Fathul Ghaib

Bagian #32

Majelis ke 32

MELAKSANAKAN PERINTAH DAN MENJAUHI LARANGAN-NYA

Jum’at pagi tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 545 Hijriyah, di pondok,

Beliau berkata:Laksanakanlah perintah Allah, rintangilah perbuatan terlarang; bersabarlah dalam menerima ujian dengan memperbanyak amalan sunnah, maka kamu sungguh disebut orang sadar yang beramal untuk mencari taufiq Allah; rendahkan dirimu di hadapan-Nya hingga lengket debu; rintangi maksiat dari jalur lahir dan membencinya melalui jalur batin; genggamlah taufiqnya; benci dan maksiat jauhkan dari-Nya; bersabarlah atas ketentuan-Nya. Datanglah di hdapanku dengan akal sehat yang menetapkan jiwa serta niat azimah; jauhkan kebimbangan dariku dan baik prasangka denganku, tentu kamu memperoleh kegunaan atas ucapanku; fahamilah artinya!..Wahai orang yang bimbang terhadapku, setiiap apa yang diriku ada di dalamnya akan membuat kejelasanmu di hari-hari mendatang; jangan kamu perumpil daku dalam hatimudengan penahanan dan pengalahan. Beban dunia di atas kepaalku dan beban akhirat di dalam hatiku dan beban Allah atas sirriku siapa yang menemaniku. Siapa yang dijadikan baik akan menghadap daku sedang di kepalanya terlintas suara memuji Allah, tiada seorang pun butuh pertolongan selain dari-Nya; jadilah kamu orang berakal, beradab baik di hadapan Ulama, karena mereka pemelihara keutuhan dunia; jika tidak, mana mungkin terpelihara riya’mu, munafiqmu dan syirikmu. Wahai orang munafiq, wahai musuh Allah, wahai musuh Rasul, wahai pengisi neraka, camkanlah!.Wahai Allah limpahkan taubat untuk daku dan mereka; wahai Allah bangunkan daku dan mereka, rakhmatkanlah aku dan mereka, hampakan hati kami dan organ tubuh kami untuk-Mu, jika terpaksa organ tubuh untuk keperluan keluarga, tentang urusan dunia dan jiwa untuk akhirat, maka hati dan sirr kupersembahkan untuk-Mu semata, amin…Celaka, kamu telah memperkuat jiwa dengan rasa takut dan mengharap ciptaan, lenyapkan penguat ini dari mereka dan tegakkan dirimu untuk menjadi pelayan Tuhan; jadikanlah ketenangan di hadapan-Nya melalui zuhud, memutus hubungan syahwat, wanita  dan bebagai sesuatu yang ada didalamnya, berati ia datang kepadanya tanpa sepengetahuanmu atau taanpa masa pencarian, yang demikian kamu telah berzuhud di hadapan-Nya, maka kamu diberi penglihatan dengan mata yang mulia dan memperoleh bagian tanpa terputus. Tetapi selagi kamu masih merasa penat terhadap apa yang ada di sekelilingmu, tetap kamu tidak akan kedatangan sesutu dari yang tidak diduga.Ada Ulama berkata : “Selagi di hadapanmu terdapat sesuatu, tentu sesuatu yang ghaib tidak akan datang kepadamu.”Wahai Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kepenatan causalita dan yang membuat kegilaan, hawa, tabiat dan keburukan meliputi segala kondisi dan sikap.Wahai Tuhan kami, berilah kemi kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang baik di akhirat dan lepaskanlah kami dari siksa neraka.

Fathul Ghaib

Bagian #31

Majelis ke  31.

Marah yang terpuji dan tercela

Pengajian pada Tanggal 12 Jumadil akhir tahun 545 Hijriyah di Madrasah Al Namurah,


Beliau berkata:Marah, jika dilandasi karena Allah itu masih terpuji, tapi jika terdorong oleh yang lain, berarti suatu cela; orang beriman jika bersih itu karena Allah semata, jadi bukan karena diri sendiri; juga bersih dalam berkemauan untuk menolong Agamanya, bukan untuk menolong diri sendiri; ia akan mudah geram jika hukum-hukum Allah terberangus, seperti kegeraman singa kala menerkam buruannya; berkait pasti Allah murka karena kemarahannya itu, dan Dia akan ridlo karena ridlonya; janganlah kau lahirkan kejengkelanmu kepada Allah, kendati konpensasinya untuk dirimu sendiri; karena perbuatan itu bis membentuk sikap munafik, paling tidak serupa dengan sifat itu; karena Allah punya persifatan lain dari yang lain (bukan seperti persifatan manusia) yang bisa berubah atau surut.Bila kau sedang menekuni sesuatu perbuatan, singkirkan nafsu, hawa, setan darinya, dan kamu jangan berniat berbuat sesuatu kecuali karena Allah serta untuk mengikuti perintah-perintah-Nya; janganlah kau lakukan sesuatu perbuatan kecuali ada perintah resmi yang bersumber dari Allah; baik dengan perantara syara’ atau melalui ilmu-Nya – yang masuk di hati bersama penetapan syara’.Berzuhudlah untuk dirimu juga terhadap ciptaan lain termasuk dunia yang mengitari ini; cintailah berjinak-jinak bersama Allah; atau jangan bergeser dari apap pun setelah kejernihan jiwamu kecuali bersama Allah; usahakan bersama orang-orang shalih, tentu kau bisa beradab sambil mentranfsfer peradaban mereka dan berpandang dengan pandangan mereka; dalam ikatan besar kau meliaht Dia baru melihat dengan-Nya; perbuatan-Nya dalam penciptaan amat suci seperti dirimu tak diperkenankan masuk di kerajaan-Nya, karena membawa benda najis; lahirmu tidak bisa masuk dalam kekuasaan Maharaja, yaitu Allah, bersama benda-benda najis yang tersimpan dalam batinmu; kau laksana himmah yang dipenuhi kotoran minyak. Aman amal bisa kau dapat sampai terenung dalam jiwa yang bersih, dan pada gilirannya memasukkan dirimu dalam kerajaan-Nya.Dalam hatimu hanya terdapat kelancangan; rasa takut pada sesama; berlembut bersama mereka, cinta dunia dan apa pun yang ada di sana termasuk pengotor hati; tiada kata bagimu kendati sampai hati mati dan menghantar dirimu pada pintu kebenaran hidup di mana kiblatmu terhadap sesama makhluk tidak diperdulikan; adapun selagi keberadaanmu untuk mereka, sedang kamu mengetahui mereka, maka tanganmu tidak memanjang kepada mereka, sehingga mereka menerimamu; tiada kata hingga keberadaanmu tersibuk oleh mereka dan pada orang-orang yang menerimamu, juga yang mentaati, mencegah memuji dan mencela mereka; jika taubat sudah bersih, iman pun bersih; menurut ahlus sunnah menambahkan bahwa : “Iman itu bertambah dan berkurang; bertambah karena ketaatan dan berkurang karena maksiat. Nah, demikian hak kewajiban manusia yang harus diperhatikan. Adapun orang-orang khusus (al-Khawash), maka ima mereka terus bertambah karena lenyapnya ciptaan dari hati mereka, dan berkurang oleh pemasukan ciptaan dari hati mereka, dan berkurang oleh pemasukan ciptaan dalam hatinya. Bertambah karena ketenteraman mereka bersama Allah dan berkurang karena ketenangan mereka bersama selain Dia; mereka bertwakkal kepada Tuhan dan bertaqwa; kepada-Nya mereka menyeru; dari-Nya mereka takut; kepada-Nya mereka kembali bertauhid dan bergantung; maka mereka tidak syirik; tauhid mereka terletak dalam hati dan perhubungan mereka antar sesama terletak pada lahirinya saja; jika mereka disakiti tidak membalas. Firman Allah :“Dan apabila orang-orang bodoh menghadapkan perkataan kepadanya, dijawabnya : Selamat!”. (Qs. XXV:63).Peliharalah As-Sumtu (sifat memperbanyak diam) dan hilm (sabar) dari orang-orang yang menyakiti; jika mereka membaut dosa besar, yaitu bermaksiat kepada Allah, baru kau tidak boleh berpangku dagu atau diam, karena hal itu jelas haram; kala itu melepaskan bicara termasuk ibadah sedang peninggalannya terbilang maksiat; Apabila kau mampu menegakkan al-Ma’ruf nahi munkar, itu merupakan pintu yang baik yang telah dibuka di hadapanmu; maka segera masukilah!.Adalah Isa a.s.; bila makan itu makan tumbuh-tumbuhan yang ada di padang, sedang minumnya dari belik (sumber air), duduknya di ngarai-ngarai atau bekas reruntuhan, jika tidur berbantal hasta, orang beriman alangkah baikhya bila mengikuti ini, kendati ia punya harta tapi hanya terpakaikan untuk lahiri saja dan menetapkan jiwa serta hati bersama Allah; pijakan pertama tetap tidak berubah; karena zuhud bila telah menetap dalam hati ia tidak akan tergeser oleh pendatang “dunia”; orang beriman kalaupun mencintai dunia atau isinya, keinginan atau kelezatannya tidak menjadi percikan yang merepotkan diri, baik siang atau malam; tidak menyembah Allah atau berzikir kepada-Nya, tidak mentaati-Nya kalau jiwanya masih menyimpan aib dalam penglihatan Allah; maka ia bertaubat dan menyesali segala perbuatannya, itu sesuatu yang terikat darinya meliputi hari-hari yang sunyi; pandanganya mencela dunia melalui jalur Kitab, sunnah dan guru-guru yang alim; lalu sikap zuhud datang di sana; manakala ia melihat sesuatu aib, maka ia melihat pula aib yang lain; kemudian ia sadari bahwa hal itu hanya kebinasaan saja, usianya memanajng sampai dekat, nikmatnya lenyap, kebaikannya tergeser, perangainya jahat, tenaganya pembantai, bicaranya berbisa – ia berdiri tiada tempat kembali untuknya, juga permulaan dan masanya; di sana seperti bangunan di atas air, dengan demikian ketetapan dalam hati pun tidak bisa dijadikan pedoman, dan baginya tidak punya kediaman tetap. Kemudain ia menekan derajat yang rendah dan memperkokoh tempatnya, maka ia mengenal Allah  —  karena itu jangan harap akhirat sebagai ketetapan hati; sebaliknya ambillah kedekatan dengan Tuhan di dunia dan akhirat; untuk sirr dan hati dibangunkan kediaman di sana. Ketika itu imarah (keramaian) dunia tidak membawa madlarat baginya kendati seribu rumah di bangun untuknya; karena ia dibangun untuk yang lain bukan untuk Dia; di sana karena ia mengikuti perintah-perintah Allah, menerima ketentuan dan keputusan-Nya; ia berdiri siaga melayani ciptaan atau menyambung tali kebaikan dengan mereka, mengkait bederang dengan gulita, baik perihal makanan atau roti; ia tidak makan biji-bijian itu sebagai makanan yang diperbantahkan; di sana tidak mendapat persekutuan selainnya, maka ia menjadi makanan yang disantapnya dan berpuasa di samping makanan selainnya; orang zuhud yang berpuasa dan orang arif yang berpuasa selain yang diketahui, berarti mereka pelapar selain dari penghasilan yang halal; mereka berpenyakit karena ciptaan, obatnya adalah kedekatan; orang zuhud berpuasa di siang ghari dan orang arif berpuasa di siang dan malam hari; ia berpuasa tidak mengenal buka sampai Asma Tuhan tetap di hati; orang arif berpuasa setahun penuh; selama itu ia puasa dengan hatinya dan terpelihara sirriny; sungguh ia amat sadar bahwa obat mujarab baginya adalah berjumpa Tuhan dan dekat dengan-Nya.Anak-anak muridku, jika ingin bahagia, keluarkan ciptaan dari hatimu; jangan takut atau mengharap mereka; jangan berjinak-jinak atau diam bersama mereka; bergegaslah lari menjauh darinya bencilah mereka seakan-akan bongkahan bangkai; jika kamu bersih dalam hal ini tentu ketenteraman pun bersih di saat mengenang Allah dan gelisah ketika mengenang yanglain.

Fathul Ghaib

Bagian #30

Majelis ke  30

Mengenal Allah atas nikmat-Nya

Pagi tanggal 16 Jumadil Akhir tahun 545 Hijriyah di Pondok, Beliau berkata:



Wahai, amat beruntung orang yang mengenal Allah – atas kenikmatan-Nya dan menyandarkan segala permasalahannya kepada-Nya, menelanjangi jiwanya sebab-sebab, dan kekuatannya; orang berakal adalah orang yang tidak memperhitungkan amalnya untuk Allah, tidak mencari pahala atas segala perbuatan baiknya.Celaka kau, kau sembah Allah tanpa dasar ilmu, berzuhud tanpa ilmu, mengabil dunia tanpa ilmu, itulah penutup di atas penutup, kau tidak memilah yang baik dari yang buruk, kau tidak bedakan antara apa yang wajib dan apa yang tidak wajib bagimmu; kau tidak mengenal teman dan musuhmu; setiap hal ini hanya terjadi karena kedunguanmu atas hukum-hukum Allah dan peninggalanmu untuk melayani para guru; yaitu guru amal dan guru ilmu yang bisa menunjukkan kamu pada jalan Allah; sehrusnya ucapan itu untuk yang pertama, sedang amal yang kedua, dan dengan mengamalkannya kamu bisa sampai kepada Allah; tiada sesuatu penyambung kecuali disetai ilmu zuhud di dunia dan berpaling dengan hati memutar jiwa; orang berzuhud itu rela melepas dunia dari cengkeramannya, adapun zuhud yang benar itu mengusir rasa dunia dari hati; berzuhudlah didunia dengan mengikuti hati mereka maka jadilah zuhud itu setingkat dengan mereka, pergaulilah lahir dan batin mereka; karena api tabiat mereka telah padam, hawa mereka terkoyak, nafsu mereka terkendali dan keburukannya jadi baik.Anak-anak muridku, bila zuhudmu di dunia telah sempurna, maka zuhudlah dalam ikhtiar dan ciptaan; kamu tak perlu takut atau mengharap mereka; segala sesuatu yang memerintah nafsu jangan kau terima, kecuali setelah datang perintah Allah; Adapun yang biasa terjadi padamu dari sudut hati; itu melalui ilham atau tidur sambil sinis menjauh dari semua ciptaan; kendati organ tubuh tenteram tidak ada ibarat yang membuat madlarat bagimu ibarat (pengajaran) itu hanya terjadi disertai ketenangan hati; ia adalah perrkara besar yang tidak menenteramkan dirimu sampai nafsu; tabiat, hawa dan apapun selain Allah padam bagimu; ketika itu kau baru hidup berdektan dengan-Nya; mati lalu bangkit; lalu saat dikehendaki kamu dibangkitkan kepada-Nya; pengembalian menjadi makhluk – ketika itu – tidak diketahui; sejauh mana perrbaikan mereka dan pengembalian mereka menuju pintu-Nya; engkau datang dari dunia dan akhirat bermil-mil semata untuk memperoleh bagian keduanya – dunia akhirat; kau diberi kekuatan lagi karena kekerasan manusia, lalu kamu dikembalikan kepada mereka – dari sesat – mereka dan menetapkan perintah kewajiban-Nya; jika hal itu tidak dikehendaki, maka pendekatan Dia bagimu dan kebebasan dari lain-Nya; tiada amanat untuk ciptaan setelah mencapai Al-Haq – Dzat pengda keberradaan ini – Dia Maha ada sebelum dunia ini; pengada segala sesuatu yang konstan setelah keberadaan ini; ketahuilah, dosa-dosamu itu laksana hujan; maka siapkan taubat untuk setiap tetesannya.Celaka, kau pembenci : kau pemuja nafsu “libido” kau penggemar hawa, kau penghormat semua itu; lihatlah isi pelajaran kubur; bicarailah penghuni-penghuninya dengan lisan iman, niscaya mereka menyampaikan berita tentang situasi yang melingkupinya.Wahai manusia, perbaguslah persahabatanmu bersama Allah, takutlah kepada-Nya; beramallah dengan hukum-hukum-Nya; karena Dia membebanimu berupa amalan-amalan hukum itu; beramallah dengan hukum ini; datangi hak-Nya; jika kau beramal menggunakan hukum itu, berarti telah menunaikan amal dengan usahamu; bahkan kamu termasuk mendorong orang lain untuk mengamalkan; berdampak ilmu yang kau punya itu pun membawa kegunaan (manfaat) atas ilmu yang belum pernah kau pelajari (mungkin yg dimaksud ilmu laduni),; karena, ketika itu keberadaanmu bersama ilmu-Nya dan bersama manusia dengan hukum-hukum-Nya; jika demikian, kamu tercatat orang pertama yang mengetahui bersumber ilmu-Nya menuju ke pencarian ke dua. Bila kenyataan penjejakan dalam hal pertama berhasil, suatu ketika yang kedua pun terdapat berupa orang yang kau jumpai; Tapi, bagaimana engkau bisa bertemu Ustadz – jika lakumu tetap begitu – surutlah ke belakang (berorientasi) dan terapkanlah akal, pendapat ilmu, baru amal dilanjutkan ikhlas. Sabda Nabi saw. “Bertaqqarublah… baru beruzlah.”Orang beriman itu, orang yang belajar sesuatu yang diwajibkan atas dirinya, kemudian mengisolir dari manusia bersunyi-sunyi diri untuk beribadah kepada Allah; ia mengenal ciptaan cukup sebagian di antara mereka, dan mengenal Tuhan lalu mencitai, mencari dan melayani-Nya; ia juga tahu bahwa dlar, naf’, baik atau buruk, bukan di tangan mereka; bahkan hal itu justru berlaku untuk mereka datang dari Allah; maka bisa dilihat bahwa orang yang termasuk golongan mereka itu lebih baik daripada yang lekat dunia untuk kembali kepada-Nya dengan meninggal furu’nya; diketahui pula bahwa furu’ itu cukup banyak, sedang sumbernya hanya satu; karena itu genggamlah Dia.Lihatlah kaca berfikir, maka bisa kau lihat bahwa berhenti pada satu pintu itu lebih baik daripada berhenti pada pintu-pintu yang beraneka ragam; Karena itu berhentilah pada Dia; genggamlah Dia; orang berriman yang yakin ikhlas lagi berakal sebenarnya telah diberi kejernihan berakal, oleh sebab itu ia menjauh dari keramaian manusia, dan mengambil mereka dari samping.

Fathul Ghaib

Bagian #29

Majelis ke  29

Jangan menyanjung orang kaya karena kekayaannya

Tanggal 11 Jumadil Akhir 545 Hijriyah di Madrasah,


Beliau berkata: dengan mensitir Hadis Nabi saw :“Barangsiapa menjunjung (menyanjung) orang kaya karena terdorong ingin memperoleh apa yang ada padanya, maka hilanglah sepertiga agamanya.”Dengarlah, wahai orang munafiq, demikian akibat perendahan diri di hadapan orang kaya, maka bagaimana hasil shalat, puasa dan haji orang yang berbuat seperti ini, bahkan mereka menerima cerca mereka. Wahai pemusyrik Allah, tidakkah kau terima berita Dia dan rasul-Nya; Islamlah, taubatlah dan ikhlaslah dalam bertaubat hingga imanmu kembali dan keyakinanmu terjunjung, tauhidmu tumbuh maka cabang-cabangnya pun naik ke arasy.Anak-anak muridku, bila kau pelihara iman, kau tumbuhkan (persubur) batangnya tentu diperkaya Allah untuk dirimu sendiri dari segala ciptaan Allah menghias jiwa, hati dan sirrimu lalu menempatkanmu pada pintu-Nya, memperkaya pikirmu dengan ingat dekat dan berjinak bersama-Nya; ketika itu kamu tidak peduli lagi terhadap orang gyang bersimbah dunia atau tersibukkan olehnya; juga tidak memperdulikan orang-orang yang haus menguasai dunia.Wahai orang yang mengaku berilmu, sedang ia giat mencari dunia tanpa perduli dengan atau jatuh untuk mereka, sungguh kamu disesatkan Allah karena ilmu itu; lenyaplah keberkahan ilmumu; lenyap akalmu tinggal kulut saja. Dan kamu, wahai pengaku ahli ibadah, sedang hatimu giat menyembah ciptaan, takut mereka dan mengharap mereka; secara lahiri kamu memang penyembah Allah, tapi batinmu menyembah ciptaan; setiap apa yang kau cari atau yang kau tuju semata dari mereka termasuk kepingan-kepingan mutiara, uang dan dunia; kau mengharap pujian mereka tapi takut cela dan pemalingan mereka, rupanya kau takut jika subsidi dari mereka tertutup, karena itu mereka selalu kau harapkan; bahkan kau tak malu-malu bicara lembut di hadapan mereka.Celaka kamu; menurut pengamatanku kau termasuk pemusyrik, munafik bahkan zindik. Sungguh celaka; kau lakukan shalat, mulutmu mengucapkan  Takbir (Allahu Akbar), tapi ucapan itu kau dustai sendiri;sebenarnya kedudukan ciptaan di hatimu itu lebih besar daripada Allah; bertaubatlah kepada Allah; kau jangan beramal baik kecuali untuk-Nya; jangan peruntukkan dunia atau akhirat; jadilah seperti orang yang berhasrat kepada-Nya semata; berikan hak Ketuhanan-Nya – harus kau sembah – janganlah beramal untuk mencari pujian; karena diberi atau dicegah; sadarlah rizkimu itu tidak bertambah juga tidak berkurang; sesuatu yang telah diputus untukmu – kebaikan atau keburukan – pasti datang; persempitlah lobamu dan perpendek punyamu; jadikanlah mati sebagai rujukan penglihatanmu; niscaya beruntung jika bersedia menerapkan syarat dalam segala aktivitas.Wahai manusia, bukankah syara’ sudah ditetapkan untukmu, dan kau tetapkan pada sikap lahiri dan batini, lalu kau jual nafsu, hawa dan kau perdayakan kebesaran Allah, suatu saat sikssa dan belenggu jiwa tentu tersembul darimu; segala sifatmu niscaya diperlihatkan semua lalu mencengkeram dan menyerangmu, berakhir dengan kematian yang pedih, di sana (kubur); dirimu  dipersempit dan disiksa oleh-Nya sampai kiamat sambil menunggu keputusan Mahkamah Agung; di sana kau diperhitungkan meliputi segala aktivitas hidup; kamu diminta untuk mempertanggungjawabkan  berbagai masalah besar atau kecil; jika demikian gambarmu, maka tak jauh berbeda dengan patung yang tak bernyawa, kulit kering mengisut tidak berarti yang sama artinya tidak berkekuatan lagi; di saat itu tiada balasan terbaik untukmu kecuali neraka; karena ibadahmu di dunia tidak ikhlas, maka tiada balasan baik kecuali luapan api neraka.Kembalilah kepada Allah dengan pembaruan Islam taubat yang baik serta ikhlas di dunia sebelum mati menjemputmu; sebab, jika satu perkara itu sudah tertutup pintunya berati kau tidak bisa bertaubat lagi; kembalilah kepaa-Nya dengan kelurusan hati sehingga pintu keutamaan tidak tertutup untukmu.Celaka, mengapa kau tidak malu kepada Tuhan, sedang kau jadikan kepinga-kepingan uang sebagai Tuhan, hari-harimu sebagai tujuan akhir dan kau lupakan Tuhanmu secara umum. Dalam waktu dekat niscaya kau melihat hasil perbuatanmu.Serahkan kedai-kedai, hartamu untuk membantu keluarga, untuk kasab mereka berdasar syara’ sedang hatimu tetap tawakal kepada Allah, carilah rizkimu dan rizki mereka dari Allah, bukan dari harta atau kedaimu dan perputaran rizkimu dan rizki mereka.Jadikanlah fadilah dan kejiwaan bersama-Nya, niscaya kau terkayakan dari keluargamu dan Dia memperkaya mereka dengan sesuatu yang dikehendaki; dikatakan pada hatimu ini untuk dirimu dan ini untuk keluargamu; tapi bagaimana kamu bisa memperoleh perkara ini sedang selama perjalanan hidupmu bercabang-cabang, tertutup lagi menjauh dari-Nya; janganlah kau berkenyang diri dengan dunia dan isinya; tutuplah pintu hatimu rapat-rapat; putuskanlah segala keberadaan yang hendak memasukinya; lalu terapkan di dalamnya kenangan untuk Allah; taubatlah sebenar-benarnnya; menyesallah atas laku dan adabmu yang buruk sepenuh penyesalan; orang beriman yang yakin dengan perselisihan dunia dan akhirat tidaklah menjadi bakhil.Nabi Isa a.s.; berkata kepada iblis : “Siapakah di antara sekian banyak manusia yang kau sukai?” Jawab Iblis : “Orang beriman yang bakhil.” Kata Nabi Isa a.s.; : “Siapa pula di antara mereka yang kau benci?” Jawab iblis : “Orang fasiq yang mulia.” Kata Nabi Isa a.s. kepada iblis : “Mengapa demikian?” Jawab Iblis : “Karena aku amat mengharap orang beriman yang bakhil akan menerapkan bakhilnya dalam laku maksiat; dan aku takut si fasiq yang mulia jika sampai terhapus sifat buruknya oleh sifat mulianya.Wahai di mana orang-orang bertaubat yang menekuni taubatnya; mana orang yang malu dan takut kepada Tuhan dalam segala aktivitasnya; wahai, di manakah orang yang membersihkan diri dari perkara haram – baik waktu sunyi atau terangnya; di manakah orang yang mendahulukan sikap malu hati dan memutarnya? Sabda Nabi saw. : “Sesungguhnya kedua mata tentu diperhias, sedang penghiasnya adalah melihat hal-hal yang haram.”  Berapa kali kau perzinakan matamu dengan memandang perkara haram – seperti wanita dan lainnya. Padahal Allah telah berrfirman :“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman supaya mereka menahan sebagian penglihatan mereka.” (Qs. XXIV : 30).Anak-anak muridku, selagi dalam hatimu terbersit rasa cinta dunia, kamu tak bisa melihat sesuatu pun ikhwal orang-orang shalih; selagi kau dusta dan bersirkah kepada manusia tidak mungkin mata hatimu terbuka; tiada kata yang mengantarmu hingga berzuhud dari ciptaan; jadilah mujtahid; persibuk dirimu dengan ddisiplin taubat; kembalikan segala kebutuhanmu kepada-Nya; sesungguhnya Dia itu lebih utama daripada yang lain; peliharalah hukum-hukum syara’-Nya; biasakan bertaqwa kepada-Nya dan tinggalkan dunia serta akhirat; karena kedua masalah yang ada itu akan terus mendatangimu sampai tak ada masalah yang ada itu ahdap sesuatu selain Dia itu bisa menjernihkan hati dari berbagai keruhnya; Jika kamu tidak segera menunjukkan hati kepada-Nya, maka sesungguhnya kamu seperti hewan – tak berakal.Wahai, rizkimu tidak dimakannya selain kamu sendiri; tempatmu di surga dan neraka – tidak di tempatnya selain kamu; tapi sungguh kamu dikendalikan pelupa dan didikte hawa; setiap kali hikmah kau pasang dalam bentuk makanan, minuman, kawin, tidur dan tesalurnya sasaran ekonomi, tujuan cenderung kepada orang-orang kafir dan munafik, setelah kau peroleh kepuasan barang halal atau haram, masih diragukan apakah dalam hatimu terbersit rasa agama atau tidak.Wahai para miskin, tangisilah jiwamu; jika anakmu mati di hari kiamat akan bangkit untukmu, tetapi kalau agamamu padam tak ambil pdeuli dan kau tidak menangisinya; maka para Malaikatlah yang mewakilimu sama memangisi dirimu karena menyesal melihat kerendahan semangat agamamu. Kamu ternyata tak berakal; seandainya akau berakal tentu akan menangisi kelenyapan agama bersama sumber-sumber kekayaan, sedang kau tidak kena coba; inilah akal dan kemalu-maluan; keduanya itulah sumber kekayaan yang benar; ilmu tidak berguna dan akal tidak bermanfaat untuknya; hidup tidak berfaedah; rumah tak terhuni; harta benda tak diketahui dan makanan tak termakan bila kau tak mengetahui sesuatu yang ada pada diri sendiri sungguh aku mengetahui; aku bersama pengacara syara’, yang dengannya menjadi hakim lahiri, dan pengacara ilmu Allah yang ia sebagai ilmu batin; bangunlah dari ketertiduran pelupa; basuhlah wajahmu dengan air pembangun, lalu lihatlah, apakah kamu Muslim atau kafir, beriman atau munafik, bertauhid atau pemusyrik, periya’ atau pemukhlis, penyama atau pembeda, ridla atau benci; Allah tidak akan ambil peduli dirimu atas kerelaan atau kebencian itu; karena kduanya itu sendiri berada di antara dlar dan naf’ (sengsara atau manfaat) sama-sama kembali untuk dirimu sendiri. Mahasuci Dzat yang Mulia; yang Halim; yang Utama; segala keberadaan bagaimana pun juga berada di bawah kelembutan-Nya; seandainya Dia tidak berlembut kepada kita, niscaya kita terlantar binasa.Anak-anak muridku, kau berharap kepada Allah melalui ibadah, tetapi kau iringai syahwat, riya’ dan munafiq, bahan kamu benci mencari kemuliaan-Nya; engkau perumpil orang-orang shalih beserta kerusakanmu; apa yang kau andalkan, padahal dzikir mereka punya; pengajak untuk mengikuti pengetahuan mereka juga merreka punya; wahai pelari dari Tuhan; wahai manusia sesat; wahai penjauh dari lingkungan orang shalih! Celaka kamu, mana sesuatu yang keua perhatikan; mana sesuatu yang mampu merangsangmu untuk berakal; pada siapa kau mengadu; pada siapa kau minta tolong; bersama siapa kau hanyut; kala kau tertimpa derita dengan siapa kau berteguh hati?; ceritakan padaku, karena aku sudah tahu kedustaan dan munafiqmu; kau dan manusia lainnya bagiku laksana kepinding; jika di antaramu terdapat orang-orang yang benar, aku tetap mengetahui dan aku juga yang sanggup menjadi pelayannya; kalaupun ia hendak membawaku ke pasar, lalu menjual kau atau menjadikan daku sebagai tanggungan hutang, silahkan; Jika ia hendak mengambil busanaku atau apa saja yang aku miliki, atau ia hendak memerintah aku hingga aku jadi peminta, silahkan; tapi nyatanya kamu tak punya kebenaran tahid atau iman yang menunjang tujuan itu; mana kau punya amal; kau tak berbeda seperti kayu bakar yang tidak pantas kecuali untuk dijadikan santapan api.Manusia itu sama, sukan menjadikan tujuan pertama utuk dunia; bebaskanlah hatimu dari apa pun dan tempatkan di sana satu masalah yang tidak berbentuk seperti keberadaan ini; bersihkanlah ibadah dari riya; nifaq dan sum’ah; luruskanlah ibadah hanya untuk Tuhan semata; tapi ternyata kau masih suka menyembah ciptaan, pembawa riya’, hawa nafsu dan pujian; tiada di antaramu yang benar mampu beribadah kecuali yang dikehendaki Allah; tapi sebagian besar di antara mereka suka menyembah dunia, dan takut jika sampai lenyap; inilah penyembah surga yang mengharap memperoleh kenikmatannya dan tidak mengharap Penciptanya; dan inilah penyembah neraka yang takut darinya tapi tidak takut Penciptanya : siapakah sebenarnya manusia; apakah sebenarnya surga itu; apakah sebenarnya neraka dan apa pula sebenarnya selain-Nya itu?Firman Allah :“Dan mereka hanya diperintahkan supaya menyembah Allah dengan tulus ikhlas beragama untuk Allah semata-mata.” (Qs.VIIIC :5)Orang-orang arif lagi beriman tentu sama menghamba Allah bukan yang lain; berikanlah hak penuhanan dan penyembahan sebagaimana mestinya; sembahlah dia dengan mengikuti segala perintah-Nya, cintailah tapi tidak menurut arti lain dan tinggalkan apapun selain Dia; rupanya kau berupa patung-patung tak bernyawa; kau seperti bangunan-bangunan sedang orang lain isinya; kamu tampak sedang mereka sirr; orang shalih adalah para pejuang Nabi; penguat tangan kanan atau kirinya; muka atau belakang, sisa makanan para Nabi itu hanya terlimpah untuk mereka; mereka beramal menurut ilmu mereka, maka praktis mereka sebagai pewarisnya.Sabda Nabi saw. :“Ulama adalah pewaris nabi-nabi.”Kala mereka beramal berdasar ilmu mereka, maka menjadi pengganti Nabi-Nabi, sekaligus mewarisi kenabian mereka.Janganlah kau datang hanya untuk membawa sepucuk ilmu lalu merasa cukup; yang demikian tak berbeda seperti dakwah yang tidak disertai niat, tentu tidak bermanfaat; halnya ilmu tidak bermanfaat tanpa disertai amal. Nabi Muhammad saw. bersabda :“Ilmu itu hanya terpanggil dengan amal, kalau sesuai ia bersambut, kalau tidak ia berpisah.”Artinya berpindah barakahnya sedang pemelajarannya tetap; kulitnya tetap tapi akalnya lenyap.Wahai para penjual amal dengan ilmu, di antaramu terdapat orang yang pandai berpantun disertai ibarat-ibarat dan kebenaran-kebenaran meliputi Balaghohnya, namun ia tidak beramal bahkan tak punya rasa ikhlas; seandainya kau mau melatih hati; niscaya terlatih pula organ tubuhmu, karena hati itu sentral organ tubuh yang ada; karena itu jika kau melatihnya tentu kerucuknya terlatih pula.Ilmu itu diumpamakan kulit dan amal sebagai kerangka; hanyalah kulit itu bisa terpelihara jika kerangkanya juga terpelihara; hanyalah melalui penjagaan kerangka jika mengharap pelumas keluar darinya; maka bila tidak ada kerangka dalam kulit itu apa yang akan kau perbuat untuknya; jika kerangka itu tidak berminyak lalu apa yang akan kau perbuat untuknya; ilmu telah lenyap, karena bila amal tidak ada, maka ilmu pun pergi dengan sendirinya; mana mungkin bermanfaat bagimu atau pemeliharaan itu sedang pelajaranmu tidak kau sertai amal; wahai orang berilmu, jika ku ingin baik di dunia dan akhirat amalkanlah ilmumu, ajarilah manusia; wahai orang kaya, jika kau ingin baik di dunia dan akhirat, peringanlah beban orang-orang fakir. Nabi saw. bersabda :“Manusia itu adalah keluarga Alah dan manusia yang paling dicintai Allah Adalah mereka yang mau menafkahkan (hartanya) untuk keperluan keluarga.”Bahwa Ibrahim a.s.; bila mengetahui orang kafir yang sedikit sabarnya, beliau segera berkata : “ Wahai Allah, lapangkanlah pada diri kami di dunia dan zuhud kami di dalamnya, janganlah Engkau mencabutnya, maka hancurkanlah kebatilannya.Wahai Allah, lembutkanlah untuk kaji dalam ketentuan dan ketetapan-Mu.

Fathul Ghaib

Bagian #28

Majelis ke  28

Cinta kepada Allah

Tanggal 9 Jumadil Akhir tahun 545 Hijriyah di Pondok,


Beliau berkata:Mensitir sabda Nabi Muhammad saw. “bahwa seseorang datang kepada Nabi, katanya : sesungguhnya aku mencintai Agama Allah. Sabda Nabi saw. : peganglah bala’ sebagai jilbab dan genggamlah fakir sebagai jilbab.”Karena kamu ingin brsifat seperti sifatku, maka kamu harus menerapkan sifat pribadiku dalam jiwamu; artinya demikian; sebab di antara syarat mehabbah itu harus disertai persesuaian; Abu Bakar As Shiddiq adalah sosok orang yang amat mencintai Rasulullah, maka beliau pun mendarmabaktikan jiwa dan seluruh hartanya – untuk keperluan agama – dan bersifat mengikuti sifat-sifat Rasulullah; sejalan dengan kepribadian itu, beliau juga menerapkan kefakiran dalam jiwanya sampai beliau benar-benar sunyi dari persediaan harta; beliau bersesuaian dengan Rasulullah, lahir atau batin, dari yang berbentuk sirri atau yang tampak. Tetapi dirimu, wahai pendusta suka mengaku orang shalih, padahal kamu sembunyi dari mereka baik bersama uang atau perhiasan, dan kamu ingin dekat mereka atau berkawan dengan mereka; mana bisa!!!..Jadilah orang berakal, pengakuanmu itu hanya cinta dusta; cinta itu tidak mungkin tersembunyi untuk orang yang dicinta bahkan cinta itu membekas pada sesuatu; adapun yang biasa terjadi pada pribadi Nabi saw. adalah fakir – itu tidak bisa dipisahkan; karena itu beliau pernah bersabda : “fakir itu lebih mempercepat jalinan denganku bagi orang yang mencintai aku daripada mengalirnya air menuju hulu.”Kata Aisyah r.a. “tidak henti-hentinya dunia bagi kami mengeruhkan keluarga selagi Rasulullah masih di samping kami, ketika Rasulullah wafat dunia dituangkan kepada kami secara besar-besaran.” Maka disyaratkan cinta kepada Rasulullah harus kefakiran, dan mencinta Allah harus menerima ujian-Nya.Ada Ulama berkata : setiap cobaan bergandeng kasih. Mungkinkah kau disebut cinta Allah sedang kecintaan itu kau sertai dusta, munafiq dan riya’ atas nama-Nya; cabutlah pengakuan dan kedustaanmu; kamu tak perlu memasukan pikiranmu jika datangmu untuk menyatakan benar, jika tidak tak perlu ikuti kami. Kau jangan sia-sia berpindah karena kau tidak diterima; bahkan membisu saja diketawakan; janganlah kau mengambil alat penghibur dengan ular dan singa, karena keduanya itu bisa membahayakan jiwa; bila kau punya mantera penakluk ular, boleh kau mempermainkannya; jika kau punya tenaga boleh kau bermain dengan singa; sungguh jalan Allah itu butuh sekali kebenaran, juga sangat membutuhkan nur ma’rifat; bersama mentari ma’rifat yang terbit dalam hati orang-orang benar selamanya tidak pernah suram – siang atau malam.Wahai sahay, jadilah orang berakal; jangan dekati pencipta model zaman kini, karena hakekatnya mereka adalah serigala yang berbusana; ambillah pengacara berfikir; perhatikan gambar di sana; mohonlah kepada Allah agar memberi petunjuk kepadamu; sesungguhnya aku terima berita manusia dan dari Tuhan, maka yang aku temui keburukan terletak pada manusia, kebaikan pada Tuhan.Wahai Allah selamatkan kami dari keburukan mereka, limpahkan rizki untukmu di dunia dan akhirat; sesungguhnya aku tidak memerlukanmu, hanya aku butuh kamu untukmu; untuk memperlilit talimu; aku tidak mengambil sesuatu pun darimu kecuali untukmu sendiri, bukan untukku; bagiku yang gmencukupkan aku bukan dari sesuatu yang ku ambil darimu; aku tidak punya apa pun kecuali kerja bertawakal kepada Allah; aku tidak akan menanti sesuatu yang tidak datang untukku; bukan seperti penantianmu; karena yang demikian adalah gambaran orang-orang munafik yang suka riya’, suka menggantungkan diri kepada sesamanya bukan kepada Allah.Kutekankan kepada seluruh bumi; jadilah orang berakal; jika kamu ingin beruntung usahakan agar menjadi seperti pandai besi untuk melandasiku, hingga seluruh nafsu, hawa, tabiat, setan dan musuh semuanya terpecah!

Fathul Ghaib

Bagian #27

Majelis ke  27

Jangan jadi pendusta

Jum’at pagi tanggal 7 Jumadilakhir tahun 545 Hijriyah di Madrasah,


Beliau berkata:Jadilah orang berakal, jangan jadi pendusta; engkau berkata aku takut Allah, ternyata kamu takut yang lain; kamu jangan takut, baik jin, manusia atau Malaikat; juga jangan takut pada satu pun hewan yang bisa bicara atau hewan benaran; kamu jangan takut siksa dunia atau siksa akhirat; tapi takutlah hanya kepada Allah, Orang berakal itu tidak pernah takut cercaan orang – jika benar ia di sisi Allah — ia menuli dari ocehan siapa pun selain Allah; seluruh makhluk menurutnya lemah dan butuh; demikianlah realitas Ulama yang bisa mengambil kemanfaatan ilmunya; Ulama dengan syara’ serta para pemikir Islam lain adalah dokter-dokter agama yang gagah perkasa mempertahankan existensi Islam dan syara’ dari kehancurannya. Wahai orang yang berantakan agamanya; menghadaplah mereka sehingga tertahan dari keberantakan agamamu.Wahai Allah, sesungguhnya kami mohon agar dekat dengan-Mu tanpa tercampuri bala’; cukuplah kami dari keburukan yang teramat atau dari tipudaya orang-orang durhaka; peliharalah kami menurut kehendak-Mu sebagaimana aku kehendaki; kami mohon ampunan dan afiat dalam beragama di dunia sampai akhirat dan kami mohon taufik untuk pelaksanaan amal shalih dan ikhlas dalam segala amal. Aamiin.Suatu hari seorang lelaki datang kepada Abu Yazid all-Bistami, ketika itu ia tetap melihat ke kanan dan ke kiri. Kata Abu Yazid : apa yang terjadi paamu? Lelaki itu berkata : mencari tempat yag bersih untuk shalat. Kata Abu Yazid : sucikan hatimu, baru kamu bisa shalat di mana kamu kehendaki. Berkaitan dengan peristiwa ini, sesungguhnya tiada seorang pun mengetahui riya’ kecuali orang ikhlas; di sana mereka ikhlas bersama-Nya; ia sebagai akhir tujuan setiap perjalanan hidup manusia – yang tidak bisa tidak mereka harus melalui jalur itu; riya’, ujub dan munafiq merupakan sekian banyak di antara panah-panah setan yang hendak dilemparkan ke buluh hati manusia.Terimalah apa yang datang dari Ulama, belajarlah dari mereka untuk mencapai jalur yang tembus berpagut dengan Allah; karena jalur itu benar-benar dilalui mereka; tanyakan mereka tentang sifat, nafsu dan hawa; sesungguhnya merek sudah mengenal berbagai afat (ujian Allah), memahami seluk beluk khianat juga kegilaan menusia akibat ritasi masa; janganlah kamu terperdaya oleh hembusan setan; jangan sampai hancur karena terkena panah nafsu, karena semua itu pasti terrlempar kepadamu melalui panahnya dan temanmu yang busuk; mohonlah pertolongan Tuhan dari semua musuh itu.Sesungguhnya cobaan itu banyak tapi penagkalnya hanya satu; penyakit juga banyak tapi penyembuhnya Cuma satu; wahai pesaskit jiwa, serahkan jiwamu kepada dokter; kamu tak perlu dukacita atas sesuatu yang dikehendaki padamu, karena Dia lebih penyantun kepadamu daripada dirimu sendiri; peliharalah dirimu di hadapan-Nya, kamu jangan membelakangi-Nya, kaerna kamu bisa melihat segala kebaikan dunia dan akhirat hanya melalui Dia.Manusia dalam ketenangan, kesepadanan dan ketercengangan secara luas, pabila hal ini telah tejadi padamu dan mengekal di dalamnya, mereka dibicarai seperti kesaksian di hari kiamat; mereka tidak berbicara kecuali jika diajak bicara; mereka tidak mengambil kecuali jima diberi; mereka tidak suka cita kecuali jika disukacitakan; praktis hati mereka benar-benar menyerupai hati para Amalikat, yang konotasinya :“Mereka tiak maksiat pada sesuatu perintah Allah dan mereka sama bertindak apa yang diperintahkan kepada mereka.” (Qs.LXVI : 6).Mereka berlaku benar, bersungguh-sungguh dalam bertindak menyerupai Malaikat, bahkan mereka diberi tambahan berupa manzilah-manzilah; mereka dibekali dengan ma’rifat Allah dan berilmu tentang Dia; sedang para Malaikatt menjadi pembantu dan pengikut mereka untuk menyerap kegunaan mereka, karena berbagai hikmah telah dituangkan dalam hati mereka, hati mereka terpelihara dari berbagai afat yang sekiranya datang menyusup ke setiap organ tubuh, setiap sendi dan jiwa; maka jika kamu ingin berpagut dengan manzilah-manzilah mereka hendaklah kamu jaga kebenaran Islam; setelah itu, tinggalkan laku dosa; baik dosa lahir atau batin; kemudian ber wara’ – ini jalur terapi  — lalu terapka zuhud di dunia, baik bagi yang diperbolehkan atau yang dihalalkan, berkaya diri dengan fadilah Allah, berzuhud dalam kefadilahan-Nya dan berkaya dengan pendekatan-Nya; apa bila rasa perkaya diri telah nyata secara bersih, niscaya keutamaan-Nya (fadilah) dituangkan kepadamu, dan pintu-pintu pembagian-Nya terbuka untukmu meliputi pintu kelembutan, rakhmat dan munnah-Nya, dari sana tercabutlah dunia darimu lalu dihamparkan menuju proses akhir.Nah, demikian di antara kejadian yang terjadi pada para wali, orang-orang benar, sehingga dengan timbangan takwa mereka tidak terforsir oleh satu pun urusan dunia; sedang bagi manusia secara umum teka memperdulikan bersimbah dunia; sebab mereka memang amat menyukai dunia dibanding Allah; paling tidak pencarian dunia mereka terjembatkan kepada-Nya; artinya seandainya dunia itu diberikan kepada mereka niscaya terepotkan oleh dunia itu – melayani dan bermesra bersamamnya; demikian pandangan secara uum bagi manusia. Demikian pula keganjilan mereka keganjilan itu terletak pada ketidak adanya mengikuti undang-undang nabi saw.; adapun di antara sekian banyak orang yang dipalingkan dari dunia serta tidak terepotkan untuk melayaninya adalah termasuk orang yang tidak terbelalak kala melihat bagian-bagiannya; bahkan yang demikian disetai zuhud tanpa mengambil peduli; sehingga kalau pun pintu-pintu kekayaan dunia di buka untuknya, ia tentu menolak, bahkan ia berkata – “Wahai Tuhan, hidupkan aku secara miskin, matikan aku secara miskin dan kumpulkan aku bersama orang-orang miskin.”Zuhud adalah sebagai bagian dari munnah yang baik; jika tidak bagaimana seseorang mampu berzuhud dari bagian dunianya; orang berman itu sebenarnya terlepas beban loba, tidak memburukkan dan tidak juga mempercepat; zuhud itu harus diniati sepenuh hati; juga harus mampu memalingkan rasa suka hati dari dunia sebaliknya mengisi kesibukan pada perintah apa pun dari Allah.Wahai sahay, tahanlah syahwat, setiap rasa yang melemahkan dan suapilah dengan makanan bersi yang tidak mengandung kotor; sesuatu yang suci itu menunjukkan halal dan haram itu najis; berangkatlah sejak dini dengan makanan halal sehingga kamu tidak patut dibenci; bermurah hati jangan bertingkah buru; wahai Allah kenalkan kami dengan-Mu sehingga kami benar-benar mengenal-Mu. Aamiin.

Fathul Ghaib

Bagian #26

Majelis ke  26

Jangan mengadu pada makhluk

Pengajian Tanggal 20 Dzulhijjah tahun 545 Hijriyah di Pondok,


Beliau berkata:Sabda Nabi saw. :“Di antara simpanan Arasy adalah penyembunyian bencana.”Wahai pengadu kepada manusia atas bencana yang menimpa; pengaduan mana bisa bermanfaat bagimu; pengaduan kepada ciptaan tidak akan bermanfaat atau membawa bencana (dlar); jika kamu berpegang teguh kepada mereka tapi menyekutukan Allah hanya memperjauh, sedang marah-Nya telimpah untukmu, tentu Dia amat tertutup bagimu; wahai si tolol, mengapa suka mengaku berilmu; di antara sekian banyak ketololan yaitu mencari dunia tanpa dasar Tuhan; kau mencari ikhlas dari tindakan-tindakan bencana tetapi mengadu kepada ciptaan.Celaka, jika ini terjadi pada anjing pelacak – suatu perbedaan jauh – karena ia berlatih menjaga buruan dan meninggalkan makanan buruannya; demikian juga burung dengan tabiatnya ia meninggalkan makanan – makanan binatang buruan yang khusus diperuntukkannya; ilmu dan kefahamanmu sampai kamu tidak menyantap agama atau memperkoyaknya dan aku tak berniat membawa amanat Alalh – yang diletakkan pada dasar-dasar agama orang beriman untuk memelihara daging dan darahnya; janganlah kau pergauli mereka sebelum mengajarimu kepada-Nya; jika kamu telah dipelajari dan faham akan kandungannya baru dirimu merasa tenang ketika bergaul dengan-Nya; ke mana saja engkau menghadap tak terpisah dari-Nya meliputi segala  keberadaan jika dirimu telah tenteram jadilah penyabar, berilmu, mudah ridlo ketentuan apa yang datang, janganlah kamu pisahkan antara tepung gandum dan tepung beras yang kau ambil untuk dibagi-bagikan; karena tidak makan itu lebih aku sukai dariapda makan di atas keberuntunganmu itu melebihi perbuatan baik, taat dan itsar; tabiatnya itu beralih menjadi kemurahan yang mulia, berzuhud di dunia, cinta akhirat; bila kau berzuhud pada akhirat dan mencari Tuhan, maka carilah agar seiring bersma hatimu menuju pintu-Nya; ketik itu datang padamu sambil berkata : wahai orang yang tidak makan, makalah; wahai orang yang tidak minum; minumlah; orang sakit yang berakal itu tidak akan pernah makan kecuali menurut resep dokter atau perintahnya, itu pun disertai adab penuh kesopanan dan meninggalkan tardisi buruknya ketika dokter itu datang atau pergi, wahai pelahap makanan buruk; wahai pencicil sungguh makanan dicipta untukmu; siapa lagi yang mampu makan hal itu kecuali hanya kamu; pakaian, kediaman, kendaraan dan pernikahan sungguh tercipta untukmu; siapa lagi mampu memperoleh hal itu dan mengenakannya selain kamu. Cih, ini hanya untuk orang tolol.Sebenarnya kamu itu tidak punya  kepastian, akal- iman dan pembenaran janji Allah, tentu Allah tidak akan menerima pertalian yag disertai kebencian; Allah hanya menerima pertalian yang disertai adab, ketentuan lahir dan persesuaian yang abadi; setiap orang yang menerima ketentuan Allah abadilah pertaliannya bersama Allag; orang arif Billah lagi berilmu tentang Allah, selamanya bersama Dia tidak bersama yang lain, sejalur dengan Allah tidak yang lain; hidup bersama-Nya mati juga bersama-Nya.Anak-anak muridku, jika kamu bicara, bicaralah dengan niat bersih; jika kamu diam, diamlah dengan niat yang suci, setiap orang yang mendahulukan niat – sebelum pelaksanaan amal – maka tiada amal baginya; kamu jika bicara atau diam menunjukkan ketiak itu dirimu berada dalam lingkaran dosa, karena kau tidak punya niat suci, diam dan bicaramu itu tanpa sunnah, yaitu ketika terjadi perubahan situasi serta penyempitan rizki (pendapatan) maka kamu sama meubah niat demi memperoleh sesuap nasi itu; ketika terjadi perceraiberaian harta ternyata kau mengingkari nikmat yang disebabkan adanya pergeseran, maka kembalilah nikmat itu, karena kau suka sombong, suka menjatuhkan hukum atasnya; lakukan dan jangan kau laksanakan; kenapa kau lakukan? Itu lebih baik jika terjadi demikian; karena permasalahan ini lebih jauh (kompleks) meliputi waktu dan penjauhan diri.Siapa dirimu, wahai Bani Adam, kau hanya sosok ciptaan yang tercipta dari tetesan air hina; rendahkan dirimu di hadapan Tuhan, hinakan untuk-Nya; bila kau tidak punya rasa taqwa, maka tiada kemuliaan bagimu di sisi-Nya; peliharalah dirimu di hadapan orang-orang shalih, dunia seluruhnya adalah hukum sedang akhirat seluruhnya adalah ketentuan.Wahai manusia, peliharalah takutmu, bertakwalah kepada Al-Haq; tiada sessuatu terbaik bagimu kecuali meniti jalan itu, jadilah orang berakal, bukalah matahatimu; pabila Ulama mengunjungi rumahmu janganlah kamu mendahului bicara, sebaliknya bicaramu harus berisi jawaban-jawaban, dan jangan bertanya perihal sesuatu yang tidak diketahuinya.Menerapkan tauhid itu wajib, mencaari ilmu, menetapkan ikhlas dalam beramal, mengangkat, mengganti uantuk melaksanakan sesuatu kerja itu juga wajib, menjauhlah dari kaum fasiq dan munafik, benarkan orang-orang shalih; orang-orang benar; pabila kamu merasa berat dalam menghadapi masalah, sedangkan kamu tidak bisa memisahkan antara yang shalih dan munafiq, maka bangunlah di malam hari untuk melakukan shalat dua raka’at, lalu ucapkan doa : Wahai Tuhan, tunjukan aku orang-orang shalih, tunjukan aku orang-orang yang menuntunaku dan berilah aku makanan dari makanan yang Engkau pilih, celakilah mataku dengan nur pendekatan dengan-Mu, dan beritailah aku dengan sesuatu yang nampak di mata, bukan taklid.”  Wahai manusia makanlah dari makanan keutamaan Allah dan minumlah dari minuman kejinakan dengan-Mu; bermusyawarahlah di pintu yang mendekatkannya; janganlah cukup menerima kebaikan bahkan bermujahadahlah, bersabarlah dan pergilah dari mereka sampai berita mereka jadi nyata; ketika mereka sampai bertaut kepada Tuhan niscaya mereka dilatih sopan, tatakerama, hikmah dan beraneka ragam disiplin ilmu; mereka ditampakkan kerajaan-Nya dan mereka dikenalkan bahwa di langit atau di bumi tiada penguasa lain selain Dia; tiada penggerak, tiada penenang kecuali Dia, tiada penentu atau peutus kecuali Dia; mereka diperlihatkan apa pun yang  ada di sisi-Nya, maka mereka meliaht Dia melalui mata hati dan sirri mereka, praktis dunia atau keberadaan apa saja tidak tertinggal bagi mereka dan mereka pun tidak menggunakan semua itu untuk berhias.Wahai Allah perlihatkan kami sebagaimana Engkau perlihatkan kepada mereka, beikan ma’af dan afiat kepada kami.Dan berikan kepada kami kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang baik di akhirat dan selamatkanlah kami dsri siksa neraka.Wahai manusia, bertaubatlah dari penjauhan takwa; takwa itu pengobat (terapi) dan penjauhannya itu penyakit; bertaubatlah, karena taubat itu pengobat; sedang disa itu penyakit; sabda Nabi saw :“Maukah kamu aku beritahu tentang sesuatu pengobat dan penyakit? Mereka menjawab : Ya, kami bersedia wahai Rasulullah. Sabda Rasulullah : penyakitmu adalah dosa dan pengobatmu adalah taubat.”Taubat itu landasan iman, penekunannya terletak dalam berdzikir dan taat kepada Allah, jika ditekuni niscaya oleh dzikir itu menjadi terapi jiwa; bertaubatlah dengan lisan iman, niscaya membawa keberuntungan; jadikanlah iman sebagai pedangmu ketika datang bencana (ujian) Tuhan.Segala puji bagi Allah, Tuhan pengausa seluruh alam.

Fathul Ghaib

Bagian #25

Majelis ke  25

Zuhud dalam dunia

Tanggal 19 Dzulhijjah tahun 545 Hijriyah,


Beliau berkata:Bahwa Isa a.s.; bila mencium bau wewangian segera menyumbat hidung; kala itu ia berkata : inilah dunia. Demikian hujjah untukmu. Wahai pengaku berzuhud – dengan kata dan perbuatan – sungguh kamu telah mengenakan busana zuhud tapi batinmu terpenuhi luapan rasa cinta dan sesal atas dunia; seandainya engkau mampu lukar busana ini, menyucikan dari rasa cinta yang tumbuh dalam hati, sungguh amat cinta bagimu dan lebih dari sifat munafiq. Zuhud yang benar adalah kembali kepada Allah meliputi bagian-bagiannya dan pendapatan-pendapatannya lalu menerapkan kenangan Allah pada lahiri, sedang di hati tetap terpenuhi zuhud tanpa tercampur yang lain. Karena itu Nabi kita Muhammad saw. lebih dikata zuhud daripada Nabi Isa a.s. bahkan daripada Nabi yang ada. Juga beliau berkata : “Yang aku cintai di duniamu ada tiga macam : bau wewangian, wanita dan perhatianku dalam shalat.”Hal itu lebih aku sukai bersama-sama zuhud, karena hal itu termasuk bagian yang telah mendahuluinya; itu diketahui Tuhan; dan ia bisa diperoleh dengan cara menetapi perintah-perintah bertaqwa; setiap orang yang memperoleh bagian tersebut maka ia dalam kondisi taat kendati dunia melimpah kepadanya.Wahai ahli zuhud yang berpijak kebodohan, dengarlah; berhentilah dan jangan berdusta; pelajari ini sampai kamu tidak menolak ketentuan Allah – karena jahilmu; setiap kejahilan ilmu itu ditandai dengan memperkaya pendapat, menerima pendapat sendiri, hawa nafsu setan penguasa diri; tidak aneh jika ia menjadi penghmba iblis atau pengikut setianya, bahkan menjadikan iblis sebagai guru tunggal; wahai orang jahil; wahai munafiq, alangkah gulita hatimu; betapa kau ering mengumbar mulut; bertaubatlah dari segala apa yang menyebabkan dirimu dosa; tinggalkan pencercaan Allah dan para wali kecintaan-Nya; kamu jangan membelakangi mereka demi memperoleh bagian dunia, karena mereka memperoleh kusa itu atas perintah Allah bukan karena menuruti nafsu; bagi mereka yang ada hanya rasa cinta kepada Allah; merindukannya dan zuhud atas hal apa pun selain Dia, dan bertolak belakang dengan keberadaan ini baik secara lahir atau batin; tapi mereka mempunyai bagian-bagian terdahulu dari-Nya; yaitu ilmu; ini tidak bisa tidak sebagai bagian perolehan mereka; cobaan terberat atasnya hanya terjadi di dunia dan ketetapannya di sana.Wahai sahay, alihkan dirimu tak perlu mendengarkan ucapan manusia selagi ia bersama nafsu dan hawa; padamkan ucapan itu karena Allah; jika Allah menghendaki sesuatu urusan niscaya Dia menarikmu kepada-Nya; jika dikehendaki untuk memporak-porandakan dirimu, merusak atau meneguhkanmu itu hanya terjadi karena-Nya; Dia Maha Penampak – bukan kamu; serahkan jiwa ucapan dan segala kondisimu pada kemauan-Nya; persibiklah hari-harimu dengan beramal untuk-Nya, Jadikan amal tanpa banyak komentar; ikhlas tanpa riya’ tahid tanpa syirik, masyhur tanpa sebutan, khalwat tanpa memperlihatkan diri; batin tanpa lahir dan penuhi batin ini dengan berbagai niat; kau bicara kepada Allah dan berjalan ke sana bersama ucapanmu : “Hanyalah Engkau yang kami sembah, dan kepada Engkau jualah kami memohon pertolongan.” (Qs.I:5).Inilah  Kitab yang datang di hadapanmu; wahai orang yang mengenalku; wahai orang yag menyaksikan aku, bicaralah Dia dalam shalatmu atau dalam keadaan lain dengan niat ini dan sifat ini, karena itu Nabi saw. bersabda :“Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”Anak-anak muridku, jernihkan hatimu melalui makanan halal, bukankah kau sudah kenal Tuhanmu; jernihkan suapan demi suapanmu bersama hati niscaya kamu jadi jernih (sufi); tasawuf itu mustaq dari kata shofa; wahai pemakai tasawuf, tasawuf yang benar itu dilakukan melalui penjernihan hati terhadap selain Al-Haq; atas dasar ini sesuatu tidak akan datang, yakni tasawuf hanya dengan cara mengubah tembusan batin atau memulas muka atau melalui segala pengikat dan pengumbaran suara, tidak pula dengan memaparkan cerita-cerita orang shalih, menggerak-gerakan jari memutar tasbih atau talil, tetapi ia datang dengan kebenaran mencari Tuhan; berzuhudlah dengan mengusir makhluk dari hati dan asingkan selain untuk Al-Haq Azza wa Jalla.Ada Ulama berkata : suatu malam aku berkata, wahai Tuhanku janganlah Engkau manahan aku atas sesuatu yang bermanfaat bagiku dan tidak mudharat bagi-Mu, kata itu ku ulang-ulang terus sampai aku tertidur. Kala aku bermimpi seakan ada orang berkata ditujukan kepadaku; “dan juga engkau janganlah menahan amal yang membawa manfaat bagimu dan engkau cegah amal yang membawa madlarat bagimu; luruskan nasabmu (meluruskan apa yang datang) dari nabimu, siapa meluruskan keikutannya kepada Nabi saw. maka berarti telah lurus nasabnya; kendati kau berucap : aku termasuk umatnya, tapi ucapan itu tanpa disertai itba’ tidak berguna; ketika dirimu beritba’ baik ucapan dan tingkah laku menunjukkan kau bersamanya dalam persahabatan di akhirat.Kau dengan firman Allah :“Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu, hendaklah kamu terima, dan apa yang dilarangnya hendaklah kamu hentikan.” (Qs. LIX:78).Laksanakanlah perintah Rasul dan hentikanlah yang dilarangnya; sesungguhnya tugas ini telah kau baca dari Tuhanmu, yaitu kala di dunia kau baca dengan hati dan di akhirat kau baca dengan jiwa dan jasadmu.Wahai ahli zuhud, alangkah bagusnya zuhudmu; kamu berzuhud dengan menahan nafsu dan hawa; ikutilah dan pergaulilah guru-guru yang mengenal Allah (Arif billah), yang alim, beramal, bisa menerima manusia dengan lisan nasihat dan pandai melenyapkan tamak.Anak-anak muridku kembalilah kepada Tuhan Besarmu (Allah) sepenuh hati sebelum kau duduk di belakangnya; sungguh kau telah berqana’ah dari ihwal orang-orang shalih dengan ucapan dan pengharapan baginya – seperti orang menggenggam air ketika tangannya dibuka ia tidak melihat sesuatu ada di dalamnya.Celaka, kau suka tamanni (mengharap yang tidak mungkin bisa dicapai); Tamanni adalah jurang ketololan. Sabda Nabi saw. :“Peliharalah dirimu dari tamanni, karena tamanni adalah jurang ketololan.”Kamu beramal tapi mengikuti amalan orang yang suka berbuat buruk, sedang kau mengharap untuk memperoleh derajat seperti punya orang-orang yang berlaku baik; siapa yang harapannya mengalahkan takutnya berarti zindiq, dan siapa yang takutnya menglahakan harapan berati putus harapan; yang paling selamat adalah jika bisa berlaku adil dalam menerapkan keduanya, Sabda Nabi saw, :“Seandainya antara rasa takut dan harapan orang beriman ditimbang, niscaya sebanding.”Ada ulama berkata : Aku bermimpi melihat Sufyan As Tsauri – setelah beliau mati – kataku : apa yang diperbuat Tuhan kepadamu? Ia berkata : meletakkan sebelah kakiku di atas shirat (jembatan) dan yang sebelah lagi di surga. Semoga selamat sejahtera melimpah atasnya. Sungguh sebenarnyalah ia seorang fakih, ahli zuhud dan wara’, tetapi ia mempelajari ilmu itu dan mampu mengamalkan; kemudian diberikan haknya kepadanya dengan amal dan memberikan amal sebagai haknya disertai ikhlas; ia juga mendapat ridha dari Allah dalam berkehendak kepada-Nya; setiap orang yang tidak mengikuti Nabi saw, sedang ia menggenggam syari’atnya di tangan sebelah dan menggenggam Kitab yang diturunkan kepadanya di tanagn yang lain dan tidak sampai di jalan Allah berarti ia orang yang rusak lagi binasa; sesat yang sangat; keduanya itu menjadi dalil untuk menjuju Al-Haq; Al Qur’an sebagai dalil menuju Allah dan sunnah sebagai dalil untuk menuju Rasul-Nya.Dan berilah kami kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang baik di akhirat, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.

Fathul Ghaib

Bagian #24

Majelis ke  24

Janganlah menyukutan Allah baik dalam angan-angan

Ahad pagi tanggal 14 Dzulhijjah tahun 545 Hijriyah di Pondok,


Beliau berkata:Janganlah menyukutan Allah baik dalam berangan-angan pengertian dengan nafsu, hawa dan tabiatmu, takutlah Dia pasang dalam jiwa.Ada Ulama berkata : “Iktuilah Allah berkait dengan ciptaan dan jangan ikuti mereka untuk-Nya; patahkan orang yang mematahkan, sombongi orang yang sombong diri, belajarlah untuk menyesuaikan dengan Allah melalui orang yang shalih yang dilimpahkan taufik, ilmu itu dijadikan agar diamalkan tidak hanya untuk dipelihara secara tersendiri; belajarlah dan beramallah lalu kenali orang lain; jika kamu berilmu kemudian rela beramal, maka ilmu itu terucap darimu jika kamu diam bicaralah dengan lisan yang dihiasi amal – perbanyak – daripada yang kamu bicarakan dengan lisan ilmu. Karena itu ada Ulama berkata : “Ilmu yang tidak bermanfaat, maka tidak bermanfaat pula tuturnya. Orang beramal dengan ilmu akan mendapat manfaat dengan ilmu tersebut, baik untuk diri sendiri atau orang lain; karena itu Allah menjadikan tutur kataku menurut kehendak-Nya atas dasar kemampuan situasi yang melingkupi diriku; jika tidak, niscaya antara daku dan kamu terjadi permusuhan; tujuanku padamu percuma sedang tiaa sesuatu bagiku dan tiada bagiku sesuatu; kalaupun ada sesuatu untukku tentu kamu menolaknya; tiada apa pun di antara aku dan kamu selain nasihat yang kuterima dari Allah untukmu, bukan untukku, terimalah ketentuan Allah, jika tidak tentu mematahkan dirimu; berjalanlah bersamanya menurut dasar usaha, jika tidak niscaya memberangusmu; jadilah orang yang bertabaruk di hadapan-Nya sampai kamu mendapat rakhmat dan menyatu di belakang-Nya.Wahai manusia, atas kemampuan himahmu yang harus kau berikan – jauhilah selain Allah sepenuh hati, hingga memperekatmu dengan-Nya; padamkan nafsumu dan dari makhluk; sungguh hijab telah terangkat antaramu dan Tuhan-mu. Ditanyakan : bagaimana cara memadamkan? Jawabnya : padamkan jiwamu yang mengikuti nafsu, hawa, tabiat, makhluk dan seebabsebab yang berlingkar atas mereka, tinggalkan syirik dan tinggalkan mencari keberadaan ini selaina Allah.Jadilah seluruh amalmu karena Allah semata jangan untuk mencari nikmat-Nya – dengan ketentuan dan perbuatan-Nya; sebab kau lakukan ini berarti kehendakmu telah mati sebaliknya bercinta Dia.Wahai orang jahil (tidak mengenal) Allah dan para khawash-Nya, kamu tidak merasakan makanan ghoyah mereka, karena hal itu racun pembunuh; peliharalah jiwa ragamu jangan sampai berpaling kepada mereka dengan membawa keburukan; karena mereka terperdaya oleh mereka; wahai orang munafiq sungguh di hatimu tumbuh bintik-bintik nifaq menjalar sampai menguasai lahir dan batin-mu; amalkan tauhid, ikhlas dalam segala aktivitas niscaya keraguan yang mengitarimu lenyap; alangkah banyak huku syara’ yang kau bakar lalu mengoyak busana ketaqwaanmu yang kuat, melobangi busana tauhid, memadamkan cahaya iman dan membenci Tuhanmu dalam segala situasi dan kondisi. Jika seseorang di antaramu mendapat untung dan melaksanakan taat, bisa dimengerti ia terlingkupi busana ujub, ingin dilihat orang atau mencari pujian dari mereka.Siapa di antaramu ingin bersembah diri kepada Allah hendaklah beruzlah dari ciptaan, karena pandangan mereka terhadap amal bisa membatalkan rencana itu. Nabi saw. bersabda :”Peliharalah uzlah, sesungguhnya uzlah itu termasuk ibadah, dan sesungguhnya perbuatan itu (uzlah) merupakan laku orang-orang shalih sebelum kamu.”Peliharalah iman, yakni, fana’ dan exsistensi Allah – bukan dirimu atau yang lain – beserta menjaga hukum-hukum-Nya dengan mendapat kerelaan Rasulullah saw. kerelaan orang yang memahami, orang yang mendengar dan membaca; tidak ada kemuliaan bagi orang  berkata selain ini; inilah yang tersurat dalam mushaf di lauh makhfudz sebagaimana dikalamkan Allah yang yang tampak dalam kekuasaan-Nya dan yang tampak di hadapan kita. Jagalah Allah jangan sampai terputus dari-Nya dan bergantung kepada-Nya; karena hanya Dia-lah pelimpah kecukupan dunia akhirat; jagalah penjaga hidup dan mati dan pelihara dirimu dalam berbagai kondisi; peliharalah kehidupan ini agar tetap putih, layani Dia sampai kau dilayani; genggamlah sekuat hati sewajarnyalah di hadapan Tuhan sambil beramal tentu sayap hatimu merekah lalu terbang menuju Allah.Wahai kaum sufi  — terapkan tasauf dalam sirr, dalam hati, kemudain dalam jiwa dan untuk tubuhmu; bidayah zuhud dari sana membentuk dirimu – bukan dari lahir ke batin; apabila sirr telah jernih maka kejernihan itu berputar menuju hati; jiwa, anggota tubuh, makanan, minuman dan keseluruhan tingkah laku; untuk pertama kali sesuatu menyelimutimu dalam rumah adalah bila telah sempurna bangunannya lalu kterkeluarkan ke bangunan pintu;sudah menjadi hukum tiada lahir tanpa batin; tiada cipta tanpa pencipta; tiada pintu tanpa rumah; tiada kunci pada yang hancur; ada panggilan : wahai dunia dan akhirat; wahai cipta tanpa pencipta.  Terhadap segala apa –pun  yang dirimu berada di dalamnya tidak membawa manfaat untukmu di hari kiamat, bahkan bisa membawa sengsara atasmu. Inilah kehidupan yang seiring denganmu dan yang melingkupi keberadaan ini; di sana tempat hidupmu untuk beriya’, bermunafiq dan bermaksiat, dus segala sesuatu yang tidak laku di pasar akhirat.Luruskan Islam bagi kau perolehnya; Islam itu Musytaq dari Istaslama, Jika takdir kamu serahkan kepada Allah serahkan pula jiwamu luruskan kepada-Nya, lupakan apa yang mengitari dan ketakutanmu termasuk dunia, nafkahkan untuk mencapai tunduk kepada Allah; amalkan dengan taat, serahkan dunia dan lupakan ia, karena setiap perbuatanmu cenderung terhenti, setiap amal yang tidak dibarengi ikhlas, maka ia seperti kulit tanpa akal, laksana jasad tanpa ruh, laksana gambar tanpa arti, nah demikian ilustrasi amaliah orang munafiq.Anak-anak muridku, seluruh makhluk ini kedudukannya hanya sebagai alat, tidak lebih dari itu; Allah-lah Sang Pencipta yang mengaturnya; siapa memahami ini akan memeproleh perekat dengan alat dan mengetahui dzat pengatur di sana. Berhenti bersama ciptaan amat di benci dan berhenti bersama Allah tercinta juga sebagai kebaikan dan nikmat tersendiri; rupanya kamu orang yang terputus dari kebesaran orng pendahulumu; sebenarnya kamu berqana’ah tapi kamu tidak mengangkat guru yang bisa menjelaskan dan menuntun adatmu. Wahai orang terputus dari kebenaran; wahai orang yang dipermainkan setan, manusia dan jin, wahai penyembah nafsu, hawa dan tabiat.Celaka kamu membisu tak sudi mohon pertolongan Allah; kembalilah kepada-Nya dengan langkah yang bisa dirasa dan penuh kekuatan, sehingga kamu , memperoleh apa yang ada di tangan musuhmu dan selamat dari benturan gelombang samudera kehancuran; berpikirlah tentang akibat ini; apakah kamu termasuk mereka yang ada di dalam; sungguh teramat mudah kau meninggalkan Dia; rupanya kamu tertutup batang kelalaian; keluarlah dari bayangannya niscaya kamu melihat sinar mentari dan jalan lurus membentang; pohon kelupaan terpelihara oleh air kebodohan..dan batang jaga dan ma’rifat tepelihara oleh air fikir; adapun pohon taubat terjaga oleh air sesal; dan pohon cinta terjaga oleh air persesuaian.Anak-anak muridku, sungguh keberadaanmu terletak di antara kendala sedang saat itu dirimu masih kanak-kanak atau masih muda; sampai kini; ketika telah beranjak mencapai usia ke 40 tahun atau lebih saat itu kamu suka bermain-main seperti anak kecil; takutlah pembauran sifat bodoh dan kholwat (pacaran) sebaliknya bergaulah dengan guru-guru yang bertakwa; jauhilah anak-anak muda yang bodoh; berdirilah lurus dengan ulama; siapa datang keapdamu jadilah ia seperti dokter mereka; jadilah kamu untuk manusia seperti saudara sekandung, perbanyaklah takut kepada Allah, karena mentaati-Nya itu termsuk dzikir. Sabda Nabi saw. :“Barangsiapa taat kepada Allah berarti telah mengenang-Nya kendati sedikit shalatnya, puasanya dan bacaannya pada Al-Qur’an, dan barang siapa bermaksiat kepada Allah berarti telah melupakan-Nya, kendati shalat banyak shalatnya, puasanya dan bacaannya pada Al-Qur’an.”Orang beriman itu harus selalu taat kepada Allah, bersesuaian dengan-Nya, sbar dan berhenti kala mendapat untung; menyandarkan ucapannya, makanan, pakaian, dan segala apa pun yag terpercik dari-Nya. Tapi orang munafiq itu tidak ambil peduli ketentuan-ketentuan ini – dalam segala kondisi mereka :Anak-anak muridku bila kamu cinta Allah atau mencintai yang lain itu jangan kamu satukan (padukan) dalam satu hati :Firman Allah :“Allah tidak menjadikan seseorang  mempunyai dua hati dalam dadanya.” (Qs. XXXIII:4).Dunia akhirat tidak bisa dipadukan; pencipta dan ciptaan tidak bisa disatuka; tinggalkan sesuatu apa pun yang fana’ sehingga memeproleh sesuatu yang tidak fana’; rendahkan diri dan hartamu hingga memperoleh surga. Firman Allah :“Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman dengan memberikan surga untuk mereka.” (Qs.IX:111).Rendahkan hatimu berzuhud terhadap apa saja selain Allah sampai kau peroleh kedekatan Allah dan persambungan di dunia dan akhirat.Wahai pecinta Allah, perbaguslah dirimu bersama ketentuan-Nya sekiranya baik dan sucikan hatimu yang menjadi pusat perekat dengan Allah; bersimpuhlah di pintu-Nya dengan pedang tauhid, ikhlas, shodiq dan janganlah kau buka untuk seseorang pun selian Dia; janganlah kau persibuk pos-pos hatimu selain untuk-Nya :“Tidak akan sampai daging dan darahnya kepada Allah hanya yang sampai kepada Allah ialah taqwa darimu.” (Qs. XXII:37).Wahai bani Adam, apa pun yang ada di dunia dan akhirat adalah ciptaan, maka ke mana arah syukurmu dan ke mana arah takwamu, ke mana arah isyarahmu dan pelayananmu; janganlah melemah dan janganlah beramal dengan amalan yang tidak disertai ruh, karena amal yang disertai ruh itu bisa menimbulkan ikhlas.

