Washoya#19

Pelajaran 19

KEUTAMAAN IKHLAS DENGAN NIAT LILLAHI TA’ALA DALAM SETIAP AMAL

Wahai anakku, dalam hadis Nabi diterangkan bahwa: “sesungguhnya setiap amal itu tergantung kepada niatnya. Dan seseoreorang akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan yang lain dari Umar bin Khathab ra., dari Nabi saw.)
Sesungguhnya orang yang menghindari makan dan minum dari pagi hingga sore dengan niat shaum, sama saja dengan lapar dan hausnya orang yang tidak makan dan minum dari pagi hingga sore. Tetapi orang yang pertama, di sertai dengan niat shaum, maka ia akan mendapat pahala di sisi Allah dengan pahala orang shaum disertai niat. Karena itu ikhlaskanlah dirimu dengan niat untuk mengabdikan diri kepada Rabbmu dalam segala amal.
Wahai anakku, belajarlah Dien Islam dengan niat menghindarkan diri dari larangan Allah, untuk mengetahui hukum-hukum Allah, mana yang dihalalkan dan diharamkan. Allah memerintahkan kamu untuk mengamalkan yang halal dan menjauhkan yang haram.
Belajarlah tentang ilmu tata bahasa Arab, agar engkau mudah memahami hukum-hukum dan nasihat-nasihat yang telah Allah sampaikan pada kitab-Nya yang  mulia Al-Quran. Dan Allah menerangkan hukum-hukum tersebut melalui lisan seorang Rasul-Nya dengan riwayat yang shahih, dapat di percaya sebagai pedoman hidup. Pelajari pola ilmu logika (ilmu yang dapat diterima akal), agar kita kuwat dan tetap dalam mengajukanhujjah (argumentasi) dan juga agar engkau dapat memberikan penjelasan yang semaksimal mungkin dalam menyebarluaskan ajaran islam serta mengajak umat manusia ke jalan yang diridlai Allah.
Wahai anakku, jadikan setiap langkah perbuatanmu bagian dari pengabdian kepada Rabbmu yang telah menciptakan dan menyempurnakan dirimu dalam bentuk lahir dan batin. Jangan sekali-kali engkau berharap untuk mendapat balasan dari selain Rabbmu.
Tingalkanlah segala keburukan, sebab Allah swt. Telah memerintahkanmu untuk menjauhinya serta lakukanlah segala kebaikan karena Allah telah memerintahkanmu untuk melakukannya.
Pegang baik-baik adab terhadap teman, karena sesungguhnya ini  merupakan perintah Allah dan sesungguhnya dirimu hanyalah sekedar mahluk yang Allah patut memberi sangsi apabila meninggalkan perintahnya-Nya.
Jangan berlebihan dalam melanggar hak-hak sesama manusia, karena Allah melarangmu untuk bermusuh-musuhan, lebih-lebih dalam hak sesama manusia, apabila hakim yang adil telah memutuskan, maka wajib untuk mengembalikan hak  itu  kepada yg memilikinya.
Janganlah engkau berkhianat kepada salah seorang makhluk Allah, sebab Allah telah melarangnya. Dan janganlah engkau hanya merasa takut kepada sesama makhluk sehingga menyebabkan dirimu berkhianat.
Tunduk patuhlah kepada ayah dan ibumu, sebab Allah telah mewajibkan atas dirimu  untuk ta’at dan patuh kepada orang tua selagi mereka tidak memerintahkanmu kepada kemaksiatan. Lakukanlah dengan keikhlasan, jangan hanya karena takut tidak diberi makan dan minum oleh orang tuamu.
Patuhilah kepada pemegang hukum dan pemimpin-pemimpinmu, sesama mukmin sebab Allah swt. telah memerintahkan demikian kepadamu. Lakukanlah semua ini dengan keikhlasan hati Lillahi Ta’ala, bukan karena mencari kehormatan dalam pandangan atasmu dan bukan karena takut  mendapat penilaian buruk atau takut diancam.
Kasih sayangilah orang-orang yang lemah, yang menderita sakit, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, sebab Allah telah  memerintahkan untuk berbuat demikian kepadamu, jangan sekali-kali engkau mencari pujian dari sesama manusia (riya’) agar dirimu termasuk golongan orang yang selalu berbuat baik. Tetapi lakukan semua itu dengan keikhlasan hati.
Janganlah mencari atau  menantang musuh-musuhmu, sebab Allah melarang yang demikian kepadamu, jangan sekali-kali engkau merasa bangga dalam membalas orang yang telah menyakitimu, sekalipun engkau kuasa melakukannya.
Bersungguh-sungguhlah, agar segala amal perbuatanmu itu semata-mata ditunjukan untuk mengabdikan diri kepada Rabbmu dengan penuh keikhlasan dalam segala amal yang ditunjukan demi Dienul Islam, jamaah dan generasi penerusmu kelak. Dengan agar mereka selalu mendapat keridlaan dan pahala disisi Allah, bukan semata-mata mencari popularitas dan keuntungan duniawi. Mudah-mudahan Allah selalu mencurahkan petunjuk dan pertolongan kepadamu sehingga mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat …… Amin.

