala malam, siang, dalam perjalanan, di rumah, dalam kesulitan, dalam kemudahan, dan dalam segala keadaan. Maka dibawalah kau ke lembah-Nya, dan dikendalikan oleh-Nya.Berlepaslah dari segala upaya, perjuangan dan dayamu, maka dibawa kepadamu yang pena tak kuasa menuliskannya, dan kamu menjadi begini, terlindung dan terselamatkan di tengah-tengahnya. Hukum terlestarikan padanya, kesesuaian dengan kehendak-Nya diperoleh di dalamnya, dan hukum takkan dilanggar. Allah berfirman:
“Sesungguhnya, telah Kami turunkan pengingat, dan sesungguhnya Kami yang menjaga.” (QS.15:90)
“Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba pilihan Kami.” (QS.12:24)Maka perlindungan Allah menyertaimu, hingga kau menghadap-Nya dengan kasih-Nya.

Fathul Ghaib

Bagian #59

Risalah 59

Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani


Jika kau ditimpa musibah, berupayalah bersabar – ini adalah hal yang rendah – dan bersabarlah, ini merupakan hal yang lebih tinggi dari yang lain. Mintalah agar kau bisa redha dengan takdir-Nya, bersesuaianlah dengan kehendak-Nya, dan akhirnya luruhlah di dalam kehendak-Nya; Inilah keadaan para badal dan ruhaniwan, orang yang tahu perihal Allah yang Maha kuasa lagi Maha agung. Bila kau mendapat rahmat, bersyukurlah, baik melalui lidah, hati mahupun anasir tubuh.Bersyukurlah lidah berupa pengakuan bahawa rahmat berasal dari Allah dan penghindaran dari menisbahkannya kepada orang lain, yang melalui tangan-tangan mereka rahmat sampai. Sebab kau sendiri dan mereka hanyalah sarana-sarana sampainya rahmat. Pemberi dan pencipta sejati rahmat iaitu Allah, Yang Maha kuasa lagi maha agung. Maka Dia lebih patut disyukuri daripada yang lain. Misal, orang tak memandang budak yang membawa sebuah hadiah, sebagai pengirim hadiah itu, tetapi orang memandang pengirimnya adalah tuannya. Allah berfirman tentang orang yang tak bersikap selayaknya:
“Mereka mengetahui lahiriah kehidupan duniawi, sedang mengenai akhirat, mereka sungguh lalai.” (QS 30:7)Barangsiapa memandang lahiriah dan penyebab, sedang pengetahuannya tak melebihi ini, adalah jahil dan rosak fikiran. Istilah fikiran’ digunakan untuk orang yang memahami akhir sesuatu. Bersyukurnya hati terletak pada keyakinan kukuh bahawa segala rahmat, kesenangan dan milikan yang kau punyai, berasal dari Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, bukan dari selain-Nya. Dan rasa-syukurmu melalui lidah menyatakan isi hatimu, sebagaimana firman-Nya:
“Dan apa pun nikmat yang ada padamu, berasal dari Allah.” (QS 16:53)
“Dan (Ia) telah menyempurnakan nikmat-Nya padamu lahir dan batin.” (QS 31:20)
“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu takkan mampu menghinggakannya.” (QS 14:34)Nah, dengan semua pernyataan ini, maka tiada pemberi kurnia selain Allah. Dan bersyukurnya anasir tubuh terletak pada penggunaan anasir tubuh untuk mematuhi perintah-perintah-Nya guna menjauhi dari ciptaan-Nya. Maka janganlah menimpali makhluk, sebab di situ terdapat penentangan terhadap Allah; ciptaan termasuk dirimu sendiri, keinginanmu, maksudmu, kehendakmu dan segalanya. Patuhlah kepada Allah sepatuh-patuhnya. Jika kau bertindak lain, bererti kau menyimpang dari jalan lurus, menjadi aniaya, berperilaku tanpa perintah Allah yang diturunkan bagi hamba-hamba beriman-Nya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan para saleh. Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung berfirman:
“Barangsiapa tak menentukan dengan yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS 5:45)Dengan begitu, kau menuju neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu. Bila kau tak tahan demam, untuk satu jam, di dunia ini, maka bagaimana kau bisa tahan, untuk selamanya, neraka bersama penghuni-penghuninya? Menjauhlah, menjauhlah; segeralah, segeralah, berlindunglah kepada Allah.Jagalah keadaan-keadaan di atas dengan segala kondisinya, sebab kau tak bisa lepas dari keduanya sepanjang hayat –baik keadaan ditimpa musibah mahupun keadaan bahagia. Bersabarlah dan bersyukurlah dalam kedua keadaan itu, sesuai dengan yang telah kuterangkan kepadamu. Nah, jangan mengeluh, bila ditimpa musibah, kepada sesamamu, jangan menunjukkan kegundahanmu kepada siapa pun, jangan salahkan Tuhanmu di dalam benakmu, dan jangan ragukan kebijaksanaan dan pilihan-Nya akan yang terbaik bagimu di dalam kehidupanmu di dunia dan di akhirat. Dan jangan lari kepada orang guna mendapatkan jalan keluar, sebab, dengan begitu, kau bererti menyekutukan-Nya.Tak satu pun berhak atas milikan-Nya, tak satu pun mampu memberikan mudharat, manfaat, atau menjauhkan kesulitan, menyebabkan sakit dan bencana, menyembuhkan dan memberi sesuatu kebaikan, kecuali Dia. Jangan menjerat oleh ciptaan, baik secara lahiriah mahupun batiniah, sebab mereka takkan menguntungkanmu. Bersabar dan redhalah selalu kepada Allah, dan luruhlah ke dalam kehendak-Nya.Jika rahmat tercabut darimu, maka wajib bagimu minta tolong kepada-Nya, tunjukkan kerendah-dirian, harga dosa-dosamu, ngapain-Nya akan kejahatan dirimu dan akan penjauhkanmu dari kebenaran, mengesakan-Nya, mempertanyakan rahmat-rahmat-Nya dan menyatakan keselarasanmu , sampai berakhirnya musibah dan berganti dengan kurnia-Nya, kemudahan dan kebahagiaan, salam halitu terjadi pada diri Nabi Ayub; bak berlalunya gelapnya malam dan datangnya cerahnya siang, dan berlalunya dingin musim dingin, ganti sepoi musim semi dengan aroma harumnya. Sebab untuk segalanya ada pertentangan dan akhir. Maka kesabaran adalah kuncinya, pas, akhirnya dan jaminan kebahagiaannya. Inilah yang terungkap dalam Sunnah Nabi saw. “Kesabaran adalah iman yang luas.”Ambillah pelajaran dari yang telah kusebutkan, jika Allah Yang Maha mulia menghendaki, maka kamu akan terbimbing.