Fathul Ghaib

Bagian #23

Majelis ke  23.

Menjernihkan hati

Jum’at pagi tanggal 12 Dzulhijjah tahun 545 Hidjriyah, di madrasah,


Beliau berkata:Sabda Rasulullah saw. :“Sesungguhnya hati ini berkarat dan sesungguhnya penjernihannya adalah membaca Al-Qur’an, ingat mati dan menghadiri majlis untuk berdzikir.”Hati berkarat!; jika kamu mendapati pemiliknya – sebaaimana yang dilukiskan Nabi saw – dan jika tidak maka beralih pada kegelapan, yaitu menggelapkan orang tersebut dari cahaya kebenaran; mempergelap bagi pecinta dunia serta penghimpunnya yang tidak disertai sifat wara’; karena siapa hatinya ditempati rasa cinta dunia lenyaplah sifat wara’nya; yang tinggal hanyalah antara gabungan halal dan haram; ini berakibat membawa kelenyapan rasa malu dari Tuhan dan enggan bermuroqobah dengan-Nya.Wahai manuisa terimalah apa yng disampaikan Nabimu; lenyapkan karat di hatimu dengan obatnya sebagaimana telah disinyalir kepadamu seandainya seorang di antaramu sakit dan dokter menunjukkan obat-obatnya tentu tidak akan tercapai ketentraman hidup sampai engkau melaksanakan perintah itu; Jagalah Tuhanmu dalam kesepianmu; penatkan matamu sampai seakan kamu melihat Dia; jika kamu tidak mampu berbuat itu – untuk melaihat-Nya – sesungguhnya Dia melihatmu; Siapa ingat Allah dalam hatinya, maka ia disebut orang yang ingat dan siapa tidak mengingat Dia dengan hatinya, bukanlah ia disebut orang yang ingat.Lisan itu perantara hati dan anggota tubuh lain, secara permanen terbuka untuk mendengar petuah-petuah, maka jika petuah-petuah lenyap dari hati butalah ia; hakikat taubat adalah menjunjung perintah Allah dalam segala situasi. Atas dasar ini berkata seorang Ulama : Kebaikan itu semuanya terletak pada dua kalimat. Pertama; menjungjung ketentuan-ketentuan Allah; Kedua : Syafaqah (kasihan) kepada sesama makhluk. Maka setiap orang yang tidak menjunjung ketentuan-ketentuan Allah dan belas kasih kepada sesama makhluk Allah berarti ia jauh dari Allah.Allah mewahyukan kepada Musa a.s; berkasih sayanglah sehingga Aku mengasihimu, karena sesungghnya Aku Maha Penyayang, siapa berkasih sayang, niscaya terlimpahi rakhmat dan Aku memasukannya ke syurga-Ku.Alangkah beruntung orang-orang yang berkasih sayang, sia-sialah usiamu hanya terhabiskan dalam makanan, dalam minuman, dalam menghias diri dan berkumpul; siapa ingin beruntung hendaklah ia memperlunak nafsu dari perkara haram, syubhat, syahwat serta ketentuan Allah yang diwajibkan, meliputi larangan dan menerima keputusan-Nya. Manusia itu harus bersabar bersama Allah dan tidak sabar beserta dunia; ssabarlah agar kamu bersama-Nya; carilah agar kamu dekat dengan-Nya; keluarlah dari markas nafsu, hawa dan tabiat, dan berkawanlah bersama syara’; tujulah Tuhan; terimalah afat, musibah, dukacita, lapar, dahaga, telanjang dan rendah, semua itu janganlah kau hindari dan jangan surut memuja-Nya atau berubah dari tujuan semula.Wahai manusia, beramallah untuk persiapan jumpa dengan Allah, malullah sebelum berjumpa, pertama orang harus beriman kepada Allah lalu makhluk-Nya kecuali dalm hal apa yang memperjalin dirimu dengan agama dan merongrong hukum syara’; karena hal itu tidak boleh terjadi bermalu-malu apalagi malu dalam agama Allah – menegakkan hukum-Nya dan menurut ketentuan-ketentuan-Nya.Siapa mengikuti Rasulullah saw. – secara bersih – maka dikenakan busana besi dan ketopong sambil menyandang pedang yang dialasi dengan tatakrama dan akhlaknya, dikosongkan dari sifat-sifat yang tidak layak baginya, diperkuat rasa gembira kendati ia datang menusia, syukur kepada Allah kalau ia jadikan pengganti dalam umatnya sebagai tanda penyeru merek menuju pintu Allah; keberadaannya sebagai da’i atau dalil sebagai penyambung orang-orang yang telah dicabut Allah, dalam arti sebagai khalifah untuk mereka; ia adalah salah seorang dari setiap juta manusia untuk melayani keterputusan nafsu seseorang; mereka mendekat kepada ciptaan dan menekan mereka agar bersabar atas setiap cobaan; mereka selalu tersenyum di hdapan orang-orang munafiq, orang fasik dan tertipu daya kepada mereka meliputi segala siasat yang ada hingga menarik mereka – meliputi apa saja yang mereka berada di dalamnya – lalu membawa mereka ke pintu Allah. Ataas dasar ini ada ulama berkata : “Tiada orang tersenyum di hadapan orang fasiq, kecuali orang-orang arif. Mereka tersenyum di hadapannya dan memperlihatkan perkara apa yang dikethuinya, sedang mereka mengetahui akan kehancuran kediaman agamanya, kepekatan permukaan hati, banyak dengki dan kekeruhannya; orang fasiq dan orang munafiq sama-sama berasumsi mereka menjadi rahasia yang tidak diketahui olehnya. Tidak, bahkan bagi mereka tidak punya kemuliaan sama sekali, apa pun yang dirahasiakan mereka (orang fasiq dan munafiq) pastilah dapat diketahui melalui kerling, pandangan, ucapan dan gerak-geriknya, baik yang lahir atau yang batin tanpa diragukan lagi.Wahai orang sesat, Allah Maha Besar di atasmu; wahai orang berhati mati; wahai pemusyrik sebab; wahai penghamba patung dengan seluruh daya kekuatannya; lumbung kekayaan dan penguasa negaranya; sungguh mereka tertutup dari Allah; setiap orang yang berpendapat dlar dn naf datang dari selain Allah bukanlah termsuk penghamba Dia, sebaliknya menjadi penghamba yang diyakini itu; maka pada hari ini ia ditemepatkan dalam neraka yang teramat buruk dan bseok ia ditempatkan dalam neraka jahanam; tiada orang mampu lepas dari neraka Allah kecuali orang-orang bertaqwa, orang-orang yang bertauhid, orang yang ikhlas dan orang yang bertaubat.Bertaubatlah sepenuh hatimu kemudian boleh melalui mulutmu; taubat itu memutar-mutar penguasa naffsu, hawa dan pengendali diri (setan) serta sahabat yang buruk; kala kamu bertaubat terputarlah pendengaranmu, penglihatan, lisan, hati dan seluruh organ tubuh, jika demikian, maka jernihlah makanan, minuman dan kekeruhan yang haram, syubhat dan berwara’ dalam setiap mata pencaharian, perdagangan, syirkah dan menetapkan setiap himahmu tertuju kepada Allah semata; semua ini berpengaruh menggeser setiap tradisi jiwa lalu meninggalkan tempatnya untuk beribadah, menggeser maksiat dan tempatnya untuk bertaat lalu membenarkan dalam bentuk sebenarnya beserta kejernihan syara’ dan penyaksiannya; karena setiap hakikat yang tidak disaksikan syara’ berarti zindiq; kala dirimu telah bertauhid dengan penguat ini tentu fana’ seger datang kepadamu dari lingkaran akhlak tercela menurut padangan semua makhluk; maka ketika itu sifat lahirmu terpelihara dan batinmu berpagut dengan Tuhan secara rutin; jika hal ini sempurna atasmu kendati dunia datang dipangkuanmu dan seluruh makhluk mengikutimu—baik mereka yang da di depan atau di belakang  — tidaklah menimbulkan keruntuhanmu, bahkan tidak mampu lagi merubah posisimu dari pintu Tuhan; karena dirimu telah konstan di samping-Nya, menghadap Dia dan sibuk melayani kehendak-Nya seraya menatap Keagungan Kesempurnaan-Nya; kala dirimu menatap Keagungan-Nya tercurahlah semua itu, jika kamu tatap kesempurnaan-Nya menyatulah dirimu, kamu merasa takut ketika melihat Keagungan-Nya, dan kamu mengharap saat melihat Kesempurnaan-Nya; alangkah beruntung orang yang merasakan nikmatnya makanan ini.Wahai Allah suapilah kami dari makanan yang memperdekat Engkau dan minumilah kami dari minuman kejinakan-Mu.Dan, berikanlah kepada kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai