Segala puji bagi Allah yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Allah pantang berlaku zalim terhadap makhluknya. Allah pun telah melarang kita berlaku zalim terhadap sesama. Semoga shalawat dan salam selalu ditambahkan untuk nabi Muhammad saw yang telah menuntun umatnya keluar dari lingkaran kezaliman menuju cahaya keadilan.
Kalau kita ditanya: Apakah ada yang mau dizalimi? Adakah yang mau dianiaya? Tentu jawaban yang kita berikan adalah “Tidak”. Benar, kita tidak mau dizalimi dan tidak mau dianiaya.
Hal penting berikutnya yang perlu sama-sama kita sadari adalah, bahwa orang lain juga sama, tidak mau dizalimi pula. Oleh sebab itu, kita dituntut berlaku adil. Adil terhdap diri sendiri dan adil terhadap orang lain. فَلا تَظَالَمُوا, jangan saling menzalimi.
Kebanyakan orang mengira bahwa kezaliman itu hanya merugikan orang yang dizhalim. Benarkah demikian? Ketahuilah…! bahwa bahaya yang diderita oleh pelaku kezaliman itu jauh lebih besar dan lebih mengerikan dibanding bayaha yang menimpa orang yang dizalimi. Diantara bahaya itu adalah:
Pertama: Kezhaliman Menjadi Kegelapan
Rasulullah saw bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ ؛ فَإنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Takutlah kalian berbuat zalim, karena kezaliman itu menjadi kegelapan demi kegelapan di hari kiamat” (Hr. Muslim).
Tidak didapatinya cahaya adalah kegelapan. Walaupun kegelapan bukan hanya itu. Kesedihan dan kesusahan adalah kegelapan. Siksaan demi siksaan adalah kegelapan. Dan itu semua akan ditimpakan kepada orang yang berlaku zalim. Jadi, kezaliman adalah sumber kesusahan di hari kiamat. Kezhaliman itu bikin susah diri sendiri, susah di dunia dan terlebih lagi nanti susah di akhirat.
Kedua: Kezhaliman itu menjadi sebab kebangkrutan
Rasulullah saw pernah pertanya kepada para sahabat
أتدرونَ مَنِ المُفْلِسُ ؟
“Tahukan kalian siapa itu orang yang bangkrut?”
Mereka menjawab:
المفْلسُ فِينَا مَنْ لا دِرهَمَ لَهُ ولا مَتَاع
“Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak lagi memiliki uang dan barang”.
Beliau lalu menerangkan:
إنَّ المُفْلسَ مِنْ أُمَّتي مَنْ يأتي يَومَ القيامَةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزَكاةٍ ، ويأتي وقَدْ شَتَمَ هَذَا ، وقَذَفَ هَذَا ، وَأَكَلَ مالَ هَذَا ، وسَفَكَ دَمَ هَذَا ، وَضَرَبَ هَذَا ، فيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ ، وهَذَا مِنْ حَسناتهِ ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُه قَبْل أنْ يُقضى مَا عَلَيهِ ، أُخِذَ منْ خَطَاياهُم فَطُرِحَتْ عَلَيهِ ، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ
“Sesungguhnya orang yang bangkrut diantara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal shalat, puasa dan zakat. Disamping itu, ia juga membawa dosa mencaci maki, menuduh, mengambil harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka tiap-tiap orang yang dizaliminya dibayar dengan amal baiknya. Kalau habis amal baiknya, sedangkan tanggungannya belum terbayar, maka diambil sebagian dari dosa-dos mereka lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam api neraka” (Hr. Muslim)
Bangkrut di dunia, masih bisa mencari gantinya. Bangkrut di dunia, masih ada sanak famili dan handai tolan yang memberikan pertolongan. Adapun bangkrut di hari akhirat, maka tidak ada yang gantinya dan tida ada orang yang bisa menolong. Tentu kita tidak ingin mengalami hal yang demikian. Dan itu semua disebabkan oleh kezaliman terhadap sesama.
Bahaya yang Ketiga: Mengambil hak orang lain itu sama dengan mengambil sepotong api neraka
Tentu tidak ada orang yang rela mengambil api untuk membakar dirinya sendiri. Yang patut dibayangkan oleh orang yang ingin mengambil hak orang lain adalah bahwa ia akan mengumpulkan bara api untuk membakar dirinya di neraka.
Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda:
إنَّمَا أنا بَشَرٌ ، وَإنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إلَيَّ ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أنْ يَكُونَ ألْحَنَ بِحُجّتِهِ مِنْ بَعْضٍ ، فأَقْضِيَ لَهُ بِنَحْوِ مَا أسْمعُ ، فَمَنْ قَضَيتُ لَهُ بِحَقِّ أخِيهِ فَإِنَّما أقطَعُ لَهُ قِطعةً مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya aku ini manusia seperti kalian. Dan sesungguhnya kalian mengadukan sengketa kepada saya. Boleh jadi sebagian dari kalian lebih menguasai argumrntasinya dari pada yang lain sehingga aku menangkan perkaranya. Maka dari itu, barang siapa yang aku menangkan perkaranya sehingga ia mengambil hak saudaranya, maka sesungguhnya aku potongkan sekeping api neraka untuknya”. (Hr. Bukhari dan Muslim)
Bahaya yang Keempat: Doa Orang terzhalimi tidak akan tertolak
Segala puji bagi Allah yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Allah pantang berlaku zalim terhadap makhluknya. Allah pun telah melarang kita berlaku zalim terhadap sesama. Semoga shalawat dan salam selalu ditambahkan untuk nabi Muhammad saw yang telah menuntun umatnya keluar dari lingkaran kezaliman menuju cahaya keadilan.
Kalau kita ditanya: Apakah ada yang mau dizalimi? Adakah yang mau dianiaya? Tentu jawaban yang kita berikan adalah “Tidak”. Benar, kita tidak mau dizalimi dan tidak mau dianiaya.
Hal penting berikutnya yang perlu sama-sama kita sadari adalah, bahwa orang lain juga sama, tidak mau dizalimi pula. Oleh sebab itu, kita dituntut berlaku adil. Adil terhdap diri sendiri dan adil terhadap orang lain. فَلا تَظَالَمُوا, jangan saling menzalimi.
Kebanyakan orang mengira bahwa kezaliman itu hanya merugikan orang yang dizhalim. Benarkah demikian? Ketahuilah…! bahwa bahaya yang diderita oleh pelaku kezaliman itu jauh lebih besar dan lebih mengerikan dibanding bayaha yang menimpa orang yang dizalimi. Diantara bahaya itu adalah:
Pertama: Kezhaliman Menjadi Kegelapan
Rasulullah saw bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ ؛ فَإنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Takutlah kalian berbuat zalim, karena kezaliman itu menjadi kegelapan demi kegelapan di hari kiamat” (Hr. Muslim).
Tidak didapatinya cahaya adalah kegelapan. Walaupun kegelapan bukan hanya itu. Kesedihan dan kesusahan adalah kegelapan. Siksaan demi siksaan adalah kegelapan. Dan itu semua akan ditimpakan kepada orang yang berlaku zalim. Jadi, kezaliman adalah sumber kesusahan di hari kiamat. Kezhaliman itu bikin susah diri sendiri, susah di dunia dan terlebih lagi nanti susah di akhirat.
Kedua: Kezhaliman itu menjadi sebab kebangkrutan
Rasulullah saw pernah pertanya kepada para sahabat
أتدرونَ مَنِ المُفْلِسُ ؟
“Tahukan kalian siapa itu orang yang bangkrut?”
Mereka menjawab:
المفْلسُ فِينَا مَنْ لا دِرهَمَ لَهُ ولا مَتَاع
“Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak lagi memiliki uang dan barang”.
Beliau lalu menerangkan:
إنَّ المُفْلسَ مِنْ أُمَّتي مَنْ يأتي يَومَ القيامَةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزَكاةٍ ، ويأتي وقَدْ شَتَمَ هَذَا ، وقَذَفَ هَذَا ، وَأَكَلَ مالَ هَذَا ، وسَفَكَ دَمَ هَذَا ، وَضَرَبَ هَذَا ، فيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ ، وهَذَا مِنْ حَسناتهِ ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُه قَبْل أنْ يُقضى مَا عَلَيهِ ، أُخِذَ منْ خَطَاياهُم فَطُرِحَتْ عَلَيهِ ، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ
“Sesungguhnya orang yang bangkrut diantara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal shalat, puasa dan zakat. Disamping itu, ia juga membawa dosa mencaci maki, menuduh, mengambil harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka tiap-tiap orang yang dizaliminya dibayar dengan amal baiknya. Kalau habis amal baiknya, sedangkan tanggungannya belum terbayar, maka diambil sebagian dari dosa-dos mereka lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam api neraka” (Hr. Muslim)
Bangkrut di dunia, masih bisa mencari gantinya. Bangkrut di dunia, masih ada sanak famili dan handai tolan yang memberikan pertolongan. Adapun bangkrut di hari akhirat, maka tidak ada yang gantinya dan tida ada orang yang bisa menolong. Tentu kita tidak ingin mengalami hal yang demikian. Dan itu semua disebabkan oleh kezaliman terhadap sesama.
Bahaya yang Ketiga: Mengambil hak orang lain itu sama dengan mengambil sepotong api neraka
Tentu tidak ada orang yang rela mengambil api untuk membakar dirinya sendiri. Yang patut dibayangkan oleh orang yang ingin mengambil hak orang lain adalah bahwa ia akan mengumpulkan bara api untuk membakar dirinya di neraka.
Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda:
إنَّمَا أنا بَشَرٌ ، وَإنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إلَيَّ ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أنْ يَكُونَ ألْحَنَ بِحُجّتِهِ مِنْ بَعْضٍ ، فأَقْضِيَ لَهُ بِنَحْوِ مَا أسْمعُ ، فَمَنْ قَضَيتُ لَهُ بِحَقِّ أخِيهِ فَإِنَّما أقطَعُ لَهُ قِطعةً مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya aku ini manusia seperti kalian. Dan sesungguhnya kalian mengadukan sengketa kepada saya. Boleh jadi sebagian dari kalian lebih menguasai argumrntasinya dari pada yang lain sehingga aku menangkan perkaranya. Maka dari itu, barang siapa yang aku menangkan perkaranya sehingga ia mengambil hak saudaranya, maka sesungguhnya aku potongkan sekeping api neraka untuknya”. (Hr. Bukhari dan Muslim)