Washoya#18

Pelajaran 18

KEUTAMAAN  BERAMALA DAN MENCARI REZEKI YANG DISERTAI TAWAKAL SERTA ZUHUD

Wahai anakku, tuntutlah ilmu sebanyak mungkin, agar engkau dapat mengamalkan dan memberi manfaat untuk dirimu, serta dapat mengajar, menunjukkan dan mengajak umat manusia dalam mengamalkan ilmu tersebut. Belajarlah engkau agar dapat memperdalam ilmumu dengan jalan mengambil pelajaran dari hidup dan kehidupanmu serta mendapatkan jalan keluar dalam menempuh kehidupan duniawi dan ukhrawi. Janganlah engkau menpelajari suatu ilmu tetapi ilmu itu akan mencelakai dirimu dan jangan sampai ilmu tersebut menjadi pengikat atau pencegah gerak langkahmu dalam berpijak, ini karena piciknya pikiranmu dalam mengartikan ilmu yang akhirnya ilmu yang engkau miliki dapat menjadi jurang pemisah antara kehidupan dan hati nuranimu.
Wahai anakku, orang yang ’alim patut menjadi uswah (teladan) bagi umat manusia dalam bekerja (mencari harta), karena dia lebih mengerti cara mencari dan menafkahkan hartanya kejalan yang halal. Dan  juga memiliki nur ilmu yang akan memberi petunjuk kepada kita dikala jual beli, utang piutang, bercocok tanam, berdagang dan menginfakkan hartanya.
Wahai anakku, bukan perbuatan hina apabila seorang pelajar bercocok tanam atau membantu orang tuanya bercocok tanam. Sesungguhnya perbuatan hina itu ialah: apabila hanya mengejar-ngejar infak dan sedekah serta menggantungkan diri kepada belas kasihan orang lain atau hanya selalu menantikan sisa makanan dari orang lain.
Wahai anakku, sesungguhnya Rasullallah saw. pernah menggembalakan kambing sebelum diutus menjadi nabi, kemudian beliau berdagang sampai beliau diutus menjadi Nabi dan beliau tidak pernah meninggalkan usaha untuk hidup serta kehidupannya, yang akhirnya rezki beliau datang dari hasil ghonimah (rampasan perang) sebagaimana Imam Ahmad, Bukhari dan lainya meriwayatkan hadist dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw. beliau telah bersabda: “Allah tidak mengutus seseorang Nabi, kecuali dengan mengembalakan kambing terlebih dahulu.” para sahabat mengajukan pertanyaan “apakah engkau juga demikian wahai Rasullallah? “Ya, aku mengembala kambing di ladang sebelah sana, milik penduduk makkah.” Berdagangpun telah di lakukan dalam kehidupan Rasullallah saw. Adapun hadist-hadist shahih yang menerangkan bahwa sesungguhnya Nabi saw. Bekerja sama dengan Khatijah untuk berdagang sebelum beliau di utus menjadi Nabi. Imam Ahmad meriwayatkan hadist dari Ibnu Umar, dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Aku di utus dengan mengangkat pedang (berperang) di zaman akhir, sampai Allah saja yang diabadi, tidak ada yang menjadi sekutu bagi-Nya. Dan rezkiku datang dari bawah anak tombak”.
Abu Bakar Ash-Shiddiq, juga seorang saudagar dari saudagar yang besar dan pekerjaan inipun berhenti setelah menjadi khalifah pertama. Demikian juga para shahabat Nabi yang lain dan para tabi’in serta para “Salafus Shalih”, selalu bekerja untuk mencukupi kebutuhannya. Dien yang mereka miliki tidaklah mencegah dirinya dari pergaulan dengan umat manusia dalam usaha mencari rezeki yang halal, tetapi mereka bahkan menjadi teladan didalam cara bekerja.
Wahai anakku, sesungguhnya engkau akan mengetahui banyak ilmu syara’ dalam ajaran islam, baik itu masalah jual beli, gadai, sewa menyewa, berdagang, bercocok tanam dan sebagainya. Karena itu beramallah sesuai dengan ilmu yang telah engkau miliki dan ajarkan umat manusia, sehinga  Allah swt. akan melipatgandakan pahalamu dalam beramal dan menyebar luaskan ilmu.
Wahai anakku, janganlah engkau berpendapat seperti orang-orang yang bodoh yang mengatakan bahwa tawakal (berserah diri kepada allah) ialah dengan meninggalkan usaha (bekerja) dan berserah begitu saja kepada takdir (ketentuan Allah). Sesungguhnya seorang petani yang bercocok tanam di sawah pada waktu siang dan malam merupakan contoh petani yang bertawakal kepada Allah, asalkan niatnya baik dan benar. Petani itu menerbahkan benih di sawah ladangnya, memelihara dengan baik dan setelah itu berhasil atau tidaknya dalam bertani diserahkan sepenuhnya kepada Rabbnya, kalau kiranya Allah menghendaki tentu akan tumbuh semi yang baik sehingga sehingga membawa hasil tujuh ratus kali lipat dari benih aslinya dan apabila Allah menghendaki tidak tumbuh, maka sama sekali tidak akan membawa hasil. itulah sebaik-baik tawakal yang tidak sertai kesedihan dan kebencian apabila tidak berhasil seperti yang kita harapkan.
Wahai anakku, zuhud (tidak terikat pada dunia) bukan berarti meninggalkan usaha (bekerja), tetapi zuhud ialah menghindarkan diri dari harta keduniawian di dalam diri. Apabila engkau bekerja sesuai hajat kebutuhan hidupmu dan memberi peretlongan kepada orang-orang yang lemah, serta bersedekah kepada orang-orang fakir dan engkau tidak berkeinginan untuk memupuk harta kekayaan kecuali dengan jalan yang dibenarkan oleh Allah, digunakan untuk beribadah keada-Nya. “Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiamna Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)

Washoya#17

Pelajaran 17

KEUTAMAAN TOBAT, ROJA, KHAUF, SABAR DENGAN BERSYUKUR

Wahai anakku, hindarkanlah diri dari dosa dan kesalahan, terkecuali para Nabi ‘Alaihimush Shalaatu Wassalaam, mereka semua ma’shum (terjaga). Jika dirimu terpaksa melakukanya beristighfarlah kepada Allah swt., sesugguhnya Rabbmu maha pengampun bagi hamba-hamba-Nya.
Wahai annaku, sesugguhnya bertobat dari dosa yang kau lakukan tidak cukup dengan kata-kata lisan saja, tatapi tobat yang sebenarnya ialah: pengakuan samua dosa yang telah engkau lakukan di hadapan rabbamu dengan kesadaran bahwamu sesungguhnya engkau telah berdosa dan wajib menerima siksa sebagaimana yang ditentukan Allah swt. Dalam bartobat hendaklah engkau beristighfar dengan perasaan sedih dan menyesal atas perbutan-perbutan yang engkau lakukan. Dan berjanji kepada Allah untuk tidak melakukanya lagi selamanya. Kemudian berserah diri dan berharaplah kepada Allah untuk mendapatkan ampunan dosa yang telah engkau lakukan. Apabila Allah menghendaki tentu akan menghendaki tentu akan mengapunimu, tapi mungkin pula Allah akan menyiksamu.
Wahai anaku, ini semua adalah cara tobat dan istighfar yang sebenarnya (taubatan nasuha). Bukan hanya cukup dengan ucapan: “aku bertobat kepada Allah”, tapi dirimu masih selalu melakukan maksiat. Hal ini merupakan perbuatan dosa lain yang wajib pula mendapatkan siksa Allah swt.
Wahai anakku, ambillah pelajaran dari dirimu sendiri, jika orang tua dan gurumu menyuruhmu untuk belajar dengan tekun tetapi engkau mengabaikannya dan ketika orang tua serta guramu hendak memberimu hukuman, engkau berkata: “aku bertaubat”, apakah tobatmu dapat diterima oleh orang tua dan gurumu, sedangkan engkau masih juga malas belajar?  Apakah ini bukan  merupakan tobat yang pantas untuk mendapatkan sangsi dua kali lipat?
Wahai anakku, jadikanlah takut kepada siksa Allah, sebagai dinding pemisah antara dirmu  dengan perbuatan dosa. Barangsiapa yang sangat takut kepada siksa Allah, maka sedikit kali kemungkinan dia melakukan pelanggaan terhadap ketentuan-ketentuan Allah, karena dia yakin bahwa segala perbuatan tentu akan dilihat dan dibalas Allah swt.
Wahai anakku, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah apabila enkau terlanjur melakukan dosa. Berseralah dan dekatlah dirimu kepada Allah dikala kau sendri atau berada dikeramaian,  mintalah ampun dan maghfirah kepada-Nya, Rabbmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Wahai annaku, kalau dirimu ditimpa musibah, baik menimpa dirimu, hartamu ataupun sesuatu yang engkau anggap berharga maka bersabarlah. Mintalah pahala disisi Allah dengan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapinya. Terimalah dengan ridla Qadla’ dan Qadar-Nya. Bersyukurlah kepada Rabbamu atas kelembutan dan kebaikan yang Alllah telah curahkan kepadamu, agar musibah yang menimpa dirimu tidak dapat digandakan. Mohonlah kehalusan Qadla’ dan Qodar-Nya serta ucapanlah: “ya Allah, sesugguhnyya aku tidak bermohon kepada-Mu akan tertolaknya Qadlo’,  tetapi aku mohon kepadamu akan kasih saying-Mu dalam menghadapi musibah.”
Wahai anakku, apabila engkau kehilangan sesuatu barang, tentu jalan keluanya engkau akan menggunakan barang lain yang ada, sekalipun barang tersebut engkau anggap lebih rendah nlainya dari yang hilang. Tidaklah musibah itu engkau rasakan sangat berat, kecuali di akherat nanti akan lebih berat dari apa yang kau hadapi sekarang. Karena itu janganlah engkau mengkufuri musibah yang menimpa dirimu menjadi penghalang untuk beribadah kepada Rabbmu, sesungguhnya Rabbmu adalah Dzat Yang Maha Bekehendak, tidak ada satupun mahukpun yang bisa menoak takdir-Nya dan Allah Maha Bijaksana lagi Maha Waspada.

Washoya#16

Pelajaran 16

GHIBAH, NAMIMAH, HIQD, HASAD DAN TAKABUR

Wahai anaku, sebagian dari akhlak tercela dan hina ialah ghibah (engkau mambicarakan kejelekan temanmu di saat dia tidak ada). Apabila dia mengetahuinya tentu akan merasa tidak senang .
Wahai  anakku, pada setiap orang pasti  mempunyai  kekurangan, karena  itu jauhilah  olehmu  membicarakan  kejelekan  orang  lain. Wahai anakku, jauhilah ghibah, jauhi  perbuatan-perbuatan  yang  sejenis. Perbuatan yang serupa dengan ghibah adalah namimah (mengadu domba), janganlah engkau berbuat kerusakan dikalangan umat manusia janganlah engkau mengatakan kepada seseorang si Anu telah mengumpatmu, si Anu menuduhmu berbuat anu dan lain sebagainya.
Wahai  anakku, ghibah dan namimah adalah sebagian dari akhlaq yang rendah dan tercela, bukan akhlaq kaum pelajar, juga bukan akhlaq pelajar yang mempelajari Dienul Islam. Karena itu janganlah engkau mengotori diri dengan akhlaq yang rendah dan hina itu. Dalam Al Quran ditegaskan: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan  orang  lain  dan  janganlah  sebagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu marasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujaraat: 12)
Wahai anakku, janganlah engkau hasad (dengki) kepada temanmu yang mendapat keni’matan dari  Allah, karena dirimu tidak mendapatkan-Nya. Mungkin pada suatu saat Allah akan  memberimu ni’mat seperti apa yang diperoleh temanmu.
Wahai anakku, hasad itu sama sekali tidak ada manfaatnya, bahkan menimbulkan permusuhan dan dendam. Sesungguhnya apabila engkau dengki kepada salah seorang teman, maka temanmu akan marah dan membencimu, setiap orang yang mengetahuinyapun akan memberi penilaian bahwa dirimu berakhlaq rendah dan tercela.
Wahai anakku, karena itu tinggalkanlah sifat ghibah, naminah dan hasad. Tinggalkan pula sifat hiqd (benci) kepada teman dan kepada sekalian umat manusia janganlah engkau menyimpan  perasaan jelek kepada seseorang. Apabila ada seseorang berbuat salah kepadamu, kemudian memohon maaf, maka maafkanlah dengan penuh keikhlasan dan kejujuran, buang jauh-jauh perasaan untuk membalas dendam.
Wahai anakku, jadilah engkau seorang yang berhati suci, bersih dari sifat hasad, hiqd dan lainya, karena orang akan merasa bahagia dan cinta kepadamu.
Wahai anakku, hiqd dan hasad itu adalah akhlaq yang buruk, yang tidak akan memberi mudlarat kecelakaan kecuali kepada orang yang memiliki sifat itu. Hasad tidak akan dapat memindahkan keni’matan yang dimiliki seseorang kepada dirimu. Bila dirimu menjadi orang yang pendengki  pembenci, maka hatimu akan selalu panas, sakit hati sepanjang siang dan malam. Dirimu tidak akan tenang selama sifat hasad dan hiqd masih tertanam dalam hatimu.
Wahai anakku, apabila Allah memberi ni’mat karunia kepadamu, bersyukurlah, jangan engkau takabbur (sombong) terhadap sesama makhluk. Sesungguhnya Allah Dzat yang memberimu ni’mat dan Dia kuasa untuk mencabut kembali. Sesungguhnya Allah yang mencegah tidak memberikan ni’mat kepada selainmu itu kuasa untuk memberinya berlipat ganda dari apa yang telah diberikan kepadamu. Karena itu janmganlah engkau membuat murka Allah dengan takabbur kepada makhluk-Nya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang takabbur.
Wahai anakku, janganlah dirimu terbuai oleh apa yang telah Allah berikan kepadamu, sehingga engkau lupa beribadah kepada-Nya, sesungguhnya dirimu adalah sebagian dari makhluk-makhluk-Nya yang wajib bersyukur dan beribadah kepada-Nya. Engkau mempunyai kedudukan yang sama dengan umat manusia lain, dan engkau akan mendapat kedudukan yang lebih tinggi bila engkau bertaqwa. dalam Al-Qur’an ditegaskan: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu kamu saling kenal mengenal. Sesunggnhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.Al-Hujaraat: 13)

Washoya#15

Pelajaran 15

KEUTAMAAN MURUAH (KURANG MENJAGA KEHORMATAN DIRI), SYAHAMAH (MENCEGAH HAWA NAFSU) DAN ‘IZZATIN NAFSI (KEMULIAAN DIRI)

Wahai anakku, tidak ada kebaikan bagi orang yang sedikit muruahnya (kurang menjaga kehormatan diri), membuat dirinya hina dalam pandangan umat dan teman pergaulan. Apabila seseorang dihina dan dicela, dia akan merasa rendah diri serta kehilangan kemulian dirinya.
Wahai anakku, kepribadian orang-orang seperti itu bukanlah watak dan kepribadian orang-orang yang mempelajari Dien, dan tidak patut dimiliki oleh orang-orang yang memegang teguh ajaran syariat Islam.
Wahai anakku, jaga dan peliharalah sifat muruahmu, janganlah engkau dudukkan dirimu bukan pada tempatnya. Peliharalah dan jaga dirimu dari pergaulan dengan orang-orang yang rendah akhlaqnya dan tercela. Angkatlah kehormatan dirimu dari sifat-sifat kehinaan, janganlah engkau menjadi budak perutmu (hidup untuk makan ibarat binatang) dan janganlah engkau menjadi budak hawa nafsu syahwatmu dengan memperturutkan apa yang dikehendaki.
Wahai anakku, fakir (kekurangan) dalam masalah harta tidaklah menjadi tercela bagi umat manusia. Seseorang akan tercela apabila tidak memiliki sifat muruah, bukan karena sedikit hartanya. Seseorang akan mendapat pujian jika memiliki sifat muruah dan baik dalam bergaul dengan keluarga dan temanya, jadi bukan karena banyak harta.
Sebagaian dari sifat wara’ (orang yang dalam ilmunya) ialah menjaga wajahmu dari kehinaan memimta-minta, ridla untuk hidup sederhana apa adanya, makan hanya sekedar untuk penguat badan saja, sebagaimana diterangkan dalam hadits syarif, dari Nabi saw.: “Tidaklah anak adam (umat manusia) memenuhi suatu wadah yang lebih jelek dari pada perutnya. Hanya sekedar kebutuhan untuk mempertahankan kekuatan tubuhnya saja dia makan. Apabila merasa harus makan banyak, maka hendaklah dibagi isi perutnya, yaitu: sepertiga untuk menyimpan makanannya, sepertiga untuk menyimpan minumnya, dan sepertiga lagi untuk pernafasanya.” (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim dari Miqdad bin Ma’dikariba)
Janganlah engkau memancing seorang untuk mengungkapkan sesuatu yang telah diberikan kepadamu baik berupa barang ataupun yang lainnya, itu merupakan kesenangan sementara saja.
Sebagian lagi dari cara menjaga kehormatan diri ialah engkau selalu melihat dengan penuh kasih sayang kepada fakir miskin dan orang-orang yang sangat membutuhkannya.
Termasuk cara menjaga kehormatan diri yang lain ialah apabila engkau memberikan pertolongan kepada salah seorang  teman baik dengan harta ataupun lainnya, Janganlah engkau jadikan jalan untuk menghina dan mencelanya.
Wahai anakku, sebagian dari syahamah (mencegah hawa nafsu) ialah memaafkan orang yang bersalah atau berbuat jahat kepada dirimu, sekalipun dirimu mampu dan kuat untuk membalasnya. Bagian lain dari syahamah ialah berkata benar, sekalipun pada diri sendiri dan juga menjaga kehormatan diri sekalipun engkau hidup fakir tanpa dan papa dari harta.
Wahai anakku, orang yang tidak menjaga ‘izzatin nafsi (kemuliandiri), maka tidak akan manfaat harta dan yang lainnya untuk mencapai suatu kemulian.
Kemulian diri adalah lebih utama dan lebih mulia daripada kemulian harta benda. Sebagian dari kemulian diri ialah menunjukkan akhlaq yang baik dihadapan umat manusia, sekalipun engkau fakir. Tidak memperlihatkan hajat kebutuhanmu kepada seseorang yang dekat denganmu. Sebagian lagi dari kemulian diri ialah bersabar dikala mendapatkan kesulitan hidup, dengan kesabaran yang terpujidan berserah diri kepada Allah, janganlah meminta bantuan selain kepada Rabbmu.
Wahai anakku, sebagian dari ‘izzah nafsi, muruah dan syahamah ialah menjauhkan diri dari melakukan perbuatan yang hina dan rendah untuk dirimu, jauhi perbuatan yang dapat menjatuhkan harga diri serta juga menjauhi perkara-perkara yang dapat menjatuhkan nama baik generasi penerus yang menjujung Dienul Islam, menjaga nama baik lingkungan dimana engkau berpijak. Rasulullah saw. telah bersabda: “Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya itu ibarat suatu bangunan, yang satu sama lainnya saling kuat menguatkan.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim dari Abi Musa Al-Asy’ari ra.)

Washoya#14

Pelajaran 14

KEUTAMAAN DALAM ‘IFFAH

Wahai anakku, ‘iffah (menjaga diri dari sesuatu yang  haram) adalah sebagian dari akhlaq orang-orang yang mulia, termasuk sifat orang-orang yang beramal baik. sebab itu engkau harus memiliki akhlaq yang mulia itu agar menjadi suwatu watak yang tertanam dalam jiwamu.
Sebagian dari ‘iffah ialah berusah untuk menjadi orang yang hidup sederhana, tidak merasa berat untuk memberi makan dan minum kepada orang yang sangat membutuhkannya, juga kepada kawan yang lain. Dahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi.
Bagian lain dari ‘iffah ialah jangan sekali-kali engkau melihat sesuatu milik orang lain dengan maksud untuk memilikinya (thama’), jangan pula engkau terlalu rakus dalam makan dan minum untuk mengejar kesenangan sementara.
Wahai anakku, termasuk ‘iffah pula jika engkau dapat membagi dan membedakan kepentingan untuk pribadi serta kepentingan hawa nafsumu. Janganlah engkau memperturutkan kehendak hawa nafsumu dalam mencari kepuasan yang hina, perbuatan seperti ini hanya dilakukan oleh orang-orang dzalim (berbuat kerusakan), orang-orang yang rendah akhlaq sejalah yang selalu memperturutkan hawa nafsunya.
Wahai anakku, sesungguhnya orang kaya yang mengisi perutnya dengan roti (makanan enak) sama saja dengan orang fakir yang mengisi perutnya dengan makanan yang tidak enak, karena titik akhir dari semua itu adalah berupa kotoran.
Wahai anakku, jadilah engkau seorang yang berjiwa mulia dengan berbuat ‘iffah, janganlah engkau mengotori kemuliaan dirimu dengan makanan yang engkau makan dengan cepat, hingga tak tak terasa kelezatannya dan di mana saja kau berada hindari cara makan yang rakus agar engkau tidak mendaat celaan.
Wahai anakku, bagi yang belum memilikinya, ’iffah merupakan suatu perisai diri. Peliharalah perisai tersebut yang akan mengantarkan dirimu kedalam ketenteraman dan kemuliaan hidup, baik dalam pandangan ulama ataupun dalam pandangan orang awam (umum)
Wahai anakku, takutlah engkau dari segala perbuatan haram. Apabila engkau berjalan di keramaian, maka janganlah engkau memenuhi arah pandang matamu terus menerus kepada kaum wanita, begitu pula sebaliknya. Janganlah engkau asyik berbicara dengan wanita yang bukan mahram dan bukan sanak saudaramu (sekalipun itu teman belajar). Hindarilah olehmu berdua dengan wanita, perbuatan seperti itu diharamkan untukmu. Berpegang teguhlah kepada firman Allah: “Katakanlah kepada orang-orang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci dari mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka berbuat.” (QS. An-Nur: 30)
Wahai anakku, dalam suatu hadits riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu Dawud dari Anas bin Malik, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Shafiyah ra. Menerangkan: “Sesungguhnya syaitan itu menelusuri tubuh anak Adam (umat manusia) untuk menggodanya seperti beredarnya darah di dalam tubuh.” Kaum Wanita adalah tali pengikat  bagi syaitan untuk menjerumuskan orang-orang yang beriman lemah.
Wahai anakku, takutlah dan jangan sampai syaitan menarik dirimu ke arah perangkap yang telah dipasangnya dengan memperturutkan hawa nafsu yang tercela, sehingga dirimu terjerumus ke jurang dosa besar dan kemungkaran dengan melakukan perzinahan dan lain sebagainya.
Wahai anakku, ingatlah firman Allah: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al-Israa’: 32)
Wahai anakku, wasiatku padamu, hendaklah engkau menjaga diri dari godaan dan bujuk rayu syaitan serta dari syahwat yang keji. Sesungguhnya Allah swt. selalu mengawasimu, sekalipun engkau berada di tempat sepi dan Allah akan menghisab (menghitung) segala amal perbuatanmu.
Wahai anakku, terimalah nasihatku ini. Ingatlah selalu setiap saat, lebih-lebih di kala engkau terterik melakukan sesuatu yang jelek dengan memperturutkan syahwat yang hina. Mintalah perlindungan-Nya dari godaan syaitan yang terkutuk, dengan membaca:“A’uudzuubillaahaminas syaithaanir rajiim.” Hadapkanlah dirimu kepada Allah dengan niat yang suci murni, mintalah keselamatan kepada Allah dari godaan dan rayuan syaitan. Wahai anakku, sesungguhnya Allah menguasai, menjaga dan memelihara dirimu dengan rahmat dan petunjuk-Nya.

Washoya#13

Pelajaran 13

KEUTAMAAN AMANAH

Wahai anakku, amanah (dapat dipercaya) merupakan sebaik-baik akhlaq dari beberapa akhlaq terpuji. Sedangkan khianat (tidak dapat dipercaya) merupakan seburuk-buruk akhlaq yang hina dan rendah. Amanah merupakan hiasan bagi orang-orang yg mulia dan berilmu. Sesungguhnya amanah dan sidiq (jujur) merupakan sebagian sifat-sifat para Rasul ‘alaihimu Shalaatu Wassalaamu (semoga shalawat dan salam dicurahkan kepada mereka).
Wahai anakku, jadilah engkau seorang yang dapat dipercaya dalam segala hal. Janganlah engkau kianat dalam masalah kehormatan, harta kekayaan dan sebagainya. Apabila seorang mempercayakan harta kekayaanya kepadamu, maka janganlah engkau berkhianat dan kembalikanlah jika dia meminta. Apabila seorang telah mempercayakan kepadamu suatu yang rahasia, maka janganlah engkau berkhianat dan menceritakannya pada orang lain, sekalipun dia teman yang dapat dipercaya dan mulia di sisimu.
Wahai anakku, apabila engkau tinggal di asmara atau kost, janganlah engkau mengambil atau menggunakan barang temanmu tanpa izin (ghashab). Jagalah hak milik temanmu, jangan sampai ada seseorangpun yang berani mengambilnya  tanpa izin, jika temanmu tidak berada di tempat.
Wahai anakku, jagalah dirimu, jangan sampai teman-temanmu menganggap dirimu tidak dapat dipercaya. Jangan sampai mereka berprasangka engkau mencuri barang-barang mereka, padahal engkau benar-benar melakukannya.
Wahai anakku, jadilah engkau seorang yang dapat dipercaya, baik dalam masalah yang besar maupun urusan kecil. Hidarilah pembicaraan khianat, sekalipun kepada dirimu sendiri, baik dalam hal yang dipandang mulia ataupun yang hina. Yang termasuk perbuatan khianat diantaranya membuka tas, koper atau lemari temanmu, di saat dia tidak ada, sekalipun hanya dengan niat malihat saja. Jangan mencari-cari kesalahan teman, jangan mencoba untuk mendengarkan pembicaraan dua orang temanmu tanpa seizin mereka, serta jangan memanggil seseorang dengan nama selain nama aslinya.
Wahai anakku, janganlah engkau mengambil sesuatu milik teman mu dengan maksud bergurau, dan segera engkau kembalikan bila dia mancarinya. Perbuatanmu ini akan menyebabkan temanmu selalu berprasangka buruk kepadamu dan mencurigaimu, meskipun engkau tidak berniat benar-benar mengambilnya. Sulit bagimu untuk menghilangkan prasangka buruk itu, bila mereka sudah terlanjur deranggapan demikian. Sebelum hal itu terjadi, maka hindarilah.
Wahai anakku, janganlah engkau berkhianat kepada dirimu sendiri dan kepada orang lain. Termasuk berkhianat pada diri sendiri adalah membaca buku dan menjawab pertanyaan guru dengan diam-diam terlebih dahulu membaca buku dan menjawabnya seolah-olah kamu mengetahui jawaban dari pertayaan tersebut. termasuk berkhianat pada diri sendiri adalah saat duduk di bangku ujian, bila kamu tidak mampu menjawabnya kemudian menyontek secara langsung jawaban tersebut atau diam-diam meminta seorang temanmu untuk mrnjawabnya.
Wahai anakku, dengan perbuatan itu, berarti engkau telah menipu dirimu sendiri. Sekalipun engkau kurang mampu dalam pelajaran, asalkan tidak menjadi pengkhianat dan penipu.
Wahai anakku, takut lah untuk melakukan hal seperti  itu, dan bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu. Selamatkanlah dirimu dari perbuatan khianat dan menipu diri sendiri. Dan Allah Maha Kuasa untuk memberi petunjuk dan pertolongan kepadamu.

Washoya#12

Pelajaran 12

KEUTAMAAN BERBUAT JUJUR

Wahai anakku, berusahalah engkau untuk menjadi sesorang yang selalu jujur dalam segala pembicaraan. Sebab sesungguhnya dusta itu adalah perbuatan yang buruk dan tercela. Janganlah engkau berdusta untuk memperoleh nama baik dikalangan teman-teman dan gurumu. Bila engkau sudah terbiasa berdusta: maka teman-temanmu tidak akan mempercayaimu, sekalipun apa yang engkau sampaikan itu adalah benar.
Wahai anakku, apabila engkau melakukan pelanggaran terhadap gurumu, engkau wajib menerima sangsi, maka janganlah engkau berdusta. Bila engkau ditanya, jawablah dengan terusterang. Dalam melakukan sesuatu hendaklah konsekwen, berani berbuat harus berani bertangungjawab. Jangan melibatkan temanmu lantaran ingin menghindari sangsi, karena jika kebohonganmu telah kebongkar, maka engkau akan menerima sangsi yang berlibat ganda dihadapan Allah dan gurumu, yaitu sangsi berbuat salah dan sangsi berdusta. Engkau tidak bisa menyelamatkan diri dari azab Allah Yang Megetahui segala apa yang engkau rahasiakan dalam hatimu.
Wahai anakku, sesunguhnya Al-Quran menegaskan bahwa Allah akan melanat orang yang berdusta. Apakah engkau rela menjadi orang yang dila’nat AIIah, padahal engkau mempelajara Dienul Islam.
Wahai anakku, apabila engkau berdusta sekali saja dan tidak ada orang yang mengetahui, ada kemungkinan diketahui orang secara kebetulan dikemudian hari. Dengan kemudian semua kebohongan yang pernah engkau lakukan akan terbongkar.
Wahai anakku, apabila engkau merasa tidak takut berdusta dihadapan manusia dan menganggap itu adalah hal yang sudah biasa, apakah engku merasa tidak takut terhadp azab Rabbumu yang selalu mengetahui segala yang dirahasiakan di dalam hati?
Wahai anakku, apabila seseorang berdusta, maka dia akan terbiasa melaukannya. Sulit baginya untuk selalu jujur. Karena itu usahakanlah untuk selalu memelihara kejujuran. Hindari perbuatan bohong, sekalipun perduatan itu dapat menyelamatkan dirimu.
Wahai  anakku, ini adalah wasiatku kepadamu. Apabila kamu termasuk orang yang jujur  sebagaimana sikap para penuntut ilmu, maka berjanjilah untuk tidak berdusta dalam setiap pembicaraan. Katakanlah: “Ya Aallah, hamba berjanji untuk tidak berdusta kepada seseorang selama hidupku,” niscaya akan nampak bagiku di kemudian hari sejauh mana kamu menjaga janji yang kau ucapkan kepada Allah dihadapan guru dan teman-temanmu.
Wahai anakku, sesungguhnya orang-orang yang menjadikan dusta sebagai permainan tidak akan mendapat pahala di sisi Allah. Jangan sampai engkau berdusta dan apabila ditanya, kemudian engkau menjawab: “Aku hanya main-main saja” janganlah engkau berdusta, baik dalam keadaan serius maupun santai.Ingatlah! Sesungguhnya seseorang yang berbuat jujur, setiap perkataan dan perbuatan akan dijadikan dalil, sekalipun tanpa mengetahui dalil yang sebenarnya (Al-Quran dan Hadits). Dia akan selalu diajak bermusyawarah dan dimintai dalam pendapat dalam penyelesaian suatu masalah. Jika engkau  ingin mendapat  kepercayan seperti itu, maka usahakanlah untuk selalu jujur dalam setiap  pembicaraan. Dan Allah maha Kuasa tentu memberi petunjuk dan pertolongan ke jalan yang lurus.

Washoya#11

Pelajaran 11

ADAB BERIBADAH DAN MASUK MASJID

Wahai anakku, takut dan jauhilah olehmu ingkar dalam beribadah kepada Rabbmu, sebab sesungguhnya Rabbmu telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki Supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”(QS. Adz-Dzaariyaat: 56 – 8)
Wahai anakku, jadilah engkau seorang yang selalu bersemangat dalam menjalankan ibadah fardlu (wajib ), khususnya shalat. Lakukanlah shalat fardlu tepat pada waktunya dengan barjama’ah. Apabila waktu shalat hampir tiba, siapkanlah dirimu untuk berwudlu, jangan saling mendahului dalam perjalanan ke masjid dan ke tempat wudlu, jangan berlebihan dalam menggunakan air untuk berwudlu. Apabila waktu shalat telah tiba dan muadzin telah melakukan adzan, segera hadapkan dirimu ke arah kiblat, lakukan shalat sunnat qabliyah (shalat sunnat yang dikerjakan sebelum shalat fardlu). Sesudah itu duduklah bertafakkur, i’tikaf atau bardzikir kepada Allah, sampai shalat berjama’ah dilaksanakan. Bila sampai waktunya untuk shalat berjama’ah, berjama’alah dengan khusyu’ dan tawadlu (merasa rendah diri). Ketahuilah! Sesungguhnya pada saat shalat, engkau sedang munajat (berdialog) dengan Robbmu dan berada dalam kekuasaannya-Nya. Imam Hakim meriwayatkan hadist dari abu Hurairah ra., dari Nabi saw., beliau telah bersabda: “Sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian apabila berdiri shalat, dia sedang melakukan munajat dengan Rabbnya. Maka jagalah adab bermunajat tersebut.” sebab itu jahuilah segala godaan syaitan dan hindari perasaan tidak khusyu’ berupa bisikan hati yang mengalihkan perhatian kepada selain munajat kepada Allah Yang Maha Pengasih.
Wahai anakku, apabila engkau telah menunaikan shalat fardlu, maka lakukan shalat sunnat ba’diyah (shalat sunnat yang dikerjakan sesudah shalat fardlu), berdo’alah kepada Allah dengan do’a yang telah diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Beristigfarlah (memohon ampun) sebanyak mungkin dengan membaca “astaghfirullaahal ‘adziim” dan mohon kepadanya-Nya ditambah ilmu, sebab sesungguhnya Allah Maha Pembuka dan Maha Mengetahui.
Wahai anakku, lebih baik lagi selama berada di dalam masjid, engkau mampu memelihara wudlumu. Sebab sesungguhnya masjid adalah rumah yang yang diridlai Allah, maka siapa yang memasuki masjid akan mendapat keridlaan Allah. Salah satu adab yang tercela adalah apabila engkau masuk masjid, tetapi tidak beribadah kepada-Nya.
Wahai anakku, sesungguhnya perhatian muslimin selalu dicurahkan kepada para pelajar, dengan maksud memuliakannya. Mereka akan mambesar-besarkan yang sebenarnya kecil, jika kesalahan itu dilakukan oleh orang yang terpelajar. Sebab itu jagalah dirimu jangan sampai menjadi pembicaraan dikalangan mereka. Lunkanlah suaramu, jangan engkau bermusuhan dengan temanmu, jangan membencinya dan jangan menghalangi seorang mukmin yang beribadah kepada Rabbnya di masjid tersebut.
Wahai anakku, didalam masjid engkau akan selalu diperhatikan orang. Mereka akan mengambil i’tibar (teladan) dari akhlaq dan kekhusyua’an shalatmu. Karena itu janganlah engkau berbuat tidak sopan dan sholat tergesa-gesa, sehingga mereka tidak mau memperlihatkan dan mengindahkan nasihat serta  petunjuk yang engkau sampaikan.
Wahai anakku, janganlah engkau melakukan sesuatu yang kurang baik di dalam masjid, sehingga menjadi bahan pembicaraan umum yang memberi pengaruh negatif kepda teman-temanmu. Apabila engkau melihat seseorang melakukan shalat tidak sesuai dengan menurut hukum-Nya, tegurlah dengan bijaksana dan dengan nada yang lemah lembut. Apabila engkau ingin menyampaikan syariat Allah kepadanya, maka janganlah sekali-kali engkau membuat dia tidak tertarik mempelajari Dienul Islam. Allah akan memberi petunjuk jalan yang lurus kepada orang yang dihendaki.

Washoya#10

Pelajaran 10

ADAB MAKAN DAN MINUM

Wahai anakku, bila engkau ingin hidup sehat lahir bathin, terhindar dari segala penyakit, janganlah engkau mengisi perutmu dengan sembarang makanan. Makanlah ketika engkau merasa lapar dan berhentilah sebelum terlampau kenyang karena Rasulullah saw. Telah bersabda: “Tidaklah anak Adam (manusia) memenuhi suatu wadah itu lebih jelek dari pada memenuhi wadah makannya (perutnya).” (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah dan Hakim dari Miqdah bin Ma’dikariba).
Wahai anakku, bila engkau hendak makan, cucilah dahulu tanganmu, bacalah“Bismillah” diawali makanmu. Jangan engkau  telan makanmu sebelum mengunyahnya sehingga lunak, karena hal itu menolong pencernaan makanan, dan makanlah yang terdekat denganmu, jangan mengulurkan tangan untuk mengambil makanan yang jauh darimu, karena yang demikian itu adalah perbuatan yang tercela.
Wahai anakku, janganlah engkau melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh orang  yang berakhlak tercela dan hina di mata manusia, yaitu jangan engkau makan di tengah pasar atau makan sambil berjalan sekalipun hanya makanan ringan. Karena yang demikian itu menghilangkan sifat wara’ (dalam  ilmunya) dan membuat dirinya terhina.
Wahai anakku, jauhilah sjfat bakhil (kikir), dan serakah. Bila engkau duduk untuk makan, sedang disisimu ada orang, baik  sudah kenal atau belum, ajaklah dia makan bersamamu, bila makananmu tersisa, sedekahkanlah pada fakir miskin. Dan janganlah engkau malu dengan memberikan sedekah yang sedikit itu, karena sedikit itu (sekalipun sedikit) sangat berarti bagi fakir miskin. Dan bila engkau memberikan sedekah pada seorang fakir, jangan sekali-kali engkau sertakan hina yang ditunjukkan padanya, jangan engkau ikuti sedekahmu dengan kata-kata yang menyakitkan hati orang yang engkau beri sedekah: “Ucapan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari pada sedekah yang diiringi dengan seuatu yang menyakitkan hati si penerima.” (QS. Al-Baqarah: 263)
Oleh karena itu, peliharalah sedekahmu jangan sampai diketahui orang lain, karena sesungguhnya sedekah sirri (secara rahasia)  itu memadamkan kemurkaan Allah swt.
“Sesungguhnya sedekah secara rahasia itu dapat menghapus  kemurkaan Allah swt.” (Hadits Riwayat Thabrani, dalam Kitab “Mu’jamul-Kaibil” dari Muawiyah bin Haidah)
Wahai anakku, jangan engkau makan dan minum dengan alat makan minum yang kotor, karena hal itu akan mendatangkan penyakit bagi dirimu, yang mungkin akan sulit disembuhkan. Dan minumlah air yang bersih, bila hendak minum, bacalah “Bismillah”. Jangan engkau minum sekaligus segelas air, minumlah sedikit demi sedikit, sebaiknya satu gelas diulang tiga kali yang setiap kalinya dipisahkan dengan bacaan “Bismillah”. Bila engkau telah selesai makan dan minum, bacalah “Alhamdulillah” (segala Puji milik Allah) yang telah memberimu makan dan minum. Bersyukulah atas nikmat yang telah dikaruniakan-Nya padamu, yang tidak terhitung banyaknya. Sesungguhnya Allah-lah yang memberimu petunjuk dan pertolongan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai