Pengantar Bab 5
Ketahuilah, ummat Islam setelah periode Rasulullah saw. tidak memiliki suatu nama tertentu pada masa mereka, kecuali sebagai sahabat Rasulullah saw. Sebab, tidak ada lagi yang mengungguli keutamaan mereka, lalu mereka disebut sebagai “Sahabat”.
Pada periode ke dua, mereka yang berguru kepada para sahabat itu disebut sebagai “Tabi’in”, sebagai suatu nama yang sangat mulia. Lantas para generasi setelah Tabi’in, dinamakan “Atbaa’u Tabi’in”.
Kemudian ummat Islam menjadi sangat beragam, dan derajat status keagamaan mereka pun semakin jelas. Bagi kalangan khusus yang memiliki kepedulian luar biasa dalam masalah keagamaan, disebut sebagai ahli zuhud (zuhhaad) dan ahli ibadat (‘ubbaad).
Di samping itu, muncul bid’ah yang melahirkan berbagai perpecahan. Masing-masing kelompok mengklaim di dalam kelompoknya ada tokoh zuhud. Sedangkan kalangan khusus dari ahli Sunnah, yang senantiasa menjaga diri bersama Allah swt, dan menjaga hatinya dari jalan-jalan kealpaan, menamakan simbolnya dengan nama “Tasawuf”. Sebuah nama yang populer di kalangan tokoh-tokoh ulama sebelum tahun 200.H.
Pada bagian ini kami menyebutkan nama-nama tokoh-tokoh Sufi yang merupakan syeikh dari tharikat ini sejak generasi pertama hingga kalangan mutakhir mereka. Selintas kami uraikan perjalanan dan ucapan-ucapannya, sebagai peringatan dan pelajaran atas perilaku dan prinsip mereka. Insya Allah swt.
(Tidak semua Sufi generasi sebelumnya dicantumkan di buku ini oleh Abul Qasim al-Qusyairy. Mereka yang ada di buku ini merupakan pilihannya, dengan tujuan tertentu, yakni memurnikan mazhab moderat dalam Islam. Para Sufi di sinilah yang mencerminkan pandangan tersebut. Dan Tasawuf yang diuraikan dalam buku ini merupakan refleksi dari tasawuf murni tersebut.)
Abdullah Al-Abhury
Abu bakr – Abdullah bin Thahir al-Abhury (wafat sekitar 330H/942M.). Ia termasuk teman asy-Syibli, dan tergolong syeikh besar yang memiliki ilmu pengetahuan luas dan wara’. Ia berguru kepada Yusuf ibnu Husain dan tokoh lainnya.
Di antara ucapannya: “Di antara aturan kefakiran, seseorang tidak boleh meraih kesenangan. Kalaupun harus ada kesenangan, maka tidak boleh melampaui kebutuhan sekedarnya.” Katanya pula : “Bila anda mencintai Saudara demi Allah swt. maka pergaulan dunia harus diminimalkan.
Ruwaym Bin Ahmad
Abu Muhmmad – Ruwaym bin Ahmad (wafat 303 H/915 M.), berasal dari Baghdad dan menjadi tokoh terbesar di sana. Ia dikenal sebagai ahli qiraat dan seorang ahli fiqih dari mazhab Dawud.
Di antara ucapannya: “Di antara kebijaksanaan orang yang bijak, hendaknya ia memberi keluasan hukum kepada temannya, sedang untuk dirinya memilih hukum yang sempit. Sebab, keleluasaan bagi mereka sebagai bentuk penyertaan ilmu. Sedangkan penyempitan untuk dirinya sebagai aturan wara’.
Abdullah bin Khafif berkata : “Aku pernah meminta kepada Ruwaym, ‘Berilah aku wasiat’ Ia menjawab, ‘Perkara tasawuf tiada lain kecuali mencurahkan jiwa. Bila anda berkenan, maka Anda masuk dengan semangat tersebut. Bila tidak, Anda jangan menyibukkan dengan lorong-lorong kaun sufi.”
Ucapan-ucapan Ruwaym yang lain:
“Engkau duduk besama manusia pada umumnya, lebih selamat daripada duduk bersama kaum Sufi. Khalayak manusia duduk di atas aturan-aturan, sedangkan kelompok Sufi duduk di atas hakikat. Tuntutan khalayak adalah menerapkan praktik lahiriah syariat, sedangkan mereka menuntut dirinya dengan hakikat wara’ dan pelestarian kejujuran hati. Barangsiapa duduk dengan mereka, lantas kontra dengan mereka dalam suatu persoalan hakikat, Allah swt, akan mencabut cahaya iman dari hatinya.”
“Aku pernah melintasi salah satu jalan di Baghdad pada terik siang hari, sedang aku sangat haus. Aku berusaha amencari minuman di suatu rumah. Seorang bocah wanita membukakan pintunya sembari membawa cangkir. Ketika ia memandangku, bocah itu berkata. “seorang sufi minum di siang hari”…’ Maka, sejak saat itu aku tidak pernah berbuka (putus puasa)”.
“Apabila Allah swt, menganungerakan rezeki kepada Anda dengan ucapan dan perbuatan, Allah swt, akan menghilangkan ucapan, dan melestarikan perbuatan. Sebab yang demikian merupaka nikmat. Namun, apabila Allah swt. melestarikan ucapan dan menghilangkan perbuatan, itulah musibah. Apabila kedua-duanya dihilangkan, itulah penderitaan.
Ahmad Al-Adamy
Abul Abbas – Ahmad bin Muhammad bin Sahl bin Atha’ al-Adamy (wafat 309 H/921 M.), salah seorang tokoh terkemuka di kalangan kaum Sufi, dan tergolong ulama mereka. Al-Kharraz sangat mengagungkan perilakunya. Ahmad termasuk teman al-Junayd, dan berguru kepada ibrahim al-Maristany.
Di antara ucapan-ucapannya:
“Siapa mendisiplinkan diri pada etika syariat, Allah swt. melimpahkan cahaya di hatinya dengan nur ma’rifat. Tidak ada maqam yang lebih mulia dibanding mengikuti sang kekasih Muhammad saw. dalam segala perintah, perbuatan dan akhlaknya.”
“Kealpaan terbesar adalah kealpaan hamba terrhadap Tuhannya – Azza wa Jalla – kemudian alpa dari perintah dan larangan-Nya, dan alpa dari adab bermuamalat dengan-Nya.”
“Segala yang Anda tanyakan, maka carilah dalam kebajikan ilmu; bila Anda tidak menemukan, carilah di medan hikmah. Bila tidak Anda temukan, maka timbanglah dengan tahuid. Masih saja tidak Anda temukan pada ketiga tempat di atas, maka pukulkan ke muka setan!.”
Ibrahim bin Adham
Abu Ishaq – Ibrahim bin Adham bin Manshur (1616 H.778 M.), dari daerah Balkh. (Balkh adalah daerah di bawah kekuasaan Khurasan, yang kemudian menjadi pusat kebudayaan dan keagamaan masa kerajaan Thakharistan. Dibuka oleh Ahmad bin Qais pada tahun 653m).
Ibrahim merupakan salah seorang anak raja. Suatu hari ia keluar untuk berburu. Ia sangat menginginkan memburu kelinci. Lalu ada sebuah bisikan, “hai Ibrahim, apakah untuk itu engkau diciptakan? Apakah dengan (perburuan) itu engkau diperintah?” Kemudian bisikan itu muncul kembali, “Tidak untuk itu engkau diciptakan, dan tidak pula untuk tindakan demikian diperintahkan.”
Ibrahim langsung turun dari kudanya. Ia menemui penggembala yang bekerja untuk ayahnya. Baju won penggembala itu diambil dan dipakai. Sementara kuda dan apa yang dimilikinya diberikan kepada penggembala itu. Ia pergi melintasi padang pasir, sampai masuk di Mekkah. Di sana ia berguru kepada Sufyan ats-Tsaury dan al-Fudhail bin ‘Iyadh. Akhirnya mukim di Syam dan meninggal di sana.
Ibrahim makan dari hasil jerih payahnya sendiri, seperti bekerja sebagai pengetam dan pekerjaan lain di kebun-kebun, serta yang lainnya. Suatu ketika ia pernah di apdang pasir berjumpa seseorang yang mengajari Asma Allah Yang Agung. Kemudian ia berdoa dengan Asma Allah tersebut, setelah itu tiba-tiba melihat Khidhr, a.s. yang berkata kepadanya, “Orang yang mengajarimu Asma Allah Yang Agung itu adalah saudaraku Daud.” Kami mendapatkan kisah ini dari Abu Abdurrahman as-Sulamy, “Ibrahim bin Bisyar berkata: “Aku belajar kepada Ibrahim bin Adham, dan aku bertanya kepadanya, “Kabarkanlah tentang awal mula perjalanan ruhanimu!” Lalu Ibrahim menyebutkan kisah tersebut.”
Doa yang sering dibaca adalah: “Ya Allah, pindahkanlah diriku dari kehinaan maksiat kepada-Mu menuju keagungan taat kepada-Mu!.”
Suatu ketika ia pernah berkata kepada seseorang yang sedang thawaf, “Ketahuilah, Anda tidak akan memperoleh derajat orang-orang saleh, sampai Anda melampaui enam langkah ini:
Pertama, Anda menutup pintu nikmat dan membuka pintu bencana.
Kedua : Anda menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan.
Ketiga, Anda menutup pintu istirahat dan membuka pintu ketekunan.
Keempat, Anda membuka pintu tidur dan membuka pintu jaga.
Kelima, Anda menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kefakiran.
Keenam, Anda menutup pintu angan-angan dan membuka pintu persiapan kematian.”
Suatu hari Ibrahim sedang menjaga tanaman anggur. Seorang tentara lewat, dan meminta, “Berikan kami anggur itu!” Ibrahim menjawab, “Pemiliknya tidak menyuruhku memberikan kepada Anda.” Seketika itu pula tentara tadi memukul Ibrahim dengan cemetinya. Namun demikian Ibrahim justru menyodorkan kepalanya, sembari berkata, “Pukullah kepalaku yang selalu maksiat kepada Allah saw. ini” Tentara itu pun lunglai dan pergi berlalu begitu saja.
Sahl bin Ibrahim berkata:
“Aku bertemu dengan Ibrahim bin Adham, lantas aku sakit. Ia memeberikan nafkahnya untuk diriku. Suatu saat aku ingin sekali pada sesuatu, lantas Ibrahim menjual kudanya, dan uangnya diberikan kepadaku. Ketika aku ingin minta penjelasan, “Hai Ibrahim, mana kudanya? Ia menjawab, ‘Sudah kujual!’ Kukatan, ‘Lanatas aku naik apa?’ Dijawabnya, “Saudaraku, engkau naik di atas leherku.’ Dan benar, sepanjang tiga pos ia menggendongku.”
Ali Al-Ashbahany
Abul Hasan – Ali bin Sahl al-Ashbahany, merupakan salam seorang teman al-Junayd. Ia pernah dipaksa membayar dari hutang kendaraan oleh Amr bin Utsman al-Makky, kemudian melunasinya, yakni sebesar tigapuluh ribu dirham. Ali bertemu dengan Abu Turab an-Nakhsyaby serta generasi kaum Sufi.
Di antara ucapannya:
“Bersegra menuju taat kepada Allah swt. merupakan tanda-tanda taufik. Sedangkan menjauhkan diri dari pelanggaran adalah salah satu tanda-tanda kebaikan menjaga diri. Sedangkan menjaga rahasia-rahasia termasuk tanda-tanda tergugahnya jiwa. Memamerkan pengakuan-pengakuan termasuk ketololan manusia. Siapa yang tidak benar awal kehendaknya, tidak akan selamat akibat-akibat akhirnya.
Hatim Al-Asham
Abu Abdurrahman – Hatim bin Alwan, populer dengan panggilan al-Asham (wafat 237 H/851 M.), termasuk salah seorang tokoh besar di Khurasan. Ia murid dari Syaqiq dan guru dari Ahmad bin Khadhrawaih. Dikisahkan, bahwa sebenarnya ia bukanlah orang yang tuli (asham) tetapi karena sering berpura-pura tuli, ia populer dengan panggilan si tuli.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq – rahimahullah ta’ala – berkata: “Ada wanita yang datang kepada Hatim, untuk suatu masalah yang harus diselesaikan.
Tiba-tiba muncul suara (semacam kentut) ketika itu. Wanita itu tampak berubah roman mukanya, karena malu. Hatim lantas berkata : “Tolong keraskan suaramu!’ Hatim menampakkan seakan-akan dirinya tuli. Melihat ketulian Hatim, wanita itu berubah menjadi amat gembira. Lantas wanita itu bilang, “Sungguh, Hatim itu tidak dapat mendengarkan suara.” Sejak saat itu ia dikenal dengan sebutan al-Asham (si Tuli).”
Di antara ucapannya : “Tiada pagi, tanpa ucapan setan yang muncul, ‘Anda mau makan apa? Mau memakai pakaian mana? Mau ke mana hari ini? Lantas ku katakan pada setan, “Aku akan makan kematian dan meakai kafan, serta aku akan menghuni kuburan.”
Ia pernah ditanya, “Apa yang paling Anda senangi?” Ia menjawab “Aku senang menjadi orang yang diampuni sejak siang hari sampai malam hari.” Ditanya lagi, “Bukankah hari-hari penuh ampunan?” Ia menjawab, ‘Ampunan hari ini adalah bahwa diriku, pada hari ini, tidak maksiat kepada Allah swt.”
Ia mengisahkan, “Dalam suatu pertempuran, aku tertangkap oleh tentara Turki. Lantas aku ditelentangkan hendak dipenggal. Dalam keadaan seperti itu, hatiku sama sekali tidak berubah, bahkan aku menunggu apa hukuman Allah swt, yang akan dijatuhkan kepadaku. Di saat tentara musuh itu mencabut pedang dari sarungnya, tiba-tiba ada anak panah yang menghujam tubuhnya, hingga ia terbunuh dan terlempar dariku dengan sendirinya.
Lantas aku bangkit dari tempat pembaringanku.”
Ucapan yang lain, “Siapa yang memasuki mazhab kami (Tasawuf), hendaknya empat perkara kematian ini ada dalam dirinya:
(1) Mati putih, yaitu berlapar-lapar (2) Mati hitam, yaitu menanggung beban penderitaan orang lain; (3) Mati meraha, yaitu beramal secara ikhlas dalam menetang hawa nafsu; dan (4) mati hijau, yaitu membuang ketololan satu demi satu.”
Abu Sa’id Ibnul A’raby
Abu Sa’id – Ahmad bin Ziyad al-Bashry al-A’raby (246-340 H/860 – 952 M.), bertempat tinggal di al-Haram, dan berguru kepada al-Junayd, Amr bin Utsman al-Makky dan an-Nury, serta ulama Sufi lainnya.
Di antara ucapannya:
“Orang yang paling merugi adalah orang yang memamerkan amal perbuatannya di hadapan manusia, dan menempatkan perbuatan buruknya kepada Dzat Yang lebih Dekat dibanding urat nadinya.”
Abul Khair Al-Aqtha’
Abul Khair al- Aqtha’ (wafat 340 H./952 M.), berasal dari Maghriby, tinggal di sebuah kandang, Beliau memiiki banyak karamah dan firasat yang tajam. Budi pekertinya sangat agung.
Di antara ucapannya:
“Tidak seorang pun mencapai tahap kemuliaan, kecuali menetapi keserasian, memeluk adab serta menunaikan fardlu dan kewajiban, dan bergaul dengan orang-orang shaleh.
Ahmad Al-Anthaky
Abu Ali – Ahmad bin Ashim al-Anthaky, salah satu teman Bisyr ibnul Harits, Sary as-Saqathy dan al-Harits al-Muhasiby. Abu Sulaiman ad-Darany memberi nama dengan sebutan “Si Mata-mata Hati” (Jasusul Qulub) karena firasatnya yang tajam.
Di antara ucapannya: “Bila engkau mencari kesalehan hatimu, mohonlah pertolongan kepada-Nya agar menjaga lisanmu.”
Ia juga berkata dengan mengutip sebuah ayat:
“Sesungguhnya harta-hartamu dan anak-anakmu menjadi ujian (bagimu), dan kami senantiasa meraih tambahan cobaan itu.”
(Qs. At-Taghabun : 15)
Abu Hamzah Al-Bazzar
Abu Hamzah al-Baghdady al-Bazzar (wafat 289 H./902 M.), Ia mangkat sebelum al-Junayd wafat, dan termasuk salah seorang sahabat karibnya. Berguru kepada Sary dan al-Hasan al-Masuhy. Dikenal sebagai ulamma ahli fiqih dan qiraat. Ia salah seorang putra dari Isa bin Abban. Ahmad bin Hanbal – rahimahullah – pernah bertanya kepadanya:
“Hai orang sufi, apa yang kau katakan dalam masalah ini…..?
Dikisahkan, al-Bazzar sedang berceamah di majelaisnya apda hari Jum’at. Tiba-tiba ia mengalami ekstase, dan terjatuh dari kursinya. Minggu depannya, beliau pun meninggal dunia.
Di antara ucapannya:
“Barangsiapa mengetahui Jalan menuju Allah swt. Allah memudahkan jalan untuk menempuhnya. Tidak ada dalil dalam menempuh tharikat kepada Allah SWT. kecuali mengikuti Rasul saw. dalam setiap kondisi, perbuatan dan ucapannya.”
Ia berkata: “Siapa pun yang dilimpahi rezeki tiga perkara, akan selamat dari bencana : Perut yang kosong diserta hari yang penuh rasa terima; kefakiran yang langgeng diserta zuhud yang hadir; serta kesabaran yang sempurna diserta dzikir yang langgeng pula.”
Abu Ubaid Al-Bisry
Abu Ubaid al-Bisry salah seorang pemuka para syeikh berguru kepada Abu Turab an-Nakhsyaby, Ahmad ibnul Jalla’ pernah berkata:
“Aku pernah berjumpa dengan enamratus syeikh, namun tidak seperti empat syeikh ini:
Dzun Nuun al-Mishry Ayahandaku, Abu Turab an-Nakhsyaby dan Abu Ubaid al-Bisry.”
Abu Yazid Al-Bisthamy
Abu Yazid – Thayfur bin Isa al-Bisthamy (188-261 H./804-875 M.). Kakeknya seorang Majusi namun telah masuk Islam. Ia merupakan salah satu dari tiga bersaudara:
Adam, Thayfur dan Ali. Mereka semua ahli zuhud dan ibadat. Sedangkan yang paling agung budinya di antara meeka adalah Abu Yazid.
Abu Yazid pernah ditanya:
“Bagimana Anda dapat sampai pada tahap ini?” Ia menjawab : “Dengan perut yang lapar dan tubuh yang telanjang.”
Di antara ucapannya:
“Aku bermujahadah selama tiga puluh tahun. Tidak ada yang lebih memberatkan diriku, kecuali ilmu dan melaksanakannya. Kalau bukan karena adanya perbedaan pandangan antar Ulama, tentu aku masih muncul. Sedangkan perbedaan di antara para ulama merupakan rahmat, kecuali dalam masalah konsentrasi (tajrid) tauhid.”
Dikatakan:
“Abu Yazid al-Bisthamy tidak akan wafat, kecuali seluruh kandungan Al-Qur’anul Karim tampak jelas.”
Abu Yazid berkata : “Kami pergi untuk menemui seseorang yang populer kewaliannya. Orang tersebut juga terkenal zuhudnya. Lalu kami menuju kepada orang itu. Ketika ia keluar dari rumah dan masuk masjid, ia meludah yang bersesuaian dengan arah kiblat. Kami langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam kepadanya. Kukatakan, bahwa orang itu tidak mampu bersikap amanat dalam menjaga adab Rasulullah saw. Lalu bagaimana ia dipercaya atas apa yang dikaitkan dalam simbol dirinya?”
Ia berkata:
“Aku berhasrat untuk memohon kepada Allah swt. agar diberi kecukupan biaya makan dan isteri. Lantas aku berkata pada diri sendiri, ‘Bagaimana aku memohon kepada Allah swt. dengan permohonan semacam ini, padahal Rasulullah saw. tidak pernah memohonnya?’ Lalu aku tidak memohon. Namun, Allah swt. justru mencukupi diriku dan biaya hidup isteri. Bahkan aku tidak peduli apakah yang berada di hadapanku itu wanita ataukah tembok.”
Ketika ditanya awal mula zuhudnya, ia berkata:
“Bagi orang yang zuhud tidak mempunyai tempat.” Lalu ditanya: “Mengapa?” Ia menjawab : “Sebab, sejak tiga hari aku berada dalam zuhud, ketika hari ke empat aku keluar dari zuhud. Pada hari pertama, kau zuhud dari dunia dan seisinya. Pada hari kedua, aku zuhud dari akhirat dan seisinya. Sedang hari ke tiga, aku zuhud dari segala hal selain Allah swt. Kemudian hari keempat, tidak tersisa sama sekali pada diriku kecuali Allah swt. Aku benar-benar memahaminya. Lantas hatiku berbisik : “Wahai Abu Yazid, janganlah takut bersama Kami!” Aku pun berkata : “Inilah yang kuharapkan.” Lalu ada suara berbisik : “Engkau telah menemukan, engkau telah menemukan.”
Abu Yazid ditanya:
“Apa yang paling berat dalam penempuhan Anda di jalan Allah?” Ia menjawab: “Tidak dapat disebutkan.” Ditanya lagi: “Apa yang teringan yang Anda pernah temui dalam diri Anda, dari diri Anda sendiri?” Ia menjawab: “Kalau yang ringan itu, memang benar terjadi. Aku pernah berdoa agar diberi kemudahan dalam taat. Namun tidak dikabulkan, malah aku terhalang dari air selama setahun.”
Dikatakannya pula:
“Sejak tigapuluh tahun aku shalat, sementara keyakinanku dalam hati di seetiap shalat, terasa seakan-akan aku ini orang Majusi. Aku ingin sekali memotong tali pengikatku.”
Di antara ucapannya:
“Bila anda sekalian melihat seseorang diberi karamah-karamah, bahkan dapat terbang di udara, maka Anda sekalian jangan tertipu, sampai Anda benar-benar menyaksikan bagaimana orang tersebut menjalankan perintah dan menjauhi larangan, menjaga hukum-hukum serta menunaikan syariat.”
Pamanku meriwayatkan tentang al-Bisthamy dari ayahnya, yang berkata:
“Abu Yazid pernah pergi suatu malam menuju surau untuk dzikir kepada Allah SWT. sembari bersandar di dinding surau. Hingga dini hari, ternyata tidak berdzikir. Aku bertanya kepadanya perihal keadaan seperti itu. Ia berkata: “Aku teringat akan kata-kataku sendiri semasa kecil dulu. Itulah yang membuatku malu untuk berdzikir kepada Allah swt.
Syaqiq Al-Balkhy
Abu Ali – Syaqiq bin Ibrahim al-Balkhy (wafat 139 H./810 M.), salah seorang di antara tokoh-tokoh besar Khurasan. Ia adalah guru dari Hatimal-Asham.
Dikisahkan, tentang penyebab zuhudnya, bahwa ia adalah salah seorang dari anak kalangan orang-orang berada. Suatu ketika ia melakukan lawatan ke Turki untuk suatu kepentingan bisnis. Dan kepergiannya itu merupakan yang pertama kali baginya. Suatu saat ia masuk ke pura patung. Penjaga pura itu, rambut dan jenggotnya dicukur, pakaiannya dari jenis sutera arjuwaniya. Syaqiq berkata kepada si penjaga : “Bukankah Anda mempunyai Pencipta Yang Maha Hidup, Maha Tahu, dan Maha Kuasa, maka sembahlah Dia. Jangan menyembah patung-patung yang tidak membahayakan atau memberi manfaat kepada diri Anda!” Penjaga itu pun menjawab: “Bila Dia sebagaimana Anda ucapkan, tentu Dia dapat memberi rezeki kepada diri Anda di negara Anda sana.
Mengapa Anda bersusah payah datang kemari untuk bisnis? Seketika Syaqiq pun menjadi sadar, dan sejak saat itu ia mengambil jalan zuhud. Dikatakan, di antara peyebab zuhudnya, bahwa ia melihat seorang budak yang sedang bermain-main dengan penuh suka cita di musim kemarau dan paceklik. Orang-orang sangat prihatin kala itu. Syaqiq bertanya : “Apa yang membuatmu bersuka cita seperti ini?” Bukankah engkau melihat kesengsaraan manusia di musim kemarau dan paceklik ini?” Budak itu menjawab: “Bagiku kesengsaraan itu tidak ada.
Tuanku berada di suatu desa yang bersih, siapa saja masuk di sana dan apa pun yang kami butuhkan tercukupi.” Sejenak Syaqiq sadar, dan berkata pada diri sendiri: “Kalau tuannya berada di suatu desa, dan ia tergolong makhluk yang fakir, sementara dirinya tidak peduli terhadap rezeki lalu layakkah seorang Muslim mementingkan rezekinya, sedang Tuannya Maha Kaya?”
Hatim al-Asham berkata : Syaqiq al-Balkhy tergolong kaya raya, Ia menghidupi pada pemuda pada masanya. Sedangkan Gubernur Balkh kala itu adalah Ali bin Isa bin Mahan. Sang Gubernur ini sangat menyayangi anjing pemburu miliknya. Suatu saat salah satu anjingnya hilang. Lantas anjing ini ditemukan berada di tempat seseorang laki-laki yang menjadi tetangga Syaqiq. Laki-laki itu pun dicari, namun ia lari dan bersembunyi di rumah Syaqiq. Lantas Syaqiqi pergi ke rumah Gubernur dan berakata, “Tolong berri jalan. Soal anjing itu ada di rumahku, kukembalikan tiga hari lagi.”
Para pengawal Gubernur menyilahkan Syaqiq, dan setelah itu Syaqiq kembali pulang. Pada hari ketiga, seorang sahabt Syaqiq yang sudah lama menghilang dari Balkh datang. Sahabat itu menemukan anjing yang lehernya berkalung di jalan, lantas anjing itu pun dibawanya. “Lebih baik anjing ini kuberikan saja kepada Syaqiq, sebab ia sibuk dengan kaum muda,” kata si sahabt tersebut. Ketika Syaqiq melihatnya, ternyata anjing tersebut adalah anjing Gubernur. Syaqiq amat girang, dan anjing itu tepat pada hari ke tiga dibawa kepada Gubernur, dan ia bebas dari beban. Allah swt. kemudian melimpahkan rezeki kesadaran, dan Syaqiq bertobat dari perilaku sebelumnya, kemudian menempuh jalan zuhud.”
Hatin al-Asham menceritakan kisahnya ketika bersama Syaqiq. “Kami pernah bersama denegan Syaqiq dalam satu berisan tempur ketika memerangi orang-orang Turki. Saat itu tidak terlihat kecuali kepala-kepala manusia yang aneh, busur-busur panah yang patah dan pedang-pedang yang putus. Syaqiq berkata kepadaku: “Bagaimana dengan dirimu, hari ini, wahai Hatim?” Apakah engkau melihatnya seperti kejadian semalam ketika engkau diusir oleh isterimu?” Aku berkata, “Tidak demi Allah!” Syaqiq berkata: “Namun, bagiku, demi Allah, pada hari ini sama dengan dirimu pada malam itu.” Kemudian Syaqiq tidur di antara dua rak, berbantalkan perisai, hingga terdengar gerit-geritnya.”
Di antara ucapan Syaqiq: “Bila Anda ingin mengenal seseorang, maka kenalilah; apakah ia memilih janji Allah swt, atau memilih janji menusia. Lebih condong ke mana orang tersebut, maka akan kelihatan pribadinya.”
Katanya pula: “Takwa seseorang diketahui atas tiga hal : Mengambil, mencegah dan berbicara.”
Muhammad Ibnul Fadhl Al-Balky
Abu Abdullah — Muhammad ibnul Fadhl al-Balkhy (wafat 319 H./931 M.), asli penduduk Balkh, kemudian bertempat tinggal dan hingga wafat di Samarkand. (Samarkand, merupakan kota Islam, yang dulu berada di bawah kekuasaan Uni Sovyet (sebelum komunis runtuh). Kota ini juga pernah direbut oleh Jangis Khan (1229M.), kemudian dikuasai oleh Timur Leng.)
Ia berguru kepada Ahmad bin Khadharwaih dan yang lainnya. Abu Utsman al-Hiry menaruh perhatian yang sangat besar kepada Muhammad ibnul fadhl.
Suatu saat Ab Utsman al-Hiry menulis surat kepada Muhammad ibnul Fadhl al-Balkhy, bertnya kepadanya : “Apakah tanda-tanda celaka?” Al-Balkhy menjawab: “Ada tiga hal:
Seseorang diberi rezeki ilmu tapi terhalang untuk beramal, seseorang diberi amal tetapi terhalang keikhlasannya, dan seseorang diberi rezeki dapat bersahabt dengan orang-orang shaleh tetapi tidak menghormati mereka.”
Abu Utsman al-Hiry berkata: “Muhammad ibnul Fadhl al-Balkhy adalah agen para sufi.
Di antara ucapan Al-Balkhy adalah: “Musnahnya Islam karena empat hal:
“Mereka tidak mengamalkan apa yang diketahui, mengamalkan apa yang tidak diketahui tidak mau belajar apa yang tidak diketahui, dan menghalangi orang lain untuk belajar.”
Dikatakannya pula:
“Sungguh menakjubkan bagi orang yag melintasi padang tandus menuju rumahnya. Lantas orang itu melihat pengaruh-pengaruh kenabian. Bagaimana ia tidak melwetai nafsu dan hawanya, agar sampai ke hatinya, sehingga melihat pengaruh-pengaruh Tuhannya Azza wa Jalla?.”
Dan berkata:
“Bila Anda melihat seorang penempuh yang selalu menambah harta dunia, itu pertanda bahwa ia akan berpaling.”
Ketika ditanya perihal zuhud, ia menjawab: “Memandang pada dunia dengan sebelah mata, dan kontra dunia dengan penuh harga diri, bangga dan prestisiuas.”
Abul Husain Bin Bunan
Abul Husain bin Bunan, bernisbat kepada Abu sa’id al-Kharraz, salah seorang tokoh sufi besar di Mesir.
Katanya:
“Setiap Sufi, diuji oleh hasrat meraih rezei di hatinya, maka beramal itu lebih dapat mendekatkan diri kepda-Nya. Tanda-tanda ketenangan kalbu di sisi Allah swt, bila seseorang lebih besikukuh pada apa yang ada di Tangan Allah swt, dibanding apa yang diupayakan dirinya.”
Juga dikatakan:
“Jauhilah akhlak yang hina, sebagaimana kamu sekalian menjauhi perkara haram.”
Ali Al-Busyanjy
Abul Hasan – Ali Ahmad bin Sahl al-Busyanjy (wafat (348H./959M.), salah seorang pemuda Khurasan, yang kemudian bertemu dengan Abu Utsman, Ahmad bin Atha, Ahmad al-Jurairy dan Abu Amr ad-Dimsyqi.
al-Busyanjy ditanya tentang Muru’ah:
“Meninggalkan upaya menggunakan hal-hal yang diharamkan atas dirimu bersama-sama kalangan mulia yang sjaleh.”
Ada seseorang meminta kepadanya agar di doakan:
“Doakan kepada Allah untukku!” al-Busyanjy menjawab: “Semoga Allah melindungimu dari fitnahmu.”
al-Busyanjy berkata:
“Iman pertama tergantung apda akhirnya.”
Muhammad At-Tirmidzy
Abu –Abdullah – Muhammad bin Ali at-Tirmidzy, adalah salah seorang tokoh besar di kalangan syeikh tharikat. IA mengarang beberpa kitab mengenai ilmu tasawuf. Di antara guru-gurunya, antara lain Abu Turab an-Nakhsyaby, Ahmad bin Khadarwaih dan Ahmad ibnul Jalla,” serta yang lainnya:
Ketika ditanya tentang sifat makhluk, ia menjawab: “Lemah yang tampak, dan pengakuan-pengakuan yang digelar.”
Dikatakannya:
“Aku tidak pernah menyusun satu huruf pun dengan angan-angan. Dan tidak satu pun susunan karangan itu dikaitkan pada diriku. Tapi bila desakan waktuku muncul, aku berusaha menghibur diri dengan mengarang.”
At.Tirmidzy bertemu dengan Dzun Nuun al-Mishry di Mekkah, ketika musim haji.
Sahl At-Tustary
Abu Muhammad- Sahl Abdullah at-Tustary (200 -283 h/815 – 896 M.), is salah seorang imam sufi. Pada jamannya tidak ada orang yang memiliki muamalat dan wara’ seperti dirinya. Ia memiliki karamah luar biasa. Ia bertemu Dzun Nuun al-Mishry ketika berhaji ke Mekkah.
Dalam kisahnya:
“Di saat berusia tiga tahun, aku bangun malam menunggu shalat Pamanku, Muhammad Sawar. Paman selali beribadat sepanjang malam. Kadang-kadang ia berkata kepadaku, ‘Hai Sahl, kamu pergi saja, dan tidurlah. Hatika terganggu karenamu!”.
Ia mengisahkan:
“Suatu hari paman berkata kepadaku: “Apakah engkautidak dzikir kepada Allah swt.yang menciptakanmu?” Aku menjawab: “Bagaimana cara aku berdzikir kepada-Nya?” Paman berkata: “Katakan dalam hatimu, pada saat memakai baju, tiga kali, tanpa menggerakkan lisanmu: “Allah bersamaku (Allah Ma’y), Allah Melihat diriku (Allah Nadziry ilayya), Allah menyaksikanku (Allah syaahidy)” Perintah paman itu ku lakukan selama tiga malam. Selanjutnya beliau mengajariku : “Ucapkan setiap malam sebelas kali!” lanjut paman.
Setelah itu hatiku menjadi manis. Setahun kemudian paman berkata:
“Jagalah apa yang kuajarkan kepadamu, dan lestarikan, hingga ke liang kubur nanti! Sebab ucapan dalam hati itu akan bermanfaat di dunia hingga akhirat.” Kulaksanakan hingga bertahun-tahun, sampai akhirnya kurasakan kemanisan dalam rahasia batinku.
Pada suatu hari paman berkata kepadaku:
“Wahai Sahl, apabila seseorang senantiasa bersama Alalh, dan Allah Melihat dan Menyaksikan orang itu, apakah orang itu akan berbuat maksiat kepada-Nya? Takutlah engkau akan maksiat.”
Saat itu aku sendiri, kemudian orang-orang menyuruhku pergi ke seorang guru. Aku katakan:
“Sungguh lebih aku takuti bila hasratku harus berpisah dengan diriku.” Namun mereka tetap mendorongku agar mendatangi seorang guru untuk belajar, dan kelak pulang kembali. Aku pun mendatangi seorang guru. Di sana aku menghafal Al-Qur’an, ketika usiaku baru enam tahun atau tujuh tahun. Pada saat itu aku berpuasa sepanjang tahun. Yang kumakan hanya roti gandum sampai aku bersuia duabelas tahun. Tiba-tiba aku sangat berkeinginan, pada saat usiaku mengijak 13 tahun. Kukatakan kepada keluargaku agar mengirimkuke Bashrah.
Dan benar, sesmapia di Basrah aku bertanya siapa para ulamanya. Tidak seorang pun mau menjawab pertanyaanku secara memuaskan. Lantas aku menuju Abadan, (Sebuah kota di wilayah teluk Arab (dan saat ini salah satu kota penting di negara Iran). Mendatangi seseorang bernama Abu Hubaib Hamzah bin Abdullah al-Abadany. Aku mohon agar diperkenankan belajar kepadanya, dan ia pun mengizinkan. Beberapa lama aku menetap di sana, belajar atas nasihat dan budi pekertinya. Hingga, akhirnya aku kembali pula ke Tustar.
Makanan pokokku kujadikan sangat terbatas, karena hanya sedirham untuk membeli gandum, yang kemudian kujadikan adonan roti. Aku berbuka sesuap, ketika saat sahur tiba setiap malam, tanpa ada garam dan lauk. Anehnya dirham tersebut cukup unutk makan setahun. Aku berrhasrat untuk tiga malam sekali makan, kemudian sekali makan selama lima malam, tujuh malam dan kemudian limabelsa malam sekali. Selama duapuluh tahun, cara seperti itu kulakukan. Lantas aku keluar ke berbagai daerah beberpa tahun, beru kemudian kembali ke Tustar. Sepanjang malam aku tidak pernah tidur.
Di antara perkataannya : “Setiap perbuatan yang dilakukan seorang hamba, tanpa disertai bimbingan, baik itu perbuatan tat ataupun maksiat, berati menghidupkan nafsu. Dan setiap perbuatan yang dilakukan hamba dengan bimbingan, berati siksaan terhadap nafsu.”
Muhammad Ats-Tsaqafy
Abu Ali – Muhammad Abdul Wahab ats-Tsaqafy (wafat 328 H/940M), seorang imam pada zamannya. Berguru kepada Abu Hafs dan Hamdun al-Qashshar. Dari Abu Ali, tasawuf di Naisabur mulai semarak.
Di antara ucapannya: “Jika ada seseorang mengumpulkan seluruh ilmu, dan berguru kepada tokoh-tokoh dari berbagai lapisan manusia, sungguh ia tidak akan mencapai prestasi ketokohannya, kecuali melalui riyadhah lewat seorang syeikh, seorang imam atau seorang pembimbing tatacara etikanya dari seorang guru, berarti ia telah menmapakkan caacat amal-amalnya dan kesombngan dirinya. Tentu, orang seperti itu tidak dapat diikuti dalam kebenaran kerjasamanya.”
Ia berkata: “Pada ummat ini kelak akan datang suatu zaman, dimana bekerja mencari kehidupan bagi seorang Mikmin tidak akan layak, kecuali bersandar kepada orang munafik.”
Dikatakannya pula: “Cegahlah dirimu dari kesibukan dunia bila mengganggu di hadapanmu. Dan cegahlah, ketika dunia meninggalkan penyesalan-penyesalan kepada dirimu. Orang yang cerdas adalah orang yang tidak pernah bersandar pada sesuatu, dimana sesuatu itu menjadi pengganggunya, dan melahirkan sesal kemudian ketika berbalik.”
Ahmad Al-Jurairy
Abu Muhammad – Ahmad bin Muhammad ibnul Husain al-Jurairy, adalah salah satu tokoh besar murid al-Junayd. Ia menduduki posisi al-Junayd sepeninggalnya. Sahl bin Abdullah menjadi salah seorang muridnya. Dan al-Jurairy memang dikenal menguasai ilmu pengetahuan Sufi di lapisan kalangan Sufi sendiri.
Ahmad bin Atha’ar Rudzbary mengisahkan: “Berselang setahun dari wafat al-Jurairy, aku melewati rumahnya. Tiba-tiba tampak ia duduk bersandar, sedang kedua lututnya menempal de dadanya, sembari tangannya mengisyaratakan kepada Allah swt.
Di antara ucapannya: “Barangsiapa dikuasai oleh nafsunya, ia akan menjadi tahanan dalam pemerintahan syahwat, terkungkung dalam tahanan hawa nafsu, dan Allah swt. mengharamkan faedah-faedah dalam hatinya. Karenanya, ia tidak mampu menikmati Kalam Allah swt. Yang Haq dan tidak pula berkenan di sana, walaupun seringkali mengucapkan kalam tersebut.
Karena Firman Allah swt:
“Aku akan memalingkan dari ayat-ayat-Ku, orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar.”
(Qs. Al-A’raaf : 146).
Ia berkata: “Memandang terhadap hal-hal yang prinsip ( wshul) dengan mengaitkan penggunaan terhadap hal-hal furu’, dan pembenaran furu’ dengan mempertentangkan pada yang ushul, (maka ingatlah), tiada jalan mencapai tahap musyahadah ushul, kecuali dengan mengagungkan apa yang ktelah diagungkan oleh Allah swt. dalam bidang pendukung ushul dan furu’
Ahmad Ibnul Jalla’
Abu Abdullah — Ahmad bin Yahya al-Jalla’, asli Bagdad, dan pernah di Ramalah (Sebuah wilayah di Palestina, arahnya timur laut dari Masjidil Aqsha. Dibangun oleh Sulaiman bin Abdul Malik (716M.) kemudian direbut oleh tentara Salib tahun 1099 M.), dan Damaskus (Ibukota Syiria, Kota ini berusia 5000 tahaun, Penduduknya dalah bangsa Aramia, Kemudian dikuasai oleh Asywaria, Babilonia, Persia, Yunani, berikut Romawi, Dibuka kembali oleh bangsa Arab Islam tahun 639 M. Dan menjadi ibu kota Kerajaan Umayah.
Ketika Perang Salib kota ii dipertahankan oleh Nururddin. Namun dibakar oleh Timur Leng tahun 1400 M. Dan dimenangkan kembali oleh Sultan Salim I tahun 1516 M. Di antara warisan peradaban yang masih ada adalah Masjid Umayah. Makam Salahuddin, dan Istana Agung serta peninggalan lainnya), Ia termasuk tokoh terbesar dari kalangan Syeikh Sufi di Syam. Berguru apda Abu Turab, Dzun Nuun al-Mishry dan Abu Ubaid al-Bisry serta kepada ayahnya sendiri Yahya al-Jalla’.
Ia berkisah: “Kukatakan pada ayah dan Ibu: “Aku senang sekali bila ayah dan ibu menghibahkan diriku kepada Allah swt.” Ayah dan ibu menjawab: “Kami benar-benar menghibahkanmu kepada Allah Azza wa Jalla.” Lalu aku pergi beberapa tahun. Ketika aku kembali, bertepatan hujan lebat di malam hari, aku mengetuk pintu rumah. Ayahku berkata: “Siapa itu?” Kujawab : “Anakmu, Ahmad.” Ayah balik berkata: “Kami memang mempunyai anak, tetapi sudah kami hibahkan kepada Allah swt, dan bagi kami orang Arab, tidak akan mengambil kembali apa yang sudah kami berikan.” Ayahku akhirnya tidak membukakan pintu untukku.”
Di antara ucapannya: “Siapa yang mengganggap sama antara pujian dan celaan, maka ia adalah seorang zuhud. Dan barangsiapa menjaga ibadat-ibadat fardhu pada setiap awal waktu, ia adalah seorang penghamba setia. Siapa yang melihat semua aktivitas ini dari Allah swt, berarti ia telah manunggal, tidak ada yang dilihat kecuali Yang Tunggal.”
Ketika Ibnul Jalla’ wafat, dokter memandangnya, dan ia pun tersenyum. “Ia hidup,” kata dokter itu. Ketika memeriksa detak jantungnya, dokter itu berkata : “Ia wafat.” Namun ketika tutup mukanya dibuka, dokter itu malah berkata : “Aku tidak tahu, apakah ia wafat atau hidup?”
Bunan Al-Jamal
Abul Hasan – Bunan Muhamad al-Jamal (wafat 316 H/928 M), asli orang Wasith. Bertempat tinggal di Mesir. Ia tergolong orang yang berbudi agung dan memiliki banyak karamah.
Ketika ditanya tentang tasawuf yang paling mulia, ia menjawab: “Bersiteguh dengan apa yang sudah dijamin llahi menegakkan perintah-perintah-Nya menjaga rahasia-rahasia batin; dan menyembunyikan diri dari dua alam (dunia dan akhirat).
Abu ali ar-Rudzbary mengissahkan: “Bunan al-Jamal pernah didatangi binatang buas. Binatang itu menjilati dan mengendus-endusnya. Bunan al-Jamal sama sekali tidak bergeming. Ketika ditanya, Apa yang bergerak di hati Anda ketika bintang itu menjilati diri Anda? Ia menjawab: “Aku sedang memikirkan mengenai perselisihan pendapat di kalangan ulama tentang sisa-sissa makanan binatang buas.”
Bisyr Al-Hafi
Abu Nashr – Bisyr ibnur Harits al-Hafi (150 -227 H./767 -841 M.), berasal dari Marw. Tinggal di Baghdad hingga akhir hayatnya. Ia adalah ank saudara wanita Ali bin Khasyram, dan tergolong tokoh berbudi agung.
Sebab-sebab tobatnya antara lain adalah ketika ia sedang berjalan menemukan sebuah kertas bertuliskan Asma Allah swt. yang telah terinjak-injak kaki. Lalu diambil dan dibelinya dengan harga satu dirham. Kemudian dibersihkannya kertas dengan disertai parfum. Selanjutnya diletakkan di celah tembok. Ketika tidur ia bermimpi, seakan ada yang berkata kepadanya: “Hai Bisyr, engkau telah membersihkan Nama-Ku, kelak akan Kubersihkan namamu di dunia dan akhirat.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq, ra. Berkisah: “Bisyr melewati gerombolan orang. ‘Orang ini tidak pernah tidur sepanjang malam, dan tidak pernah pula berbuka keccuali sekali dalam tiga hari.” Kata mereka. Lantas Bisyr menangis. Ditanyakan mengapa ia menangis? Sebab aku tidak ingat kalau aku berjaga semalam suntuk, dan tidak ingat kapan aku puasa sehari sedang malamnya tidak berbuka. Namun Allah swt. memberikan limpahan karunia di dalam hati lebih banyak ketimbang yang diperbuat seorang hamba; sebagai bentuk Kelembutan dan Kemurahan-Nya,” kata Bisyr.”
Di antara ucapannya : “Aku mimpi bertemu Nabi saw. dan beliau bersabda kepadaku : “Hai Bisyr, mengertikah engkau mengapa Allah lebih meninggigkan dirimu dibanding teman-temanmu? Aku menjawab : “Tidak wahai Rasulullah,” Nabi saw. bersabda:
“Karena engkau mengikuti sunnahku, dan bhaktimu terhadap orang-orang shaleh, serta nasihatmu terhadap teman-temanmu dan kecintaanmu kepada sahabat-sahabatku serta keluargaku … Itulah yang membuatmu sampai pada tahap kalangan saleh.”
Saya juga mendengar Bilal al-Khawash berkata : “Aku sedang berada di perkampungan Bani Israil, tiba-tiba ada seseorang mengikuti langkahku. Dan aku terheran-heran kepadanya. Kemudian aku diberi ilham, bahwa laki-laki itu adalah Khidhr – alaihisalam – lantas aku bertanya:
“Demi kebenran Al-Haq, siapa sebenarnya Anda?”
“Saudaramu, Khidhr.” Kata orang itu.
“Aku ingin bertanya kepada diri Anda.” Kataku.
“Bertanyalah!”
“Bagaimana pandangan Anda tentang asy-Syafi’y – rahimahullahu Ta’ala?” tanyaku.
“Ia termasuk Wali Autad.” Jawabnya. (Golongan yang menjaga agama. Dan asy-Syafi’y termasuk golongan mereka.)
“Lalu bagaimana pandangan Anda tentang Ahmad bin Hanbal – Radhiyallahu ‘anhu?” tanyaku lagi.
“Ia seorang laki-laki yang jujur.” Jawabnya. ( Karena kejujurannya harus tertimpa pukulan dan hinaan, ketika dipaksa mengakui kemakhlukan Al-Qur’an dan ia menolaknya secara jujur).
“Bagimana dengan Bisyr ibnul Harits al-Hafi?”
“Belum pernah ada orang seperti dirinya setelah itu,” jawabnya.
“Dengan lantaran apa aku dapat melihat Anda?”
“Dengan cara kebaktianmu kepada ibumu.” Jawab Khidhr.”
Abu Abdullah Ahmad ibnul Jalla” bercerita:
“Aku melihat Dzun Nuun al-Mishry, dan beliau mempunyai banyak sekali ungkapan hikmah. Ketika aku melihat Sahl, beliau memiliki isyarat. Sementara aku melihat wara’ pada Bisyr al-Hafi.” Ketika ditanya mana yang labih mendapat simpati di hatinya?” Guruku, Bisyr ibnul Harits.”
Dikisahkan:
“Bisyr pernah menginginkan makan sayur beberapa tahun, namun tidak pernah kesampaian. Kemudian setelah wafat, ia dimimpikan: “Apa yang telah dilakukan oleh Allah swt. atas diri Anda?” Bisyr menjawab: “Allah telah mengampuni dosa-dosaku.
Dan Allah swt. berfirman:
“Makanlah wahai orang yang belum makan, minumlah wahai orang yang belum minum.”
Bisyr berkata:
“Setiap yang halal tidak membawa kerakusan.” Katanya pula: “Kemanisan akhirat tidak dapat ditemui pada seseorang yang mencintai popularitas.”
Ia juga dimimpikan orang lain: “Apa yang telah dilakukan Allah kepada Anda?” ia menjawab: “Allah swt. telah mengampuni dosaku, dan aku diberi separo surga, dengan firman-Nya: “Wahai Bisyr, seandainya engkau sujud dkepada-Ku di atas bara api, engkau belum menunaikan syukur sebagaimana Kujadikan syukur itu bagimu dalam hati hamba-Ku.”
Umar Al-Haddad
Abu Hafs – Umar bin Maslamah al-Haddad (wafat 260 H./874 M.), berasal dari suatu desa yang populer disebut desa Kurdabadz di lintasan jalan Bukhara. (sebuah kota di Usbekistan, yang merupakan daerah titik persimpangan antara Rusia, Iran, India dan Cina). Ia dikenal sebagai salah satu pemimpin dan pemuka kaum Sufi.
Di antara ucapannya:
Kemaksiatan adalah pendingin kekafiran, sebagaimana panas sebagai pendingin kematian.”
“Bila anda melihat murid mencintai sirna; ketahuilah bahwa di dalam dirinya ada sisa kebatilan.”
“Kebaikan adab lahiriah merupakan ragam dari kebaikan adab batiniah.”
“Futuwwah berarti menunaikan kesadaran, dan meninggalkan upaya mencari kesadaran sendiri.”
“Barangsiapa perbuatan dan tingkah laku ruhaninya tidak ditimbang dengan Kitab dan Sunnah di setiap saat, sementara ia tidak peduli terhadap bisikan-bisikan hatinya, maka janganlah digolongkan sebagai tokoh Sufi.”
Ali Al-Hushry
Abu hasan – Ali bin Ibrahim al-Hushry al-Bashry (wafat 371 H./981 M.), Bertempat tinggal di Baghdad. Ia tergolong memiliki ucapan dan perilaku yag menakjubkan. Seorang Syeikh di zamannya, dan bernisbah dalam thariqat kepada Dulaf asy-Syibly.
Ucapan-ucapannya antara lain:
“Orang-orang mengatakan: “Al-Hushry tidak pernah berbicara terhadap hal-hal yang sunnah,” Padahal, aku memiliki kebiasaan ibadat sunnah rutin sejak masa muda, bila aku meninggalkan satu rakaat, aku benar-benar memaki diriku.”
“Barangsiapa mengaku telah mencapai hakikat, akan didustakan oleh kesaksian-kesaksian terbukanya bukti-bukti.”
Sumnun Bin Hamzah
Abul Hsan – Abul Qasim – Sumnun bin Hamzah (wafat 290H./903M.), berguru kepada Sari as-Saqathy dan Abu Hamid al-Qalanasy serta kepada Muhammad bin Ali al-Qashshab. Sumnun dikenal sangat indah budinya, perkataannya banyak mengungkapkan cinta. Sebagaimana perilakunya yang begitu agung.
Abu Ahmad al-Maghazily berkata:
“Di Baghdad ada seorang laki-laki yang sedang membagi-bagikan dirham. Sumnun berkata kepadaku: “Hai, Abu Ahmad, apakah engkau tidak melihat, betapa orang itu telah menafkahkan dan berbuat kebajikan? Sedangkan kita tidak meiliki apapun. Jika demikian kita pergi ke suatu tempat saja. Shalat di sana, untuk menebus satu dirham dengan satu rakaat.” Kami pun pergi menuju Madain, kamu shalat di sana empatpuluh ribu rakaat.”
Sa’id Al-Hiry
Abu Utsman – Sa’id bin Ismail al-Hiry (wafat 298 H./910 M.), semula dari Ray kemudian mukim di Naisabur. Berguru kepada Syah al-Kirmany dan Yahya bin Mu’adz ar-Razy. Kemudian sampai ke Naisabur bersama Syah al-Kirmany ke tempat Abu Hafs al-Haddad, dan mukim di sana. Bahkan Abu Hafs menikahkan puterinya dengan Abu Utsman. Abu Utsman hidup sekitar tigapuluh tahun lebih sepeninggal Abu Hafs.
Di antara ucapannya:
“Iman seseorang tidak akan sempurna, sampai hatinya memandang sama terhadap empat hal “ Tercegah dari pemberian mendapatkan karunia; mendapat kemuliaan dan menerima kehinaan.
Disebutkan: “Di dunia ini, dikatakan ada tiga tokoh, tidak sampai emapt : Abu Utsman di Naisabur, al-Junayd di baghdad, dan Abu Abdullah ibnu Jalla’ di Syam,”
Dikatakan pula: “Sejak empat puluh tahun, aku tidak pernah benci dengan kondisi ruhani yang telah ditempatkan oleh Allah swt. kepdaku, dan aku juga tidak pernah benci apabila Allah swt. memindahkan pada kondisi ruhani yang lain.”
“Bersahabat bersama Allah swt, harus disertai dengan adab yang baik rasa gentar dan muraqabah yang lestari.”
“Bersahabat dengan Rasulullah saw. harus mengikuti Sunnah, disiplin pada ketetapan ilmu dzahir.”
“Bersahabt dengan wali-wali Allah swt. harus menghormati dan berbakti.”
“Bersahabt dengan keluarga, dilakukan dengan budi pekerti yang baik.”
“Bersahabat dengan sesama teman, harus disertai ekspresi yang cerah, sepanjang tidak menjurus pada tindak dosa.”
“Bersahabat dengan orang-orang bodoh dengan cara mendoakan mereka dan mengisi mereka.”
Dia juga mengatakan: “Barangsiapa menetapi Sunnah baik secara lisan maupun perbuatan dalam dirinya, ia akan berbicara dengan hikmah. Sedangkan siapa yang menetapi hawa nafsu, baik lisan maupun perbuatan, akan berbicara penuh bid’ah.
Allah swt. berfirman:
“Apabila kamu sekalian taat kepadanya, niscaya kamu akan mendapat kan petunjuk. Dan tidak lain tugas Rasul adalah menyampaikan (amanat Allah) yang terang.”
(Qs. An-Nuur :54).
Abdullah Bin Khubaiq
Abu Hamid — Abdullah bin Khubaiq, sala seorang zuhud Sufi yang berasal dari Kufah, kemudian menetap di Anthakia. Ia berguru kepada Yusuf bin Asbat.
Ucapannya antara lain:
“Ada empat hal yang harus diperhatikan, tidak lebih : Perhatikan mata, lisan, hati dan hawa nafsu Anda. Perhatikan mata untuk tidak memandang hal-hal yang tidak dihalalkan. Perhatikan lisan agar tidak mengucapkan sesuatu yang diketahui Allah swt, berbeda dengan kata hati Anda. Perhatikan hati agar tidak punya arasa dendan dan dengki kepada seseorang dari sesama Muslim. Dan perhatikan hawa nafsu, agar tidak condong pada sesuatu yang buruk. Bila empat budi pekerti ini tidak ada pada diri Anda, taburkan saja debu di atas kepala Anda. Anda benar-benar celaka.”
“Jangan bersedih, kecuali pada sesuatu yang esok hari mengancam Anda. Dan janganlah bersenang-senang, kecuali pada sesuatu yang esok menggembirakan Anda!.”
“Keliaran hamba yang menjauhkannya dari Allah swt, telah meliarkan hati mereka. Kalau mereka melupakan Tuhannya, niscaya semua orang akan melupakannya.”
“Rasa takut yang paling berguna bila rasa takut itu mencegah Anda dari perbuatan maksiat. Membuat gelisah sepanjang waktu atas apa yang telah hilang dari diri Anda. Berpikirlah secara terus menerus pada sisa-sisa usisa. Sedangkan harapan yang lebih berguna, apabila harapan itu memudahkan diri Anda dalam beramal.”
“Mendengarkan kebatilan pada saat yang lama akan mematikan kemanisan taat dalam hati.”
Ahmad Al-Kharraz
Abu Sa’id – Ahmad bin Isa al-Kharraz (wafat 277H./890M.), berasal dari Baghdad. Berguru kepada Dzun Nuun al-Mishry dan an-Nabajy, Abu Ubaid al-Bisry serta kepada Bisyr ibnul Harits dan yang lainnya.
Di antara ucapannya:
“Aku bermipi bertemu iblis, ia lewat menjauh dariku. Aku memanggilnya: “Kemarilah, apa keperluanmu?” Iblis menjawab: “Apa yang akan kulakukan kepadamu. Engkau telah membuang dari dirimu, sesuatu yang baisa kubuat untuk menipu manusisa.” Aku bertanya: “Apa itu?” Iblis menjawab: “Dunia.”
Ketika ia segan denganku, ia menoleh kadpaku dan berkata: “Hanya saja aku punya sesuatu yang berupa bisikan halus untukmu.” Aku bertanya: “Apa itu?” Iblis menjawab: “Bergaul dengan orang yang banyak bciara.”
“Aku benar-benar bersahabat dengan kaum Sufi, sama sekali tidak pernah terjadi perselisihan di antara kami. Mereka bertanya: “Mengapa?” Kujawab : “Sebab aku bersama mereka dlam jiwaku.”
Abdullah Al-Kharraz
Abu Muhammad – Abdullah bin Muhammad al-Kharraz (Wafat mendekati tahun 310 H./922 M.), adalah penduduk Ray. Tinggal di Mekkah al Mukarramah, berguru kepada Abu Hafs dan Abu Amran al-Kabir. Ia tergolong orang wara’.
Di antara ucapannya: “Lapar adalah makanan para penempuh zuhud. Sedangkan dzikir adalah makanan orang-orang ‘arif.”
Abu Hamzah Al-Khurasany
Abu Hamzah al-Khurasany (wafat 290 H./903 M,), berasal dari Naisabur, dari daerah Malkabadz. Ia sekawan dengan al-Junayd, al-Kharraz dan Abu Turab an-nakhsyaby. Ia dieknal sangat wara’ dan religius.
Di antara ucapannya:
“Barangsiapa mengingat akan kematian, Allah akan membuatnya mencintai segala yang kekal, dan membuatnya dendam pada hal yang fana’.
Ada seseorang meminta wasiat kepadanya: “Wasiatilah aku!” kata orang tersebut. Al-Khurasany berkata: “Siapkan bekalmu untuk bepergian yang arahnya ada di sisimu.”
Ahmad Bin Khadhrawaih
Abu Hamid – Ahmad bin Khadhrawaih al-Balkhy (wafat 240H./854 M.), salah seorang Syeikh besar dari kalangan Sufi, dan ia begitu agung dalam perilaku futuwwah. Ia belajar kepada Abu Turab an-nakhsyaby. Ketika datang di Naisabur ia berziarah ke rumah Abu Hafs, dan keluar pergi menuju Bistham menemui Abu Yazid al-Bisthamy. Ketika itu Abu Yazid berkata: “Ahmad, guru kami.”
Abu Hafs berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih besar hasratnya dan lebih benar kondisi ruhaninya dibanding Ahmad bin Khadhrawaih.
Saya mendengar Muhammad bin Hamid berkata:
“Aku sedang duduk di dekat Ahmad bin Khadhrawaih ketika ia sedang naza’. Ketika itu usianya telah genap sembilan puluh lima tahun. Sebagian murid-muridnya bertanya tentang suatau masalah. Tiba-tiba airmata Khadhrawaih mengalir, seraya berkata: “Anakku, sebuah pintu yang telah kuketuk selam sembilanpuluh lima tahun, sekarang sudah terbuka bagiku. Aku tidak tahu apakah bahagia atau celaka. Manakah jawaban bagiku?”
Ia berkata pula: “Tiada tidur yang lebih berat ketimbang kealpaan. Tiada belenggu yang memperbudak ketimbang syahwat. Bila saja muatan berat kealpaan pada dirimu tidak ada, tentu engkau tidak terbuai syahwat.”
Ahmad Bin Abul Khawary
Abul Husain – Ahmad bin Abul Khawary (wafat 230 H.?845 M.), berasal dari Damaskus. Belajar kepada Abu Sulaiman ad-Darany dan yang lain.
Al-Junayd pernah berkomenetar: “Ahmad bin Abul Khawary adalah wewangian bagi Syam.”
Di antara ucapannya:
“Siapa yang memandang dunia dengan satu pandangan kecintaan dan hasrat, Allah swt, akan mengeluarkannya dari cahaya keyakinan dan zuhud dari dalam hatinya.”
“Barangsiapa beramal tanpa mengikuti Sunnah Rasulullah saw. amalnya dinilai batil.”
“Tangis paling utama adalah tangisan hamba ata apa yang telah hilang dari waktu-waktunya karena tidak berada dalam keserasian bersama Allah swt.”
“Tidak ada cobaan lebih dahsyat yang ditimpakan Allah swt. kepada hamba, melebihi kealpaan dan kekerasan hati.”
Ibrahim Al-Khawwas
Abu Ishaq – Ibrahim bin Ahmad bin Ismail al-Khawwas (wafat 291 H./904 M.), salah seorang teman segenerasi al-Junayd dan an-Nury. Ia memiliki kemampuna besar dalam hal tawakkal dan riyadhah. Termasuk tokoh tersembunyi, dan meninggal di Ray.
Di antara ucapannya:
“Bukankah dikatakan seorang alim karena banyaknya riwayat. Orang alim adalah pengikut pengetahuan dan mengamalkan pengetahuan itu, di samping mengikuti jejak Sunnah-sunnah, walaupun ilmunya sedikit.
Katanya pula:
“Obat hati ada lima. Membaca Al-Qur’an dengan merenungkan maknanya; perut yang kosong; bangun malam, dzikir khusyu’ di waktu sahur, dan berada dalam majelis orang-orang shaleh.”
Abdurrahman Ad-Darany
Abu –Sulaiman – Abdurrahman bin Athiyah ad-Darany (wfat 215 H./830 M.), dari desa Daran, salah satu wilayah di Damaskus.
Di antara ucapannya:
“Barangsiapa berbuat kebajikan sepanjang hari, akan dicukupi di malam hari. Barangsiapa berbua kebajikan di malam hari, dicukupi siang harinya. Siapa yang meninggalkan syahwat, Allah swt akan menghilangkan syahwat itu dari hatinya, dan Maha Pemurah dari sekedar menyiksa hati karena adanya syahwat yang ditinggalkan demi menuju kepada-Nya.”
“Bila dunia mendiami hati, akhirat akan berlalu dari hati.”
Al-Junayd mengatakan bahwa Abu Sulaiman berkata: “Terakdang beberapa dalam hatiku ada cacian yang menjadi cacat kaum Sufi. Aku tidak menerimanya kecuali dengan dua saksi yang adil : Kitab dab Sunnah.”
“Amal paling utama adalah kontra dengan nafsu.”
“Setiap sessuatu ada ilmunya. Sedangkan ilmu kehinaan adalah meninggalkan tangisan.”
“Setiap sesuatu ada karatnya. Sedangkan karat cahaya hati adalahperut yang kenyang.”
“Setiap kesibukan yang menjauhkan manusia dari Allah swt. baik kesibukan keluarga, harta benda dan anak, baginya adalah keburukan.”
Ahmad Abdul Khawary berkata:
“Suatu hari, aku memasuki rumah Abu Sulaiman, ketika itu ia sedang menangis. “Mengapa Anda menangis? Tanyaku. “Wahai Ahmad, bagaimana aku tidak menangis? Ketika malam gelap gulita dan mata mulai terlelap, sementara setiap kekasih menyendiri dengan kekasihnya. Para pecinta menggelar langkahnya, sedang air mata mereka mengalir pada pipi-pipinya, menets di mihrab-mihrabnya, maka Allah swt. Yang Maha Agung memanggil, Wahai Jibril, demi pandangan-Ku, siapa yang menikmati Kalam-Ku, dan meringankan diri untuk dzikir kepada-Ku sungguh Aku benar-benar melihat mereka dalam kesunyian mereka. Aku mendengar bisikan-bisikan lembut mereka, dan aku melihat tangis mereka.
Mengapa engkau tidak memanggil mereka wahai Jibril: Apakah tangisan semacam itu? Apakah engkau pernah melihat sang kekasih menyiksa kekasih-kekasihnya? Atau bagaimanakah Aku menyiksa mereka, sedangkan gelap gulita malam membuat mereka justru memadu kasih kepada-Ku, untuk-Ku. Aku bersumpah, sesungguhnya mereka, bila datang di hari Kiamat kelak, Aku benar-benar akan membuka Wajah-Ku Yang Pemurah bagi mereka, sampai mereka memandang Ku dan Aku memandang mereka.”
Abu Sulaiaman berkata:
“Suatu malam yang dingin aku berada di mihrab. Aku dicekam oleh kedinginan sehingga salah satu tanganku kusembunyikan untuk menghindari rasa dingin. Tangan yang lain keluar. Tiba-tiba mataku terserang kantuk yang hebat. Dan aku pun terlelap. Lalu terdenegar bisikan: “Wahai Abu Sulaiman, Kami telah menempatkan tangan itu terhadap apa yang menimpanya.
Kalau pun yang lain ada Kami akan menempatkan di dalamnya.” Lalu aku berjanji pada diri sendiri, untuk tidak berdoa, kecuali kedua tanganku keluar, baik di musim panas ataupun musim dingin.”
Katanya pula: “Aku tertidur ketika sedang wirid. Tiba-tiba aku berjumpa bidadari, yang berkata kepadaku : “Engkau tidur, sedang aku menunggumu dalam pingitan selama limaratus tahun.”
Muhammad A-Duqqy
Abu Bakr – Muhammad Dawud ad-Dinawary, yang populer dengan sebutan ad-Duqqy (wafat setelah tahun 350 H./961 M.), bermukim di syam, dan usianya lebih dari seratus tahun. Ia berguru kepada Ahmad ibnul Jalla’ dan az-Zaqqaq.
Di antara ucapannya:
“Perut merupakan tempat berkumpulnya semua makanan. Bila yang dilemparkan makanan halal di dalam perut, anggota tubuh akan muncul dengan gerak amaliah yang ssaleh. Bila makanan yang dimasukannya adalah syubhat. Jalan menuju kepada Allah swt, kabur. Bila yang dimasukannya makanan yang sesuai dengan selera, akan ada hijab antara dirinya dengan Allah swt.
Ahmad Ad-Dinawary
Abul Abbas – Ahmad bin Muhammad ad-Dinawary (wafat setelah 340 H./951 M.), Berguru kepada Yusuf ibnul Husain dan ibnu Atha’ al-Jurairy. Dikenal sebagai seorang alim yang memiliki keutamaan. Datang di Naisabur dan bermukim di sana beberapa waktu. Ia biasa berceramah dan berbicara dengan bahasa gnostik (ma’rifat).
Kemudain ia pergi ke Samarkand dan wafat di sana. Ucapan-ucapannya, antara lain:
“Dzikir terendah bila engkau melupakan semua selain dzikir. Sedangkan puncak dzikir, bila seseorang yang berdzikir sirna dalam, dan dari dzikir itu sendiri.”
“Ucapan dzahir tidak akan menggeser aturan batin.”
“Orang-orang telah merusak pilar-pilar tasawuf dan menghancurkan jalannya. Mereka mengubah makna-makna dengan nama-nama menurut inovasi mereka. Bahkan mereka telah membuat simbol ketamakan atas nama anugerah, simbol adab yang buruk atas nama keikhlasan, keluar dari Allah swt. dengan sebutan keleluasaan, berhura-hura dengan kekejian sebagai kebajikan, mengikuti selera nafsu sebagai ujian, kembali pada dimensi duniawi sebagai wushul, akhlak buruk sebagai kekuasaan, kebakhilan seebagai penjagal, minta-minta sebagai amal, berbicara busuk sebagai kritik — Semua itu bukanlah tharikat kaum Sufi.
Mumsyad Ad-Dinawary
Mumsyad ad-Dinawary (wafat 299 H./911 M.), dari kalangan tokoh besar syeikh Sufi.
Ucapannya antara lain:
“Adab seorang murid adalah senantiasa berpegang teguh pada rasa hormat kepada para syeikh, menolong sesama teman, keluar dari aspek duniawi, dan menjaga etika syariat.”
“Aku tidak pernah memasuki rumah salah seorang syeikhku, melainkan aku kosong dari segala kecenderungan diriku. Aku hanya menunggu berkat yang tiba di hatiku dan pandangan dan ucapannya. Siapa pun yang masuk ke tempar syeikh dengan kecenderungan pribadi, akan terputus dari berkat pandangan, majelis dan ucapannya.”
Abdullah Ar-Razy
Abu Muhammad – Abdullah ar-razy (wafat 353 H./964 M.), lahir dan tumbuh dewasa di Naisabur, Berguru kepada Abu Utsman al-Hiry, al-Junayd, Yusuf ibnul Husain, Ruwaym, Samnun dan yang lainnya.
Ketika ditanya: “Mengapa manusia mengenal cacat jiwanya, namun tidak mau kembali kepada kebenran?” Ia menjawab: “Karena mereka sibuk membanggakan ilmu pengetahuan, namun tidak menyibukkan diri dalam amaliah ilmunya. Mereka sibuk dengan aspek lahriah namun tidak sibuk dengan etika batinnya. Kemudian Allah swt. membutakan hatinya dan mencincang tubuhnya jauh dari ibadat.”
Yahya Bin Mu’adz Ar-Razy
Abu Zakaria — Yahya bin Mu’adz ar-Razy, sang orator (wafat 258 H./872 M.), adalah tokoh tunggal di masanya. Ia memiliki bahasa harapan ruhani dan ucapan dalam ma’rifat. Pergi ke Balkh, dan bermukim beberapa waktu di sana, kemudian kembali lagi ke Naisabur.
Di antara ucapannya:
“Bagaimana seseorang itu menjadi zahid, sementara dirinya tidak memiliki wara’. Berbuat wara’lah dari hal-hal yang bukan menjadi bagianmu, kemudian berzuhudlah terhadap hal-hal yang menjadi bagianmu.”
“Lapar orang-orang tobat itu sebagai ujian. Lapar para zahid sebagai siasat. Lapar para Shiddiqin sebgaia penghormatan.”
“Kehilangan waktu ruhani lebih dahsyat dibanding kematian. Sebab kehilangan waktu berati terputus dari Allah swt. Sedang kematian hanyalah terputus dari makhluk.”
“Zuhud itu ada tiga hal : Meraih paling minim, khalwat dan berlapar-lapar.”
“Janganlah mengambil keuntungan untuk memprioritaskan kepentingan dirimu, dibanding menyibukkan setiap saat pada sesuatu yang lebih berharga lagi.”
“Barang siapa berkhianat kepada Allah swt. dalam rahasia batinnya, Dia akan merobek tutupnya dalam dunia nyata.”
“Anggapan bersih yang terlontar dari orang-orang pendosa kepadamu, berarti cacat bagimu. Dan cinta mereka kepadamu, adalah aib yang menimpamu,dan orang yang butuh kepadamu akan menjadi rendah.”
Yusuf Ibnul Husain Ar-Razy
Abu Ya’kub – Yusuf ibnul Husain ar-Razy (wafat 304 H./916M.), ia seorang syeikh di Ray dan al-Jabal pada zamannya. Memiliki aturan untuk menggugurkan kepura-puraan. Terkenal sebagai orang yang alim dan sastrawan. Berguru kepada Dzun Nuun al-Mishry dan Abu Turab an-Nakhsyaby serta bertemn dengan Abu Sa’id al-Kharraz.
Di antara ucapannya:
“Menemui Allah swt. dengan seluruh dosa-dosaku, lebih kucintai dibanding menemuinya dengan seberkas kepura-puraan.”
“Bila engkau melihat seorang murid lebih senang dengan kemurahan aturan (rukhshah), ingatlah, ia tidak akan mendapatkan apa-apa.”
“Aku melihat penyakit-penyakit kaum Sufi ketika mereka bergaul dengan orang-orang yang banyak berkata-kata kosong, bergaul dengan orang-orang yang kontra tasawuf, dan berpacaran dengan wanita.”
Ia pernah menulis kepada al-Junayd: “Semoga Allah swt. tidak mecicipkan rasa nafsumu, sebab rasa nafsu tidak akan memberikan rasa kebaikan setelah engkau mencicipinya.”
Ibrahim Ar-Raqqy
Abu Ishaq – Ibrahim bin Dawud ar-Raqqy (wafat 326 H./938M.), salah seorang tokoh terrbesar di kalangan Sufi di Syam, dan termasuk teman seangkatan al-Junayd dan Ibnul Jalla’.
Ucapannya antara lain:
“Ma’rifat adalah keteapan Al-Haq sebagaimana adanya, terlepas dari segala hal yang berbau spekulatif.”
“Qudrat itu tampak, sedangkan banyak mata terbuka, hanya saja cahaya jiwa telah melemah.”
“Makhluk paling lemah adalah makhluk yang tidak mampu menolak hawa nafsunya. Sedangkan makhluk terkuat adalah makhluk yang paling mampu menolaknya.”
“Tanda-tanda mencintai Allah swt. adalah memprioritaskan ketaatan kepada-Nya dan mengikuti jejak Nabi saw.”
Ahmad Bin Atha’ar-Rudzbary
Abu Abdullah — Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary (wafat 369H./979M.), Syeikh Sufi di Syam saat itu. Meninggal di Shawar. Ia adalah anak dari saudara wanita Syeikh Abu Ali Muhammad ar-Rudzbary.
Ali Abu Sa’id Mashishy menceritakan: “Aku mendengar Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary berkata : “Aku sedang naik unta. Tiba-tiba kedua kakinya terpeerosok dalam pasir. Kontan aku berkata, “Jallallah” (Maha Agung Allah). Dan unta itu pun menirukan “Jallallah!.”.
Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary pernah berjalan emngikuti jejak para fakir. Dan memang demikian, kebiasaan sehari-harinya sering mengikuti jejak perjalanan mereka. Dan mereka enggan untuk meminta. Ada orang yang tiba-tiba berkata: “Mereka itu semua orang-orang bebas.” Dan orang itu berkata kepada mereka, dan di sela-sela ucapannya itu ia mengatakan pula: “Salah seorang di antara mereka ada yang berhutang seratus dirrham kepadaku, dan tidak mengembalikannya. Aku tidak tau harus ke mana mencarinya.”
Ketika mereka memasuki rumah yang biasa untuk dimintai, Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary berkata kepada si pemilik rumah. Dan pemilik rumah itu termasuk orang yang sangat mencintai para fakir Sufi. “Berilah aku seratus dirham bila engkau ingin hatiku tenang!.” Kata Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary.
Seketika itu pula seratus dirham diberikan. Abu Abdullah Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary berkata kepada para sahabatnya: “Bawalah seratus dirham ini kepada si Fulan tukang sayur, dan katakan kepadanya: “Ini uang seratus dirham yang dipinjam oleh salah satu teman kami dari Anda. Teman yang meminjam punya kerepotan sehingga baru dapat membayarnya saat ini.
Orang itu menerima permintaan maffnya. Lantas pergi berlalu. Ketika mereka sama-sama pulang, para fakir itu melewati kedai tukang sayur. Lalu tukang sayur itu memuji-muji para fakir itu, “Mereka itu adalah orang-orang yang teguh pendiriannya, orang-orang yang memiliki amanat dan kesalehan.” Kata si tukang sayur.”
Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary
Abu Ali – Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary (wafat 322 H./934 M.), penduduk asli Baghdad yang kemudian bermukim di Mesir hingga wafatnya. Berguru kepada al-Junayd, Dzun Nuun al-Mishry, an-Nury dan Ibnul Jalla’ serta generasi Sufi. Ia dikenal sebagai syeikh paling alim dalam tharikat.
Abu Ali pernah ditanya tentang oeng mendengarkan musik, dan orang itu berkata : “Bagiku itu halal, karena dengan musik itu aku sampai tahapan dimana tidak ada pengaruh sama sekali dalam hatiku adanya berbagai ragam situasi.” Lantas Abu Ali menjawab: “Benar ia telah sampai, tetapi sampai ke neraka Saqar.”
Ditanya soal tasawuf, Abu Ali menjawab: “Semua aliran dalam tasawuf ini serius. Karenanya jangan Anda campuri dengan sikap meremehkan!.”
Dikatakannya: “Salah satu tanda tipudaya, bila Anda berbuat buruk, lantas Anda menduga, Allah swt, menganggap baik perbuatan itu, Anda meninggalkan tobat dan inabat, dengan dugaan bahwa Allah swt, memberi toleransi atas ambisi anfsu Anda. Celakanya, Anda memandangnya sebagai bentuk kemurahan Allah swt. atas diri Anda,”
Katanya pula: “Guruku di bidang tasawuf adalah al-Junayd. Di bidang fiqih adalah Abu Abbas bin Syuraih. Di bidang sastra adalah Tsa’lab, sedang di bidang Hadits adalah Ibrahim al-Harby.”
Ibrahim Az-Zujjajy
Abu Amr – Muhammad bin Ibrahim az-Zujjajy an-Naisabury (wafat 348 H./959 M.), bertahun-tahun mukim di Mekkah al- Mukarramah hingga wafatnya. Berguru kepada al-Junayd, Abu Utsman, an Nury, al-Khawwas dan Ruwaym.
Ketika ditanya: “Apa yang terjadi ketika Anda kelihatan ragu-ragu pada saat takbir pertama dalam setiap shalt fardhu?” Abu Amr menjawab: “Sebab aku takut berbeda dengan kejujuran hati. Siapa yang mengucapkan : Allahu Akbar, sementara di hatinya masih ada sesuatu yang lebih besar dibanding Allah swt. atau membesarkan sesuatu selain Allah dalam beberapa waktu, maka orang itu telah membohongi diri sendiri atas nama ucapannya.”
Ia berkata: “Barangsiapa berbicara tenang kondisi ruhani, sementara dirinya belum pernah sampai ke sana, ucapannya adalah fitnah bagi orang yang belum pernah mendengarnya. Sekaligus menimbulkan pengakuan yang lahir dari hatinya. Allah swt. mengharamkannya untuk sampai pada kondisi ruhani tersebut. Padahal ia telah lama mukim di Mekkah beberapa tahun lamanya, sementara tidak pernah membersihkan diri dari keharaman. Bahkan ia keluar untuk mencari kehalalan, kemudian membersihkan diri, untuk menghargai keharaman.
Abu Bakr Az-Zaqqaq
Abu Bakr – Ahmad bin Nash az-Zaqqaq al-Kabir, termasuk teman seangkatan al-Junayd dan sekligus ulama besar Mesir.
Al-Kattany pernah berkata: “Ketika Abu Bakr az-zaqqaq wafat, argumentasi para fakir untuk memasuki Mesir terrputus.”
Di antara ucapannya: “Siapa yang tidak ditemani ketakwaan dalam kefakirannya, berarti telah memakan barang gharam sejati.”
“Selama lima belas hari aku tersesat di sebuah perkampungan Bani israil. Ketika kudapati sebuah jalan, ada seorang tentara menghampiri dan memberiku minum. Minuman itu hingga tigapuluh tahun mengganjal di hatiku.”
Sary As-Saqathy
Abul Hasan – Sary ibnul Mughallas as-Saqathy (wafat 253 H./867 M.), adalah Paman sekaligus guru al-Junayd, dan murid dari Ma’ruf al-Karkhy. Dia adalah tokoh besar Sufi di zamannya, terutama dalam kewara’an dan bidang Sunnah serta Ilmu Tauhid.
Al-Abbas bin Masruq berkata : “Ada kisah yang sampai kepadaku, bahwa Sary sedang berdagang di pasar. Ia adalah salah satu murid Ma’ruf al-karkhy. Suatu hari Ma’ruf mendatanginya bersama seorang bocah yang baru dapat berdiri. “Berilah pakaian anak yatim ini!.” Kata Ma’ruf. Lalu as-Sary menjawab : “Inilah pakaiannya.” Seketika Ma’ruf girang, dan berujar : “Semoga Allah menjadikanmu benci pada dunia, dan memberikan keringanan bebanmu di dunia.”
As.Sary berkisah : “Aku pun pergi meninggalkan kedai, dan tidak satu pun yang kubenci melebihi kebencianku terhadap dunia. Dan apa yang ada pada diriku saat di dunia ini, tidak lebih dari sekedar berkat dari Ma’ruf.”
Al-Junayd berkata : “Aku tidak pernah melihat orang paling bakti ibadatnya dibanding as.Sary. Sampai menginjak usia 98 tahun, ia tidak pernah tidur telentang, kecuali menjelang wafatnya.”
Riwayat dari as-Sary yang mengatakan : “Orang Sufi mempunyai tiga makna : Adalah, bila cahaya ma’rifatnya tidak meniup cahaya wara’nya. Tidak berbicara dengan batin pada ilmu yang merusak lahriah Kitab dan Sunnah. Dan kramah yang dimilikinya tidak untuk merobek tutup perkara yang dihormati Allah swt.”
Al-Junayd berkata : “Sary pernah ebrtanya tentang cinta kepadaku. Lalu kujawab : “Kamu Sufi mengatakan bahwa cinta adalah keserasian dengan Allah swt. Yang lain berkata, cinta adalah memprioritaskan sang kekasih, dan kaum sufi lainnya mengatakan begini dan begitu.” Lalu as-Sary mengupas kulit sikunya dan membeberkannya namun tidak dapat, lantas bicara : “Demi keagungan Allah swt. seandainya engkau bicara bahwa kulit ini akan kering di atas tulang karena cinta yang membara, engkau benar pula.” Setelah berkata demikian, as-Sary jatuh pingsan, tiba-tiba wajahnya berputar, seakan-akan rembulan yang bercahaya.
As-Sary berkata : “Sejak tigapuluh tahun aku selalu minta ampun kepada Allah swt. karena hanya sekali aku pernah berrucap : “Alhamduillah.” Lantas ditanya, mengapa demikian? Sary berkata : “Suatu hari terjadi kebakaran di Baghdad, lalu ada seorang lai-laki menghadapku dan berkata, “Kedaimu selamat!.” Spontan ku ucapkan, Alhamdulillah. Maka sejak saat itu hingga tiga puluh tahun aku merasa menyesal atas apa yang kuucapkan itu, sebab aku lebih memetingkan diri sendiri ketimbang keselamatan kedai kaum Muslimin.”
Riwayat dari as-Sary, bahwa ia berkata : “Aku selalu melihat hidungku begini dan begitu sekali sehari. Khawatir karena hidungku menghitam. Dan juga takut bila saja Allah swt. membuat wajahku hitam karena perbuatanku.”
Al-Junayd mengatakan : “Kudengar as-Sary berkata : “Kenalilah jalan pintas menuju surga. “Aku bertanya : “Jalan apa itu?” as-Sary menjawab : “Jangan bertanya kepada siapa pun, dan jangan emngambil dari seorang mana pun. Dan jangan pula Anda memberikan sesuatu yang ada pada diri Anda kepada siapa pun!.”
Al-Junayd berkisah : “Aku memasuki rumah as-Sary as-Saqathy, dalam keadaan dirinya menangis tersedu. Aku bertanya, mengapa ia menangis? As-Sary menjawab : “Semalam ada sorang bocah wanita, yang berkata : “Duhai ayahku, malam ini begitu gerah, dan guci itu ku gantung di sana.” Tiba-tiba mataku dilanda kantuk hingga tertidur. Aku bermimpi melihat seorang gadis yang begitu cantik turun dari langit, lalu kutanya : “Untuk siapakah Anda ini? Gadis itu menjawab : “Bagi orang yang tidak minum air yang didinginkan di sebuah guci.” Seketika aku mengambil guci, lalu kuremukan dan kubuang ke tanah.”
Al-Junayd meneruskan ceritanya : “Aku melihat pecahan-pecahan guci itu tidak hilang, sampai terpendam oleh hamburan tanah dengan sendirinya.”
As-Sary berkata : “Aku ingin mati di negeri selian Baghdad.” Ditanyakan kepadanya, mengapa demikian? “Aku takut kuburku tidak mau menerima diriku, sehingga aku terhina.”
Abul Abbas As-Sayyary
Abul Abbas – al-Qasim ibnul Qasim as-Sayyary (wafat 342 H./953M.), berasal dari Merw. Ia menjadi murid Wasithy, dan dinisbatkan kepadanya dalam kaitan ilmu kaum Sufi ini. Ia terkenal sangat alim.
Ketika ditanya, dengancara apa seorang murid dapat melatih dirinya? “Dengan sabar dalam menjalankan perintah-perintah, menghindari larangan, dan bergaul dengan orang-orang saleh, serta khidmat kepada kaum fakir miskin,” Jawabnya.
Di antara ucapannya : “Orang yang pandai tiak akan dapt menikmati musyahadah kepada Allah Yang Maha Haq saja, sebab musyahadah kepada Al-Haq melahirkan fana’, yang di dalamnya tidak dapat menikmati Keindahan-Nya.”
Dulaf Asy-Syibly
Abu Bakr – Dulaf bin Jahdar asy-Syibly (247 – 334 H./861-964 M.), berasal dari Baghdad, lahir dan besar di kota itu. Asal-usulnya justru dari daerah Asrysyariah. Ia berguru kepada al-Junayd dan tokoh pada zamannya dari kalngan ulama. Pada saat itu, asy-Syibly adalah syeikh besar di amsanya, yang meiliki budi ruhani, perilaku dan ilmu pengetahuan. Bermazhab maliky. Ia dimakamkan di Baghdad.
Pada akhir hayatnya ia bersyair:
Di mana pun tempat, bila aku mati di sana
Aku pasti jadi monumen bagi penduduknya
Ketika as-Syibly bertobat di majelis pengajian Khayr an-Nassaj, ia datang ke Damawand dan berkata: “Aku adalah penguasa negerimu, berikan aku jalan!” Ketika itu Mujahadah as-Syibly pada awal mulanya telah melampaui batas. Saya mendengar dari syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengisahkan, “Sampai kepdaku bahwa as-Syibly membuat celak di matanya begini dan begitu dengan garam, agar tebiasa terjaga malam, sehingga kantuk tidak pernah melandanya.”
Bila Bulan Ramadhan al-Mubarak tiba, as-Syibly benar-benar menekuni ibadatnya melebihi saat-saat lain, dan berkata: “Inilah bulan pertama yang mengagungkannya.”
Bundar Asy-Syirazy
Abul Husain – Bundar ibnul Husain asy-syirazy (wafat 353 H./964 M.), seorang alim di bidang Ushul. Berbudi Agung, dan berguru kepada asy-Syibly. Meniggal di Arjan. (Kota besar di Persia, daratan yang dikelilingi laut dan penuh pegunungan. Orang-orang non Arab menyebutnya Arghan. Padda abad pertengahan kota ini kaya akan indutri, terrletak di antara Syiria dan Irak).
Di antara ucapan-ucapannya:
“Bergaul dengan ahli bid’ah melahirkan sikap kontra terhadap kebenaran.”
“Tinggalkan apa yang menjadi kecenderunganmu, karena angan-anganmu.”