Fathul Ghaib

Bagian #58

Risalah 58

Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani


Butalah terhadap segala hal. Tutuplah matamu terhadap sesuatu pun dari hal-hal itu. Bila kau lihat sesuatu pun dari hal-hal itu, maka kurnia dan kedekatan Allah SWT akan tertutup bagimu. Oleh kerana itu, tutuplah segala hal dengan kesedaranmu akan keesaan Allah dan dengan peniadaan diri. Maka akan tampak oleh mata hatimu hal Allah SWT, dan kau akan melihatnya dengan kedua mata hatimu ketika hal itu tersinari oleh nur hatimu, nur imanmu dan nur keyakinan teguhmu. Pada saat itu cahaya ruhanimu akan mewujud pada lahiriahmu bak cahaya sebuah lampu di malam pekat yang mencuat melalui lubang-lubangnya sehingga sisi luar rumah menjadi cerah oleh cahaya dari dalam. Maka diri dan unsur tubuh akan merasa ridha dengan janji Allah dan kurnia-Nya.Maka dari itu, kasihanilah diri kita. Jangan berbuat aniaya terhadapnya. Jangan campakkan ia di kegelapan ketak-acuhan dan kebodohanmu, agar ia tak melihat makhluk, daya, perolehan, sarana dan tak bertumpu pada hal-hal itu. Sebab jika kau lakukan hal itu, maka segala hal akan tertutup bagimu dan kurnia Allah akan tertutup pula bagimu lantaran kesyirikanmu. Nah, bila telah kau sedari keesaan-Nya, telah kau lihat kurnia-Nya, kau hanya berharap kepada-Nya dan telah kau butakan dirimu terhadap segalanya selain-Nya, maka Dia akan membuatmu dekat dengan Diri-Nya, akan mengasihimu, akan menjagamu, akan memberimu makanan, minuman dan perawatan, akan membuatmu bahagia, akan menganugerahimu karunia- karunia, akan menolongmu, akan menjadikan kau penguasa, akan menafikanmu dari ciptaan serta dari dirimu sendiri, dan akan membuatmu tiada, sehingga kau takkan melihat baik kemiskinanmu maupun kekayaanmu.

Fathul Ghaib

Bagian #57

Risalah 57

Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani


Segala pengalaman spiritual merupakan pengekangan, sebab sang wali diperintahkan untuk menjaga hal-hal itu. Segala yang diperintahkan untuk dijaga menimbulkan pengekangan. Berada dalam ketentuan Allah merupakan kemudahan, sebab yang diperintahkan hanyalah memaujudkan diri dalam ketentuan-Nya. Sang wali tak boleh bersitegang dalam masalah ketentuan-Nya. Ia harus selaras dan tak boleh bertentangan dengan segala yang terjadi pada dirinya, entah manis atau pahit. Pengalaman itu terbatas, maka dari itu diperintahkan untuk menjaga pengalaman itu. Di lain pihak, kehendak Allah, yang merupakan ketentuan, tak terbatas.

Isyarat bahawa hamba Allah telah mencapai kehendak-Nya dan kemudahan ialah diperintahkan-Nya ia untuk meminta kenikmatan-kenikmatan setelah diperintahkan untuk mencampakkannya dan menjauh darinya, sebab bila ruhaninya hampa akan kenikmatan, dan yang tinggal dalam dirinya hanyalah Tuhan, maka ia dimudahkan dan diperintahkan untuk meminta, mendambakan dan menginginkan hal-hal yang menjadi haknya dan yang bisa ia peroleh melalui permintaannya akan hal-hal itu, sehingga harga dirinya di mata Allah, kedudukannya dan kurnia Allah Yang Maha perkasa lagi Maha agung, dengan diterimanya doanya, menjadi kenyataan. Menggunakan lidah untuk meminta kenikmatan sangat menunjukkan hal setelah pengekangan dan keluar dari segala pengalaman, kedudukan dan dari upaya keras menjaga batas.

Bila ditolak bahawa lenyapnya kesulitan dalam menjaga hukum ini menyebabkan ateisme dan keluar dari Islam sebagaimana firman-Nya:
“Abdilah Tuhanmu sampai kematian datang kepadamu.” (QS.15:99)

Jawabku ialah bahawa hal ini tak bererti begitu dan takkan begitu, tetapi bahawa Allah amat pemurah dan wali-Nya amat dicintai-Nya, sehingga Dia tak dapat mengizinkannya untuk menduduki suatu kedudukan hina di mata hukum dan agama-Nya. Sebaliknya, Dia menyelamatkannya dari semua itu, menjauhkannya dari semua itu, melindunginya dan menjaganya di dalam batas-batas hukum. Maka ia terlindung dari dosa dan senantiasa berada di dalam batas-batas hukum tanpa upaya dan perjuangan dari dirinya, sedang ia tak sedar akan keadaan ini dikeranakan oleh kedekatannya kepada Tuhannya. Allah berfirman:
“Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya ia adalah salah satu dari hamba-hamba terpilih kami.” (QS.12:24)
“Sesungguhnya terhadap hamba-hamba-Ku kau tak berkuasa.” (QS.15:42)
“Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan.” (QS.37:40)

Duhai orang yang malang! Orang semacam itu dijauhkan oleh Allah dan ia adalah curahan-Nya. Dia memeliharanya dalam pangkuan kedekatan dan kasih-sayang-Nya. Bagaimana bisa si iblis mendekatinya. Bagaimana bisa kekejian mendekatinya. Semoga kekejian terhancurkan oleh daya dan kelembutan sempurnanya! Semoga Dia melindungi kita dengan perlindungan dan kasih-sayang sempurna sehingga kita senantiasa mampu menjauhkan diri dari dosa-dosa. Semoga Dia memelihara kita dengan rahmat-rahmat dan kurnia-kurnia sempurna-Nya melalui tindak kasih-sayang-Nya!

Fathul Ghaib

Bagian #56

Risalah 56

Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani


Bila hamba Allah telah lepas dari makhluk, keinginan, diri, tujuan dan kehendak akan dunia dan akhirat, maka ia tak menghendaki sesuatu pun selain Allah yang Maha perkasa lagi Maha agung, dan segala suatu sirna dari hatinya. Maka ia menjadi pilihan-Nya, dicintai oleh makhluk, dekat kepada-Nya dan menerima kurnia-Nya melalui rahmat-Nya. Dibukakan-Nya baginya pintu-pintu kasih dan janji-Nya, dan Ia tak pernah menutup pintu-pintu itu terhadapnya. Maka sang hamba memilih Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, berkehendak melalui kehendak-Nya, ridha dengan keridhaan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan tak melihat suatu kemaujudan pun selain kemaujudan-Nya yang Maha kuasa lagi Maha agung. Maka Allah menjanjikan kepadanya dan tak memenuhi hamba-Nya, dan yang didambakan sama hamba dalam hal ini tak datang kepadanya, kerana keterpisahan lenyap dengan lenyapnya kehendak, tujuan dan pengupayaan kenikmatan. Maka keseluruhan dirinya menjadi kehendak Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Maka tiada janji atau pun pengingkaran janji dalam hal ini, kerana hal ini ada pada orang yang berkeinginan. Pada maqam ini, janji Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung terhadap orang semacam itu, dapat digambarkan dengan contoh seorang yang berkehendak di dalam dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu, lalu berubah kehendak terhadap sesuatu yang lain. Begitu pula, Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung telah menurunkan kepada Nabi Muhammad saw wahyu-wahyu yang membatalkan dan yang terbatalkan, sebagaimana firman-Nya: “Wahyu yang kami hapuskan atau jadikan terlupakan, Kami gantikan dengan yang lebih baik. Tidakkah kau tahu bahawa Allah berkuasa atas segala-nya?”” (QS.2:106) 
Ketika Nabi saw. lepas dari keinginan dan kehendak, kecuali pada saat-saat tertentu, sebagaimana telah disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran Suci, sehubungan dengan tawanan perang Badar, sebagai berikut: ” Kamu menginginkan barang-barang lemah dunia ini, sedang Allah menghendaki bagimu akhirat; dan Ia Maha kuasa lagi Maha bijaksana. Andaikan bukan kerana hukum Allah yang telah berlaku, sesungguhnya akan menimpamu siksaan yang besar atas yang kau lakukan.”(QS.8:67-68)
Nabi saw adalah kekasih Allah, yang Ia senantiasa menempatkannya pada ketentuan-Nya dan memberikan kendali-Nya kepadanya; maka Ia menggerakkannya di tengah-tengah ketentuan-Nya dan senantiasa memperingatkannya dengan firman-firman-Nya:
“Tidakkah kau tahu bahawa Allah Mahakuasa atas segalanya?” (QS.2:106) Dengan kata lain, kamu berada di samudera ketentuan-Nya, yang gelombangnya mengombang-ambingkan kamu, kadang ke sini, kadang ke sana. Dengan demikian setelah wali ialah Nabi. Tiada maqam setelah wali dan badal selain maqam Nabi.

Fathul Ghaib

Bagian #55

Risalah 55

Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani


Kesenangan hidup dicampakkan tiga kali. Pada awalnya sang hamba Allah berada dalam kegelapan, kejahilan dan kekacauan, bertindak berdasarkan dorongan-dorongan alaminya dalam segala keadaan, tanpa sikap pengabdian terhadap Tuhannya dan tanpa memerhatikan hukum agama. Dalam keadaan begini, Allah memandangnya penuh kasih, maka dianugerahkan-Nya kepadanya pengingat dari sesamanya, seorang hamba saleh-Nya. Dan kawan pengingat ini juga terdapat dalam dirinya sendiri. Kedua pengingat ini jaya atas dirinya, dan peringatan menimbulkan pengaruh pada jiwanya. Maka noda yang ada padanya, seperti memperturutkan kehendak dirinya dan penentangannya terhadap kebenaran, sirna. Maka condonglah ia kepada hukum Allah dalam segala gerak-gerinya.
Menjadilah sang hamba Allah itu seorang Muslim di hadapan hukum-Nya, lepas dari alamnya, membuang hal-hal haram duniawi, begitu pula hal-hal yang meragukan dan pertolongan orang. Maka ia melakukan hal-hal yang halal dalam makan, minum, berpakaian, menikah, bertempat tinggal dan lain-lain: dan semua ini sangat muhim bagi kesihatan jasmani dan bagi mendapatkan kekuatan untuk mengabdi kepada-Nya, agar ia bisa memperolehi bahagian dan orang tak bisa melampauinya – takkan luput dari kehidupan duniawi ini sebelum meraih dan menyempurnakannya. Maka ia berjalan di atas jalur kebenaran dalam keadaan hidupnya, sehingga hal ini membawanya ke maqam tertinggi wilayat dan menjadikannya pembukti kebenaran dan orang pilihan, yang memiliki pernyataan yang kukuh, yang haus akan hakikat, iaitu Allah. Maka ia makan dengan perintah-Nya, dan (sang salik) mendengar suara Allah di dalam dirinya berkata, “Campakkanlah dirimu dan campakkanlah kesenangan dan ciptaan, jika kau menghendaki sang Pencipta. Lepaskanlah sepatu dunia dan akhiratmu. Nafilah dari segala kemaujudan, hal-hal yang akan maujud dan segala dambaan. Lepaslah dari segala suatu. Berbahagialah dengan Allah, campakkanlah kesyirikan dan ikhlasan dalam kehendak. Mendekatlah kepada-Nya dengan hormat, dan jangan memandang kehidupan akhirat, kehidupan duniawi, orang-orang dan kesenangan.” Bila ia meraih maqam ini, maka ia menerima pakaian kemuliaan dan aneka kurnia. Dikatakan kepadanya, pakailah dirimu dengan rahmat dan kurnia, jangan berburuk-laku menilai dan menampik keinginan-keinginan, kerana penolakan terhadap kurnia raja sama dengan menekannya dan meremehkan kekuasaannya. Maka ia terselimuti kurnia dan anugerah-Nya tanpa berupaya. 
Sebelumnya ia terkuasai oleh keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan dirinya. Maka dikatakan kepadanya, “Selimutilah dirimu dengan rahmat dan kurnia Allah.” Maka baginya empat keadaan, dalam meraih kenikmatan dan kurnia. Yang pertama ialah dorongan alami, ini tak halal. Yang kedua ialah hukum, ini diperbolehkan dan absah. Yang ketiga adalah perintah batin, ini adalah keadaan para wali dan pencampakan keinginan. Yang keempat ialah kurnia Allah, ini adalah keadaan lenyapnya tujuan dan tercapainya badaliyya dan keadaan menjadi objek-Nya, yang berdiri di atas ketentuan-Nya; ini adalah keadaan tahu dan keadaan memiliki kesalehan, dan tak seorang pun bisa disebut saleh, jika ia belum meraih maqam ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Sesungguhnya Waliku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab dan Ia adalah Wali orang-orang saleh (baik).”(QS. 12:196).
Menjadilah ia seorang hamba yang tertahan dari menggunakan sesuatu, memanfaatkan diri dan dari menolak sesuatu yang mudharat baginya. Ia menjadi seperti bayi di tangan perawat dan seperti jasad mati yang sedang dimandikan orang. Maka Allah membesarkannya tanpa kehendaknya dan tanpa upayanya, ia lepas dari segala hal ini, tak berkeadaan atau bermaqam, tak berkehendak melainkan berada di atas ketentuan-Nya, yang kadang menahan, kadang memudahkannya, kadang membuatnya kaya dan kadang membuatnya miskin. Ia tak punya pilihan, dan tak menghendaki berlalunya keadaan dan perubahannya. Sebaliknya, ia menunjukkan keredhaan abadi. Inilah keadaan ruhani terakhir yang dicapai oleh para badal dan wali.

Fathul Ghaib

Bagian #54

Risalah 54

Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani


Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya mengabaikan dunia. Barangsiapa menghendaki Allah, maka wajib baginya mengabaikan kehidupan akhirat. Ia harus mencampakkan kehidupan duniawinya demi Tuhannya. Selama keinginan, kesenangan dan upaya duniawi dan di dalam hatinya seperti makan, minum, berpakaian, menikah, tempat tinggal, kenderaan, jabatan, ketinggian dalam pengetahuan tentang lima pilar ibadah dan hadis dan penghafalan Al-Quran dengan segala bacaan, bahasa dan retorikanya, begitu pula keinginan akan lenyapnya kemiskinan, maujudnya kekayaan, berlalunya musibah, datangnya kesenangan, hilangnya kesulitan dan datangnya kemudahan – jika keinginan semacam itu masih bersemayam di dalam benak orang, maka itu tentu bukan seorang saleh, kerana dalam segala hal ini ada kenikmatan bagi diri manusia dan keselarasan dengan kehendak jasmani, kesenangan jiwa dan kecintaannya. Hal-hal ini merupakan kehidupan duniawi, yang di dalamnya orang senang kebaikan, dan dengannya orang mencuba mendapatkan kepuasan dan ketentraman jiwa. Orang harus berupaya meniadakan hal-hal ini dari hatinya, dan mempersiapkan diri untuk meniadakan semua ini dan mensirnakannya dari jiwa, dan berupaya bersenang dalam peluruhan dan kemiskinan, sehingga tiada lagi di dalam hatinya kesenangan mengisap biji korma, sehingga pematangannya dari kehidupan duniawi menjadi suci. Bila ia telah menyempurnakannya, segala dukacita hatinya dan kecemasan benaknya akan sirna, dan datanglah kepadanya kesenangan, kehidupan yang baik dan keintiman dengan Allah, sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw.: “Mengabaikan dunia menimbulkan kebahagiaan hati dan jasmani.”
Tapi selama masih ada di dalam hatinya kesenangan kepada dunia ini, maka dukacita dan ketakutan tetap bersemayam di dalam hatinya, dan kehinaan mengiringnya, begitu pula keterhijaban dari Allah Yang Maha perkasa lagi Maha agung, oleh tabir tebal yang berlipat-lipat. Semua ini tak beranjak, kecuali melalui kecintaan akan dunia ini dan pemutusan darinya. Ia harus mengabaikan kehidupan akhirat, agar tak menghendaki kedudukan dan darjat tinggi, pembantu-pembantu cantik, rumah-rumah, kenderaan, pakaian, hiasan, makanan, minuman, dan hal-hal lain sejenisnya, yang disediakan oleh Allah Yang Maha besar bagi hamba-hamba beriman-Nya. Maka janganlah cuba mendapatkan balasan, atas sesuatu tindakan, dari Allah Yang Maha perkasa lagi Maha agung di dunia ini atau di akhirat. Dengan demikian Allah akan memberi balasan sebagai rahmat dan kemurahan-Nya. Maka Ia kan mendekatkan kepada-Nya dan melimpahkan kelembutan-Nya, dan Ia memperkenalkan diri-Nya dengan berbagai kurnia dan kebajikan, sebagaimana Ia berlaku terhadap para Nabi dan utusan-Nya, terhadap kekasih-kekasih-Nya. Maka setiap hari, dalam hidupnya, urusannya kian sempurna, dan di bawalah ia ke akhirat untuk mengecap yang tak terlihat oleh mata, yang tak terdengar oleh telinga, dan yang tak terpikirkan oleh manusia, yang sungguh tak dapat difahami dan tak dapat dijelaskan.

Fathul Ghaib

Bagian #53

Risalah 53

Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani


Mintalah kepada Allah keredhaan akan ketentuan-Nya, atau kemampuan meluruh dalam kehendak-Nya. Sebab di dalam hal ini terletak kesenangan dan keunikan besar di dunia ini, dan juga gerbang besar Allah dan sarana untuk dicintai-Nya. Barangsiapa dicintai-Nya, maka Ia tak menyiksanya di dunia ini dan di akhirat. Dalam dua kebajikan ini terletak hubungan dengan Allah, kebersatuan dengan-Nya dan keintiman dengan-Nya. Jangan bernafsu berupaya meraih kenikmatan hidup ini, kerana hal ini tak dimaksudkan bagimu. Bila hal itu tak dimaksudkan, maka bodohlah bila berupaya mendapatkannya, dan hal itu juga sangat dikutuk, sebagaimana dikatakan: “Di antara siksa paling besar ialah berupaya meraih yang tak ditentukan oleh-Nya.”Dan bila hal itu dimaksudkan, hal itu hanyalah kesetiaan yang dibolehkan dan tersendiri dalam pengabdian, cinta dan kebenaran. Berupaya kerana meraih segala selain Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha agung adalah syirik. Orang yang berupaya mendapatkan kenikmatan duniawi, tak tulus dalam cinta dan persahabatannya dengan Allah, siapa pun yang menyekutukan-Nya, maka ia pendusta.Begitu pula, orang yang mengharapkan balasan bagi tindakannya adalah tak ikhlas. Keikhlasan ialah mengabdi kepada Allah hanya untuk memberi Rabubiyyah, yaitu sifat Allah yang mengatur alam semesta, pembuluhnya. Orang seperti itu mengabdi kepada-Nya kerana Ia adalah Tuhannya dan patut diabdi, dan wajib baginya berbuat kebajikan dan patuh kepada-Nya, mengingat bahawa ia sepenuhnya milik-Nya, begitu pula gerak-geriknya, dan upayanya. Hamba dan segala miliknya milik Tuannya. Bukankah harus begitu? Sebagaimana telah kami nyatakan, semua pengabdian merupakan rahmat Allah dan kurnia-Nya atas hamba-Nya, kerana Dialah yang memberinya daya bertindak dan daya mengatasinya.Maka, senantiasa bersyukur kepada-Nya lebih baik daripada meminta balasan dari-Nya atas kebajikannya. Kenapa kau berupaya keras meraih kenikmatan duniawi, bila telah kau lihat sejumlah besar orang, bila kenikmatan duniawi berlimpah tak berkeputusan, mereka kian sedih, cemas dan haus akan hal-hal yang tak dimaksudkan bagi mereka? Bagian duniawi mereka nampak timpang, kecil dan menjijikkan,dan bagian duniawi yang lain nampak indah dan agung bagi hati dan mata mereka, dan mulailah mereka berupaya meraihnya meski hal itu bukan hak mereka. Dengan begini, kehidupan mereka berlalu dan daya mereka menjadi sirna, dan mereka menjadi tua, kekayaan mereka menjadi habis, tubuh mereka menjadi renta, kening mereka berkeringat, dan catatan kehidupan mereka menjadi gelap oleh dosa-dosa mereka, upaya keras mereka dalam meraih hak orang lain, dan oleh pengabaian mereka terhadap perintah-Nya. Mereka gagal mendapatkannya, menjadi miskin dan merugi dalam kehidupan ini dan di akhirat, kerana itu, mereka berupaya mendapatkan pertolongan-Nya untuk mengabdi kepada-Nya. Mereka tak mendapatkan yang mereka upayakan, tapi hanya membazirkan kehidupan duniawi dan akhirat mereka; merekalah seburuk-buruk orang, sebodoh-bodoh orang, sekeji-keji orang dalam lahir dan batin.Mereka menjadi redha kepada takdir-Nya, puas dengan kurnia-Nya dan patuh kepada-Nya. Bagian duniawi mereka datang kepada mereka tanpa diupayakan dan dicemaskan; mereka menjadi dekat dengan Allah yang Maha mulia, dan menerima dari-Nya segala yang mereka dambakan. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang ridha dengan ketentuan-Nya, yang meluruh dalam kehendak-Nya dan yang mendapatkan kesehatan dan kekuatan ruhani untuk melakukan yang dikehendaki-Nya.

Fathul Ghaib

Bagian #53

Risalah 53

Mutiara karya Syeikh Abdul Qodir Jailani


Mintalah kepada Allah keredhaan akan ketentuan-Nya, atau kemampuan meluruh dalam kehendak-Nya. Sebab di dalam hal ini terletak kesenangan dan keunikan besar di dunia ini, dan juga gerbang besar Allah dan sarana untuk dicintai-Nya. Barangsiapa dicintai-Nya, maka Ia tak menyiksanya di dunia ini dan di akhirat. Dalam dua kebajikan ini terletak hubungan dengan Allah, kebersatuan dengan-Nya dan keintiman dengan-Nya. Jangan bernafsu berupaya meraih kenikmatan hidup ini, kerana hal ini tak dimaksudkan bagimu. Bila hal itu tak dimaksudkan, maka bodohlah bila berupaya mendapatkannya, dan hal itu juga sangat dikutuk, sebagaimana dikatakan: “Di antara siksa paling besar ialah berupaya meraih yang tak ditentukan oleh-Nya.”Dan bila hal itu dimaksudkan, hal itu hanyalah kesetiaan yang dibolehkan dan tersendiri dalam pengabdian, cinta dan kebenaran. Berupaya kerana meraih segala selain Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha agung adalah syirik. Orang yang berupaya mendapatkan kenikmatan duniawi, tak tulus dalam cinta dan persahabatannya dengan Allah, siapa pun yang menyekutukan-Nya, maka ia pendusta.Begitu pula, orang yang mengharapkan balasan bagi tindakannya adalah tak ikhlas. Keikhlasan ialah mengabdi kepada Allah hanya untuk memberi Rabubiyyah, yaitu sifat Allah yang mengatur alam semesta, pembuluhnya. Orang seperti itu mengabdi kepada-Nya kerana Ia adalah Tuhannya dan patut diabdi, dan wajib baginya berbuat kebajikan dan patuh kepada-Nya, mengingat bahawa ia sepenuhnya milik-Nya, begitu pula gerak-geriknya, dan upayanya. Hamba dan segala miliknya milik Tuannya. Bukankah harus begitu? Sebagaimana telah kami nyatakan, semua pengabdian merupakan rahmat Allah dan kurnia-Nya atas hamba-Nya, kerana Dialah yang memberinya daya bertindak dan daya mengatasinya.Maka, senantiasa bersyukur kepada-Nya lebih baik daripada meminta balasan dari-Nya atas kebajikannya. Kenapa kau berupaya keras meraih kenikmatan duniawi, bila telah kau lihat sejumlah besar orang, bila kenikmatan duniawi berlimpah tak berkeputusan, mereka kian sedih, cemas dan haus akan hal-hal yang tak dimaksudkan bagi mereka? Bagian duniawi mereka nampak timpang, kecil dan menjijikkan,dan bagian duniawi yang lain nampak indah dan agung bagi hati dan mata mereka, dan mulailah mereka berupaya meraihnya meski hal itu bukan hak mereka. Dengan begini, kehidupan mereka berlalu dan daya mereka menjadi sirna, dan mereka menjadi tua, kekayaan mereka menjadi habis, tubuh mereka menjadi renta, kening mereka berkeringat, dan catatan kehidupan mereka menjadi gelap oleh dosa-dosa mereka, upaya keras mereka dalam meraih hak orang lain, dan oleh pengabaian mereka terhadap perintah-Nya. Mereka gagal mendapatkannya, menjadi miskin dan merugi dalam kehidupan ini dan di akhirat, kerana itu, mereka berupaya mendapatkan pertolongan-Nya untuk mengabdi kepada-Nya. Mereka tak mendapatkan yang mereka upayakan, tapi hanya membazirkan kehidupan duniawi dan akhirat mereka; merekalah seburuk-buruk orang, sebodoh-bodoh orang, sekeji-keji orang dalam lahir dan batin.Mereka menjadi redha kepada takdir-Nya, puas dengan kurnia-Nya dan patuh kepada-Nya. Bagian duniawi mereka datang kepada mereka tanpa diupayakan dan dicemaskan; mereka menjadi dekat dengan Allah yang Maha mulia, dan menerima dari-Nya segala yang mereka dambakan. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang ridha dengan ketentuan-Nya, yang meluruh dalam kehendak-Nya dan yang mendapatkan kesehatan dan kekuatan ruhani untuk melakukan yang dikehendaki-Nya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai