BAB 3 – Tahapan Para Penempuh Jalan “Sufi”
Tobat
“Bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.”
(Qs. An-Nuur: 31).
Diriwayatkan dari Anas bin Malik (10 H-93 H/612 M – 712 M) dari suku Khazraj golongan Anshar. Meriwayatkan 2286 hadis. Lahir di Madinah dan kemudian pergi ke Damaskus dan meninggal di Bashrah), bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang tidak berdosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya.”
(H.r. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Hakim).
Selanjutnya, membacakan ayat:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
(Qs. Al-Baqarah : 222).
Ketika belaiau ditanya: “Waha Rasulullah, apa pertanda bertobat.?”, beliau menjawab : “Menyesali kesalahan.”
Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Tiada sesuatu yang dicintai oleh Allah selain pemuda yang bertobat.”
(as-Syuyuti dalam kisah ash-Jami’ah as-Shaghir, Jilid II, hlm. 8050, mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan Abul Mudzaffar as-Sam’any, dari Salman. Menurut as-Suyuthy, hadis tersebut hadis dha’if).
Oleh karena itu, tobat merupakan tingkat pertama di antara tingkat-tingkat yang dialami oleh para Sufi dan tahapan pertama di antara tahapan-tahapan yang dicapai oleh penempuh jalan Allah (salik).
Makna tobat dalama Bahasa Arab adalah “Kembali”. “Ia bertobat” berarti “Ia kembali”. Jadi tobat adalah kembali dari sesuatu yang dicela oleh syara’ menuju sesuatu yang dipuji olehnya.
Rasulullah saw. bersabda:
“Menyesali kesalahan merupakan sutu tobat.”
(H.r. Bukhari dan Ahmad).
Para Ahli Ushul di kalangan Ahli Sunnah mengatakan:
“Terdapat tiga syarat tobat yang musti dipenuhi agar tobat itu sah: Menyesali pelanggaran yang telah dilakukan; meninggalkan secara langsung penyelewengan dan dengan mantap seseorang memutuskan tidak kembali pada kemaksiatan yang sama.”
Hadis di atas menunjukkan betapa agungnya tobat itu, sebagaimana ketika Rasulullah saw. bersabda:
“Haji adalah Arafah”,
Maksudnya, adalah menyampaikan pesan bahwa bukannya tidak ada unsur-unsur haji yang yang lain selain wukuf di Arafah, melainkan bahwa bagian terbesar unsurnya adalah wukuf di Arafah. Demikian pulalah maksud dari pesan yang disampaikan Rasulullah saw. bahwa, “Menyesali kesalahan merupakan suatu tobat.” – bahwa bagian utama tobat adalah menyesali keselahan.”
“Menyesali kesalahan adalah cukup untuk memenuhi persyaratan tobat.” Demikian kata mereka yang telah melaksanakannya, karena tindakan tersebut mempunyai akibat berupa dua persyaratan yang lain. Artinya, orang tidak mungkin bertobat dari suatu tindakan yang tetap dilakukan atau yang ia mungkin bermaksud melakukannya. Inilah makna tobat secara global.
Sebagai penjelasan lebih lanjut, kami katakan bahwa tobat mempunyai sebab-sebab, urutan, aturan dan bagian-bagian. Sebab langsung tobat yang pertama ialah kebangunan hati dari kealpaan, menyadari bahwa hamba tersebut berada dalam perilaku buruk. Ia mencapai ini dengan batuan Allah swt. terhadap pikirannya. Ini berlangsung dengan cara mendengarkan kata hati, lantaran sebuah hadis menyatakan: “Allah mengingatkan pada kalbu Muslim.” Hadis yang menyatakan:
“Ada segumpal daging di dalam jasad, yang apabila ia bagus, maka keseluruhan jasad akan bagus, dan apabila ia rusak, maka keseluruhan jasad akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(H.r. Bukhari-Muslim).
Apabila seseorang merenungi perbuatan-perbuatan jahatnya, biscaya ia akan memahami tindakan-tindakan tercela yang dilakukannya, dan keinginan untuk bertobat akan datang ke lubuk hatinya, bersamaan dengan tindakan menahan diri dari tindakan-tindakan tercela tersebut. Kemudan Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan niatnya yang kukuh ini, dalam menempuh jalan kembali menuju kebaikan.
Cara bertobat pertama adalah, memisahkan diri dari orang-orang yang berbuat jahat, karena mereka akan mendorong untuk mengingkari tujuan ini, dan keraguan atas kelurusan niat yang telah teguh. Dan hal ini tidak akan lengkap kecuali dibarengi keteguhan dalam bersyahadat, secara terus menerus, dan dibarengi motif-motif yang mendorong pelaksanaan ketetapan dalam hati, yang darinya dapat memperkuat rasa khauf dan raja’.
Selanjutnya, tindakan-tindakan tercela, yang membentuk simpul kebandelan dalam hati akan mengendor, ia akan menghentikan perbuatan-perbuatan yang terlarang, dan kendali diri akan terjaga dari memperturutkan hawa nafsu. Kemudian, ia harus segera meninggalkan dosanya dan berketetapan hati untuk tidak kembali ke dosa-dosa serupa di masa mendatang. Apabila terus bertindak sesuai dengan tujuan yang selaras dengan kehendaknya ini, berarti bahwa ia telah dianugerahi rasa aman yang sebenarnya.
Apabila sekali waktu meredup dan hasratnya mendorong untuk melakukan penyelewengan kembali, suatu hal yang mungkin seringkali terjadi, kita harus tetap berrharap orang seperti itu akan bertobat lagi karena:
“Bagi tiap-tiap masa ada ketentuannya.”
(Qs. Ar.Ra’ad: 38).
Abu Sulaiman ad-Darany mengtakan:
“Aku seringkali mengunjungi majelis seorang ahli kisah, kemudia kata-katanya membekas di kalbu. Tetapi, ketika aku pulang, kata-katanya itu pun lenyap. Aku menghadiri majelis untuk kedua kalinya, mendengar ucapanya dan membekas di kalbu, lalu hingga di jalan aku lupa kembali. Bahkan aku pun hadir di majelisnya untuk yang ketiga kalinya, berulah kata-katanya membekas hingga di rumah. Selnjutnya kuhancurkan segala peralatan yang mengarah pada dosa dan aku meneguhi Jalan. Setelah itu, kisah ini kusampaikan kepada Yahya bin Mu’adz, sembari memberi komentar atas kisah ini.
”Seekor burung pipit mengkap seekor burung bangau: “Dengan burung pipit yang dimaksudkannya adalah si pengisah itu dan burung bangau adalah Abu Sulaiman ad-Darany sendiri.
Abu Hafs al Haddad mengatakan: “Aku meninggalkan suatu perbuatan tercela, lalu kembali padanya. Kemudain perbuatan itu meninggalkanku, dan sesudah itu aku tidak kembali lagi padanya.”
Abu Amr bin Nujayd pada awal perjalanan spiritualnya, seringkali mengunjungi majelis Abu Utsman. Kata-kata Abu Utsmman amat berkesan di dalam hatinya, hingga membuatnya bertobat. Selanjutnya ia mendapat cobaan. Ia meninggalkan Abu Utsman, dengan mengundurkan diri dari majelisnya. Pada suatu hari ketika Abu Utsman berpapasan dengannya, Abu Amr segera berpaling dan mengambil jalan lain.
Abu Utsman mengikutinya, berjalan di belakangnya, seraya berkata: “Wahai anakku, jangan menjadi sahabat orang yang tidak mencintaimu, kecuali ia seorang yang bersih dari dosa! Hanya Abu Utsman yang mau membntumu dalam keadaanmu seperti sekarang ini.” Selanjutnya Abu Amr bertobat dan kembali sebagai murid setia.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. mengatakan : “Salah seorang murid bertobat, kemudian menerima cobaan. Ia bertanya dalam hati, ‘Jika aku bertobat, bagaimana hukuman atas diriku nanti?’ Maka terdengarlah bisikan dalam jiwanya, “Hai Fulan, engkau taat kepada kami, lalu Kami terima syukurmu, kemudian engkau tinggalkan Kami, maka Kami biarkan saja dirimu. Bila engkau kembali kepada Kami, pasti Kami terima.” Akhirnya si pemuda itu pun bertobat, kembali ke cita-cita semula.”
Apabila ia meninggalkan kemaksiatan dan melepaskan diri dari ikatan kebandelan dalam hati, lalu bertekad untuk tidak kembali pada perbuatan odsa, maka pada saat itulah tobat sejati menyeleusup ke lubuk hati. Ia menyesali terhadap segala sesuatu seperti telah dilakukannya, menjauhi tindakan-tindakan tercela, sehingga tobatnya sempurna, mujahadahnya haq, dan diganti dengan upaya uzlah. Ia menghindari sekawanan orang-orang yang jahat lewat kahlwat, ia bekerja sepanjag siang dan malam dalam keadaan sengsara, dan bertobat dalam situasi bagaimanapun, menghapus jejak-jejak dosanya dengan linangan air mata, dan mengobati hati dengan tobatnya. Ia dikenal di antara sejawatnya karena kesintingannya, namun kurus-kering tubuhnya memberikan kesaksian kengenai kewarasannya.
Tahap Tahap pertama pertobatana seseorang adalah menghadapi iri hati para musuhnya sebisa mungkin, dengan harapan nahwa yang dimilikinya cukup untuk memenuhi hak-hak mereka atau bahwa mereka sepakat untuk meninggalkan klaim yang bekenaan dengan dirinya dan bersedia menerimanya. Dan apabila harapannya tidak terpenuhi, ia harus menerima klaim-klaim mereka, dan kembali kepada Allah swt. dengan penuh kejujuran, disamping itu juga mendoakan mereka.
Saya mendengar Ustadz Abu Ali ad-Daqqaq berkata: “Tobat dibagi menjadi tiga tahap, tahap awal adalah tobat (tawbah), tahap tengah adalah kembali (inabah) dan ketiga awbah.” Ia menempatkan tawabh di awal, awbah di akhir, dan inabah di antara keduanya.
Barangsiapa bertobat karena takut siksa, maka ia tergolong orang yang tobat. Siapa pun yang bertobat karena ingin mendapatkan pahala Ilahi, berada dalam keadaan inabah. Siapa pun yang bertobat lantaran mematuhi printah Ilahi, bukan akrena ingin mendapatkan pahala maupun takut akan hukuman, berada dalam keadaan awbah.
Juga dikatakan, obat adalah sifat kaum Mukminin.” Allah swt. berfirman:
“Ia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia amat taat (kepada Tuhannya).”
(Qs. Shaad:30).
Inabah adalah sifat para Auliya’ dan Muqarrabun. Allah swt. berfirman:
“Ia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia amatlah taat (kepada-Nya).”
(Qs. Shaad : 44).
Al-Junayd berkata:
“Tobat itu mempunyai tiga makna. Pertama, menyesali kesalahan kedua, berketatapan hati untuk tidak kembali pada apa yang telah dilarang Allah swt. dan ketiga adalah menyelesaikan/membela orang yang teraniaya.”
Sahl bin Abdullah berkata:
“Tobat adalah menghentikan sikap suka menunda-nunda.”
Al-Junayd berkunjung kepada as=Sary pada suatu hari, dan mendapatinya sedang kebingungan. Ia bertanya: “Apa yang telah terjadi atas dirimu?”
As-Sary menjawab: “Aku bertemu dengan seorang pemuda, dan ia bertanya tentang tobat kepadaku. Kukatakan kepadanya. “Tobat adalah bahwa engkau tidak melupakan dosa-dosamu.” Lantas ia menyanggahnya dengan mengatakan, ‘Tobat adalah justru engkau benar-benar melupakan dosa-dosamu.”
Al-Junayd menjawab, “Karena apabila aku berada dalam kondisi kering, lantas aku dipindahkan ke kondisi dingin, maka menyebut masa kering di masa dingin, adalah kekeringan itu sendiri.” Dan akhirnya as-Sary pun terdiam.
Abu Nashr as-Sarraj dilaporkan mengatakan:
“Sahl sedang memberitahukan kondisi ruhani murid-murid dan pendatang baru, yang terus menerus berubah. Al-Junayd merujuk tobatnya orang-orang yang telah mencapai kebenaran, yang tidak ingat akan dosa-dosa mereka lagi karena keagungan Allah Swt. yang telah meluapi hati mereka, dan senantiasa mengingat (dzikr) kepada-Nya.”
Dzun Nuun al-Mishry memberi komentar:
“Tobat kalangan awam adalah tobat dari dosa, dan tobat kaum kahwash adalah tobat dari kealpaan.”
Abul Husain an-Nury mengatakan: “Tobat adalah bahwa engkau berpaling dari segala sesuatu selain Allah swt.”
Abdullah bin Ali bin Muhammad al-Tamimi mengatakan: “Betapa besar perbedaan antara orang yang bertobat dari dosa, orang yang bertobat dari kealpaan, dan orang yang bertobat dari kesadaran akan perbuatan baiknya sendiri.”
Al-Wasithy berkata: “Tobat sejati adalah tobat yang tidak menisakan pengaruh maksiat, baik secara batin maupun lahir.”
Yahya bin Mu’adz berdoa, “wahai Tuhanku, aku tidak akan mengatakan, “Aku telah bertobat” dan aku tidak kembali kepada-Mu hanya karena sesuatu yang menurutku adalah kecenderunganku, aku tidak bersumpah bahwa aku tidak aka berbuat dosa lagi, karena aku mengetahui kelemahanku sendiri.”
Dzun Nuun berkata: “Permohonan ampun yang diajukan dengan tidak disertai pencabutan dosa adalah tobat para pendusta.”
Ketika al-Busyanjy ditanya soal tobat, ia menjawab : “Ketika dirimu ingat dosa, lantas tidak engkau temui manisnya ketika mengingatnya, itulah tobat.”
Dzun Nuun mengatakan: “Esensi tobat adalah bahwa bumi ini terlalu sempit bagimu meskipun ia luas sehinngga engkau tidak menjumpai tempat untuk beristirahat. Lalu engkau merasakan jiwamu terhimpit, karena Allah swt. telah menyatakan di dalam Kitab-Nya:
“Dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya.”
(Qs. At-Taubah:118).
Ibnu Atha’ berkata: “Terdapat dua jenis tobat : Inabah (kembali) dan istijabah (menjawab atau memenuhi). Dalam inabah sang hamba bertobat karena takut akan hukuman dalam istijabah ia bertobat karena malu akan kemurahan-Nya.”
Abu Hafs ditanya: “Mengapa orang yang bertobat membenci dunia?” Ia menjawab: “Karena ia merupakan tempat di mana dosa-dosa dikejar.” Dan dikatakan kepadanya : “Ia juga tempat tinggal yang dijunjung tinggi oleh Allah karena tobat.” Dikatakannya pula, “Sungguh dunia termasuk bagian dosa dengan amat yakin, tetapi mendapatkan bahaya dari penerimaan atas tobatnya.”
Sebagian kalangan Sufi mengatakan: “Tobat para pendusta berada di bibirnya, karena mereka hanya membatasi ucapannya pada Astaghfirullah.”
Diriwayatkan bahwa Allah swt. berfirman kepada Adam:
“Wahai Adam, Aku telah mewariskan kepada anak cucumu beban dan penderitaan. Aku menjawab salah seorang di antara mereka, yang berdoa dengan sungguh-sungguh kepada-Ku, persis sebagaimana Aku menjawabmu. Wahai Adam, Aku akan membangkitkan orang-orang yang bertobat dari kubur-kubur mereka dalam keadaan gembira; doa mereka akan Kujawab.”
Seseorang bertanya kepada Rabi’ah Adawiyah: “Aku telah sering berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat. Tetapi, apabila aku bertobat, akankah Dia mengampuninya?” Dijawab oleh Rabi’ah, “Tidak. Tetapi apabila Dia mengampunimu, maka engkau akan bertobat.”
Ketahuilah bahwa Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
(Qs. Al-Baqarah :222).
Orang yang membiarkan dirinya larut dalam kesalahan, benar-benar identik dengan menggelincirkan diri sendiri. Tetapi apabila ia bertobat, niscaya penerimaan tobatnya oleh Tuhan diragukan, terutama karena kecintaan Tuhan kepadanya adalah satu syarat bagi penerimaan itu. Dan itu bakal terjadi pada suatu waktu sebelum si pendosa sampai pada satu titik dimana ia menjumpai tanda-tanda kecintaan Allah kepada dirinya dalam sifatnya. Tugas hamba tersebut, ketika mengetahui bahwa dirinya telah melakukan suatu tindakan yang mengharuskan tobat, ialah bertobat secara sungguh-sungguh, dengan menolak secara gigih perbuatan odsa dan memohon ampunan, sebagaimana tertuang dalam ucapan mereka, “Seperti kesadaran akan rasa takut menjelang ajal.”
Firman Allah swt:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
(Qs. Ali Imran : 31).
Di antara Sunnah Nabi saw. adalah beristighfar terus menerus.
Beliau bersabda:
“Hatiku terasa dahaga, oleh karena itu aku memohon ampunan Allah tujuhpuluh kali dalam sehari.”
(Hr. Muslim dan Abu Dawud).
Yahya bin Mu’adz mengatakan “Satu penyelewengan saja sesudah bertobat lebih buruk ketimbang tujuhpuluh penyelewengan sebelum bertobat.”
Abu Utsman berkata: “Akan halnya firman-Nya: “Kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.”
(Qs. Al-An’am :36), maknanya jika mereka bebas berkeliaran melakukan perbuatan dosa.”
Abu Amr al-Anmathy berkata: “Ali bin Isa, seorang perdana Menteri, mengendari sebuah kendaraan pada suatu prosesi, dan orang-orang yang tidak mengenalnya bertanya: ‘Siapakah ia? Siapakah ia? Seorang wanita yang berdiri di sisi jalan menyahut, “Sampai kapan Anda akan mengatakan , ‘Siapakah ia? Siapakah Ia? Dialah seorang hamba yang terlepas dari perlindungan Allah swt. Dan Allah telah memberikan cobaan sebagaimana Anda lihat.’ Katika Ali bin Isa mendengar jawaban wanita tersebut, ia kembali ke rumahnya, seketika itu pula mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri, lalu pergi ke Mekkah, dan menetplah ia dikota suci itu.
Mujahadah
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(Qs. Al-Ankabut : 69).
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khurdry, (Sa’id bin Malik bin Sanan al-Nashari al-Kahzrajy (10.sH – 74 H/613 -693 M), seorang sahabat Rasulullah saw. Ikut berperang duabelas kali, dan meriwayatkan 1170 hadis. Meninggal di Madinah). Bahwa ketika Rasulullah saw. ditanya mengenai jihad terbaik, beliau menjawab:
“Adalah perkataan yang adil yang disampaikan kepada seorang pengausa yang zalim.”
(Qs. Hr. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Maka air mata berlinang dari kedua mata Abu Sa’id ketika mendengar hal ini.
Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a. berkata: “Barangsiapa menghiasai lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan memperindah rahasia batinnya melalui musyahadah. Siapa yang permulaannya tidak memiliki mujahadah dalam tharikat ini, ia tidak akan menemui cahaya yang mencar darinya.”
Abu Utsman al-Maghriby mengatakan: “Adalah kesalahan besar bagi seseorang membayangkan bahwa dirinya akan mencapai sesuatu di jalan-Nya atau bahwa sesuatu di jalan-Nya akan tersingkap baginya, tanpa bermujahadah.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. menegaskan: “Orang yang tidak berdiri dengan mantap di awal perjalanan spiritualnya tidak akan diizinkan beristirahat pada akhir perjalanannya.” Dikatakannnya pula, “Gerak adalah suatu berkat.” Dan katanya kemudian, “Gerakan-gerakan dzahir akan melahirkan barakah-barakah batin.”
As- Sary berkata: “Wahai kaum muda, tekunlah kalian, sebelum kamu sekalian menginjak usia seperti diriku, sehingga kalian lemah dan lengah seperti diriku.” Padahal pada saat itu tidak seorang pun di antara para pemuda yang mampu menyejajari langkah as-Sary dalam bidang ibadat.
Saya mendengar al-Hasan al-Qazzaz berkata: “Jangan makan kecuali amat lapar, jangan tidur kecuali amat kantuk, jangan bicara kecuali dalam keadaan darurat.”
Ibrahim bin Adham mengatakan:
“Seseorang akan baru mencapai derajat kesalehan, sesudah melakukan enam hal: (1) Menutup pintu bersenang-senang dan membuka pintu penderitaan (2) Menutup pintu keangkuhan dan membuka pintu kerendahan hati (3) Menutup pintu istirahat dan membuka pintu perjuangan (4) Menutup pintu tidur dan membuka pintu jaga (5) Menutup pintu kemewahan dan membuka pintu kemiskinan (6). Menutup pintu harapan duniawi dan membuka pintu persiapan menghadapi kematian.”
Abu Amr bin Nujayd berkata: “Barangsiapa menghargai hawa nafsunya berarti meremehkan agamanya dan pendengarannya.”
Abu Ali ar-Rudzbary mengatakan: “Apabila seorang Sufi – sesudah lima hari kelaparan – berkata : “Aku lapar.” Kirimlah ia ke pasar untuk mencari nafkah. Prinsip mujahadah pada dasarnya adalah mencegah jiwa dari kebaisaan-kebiasaannya dan memaksanya menentang hawa nafsunya sepanjag waktu.”
Jiwa mempunyai dua sifat yang menghalangi dalam mencapai kebaikan keberlarutan dalam memuja hawa nafsu dan penolakan pada tindak kepatuhan. Manakala jiwa menunggang nafsu, maka Anda harus mengendalikannya dengan kendali takwa. Manakala jiwa bersikukuh menolak untuk selaras dengan kehendak Tuhan, maka Anda harus mengendalikannya agar menolak hawa nafsunya. Manakala Jiwa bangkit memberontak, maka Anda harus mengendalikan keadaan ini. Tiada satu hal pun yang berakibat lebih utama selain sesuatu yang muncul menggantikan kemarahan yang kekuatannya telah dihancurkan dan yang nyalanya telah ddipadamkan oleh akhlak mulia.
Manakala jiwa menemukan kemanisan dalam anggur kecongkakan, niscaya ia akan merana bila tidak sanggup menunjukkan kemampuannya dan menghiasai perbuatan-perbuatannya kepada siapapun yang melihatnya. Orang harus memutuskannya dari kecenderungan seperti ini dan menyerahkannya pada hukuman kehinaan yang akan datang tatkala diingatkan akan hargadirinya yang rendah, asal-usulnya yang hina dan amal-amalnya yang emnijikan. Perjuangan kaum awam berupa pelaksanaan tindakan-tindakan; tujuan kaum khawash adalah menyucikan keadaan spiritual mereka. Bertahan dalam lapar dan jaga, adalah sesuatu yang mudah. Sedangkan membina akhlak dan membersihkan semua hal negatif yang melekat padanya, sangatlah sulit.
Satu dari sekian sifat jiwa yang merugikan dan paling sulit dilihat adalah ketergantungannya pada pujian manusia. Orang yang bermental seperti ini berarti menyangga beban langit dan bumi dengan satu alisnya. Satu pertanda yang mengisyaratkan mental seperti ini adalah apabila pujian orang tidak diberikan kepadanya, niscaya ia menjadi pasif dan pengecut.
Dikabarkan bahwa Abu Muhammad al-Murta’isy berkata: “Aku berangkat haji berkali-kali seorang diri. Pada suatu ketika aku menyadari bahwa segenap upayaku terkotori oleh kegembiraanku dalam melakukannya. Hal ini kusadari saat ibu memintaku menarikan guci air untuknya. Jiwaku merasakan hal ini sebagai beban yang berat. Saat itulah aku mengetahui bahwa apa yang kusangka merupakan kepatuhan kepada Allah swt. dalam hajiku selama ini tidak lain hanyalah kesenanganku semata, yang datang dari kelemahan dalam jiwa, karena apabila nafsuku sirna, niscaya tidak akan mendapati tugas kewajibanku sebagai suatu yang memberatkan dalam hukum syaritat.”
Pada suatu ketika seorang wanita lanjut usia ditanya mengenai keadaan ruhaninya. Ia menjawab: “Semasa Muda, aku berpikir bahwa keadaan-keadaan ruhani itu berasal dari kekuatan dan semangat yang tak kujumpai saat ini, ketika sudah tua, semua itu sirna sudah.”
Dzun Nuun al-Mishry berkata: “Penghormatan yang Allah berkenan memberikannya kepada seorang hamba, maka Allah menunjukkan kehinaan dirinya, penghinaan yang Allah berkenan menimpakannya kepada seorang hamba, maka Allah menyembunyikan kehinaan dirinya dari pengetahuan akan kehinaan itu sendiri.”
Ibrahim bin Khawwas menegaskan: “Aku tidak menghadapi seluruh ketakutanku, kecuali secara langsung menghadapinya dengan menungganginya.”
Muhammad bin Fadhl mengatakan : “Istirahat total adalah kebebasan dari keinginan hawa nafsu.”
Saya mendengar Abu Ali ar.Rudzbary berkata: “Bahaya yang menimpa manusia datang dari tiga hal: Kelemahan watak, keterpakuan pada kebiasaan, dan mempertahankan teman yang merusak.” Saya bertanya kepadanya, “Apakah kelemahan watak itu?” Ia menjawab. “Mengkonsumsi hal-hal-yang haram.” Lalu saya tanyakan : “Apakah keterpakuan pada kebiasaan itu?” Ia berkata : “Memandang dan mendengarkan segala sesuatu yang haram dan melibatkan diri dalam firnah.” Saya bertanya : “Apakah mempertahankan teman yang merusak itu? Dijawabnya : “Itu terjadi ketika Anda menuruti hasrat nafsu dalam diri, lalu diri Anda mengikutinya.”
An-Nashr Abadzy mengatakan: “Penjara adalah jiwa Anda. Apabila Anda melepaskan diri darinya, niscaya akan sampai pada kedamaian.” Ia juga berkata : “Aku mendengar Muhammad al-Farra’ berkisah bahwa Abul Husain al-Warraq mengatakan: “Ketika kami memulai menempuh jalan-Nya lewat Tasawuf di Masjid Abu Utsman al-Hiry, praktek terbaik yang kami lakukan adalah bahwa kami mempriorotaskan kemudahan bagi orang lain kami tidak pernah tidur dengan menyimpan sesuatu tanpa disedekahkan kami tidak pernah menuntut balas kepada seseorang yang menyinggung hati kami, bahkan kami selalu memaffkan tindakannya dan bersikap rendah hati kepadanya; dan jika kami memandang hina seseorang dalam hati kami, maka kami akan mewajibkan diri kami untuk melayaninya sampai perasaan memandang hina itu lenyap.”
Abu Ja’far berkata : “Nafsu, seluruhnya gelap gulita, peliatanya adalah batinnya. Cahaya pelita ini adalah taufiq. Orang yang tidak disertai taufik dari Tuhannya, maka kegelapan akan menyelimutinya.” Ketika mengatakan, “Pelita adalah batinnya.” Dimaksudkan adalah rahasia antara dirinya dan Allah swt. yakni tempat keikhlasannya.Dengannya si hamba tersebut mengetahui bahwa semua peristiwa adalah karya Tuhan peristiwa-peristiwa bukanlah ciptaan dirinya, tidak pula berasal darinya. Bila mengetahui hal ini, ia akan bebas dalam setiap keadaannya, dari kekuatan dan kekuasaannya sendiri dalam melestarikan manfaat waktunya. Orang yang tidak disertai taufik tidak akan memperoleh manfaat dari pengetahuan tentang jiwanya atau tentang Tuhannya. Itulah sebabnya mengapa para syeikh mengatakan “Orang yang tidak mempunyai sirr akan terus bersikeras menuruti hawa nafsunya.”
Abu Utsman berkata: “Selama orang melihat setiap sesuatu baik dalam jiwanya, ia tidak akan mampu melihat kelemahan-kelemahannya. Hanya orang yang berani mendakwa dirinya terus menerus selalu berbuat salahlah yang akan sanggup melihat kesalahannya itu.
Abu Hafs mengatakan: “Tidak ada jalan yang lebih cepat ke arah kerusakan, kecuali jalan orang yang tidak mengetahui kekurangan dirinya, karena kemaksiatan kepada Tuhan adalah jalan cepat menuju kekafiran.”
Abu Sulaiman berkata: “Aku tahu bahwa tidak sedikit pun kebaikan dapat ditemukan dalam suatu perbuatan yang kulakukan sendiri, aku berharap diberi pahala karenanya.”
As-Sary berkomentar: “Waspadalah terhadap orang yang suka bertetangga dengan orang kaya, pembaca-pembaca Al-Qur’an yang sering mengunjungi pasar, dan ulama-ulama yang mendekati penguasa.”
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan:
Kerusakan merasuki diri manusia dikarenakan enam hal (1) Mereka memliki niat yang lemah dalam melaksanakan amal untuk akhirat (2) Tubuh mereka diperbudak oleh nafsu (3) Mereka tidak henti-hentinya mengharapkan perolehan duniawi, bahkan menjelag ajal (4) Mereka lebih suka menyenagkan makhluk, mengalahkan ridha Sang Pencipta (5) Mereka memperturutkan hawa nafsunya, dan tidak menaruh perhatian yang cukup kepada Sunnah Nabi saw. (6) Mereka membela diri dengan menyebutkan beberapa kesalahan orang lain, dan mengubur prestasi pendahulunya.
Khalwat Dan ‘Uzlah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. (Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausy (21s.H – 59H/602-679 M), seorang sahabat sejak ia yatim. Masuk Islam tahun 7 H. Dan senantiasa mendampingi Nabi saw. serta meriwayatkan 5.374 hadits), Bahwa Nabi saw. besabda:
“Di antara cara-cara terbaik bagi manusia dalam mencari penghidupan adalah seseorang mengendarai kuda di jalan Allah, dan apa bila ia mendengar suara manusia-manusia yang panik atau ketakutan dalam peperangan, ia memacu kudanya mencari mati syahid atau kemenangan di medan jihad atau seseorang menggembalakan biri-biri dan kambing-kambingnya di puncak gunung atau di kedalamanan lembah, namum tetap mendirikan shalat, membayarkan zakat, dan beribadat kepada Tuhan sampai datang suatu keyakinan. Tidak ada urusan dengan sesama manusia kecuali didasarkan pada kebaikan.”
(H.r. Muslim).
Menyendiri dari pengaruh duniawi (khalwat) adalah sifat orang-orang suci. Sedangkan mengasingkan diri (‘uzla) adalah lambang orang yang ber-wushul kepada-Nya. Memisahkan diri dari manusia sangat diperlukan bagi murid pada awal kondisi ruhaninya, dan selnjutnya mengasingkan diri pada akhir kondisi ruhani, karena telah mencapai keakraban sukacita ruhani.
Sikap seorang yang layak ketika memutuskan untuk memisahkan diri dari manusia adalah meyakini bahwa masyarakat akan terhindar dari kejahatannya (dengan tindakannya memisahkan diri dari mereka), bukan bahwa ia akan terhindar dari kejahatan mereka. Sikap pertama adalah hasil dari seseorang yang memandang rendah dirinya sendiri; sikap kedua adalah akibat seseorang merasa bahwa dirinya lebih baik dari masyarakat. Orang yang mengganggap dirinya tiak berharga adalah rendah hati, dan orang yang menganggap dirinya lebih bergarga ketimbang orang lain adalah takabur.
Seseorang melihat seorang rahib dan berkata kepadanya: “Anda seorang rahib.” Ia menjawab : “Bukan, aku adalah anjing penjaga. Jiwaku adalah seekor anjing yang menyerang ummat manusia. Aku telah menjauhkannya dari mereka supaya mereka aman.”
Seseorang lewat di hadapan syeikh yang shaleh. Sementara syeikh itu bergegas merapatkan jubahnya supaya tidak bersentuhan dengan pakaian orang tersebut. Orang tersebut bertanya: “Mengapa Anda menarik jubah Anda?” Pakaian saya tidak kotor.” Sang Syeikh menjawab: “Dugaan Anda salah. Saya menarik jubah supaya tidak menyentuh pakaian Anda karena jubah saya kotor, kalau tidak, jubah saya pasti mengotori pakaian Anda. Jadi bukan karena saya bermaksud menjaga jubah saya supaya tidak kotor.”
Untuk dapat ber-Uzlah dengan tepat, seseorang harus mempunyai pengetahuan agama untuk memantapkan tauhidnya, agar setan tidak menggodanya dengan bisikan-bisikannya. Ia juga harus mempunyai pengetahuan yang dapat diperolehnya dari syariat – tentang kewajibannya, sgar segala urusannya berada di atas dasar yang kokoh. Sesungguhnya, ‘uzlah adalah menjauhi sifat-sifat hina, mengubah sifat-sifat hina tersebut, bukannya amenjauhkan diri lewat jarak tempat. Itulah sebabnya mengapa lahir pertanyaan: “Siapakah orang ‘arif itu?” Mereka menjawab: “Orang yang ada dan yang jelas, yakni ada bersama makhluk, jelas namun jauh dari mereka lewt rahasianya.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : “Aku memakai pakaian sebagaimana orang banyak memakaianya, makan makanan yang seperti mereka makan. Namun aku menyendiri dari mereka dalam rahasia.” Saya mendengar ia berkata: “Ada orang yang datang kepadaku dan bertanya, ‘engkau datang dari jarak yang jauh?” saya menjawabnya, ‘Pembicaraan ini bukannya peristiwa bepergian dengan jarak dan ukuran perjalanan. Berpisahlah dari diri Anda sendiri dalam satu langkah saja, dan Anda pasti mencapai tujuan Anda.”
Abu Yazid mengatakan : “Aku melihat Tuhan dalam mimpi, lalu aku bertanya : “Bagaimana aku musti menjumpai-Mu?” Tuhan menjawab : “Tinggalkan dirimu dan kemarilah.”
Abu Utsman al-Maghriby berkomentar: “Adalah wajar bagi seseorang yang memutuskan memisahkan diri dari kesertaan bersama sesamanya supaya bebas dari segala jenis pengingatan, kecuali pengingatan kepada Tuhan, terbebas dari semua hawa nafsu kecuali keinginan mencari ridha Tuhan, dan terbebas dari tuntutan diri akan segala sebab duniawi. Apabila tidak demikian, maka tindakannya berkhalwat hanya akan melemparkannya ke dalam cobaan atau petaka.”
Dikatakan bahwa sendiri dalam khalwat sangat dekat pada ketenangan jiwa.
Seseoarng mengunjungi Abu Bakr al-Warraq, dan sewaktu akan pulang, ia berkata: “Saya telah menemukan yang terbaik dari dunia dan akhirat dalam khalwat dan kemiskinan, dan saya telah menemukan yang terjelek dari keduanya (dunia dan akhirat) dalam pergaulan dengan manusia dan kemewahan. Ditanya tentang ‘uzlah, Abu Muhammad al-Jurairy menjawab: “’Uzlah adalah Anda masuk ke dalam kumpulan orang banyak sambil menjaga batin Anda supaya tidak diharu-biru oleh mereka. Anda menjauhkan diri dari dosa-dossa, dan batin Anda berhubungan dengan al-Haq.”
Ada yang mengatakan: “Siapa pun memlih ‘Uzlah akan mencapai kemuliannya.”
Sahl mengatakan: “Khalwat tidak sah, kecuali dengan memakan makanan halal, dan memakan makanan halal tidak sempurna kecuali menunaikan Hak Allah swt.”
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan: “Aku tidak menemukan sesuatu hal pun yang lebih baik yang dapat melahirkan keikhlasan selain kahlwat.”
Abu Abdullah ar-Ramly bekata: “Gantilah sahabat Anda dengan khalwat, makanan Anda adalah lapar, dan ucapan Anda menjadi munajat. Maka Anda akan mati atau mencapai Allah swt.”
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan: “Orang yang menyembunyikan dirinya dari sesama manusia melalui khalwat tidaklah seperti orang yang menyembunyikan dirinya dari sesamanya melalui Tuhan.”
Al-Junayd berkata : “Kesulitan dalam ‘uzlah lebih mudah diatasi ketimbang kesenangan berada bersama orang lain.” Makhul asy-Syaami mengatakan: “Memang bergaul dengan sesama manusia ada baiknya, tetapi ada rasa aman dalam ‘uzlah.”
Yahya bin Mu’adz berkata: “Keheningan adalah sahabat orang jujur.”
Abu Bakr asy-Syibly selalu mengatakan : “Rusak … rusak, wahai sahabt!” Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Abu Bakr, apa pertanda kerusakan?” Ia menjawab : “Satu dari sekian kerusakan adalah berakrab-akrab dengan orang banyak.”
Yahya bin Abu Katsir berkata: “Barangsiapa bergaul dengan orang banyak haruslah menyenangkan hati mereka, dan barangsiapa menyenangkan hati mereka, berarti telah bertindak munafik.”
Sa’id bin Harb mengatakan: “Aku berangkat menemui Malik Bin Mas’ud di Kufah, dan ia sendirian di dalam rumahnya. Aku bertanya, “Apakah Anda tidak merasa takut sendirian?” Ia menjawab : “Aku tidak menganggap bahwa seseorang yang bersama Allah swt. adalah ketakutan.”
Al-Junayd berkata: “Barangsiapa menginginkan agamanya sehat dan raga serta jiwanya tenteram, lebih baik ia memisahkan diri dari orang banyak. Sesungguhnya zaman yang penuh ketakutan, dan orang yang bijak adalah yang memiliki kesendiriannya.”
Abu Ya’qub as-Susy mengatakan: “Hanya orang-orang yang sangat kuat sajalah yang harus menyendiri. Akan halnya orang-orang seperti kita, bergaul dengan orang banyak lebih menguntungkan.”
Asy-Syibly memerintah Abu Abbas ad-Dimaghani demikian: “Praktikkan kesendirian dan hapuslah nama Anda dari khalayak, hadapkan muka Anda ke dinding sampai Anda meninggal dunia.”
Seseorang menemui Syu’aib bin Harb, yang bertanya: “Mengapa Anda ke sini?” Orang tersebut menjawab : “Wahai sahabatku! Sesungguhnya ibadat tidaklah lestari lewat bergabung dengan yang lain. Seseorang yang belum menjalin kemesraan dengan Allah swt. tidak akan menjadi mesra dengan apa-pun.”
Seseorang ditanya: “Hal mengagumkan apakah yang telah Anda temukan dalam perjalanan Anda?” Ia menjawab : “AlKhidhr menjumpaiku dan ia ingin menyertaiku. Aku khawatir ia mengacaukan tawakalku kepada Allah swt.”
Salah seorang Sufi ditanya: “Adakah seseorang atau sesuatu di tempat ini yang dengannya Anda merasa akrab?” Ia menjawab : “Ada”. Dengan meletakkan Al-Qur’an di atas pangkuannya, ia menjawab : “Ini”, Berkenaan makna ucapannya itu, para Sufi membacakan baris-baris berikut:
Buku-bukumu di sekitarku
Tidak meningglakan tempat tidurku
Di dalamnya terdapat obat pelipur
Bagi sakit yang kusembunyikan.
Salah seorang Suf ditanya Dzun Nuun al-Mishry: “Kapan ‘uzlah yang tepat bagi diriku?” Ia menjawab : “Ketika Anda sanggup memisahkan diri Anda dari diri Anda sndiri.” Ditanyakan kepada Ibnul Mubarrak : “Apakah obat bagi hati yang sakit?” Ia menjawab : “Berjumpa dengans sesama manusia sejarang mungkin.”
Dikatakan : “Apabila Tuhan hendak memindahkan hamba-Nya dari kehinaan kekafiran menuju kemuliaan ketaatan, Dia menjadikannya intim dengan kesendirian, kaya dalam kesederhanaan, dan mampu melihat kekurangan dirinya. Barangsiapa telah dianugerahi semua ini berarti telah mendapatkan yang terbaik dari dunia dan akhirat.”
Taqwa
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.”
(Qs. Al-Hujarat :13).
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ak-Khudry, bahwa seseorang menghadap Nabi saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah, nsehatilah saya!.” Beliau menjawab:
“Engkau harus mempunyai ketakwaan kepada Allah, karena ketakwaan adalah kumpulan seluruh kebaikan. Engkau harus melaksanakan jihad, karena jihad adalah kerahiban kaum Muslimin. Dan engkau harus dzikir kepada Allah, karena dzikir adalah cahaya bagimu.”
(H.r. Ibnu Dharies, dari Abu Said).
Anas r.a. meriwayatkan, seseorang bertanya kepada rasulullah saw. “Siaakah keluarga Muhammad?” Beliau menjawab “Setiap orang yang takwa.”
Takwa merupakan kumpulan seluruh kebaikan, dan hakikatnya adalah seseorang melindungi dirinya dari hukum Tuhan dengan ketundukan kepada-Nya. Asal-Usul taqwa adalah menjaga dari syirik, dosa dan kejahatan, dan hal-hal yang meragukan (syubhat), serta kemudian meninggalkan hal-hal utama (yang menyenangkan).
Menurut Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a. masing-masing bagian tersebut memiliki bab tersendiri. Dan dinyatakan di dalam tafsir menganei firman Allah swt:
“Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya.”
(Qs. Ali Imran: 102)
Ayat ini mempunyai makna bahwa Dia harus dipatuhi dan tidak ditentang, diingat dan tidak dilupakan, dan bahwa kita harus bersyukur kepada-Nya, dan tidak mengufuri-Nya.
Sahl bin Abdullah menegaskan: “Tiada penolong sejati selain Allah tidak satu pun pembimbing yang sebenarnya selain Utusan Allah tak satu pun perbekalan yang mencukupi selain takwa, dan tidak satu pun amal yang langgeng keteguhannya selain bersabar.
Al-Jurairy mengatakan : “Dunia dibagi secara adil sesuai dengan cobaan, dan akhirat dibagi secara adil sesuai dengan takwa.”
AL-Jurairy mengatakan: “Orang yang belum menjadikan taqwa dan muraqabah sebagai hakim, antara dirinya dan Tuhan tidak akan memperoleh musyafah dan musyahadah.”
An-Nashr Abadzy menjelaskan: “Taqwa adalah bahwa hamba waspada terhadap segala sesuatu selain Allah swt. Barangsiapa menginginkan takwa yang sempurna, hendaknya menghindari setiap dosa. Siapa pun yang teguh dalam taqwa akan merindukan pepisahan dengan dunia, karena Allah swt berfirman:
“Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya.”
(Qs. Al-An’am :32).
Sebagian Sufi berkata: “Tuhan menjadikan berpaling dari dunia dengan mudah bagi orang yang benar-benar bertaqwa.” Abu Abdullah ar-Rudzbary mengatakan: “Takwa adalah menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menjadikan diri jauh dari Allah swt.”
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan: “Orang yang bertakwa kepada Allah adalah orang yang tidak menodai aspek lahirian dirinya dengan sikap keras kepala, tidak pula aspek batiniahnya dengan alamat-alamat keruhanian. Ia berdiri di sisi Allah dalam keadaan selaras.”
Abul Hasan al-Farisy berkata: “Takwa mempunyai dimensi lahir dan batin. Dimensi lahir adalah pelaksanaan syariah, dan aspek batinnya adalah niat dan mujahadah.”
Dzun Nuun membacakan baris-baris sejak berikut:
Tak ada kehiduan
Selain bersama mereka
Yang hatinya mendambakan takwa
Dan yang istirahat dalam dzikir
Tentram dalam ruh keyakinan
Seperti anak menyusu di pangkuan ibunya.
Dikatakan : “Takwa seseorang ditandai oleh tiga sikap yang baik : Tawakal terhadap apa yang belum dianugerahkan, berpuasa diri dengan apa yang telah dianugerahkan, dan bersabar dalam menghadapi milik yang hilang.”
Thalq bin Habib menjelaskan : “Takwa adalah bertindak sesuai dengan ketundukan kepada Allah sesuai dengan cahaya Allah swt.”
Abu Hafs mengatakan : “Takwa adalah sikap seseorang membatasi dirinya terhdap hal-hal yang jelas diperbolehkan, hanya itu.”
Abu Husyn az-Zanjany mengatakan : “Barangsiapa yang modal hartanya adalah takwa, ia akan lelah menghitung labanya.”
Al-Wasithy menegaskan: “Takwa adalah sikap seseorang menjauhi ketakwaannya; artinya menghindari kesadaran akan taqwa. Contoh orang yang bertakwa adalah Ibnu Sirin. Suatu saat Ibnu Sirin membeli empat puluh kaleng mentega. Ketika salah seorang membantunya menyingkirkan seekor tikus dari salah satu gucinya, Ibnu Sirin bertanya kepadanya, “Guci mana yang darinya tikus itu kamu singkirkan? Ia menjawab : “Saya tidak tau! Selanjutnya Ibnu Sirin memutuskan mengosongkan semua guci dengan menuang seluruh mentega ke atas tanah. Contoh orang saleh adalah Abu Yazid al-Bisthamy. Pada suatu hari ia membeli kunyit jingga di Hamadhan. Ia menjumpai hanya sedikit kunyit-jingga, dan ketika kembali ke Bistham, ditemukannya dua ekor semut di kunyit tersebut. Maka, ia kembali ke Hamadhan dan melepaskan kedua semut itu.”
Abu hanifah tidak pernah mau berteduh di bawah kerindangan pohon milik orang yang berhutang kepadanya. Ia menjelaskan, “sebuah hadis menyatakan:
“Setia hutang yang pengembaliannya disertai kelebihan adalah riba”
(Riwayat al-Ajluni, namun as-Suyuti menganggap hadis ini dha’if).
Abu Yazid sedang mencuci jubah di luar kota bersama seorang sahabat, ketika sahabatnya berkata : “Kita jemur jubah di dinding pagar kebun buah itu.” Abu Yazid menjawab : “Jangan menancapkan paku di dinding orang.!” Sahabatnya menyarankan : “Jemur saja di atas pohon.” Abu Yazid menjawab : “Aku khawatir ia akan menyebabkan cabang-cabangnya patah.” Ia berkata : “Bentangkanlah ia di atas rerumputan!” Abu Yazid menjawab : “Rerumputan itu makanan hewan ternak. Jangan kita menutupi dengan jubah ini!>” Selanjutnya, ia menghadapkan punggungnya hingga satu sisi jubahnya mengering, lantas membalik sisi yang lain hingga mengering pula.
Dikisahkan, pada suatu hari Abu Yazid memasuki masjid dan menancapkan tongkatnya ke tanah. Tongkat itu roboh dan menimpa tongkat seseorang yang berusisa lanjut, yang juga menancapkannya di tanah, dan menyebabkan tongkat orang tersebut roboh. Orang tua itu membungkuk, lalu mengambil tongkatnya. Abu Yazid pergi ke rumah orang tua tersebut dan minta maaf kepadanya, dengan mengatakan : “Anda tentu merasa terganggu disebebkan oleh kelalaian saya, ketika Anda terpaksa membungkuk.
Utbah al-Ghulam tampak bercucuran keringat di musim dingin. Ketika orang-orang di sekitarnya menanyakan hal itu kepadanya, ia memberikan penjelasan. “Ini adalah tempat di mana aku telah bermaksiat kepada Allah swt.” Ketika diminta memberikan penjelasan lebih lanjut, ia mengatakan : “Aku mengambil sebongkah lempung dari dinding ini, supaya tamuku dapat membersihkan tangan dengannya, tetapi aku tidak meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik dinding ini.”
Ibrahim bin Adham berkata: “Pada suatu malam aku menggisi waktu di bawah kubah Masjid Kubah Batu Karang di Baitul Maqdis. Di tengah malam sepi turun dua malaikat. Malaikat pertama bertanya kepada sahabatnya : “Siapakah orang yang berdiam di sini? Sahabatnya menjawab : “Ibrahim bin Adham.” Malaikat pertama itu berkata : “Inilah orang yang derajatnya telah diturunkan Allah swt. satu tingkat! Maka, Malaikat ke dua bertanya : “Mengapa? Ia menjawab : “Karena ketika ia membeli sedikit kurma di Nashrah, sebutir kurma bercampur menjadi satu dengan kurma yang dibelinya, ia tidak mengembalikan kepada pemiliknya.”
Kemudia Ibrahim melaporkan: “Aku berangkat ke Bashrah, membeli kurma dari orang tersebut, dan menjatuhkan se butir kurma ke dalam kurma-kurma miliknya. Aku kembali ke Yerusalem dan dan mengisi malam hariku di Masjid Kubah Batu Karang. Ketika sebagian malam berlalu, aku melihat dua malaikat turun dari langit, dan malaikat yang satu bertanya kepada sahabatnya: “Siapakah orang yang berdiam di sini? Sahabatnya menjawab : “Ibrahim bin Adham.”
Malaikat yang bertanya berkata lagi: “Ini adalah orang yang telah dikembalikan dan dinaikan derajatnya oleh Allah swt.”
Dikatakan bahwa takwa mempunyai bermacam-macam aspek bagi kaum awam taqwa adalah menghindari syirik, bagi kaum terpilih (khawash) adalah menghindari dosa-dosa, bagi para auliya’ adalah menghindari ketergantungan pada amal, dan bagi para Nabi menghindari menisbatkan amal kepada selain Allah swt. Sebab taqwa mereka datang dari-Nya dan kembali kepada-Nya.
Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib r.a. berkata: “Kaum termulia di dalam dunia adalah kaum dermawan dan yang paling mulia di akhirat adalah kaum yang taqwa.”
Diriwayatkan oleh Abu Umamah, bahwa Nabi. Saw. menegaskan:
“Apabila seseorang menatap kecantikan seorang wanita dan kemudian menundukkan matanya setelah tatapan pertama, maka Allah menjadikan tindakannya itu suatu ibadat yang rasa manisnya dirasakan oleh hati orang yang melakukannya.”
(Hr. Ahmad dalam Musnad-nya).
Al-Junayd sedang duduk-duduk bersama Ruwaym, Al-Jurairy dan Ibnu Atha’. Al-Junayd berkata : “Seseorrang tidak akan selamat kecuali bila berlindung secara ikhlas kepada Allah.”
Allah swt. berfirman:
“Dan terhadap tiga orang yang tidak ikut serta (berjihad), hingga ketika bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
(Qs. At-Taubah :118).
“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa kaena kemenagan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.”
(Qs. Az-Zumar :61).
Al-Jurairy berkata : “Seseorang akan selamat hanya dengan tekun beribadat.
Allah swt. berfirman:
“…. (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.”
(Qs. Ar-Ra’ad :20).
Ibnu Atha’ menegaskan : “Seseorang akan tidak selamat kecuali dengan sikap malunya di hadapan Allah swt.
Allah swt. berfirman:
“Tidakkah ia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya.”
(Qs. Al’Alaq :14).
“Bahwa sanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.”
(Qs. Al-Anbiya :101).
Dikatakan, seseorang tidak akan selamat kecuali dengan pilihan yang telah ditetapkan atas dirinya.
Allah swt. berfirman:
“Dan kami telah memilih mereka (untuk menjadi Nabi-nabi dan Rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”
(Qs. Al-An’am :87).
Wara’
Diriwayatkan oleh bu Dzar al-Ghiffary, (Abu Dzar adalah Jundub bin Junadah al-Ghiffary (wafat 23 H/652 M.) dari bagi Ghiffar, seorang sahabt yang telah dulu masuk Islam. Beliau sangat jujur dan memiliki keteladanan. Tinggal di Damaskus), bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Sebagian dari kebaikan tindakan keIslaman seseorang adalah bahwa ia menjauhi segala sesuatu yang tidak berarti.”
(H.r. Malik Bin Anas, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Syeikh Abu Ali ad.daqqaq mengatakan: “Wara’ adalah meninggalkan apa pun yang syubhat.” Dmikian pula, Ibrahim bin Adham memberika penjelasan: “Wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu yang tidak berarti, dan apa pun yang berlebihan.”
Abu Bakr ash.Shiddiq r.a. berkata: “Kami dahulu selalu meninggalkan tujuhpuluh perkara yang termasuk ke dalam hal-hal yang dihalalkan, karena khawatir terjerumus ke dalam satu hal yang haram.”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:
“Bersikaplah wara’, dan kamu akam menjadi orang yang paling taat beribadat di antara ummat manusia.”
(H.r. Ibnu Majah, Thabrani dan Baihaqi).
As. Saru berkata : “Terdapat empat orang yang wara’ di zaman mereka : Hudzaifah al-Murta’isy, Yusuf bin Asbat, Ibrahim bin Adham dan Sulaiman al-Khawwas. Mereka bersikap wara’. Dan apabia usaha untuk mendapatkan sesuatu yang halal begitu sulit bagi mereka, mereka mencarinya seminimal mungkin.”
Asy-Syibli berkomentar : “Wara’ adalah sikap menjauhi segala sesuatu selain Allah swt.”
Ishaq bin Khalaf mengatakan: “Wara’ dalam bicara lebih sulit ketimbang menjauhi emas dan perak, dan zuhud dari kekuasaan lebih sulit ketimbang menyerahkan emas dan perak, karena Anda siap mengorbankan emas dan perak demi kekuasaan.”
Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan: “Wara’ adalah titik tolak zuhud, sebagaimana sikap puas terhadap apa yang ada adalah bagian utama dari ridha.”
Abu Utsman mengatakan : “Pahala bagi wara’ adalah kemudahan penghitungan amal di akhirat.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Wara’ adalah berpangku pada batas ilmu tanpa menakwilkannya.”
Dikatakan : “Sekeping uang loga kecil milik Abdullah bin Marwan jatuh ke dalam sebuah sumur yang berisi kotoran, lalu ia meminta bantuan seseorang untuk mengambilnya dengan membayarnya tiga belas dinar. Ketika seseorang bertanya kepadanya, ia memberikan penjelasan : Nama Allah swt. tertera pada uang itu.”
Yahya bin Mu’adz menegaskan : “Ada dua jenis wara’ : Wara’ dalam pengertian dzahir, yaitu sikap yang mengisyaratkan bahwa tidak ada satu tindakan pun selain karena Allah swt. dan wara’ dalam pengertian batin, yaitu sikap yang mengisyaratkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang memasuki hati Anda kecuali Allah swt.”
Ia juga berkata : “Orang yang tidak memeriksa dan meahami seluk beluk wara’ tidak akan mendapatkan anugerah.”
Dikatakan : “Orang yang pandangan atas agama jeli, akan memperoleh peringkat yang tinggi di Hari Kebangkitan”
Yunus bin Ubaid mengatakan : Wara’ berarti keluar dari segala syubhat, dan merefleksikan diri dalam setiap pandangan.”
Sufyan ats-tsaury berkomentar : “Aku belum pernah melihat sesuatu yang mudah selain wara’. Apap pun yang diinginkan oleh hawa nafsu Anda, tinggalkanlah!.”
Ma’ruf al-Karkhy mengajarkan : “Jagalah lidah Anda dari pujian, sebagaimana Anda menjaganya dari cacian.”
Bisyr ibnul Harits berkata : “Hal-hal paling sulit untuk dilaksanakan, ada tiga : Dermawan di masa-masa sulit, wara’ adalah khalwat, dan menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang Anda takuti dan Anda jadikan harapan.
Saudara wanita Bisyr al-Hafi mengunjungi Ahmad bin Hanbal dan memberitahukan kepadanya: “Kami sedang memintal di atas atap rumha, ketika obor kaum Dzahiriyah berlalu dan cahayanya menyinari kami. Apakah diperbolehkan bagi kami memintal di dekat cahaya mereka?” Ahmad bertanya : “Siapakah Anda, (semoga Allah menjaga kesehatan Anda)?” Ia menjawab : “Saya adalah saudara wanita Bisyr al-Hafi.” Ahmad menangis, lau berkata, “Wara’ yang jujur muncul dari keluarga Anda. Jangan memintal di dekat cahaya itu!.”
Ali al-Atthar berkata : “Suatu ketika aku sedang berjalan melewati Bashrah melintasi sebuah jalan, dan aku melihat beberapa orang Syeikh sedan duduk, sementara beberapa pemuda bermain di dekatnya. Oleh karena itu aku bertanya kepada mereka, ‘Apakah Anda sekalian tidak malu bermain di depan Syeikh-Syeikh ini? Salah seorang pemuda tersebut menjawab, ‘Wara’ para syeikh ini demikian kecil sehingga kami memandang kecil mereka.”
Dikatakan bahwa Malik Bin Dinar tinggal di Bashrah selama empatpuluh tahun, ia tidak pernah memakan kurma kering maupun yang masih segar dari kota tersebut. Sampai saat musim berlalu, ia berkata, ‘Wahai penduduk Bashrah, inilah perutku, tidak kurang juga tidak pernah bertambah!.”
Seseorang bertanya kepada Ibrahim bin Adham, “Mengapa Anda tidak minum Zam-zam?” Ia menjawab : “Apabila aku mempunyai timba, aku akan meminumnya.”
Apabila al-Harits al-Muhasiby mengambil makanan yang syubhat, maka urat di ujung jarinya berdenyut, dan ia menganggap bahwa makanan tersebut syubhat.
Suatu ketika Bisyr al-Hafi diundang ke jamuan makan, dan dihidangkan makanan di depannya. Ia hendak menyantap makanan itu, tetapi tangannya tidak dapat digerakkan, Ia berusaha menggerakkannya hingga tiga kali. Seseorang yang akrab dengan situasi ini mengatakan : “Tangannya tidak pernah mengambil makanan yang syubhat. Percuma saja tuan mengundang Syeikh ini.”
Ketika Sahl bin Abdullah ditanya tentang halal yang murni, ia menjawab : “Yaitu yang di dalamnya tidak pernah dicampuri maksiat kepada Allah swt. Dan Halal yang murni adalah yang Allah tidak dilupakan di dalamnya.”
Hasan al-Bashry memasuki Mekkah, ia melihat salah seorang keturunan Ali bin Abi Thalib r.a. bersandar ke Ka’bah dan berceramah di hadapan sekumpulan orang. Hasan bergegas menghampirinya, lalu bertanya : “Siapakah yang menguasai agama-agama?” Ia menjawab : “Orang wara’.” Hasan bertanya lagi : “Apakah yang merusak agama?” Ia menjawab : “Kesereakahan.” Maka Hasan mengaguminya, seraya berkata : “Bobot sebutir wara’ yang cacat adalah lebih baik ketimbang bobot seribu hari berpuasa dan shalat,”
Abu Hurairah mengatakan : “Sahabat-sahabt dalam majelis Allah swt, di akhirat adalah orang-orang yang wara’ dan zuhud.”
Sahl bin Abdullah berkata : “Apabila wara’ tidak menyertai seseorang, ia tidak akan pernah merasa kenyang, sekalipun diwajibkan baginya makan kepala gajah.”
Sedikit minyak kasturi yang berasal dari rampasan perang dibawa ke hadapan Umar bin Abdul Aziz. Katanya : “Manfaat satu-satunya adalah aroma keharumannya, dan aku tiak ingin hanya diriku sendiri yang mencium aromanya, sementara seluruh kaum Muslim tidak berbagi mambauinya.”
Ketika ditanya tentang wara’ Abu Utsman al-Hiry berkata : “Abu Shalih Hamdunal al-Washshar berada bersama salah seorang sahabatnya yang sedang menjelang maut. Orang tersebut meninggal, dan Abu Shalih memadamkan lampu. Seseorang bertanya kepadanya tentang hal ini, lalu ia mengatakan. “Sampai sekarang minyak yang di dalam lampu ini menjadi milik para ahli warisnya. Carilah minyak yang bukan miliknya!.”
Hamisan berkata : “Aku meratapi dosaku selama empatpuluh tahun. Salah seorang sauddara mengunjungiku, dan kubelikan sepotong ikan rebus untuknya. Ketika ia selessai memakannya, aku mengambil sebongkah lempung dinding milik tetanggaku, sampai ia dapat membersihkan tangannya, dan aku belum meminta haalnya.”
Seseorang sedang menulis suatu catatan saat ia tinggal di sebuah rumah swa dan ingin mengeringkan tulisannya dengan debu yang dapat diperoleh dari dinign rumah tersebut. Ia teringat bahwa rumah yang ditempatinya adalah ruamh sewa, akan tetapi ia bependapat bahwa hal itu tidaklah penting. Karenanya, ia pun menegeringkan tulisan tersebut dengan debu. Kemudian ia mendengar sebuah suara mengatakan : “Orang meremehkan debu akan melihat betapa lama perhitungan amalnya kelak.”
Ahmad bin Hanbal – semoga Allah melimpahkan kasih sayang kepadanya – menggadaikan sebuah ember kepada seorang penjual bahan makanan di Mekkah. Ketika ingin menebusnya, penjual bahan makanan tersebut mengeluarkan dua ember, sembari mengatakan “Ambillah, yang mana ember milik Anda.?” Ahmad menjawab : “Saya ragu. Oleh karena itu, simpan saja, baik kedua meber maupun uang itu untuk Anda!” Penjual makanan tersebut memberi tahu, “Inilah ember Anda. Saya hanya ingin menguji Anda.” Ahmad menyahut : “Saya tidak akan mengambilnya.” Lalu pergi, dengan meninggalkan ember kepunyaannya kepada si penjual bahan makanan.
Sayyab Ibnul Mubarak membiarkan kudanya yang mahal berkeliaran dengan bebas ketika ia sedang melkukan shalat dzuhur. Kuda tersebut merumput di ladang milik Kepala Desa. Akhirnya, Ibnul Mubarak meninggalkan kuda tersebut dengan tidak mengandarainya. Dikatakan bahwa Ibnul Mubarak sutu ketika pergi pulang dari Marw ke Syria, gara-gara telah meminjam sebuah pena dan lupa mengembalikannya.
An-Nakha’y menyewa seekor kuda. Ketika cambuknya terlepas dari tangan dan jatuh, ia pun turun seraya mengikat kudanya, dan berjalan untuk memungut cambuk tersebut. Seseoang berkomentar, “Akan lebih mudah sandainya Anda mengendalikan kuda Anda menuju tempat di mana cambuk itu jatuh dan kemudain mengambilnya.” An-Nakha’y menyahut : “Aku menyewa kuda itu untuk pergi ke arah sana, bukan ke arah sini.”
Abu Bakr ad-Daqqaq berkata : “Aku berkelana di padang belantara bani Israil selama limabelas hari, dan ketika tiba di sebuah jalan, seorang prajurit menemuiku dan memberi seteguk air minum. Air itu menumbuhkan penderitaan dalam hatiku, dan aku menderita selama tigapuluh tahun.”
Rabi’ah Adawiyah menjahit bajunya yang sobek di dekat lampu sultan, tiba-tiba ia tersentak den kemudian sadar. Maka, Rabi’ah pun menyobek pakaiannya, dan menemukan hatinya.
Sufyan ats-tsaury suatu ketika bermimpi mempunyai sepasang sayap yang dapat digunakan untk terbang ke surga. Kemudian ia ditanya : “Dengan apa hingga Anda dianugerahi ini?” Dijawabnya : “Wara.”
Ketika Hissan bin Abi Sinan menghampiri murid-murid al-Hasan, ia bertanya : “Hal apakah yang paling sulit bagi Anda?” Mereka menjawab : “Wara”, IA berkata : “Tiada sesuatu yag paling mudah bagiku selain ini (wara’). Mereka bertanya : “Mengapa demikina?” Hissan bin Abi Sinan menanggapi : “Aku belum pernah minum air dari mata air milik Anda semua selama empatpuluh tahun.”
Hissan bin Abi Sinan tidak tidur terlentang atau makan-makanan berlemak atau minum air dingin selama empat puluh tahun. Seseorang bermimpi bertemu dengan Hissan bin Abi Sinan, lalu bertanya kepadanya tentang apa yang telah Allah lakukan atas dirinya. Dijelaskan oleh Hissan bin Abi Sinan : “Baik, kecuali bahwa pintu surga tertutup bagiku, karena jarum yang pernah kupinjam belum ku kembalikan.”
Badul Wahid bin Zaid mempunyai seorang pembantu rumah tangga yang bekerja kepadanya selama bertahun-tahun dan beribadah secara khusyu’ selama empat puluh tahun. Sebelumnya ia adalah seorang penimbang gandum. Dan ketika ia meninggal, seseorang bermimpi bertemu dengannya. Ditanya tentang apa yang telah Allah lakukan atas dirinya?” Dijawabnya : “Baik, kecuali bahwa aku dihalangi memasuki pintu surga, disebabkan oleh debu pada timbangan gandum yang dengannya aku menimbang empatpuluh porsi gandum.
Ketika Isa putra Maryam a.s. melewati sebuah makam, seseorang berteriak dari dalam kuburnya. Allah swt. menghidupkannya kembali dan Isa bertanya kepadanya : “Siapakah Anda? Ia menjawab : “Aku adalah seorang kuli, dan pada suatu hari, saat aku mengantarkan kayu bakar untuk seseorang, aku mematahkan sepotong kayu kecil. Sejak aku meninggal, aku dianggap bertanggung jawab atas hal itu.”
Abu Sa’id al-Kharraz berbicara tentang wara’, ketika Abbas bin la-Muhtadi berlalu didhadapannya. IA bertanya : “Wahai Abu Sa’id, apakah anda tidak mempunyai rasa malu? Anda duduk di bawah atap Abu ad-Dawaniq, minum dari penampungan air Zubaydah, berniaga dengan riba, tetapi berbicara tentang wara’.
Zuhud
Nabi saw. bersabda:
“Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang telah dianugerahi zuhud berkenaan dengan dunia dan ucapan, maka dekatilah ia, karena ia dibimbing oleh hikmah.”
(H.r. Abu Khallad dan di-Takhrij oleh Abu Nu’im dan Baihaqi).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : “Pada umumnya banyak orang berbeda pendapat berkenaan dengan zuhud. Sementara orang ada yang mengatakan, ‘Zuhud bersangkutan dengan perkara yang haram saja, sebab perkara yang halal diterima Allah swt. Apabila Allah swt. memberikan berkat kepada hamba-Nya berupa harta yang halal dan hamba itu bersyukur kepada-Nya atas berkat itu, maka ia meninggalkan menurut upayanya, tanpa harus mengajukan hak izin untuk mengekangnya.”
Sebagian yang lain mengatakan : “Zuhud terhadap perkara yang haram adalah suatu kewajiban, sementara zuhud terhadap perkara yang halal adalah suatu keutamaan. Apabila hamba yang berzuhud miskin, tetapi sabar terhadap keadaannya, bersyukur serta merasa puas atas segala sesuatu yang telah dianugerahkan Allah swt. kepadanya maka hal itu lebih baik ketimbang berusaha menimbun kekayaan berlimpah di dunia.”
Alalh swt. telah menghimbau ummat manusia untuk bersikap zuhud berkenaan dengan pemerolehan kekayaan, melalui firmannya:
“Katakanlah, Kesenangandi dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa.”
(Qs. An-Nisa’:77).
Banyak ayat lainnya yang dapat dijumpai berkenaan dengan tidak berharganya dunia dan seruan untuk bersikap zuhud terhadapnya.
Sebagian orang yang mengatakan : “Apabila seorang hamba membelanjakan harta dalam ketaatan kepada Allah swt. bersabar, dan tiak mengajukan keberatan terhadap larangan-larangan syariat untuk dilakukannya dalam menghadapi kesulitan hidup, maka adalah lebh baik baginya bersikap zuhud terhadap harta yang dihalalkan.”
Sebagian yang lain berkomentar : “Seyogyanya bagi seorang hamba memutuskan untuk tidak memilih meninggalkan yang halal dengan bebannya, dan tidak pula berusaha memenuhi keperluan-keperluannya harta yang halal, ia harus bersyukur kepada-Nya. Apabila Allah swt menentukan dirinya berada pada batas kecukupan hidup, maka hendaknya tidak memaksakan diri mencari kemewahan, karena kesabaran merupakan suatu yang paling utama bagi pemilik harta yang halal.”
Sofyan ats.Tsauri berkata : “Zuhud terhadap dunia adalah membtasai keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar.
Saru as-Saqathy menegaskan : “Allah SWT. menjauhkan dunia dari para auliya’-Nya, menjauhkan dari makhluk-makhluk-Nya yang berhati suci, dan menjauhkannya dari hati mereka yang dicintai-Nya lantaran Dia tidak memperuntukkannya bagi merak.”
Zuhud disinggung secara tidak langsung di dalam firman-Nya:
(“Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
(Qs. Al-Hadid :23).
Sebab sang hamba tidak gembira atas apa yang dimilikinya di dunia, dan tidak pula bersedih atas apa yang tiada dimilikinya.
Abu Utsman berkata : “Zuhud alah hendaknya Anda meninggalkan dunia dan kemudian tidak peduli dengan mereka yang mengambilnya.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan: “Zuhud adaah hendaknya Anda meninggalkan dunia sebagaimana adanya ia, bukan berkata “Aku akan membangun pondok Sufi (ribath) atau mendirikan masjid.”
Yahya bin Mu’adz mengatakan : “Zuhud menyebabkan kedermawwanan berkenaan dengan hak milik, dan cinta yang mengantarkan pada semangat kedermawanan.”
Ibnul Jalla’ berkomentar : “Zuhud adalah sikap Anda memandang dunia ini hina di mata Anda, maka berpaling darinya akan menjadi mudah bagi diri Anda.”
Ibu Khafif berkata : “Pertanda zuhud adalah adanya sikap tenang ketika berpisah dari harta milik.” Dikatakannya pula : “Zuhud adalah ketidak senangan jiwa pada dunia, dan melepaskan urusan hak milik itu.”
An-Nashr Abadzy berkata : “Orang zuhud selalu asing di dunia dan seorang ahli ma’rifat )’arif) adalah orang asing di akhirat.”
Dikatakan : “Bagi orang yang benar-benar bersikap zuhud, dunia akan menyerahkan diri kepadanya dengan penuh kerendahan dan kehinaan.” Oleh sebab itu, dikatakan : “Apabila sebuah topi jatuh dari langit, ia akan jatuh di atas kepala seseorang yang tidak menghendakinya.”
Al-Junayd mengajarkan : “Zuhud adalah kekosongan hati dari sesuatu yang tangan tidak memilikinya.”
Ulama salaf berbeda pendapat soal zuhud. Sufyan ats-Tsaury; Ahmad bin Hanbal; Isa bin Yunus dan lain-lainnya menegaskan bahwa zuhud di dunia berarti membatasi angan-angan dan keinginan. Ungkapan sebagaimana mereka tegaskan, cenderung dipahami sebagai faktor-faktor penyebab zuhud, sekaligus sebgai faktor pembangkit zuhud dan makna esensial yang mencakup disiplin zuhud itu sendiri.
Abdullah ibnul Mubarak berkomentar : “Zuhud adalah tawakkal kepada Alalh swt. dipadu dengan kecintaan kepada kefakiran.
Syaqiq al-Balkhy dan Yusuf bin Asbat juga mengatakan demikian. Jadi, ini juga merupakan satu dari tanda-tandan zuhud, lantaran si hamba tidak mampu merelakan kecuali dengan tawakkal kepada Allah swt.
Abdul Wahid bin Zaid memberikan penjelasan : “Zuhud, adalah menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan Anda dari Allah swt.”
Ketika AL-Junayd bertanya soal zuhud, Ruwaym menjawab, “Zuhud adalah meremehkan dunia dan menghapus bekas-bekasnya dari hati.”
As-Sary berkata : “Kehidupan seorang zahid tidak akan baik apabila dirinya terpalingkan dari kepedulian terhadap jiwanya, dan kehidupan seorang ‘arif tidak akan baik apabila terlalu mementingkan jiwanya.”
Al-Junayd berkata : “Zuhud adalah mengosongkan tangan dari harta dan mengosongkan hati dari kelatahan.”
Ditanya tentagn zuhud, asy-Syibli menjawab : “Zuhud adalah hendaknya Anda menjauhkan diri dari segala sessuatu selain Allah swt.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Tidak akan sempurna zuhud seseorang, kecuali memiliki tiga karakter ini : Berbuat tanpa diserta keterikatan, berbicara tanpa disetai ambisi, dan kemudian tanpa adanya kekuasaan atas orang lain.”
Abu Hafs mengatakan : “Tidak ada zuhud kecuali dalam perkara yang halal, dan di dunia ini tiada yang halal, karena tiada pula zuhud.”
Abu Utsman berkata : “Allah swt. memberi seorang zahid sesuatu lebih daripada sekedar yang diinginkannya, dan Dia memberikan sesuatu kepada hamba yang dicintai-Nya kurang dari yang ia inginkan, Dia memberi hamba yang mustqim sesuai yang diinginkannya.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Orang zuhud adalah yang mengusik hidung Anda dengan bau cuka, tetapi kaum ‘arif menyebarkan keharuman minyak kasturi.”
Hasan al-Bashry berkata : “Zuhud di dunia, hendaknya Anda membenci muatan dan pendukungnya.”
Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun al-Mishry : “Kapan aya dapat menjauhkan diri dari dunia?” Daun Nuun menjawab : “Ketika Anda menjauhkan diri dari Nafsu.”
Muhammad ibnul Fadhl mengatakan : “Sikap memprioritaskan orang lain bagi kaum zuhud adalah pada waktu mereka berkecukupan, sedangkan kaum ksatria adalah pada waktu sangat membutuhkan.”
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”
(Qs. Al-Hasyr : 9).
Al-Kattany mengatakan : “Sesuatu yang tidak ditentang oleh orang Kufah, tidak oleh orang Madinah, orang Irak, juga tidak oleh orang Syria, adalah zuhud terhadap dunia, kedermawanan dan berdoa supaya ummat manusia mendapatkan kebaikan.” Artinya, tidak seorang pun yang mengatakan bahwa hal-hal ini tidak terpuji.”
Seseorang bertanya kepada Yahya bin Mu’adz : “Bilakah saya akan memasuki kedai tawakal, mengenakan jubah zuhud dan duduk dalam majelis bersama kaum zuhud?” Yahya menjawab : “Ketika Anda tiba pada suatu keadaan dalam olah ruhani (riyadhah) dalam diri Anda secara rahasia, sehingga sampai pada batas ketika Allah memutuskan rezeki kepada Anda sebelum tiga hari tidak merasakan lemah. Tetapi apabila tujuan ini tidak tercapai, maka duduk di atas karpet kaum zuhud hanyalah kebodohan, dan saya tidak dapat menjamin bahwa diri Anda tidak akan terhinakan di tengah-tengah mereka.”
Bisyr al-Hafi menegaskan : “Zuhud adalah seorang raja yang tidak menempati suatu tempat selain hati yang kosong.”
Muhammad ibnul Asy’ats al-Bikandy berkata : “Barangssiapa berbicara tentang zuhud dan menyeru manusia kepada zuhud disamping juga menginginkan sesuatu yang mereka miliki, maka Allah swt. akan melepaskan kecintaan pada akhirat dari hatinya.”
Dikatakan : “Manakala seoarang hamba menjauhkan diri dari dunia, maka Allah swt. mempercayakan dirinya kepada malaikat yang menanamkan kebijaksanaan di dalam hatinya.”
Seorang ‘Sufi ditanya : “Mengapa Anda menolak dunia>” Ia menjawab : “Karena ia telah menolakku.”
Ahmad bin Hanbal memberikan penjelasan : “Ada tiga macam zuhud : Bersumpah menjauhi perkara yang haram adalah zuhud kaum awam Bersumpah menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam perkara yang halal adalah zuhud kaum terpilih (Khawash), dan bersumpah menjauhi apa pun yang memalingkan sang hamba dari Allah swt. adalah zuhud kaum ‘Arifin.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan : “Salah seorang Sufi ditanya : “Mengapa Anda menolak dunia ?” Dijawab sang Sufi : “Karena aku menarik diri dari kemewahan dan menolak menginginkannya barang sedikit pun.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Dunia ini bagaikan pengantin wanita. Orang yang menerimanya akan membelai rambutnya penuh kelembutan. Sedang bagi si zahid, di dalamnya akan tampak kusam, mengacak-acak rambutnya, dan membakar gaunnya. Kaum ‘Arifin, senantiasa sibuk dengan Allah swt. tidak sedikit pun menoleh pada sang pengantin wanita.”
As-Sary berkata : “Aku melaksanakan seluruh aturan zuhud dan dianugerahi segala sesuatu yang kuminta dalam doa, keculai zuhud terhadap masyarakat. Aku belum mencapai ini, dan aku pun belum sanggup menanggungnya.”
Dikatakan : “ Kaum zuhud teleh mengucilkan diri dan berkumpul hanya dengan sesama mereka saja, sebab mereka menjauhi nikmat-nikmat sementara, demi nikmat-nikmat yang abadi.”
An-Nashr Abadzy berkomentar : “Zuhud adalah memelihara darah kaum zahidin dan menumpahkan darah kaum ‘Arifin.”
Hatim al-Asham mengatakan : “Kaum zuhud menghabiskan isi dompetnya sebelum dirinya, dan orang yang berperilaku zuhud menghabiskan dirinya sebelum dompetnya.”
Al-Fudhailbin ‘Iyadh berkata : “Allah swt. menempatkan seluruh kejahatan dalam satu rumah dan menjadikan kecintaan kepada dunia sebagai kuncinya. Dia amenempatkan seluruh kebaikan di rumah yang lain dan menjadikan zuhud sebagai kuncinya.
Diam
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah menghomati tamunya. Dan barangsiapa beriman Kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
(H.r. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud).
Dari Abu Umamah, bahwasanya ‘Uqbah bin ‘Amir bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”
Beliau menjawab: “Jagalah lidahmu, berpuaslah dengan rumahmu, dan menangislah untuk dosa-dosamu.”
(Hr.Tirmidzi).
Syeikh ad.Daqqaq berkata : “Diam mencerminkan rasa aman dan merupakan aturan yang mesti dilaksanakan penyesalan akan mengikutinya apabila orang terpaksa mencegahnya. Seharusnya dalam diam, mempertimbangkan di dalamnya hukum syara’, perintah-perintah dan larangan-larangan harus dipatuhi di dalam sikap diam. Dalam waktu yang tepat adalah termasuk siffat para tokoh. Begitu pun bicara pada tempatnya merupakan karakter yang mulia.”
Selanjutnya Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan: “Barangsiapa menahan diri untuk mengucapkan kebenaran dalah setan yang bisu.”
Diam adalah salah satu sikap yang layak dalam menghadiri majelis Sufi, karena Allah swt. berfirman:
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rakhmat.”
(Qs. Al-A’raf :204).
Dan Allah swt. menjelaskan pertemuan jin dan Rasul saw. Firman-Nya:
“ ….. maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”
(Qs. Al-Ahqaf :29).
Allah swt. berfirman:
“…… dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.”
(Qs. Thaaha :108).
Betapa besar perbedaan antara seorang hamba yang diam, menjaga dirinya dari kebohongan dan fitnah, dengan hamba yang diam karena takut kepada raja yang menakutkan. Mengenai makna pernyataan ini, dibacakan baris-baris syair berikut ini:
Aku merenung, apa yang akan kukatakan saat kita berpisah
Dan terus menerus kusempurnakan ucapan hiba
Tiba-tiba kulupakan ketika kita berjumpa
Dan, kalau toh aku bicara, kuucapkan kata-kata hampa.
Para Sufi juga mendendangkan nada-nada ini:
Betapa banyak kata-kata yang inginn kuucurahkan padamu
Hingga ketika kesempatan bertemu denganmu
Segalanya jadi kelu.
Juga baris berikut ini:
Kulihat bicara menghiasi orang muda
Sedang diam adalah paling baik bagi yang tenang
Karenanya, betapa banyak huruf yang membawa maut
Dan betapa banyak pembicara yang berangan
Seandainya ia bisa DIAM.
Ada dua jenis diam : Diam lahir dan diam batin. Hati orang gyang tawakal adalah diam pada ketentuan rezeki yang diberikan. Sedang orang arif, hatinya diam untuk berhadapan dengan ketentuan melalui sifat keselarasan. Yang pertama adalah dengan senantiasa memperbagus pebuatannya secara kokoh, dan yang kedua, adalah merasa puas terhadap semua yang ditetapkan oleh-Nya.
Alasan untuk diam boleh jadi merupakan ketakjuban yang disebabkan oleh pemahaman secara mendadak, lantaran apabila masalah tertentu tiba-tiba tampak jelas, maka kata-kata menjadi bisu dan tidak ada kefasihan maupun ucapan. Dalam situasi seperti ini, kesaksian terhapuskan dan tidak dijumpai baik pengetahuan maupun penginderaan.
Allah saw. berfirman:
“(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan pra Rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), ‘Apa jawaban kamu terhadap (seruan)mu?” Para Rasul menjawab, ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu)”
(Qs. Al-Maidah :109).
Prioritas dalam mujahadah adalah diam, sebab mereka mengetahui bahaya yang terkandung dalam kata-kata. Mereka juga menyadari bahaya nafsu bicara, memamerkan sifat-sifat mengundang pujian manusia dan ambisi untuk meraih popularitas di kalangan sejawatnya karena keindahan tutur katanya.
Mereka menyadari bahwa ini semua termasuk dalam kelemahan-kelemahan manusia. Ini merupakan gambaran orang yang terlibat dalam olah ruhani. Diam sebagai salah satu prinsip bagi aturan tahapan dan penyempurnaan akhlak.
Ketika Dawud ath-Tha’y berkeinginan tetap tinggal di rumah, ia memutukan untuk menghadiri majelis Abu Hanifah, sebab ia adalah salah seorang muridnya. Ia duduk bersama ulama yang lain, dan tidak memberikan komentar berkenan dengan masalah-masalah yang didiskusikan. Ketika jiwanya menjadi kuat dengan diam dan praktik diam yang dilakukan selama setahun, ia lalu tinggal di rumah dan memutuskan ber’uzlah.
Bisyr ibnu Harits mengajarkan : “Apabila berbicara menyenangkan Anda, diamlah. Apabila diam menyenangkan Anda , berbicaralah.”
Sahl bin Abdullah menegaskan : “Diam seorang hamba tidak akan sempurna, kecuali sesudah ia memaksakan diam atas dirinya.”
Abu Bakr al-Farisy mengatakan : “Apabila tanah kelahiran seorang hamba bukanlah diam, maka hamba tersebut akan berbicara berlebihan, meskipun tidak mempergunakan lidahnya. Diam tidak terbatas pada lidah, tetapi meliputi hati dan semua anggota badan.”
Salah seorang Sufi berkata : “Orang yag tidak menggunakan diam ketika berbicara, adalah tolol.”
Mumsyad ad-Dinawary berkata : “Orang-orang bijak mewarisi kebijaksanaan dengan diam dan kontemplasi.”
Ketika Abu Bakr al-Farisy ditanya tentang diam sirri, dijawabnya : “Diam sirri adalah menjauhkan diri dari kepedihan terhadap masa lampau dan masa depan.” Dikatakannya pula : “Apabila seorang hamba berbicara hanya mengenai sesuatu yang menyangkut kepentingannya, dan keharusan-keharusan bicaranya, maka ia termasuk diam.
Mu’az bin Jabal r.a. berkata : “Kurangilah berbicara berlebihan dengan sesama manusia dan perbanyaklah berbicara dengan Tuhanmu, mudah-mudahan hatimu akan (dapat) melihat-Nya.”
Dzun Nuun al-Mishry ditanya : “Di antara manusia, siapakah pelindung terbaik bagi hatinya?” Dijawab Dzun Nuun : “Yaitu orang yang paling mampu menguasai lidahnya.”
Ibnu ma’ud berkata : “Tidak ada sesuatu pun yang gpatut diikt berlama-lama lebih dari lidah.”
Ali bin Bukkar mencatat : “Allah menjadikan dua pintu bagi segala sesuatu, tetapi Dia menjadikan empat pintu bagi lidah, yaitu dua bibir dan dua baris gigi.”
Konon Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. (Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. adalah Abdullah bin Abi Quhaah (51 s.H – 13 H/ 573 – 634 M) Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin. Orang pertama yang masuk Islam. Lahir di Mekkah, merupakan tokoh Quraisy. Beliau memerangi orang murtad dan membuka syria dan Irak), biasa engulum sebutir batu selama beberapa tahun dengan tujuan agar lebih sedikit berbicara.
Abu Hamzah al-Baghdady adalah seorang pembicara ulung. Pada suatu ketika sebuah suara menyeru kepadanya : “Engkau berbicara, dan bicaranya sangat bagus. Sekarang tinggalah bagimu untuk berdiam, sehingga engkau menjadi bagus!” Akhirnya ia tidak pernah lagi berbicara sampai wafat menjemputnya.
Manakalah asy-Syibly sedang duduk di tengah lingkaran murid-muridnya dan mereka tidak mengajukan pertanyaan, maka ia bermaksud akan mengatakan:
“Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata (apa-apa).”
(Qs.An-Naml:85).
Terkadang seseorang yang terbiasa berbicara menjadi diam, karena ada kaum Sufi yang lebih layak dari dirinya untuk berbicara.
Ibnu Sammak menuturkan, bahwa Syah al-Kirmany dan Yahya bin Mu’adz berteman, dan mereka tinggal di kota yang sama, tetapi Syah tidak menghadiri majelisnya. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab: “Sudah sepatutnya begini.” Orang-orang pun lantas mendesaknya terus hingga suatu hari al-Kirmany datang ke majelis Yahya dan duduk di pojok di mana Yahya tidak akan dapat melihatnya. Yahya pun mulai berbicara, namun secara tiba-tiba ia diam. Kemudian Yahya mengumumkan: “Ada seseorang yang dapat berbicara lebih baik dariku.” Dan ia tidak mampu melanjutkan perkataannya itu.
Maka al-Kirmany berkata : “Sudah kukatakan kepada Anda semua bahwa, adalah lebih baik jika aku tidak datang ke majelis ini.”
Terkadang seoarng pembicara memaksakan diri untuk diam karena keadaan tertentu yang ada pada salah seorang yang hadir. Barangkali seseorang gyang hadir tidak layak mendengar pembicaraan terkait, hingga Allah swt. mencegah lidah si pembicara demi ketentraman dan perlindungan dari mendengar pembicaraan itu. Shingga Allah swt. menjaganya terhadap pendengar yang bukan kompetennya.
Para Syeikh yang ahli mengenai tharikat ini telah menjelaskan, “Terkadang alasan diamnya seseoang adalah karena ada jin yang hadir, yang bukan kompetennya. Karena majelis para Sufi tidak pernah sepi dari kehadiran sekelompok jin.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan : “Suatu ketika aku jatuh sakit di Marw, dan ingin kembali ke Naisabur. Aku bermimpi bahwa sebuah suara menyeru kepadaku : “Engkau tidak dapat meninggalkan kota ini. Ada sekelompok jin yang menghadiri majelis-majelis dan mereka memperoleh manfaat dari ceramah-ceramah yang engkau berikan. Demi mereka, tinggallah di tempatmu!.”
Sala seorang ahli hikmah berkata : “Manusia diciptakan hanya dengan satu lidah, namun dianugerahi dua mata dan dua telinga, agar ia mendengar dan mau melihat lebih banyak dari berbicara.”
Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta. Ketia ia duduk, orang-orang mulai bergunjing dan memfitnah satu sama lain. Ia lalu berkata: “Kebiasaan kami adalah makan daging sesudah makan roti. Anda ini malah makan daging lebih dahulu.”
Ucapannya ini merujuk kepada firman Allah swt.:
“Maukah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepada perbuatan itu.”
(Qs. Al-Hujurat :12).
Salah seorang Sufi berkata : “Diam adalah bahasa ketabahan.”
Sebagian mereka mengatakan : “Belajarlah diam sebagaimana kamu belajar berbicara. Jika bicara menjadi pembimbingmu, maka diam menguatkanmu.”
Dikatakan : “Menjaga lisan adalah lewat diamnya.” Ada yang mengatakan : “Lisan ibarat binatang buas, jika tidak kamu ikat, akan menyerangmu.”
Abu Hafs ditanya : “Keadaan manakah yang lebih baik bagi seorang wali, diam atau berbicara?” Ia menjawab : “Jika si pembicara mengetahui ada efek negatif dari pembicaraannya, hendaklah ia tinggal diam, bila mungkin selama usia Nabi Nuh as. Tetapi jika orang yang diam mengetahui efek negatif dari diamnya, hendaklah berdoa kepada Allah swt. agar diberi waktu dua kali usia Nabi Nuh as. Agar dapat berbicara (agar bisa menunjukkan kebaikan).”
Dikatakan : “Diam bagi kaum awam dengan lidahnya; diam bagi kaum yang ma’rifat kepada Allah swt, dengan hatinya, dan diam bagi para pecinta (muhibbin) adalah menahan pikiran menyimpang yang menyelusup pada hati sanubari meraka.”
Sebagian Sufi mengisahkan : “Aku mengekang lidahku selama tigapuluh tahun, sehingga aku tidak mendengar ucapan kecuali dari kalbuku. Kemudian aku mengekang kalbuku tiga puluh tahun, sehingga tidak mendengar kalbuku kecuali ucapanku.”
Salah seorang Sufi mengatakan : “Jika lidah Anda didiamkan, maka belum tentu Anda telah diselamatkan dari kata hati Anda. Jika Anda telah menjadi batang tubuh yang kering kerontang, Anda masih belum terbebas dari kata-kata hawa nafsu Anda. Dan bahkan jika Anada berjuang dengan susah payah, jiwa Anda masih belum akan berbicara dengan Anda, sebab ia adalah tempat tersimpannya batin.”
Dikatakan : “Lidah seorang tolol adalah kunci menuju kematiannya.” Dikatakan juga : “Jika seorang pecinta berdiam diri, maka ia akan binasa, dan jika seorang ‘arif berdiam diri, ia akan berkuasa.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata : “Barangsiapa memperhitungkan kata-katanya dibanding amalnya, maka kata-katanya akan menjadi sedikit, kecuali apa yang berarti (menurut kebutuhannya).”
Khauf
Allah swt. berfirman:
“Mereka menyeru kepada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut (khauf) dan harap.”
(Qs. As-Sajdah :16).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Tidak akan masuk neraka, orang yang menangis karena takut kepada Allah swt, selama air susu masih mengalir dari susu seorang Ibu. Dan debu dari jalan Allah tidak akan pernah bercampur dengan asap api neraka pada batang hidung seorang hamba selamanya.”
(H.r. Ar-Rafu’y).
Anas r.a. meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Seandainya kamu semua tahu apa yang kuketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
(H.r. Bukhari dan Tirmidzi).
Saya katakan bahwa takut (al-khauf) adalah masalah yang berkaitan dengan kejadian yang akan datang, sebab seseorang hanya merasa takut jika apa yang dibenci tiba dan yang dicintai sirna. Dan realita demikian hanya terjadi di masa depan. Apabila dalam seketika timbul rasa takut, maka ketakutan itu tidak ada kaitannya. Takut kepada Allah swt. berarti takut pada hukum-Nya:
“Maka takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman.”
(Qs. Ali Imran :175).
Dia juga berfirman:
“Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu menyembah”
(Qs. An-Nahl :51).
Juga firman-Nya:
“mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka.”
(Qs. An-Nahl:50).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menjelaskan : Takut memliki berbagai tahapan. Yaitu, Khauf, khasyyah dan haibah.”
Khauf merupakan salah satu syarat iman dan hukum-hukumnya. Allah swt. berfirman:
“Takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman.”
(Qs. Ali Imran :75).
Sedangkan Khasyyah adalah salah satu syarat pengetahuan, karena Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para Ulama.”
(Qs. Fathir :28).
Sedangkan Haibah adalah salah satu syarat pengetahuan ma’rifat, sebab Allah swt. berfirman:
“Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)Nya.”
(Qs. Ali Imran : 28).
Abu Hafs menegaskan : “Takut adalah cambuk Allah swt. yang digunakan-Nya untuk menghukum manusia yang berontak ke luar dari ambang pintu-Nya.”
Abul Qasim al-Hakim mencatat : “Ada dua jenis takut, yaitu gentar (Rahbah) dan takut (Khasyyah). Orang yang merasa gentar mencari perlindungan dengan cara lari ketika takut, Tetapi orang yang merasa takut (khasyyah) akan berlindung kepada Allah swt.”
Memang benar kata-kata rahaba dan lari (haraba) memliki arti yang sama, sebagaimana halnya kata menarik (jadzaba) dan jabadza. Jika seseorang melarikan diri (rahaba), maka ia ditarik kepada hasratnya sendiri, seperti halnya para rahib (ruhban) yang mengikuti hasrat nafsu mereka sendiri.
Tetapi jika kendali mereka adalah pengetahuan yang didasarkan pada kebenaran hukum, maka itu adalah takut (khasyyah).
Abu Hafs berkata : “Takut adalah pelita hati, dengan takut akan tampak baik dan buruk hati seseorang.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar : “Takut adalah bahwa Anda berhenti mengemukakan dalih dengan kata-kata “seandainya” (‘asaa) dan “mungkin sekali akan” (saufa).”
Abu Umar ad-Dimasqi menegaskan : “Orang yang takut aalah yang takut akan dirinya sendiri. Lebih takut dari rasa takutnya kepada setan.”
Ibnul Jalla’ berkata : “Manusia yang takut (kepada Allah swt) adalah yang dirinya merasa aman dari hal-hal yang membuatnya takut.”
Ditanyakan kepada Ibnu ‘Iyadh. “Mengapa kita tidak pernah melihat orang-orang yang takut?” Ia menjawab : “Jika Anda termasuk orang-orang yang takut, niscaya Anda akan melihat mereka, sebab hanya orang-orang yang takut saja yang melihat orang yang takut.” Hanya Ibu yang kehilangan anaknya saja yang mau memandang kepada ibu-ibu yang berkabung.”
Yahya bin Mu’adz mengatakan : “Alangkah malangnya anak Adam. Seandainya ia takut pada neraka sebesar rasa takutnya pada kemiskinan, niscaya ia akan masuk surga.”
Syah al-Kiramny berkata “Tanda takut adalah sedih yang terus menerus.”
Abul Qaim al-Hakim berkata : “Orang yang takut kepada sesuatu akan lari darinya, tapi orang yang takut kepada Allah swt. akan lari kepada-Nya.”
Dzun Nuun al-Mishry – semoga Allah merahmatinya – ditanya, “Bilakah jalan takut menjadi mudah bagi seorang hamba?” Ia menjawab : “Apabila ia mengibaratkan dirinya dalam keadaan sakit dan menghindari dari segala sesuatu yang dikhaatirkan justru akan menjadikan penyakit berkepanjangan.”
Mu’adz bin Jabal r.a. menuturkan : “Seoang beriman tidak akan merasa tenteram, dan rasa takutnya tidak dapat ditenangkan sampai ia melewati jembatan sirathal mustaqim di atas neraka.”
Bisyr al-Hafi berkomentar : “Takut kepada Allah swt. adalah raja yang hanya bersemayam di dalam hati seorang yang saleh.”
Abu Utsman al-Hiry mengatakan : “Kekurangan yang dihadapi oleh seorang yang takut adalah justru dalam rasa takutnya.”
Al-Wasithy mengatakan : “Takut adalah tabir antara Allah swt. dan hamba.” Pernyataan ini mengandung kemusykilan, tetapi maknanya ialah bahwa seorang yang takut menunggu-nunggu saat yang akan datang, sementara “anak-anak waktu kini” tidak punya harapan akan masa depan. Sedag keutamaan orang saleh adalah dosa bagi kaum yang dekat dengan Allah swt. (Muqarrabun).”
Ahmad an-Nury menegaskan : “Seorang yang takut adalah orang yang lari dari Tuhannya kepada Tuhannya.”
Salah seorang Sufi berkata : “Tanda rasa takut adalah kebingungan dan menunggu-nunggu di pintu gerbang kegaiban.”
Ketika al-Junayd ditanya mengenai takut, ia menjawab : “Takut adalah datangnya deraan dalam setiap hembusan nafas.”
Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan : “Manakala takut telah meninggalkan hati, maka binasalah ia.”
Abu Utsman berkata : “Ketulusan dalam takut adalah wara’ lahir maupun batin.”
Dzun Nuun berkata : “Manusia akan tetap berada di jalan selama tiakut tidak tercabut dari hati, sebab jika takut telah hilang dari hati mereka, maka mereka akan tersesat.”
Hatim al-Asham menjelaskan : “Setiap sesuatu ada perhiasannya, dan perhiasan ibadat adalah takut. Tanda takut adalah membatasi keinginan.”
Seseorang mengatakan kepada Bisyr al-Hafi : “Saya lihat Anda takut mati.” Bisyr al-Hafi menjawab : “Datang ke hadirat Allah swt. adalah suatu perkara yang sangat dahsyat.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq bertutur : “Aku pergi mengunjungi Abu Bakr furak ketika ia sakit. Ketika melihatku, air matanya amengalir bercucuran. Lalu aku pun berkata kepadanya : “Semoga Allah mengembalikan kesehatanmu dan menyembuhkanmu dari sakit.” Ia memprotes : “Anda pikir aku takut mati? Sebaliknya aku takut akan apa yang ada di balik kematina.”
Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. (Aisyah putri Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. (wafat 58 H/678 M.) merupakan salah seorang wanita paling pandai di bidang agama. Beliau Istri Rasulullah saw. dan paling dicintainya. Disamping itu beliau terbanyak meriwayatkan hadis, dibanding istri-istri Rusalullah yang lain). Yang bertanya:
“Wahai Rasulullah, (sambil membaca ayat) ‘dan orang-orang yang memberikan hartanaya dengan hati penuh rasa takut (karena mereka akan kembali kepada Tuhannya)’ (Qs. Al-Mu’minun : 60-1), apakah mereka itu orang-orang yang pernah mencuri dan berzina serta minum-minuman keras? Beliau menjawab: “Bukan, mereka adalah orang-orang yang berpuasa dan shalat dan membayar zakat, namun takut kalau-kalau semua amal mereka itu tidak diterima. ‘Mereka adalah orang-orang yang bergegas pada kebajikan dan sangat berpacu (menuju kebajikan itu”’ (Qs. Al-Mu’minun :60-1).”
Abdullah ibnul Mubarak berkata : “Sesuatu yang menimbulkan rasa takut hingga bersemayam dalam hati adalah mengabadikan muraqabah secara terus menerus, baik secara lahir maupun batin.”
Ibrahim bin Syaiban berkomentar : “Manakala takut menetap dalam hati, maka obyek nafsu akan terbakar habis darinya dan hasrat atas dunia akan terusir,” Dikatakan : “Takut adalah supramasi ilmu sesuai dengan hukum-hukum.”
Dikatakan : “Takut adalah gerak kalbu dari keagungan Allah swt.”
Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan : “Seyogyanya kalbu tidak dikalahkan, kecuali oleh rasa takut. Sesungguhnya apabila harapan telah melimpah dalam kalbu, musnahlah kalbu.” Kemudian ia katakan : “Wahai Ahmad (muridnya), mereka naik melalui takut, dan jika mereka mengabaikan, mereka akan jatuh.”
Al-Wasithy menegaskan : “Takut (khauf) dan harap (raja’) adalah kendali bagi diri agar ia tidak dibiarkan dengan kesia-siaan.” Ia pun berkata : “Jika Tuhan menguasai wujud manusia yang paling dalam (sirr), maka harapan dan ketakutan tidak akan tersisa lagi. Sebab takut dan harap itu sendiri merupakan akibat-akibat belaka dari rasa indera hukum kemanusiaan.”
Al-Husain bin Manshur berkata : “Barangsiapa takut akan sesuatu selain Allah swt. atau berharap akan sesuatu selain Dia, maka semua pintu akan tertutup baginya dan rasa takut akan mendominasinya, menabiri hatinya dengan tujuhpuluh tabir, yang paling tipis diantaranya adalah keragguan. Yang membuatnya takut adalah perenungannya atas akibat-akibat nanti dan ketakutannya jika perilakunya berubah.”
Firman-Nya :
“Dan jelaslah bagi mereka azan dari Allah yang belum pernah mereka perrkirakan.”
(Qs. Az-Zumar :47).
Alalh swt. berfiman:
“Katakanlah, Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
(Q.s. Al-Kahfi :103-4).
Maka, betapa banyak orang yang akan merasa senang dengan keadaan mereka dan mereka diuji, sehingga perilakunya berbalik secara antagonis. Ketika itulah muqarabah dengan perbuatan keji, dan hudhur menjadi ghaib.
Saya sering mendengar Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a. mendendangkan syair:
Engkau duga hari-hari penuh kebaikan jika engkau baik
Tapi engkau tak pernah takut tentang takdir buruk yang bakal tiba
Malam-malam hari memberikan ketentraman kepadamu
Hingga engkau tertipu olehnya
Sesudah malam yang cerah datanglah kesedihan.
Saya mendengar Manshur bin Khalaf al-Maghriby, membacakan sebuah kisah:
“Ada dua orang yang saling menemani dalam menempuh cita-cita spiritual. Kemudian salah seorang diantaranya pergi meninggalkan sahabatnya. Seiring perjalanan waktu yang cukup lama, tidak terdengar lagi kabar berita mengenainya. Sahabat yang ditinggal pergi itu kemudian ikut berperang bersama tentara Muslim memerangi balatentara Romawi.
Dalam pertempuran itu, seorang tentara musuh yang memakai baju besi menyerang tentara Muslim dan menantang duel. Seorang ksatria Muslim maju ke depan dan tentara musuh itu membunuhnya. Kemudian maju lagi seorang ksatria Muslim, dan ia pun terbunuh. Kasatria Muslim yang ketiga maju ke depan, juga terbunuh. Kemudian majulah Sang Sufi ke depanya dan keduanya lalu terlibat dalam pertempuran. Topeng yang menutupi wajah tentara Romawi itu terlepas, dan ternyata aia adalah sahabat sang Sufi yang dulu telah menemaninya beribadah selama bertahun-tahun! Maka berserulah san Sufi : Model apa ini?”
Musuhnya menjawab : “Aku telah murtad dan menikah dengan sorang wanita dari kaum ini. Aku sudah memiliki anak-anak dan harta kekayaan.”
Sang Sufi berteriak : “Dan engkau adalah orang yang dahulu bisa membaca Al-Qur’an dengan berbagai gaya bacaannya!.”
Ia menjawab : “Satu huruf pun aku tidak ingat lagi dari padanya.”
Maka, sang Sufi lalu berkata kepadanya : “Berhentilah dari sikap perilakumu itu, bertobatlah!”
Ia menjawab dengan ketus : “Aku tidak mau, sebab aku telah memperoleh kemasyhuran dan kekayaan. Tinggalkan saja diriku, atau aku akan melakukan atas dirimu sebagaimana yang telah kulakukan terhadap ketiga orang temanmu!.”
Sang Sufi berkata : “Ketahuilah, bahwa engkau telah membunuh tiga orang Muslim. Tidak ada malu yang akan menimpamu jika kamu pergi saja dari sini. Karena itu, pergilah dan aku akan memberimu tenggang waktu!.”
Maka, orang itu pun mundur ke belakang dan berbalik. Sang Sufi mengikutinya dan membunuh dengan pedangnya. Sungguh ironis, setelah menempuh perjuangan dan disiplin spiritual yang cukup lama dan berat, orang itu akhirnya mati sebagai orang Nasrani!.”
Dikatakan : “Ketika iblis tampail sebagaimana dirinya, Jibril dan Mikail – semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada mereka – tiba-tiba menangis cukup lama hinggal Allah swt berfirman kepada mereka : “Wahai kalian berdua, mengapa menangis sedemikian itu?” Mereka menjawab : “”Wahai Tuhan kami, kami tidak merasa aman dari cobaan-Mu.” Allah swt. berfirman : “Nah, kalian berdua ternyata tidak bisa aman dari cobaan-Ku.”
Riwayat dari Sary as-Saqathy yang menjelaskan : “Aku melihat hidungku beberapa kali dalam sehari dengan cara seperti ini, karena takut hidungku menghitam karena hukuman yang kutakuti.”
Abu Hafs menuturkan : “Selama empat puluh tahun aku benar-benar yakin bahwa Allah swt. memandangku dengan murkan dan semua amal perbuatanku membuktikan hal itu.”
Hatim al-Asham menegaskan : “Janganlah kamu tertipu oleh tempat-tempat yang saleh, sebab tidak ada tempat yang lebih saleh daripada surga, dan pikirkanlah apa yang telah menimpa Adam as. Di tempat yang begitu saleh! Jangan Jangan pula kamu tertipu oleh banyaknya amal ibadat. Sebab, setelah iblis melakukan ibadat begitu lama, ternyata ia harus mengalami nasibnya seperti itu.
Juga, janganlah kamu tertipu oleh banyaknya ilmu, sebab Bal’am pun mengetahui Nama Allah Yang Teragung (Al-Ismul A’dzham), tapi lihatlah apa yag terjadi padanya? Jangan pula kamu tertipu karena bertemu dengan seorang yang saleh, sebab tidak ada orang yang takdirnya lebih agung daripada al-Musthafa Muhammad saw, sebab para kerabat dan musuh-musuhnya tidak mengambil manfaat atas perjumpaan dengannya.”
Ketika bertemu dengan sahabt-sahabtnya pada suatu hari, Ibnul Mubarak melaporkan : “Aku begitu memberanikan diri kepada Allah swt. kemarin. Dan aku benar-benar meminta surga.”
Dikatakan bahwa Isa as. Sedang bepergian, dan bersamanya ada seorang saleh dari bani Israil. Seorang yang terkenal karena kebobrokan akhlaknya, mengikuti mereka. Duduk agar jauh dari mereka berdua, ia beseru kepada Allah swt. dengan penuh kerendahan hati : “Wahai Tuhanku, ampunilah aku!”
Sedang si orang saleh berdoa : Ya Allah, bebaskan aku dari orang berdosa yang mengikuti aku ini, mulai besok pagi.” Maka Allah swt. pun mewahyukan kepada Isa as. : “Aku telah menjawab doa keda orang yang berdoa ini; telah Ku tolak doa orang yang saleh ini, dan telah Kuampuni sipendosa ini.”
Dzun Nuun al-Mishry menuturkan : “Aku bertanya kepada seorang yang alim : “Mengapa orang-orang mengatakan Anda gila?” Ia menjawab : “Ketika Dia mengusirku dari sisi-Nya untuk waktu yang lama, aku menjadi gila karena takut terpisahkan dari-Nya di akhirat.”
Mengenai makna ucapan ini, para Sufi membacakan bait-bait berikut ini:
Bahkan kalaupun aku terbuat dari batu
Niscaya aku akan meleleh
Maka, bagaimana satu makhluk
Yang terbuat dari tanah
Akan menahannya?
Salah seorang Sufi berkomentar : “Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih besar harapannya di tengah-tengah ummat ini, dan lebih takut berkenaan dengan dirinya sendiri daripada Ibnu Sirin.”
Sufyan ats-Tsauri jatuh sakit. Ketika alasan sakitnya diberitahukan kepada tabib, tabib itu berkata : “Ini adalah orang yang hatinya telah tersobek karena rasa takut.” Tabib itu datang dan memeriksa denyut nadinya, lalu berkata : “Aku tidak tahu bahwa di kalangan orang beragama ada manusia yang seperti ini.”
Syibly ditanya : “Mengapa matahari warnanya pucat ketika akan terbenam?” Ia menjawab : “Sebab matahari telah tergelincir dari tempat kesempurnaan. Ia menjadi kekuning-kuningan karena ketakutannya terhadap tahapannya sendiri. Bagi orang yang beriman, saat menjelang keberangkatannya dari dunia ini telah dekat, warna kulitnya akan menjadi pucat karena ia takut akan berdiri di hadapan Tuhannya. Dan ketika matahari terbit, ia bersinar cemerlang. Sama halnya dengan seorang beriman, ketika dibangkitkan dari kubur, ia muncul dengan wajah yang bersinar.”
Ahmad bin Hanbal r.a. berkata : “Aku memohon kepada Tuhanku swt. agar membukakan pintu takut. Dia membukakannya, dan aku pun lalu mengkhawatirkan kewarasan pikiranku. Karena itu aku beroda : “Ya Allah, anugerahkan kepadaku rasa takut sebatas yang bisa kumampui.” Kemudian ketenangan menghapus kekhawatiranku.”
Raja’
“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang.”
(Qs. Al-Ankabut :5).
Al-‘Ala’ bin Zaid menuturkan : “Aku menemui Malik bin Dinar dan menemukan Syahr bin Hausyab bersamanya. Ketika Syahr dan aku pergi meninggalkan Malik, aku berkata kepada Syahr : “Semoga Allah merahmatimu, berilah aku nasihat dan perkayalah jiwaku. Semoga Allah memberimu kekayaan!.” Ia menjawab. Dengan senang hati bibiku Ummu Darda’ menceritakan kepadaku melalui Abu Darda’, bahwa Rasulullah saw. mengabarkan bahwa sanya malaikat Jibril as. Mengatakan: “Allah swt. berfirman:
“Wahai hambaKu, selama engkau menyembahKu, berharap akan bertemu denganKu, dan tidak menyekutukan Aku, niscaya Aku akan mengampuni apa pun dosa yang tenegah engkau lakukan. Bahkan sekalipun engkau datang dengan membawa keburukan dan dosa sebesar bumi, Aku akan mengampunimu, dan tidak mempedulikan (berapa banyak dosa yang telah engkau lakukan).”
(Hr. Thabrani).
Anas bin Malik mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, bahwasanya Allah swt. berfirman (dalam hadis Qudsi):
Keluarlah dari neraka, wahai kalian yang dalam hatinya masih terdapat iman walaupun sebesar biji gandum.” Kemudian Dia akan memerintahkan : “Aku bersumpah demi keagungan-Ku, bahwa perlakuan-Ku terhadap manusia yang beriman kepada-Ku walaupun sesaat saja di siang hari ataupun malam, tidak akan sama perlakuan-Ku terhadap orang yang tidak pernah beriman kepada-Ku.”
(H.r. Bukhari – Muslim).
Harapan (Raja’) adalah keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang, sebagaimana halnya takut berkaitan dengan apa yang akan terjadi di masa datang. Karena itu, harapan berlaku bagi sesuatu yang diharapkan oleh seseorang akan terjadi. Hati menjadi hidup oleh harapan-harapan melenyapkan beban hati.
Perbedaan antara harapan dan angan-angan (tamany) adalah bahwa angan-angan membuat seseorang menjadi malas. Orang yang hanya berangan-angan sesuatu tidak akan pernah berusaha untuk membulatkan tekad (untuk mencapai apa yang diangankannya). Hal yang sebalikya juga berlaku atas diri seseorang yang memiliki harapan. Harapan adalah sifat yang terpuji, tetapi angan-angan adalah sifat tercela.
Para Sufi telah berbicara banyak tentang harapan. Syah al-Kirmany berkata : “Tanda-tanda harapan adalah tat yang baik.”
Ibnu Khubaiq menjelaskan : Ada tiga macam harapan : Ada manusia yang melakukan amal baik; dengan harapan amal perbuatannya itu akan diterima oleh Allah swt. Ada lagi orang yang melakukan amal buruk, kemudian bertobat harapannya adalah memperoleh pengampunan. Akhirnya ada orang yang tertipu diri sendiri, yang terus melakukan dosa, sambil berkata : “Aku berharap untuk memperoleh pengampunan.” Bagi orang yang tahu bahwa dirinya melakukan amal buruk, takut selayaknya lebih berkusa atas dirinya daripada harap.”
Dikatakan : “Harapan adalah mengandalkan kemurahan dari Yang Maha Pemurah dan Maha mencintai.”
Dikatakan pula : “Harapan adalah melihat kegemilangan Ilahi dengan mata keindahan.”
Juga dikatakan : “Harapan adalah kedekatan hati kepada kemurahan Tuhan.”
Dikatakan pula : “Harap adalah kesenangan hati terhadap keutamaan tobat seseorang.”
Dikatakan juga : “Harapan berarti melihat pada kasih sayang Allah swt. Yang Maha Meliputi.”
Abu Ali ar-Rudzbary berkomentar : “Takut dan harap adalah seperti sepasang sayap burung. Manakala kedua belah sayap itu seimbang, si burung pun akan terbang dengan sempurna dan seimbang. Tetapi manakala salah satunya kurang berfunsi, maka hal ini akan menjadikan si burung kehilangan kemampuannya untuk terbang. Apabila takut dan harap keduanya tidak ada, maka si burung akan terlemepar ke jurang kematiannya.”
Ahmad bin Ashim al-Anthaky ditanya : “Apakah tanda adanya harapan pada seorang hamba?” Ia menjawab : “Tandanya adalah manakala ia menerima nikmat anugerah (ihasan), ia terilhami untuk bersyukur, penuh harap akan menuhnya rahmat Allah swt. di dunia ini dan penuhnya pengampunan-Nya di akhirat.”
Abu Utsman al-Maghriby berkata : “Barangsiapa mendorong dirinya untuk berharap saja, maka ia akan terjerumus ke dalam kemalasan, dan barangsiapa mendorong dirinya kepada takut saja, maka ia akan terjerumus pada keputusasaan. Yang patut adalah, ada waktu untuk berharap dan ada waktu untuk takut; keduanya mempunyai tempatnya sendiri.”
Bakr bin Salim as-Sawwaf menuturkan : “Kami pergi mengunjungi Malik bin Anas pada petang hari menjelang kematiannya, kami bertanya : “Wahai Abu Abdullah, bagaimana keadaanmu? Ia menjawab : “Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan kepadamu selain ini : “Kamu akan melihat dengan mata kepalamu sendiri ampuna dari Allah swt. dalam ukuran yang melampaui khayalanmu.” Kami menungginya sesudah itu sampai kami menutupkan matanya setelah ia meninggal dunia.”
Yahya bin Muadz menegaskan: “Harapan yang kutaruh kepada-Mu karena berbuat dosa nyaris lebih mengalahkan daripada harapanku kepada-Mu disertao amal. Ini disebebkan, manakala aku melakukan amal baik, aku mendapat diriku mengandalkan pada ketulusanku dalam melakukannya. Tapi bagaimana aku bisa menjaga amalku dari kekurangan, sedangkan aku adalah makhluk yang bersifat penuh kekuarangan?” Sebaliknya, manakala aku melakukan dosa, aku mendapati diriku mengandalkan ampunan-Mu. Bagaimana Engkau tidak akan mengampuni dosa-dosaku, sedangkan Engkau adalah Dzat Yanga Maha Pemurah?” Beberapa orang sedang berbicara kepada Dzun Nuun al-Mishry saat menjelang ajalnya. Dzun Nuun mengajarkan kepada mereka : “Janganlah kalian memperdulikan aku, sebab aku telah terpesona oleh kelembutan Allah swt. kepada diriku.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Wahai Tuhanku, anugerahkanlah untukku yang termanis dalam hati berupa harapan kepada-Mu. Kata-kata paling sedap yang keluar dari lidahku berupa pujian kepada-Mu. Saat yang kuangap paling berharga adalah saat aku akan berjumpa dengan-Mu.”
Ditemukan dalam salah sati kitab tafsir bahwa Rasulullah saw. datag menemui para sahabat melalui pintu bani Syaibah. Beliau mendapati mereka sedang tertawa-tawa. Beliau lalu bersabda:
“Apakah kalian tertawa-tawa?” Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Beliau lalu meninggalkan mereka, kemudian kembali lagi, seraya menyampaikan wahyu. Sabdanya:
“Jibril turun membawa firman Allah swt. Beritahukanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
(Qs. Al-Hijr :49).
Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda : “Allah swt. tertawa ketika hambahamba-Nya ditimpa keputus-asaan, sedangkan rahmatnya dekat dengan mereka.” Aisyah bertanya : “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, apakah Tuhan kita swt. benar-benar tertawa? Beliau menjawab : “Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, Dia benar-benar tertawa.” Aisyah mengatakan : “Apakah Dia tidak akan menjauhkan kita dari kebaikan jika Dia tertawa.?”
Ketahuilah, bahwa tertawa adaah sifat yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Ia adalah ungkapan kemurahn-Nya. Hal ini adalah sebagaimana perkataan : “Bumi menertawakan tanaman,” (yang berarti bumi mengeluarkannya). Tertawanya Allah pada keputus asaan manusia adalah tanda anugerah-Nya, sebagai tanda kelemahan penantian para makhluk kepada-Nya.
Dikatakan, ada seorang Majusi yang meminta kepada Ibrahim as. Agar diizinkan menginap di rumahnya. Ibrahim berkata kepadanya : “Kalau kamu masuk Islam, aku mau menjadikanmu sebagai tamuku.” Orang Majusi menjawab : “Jika aku memeluk Islam, bagaimana mungkin engkau akan berbuat kebajikan kepadaku?” Kemudian sang Majusi itu berlalu, lantas Allah swt. berfirman kepada Ibrahim: “Wahai Ibrahim, engkau tidak mau memberinya makan kecuali jika ia mau mengubah agamanya? Padahal Aku memberi makanan kepadanya selama tujuhpuluh tahun, sedang ia dalam kekafirannya. Jika engkau menerimanya satu malam saja, bagaimana dengan dirimu?” Mendengar itu Ibrahim lalu mengejar si orang Majusi itu dan mengundangnya menjadi tamunya.
Ketika si orang Majusi itu bertanya kepada Nabi Ibrahim as. Mengapa berubah pikiran, beliau pun mengatakan kepada si Majusi apa yang didengarnya dari Allah swt. Si orang Majusi itu bertanya : “Beginikah cara Dia memperlakukan aku? Berikanlah Islam kepadaku!.” Lalu ia masuk Islam.
Saya mendengar Abu Bakr bin Aykib berkata : “Suatu malam aku bermimpi bertemu Abu Sahl as-Sha’luky, dengan keadaannya yang indah sekali. Aku bertanya : “Bagaimana Anda mendapatkan semuai ini?” Ia menjawab : “Dengan husnudzan-ku kepada Allah swt.”
Malik bin Dinar meriwayatkan sial mimpinya, bertemu dengan ash-Sha’luky : “Apa yang telah Allah beikan kepada Anda hingga seperti ini?” Ia menjawab : “Aku datag kepada Tuhanku swt. dengan dosa yang sangat banyak, namun Allah swt. menghapusnya lewat sangkaan baikku kepada-Nya.”
Diriwaytakan oleh Abu Huraitah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Allah swt. berfirman: “Aku adalah sebagaimana yang disangka oleh hamba-Ku, dan Aku ada bersamanya manakala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam Diri-Ku, Jika ia mengingat-Ku di tengah kumpulan orang banyak, maka Aku akan mengingatnya di tengah kumpulan yang lebih baik dari itu. Jika ia datang kepada-Ku sejarak satu jengkal, Aku akan mendatanginya sejarak satu hasta. Jika ia melangkah kepada-Ku satu hasta, Aku akan melangkah kepadanaya dua hasta. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”
(H.r. Bukhari).
Diceritakan bahwa pada suatu ketika Ibnul Mubarak sedang bertempur melawan salah seorang tentara kafir (non Arab). Ketika tiba waktunya bagi si orang kafir itu untuk sembahyang, ia meminta waktu kepada Ibnul Mubarak. Ibnul Mubarak pun membiarkannya mengerjakan ibadatnya. Ketika tentara kafir itu sedang bersujud ke matahari, Ibnu Mubarak merasakan keinginan untuk menikamnya dengan pedangnya. Namun tiba-tiba Ibnul Mubarak mendengar sebuah suara di angkasa yang berseru:
“Dan penuhilah janji sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggung jawabannya.”
(Qs. Al-Isra’ :34).
Maka Ibnul Mubarak pun menyarungkan kembali pedangnya. Ketika si penyembah berhala selesai bersembahyang, ia bertanya kepada Ibnul Mubarak : “Mengapa Anda mengurungkan niat Anda?” Ibnul Mubarak mengatakan kepadanya tentang suara yang didengarnya. Si penyembah berhala berseru : “Betapa sempurnanya Tuhan Yang memarahi wali-Nya demi membela musuh-Nya!.” Lalu ia pun masuk Islam dan menjadi seorang Muslim yang sangat baik.”
Dikatakan : “Allah menjadikan manusia melakukan dosa ketika Dia menamakan Diri-Nya “Yang Maha Pengampun”.
Dikatakan: “Seandainya Allah berfirman:
“Aku tidak akan mengampuni dosa niscaya tidak seorang Muslim pun yang akan pernah berbuat dosa. Sebab ketika Dia berfirman: “Allah tidak akan mengampuni (manusia yang ) menyekutukannya.”
(Qs. An-Nisa : 48).
Kaum Muslimin lalu ingin sekali mendapatkan ampunan-Nya.”
Ibrahim bin Adham – semoga Allah merahmatinya – berkata: “Pada suatu ketika aku menunggu waktu luag dan tenangnya orang di sekitar Ka’bah. Saat itu adalah malam yang gelap gulita dan hujan turun dengan derasnya. Akhirnya tempat itu pun sepi, aku lalu mulai melakukan thawaf, sambil bedoa : “Ya Allah, lindungilah aku dari dosa, lindungilah aku dari dosa!”. Lalu aku mendengar suara yang mengatakan: “Wahai Ibnu Adham, engkau meminta kepada-Ku untuk melindungimu dari dosa, sebagaimana doa orang –orang yang lain. Tapi jika Aku jadikan kamu semua tanpa dosa, lantas kepada siapa aku harus bersikap Maha Pengasih?”
Ketika Abul Abbas bin Suraij menderita sakit – yang akhirnya membawanya pada kematian – bermimpi bahwa hari Kebangkitan telah tiba. Allah Yang Maha Kuasa bertanyi mana para ulama itu?” Semua ulama, termasuk diriku, maju ke depan. Allah swt. bertanya: “Apakah yang telah kalian lakukan dengan ilmu yang telah kalian amalkan?” Kami semua menjawab: “Wahai Tuhan, kami telah ebrbuat llai dan kami telah berbuat jahat.”
Maka Allah swt. pun mengulangi lagi pertanyaan-Nya seolah-olah Dia tidak menyukai jawaban yang telah kami berikan dan menghendaki jawaban yang lain. Maka aku pun maju dan menjawab: “Mengenai diriku, maka catatan dalam halaman lembaranku tidaklah mengandudng dosa menyekutukan sesuatu dengan-Mu dan Engkau telah berjanji bahwa Engkau akan mengampuni semua Dosa selain itu.” Lalu Allah swt. berfirman:
“Pergilah kamu semua. Aku telah mengampunimu!”
Abul Abbas pun meninggal dunia tiga malam setelah mimpinya ini.
Pada suatu ketika ada seorang pemabuk yang mengumpulkan sekelompok para pemabuk temannya. Ia memberikan uang empat dirham kepada salah seorang budaknya dan menyuruhnya pergi membeli buah-buahan. Si budak pergi, dan ditengah jalan ia melewati majelis Manshur bin ‘Ammar, saat dimana yang disebut belakangan ii sedang meminta kepada orang banyak untuk memberikan sedekah kepada beberapa orang pengemis, dengan mengaakan : “Barangsiapa memberikan empat dirham, aku akan memanjatkan empat doa untuknya.”
Si Budak memberikan uang empat dirham yang dibawanya kepada Mansur, dan kemudian ia pun ditanya : “Doa apa yang engkau inginkan dariku.”
Si Budak menjawab : “Aku ingin bebas dari tuanku.” Manshur menodakan hal itu, lalu bertanya lagi : “Apa lagi?”
Si budak menjawab : “Aku ingin agar Allah memberiku ganti uang empat dirham itu.” Manshur mendoakan hal itu, dan bertanya kembali : “Apa lagi?”
Si Budak menjawab : “Aku ingin agar Allah mengampuni dosaku, dosa tuanku, dosamu dan dosa semua orang yang ada di rumah tuanku itu.” Manshur mendoakan hal itu. Si budak lalu pulang ke rumah tuannya.
Ketika tuannya bertanya kepadanya mengapa ia pulang terlambat, si budak menceritakan apa yang telah dilakukannya. Tuannya bertanya : “Dan doa apa saja yang kamu mintakan?”
Si budak menjawab : “Saya minta didoakan supaya bebas dari perbudakan.” Tuannya berrkata : “Kamu telah kubebaskan. Dan apa permintaanmu yang kedua?”
Si budak menjawab : “Agar Allah memberi saya ganti uang empat dirham itu.” Tuannay berkata : “Ini, kuberi engkau uang empatribu dirham. Lalu, apa permintaanmu yang keteiga?”
Si budak menjawab : “Agar Allah menyadarkan tuan untuk segera bertobat.” Tuannya mengatakan : “Aku bertobat kepada Allah swt. Apa permintaanmu yang ketiga ?”
Si budak mengatakan : “Agar Allah mengampuni Anda, saya, orang-orang yang ada di rumah ini, dan juga Manshur.” Si tuan berkata. “Ini adalah permintaan yang berada di luar kemampuanku untuk memenuhinya.”
Malam itu, ketika si tuan tidur, ia bermimpi mendengar sebuah suara yang mengatakan : “Engkau telah melakukan apa yang berada dalam batas kemampuanmu. Apakah engkau mengira bahwa Aku tidak akan melakukan apa yang berada dalam kemampuan-Ku? Kuampuni dosamu, dosa budakmu itu, dosa Manshur bin ‘Ammar dan dosa semua orang yang berkumpul di rumahmu.”
Dikatakan bahwa Rabah al-Qaysi mengerjakan Haji beberapa kali. Suatu ketika ia berdiri (dekat Ka’bah) di bawah talang air dan berdoa: “Wahai Tuhanku, aku menghadiahkan sejumlah sekian dan sekian dari ibadat Hajiku kepada Rasulullah saw. sepuluh ibadat Haji bagi sepuluh orang sahabt beliau, dua iabdat haji untuk kedua oarng tuaku, dan sisanya untuk semua kaum Muslimin.” Dihadiahkannya semua ibadat hajinya tanpa menyisakan satu pun bagi dirinya sendiri. Kemudian ia mendengar suara bisikan yang mengatakan : “Inilah orang yang menunjukkan kemurahan hatinya kepada Kami! Aku ampuni dosamu, dosa kedua orang tuamu, dan dosa semua orang yang memeluk Islam.”
Muhammad bin Abdul Wahhab ats-Tsaqafy menuturkan : “Pada suatu hari aku melihat iringan keranda yang dipikul oleh tiga orang laki-laki dan seorang wanita. Aku maju dan menggantikan si wanita. Kami terus berjalan menuju ke kuburan. Kami melaksanakan shalat untuk simayit, lalu menguburkannya. Setelah itu aku bertanya kepada si wanita : “Apa hubungan Anda dengan orang yang meninggal ini?” Ia menjawab : “Ia anakku.” Aku bertanya : “Apakah Anda tidak punya tetangga?” Ia menjawab : “Ya, tetapi mereka semua memandang hina anakku yang meninggal itu.” Aku bertanya : “Mengapa?” Ia menjawab : “Karena ia seorang banci” Aku merasa kasihan kepada wanita itu.
Kuajak ia ke rumahku dan kuberi sedikit uang, gandum dan pakaian. Dalam tidurku malam itu, aku bermimpi melihat seseorang datang kepadaku. Wajahnya berseri bagaikan bulan purnama. Ia berpakaian putih dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Ketika aku bertanya siapa dirinya, ia menjelaskan : “Aku adalah si orang banci yang anda kuburkan tadi siang. Tuhanku telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku disebabkan hinaan orang-orang kepadaku.”
Saya mendengar Syeikh Abi Ali ad.-Daqqaq berkata : “Abu Amr al-Bikandy sedang melewati sebuah jalan pada suatu hari, bersamaan itu pula menjumpai sekelompok orang beramai-ramai menyerukan pengusiran terhadap seorang pemuda dari lingkungan mereka karena perbuatan-perbuatannya yang tidak bermoral. Sementara tampak seorang wanita di tempat itu sedang menangis, konon adalah ibu sang pemuda. Abu Amr merasa kasihan kepadanya, lalu meminta kepada orang banyak itu agar mengampuni si pemuda. “Bebakanlah pemuda ini demi aku. Jika ia mengulang perbuatannya sekali lagi, maka lakukanlah apa yang kalian kehendaki terhadapnya!.” Mereka lalu melepaskan pemuda itu, dan Amr pun pergi.
Beberapa hari kemudian, Au Amr al-Bikandy melalui jalan itu lagi dan mendengar suara tangis wanita dari balik sebuah pintu. Abu Amr berkata dalam hati : “Barangkali si pemuda mengulangi lagi perbuatan odsanya, dan mereka telah mengusirnya dari lingkungan ini. Abu Amr lalu mengetuk pintu rumah si wanita dan bertanya apa yang telah terjadi pada si pemuda. “Ia meninggal!” jawabnya. Ketika Abu Amr bertanya kepadanya bagaimana keadaannya menjelang akhir hayatnya, si ibu menjawab: “Menjelang sakaratul maut ia sempat mengatakan padaku. “Janganlah ibu memberi tahukan kepada pra tetangga kita tentang kematianku.
Sebab, setelah mereka menderita karena aku, mereka akan senang atas kemalanganku dan tidak mau menghadiri pemakamanku. Jika Ibu menguburkanku, inilah cincinku yang tertulis Bismillah, pendamlah bersamaku. Jika selesai menguburkan diriku, pintalah syafaat dari Tuhanku buat diriku!” Aku melakukan seperti yang diwasiatkannya. Dan sepulang dari penguburannya, aku mendengar suaranya : “Pergilah Ibu! Aku telah datang ke hadirat Tuhan Yang Maha Pemurah.”
Dikatakan bahwa Allah mewahyukan kepada Daud as. Katakanlah kepada manusia bahwa Aku menciptakan mereka bukan dengan tujuan agar Aku memperoleh manfaat dari mereka, tapi Kuciptakan mereka supaya mereka memperoleh keuntungan dari-Ku.”
Ibrahim al-Atrusy berkata: “Kami sedang duduk-duduk di tepi Sungai Tigris berssama Ma’ruf al-Karkhy ketika segerombolan pemuda melewati kami dengan sebuah perahu. Mereka memukul-mukul rebana, minum anggur dan bermain-main dengan penuh hura-hura. Kami bertanya kepda Ma’ruf, Tidakkah engkau lihat bagaimana mereka secara terrang-terangan bermaksiat kepada Allah swt?
Berdoalah kepada Allah agar Dia menghukum mereka!” Ma’ruf lalu mengangkat tangannya dan berdoa: “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menjadikan mereka bersenang-senang di dunia ini, jadikanlah mereka bersenang-senang di akhirat nanti!” Kami bertanya penasaran. Tapi kami memintamu untuk berdoa memohonkan hukuman bagi mereka!” Ia menjawab : “Jika Dia menjadidkan mereka bersenang-senang di akhirat, berarti Dia telah mengampuni mereka.”
Abu Abdullah al-Husain bin Sa’id mengabarkan : “Bahwa Yahya bin Aktsam al-Qadhi adalah seorang sahabtku. Ia mencintaiku dan aku pun mencintainya. Setelah ia meninggal, aku ingin bertemu dengannya dalam mimpi agar aku bisa bertanya kepadanya apa yag telah diperbuat Allah swt. terhadap dirinya. Suatu malam aku pun bermimpi bertemu dengannya, dan aku bertanya kepadanya. Ia menjawab : “Allah telah mengampuni dosaku. Tetapi Dia memarahiku dengan kata-kata-Nya : “Wahai Yahya! Kau telah berbuat kejahatan kepada-Ku di dunia. “ Aku menjawab : Itu memang benar, wahai Tuhanku.
Aku mengandalkan sebuah hadis yang disampaikan kepadaku dengan riwayat Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. telah bersabda:
“Engkau telah berfirman : “Aku malu menghukum seseorang yang telah berambut putih di neraka.” Lalu Allah pun berfirman : “Aku mengampunimu wahai Yahya, dan benar Nabi-Ku itu. Tetapi engkau telah berlaku dosa kepada-Ku ketika di dunia.”
Sedih
Allah swt. berfirman:
“Dan mereka akan mengatakan (ketika berada di surga), “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kita.”
(Qs. Fathir :34).
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudry bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Tidak sesuatu pun keburukan menimpa seorang hamba yang beriman, apakah itu penderitaan, penyakit, kesedihan, atau rasa sakit yang merisaukan, kecuali Allah swt. akan mengampuni dosa-dosanya.”
(H.r. Ahmad, Bukhari – Muslim).
Sedih (huzn) adalah keadaan yang menyelamatkan hati tersesat di lembah kealpaan. Dan kesedihan adalah salah satu sifat para ahli penempuh jalan ruhani (suluk).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : “Orang yag dipenuhi kesedihan mampu menempuh jalan Allah dalam waktu satu bulan, sepanjang jarak yang tidak bisa ditempuh dalam waktu satu tahun oleh orang yang tidak memiliki kesedihan.”
Dalam hadis dikatakan : “Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati yang sedih.”
Dalam Kitab Taurat disebutkan : “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menempatkan suatu PENYEDIH dalam hatinya, dan jika Dia membenci seorang hamba, maka ditempatkan-Nya sebuah SERULING dalam hatinya.”
Dikatakan bahwa Rasulullah saw. selalu berada dalam keadaan sedih dan merenung sepanjang masa.
Bisyr bin Haris mengatakan : “Sedih adalah raja, manakala bertahta dalam sebuah tempat, tidak akan sudi menerima orang lain tinggal bersamanya.”
Dikatakan: “Jika tidak ada kesedihan dalam hati, maka ia akan menjadi rusak, sebagaimana sebuah rumah akan menjadi roboh manakala tidak ada orang yang tinggal di dalamnya.”
Abu Sa’id al-Qurasyi berkomentar : “Air mata kesedihan membuat orang buta, tetapi air mata kerinduan meredupkan pandangan, namun tidak membutakannya.”
Allah swt. berfirman:
“Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan ia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).”
(Qs. Yunus :84).”
Ibnu Khafif menjelaskan: “Sedih adalah mencegah diri dari bangkit mencari kesenangan.”
Rabi’ah Adawiyah mendengar seorang laki-laki meratap: “Aduhai kesedihan!” Rabi’ah menyela : “Katakanlah; Aduhai kecilnya kesedihan kita! Jika engkau benar-benar bersedih, niscaya engkau tidak akan bisa bernafas.”
Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan: “Apabila ada seorang tertimpa kesedihan dan menangis di kalangan suatu kaum, maka Allah swt. akan mengasihani mereka semua karena air matanya.”
Dawud ath-Tha’y ketika tertimpa kesedihan, dan di malam hari ia akan berdoa : “Ilahi, kerinduanku terhadap-Mu membuat diriku gelisah dan menghalangi antaraku dengan tidurku.” Dan Allah pun menjawab: “Bagaimana mungkin bagi seorang yang penderitaanya diperbarui setiap saat, akan mencari penghiburan dari kesedihan?”
Dikatakan: “Sedih menahan orang dari makan, sedangkan takut, menahannya dari dosa.”
Salah seorang Sufi ditanya: “Dengan apa kesedihan manusia dinilai?” Ia menjawab : Dengan banyaknya ratapan.”
As-Sary as-Saqathy berkata: “Aku ingin seandainya kesedihan seluruh manusia di muka bumi ini ditumpahkan kepadaku.” Banyak oang telah berbicara tentang kesedihan, dan mereka semua mengatakan bahwa hanya kesedihan yang diilhami oleh kepedulian pada akhiratlah yang patut dipuji, sedang kesedihan karena dunia ini, patut dicela.
Tetapi Abu Utsman al-Hiry menjelaskan: “Kesedihan dalam semua seginya adalah suatu keutamaan dan peningkatan bagi seorang beriman, selama kesedihan itu bukan karena dosa. Sekalipun kesedihan itu tidak menghasilkan satu derajat khusus, ia akan membawakan pengampunan.”
Seorang Syeikh tertentu, apabila murid-muridnya akan pergi melakukan perjalanan, ia akan berpesan : “Jika engkau melihat seorang yang sedang bersedih, sampaikan salamku padanya.”
Syeikh Abu ali ad-Daqqaq berkata : “Salah seorang Sufi bertanya kepada matahari selagi terbenam, “Apakah hari inni engkau telah menyinari sorang yang tertimpa kesedihan?”
Orang tidak pernha melihat Hasan al-Bashry tanpa mengira bahwa ia baru saja mengalami bencana.
Ketika Fudhail bin ‘Iyadh meninggal dunia, Waki’ mengatakan, “Hari ini kesedihan telah lenyap dari muka bumi.”
Salah seorang dari kaum Muslimin geberasi salaf berkata: “Sebagian besar dari apa yang ditemukan oleh seorang beriman dalam catatan amal perbuatan baiknya adalah penderitaan dan kesedihan.”
Fudhail bin ‘Iyadh berkomentar: “Kaum salaf mengatakan: “Setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat hati adalah kesedihan yang panjang.”
Ketika Abu Utsman al-Hiry ditanya tentang kesedihan, ia menjawab: “Orang yang sedih adalah yang tidak punya waktu untuk menyibukkan diri dengan pertanyaan tentang kesedihan. Maka berjuanglah untuk mencari kesedihan, lalu bertanyalah.”
Lapar Dan Meninggalkan Syahwat
Allah berfirman:
“Dan, sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sebagian ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(Qs. Al-Baqarah :155).
Berikanlah kabar gembira dengan pahala yang indah karena kesabaran mereka dalam menanggung lapar.
Allah swt. berfirman:
“Dan mereka memprioritaskan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka beikan itu).”
(Qs. Al-Hasyr :9).
Anas bin Malik menuturkan bahwa ketika Fatimah r.a. (Fatimah az-Zahra’ (18 s.H – 11 H/605 – 632 M). Putri Rasulullah saw. keturunan Bani Hasyim, suku Quraisy. Ibundanya Khadijah binti Khuwailid. Fatimah dinikahkan Ali bin Abu Thalib r.a. melahirkan Hasan dan Husein, Ummu Kaltsum dan Zainab). Fatimah r.a. memberikan sekerat roti bagi Rasulullah saw. beliau bertanya: “Apa ini, wahai Fatimah?” Fatimah menjawab : “Sepotong roti yang saya masak sendiri. Hati saya tidak dapat tenang sebelum memberikan roti ini kepadamu.”
Beliau menjawab: “Ini adalah sepotong makanan pertama yang masuk ke mulut ayahmu sejak tiga hari ini.” (Hadis ini diriwayatkan oleh al-Harits bin Abu Usamah dalam Musnad-nya, melalui sanad yang dha’if, namun memiliki bukti kebajikan sanad dalam maknanya).
Alasan inilah yang menjadikan lapar termasuk dalam sifat kaum Suf dan salah satu tiang mujahadah. Para penempuh suluk selangkah demi selngkah membiasakan berlapar-lapar menahan diri dari makan, dan mereka menemukan mata air kebijaksanaan di dalam lapar. Cerita tentang mereka dalam hal ini cukup banyak.
Ibnu Salim berkata : “Etika berlapar diri adalah bahwa seseorang terus menerus tidak mengurangi porsi makanannya, kecuali sebesar telinga kucing (amat sedikit).” Dikatakan bahwa Sahl bin Abdullah tidak makan, kecuali setiap limabelas hari. Manakala Bulan Rmadhan tiba, ia bahkan tidak makan sampai melihat bulan baru. Dan tiap kali berbuka hanya minum air putih saja.
Yahya bin Mu’adz menjelaskan : “Seandainya orang dapat membeli lapar di pasar, maka para pencari akhirat niscaya tidak akan perlu membeli sesuatu yang lain di sana.”
Sahl bin Abdullah berkomentar : “Ketika Allah swt. menciptakan dunia, Dia menempatkan dosa dan kebodohan di dalam kepuasan nafsu makan dan minum, dan menepatkan kebijaksanaan dalam lapar.”
Yahya bin Mu’adz mengatakan : “Lapar bagi para penempuh jalan Allah (murid) adalah olah ruhani (riyadah), sebuah cobaan bagi orang-orang yang bertobat, dan siasat bagi para zahid, tanda kemuliaan bagi para ahli ma’rifat.”
Yeikh Abu Ali ad.-Daqqaq menuturkan : “Seseorang datang menjumpai salah seorang syeikh, dan ketika melihat sang syeikh menangis, ia bertanya, ‘Mengapa Anda menangis?’ Sang Syeikh menjawab: “Aku lapar.” Ia mencela, “Seorang seperti Anda, menangis karena lapar?” Sang Syeikh balas mencela : “Diamlah! Engkau tidak mengetahui bahwa tujuan-Nya menjadidkan aku lapar adalah agar aku menangis.”
Dawud bin Mu’adz mengisahkan, bahwasanya Mukahllid mengabarkan: “Al-Hajjah bin Furafishah sedang berada bersama kami si Syam, dan selama lima puluh malam ia tidak minum air ataupun mengisi perut dengans esuap makanan pun.”
Abu Abdulalh Ahmad bin Yahya al-Jalla’ berkata: “Abu Turab an-Nakhsyaby datang mengarungi padang pasir Bashrah ke Mekkah – Semoga Allah melindungi kota ini – dan kami bertanya kepadanya tentang makanannya. Ia menjawab: “Aku meninnggalkan Bashrah, makan di Nibaj dan kemudian di Dzat Araq. Dari Dzat Araq aku datang kepada kalian.” Jadi, ia menyebari padang itu dengan hanya makan sebanyak dua kali.”
Setiap kali Sahl bin Abdullah lapar, ia tegar, dans etiap kali makan, ia menjadi lemah.
Abu Utsman al-Maghriby berkata : Orang yang mengabdi kepada Tuhan (rabbany) hanya makan setiap empat puluh hari, dan orang yang mengabdi kepada Yang Abadi (Shamadany) hanya makan setiap delapan puluh hari.”
Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan : “Kunci dunia ini adalah mengisi perut, dan kunci akhirat aalah lapar.”
Sahl bin Abdullah ditanya : “Bagaimana pendpat Anda tentang orang yang makan sekali sehari?” Dijawabnya: “Itulah makan orang beriman.” Bagaimana dengan yang makan tiga kali sehari?” Ia mencela : “Suruh saja orang membuat gentong makanan untukmu.”
Yahya bin Mu’adz berkomentar : Lapar adalah pelita, dan kenyang adalah api. Hawa nafsu adalah seperti kayu api yang darinya muncul api yang berkobar, dan tidak akan padam sampai ia membakar pemiliknya.”
Abu Nash as-Sarraj ath-Thausy menuturkan: “Seorang laki-laki dari kaum Sufi datang menemui seorang syeikh dan menyuguhkan sedikit makanan. Lalu ia bertanya : “Sudah berapa lama Anda tidak makan?” Sang Syeikh menjawab: “Lima hari.” Si Sufi berkata : “Lapar Anda adalah lapar orang bakhil> Anda memakai pakaian (bagus) sementara Anda lapar. Itu bukanlah lapar orang fakir!”
Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan : “Bahwa meninggalkan sepotong daging di waktu makan malam lebih kusukai daripada melakukan shalat sepanjang malam.”
Berkata Abul Qasim Ja’far bin Ahmad ar-Razy : “Beberapa hari Abul Khayr al-“Asqalany ingin sekali mengkonsumsi ikan. Lalu sejumlah ikan sampai ke tangannya melalui jalan yang halal. Tetapi ketika tangannya meraih ikan itu untuk dimakannya, lalu ia berkata : “Ya Alalh, jika hal ini menimpa orang yang mengulurkan tangannya karena ingin memakan barang yang halal, apa pula yang akan terjadi kepada orang yang mengulurkan tangannya untuk sesuatu yang haram?”
Saya mendengar Rustam asy-Syirazy as-Shufy menuturkan : “Abu Abdullah bin Khafif sedang menghadiri jamuan makan, tiba-tiba salah seorang muridnya bermaksud mengambil makanan mendahului sang syeikh, karena laparnya. Salah seorang murid syeikh, yang ingin menegus atas ketidak sopanannya itu, meenpatkan sedikit makanan di hadapan si fakir itu. Menyadari bahwa dirinya dicela karena kurang beradab, si fakir itu lalu tidak mau makan selama limabelas hari sebagai hukuman dan pendisiplinan jiwanaya, serta sebagai tanda tobat atas ketidak sopanannya itu. Padahal selama ini ia telah menderita kelaparan.”
Malik bin Dinar berkata : “Barangsiapa telah mengalahkan syahwat dunia, maka itulah tindakan yang dapat memisahkan setan dari lindungannya.”
Abu Ali ar-Rudzbary mengajarkan : “Jika seorang Sufi setelah lima hari tidak makan, mengatakan ‘aku lapar’ maka kirimlah ia ke pasar agar mendapatkan pekerjaan.
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan ucapan seorang syeikh, bahwa penghuni neraka telah dikalahkan oleh syahwatnya atas kewaspadaan mereka, hingga mereka tercela. Beliau juga berkata : “Seseorang bertanya kepada salah seorang syeikh : “Apakah Anda tidak enginginkan sesuatu?”
Sang Syeikh menjawab, ‘Aku menginginkannya, akan tetapi aku menahan diri.”
Syeikh yang lain ditanya : “Adakah sesuatu yang tuan inginkan?”
Jawabnya : “Aku menginginkan untuk tidak ingin lagi.”
Abu Nashr at-Tammar mengatakan : “Pada suatu malam Bisyr datang kepadaku, dan aku berkata : “Segala Puji Bagi Allah yang telah membawamu ke sini. Sejumlah kapas dari Khurasan telah sampai kepada kami budak wanita telah menenunnya, menjualnya dan membeli sedikit daging untuk kita. Engkau bisa berbuka puasa dengan kami. Ia menjawab : “ Jika aku mesti makan dengan seseorang, aku akan memilih makan denganmu.” Lalu ia menjelaskan : “Telah bertahun-tahun aku ingin makan terung, tetapi aku belum ditakdirkan untuk memakannya. Lalu aku menjawab : “Ada terung yang halal dalam makanan ini.” Ia menjawab : “Bahkan sampai bersih dari bijinya.”
Saya mendengar Abu Ahmad ash-Shagir berkata : “Abu Abdullah bin Khafi menyuruhku menyuguhinya sepuluh butir kismis untuk buka puasa setiap malam. Suatu malam aku merasa kasihan kepadanya, dan kusuguhkan limabelas butir kismis. Ia memandangku dan bertanya : “Siapa yang menyuruhmu (memberi lima belas kismis?)’ Lalu dimakannya sepuluh butir dan membiarkan sisanya.”
Abu Turab an-nakhsyaby berkomentar : “Jiwaku tidak pernah cenderung kepada hawa nafsu kecuali sekali saja : Aku ingin sekali makan roti dan telur ketika aku sedang berada dalam perjalanan. Lalu aku pun memasuki sebuah kampung. Seseorang gbangkit dan memegang tanganku sambil berkata: “Orang ini adalah salah seorang dari perampok itu!” Lalu oang-orang itu memukuliku tujuhpuluh kali. Seseorang laki-aki di antara mereka mengenaliku dan menyela, Ini adalah Abu Thurab an-Nakhsyaby!” Mendengar itu, mereka cepat-cepat meminta maaf kepadaku, dan laki-laki itu lalu membawaku ke rumahnya karena rasa hormat dan kasihan kepadaku, dan ia menjamu aku dengan roti dan telur. Maka aku berkata kepada diri sendiri : “Makanlah, seteelh tujuh puluh kali pukulan!.”
Khusyu’ Dan Tawadhu’
Allah swt. berfiman:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, mereka yang khusyu dala shalatnya.”
(Qs. Al-Mu’minun :-1-2).
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Tidak akan masuk surga, barangsiapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka barangsiapa yang dalam hatinya terdaapt iman walaupun sekecil biji sawi.” Seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang suka berbapakain bagus?” Beliau menjawab : Allah swt. Maha Indah dan menyukai keindahan; sombong adalah berpaling dari Al-Haq dan mencemooh manusia.”
(H.r. Muslim).
Anas bin Malik mengabarkan : “Rasulullah saw. suka mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, mengendari keledai dan memenuhi undangan budak-budak.”
Dalam peperangan melawan bani Quraidhah dan bai nadhir, Rasul mengendari seekor keledai yang diberi tali kendali dari ijuk korma dan di atasnya diberi pelana ijuk pula.”
Khsyu’ adalah berkaitan kepada Allah swt. dan tawadhu’ adalah menyerah kepada Allah dan menjauhi sikap kontra dalam menerima hukum.”
Hudzaifah berkata : “Khusyu’ adalah hal yang pertama-tama hilang dari agamamu.” Ketika salahs eorang Sufi ditanya tentang khusyu’, ia menjawab : “Khusyu’ adalah tegaknya hati di hadapan Allah swt.”
Sahl bin Abdullah menegaskan : Setan tidak akan mendekati orang yang hatinya khusyu’. Dikatakan : “Di antara tanda-tanda kehusyu’an hati seorang hamba adalah manakala ia diprovokasi, disakiti hatinya atau ditolak, maka ia, semua itu diterimanya.”
Salah seorang Sufi berkomentar : “Kekhusyu’an hati adalah menahan mata dari melirik ke sana ke mari.
Muhammad bin Ali at-Tirmidzy menjelaskan : “Khusyu’ adalah begini : Jika api hawa nafsu dalam diri seseorang padam, asap dalam dadanya reda dan cahaya kecemerlangan bersinar dalam hatinya, lalu hawa nafsunya mati, dan hatinya hidup khusyu’lah semua angota badannya.”
Al- Hasan al-Bashry berkata : “Khusyu’ adalah rasa takut yang terus menerus dalam hati.”
Ketika al-Juany ditanya tentang khusyu’, ia menjawab : “Khusyu’ adalah jika hati menghinakan dirinya di hadapan Yang Maha Tahu kegaiban.” Allah swt. berfirman :
“Hamba-hamba Ar-Rahman yaitu orang-orang yang bejalan di muka bumi dengan sikap rendah hati.”
(Qs. Al-Furqan :63).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : Bahwa makna ayat ini adalah hamba-hamba Allah itu berjalan di muka bumi dengan penuh khusyu’ dan tawa dhu’.
Saya juga mendengar beliau mengatakan, bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak memperdengarkan bunyi sandal mereka ketika berjalan.
Kaum Sufi sepakat bahwa tempat khusyu’ adalah di dalam hati.
Ketika salah seorang Sufi melihat seorang laki-laki yang memperlihatkan sikap rendah hati dalam perilaku lahiriahnya, dengan mata yang memandang ke bawah dan bahu yang rendah, ia berkata kepadanya. “Wahai sahabat, khusyu’ itu di sini.” Sambil menunjuk ke dadanya, “bukan di sini, sambil menunjuk bagunya.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki sedang mengelus-elus jenggotnya dalam shalat, dan beliau lalu bersabda:
“Jika hatinya khsyu, niscaya anggota badannya juga akan khusyu’.”
(Hr. Tirmidzi).
Dikatakan : “Khusyu’ dalam shalat berarti seseorang tidak menyadari siapa yang sedang berdiri di sebelah kanan atau kirinya.”
Syeikh ad-Daqqaq berkata : “Khusyu’ mirip dengan perkataan, bahwa hati nurani seseorang dikhidmatkan sambil musyahadah kepada Allah swt.”
Dikatakan “Khusyu’” adalah perasaan papa dan hina yang meresap ke dalam hati manakala menyaksikan Allah swt.”
Dikatakan pula : “Khusyu’ adalah kegentaran hati di kala hati dikuasai hakikat.”
Khusyu’ adalah mukadimah bagi luapan anugerah.
Dikatakan : “Khusyu’ adalah kegentaran hati secara tiba-tiba ketika Kebenaran terungkapkan secara tba-tiba.
Fudhail bin ‘Iyadh menegasskan, bahwa dirinya tidak senang melihat seseorang terlihat lebih khusyu’ daripada batinnya.
Abu Sulaiman ad-Darany berkata : Seandainya semua manusia bersatu padu untuk menghinakan aku, niscaya mereka tidak akan mampu mencapai kedalaman dimana aku menghinakan diriku sendiri.”
Dikatakan : “Orang yang tidak merendahkan dirinya, orang lain tdak akan menghormatinya pula.”
Umar bin Abdul Aziz tidak mau bersujud kecuali hanya di tanah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Tidak akan masuk surga oang-orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.”
(H.r. Abu Dawud).”
Mujahid berkata : “Ketika Allah swt. menenggelamkan kaum Nabi Nuh, gunung-gunung bersikap congkak dan meninggikan diri, tetapi Bukit Judy merendahkan dirinya. Karena itu Allah swt. menjadikannya sebagai tempat mendaratnya perahu Nabi Nuh as.” (Bukit Judy berada di sebelah timur laut Jazirah Ibnu Umar, Ketingginya dari permukaan laut 4.000 meter. Diriwayatkan bahwa perahu Nabi Nuh pernah melintasi bukit ini kertika terjadi banjir bandang).
Umar bin Khaththab r.a. selalu berjalan cepat-cepat, tentang ini dijelaskannya bahwa berjalan secara demikian akan membawanya lebih cepat kepada kebutuhan dan menjaganya dari keangkuhan.
Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz, r.a. sedang menulis, lalu datanglah seorang tamu. Meliaht lampu hampir padam, si tamu menawarkan diri:
“Biarlah saya yang membesarkan nyalanya.” Tapi Umar menjawab : “Jangan, tidaklah ramah menjadidkan tamu sebagai pelayan.” Maka si tamu lalu berkata : “Kalau begitu, biarlah saya panggilkan pelayan.” Umar menolak : “Jangan, ia baru saja pergi tidur.” Lalu beliau sendiri pergi ke tempat penyimpanan minyak dn mengisi lampu itu. Si tamu berseru : “Tuan lakukan pekerjaan ini sendiri, wahai Amirul Muminin?” Umar berkata kepadanya : “Aku melangkah dari sini sebagai Umar, dan kembali ke sini masih sebagai Umar pula.”
Abu Sa’id al-Khudry r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. selalu memberi makan unta-unta, menyapu lantai rumah, memperbaiki sandal, menambal baju, memerah susu, makan bersama pelayan dan membantunya menggiling gandum jika pelayan lelah. Beliau tiak pernah merasa malu membawa barang-barang beliau sendiri dari pasar untuk keluarganya. Beliau biasa berjabat tangan dengan orang kaya maupun miskin, dan lebih dahulu memberi salam jika bertemu.
Nabi saw. tidak pernah mencela makanan apa yang dihidangkan kepada beliau, sekalipun hanya berupa kurma kering. Beliau sangat sederhana dalam hal makanan, lemah lembut dalam berperilaku, mulia dalam sikap, baik dalam berteman, wajahnya bercahaya, tersenyum tapi tanpa terrtawa, sedih tapi tiak cemberut, rendah hati tapi tidak lembek, murah hati tetapi tidak boros.
Rasulullah saw. juga berhati lembut dan kasih sayang kepada setiap Muslim. Tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda telah makan kenyang, dan juga tidak pernah mengulurkan tangan dengan rakus.
Fudhail bin “Iyadh berkata : “Para Umala dari Yang Maha Pengasih memiliki sikap khusyu’ dan tawadhu’, sedangkan para ulama penguasa memiliki sikap takjub dan sombong.” Ia juga berkomentar : “Barangsiapa menganggap dirinya masih berharga, berarti tidak memiliki sifat tawadhu’ sama sekali.”
Ketika Fudhail ditanya tentang tawadhu’, ia mengajarkan : “Pasrahlah kepada kebenaran; patuh dan terimalah ia dari siap pun yang mengatakannya.”
Ia juga mengatakan : “Allah swt. mewahyukan kepada gunung-gunung : “Aku akan berbicara dengan soerang Nabi di salah satu puncak di antaramu.”
Maka, gunung-gunung itu lalu berlomba-lomba meninggikan diri dengan sobongnya, sedangkan Gunung Thursina justru merendahkan dirinya dengan penuh kerendahan hati. Maka Allah swt. lalu Berbicara kepada Musa as, di puncka gunung ini, dikarenakan ketawadhu’annya.”
Ketika al-Junayd ditanya tentang tawadhu’, ia menjawab : “Tawadhu’ adalah merendahkan sayap terhadap semua makhluk dan bersikap lembut kepada mereka.”
Wahb berkata : “Teah tertulis dalam salah satu kitab suci, “Sesungguhnya Aku mengambil sari zat dari tulang sulbi Adam, dan Aku tidak menemukan hati yang lebih tawadhu’ daripada hati Musa as. Maka Ku pilih ia dan Aku aku berbicara langsung dengannya.”
Ibnul Mubarak mengatakan : “Kesombongan terhadap orang kaya dan rendah hati terhadap yang miskin adalah bagian dari sifat tawadhu’.
Abu Yazid ditanya: “Bilakah seseorang mencapai sifat tawadhu?”
Dijawabnya : “Jika ia tidak menisbatkan dirinya pada suatu maqam dan haal, serta menganggap bahwa tidak seorang pun di antara ummat manusia di dunia ini yang lebih buruk dari dirinya.”
Dikatakan : “Tawadhu’ adalah anugerah Allah yang tidak pernah diiri dengki orang dan kesombongan adalah penderitaan yang tidak membangkitkan belas kasihan. Kemudian terletak pada sikap tawadhu’ dan orang yang mencari kemuliaan dalam kesombongan tidak akan pernah mendapatkannya.”
Ibrahim bin Syaiban menegaskan : “Kehormatan terletak di dalam sikap tawadhu’, kemuliaan di dalam takwa, dan kemerdekaan di dalam qnaah.”
Abu Sa’id A’raby mengatakan, telah sampai kepadanya tentang Sufyan ats-Tsaury yang berkata : “Ada lima macam manusia termulia di dunia ini : Ulama yang zuhud, seorang faqih yang Sufi, seorang kaya yang rendah hati, seorang fakir yang bersyukur, dan seorang bangsawan yang mengikuti sunnah.”
Yahya bin Muadz menegaskan : “Kerendahan hati adalah sifat yang sangat baik bagi setiap orang, tapi ia paling baik bagi seorang yang kaya.
Kesombongan adalah sifat yang menjijikan bagi setiap orang tetapi ia paling menjijikan jika terdapat pada orang yang miskin.”
Ibnu Atha’ bekomentar : “Tawadhu’ adalah menerima kebenaran dari siapapun datangnya.”
Dikisahkan, ketika Zaid bin Tsabit sedang mengendari kuda, Ibnu Abbas datang mendekatinya agar dapat memegang kendali kudanya. Maka Zaid lalu mencegahnya : “Jangan, wahai anak paman Rasulullah!” Ibnu Abbas berkata : “Itulah yang diperintahkan kepada kami terhadap para ulama kami.” Maka, Zaid bin Tsabit meraih tangan Ibnu Abbas lalu menciuminya, sambil berkata : “Ini adalah yang diperintahkan untuk kami lakukan terhadap keluarga Rasulullah saw.”
Urwah bin az-Zubair menuturkan : “Ketika aku melihat Umar bin Khaththab memikul segantang air di atas pundaknya, aku berkata kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin, pekerjaan ini tidak patut bagi Anda,” Beliau menjawab: “Ketika para delegasi datang kepadaku, mendengarkan dan menaatiku, suatu perasan sombong merasuk ke dalam hatiku, dan kini aku ingin menghancurkannya. “ Beliau terrus memikul air an membawanya ke rumah seorang wnita Anshar dan mengisikannya ke dalam genthong milik wanita itu.”
Abu Nashr as-Sarraj at-Thausy mengabarkan: “Ketika Abu Hurairah r.a. menjabat Amir di Madinah, ia pernah terlihat sedang memikul seikat kayu di atas punggungnya, dan berteriak-teriak.” Beri jalan untuk amir.”
Abdullah ar-Razy menjelaskan: “Tawadhu adalah tidak membeda-bedakan dalam memberikan pelayanan.”
Abu Sulaiman ad-Darany berkata: “Barangsiapa yang masih memberikan nilai kepada dirinya sendiri tidak akan merasakan manisnya ibadat.”
Yahya bin Mu’adz mengatakan: “Keangkuhan terhadap oang yang bersikap sombong terhadapmu dikaernakan kekayaannya, adalah sikap tawashu’.
Seorang laki-laki datang kepada Ay-Syibly dan bertanyalah kepadanya: “Sipakah engkau?” Ia menjawab: “Wahai tuanku, sebuah titik di bawah (ba’).”
Lalu laki-laki itu berkata: ”Engkau adalah saksiku, sepanjang engkau mengangap rendah kedudukan dirimu sendiri.”
Ibnu Abbas r.a. mengatakan: “Salah satu bagian tawadhu’ adalah bahwa orang yang meminum sisa minuman yang ditinggalkan oleh saudaranya.”
Bisyr mengajarkan: “Berilah salam kepada para pecinta dunia dengan cara tidak memberi salam kepada mereka.”
Syu’aib bin Harba menuturkan: “Ketika aku sedang melakukan thawaf di Ka’bah, seorang buruh laki-laki menyikutku, dan aku menoleh kepadanya.
Ternyata orang itu adalah Fudhail bin ‘Iyadh, yang berkata : “Wahai Abu Shalih, jika engkau berpikiran bahwa di antara manusia yang melakukan ibadat haji ini ada yang lebih hina daripada dirimu atau diriku, maka betapa buruknya pikiranmu itu.”
Salah seorang Sufi mengatakan: “Aku melihat seorang laki-laki ketika sedang melakukan thawaf di Ka’bah. Ia sedang dikelilingi oleh orang-orang yang menjunjung dan memujinya. Karena ulah mereka itu, hingga menghalangi orang lain dari melakukan thawaf. Sedang beberapa waktu setelah itu, kau melihat ia meminta-minta kepada orang-orang yang lewat di sebuah jembatan di Baghdad. Aku terkejut dan heran. Ia lalu berkata kepadaku : “Aku dulu membanggakan diri di tempat di mana manusia-manusia mestinya merendahkan diri, maka Alalh swt. lalu menimpakan kehinaan kepadaku di tempat di mana manusia berbangga diri”
Ketika Umar bin Abdul Aziz mendengar bahwa salah sorang putranya telah membeli sebuah permata yang sangat mahal seharga seribu dirham. Beliau lalu menulis surat kepadanya : “Aku telah mendengar bahwa engkau telah membeli sebutir permata seharga seribu dirham. Jika surat ini telah sampai kepadamu, juallah cincin itu dan berilah makan seribu orang miskin. Selanjutlah buatlah sebuah cincin seharga dua dirham, dengan batu dari besi Cina, dan tulislah padanya, “Allah mengasihi orang yang mengetahui harga dirinya yang sebenarnya.”
Dikatakan bahwa seorang budak dijual kepada seorang penguasa dengan seharga seribu dirham!” Si penguasa bertanya : “Apakah sifat-sifat itu?” Si budak menjawab : “Sifat yang paling kecil diantaranya adalah behwa seandainya tuan membeli saya dan kemudian menyayangi saya melebihi semua budak tuan lain, saya tidak akan keliru memandang posisi saya yang sesungguhnya; saya akan tetap sadar bahwa saya adalah budak tuanku.” Maka penguasa itu jadi membelinya.
Dikatakan bahwa Jabir bin Hayawah berkomentar: “Ketika Umar bin Abdul Aziz sedang berkhitbah, kutaksir-taksir pakaian yang dikenakannya berharga sekitar duableas dirham saja, yang terdiri dari jubah luar, surban, celana , sepasang sandal, dan selendang.”
Dikatakan bahwa ketika Abdullah bin Muhammad bin Wasi” berjalan dengan lagak tak terpuji, ayahnya berkata kepadanya : “Tahukan kamu dengan harga berapa aku dulu membeli ibumu? Cuma tiga ratus dirham. Dan ayahmu ini, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah manusia yang sepertinya di kalangan Kaum Muslimin. Lanatas, dengan orang tua yang semacam ini, engkau berjalan dengan lagak begitu?”
Hamdun al-Washshar berkata : “Tawadhu’ adalah engkau tidak memandang dirimu dibutuhkan oleh siapa pun, baik di dunia ini maupun di dalam hal Agama.”
Dikataka bahwa Abu Dzar dan Bilal – semoga Allah meridhai mereka berdua – sedang bertengkar. Abu Dzar menghina Bilal karena kulitnya yang hitam. Bilal mengadu kepada Rasulullah saw. yang lalu bersabda, “Wahai Abu Dzar, sungguh!. masih ada sifat Jahiliyah dalam hatimu.” Mendengar itu, Abu Dzar menjatuhkan dirinya ke tanah dan bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya sampai Bilal menginjakkan kakinya pada pipinya. Ia tidak bangun-bangun sampai bilal melakukan hal itu.
Ktika al-Hasan bin Ali r.a. berjalan melewati sekelompok anak-anak yang sedang makan roti, mereka mengajaknya pula makan. Beliau pun turun dari atas kendaraan dan makan bersama mereka. Kemudian beliau membawa mereka ke rumah beliau, mengajak mereka makan, memberi mereka pakaian, dan berkata: “Aku berhutang budi kepada mereka, sebab mereka tidak memperoleh lebih dari apa yang mereka tawarkan kepadaku, sedangkan aku memeperoleh keuntungan labih dari mereka.”
Dikatakan: “Umar bin Khaththab r.a. membagi-bagikan bahan pakaian yang berasal dari pampasan perang kepada para sahabtnya. Beliau mengirmkan sepotong mantel buatan Yaman kepada Mu’adz. Oleh Mu’adz mantel tersebut dijual dan kemudian digunakan untuk membeli enam orang budak dan memerdekakannya.
Hal ini sampai kepada telinga Umar. Pada pembagian bahan pakaian berikutnya, kepada Mu’adz diberikannya bahan pakaian yang harganya lebih murah. Ketika Mu’adz memprotesnya, Umar bertanya: “Mengapa protes?” Engkau telah menjual bagianmu waktu pembagian yang lalu.” Mu’adz tetap menuntut, “Apa urusannya dengan Anda? Berikan bagian saya, sebab saya telah bersumpah akan mengenakannya pada kepala Anda!” Umar berkata : “Inilah kepalaku di depanmu. Barang yang usang sepatutnya di pasang pada barang yang usang. Pula.”
Melawan Nafsu
Firman Allah swt:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”
(Qs. An-Naazi’aat : 40-1).
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a. (Jabir bin Abdullah al-Khazrajy al-Nashari as-Sulamy (16sH-78 H/607 -697) ikut berperang sebelas kali. Ia mempunyai majelis halaqah ilmiah di Masjid Nabawi. Meriwayatkan 1.540 Hadist). Bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Hal yang paling kutakutkan kepada ummatku adalah mengumbar hawa nafsu dan melamun panjang. Mengumbar hawa nafsu memalingkan manusia adari Al-Haq, sedang melamun panjang membuat orang lupa pada akhirat. Karena itu, ketahuilah bahwa melawan hawa nafsu adalah modal ibadat.”
(H.r. Hakim dan Dailamy).
Ketika salah seorang Syeikh ditanya tentang Islam, ia menjawab: “Membabat nafsu dengan pisau perlawanan, Dan ketahuilah bahwa bagi seseorang yang nafsunya telah bangkit, maka pencerahan hati yang menyebabkan sukacita jiwanya di hadalapan Allah swt. akan hilang.”
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan: “Kunci ibadat adalah tafakur. Tanda terrcapainya tujuan adalah perlawanan terhadap hawa nafsu dengan mninggalkan keinginan-keinginannya.”
Ibnu Atha’ berkta: “Nafsu itu dengan sendirinya cenderung pada perilaku yang jahat. Pada saat yang sama, si hamba diperintahkan agar bersabar di dalam beribadat. Jadi, hawa nafsu berperilaku sesuai dengan wataknya dengan cara menetang, dan si hamba menolak hawa nafsu dengan perjuangan melawan tuntutan-tuntutannya yang jahat.”
Al-Junayd berkomentar: “Nafsu amarah yang terus menerus mendorong pada kejahatan adalah penyeru kepada kebinasaan, pembantu musuh, pengikut hawa nafsu, dan diharu biru dengan berbagai macam kejahatan.”
Abu Hafs mengajarkan: “Barangsiapa tidak mencurigai diri sendiri dalam setiap waktu, tidak menetangnya dalam setiap keadaan ruhani, dan tidak memaksakan kepada diri sendiri apa yang tidak sesuai dalam hari-harinya, adalah manusia yang tertipu. Dan barangsiapa memberikan perhatiankepada nafsu dan menyetujui sebagian darinya identik dengan menghancurkan diri sendiri. Bagaimana bisa membenarkan bagi orang yang memiliki akal untuk menyenangi diri sendiri? Sedangkan Yusuf a.s. yang mulia, putra dari keturunan yang mulia, Ya’qub dan Ishaq bin Ibrahim as. Berkata:
“Aku tidak membersihkan diriku dari kesaahan sesungguhnya nafsu itu cenderung kepada kejahatan.”
(Qs. Yusuf : 53).
Al-Junayd menuturkan: “Suatu malam aku tidak dapat tidur, lalu aku bangun untuk melakukan wirid. Tetpai aku tidak menemukan kemanisan atau kenikmatan yang bisanya kurasakan. Maka Aku menjadi bingung dan berharap untuk dapat tidur saja, tetapi tetap tidak dapat. Lalu aku duduk, namun demikian aku tidak dapat duduk nyaman.
Maka kubuka jendela dan aku pergi ke luar. Klihat seorang laki-laki berselimutkan mantel sedang berbaring di jalan. Ketika ia menyadari kehadiranku, ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Wahai Abul Qasim, lihatlah waktu!” Aku menjawab : “Tuanku, tidak da ketentuan waktu.” Ia berkata : “Bahkan aku sudah memohon kepada si Pembangkit hati agar menggerakan hatimu kepadaku. “Aku berkata : “ Dia telah melakukannya. Jadi, apa kemauan anda ?” Aku menjawab : “ Jika nafsu mentang hawanya, maka penyakitnya menjadi obatnya.”
Kemudian laki-laki itu berpaling dan berkata kepada dirinya sendiri, :Dengar (hai nafsu), aku telah menjawab pertanyaanmu tujuh kali dengan jawaban seperti itu, tapi engkau menolak menerimanya sampai engkau mendengarnya dari al-Junayd, dan sekang engkau telah mendengarnya.” Kemudian ia berlalu meninggalkan aku. Aku tidak tau siapa dirinya dan tidak pernah bertemu dengannya lagi.”
Abu Bakr ath-Thamastany berkata : “Nikmat terbesar adalah jika engkau keluar dari dirimu sendiri, sebab ia adalah tabir terbesar antara dirimu dengan Allah, swt.”
Sahl bin Abdulllah mengatakan : “Tidak ada ibadat bagi Allah selain yang lebih utama dari menentang hawa nafsu.”
Ketika ditanya tentang perkara yang paling dibenci Allah swt. Ibnu Atha’ menjawab: “Memberikan perhatian kepada diri sendiri dengan segala keadaannya. Lebih buruk dari itu adalah mengharapkan imbalan atas perbuatan-perbuatannya.”
Ibrahim al-Khawwa menuturkan : “Aku sedang berada di atas gunung al-Lakam, ketika aku melihat segerombolan pohon delima, timbul keinginanku untuk mencicipannya sebuah. Lalu aku naik ke atas memetik sebuah dan membelahnya, akan tetapi rasanya asam. Lalu aku melihat seorang glaki-laki terbaring di tanah, dikerumuni lebah. Aku berkata kepadanya : “Assalamu’alaikum.” Ia menjawab : “Wa’alaikum salam, wahai Ibrahim.” Aku bertanya : “Bagaimana engkau mengenalku?” Ia menjawab : Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari manusia yang mengenal Allah swt. Aku berkata : “Kulihat engkau berada dalam keadaan bersama Allah swt.”
Mengapa engkau tidak meminta kepada-Nya agar melindungimu dari gangguan lebah-lebah itu?” Ia berkata : “Dan engkau, kulihat juga berada dalam keadaan bersama Allah swt. Mengapa engkau tidak meminta kepada-Nya juga agar melindungimu dari keinginan makan delima?” Manusia akan mengalamai rasa sakit dari sengatan delima di akhirat, sementara sengatan lebah hanya terasa sakit di dunia.” Aku pun pergi berlalu meninggalkan orang itu.”
Dalam satu riwayat Ibrahim bin Syaiban mengabarkan : “Selama empat puluh tahun aku tidak pernah bermalam satu kali pun di bawah atap rumahku atau di tempat tertutup yang lain. Namun Terkadang aku masih menginginkan agar bisa makan ‘ada dengan kenyang. Sayang, keinginanku itu tidak pernah terpenuhi. Pada suatu hari, ketika aku berada di Syam, seseorang menghidangkan semangkok penuh ‘adas kepadaku. Aku makan isinya dan kemudian berangkat. Di tengah jaan aku melihat botol-botol berisi semacam cairan, yang kukira adalah cuka.
Di antara mereka menegurku : “Bagaimana pendapatmu?” Ini adalah botol-botol anggur, dan ini guci anggur!” Aku berktaa pada diri sendiri, “Adalah kewajibanku ….”Kemudian aku pun masuk ke dalam warung dan menumpahkan isi-isi botol serta guci-guci itu. Orang itu mengira bahwa aku menumpahkan isi botol-botol itu atas perintah Sultan. Tapi ketika mengetahui bahwa itu hanya inisitaifku sendiri, ia lalu membawaku kepada Ibnu Thaulun yang memerintahkan agar aku didera duaratus kali dan dimasukan ke dalam penjara. Aku tinggal di penjara beberapa waktu lamanya sampai Abu Abdullah al Maghriby, guruku, datang ke negeri itu dan membebaskanku. Ketika melihatku, beliau bertanya : “Apa yang telah engkau perbuat?” Aku menjawab : “Satu perut yag penuh berisi ‘adas dan duaratus deraan!” Beliau berkata : “Engkau telah diselamatkan dari segala tuduhan di akhirat.”
Dalam suatu riwyat Sari as-SaqathY pernah menuturkan : “Selama tiga puluh tahun, nafsuku telah meminta kepadaku sepotong wortel yang dicelup dalam madu kurma, tetapi aku belum sempat memakannya!” Saya dengar Abu Abbas ala Baghdady menuturkan bahwa kakeknya pernah berkata : “Bencana seorang hamba adalah rasa pusnya terhadap keadaan dirinya.”
Isham bin Yusuf al-Balky menghadap kepada Hatim al-Asham, ia pun diterima. Seseorang bertanya : “Mengapa Anda menerimanya?” Hatim menjawab : “Dengan menerimanya aku merasakan rasa hinaku sekaligus merasakan kebanggaannya. Sebaliknya, apabila aku menolaknya, aku merasa kebangganku sekaligus merasakan rasa hinanya. Maka aku memilih kebanggaannya daripada kebangganku dan kehinaanku daripada kehinaannya.”
Seseorang berkata kepada salah seorang Sufi : “Aku ingin melaksanakan ibadat haji dalam keadaan menyepi (tajrid).” Sang Sufi menjawab : “Lebih tajridlah sifat alpa dari dalam hatimu, kekurang-seriusan dari dirimu, dan perkataan yang sia-sia dari lidahmu; setelah itu tempuhlah ke mana saja engkau mau.”
Abu Sulaiman ad-Darany berkata : “Orang yang melewati malam harinya dengan cukup baik akan memperoleh balasan di siang harinya, dan orang yang melewati siang dengan cara yang baik akan memperoleh balsan di malam harinya. Barangsiapa tulus dalam menjauhi hawa nafsu akan terbebas dari beban memberi nafsu makanan. Allah swt. bersifat Maha Pemurah hingga tidak berkehendak untuk menghukum hati yang menjauhi hawa nafsu demi Dia.”
Allah swt. mewahyukan kepada Daud as. “Wahai Daud, peringatkanlah para sahabatnya terhadap sikap menuruti hawa nafsu, sebab hati yang terikat kepada hawa nafsu dunia tertutup dari-Ku.”
Dikatakan bahwa seseorang sedang duduk melayang di udara, dan seseorang bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau bisa melakukan hal ini?” Ia menjelaskan : Aku meninggalkan hawa nafsu, karenanya Allah swt. menjadikan udara tunduk kepadaku.”
Dikatakan : “Jika (pemenuhan) seribu hawa nafsu ditawarkan kepada seorang Mukmin, niscaya ia akan meolaknya dengan rasa takut kepada Allah Swt. Tetapi jika pemenuhan satu kehendak hawa nafsu ditawarkan kepada seorang pndosa, pemenuhan itu akan mengusir darnya rasa takut kepada Allah swt.”
Dikatakan juga, : “Janganlah engkau tempatkan kendalimu di tanag nafsu, sebab ia pasti membawamu pada kegelapan.”
Yusuf bin Asbat berkata : “Hanya takut yang sangat atau kerinduan yang bergelora sajalah yang bisa memadamkan “NAFSU”.
Al-Khawwa berkata : “Barangsiapa meninggalkan hawa nafsu, tapi tidak menemukan pengganti dalam hatinya adalah seorang pendusta dalam meninggalkan hawa nafsu itu sendiri.”
Ja’far bin Nashr mengabarkan : “Al-Junayd memberiku uang satu dirham dan menyuruhku membeli semacam buah kenari. Kubeli beberapa buah, dan ketika saat berbuka puasa tiba, ia memecah sebuah dan memakan isinya. Tapi kemudian ia memuntahkannya dan menangis. : “Singkirkan buah-buah ini.”
Pintanya Ketika aku bertanya apa yang telah terjadi, ia menjawab : “Sebuah suara berseru dalam hatiku : “Tidakkah engkau merasa malu? Engkau menjauhi satu nafsu demi untuk-Ku, tapi kemudian mengambilnya lagi!.”
Kaum Sufi bersyair:
Huruf Nun dari kehinaan (haan) dari hawa..
Telah dicuri.
Menyerah kepada hawa nafsu
Jatuh dalam kehinaan.
Dengki
Allah SWT Berfirman:
“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai sebuah dari kejahatan makhluk-Nya.”
Kemudian dia berfirman: “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
(Qs. Al-Falaq : 1,2 dan 5.).
Di sini, Allah menutup Surat, yang dijadikan sebagai perlindungan dengan menyeburkan kata “Dengki”.
Diriwayatkan dari Ibnu Ma’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. Waspadalah terhadap kesombongan, sebab kesombongan telah menjadikan iblis menolak bersujud kepada Adam. Waspadalah terhadap kerakusan, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang. Dan jagalah dirimu dari dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya.”
(H.r. Ibnu Asakir).
Salah seorang Sufi mengatakan: “Orang yang dengki adalah orang yang tidak beriman, sebab ia tidak merasa puas dengan takdir Allah Yang Maha Esa,”
Dikatakan: “Orang yang dengki tidak pernah berjaya.”
Disebutkan dalam firman Allah swt:
“Katakanlah, “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”
(Qs. Al-A’raf :33).
Dikatakan bahwa : “perbuatan keji yang tersembunyi itu adalah dengki.”
Dalam beberapa kitab tertulis bahwa : “Orang yang dengki adalah musuh nikmat-Ku.”
Dikatakan pula : “Pengaruh dengki tampak padamu sebelum ia tampak pada musuhmu.”
Al-Asmu’i menuturkan : “Aku melihat seorang Badui yang berumur seratus dua puluh tahun, dan aku berkata : “Alangkah panjangnya umur Anda!.” Ia menjawab : “Aku telah meninggalkan dengki, hingga umurku panjang.”
Ibnul Mubarak mengatakan : “Segala puji bagi Allah, Yang tidak menempatkan dengki dalam hati pemimpinku sebagaimana yang telah ditempatkan-Nya dalam hati pendengkiku.”
Dalam satu hadis dikatakan : “Ada seorang malaikat di langit kelima yang amal perbuatan seseorang manusia melaluinya, dan ia bersinar kemilau seperti matahari. Malaikat itu memerintahkan : “Berhentilah karena kau adalah malaikat dengki. Pukullah pelaku dengki pada mukanya, sebab ia adalah seorang pendengki!.”
Mu’awiyah bin Abu Sufyan berkata : “Aku mampu menyenangkan semua orang kecuali pendengki. Ia tidak pernah merasa puas dengan apa pun selain berhentinya kenikmatan bagi semua orang.”
Dikatakan : “Seorang pendengki adalah seorang yang paling zalim. Ia tidak membiarkan sesuatu pun tetap tinggal di tempatnya.”
Umar bin Abdul Aziz menegaskan : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih zalim yang sama dengan kezaliman pendengki. Sebab ia senantiasa berada dalam keadaa sengssara dan nafas sesak.”
Dikatakan : “Di antara tanda-tanda seorng pendengki adalah penjilat orang lain manakala orang itu berada di dekatnya, memfitnahnya manakala tidak berada di dekatnya, dan merasa senang apabila ada bencana yang menimpa diri orang lain.”
Mu’awiyah berkata : “Tidak ada sifat-sifat kejahatan yang lebih tegak daripada dengki. Orang yang dengki binasa sebelum orang yang didengkinya.”
Dikatakan bahwa Allah Swt. mewahyukan kepada Sulaiman putra Daud, as. “Kuperintahkan engkau agar melakukan tujuh perkara, “Janganlah engkau menggunjing dan mendengki salah seorang hamba-Ku yang ssaleh!” Sulaiman menjawab : “”Tuhanku”, cukuplah perintah itu bagiku.”
Dikatakan bahwa Musa as. Melihat seorang manusia di dekat “Arasy. Karena Musa ingin menempati kedudukan itu, beliau bertanya, “Apa amalnya?”
Pertanyaanya itu dijawab : “Ia tidak pernah dengki terhadap manusia karena anugerah Allah swt. kepadanya.”
Dikatakan : “Seorang pendengki menjadi bingung bila melihat adanya rahmat atas diri orang lain dan merasa senang jika melihat adanya kekurangan pada diri orang lain.”
Dikatakan : “Jika engkau ingin selamat dari seorang pendengki, sembunyikan urusanmu darinya.”
Dikatakan pula : “Seorang pendengki sangat marah terhadap manusia yang tidak mempunyai dosa, dan bersikap kikir terhadap yang tidak ia miliki.”
Dikatakan juga : “Waspadalah! Jangan sampai engkau mengharapkan untuk mencintai orang yang mendengkimu, sebab ia pasti tidak akan menerima kebaikanmu.”
Kata salah seorang Sufi : “Apabila Allah swt. Berkehendak memberikan kekuasaan kepada seorang musuh yang tak mengenal kasihan, terhadap salah seorang hamba-Nya, maka kekuasaan itu diberikan-Nya kepada pendengkinya.”
Dalam syair Sufi:
Cukuplah bagimu kisah tentang seorang Yang dikasihani oleh para pendengkinya.
Mereka juga membacakan syair berikut:
Semua permusuhan terkadang diharapkan
Kematiannya
Keculai permusuhan dari orang
Ang melawanmu dengan rasa dengki.
Mereka juga membacakan syair:
Manakala Allah berkehendak menebar kebajikan
Digulunglah lidah pendengkinya.
Ibnul Mu’tazz mengatakan:
Katakan pada pendengki
Ketika nafasnya terengah-engah
“Hai si zalim!.”
Sedang ia
Seakan-akan orang yang ditindas.
Pergunjingan
Allah swt. berfirman:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah ssalah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
(Q.s Al-Hujurat :12).
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang ikut duduk bersama Rasulullah saw. kemudian ia bangkit berdiri dan pergi. Salah seorang yang hadir berkata : “Alangkah lemahnya orang itu.” Rasulullah saw. bersabda:
“Engkau telah memakan daging saudaramu ketika engkau menggunjingnya.”
Allah swt. mewahyukan kepada Musa, as. : “Barangsiapa meninggal dengan bertobat dari menggunnjing, akan menjadi orang terakhir yang masuk surga, dan barangsiapa meninggal dengan berterus-terusan melakukan gunjingan itu, akan menjadi orang yang pertama masuk neraka.”
Auf menuturkan: “Aku datang kepada Ibnu Sirin, aku aku menggunjing Al-Hallaj. Ibnu Sirin berkata :”Sesungghnya Allah swt. adalah hakim yang paling adil, maka sebanyak yag diambilnya dari al-Hallaj, sebanyak itu pula yang diberikan-Nya kepadanya. Ketika engkau berjupa dengan Allah awt. Di akhirat nanti, dosa sekecil apapun yang telah dilakukan al-Hallaj akan menjadi lebih besar bagimu daripada dosa terbesar yang teah dilakuka al-Hallaj.”
Diriwaytkan bahwa Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta, dan ia pun bersedia menghadirinya. Ketika orang-orang membicarakan seseorang yang tidak hadir, mereka mengatakan : “Seorang yang kurus kering dan tidak meenarik.” Ibrahim berkata : “Inilah yang dilakukan nafsuku terhadap diriku.” Kutemukan diriku dalam perkumpulan dimana pergunjingan dilakukan.” Ia lalu pergi begitu saja, setelah itu ia tidak makan selama tiga hari.
Dikatakan : “Barangsiapa menggunjing orang lain adalah seperti orang yang menyiapkan ketapil. Ia menembak amal-amal baiknya sendiri dengan perbuatannya itu ke Barat dan ke Timur. Ia menggunjing seseorang dari Khurasan, seorang lagi dari Hijaz, seorang lagi dari Turki, ia mencerai-beraikan amal-amal baiknya sendiri, dan ketika berdiri, tak satu pun amal baiknya.”
Dikatakan, : “Seorang hamba akan diberi catatan amalnya pada hari Kiamat, tetapi ia tidak melihat satu pun amal baiknya di dalamnya. Ia akan bertanya : “Di mana shalat, puasa dan amal-amal ibadatku yang lain?” Dikatakan kepadanya : “Semua amalmu telah hilang karena engkau terlibat dalam pergunjingan.”
Dikatakan : “Barangsiapa digunjing, Allah mengampuni separo dosanya.”
Sufyan ibnul Husain mengatakan : “Aku sedang duduk-duduk dengan Iyas bin Mu’awiyah, dan menggunjing seseorang. Iyas bertanya kepadaku : “Apakah engkau telah menyerang orang-orang Romawi atau Turki tahun ini?” Aku menjawab : “Tidak” Ilyas berkata : Orang-orang Turki dan Romawi telah selmat dari seranganmu, sementara saudaramu sendiri yang Muslim tidak!” Dikatakan : “Seorang manusia akan diberi catatan amalnya di hari Kiamat, dan ia menemukan di dalamnya amal-amal baik yag tidak pernah diperbuatnya. Dikatakan kepadanya : “Ini adalah imbalan bagi gunjingan orang terhadapmu, yang tidak kamu ketahui.”
Sufyan ats-Tsauri ditanya tentang sabda Nabi saw.:
“Sesungguhnya Alalh membenci keluarga pemakan daging manusia.”
(H.r. Baihaqi).
Sufyan mengomentari : “Yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang menggunjing, mereka memakan daging manusia.”
Ketika menggunjing ditanyakan di hadapan Abdullah ibnul Mubarak, ia berkata : “Jika aku menggunjing seseorang niscaya aku akan menggunjing kedua orang tuaku, sebab mereka yang paling berhak atas amal-amal baiku.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Jadikanlah keuntungan seorang Muslim terhadap dirimu berupa tiga hal ini : Jika engkau tidak bisa membantunya, maka janganlah engkau mengganggunya; Jika engkau tidak bisa memberinya kegembiraan, maka janganlah engkau membuatnya sedih; Jika engkau tidak bisa memujinya, maka janganlah engkau mencari-cari kesalahannya.
Dikatakan kepada Hasan al-Bashry : “ Si Fulan telah menggunjing Anda”, maka al-Hasan lalu mengirimkan kue-kue kepada orang yang menggunjingnya, dengan pesan : “Aku mendengar bahwa engkau telah melimpahkan amal baimu kepadaku. Aku ingin membalas kebaikanmu.”
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Jika orang melepaskan tabir rasa malu dari wajahnya, niscaya tidak akan ada masalah pergunjingan bagimu.”
(H.r. Ibnu Abdi dan Abu Asy-Syeikh).
Al-Junay menuturkan : “Aku sedang dudukduduk di masjid asy-Syuniziyah, menunggu jenazah agar aku bisa ikut melaksanakan shalat jenazah. Orag-orang Baghdad dengan berbagai kelasny duduk menunggu iringan tersebut. Lalu aku melihat seorang miskin yang kelihatan bekas ibadatnya mengemis dari orang banyak. Aku berkata kepada diriku sendiri : “Jika orang ini mau bekerja untuk memperoleh rezekinya, itu akan lebih baginya.”
Ketika aku kembali ke rumah, maka seperti biasanya, aku mulai melakukan wirid di malam hari, menangis dan shalat, serta amalan-amalan lainnya.
Tetapi semua wiridku itu terasa memberatkan jiwaku, aka aku lalu tidak dapat tidur, dan hanya duduk-duduk saja. Ketika aku terjaga, kantuk datang kepadaku, aku melihat si pengemis itu. Kulihat orang-orang sedang meletakkan tubuhnya di atas sehamparan kain yang lebar, dan mereka memerintahkan kepadaku : “Makanlah daging orang ini, karena engkau telah menggunjingnya.” Keadaan orang itu diungkapkan kepadaku, dan aku memprotes, “Aku tiak menggunjingya.” Aku hanya mengatakan sesuatu kepada diriku sendiri.”
Lalu dikatakan keapdaku : “Perbuatan seperti itu pun tidak layak. Pergilah kepada orang itu dan meminta maaflah!” Paginya aku terus mencari orang itu sampai aku menemukannya sedang mengumpulkan dedaunan yang tersisa dalam air yag digunakan untuk mencuci sayur mayur. Ketika aku memberi salam kepadanya, ia bertanya : “Wahai abul Qasim, apakah engkau atang ke sini lagi?” Aku menjawab : “Tidak” Ia berkata : “Semoga Allah mengampuni dosa kami dan dosamu.”
Abu Ja’far al-Baklhy berkata : “Seorang pemuda dari kalngan warga Balkh sedang berada di antara kami, ia bermujahadah dan mengabdikan dirinya untuk melayani Allah. Hanya saja ia terus menerus terlibat dalam gunjingan. Ia suka mengatakan : “Si Fulan dan si Fulan itu demikian.” Pada suatu hari aku melihatnya sedang mengunjungi beberapa tukang memandikan jenazah yang disebut orang sebagai “orang-orang banci”.
Ketika pemuda itu meninggalkan mereka, aku bertanya kepadanya : “Wahai Fuan, apa yang telah terjadi padamu?” Ia menjawab : “Begiliha akibatnya atas perbuatanku mengunjing. Hal itu telah emncampakkanku dalam kehinaan ini. Aku telah tergila-gila kepada salah seorang banci dan aku melayani mereka atas namanya. Semua amal ibadatku sebelumnya telah musnah. Maka doakan agar Allah swt.mengasihiku!.”
Qana’ah
Allah swt berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki- maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”
(Qs. An-Nahl : 97).
Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Qana’ah (menerima pemberian Allah) adalah harta yng tidak pernah sirna.”
(Hr. Thabrani).
Diriwayatkan oleh Abu Hrairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Jadilah orang yang wara’ maka engkau akan menjadi orang yang paling berbakti kepada Allah swt. Jadilah engkau orang yang menerima (pemberian-Nya), engkau akan menjadi orang yang paling bersyukur. Cintailah manusia sebagaimana (kamu mencinta0 dirimu sendiri, maka engkau menjadi orang yang beriman. Perbaikilah dalam hidup bertetangga dengan tetanggamu, engkau akan menjadi orang Muslim. Dan sedikitlah tertaa, sebab banyak tertawa mematikan hati.”
(H.r. Baihaqi).
Dikatakan : “rang-orang miskin itu mati, kecuali mereka yang dihidupkan Allah dengan kebesaran qana’ah.”
Bisyr al-Hafi berkata : “Qana’ah adalah seorang raja yang hanya tinggal di dalam hati yang beriman.”
Abu Sulaiman ad-Darany berkomentar: “Hubungan Qana’ah dengan ridha adalah seperti hubungan antara maqam wara’ dengan zuhud. Qana’ah adalah awal ridha, dan wara’ adalah awal zuhud.”
Dikatakan : “Qana’ah adalah sikap tenang dalam menghadapi hilangnya sesuatu yang biasa ada.”
Abu Bakr al-Maraghy menjelaskan : “Orang yang cerdas adalah orang yang menagani dunianya, dengan qana’ah dan tidak bergegas-gegas, tapi mengurusi urusan akhiratnya dengan penuh kerakusan dan ketergesaan, menangani urusan agamanya denga ilmu dan ijtihad.”
Abu Abdullah bin Khafif berkata : “Qana’ah adalah meningkatkan keinginan terhadap apa yang telah hilang atau yang tidak dimiliki, dan menghindari ketergantungan keapda apa yang dimiliki.”
Dikatakan mengenai firman Allah swt.
“Allah akan menganugerahi mereka rezeki yang berlimpah)”
(Qs. Al-Hajj : 88), bahwa yang dimaksud di sini adalah qana’ah.
Muhammad bin Ali at-Tirmidzy menegaskan : “Qana’ah adalah kepuasan jiwa terhadap rezeki yang diberikan.”
Dikatakan : “Qana’ah adalah menemukan kecukupan di dalam apa yang ada dan tidak menginginkan apa yang tiada.”
Wahb menuturkan : “Kehormatan dan kekayaan berkelana mencari teman. Mereka berjumpa dengan qaba’ah dan mereka hinggap menetap apdanya.”
Dikatakan : “Orang yang merasa qana’ah akan menemukan bubur yang lezat.” Dikatakan juga, “Orang yag selalu kembali kepada Allah swt. dalam segala hal, akan dianugerahi qana’ah.”
Dalam sebuah cerita disebutkan ketika Abu Hazim melewati seorang penjual daging yang mempunyai sejumlah daging berlemak, si penjual berkata kepadanya : “Ambillah sedikit, wahai Abu Hazim, karena daging ini berlemak!.” Abu Hazim menjawab, “Aku tidak membawa uang.” Si pedagang berkata : “Aku beri engkau waktu untuk mebayarnya.” Abu Hazim menjawab : “Jiwaku masih lebih baik menunggu daripadamu.”
Salah seorang Sufi ditanaya : “Siapakah orang yang paling qana’ah di antara ummat manusia>” Ia menjawab : “Yaitu orang yang paling berguna bagi ummat manusia dan paling sedikit upahnya.”
Dikatakan dalam kiab Zabur : “Orang yang Qana’ah adalah orang yang kaya, sekalipun ia dalam keadaan lapar.”
Dikatakan : “Allah swt. menempatkan lima perkara dalam lima tempat : Keagungan dalam ibadat, kehinaan dalam dosa, kehidmatan dalam bangun malam, kebijaksanaan dalam perut kosong, dan kekayaan/cukup dalam qana’ah.”
Ibrahim al-Maristany berkata : “Lakukanlah pembalaan terhadap kerakusanmu dengan qana’ah sebagaimana engkau membalas dendam kepada musuhmu dengan qisas.”
Dzun Nuun al-Mishry berkata : “Orang yang qana’ah selamat dari orang-orang semasanya dan berjasa atas semua orang.”
Dikatakan, Orang yang qana’ah akan menemukan istirah dari kecemsan dan berjaya atas segala sesuatu.”
Al-Kattany mengatakan : “Barangsiapa menjual kerakusan demi qana’ah berarti telah memperoleh keagungan dan kebesaran.”
Dikatakan : “Kesedihan dan rasa gelisah menjadi panjang bagi orang yang matanya mengejar apa yang dimiliki orang lain”
Kaum Sufi sering membacakan syair berikut:
Betapa indahnya pemuda.
Dari hari-hari yang lapar
Lebih terhormat dari kekayaan yang disetai lapar.
Dalam suatu cerita disebutkan : “Seorang laki-laki melihat seorang yang bijaksana sedang mengunyah potongan-potongan sayur yang dibuang di tempat air, dan berka kepadanya,: “Jika saja Anda mau mengabdi kepada Sultan, niscaya Anda tidak perlu makan-makanan begini. Orang bijak itu menjawab : “Dan Anda, seandainya saja Anda mau berqana’ah dengan makanan begini, niscaya Anda tidak pelu mengabdi kepada Sultan.”
Mengenai firman Allah swt:
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.”
(Qs. Al-Infithar :13).
Dikatakan bahwa kata na’im adalah qana’ah di dunia. Dalam Ayat berikutnya:
“Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.”
(Qs. Al-Infithar :14).
Kata Jahim berarti kerakusan di dunia.
Mengenai firman Alalh swt:
“Tahukah kamu, apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.”
(Qs. Al-Balad :12-3).
Dikatakan bahwa ayat ini berarti : Membebaskan orang dari kerendahan sifat tamak.”
Dikatakan bahwa firman Allah swt:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait.”
(Qs. Al-Ahza :33), berarti, “menghilangkan sifat kikir dan iri.”
Dan firman-Nya selanjutnya:
“Dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
(Qs. Al-Hazab :33) berarti : Melalui sifat murah hati dan tidak pelit dalam memberi.”
Mengenai firman Allah Swt:
“Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku.”
(Qs. Shaad:35). Berarti : “Anugerahkanlah kepadaku derajat qana’ah yang dapat membuatku sendiri, dibanding sibuk dengan pesoalanku, yang dengannya aku akan merasa ridha dengan ketentuan-Mu.”
Dikatakan mengenai firman Allah swt:
“Aku (Sulaiman) pasti akan menghukum (burung hud-hud) dengan hukuman yang pedih.”
(Qs. An-Naml :21), bahwa ayat ini berarti : “Aku akan menaggalkan darinya sifat qana’ah dan memberinya cobaan dengan sifat rakus.” Yakni : “Aku akan memohon kepada Allah swt. agar melakukan hal ini terhadapnya.”
Abu Yazid Bisthamy ditanya : “Bagaimana Anda bisa sampai pada kedudukan sekarang ini?” Ia menjawab : “Aku mengumpulkan harta benda dunia ini lalu mengikatnya dengan tali qana’ah. Lalu aku menempatkan mereka dalam ketepil keikhlasan dan melontarkannya ka lautan putus asa. Maka aku pun bisa istirahat.”
Abdul Wahahb, paman Muhammad bin Farhan, menuturkan, : “Aku sedang duduk-duduk bersama al-Junayd di sat musim haji, dan disekelilingnya ada sekelompok besar orang non Arab, termasuk beberapa orang yang telah dibesarkan di lingkungan rang Arab. Seseorang datang kepadanya dengan membawa uang limaratus dinar, yang diletakkannya di hadapan al-Junayd, lalu Junayd berkata, : “Sebarkan pada orang-orang fakir.”
Sambil bertanya kepadanya : “Apakah kamu masih punya uang selain ini?” Ia menjawab : “Ya, aku masih punya banyak.” Al-Junayd bertanya kepadanya : “Apakah kamu ingin memperoleh lebih banyak dari yang kamu miliki sekarang?” Ia menjawab : “Ya”. Maka al-Junayd lalu berkata kepadanya : “Ambillah kembali uangmu ini, sebab engkau lebih memerlukannya daripada kami.” Junayd tidak menerimanya.”
Tawakal
Firman Allah swt berfirman:
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Alalh akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(Qs. Ath-Thalaq:3).
“Karena itu, hendaklah kepada Alalh saja orang-orang Mukmin bertawakkal.”
(Qs. Ali Imran:160).
“Dan hanya kepada Alalh hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
(Qs. Al-Maidah:23).
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Telah diperlihatkan kepadaku semua ummat di tempat berkumpul haji. Kulihat bahwa ummatku mememnuhi lembah dan gunung-gunung. Jumlah dan penampilan mereka mengagumkan hatiku. Aku ditanya : “Apakah engkau ridha?” Aku menjawab : “Ya”. Bersama dengan mereka akan ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah berobat dengan besi panas, tidak pernah mencari ramalan dengan burung, dan idak penah pula mencuri dan mereka hanya bertawakkal kepada Allah.” Mendengar perkataan Nabi itu, Ukasyah bin Muhsan al-Asady bangkit berdiri dan meminta, “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar memasukan aku ke dalam salah seorang di antara mereka.” Rasulullah lalu berdoa>’ Ya Allah, jadikanlah ia salah seorang dari mereka.” Yang lain bangkit pula, juga berkata : “Doakan juga saya, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, : “Engkau telah didahului akasyah.”
(H.r. Ahmad).
Abu Ali ar.Rudzbary menuturkan : “Aku berkta kepada ‘Amar bin Sinan : “Ceritakan kepadaku tentang Sahl bin Abdullah! Maka ia pun berkata kepadaku : “Ia berkata bahwa ada tiga tanda orag gyang bertawakkal kepada Allah swt. Tidak meminta-minta, tidak menolak sesuatu (pemberian) dan tidak pula menahan sesuatu.”
Abu Musa ad-Dubaily mengabarkan : “Abu Yazid al-Bisthamy ditanya : “Apakah tawwakl itu?” Maka ia lalu bertanya kepadaku, “ Bagaimana apendapatmu?” Aku menjawab : “Para murid kami mengatakan : “Bahkan jika seekor binatang buas dan ular berada di kiri dan kananmu, jiwamu tidak akan bergetar karenanya.” Abu Yazid mengatakan : “Ya” itu mendekati. Tetapi jika penghuni surga hidup dengan penuh kenyamanan dan penghuni neraka hidup dengan penuh siksaan, kemudian terrlintas dalam pikiranmu untuk lebih menyukai kehidupan yang satu daripada kehidupan yang lain, berarti engkau telah keluar dari golongan tawakkal!.”
Sahla bin Abdullah menjelaskan : “Maqam pertama dalam tawakkal adalah bahwa si hamba berada di tangan Allah swt. seperti mayit di tangan orang yang memandikannya, yang membolak-balikannya sesuka hatinya, tanpa ia bergerak dan berangan-angan.”
Hamdun al-Qashshar, menandaskan : “Tawakkal adalah berpaut erat pada Allah swt.”
Seorang laki-laki bertanya kepada Hatim al-Asham:
“Siapa yang memberrimu makanan?” Ia menjawab : “Milik Allah-lah harta kekayaan dalngit dan bumi, tetapi orang munafik tidak memahaminya.”
(Qs. Al-Munafiqun :7).
Ketahuilah bahwa tempat tawakkal adalah hati. Sedangkan gerakan lahiriah tidak menaggalkan tawakkal dalam hati manakala si hamba telah yakin bahwa takdir datang ari Allah swt, di dalamnya, dan jika sesuatu dimudahkan kepadanya, ia melihat kemudahan dari Alalh swt. di dalamnya. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dengan mengendari unta, dan ia bertanya : “Wahai Rasulullah, haruskah aku biarkan saja unta tanpa ditambatkan atau kemudian aku bertawakal saja kepada Allah?” Beliau menjawab .
“Tambatkanlah untamu dan sesudah itu bertawakkallah.”
(H.r. Tirmidzi).
Ibrahim al-Khawwas berkomentar : “Barangsiapa benar-benar bertawakkal kepada Allah di dalam urusan dirinya sendiri, pasti juga akan bertawakkal kepada Allah dalam urusan dengan orang lain.”
Bisyr al-Hafi mengabarkan : “Salah seorang Sufi mengatakan : “Aku telah bertawakkal kepada Allah swt. padahal aku berdusta kepada Allah swt. Seandainya ia bertawakkal tentu akan puas dengan segala sesuatu yang diberikan Allah kepadanya.”
Yahya bin Mu’adz ditanya : “Bilakah seseorang dikatakan bertawakkal?” Ia menjawab : “Jika ia rela menerima Allah sebagai pelindungnya.”
Ibrahim al-Khawwa menuturkan : “Ketika aku sedang melakukan perjalanan ke pedalaman, sebuah suara memanggilku dan seorang Badui berjalan menghampiriku. Ia berkata kepadaku : “Wahai Ibrahim di antara kami ada yang bertawakkal kepada Allah. Tinggallah bersama kami sampai keyakinanmu menjadi benar (Shahih). Tidakkah engkau tahu bahwa harapanmu untuk sampai ke sebuah kota aalah dmei memperoleh citarasa makananyang berbeda?” Berhentilah mengharapkan kota-kota dan bertawakkalh kepada Allah.”
Ketika Ibnu Atha’ ditanya hakikat tawakkal, ia menjelaskan : “Tawakkal adalah bahwa hendaknya hasrat yang menggebu-gebu terhadap perkara duniawi tidak muncul dalam dirimu, meskipunengkau sangat membutuhkannya, dan bahwa hendaknya engkau senantiasa bersikap qana’ah dengan Allah, meskipun engkau tergantung paa kebutuhan-kebutuhan duniawi itu.”
Abu Nashr as- Sarraj berkata : “Keadaan bertawakkal kepada Allah adalah seperti yang dikatakan oleh Abu Turab an-Nakhsyaby : “Mengabdikan jasad untuk beribadat, mengaitkan hati kepada Allah, dan bersikap tenang dalam mencari kebutuhan. Jika diberi bersyukur, jika tidak, tetap bersabar.”
Seperti dikatakan Dzun Nuun al-Mishry : “Tawakkal kepada Allah swt. berarti meninggalkan daya upaya, sebab si hamba hanya mampu bertawakkal kepada-Nya jika ia mengetahui bahwa Alalh swt. Maha Tahu dan Maha Melihat akan keadaannya.”
Abu Ja’far bin Abu Faraj menuturkan : “Aku melihat seorang dari kalangan jahat dikenal dengan sebutan Unta Aisyah, yang sedang menerima hukuman cambuk. Aku bertanya kepadanya : “Pada saat bagaimana rasa sakitmu akibat cambukkan menjadi reda?” Ia menjawab : “Manakala orang yang menyebabkan kami dicambuk melihat kami.”
Al-Husain bin Manshur bertanya kepada Ibrahim al-Khawwas : “Apa yag telah engkau capai dalam perjalananmu menyeberangi padang pasir?” Ibrahim al-Khawwas menjawab : “Aku tetap berada dalam keadaan tawakkal kepada Allah dan menyembuhkan diriku dengannya.” Al-Husain lalu bertanya kepadanya : “Engkau telah menghabiskan usiamu demi menumbuh suburkan jiwamu. Tapi bagaimana pendapatmu tentang pemusnahan jiwa demi keesaan Allah.?”
Abu Nashr as-Sarraj mengatakan : “Tawakkal adaalh sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakr ad-Daqqaq : “Membatasi kepedulain mencari rezeki sehari saja, dan tidak berharap suatu apa pun untuk esok hari.”
Ia menegaskan : “Tawakkal juga seperti yang dikatakan oleh Sahlbin Abdullah : “Menyerahkan diri kepada Allah swt. dalam apa pun yang dikehendaki-Nya.”
Abu Ya’kub an-Nahrajury berkata : “Tawakkal kepada Allah, pada hakikatnya adalah keadaan yang dicerminkan oleh Ibrahim as. Ketika menaggapi tawaran Jibril as. Untuk menolongnya, Maka Ibrahim As. Menjawab : “Darimu, aku tiak perlu bantuanmu.” Ibrahim telah lebur dalam Allah swt. dan bersama-ya, dan karenanya tidak melihat bersama Allah selain Allah swt.
Seorang laki-laki bertanya kepada Dzun Nuun am-Mishry : “Apakah tawakkal itu?” dan ia menjawab : “Tawakkal adalah menyingkirkan semua yang dipertuan (selain Alalh swt.) dan meninggalkan hukum sebab akibat.” Orang itu meminta : “Apa lagi?” Dzun Nuun melanjutkan : “Tawakkal aalah menghambakan diri kepada Allah dan mengeluarkan diri dari rububiyah.”
Ketika Hmadun al-Qashshar ditanya tentag tawakkal, ia menjelaskan : “Tawakkal adalah jika engkau punya sepuluhribu dirham dan engkau berhutang seperenam dirham, engkau tetap merasa cemas kalau-kalau engkau mati sementara hutangmu itu belum terbayar. Dan jika engkau punya hutang sepuluh ribu dirham dan tidak mampu mewariskan harta yang cukup untuk melunasi hutangmu, engkau tidak putus asa bahwa Allah swt. niscaya akan menyelesaikan hutangnmu itu.”
Ketika ditanay tentang tawakkal, Abu Abdullah al-Qurasyi berkomentar : “Tawakkal berarti bergantung kepada Allah swt. dalam setiap keadaan.” Si penanya minta penjelasan lebih jauh, dan beliau mengatakan : “Tinggalkan ketergantungan kepada setiap sebab yang membawa kepada sebab yang lain, hingga Allah sendiri yang menguasai semua itu.”
Sahl bin Abdullah mengatakan : “Tawakkal adalah keadaan ruhani (haal) Nabi saw. dan Ikhtiar adalah Sunnahnya. Maka, barangsiapa yang tetap keadaannya, berarti janganlah meninggalkan Sunnahnya.”
Abu Sa’id bin Isa al-Kharraz berkata : “Tawakkal adalah kecemasan tanpa perasaan puas dan kepuasan tanpa kecemasan.”
Dikatakan : “Tawakkal adalah menganggap kemewahan dan kekurangan tidak ada bedanya bagi diri sendiri.”
Ibnu Masruq menegaskan : “Tawakkal adalah menyerahkan diri kepada alur qadha’entuan Allah.”
Abu Utsman al-Hiry menegaskan : “Tawakkal adalah sikap cukup bersama Allah swt. dengan menggantungkan diri kepada-Nya.”
Al Husain bin Manshur mengatakan : “Orang yang benar-benar tawakkal kepada Allh swt. tidak akan memakan sesuatu, karena di negara itu ada orang yang lebih berhak akan makanan itu daripada dirinya.”
Umar bin Sinan menuturkan : “Ibrahaim al-Khawwas berjalan melewati kami, dan kami berkata kepadanya : “Katakan kepada kami hal paling aenh yang Anda lihat dalam perjalanan-perjalanan Anda!” Ia menjawab : “Al-Khidhr as. Menemuiku dan minta diperbolehkan menyertaiku, tapi aku takut jika tawakkalku kepada Allah swt. menjadi rusak dengan keberadaannya bersamaku. Karena itu, aku lalu memisahkan diri darinya.”
Ketika Shal bin Abdullah ditanya tentang tawakkal, ia menjelaskan : “Kalbu yang hidup bersama Allah swt.dan tidak tertarik kepada yang lain.”
Syeikh Abu Ali ad-daqqaq berkata : “Ada tiga tingkatan bagi orang yang bertawakkal : (1) Tawakkal (2). Taslim dan (3), Tafwidh.” Orang yang tawakkal akan merasa tenteram dengan janji-Nya, orang yang taslim akan merasa cukup dengan pengetahuan-Nya, dan orang yang Tafwidh kepada Allah akan merasa puas dengan kebijaksanaan-Nya.”
Saya mendengar beliau berkata : “Tawakkal kepada Allah adalah awal; Taslim adalah tengah-tengahnya, dan Tafwidh segenap urusan kepada Allah adalah ujungnya.”
Ad-Daqqaq ditanya tentang tawakkal, dan ia berkomentar : “Tawakkal adalah makan tanpa tamak.”
Yahya bin Muadz mengatakan : “Memakai pakaian dari wol adalah sebuah toko berbicara tentang zuhud adalah sebuah pekerjaan, dan menyertai sebuah kaffilah adalah nafsu. Semua ini adalah ketergantungan-ketergantungan.”
Seoang laki-laki datang kepada Asy-Syibly dan mengeluhkan tanggungan keluarganya yang banyak. Asy-Syibly mengatakan : “Pulanglah ke rumahmu dan usirlah siapa-siapa yang rezekinya bukan berkat Allah swt.”
Sahl bina Abdullah menegaskan : “Barangsiapa menghantam dalam aktivitas geraknya, berarti menghantan Sunnah, dan abrangsiapa menghantam dalam tawakkal berarti menghantam dalam iman.”
Ibrahim al-Khawwas mengisahkan : “Ketika aku sedang dalam perjalanan menuju ke Mekkah, tiba-tiba aku melihat seorang yang beringas. Aku bertanya kepadanya : “Engkau seorang manusia ataukah jin?” Ia menjawab : “Aku Jin.” Aku bertanya lagi : “Engkau hendak pergi ke mana?” Ia menjawab tegas : “ke Mekkah, Aku kembali bertanya : “Tanpa bekal apa pun?” Ia menjawab tegas : “Ya, Di kalangan kamijuga ada jin-jin yang melakukan perjalanan dalam keadaan tawakkal kepada Allah.” Aku bertanya kepadanya : “Dan apakah tawakkal itu?” Ia menjawab : “ Menerima dari Allah swt.”
Ibrahim al-Khawwa adalah seorang yang tiada taranya dalam hal tawakkal kepaa Allah. Ia belaku sangat cermat dalam hal itu, Ia selalu membawa jarum dan benang, sebuah timba kecil untuk berwudhu, dan sebuah guntung. Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Abu Ishaq, mengapa anda membawa barng-barang ini, sementara Anda mencegah diri dari segala hal?” Ia menjawab : “Barang-barang ini tidak merusak tawakkal kepada Allah set. Sebab Allah swt. telah menjadikan kewajiban-kewajiban mengikat kita semua.
Seorang fakir tak memiliki kecuali hanya sepotong jubah, dan jubahnya bisa robek. Jika ia tidak membawa jarum dab benang dan benang, niscaya auratnya akan terbuka, maka kesuciannya akan ternoda. Jika engkau melihat seorang fakir yang tidak membawa timba, jarum dan benang, maka patutu engkau ragukan kesempurnaan shalatnya.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata : “Tawakkal sifat orang beriman, taslim sifata para wali, dan menyerahkan segenap urusan kepaa Allah (tafwidh) adalah sifat ahli tauhid. Tawakkal adalah sifat kaum awam, taslim adalah sifat manusia-manusia khawash, dan tafwidh adalah sifat khawashul khawash.” Saya juga mendengar beliau berkata : “Tawakkal kepada Allah adalah sifat para Nabi, taslim adalah sifat Nabi Ibrahim as. Dan tafwidh adalah sifat Nabi kita Muhammad saw.”
Abu Ja’far al-Haddad menuturkan : “Selama kira-kira sepuluh tahun tetap berada dalam keadaan pasrah kepada Allah, sementara aku juga bekerja di pasar. Setiap hari aku menerima upah, dan tanpa menggunakan sedikit pun darinya untuk membeli seteguk air atau pergi ke kamar mandi umum, aku membawa upah hasil jerih payahku kepada para fakir di Syuniziyah, dan kondisiku sendiri tetap seperti semula.”
Al-Husain, saudara Sinan, berkata : “Aku melakukan ibadat haji empatbelas kali dengan kaki telanjang dan penuh tawakkal kepada Alalh. Jika kakiku tercocok duri, kuingatkan diriku bahwa aku telah mewajibkan pada jiwaku untuk bertawakkal kepada Allah. Kugosok-gosokan kakiku ke tanah dan kuteruskan perjalananku.”
Abu Hamzah berkata : “Aku merasa malu kepada Allah swt. memasuki padang pasir dalam ekadaan perut kenyang, padahal aku meyakini diriku bertawakal, karena khawatir jangan-jangan perjalananku dengan rasa kenyang itu sendiri merupakan bekal yang kusiapkan begi dirimu.”
Etika Hamdun al-Qashshar ditanya tentang tawwakl kepada Allah, ia menjawab : “Tawakkal adalah derajat yang belum kucapai, dan bagaimana seseorang yang belum menyempurnakan kondisi imannya berbicara tentang tawwakal?”
Dikatakan : “Orang yang bertawakkal kepada Allah swt. seperti seorang gbayi. IA tidak tahu tempat lain di mana harus berlindug, kecuali payudara ibunya. Seperti itulah keadaan orang gyang bertawakkal kepada Allah swt. Ia dibimbing hanya kepada Allah swt.”
Salah seorang Sufi menuturkan : “Aku sedang berada di padang pasir dan berjalan di depan sebuah kafilah. Aku melihat seseorang di depanku, lalu aku bergegas menyusulnya. Ternyata ia adalah seorang wanita yang memegang tongkat dan berjalan cukup pelan. Karena kupikir ia seorang yang lemah, maka aku merogoh saku dan mengeluarkan uang duapuluh dirham, dan kukatakan kepadanya, “Ambillah ini. Tunggulah sam[ai kafilah di belakang menyusulmu dan sewalah seekor unta dengan uang ini!.”
Tetapi wanita itu hanya mengangkat tangannya ke udara, dan tiba-tiba di tangannya sudah tergenggam uang-uang dinar. Katanya : “Engkau mengambil dirham dari kantung bjumu, tetapi aku mengambil dinar dari Yang Gaib.”
Abu Sulaiman ad- Darany melihat seorang laki-laki di Mekkah – semoga Allah memuliakan tempat ini — yang tidak mengonsumsi apa pun selain air Zam-zam. Setelah beberrapa hari, Sulaiman bertanya kepadanya.” Bagaimana pendapat Anda, jika sumur Zam-zam kering, apa yang akan Anda minum?”
Orang itu berdiri, mencium kening Sulaiman, dan berkata : “Semoga Allah membalas kebaikanmu karena engkau telah memberi petunjuk kepadaku; sebab sungguh aku telah menyembah Zam-zam selama beberpa hari ini.” Kemudian laki-laki itu un berlalu.”
Ibrahim al-Khawwas mengabarkan : “Aku melihat seorang pemuda di jalan yang menuju ke Syam dengan perilaku menawan hati. Ia bertanya kepadaku : “Apakah Anda ingin ditemani?” Aku menjawab : “ Tapi aku orang yang lebih lapar.” Ia berkata : “Jika Anda lapar, saya juga akan berlapar-lapar bersama Anda.” Maka kami pun berrjalan bersama-sama selama empat hari. Kemudian sesuatu dihadiahkan orang kepada kami, dan aku mengajaknya makan.” Mari kita makan!”
Ia berkata : “Saya telah bertekad untuk tidak menerima apa pun melalui seorang perantara.” Maka aku lalu berkata : “Wahai anak muda, betapa ketatnya engkau berlaku atas dirimu sendiri.” Ia menjawab : “Wahai Ibrahim, janganlah Anda memujiku, sebab Dia yang membuat perhitungan melihat kita.” Apa yang engkau ketahui tentang tawakkal?” Lalu ia menjawab : “Permulaan tawakkal adalah bahwa jika Anda merasakan sesuatu kebutuhan, Anda menolak, dan Anda tidak menginginkan sesuatu pun selain Dia yang memiliki segala kecukupan.”
Dikatakan : “Tawakkal kepada Allah berarti menafikan keraguan dan menyerahkan segala urusan kepada Sang Maha Diraja.”
Dikatakan juga : “Sekelompok orang datang kepada al-Junayd dan bertanya : Ke manakah kita harus mencari rezeki?” Ia menjawab : “Jika kalian semua tahu, pergi dan carilah di sana!” Mereka berkata : “Tetapi kami memang meminta kepada Allah swt.” Al-Junayd mengajarkan : “Jika kalian mengira bahwa Dia melupakan diri kalian, maka ingatkanlah Dia.” Mereka bertanya : “haruskah kita pulang dan bertawakkal kepada Allah?” Al-Junayd menjawab : “Menguji berarti meragukan.” Mereka bertanya : “Lantas, apakah rekayasa itu?” Al-Junayd menjawab : “Yaitu meninggalkan rekayasa itu sendiri.”
Abu Sulaiman ad-Darany berkata kepada Ahmad bin al-Hawary : “Wahai Ahmad, sesungguhnya jalan menuju ke akhirat itu banyak, dan Syeikhmu mengetahui banyak diantaranya, kecuali jalan tawakkal yang diberkati ini, sebab aku belum pernah mencium baunya.”
Dikatakan : “Tawakkal adalah mengandalkan apa yang ada di tanagn Allah swt. dan berputus-asa apa yang ada di tangan manusia.”
Dikatakan juga : “Tawakkal adalah mengosongkan batin dari pikiran untuk menuntut terpenuhinya kebutuhan dalam upaya mencari rezeki.”
Al-Harits al-Muhasiby – semoga Allah merahmatinya – ditanya tentang orang yang beratawakkal : “Apakah nafsu mempengaruhinya?”
Ia menjawab : “Kebinasaan yang disebabkan oleh watak yag mempengaruhi, tetapi hal itu tidak membahayakan dirinya sama sekali, dan berputus asa dari semua yang ada di tangan manusia memberinya kekuatan untuk mengatasi tamak.”
Dikatakan bahwa an-Nury sedang berada di apdang pasir dalam keadaan lapar ketika sebuah suara membisikan kepadanya : “Manakah yang lebih engkau cintai, penyebab kecukupan ataukah kecukupan itu sendiri?” An-Nury menjawab: “Kecukupan. Sebab tidak ada lagi selain itu.” Maka ia pun selama tujuhbelas hari tidak makan.”
Abu Ali ar-Rudzbary berkata: “Jika setelah lima hari seorang fakir mengatakan : “Aku lapar,” Maka kirimlah ia ke pasar untuk mencari pekerjaan dan memperoleh sesuatu untuk dimakan.”
Dikatakan bahwa Abu Turab an-Nakhstaby sekali waktu melihat seorang Sufi memungut kulit semangka untuk dimakan setelah tiga hari menahan lapar. Maka an-Nakhsyaby lalu berkata kepadanya, : “Tidak cocok untukmu perilaku Sufi. Pergi saja ke pasar (Untuk kerja)!.
Abu Ya’kub al-Aqtha’ al-Bashry menuturkan: “Suatu ketika aku kelaparan selama sepuluh hari di Masjdil Haram, dan aku merasa lemah, Nafsu menggodaku. Maka aku pergi ke lembah sungai untuk mencari sesuatu yang menguatkan tubuhku. Aku melihat sebuah saljamat (sejenis sayuran) dibuang seseorang, lalu aku memungutnya. Aku merasakan suatu kegelisahan yang menakutkan dalam hati karena perbuatanku itu, seolah-olah ada suara yang mengatakan kepadaku : “Engkau telah lapar selama sepuluh hari, dan sekarang bagianmu hanya sebuah saljamat yang busuk!”
Maka saljamat itu pun kubuang. Aku masuk ke Masjid, kemudian duduk. Tiba-tiba ada seorang non Arab di hadapanku seraya meletakkan sebuah bingkisan dan berkaa : “Ini untuk Anda!” Aku bertanya kepadanya : “Bagaimana Anda telah memilih saya, untuk memberikan bingkisan ini?” Ia berkata kepadaku : “Ketahuilah bahwa kami telah berada di laut selama sepuluh hari. Dan ketika kapal yang kami tumpangi nyaris tenggelam, masing-masing dari kami bernadzar bahwa jika Allah swt. menyelamatkan, kami akan memberikan sesuatu sedekah.
Saya sendiri bernadzar, bahwa jika Allah swt. menyelamatkan saya, saya akan memberikan bingkisan ini kepada orang pertama yang saya temui di antara mereka yang tinggal di dekat Masjid ini, dan Andalah orang pertama yang saya temui.” Aku lalu meminta orang itu agar membuka bingkisannya. Ia pun membukanya dan kudapati di dalamnya ada kue-kue samid Mesir, buah kenari berbalut tepung, dan daging manis yag dipotong kotak-kotak kecil.
Aku mengambil sedikit dari masing-masing jenis makanan itu dan berkata : “Bawalah sisa makanan ini kepada para pelayan Anda! Ini adalah hadiah saya untuk Anda, karena saya telah menerima hadiah Anda.” Kemudian aku berkata kepada diri sendiri : “Selama sepuluh hari, rezekimu sedang diperjalanan menuju ke tempatmu, tapi engkau malah mencarinya ke lembah.”
Abu Bakr ar-Razy mengabarkan : “Aku sedang berada bersma Mumsyad ad-Dinawary ketika mencuat pembicaraaan tentang hutang . Ia berkata : “Suatu ketika aku punya hutang, dan pikiranku terganggu memikirkannya. Kemudian aku bermimpi bertemu seseorang yang berkata kepadaku : “Wahai orang yang kikir, engkau merampas hak kami sebesar jumlah itu. Kewajibanmu adalah mengambil dan kamilah yang memberi.” Maka sejak saat itu aku tidak pernah lagi berurusan dengan tukang sayur, tukang daging, ataupun pedagang lainnya.”
Diceritakan tentang Bannan al-Hammal bahwa ia menuturkan : “Aku sedang berada di tengah perjalanan menuju ke Mekkah — semoga Allah menjaganya – datang dari Mesir, dengan membawa bekal. Tiba-tiba seorang wanita mendatangiku dan berkata : “Wahai Bannan, engkau seorang kuli, engkau memikul perbeklan di atas punggungmu, dengan membayangkan bahwa Dia tidak akan memberikan rezeki kepadamu!.” Mendengar itu, aku lalu meletakkan bawaanku.
Tapi kemudian tiga kali melintas dalam pikiranku bahwa aku belum makan. Aku menemukan sebuah gelang kaki di tengah jalan dan aku berkata dalam hatiku : “Barang ini akan terus ku pegang sampai pemiliknya datang. Mungkin ia akan memberiku sesuatu manakala aku mengembalikannya.” Kemudain muncullah wanita tadi, yang kemudian berkata kepadaku : “Nah, sekarang engkau adalah seorang pedagang! Engkau mengatakan, mungkin pemiliknya akan datang dan aku akan mempeoleh sesuatu darinya!” Lalu dilemparkannya uang bebeerapa dirham kepadaku, sambil berkata : “Belanjakanlah uang ini!” Ternyata uang itu mencukupi kebutuhanku hingga aku sampai ke Mekkah.”
Dalam suatu riwayat tentang Bannan disebutkan, bahwa ia memerlukan seorang budak wanita untuk melayaninya. Maka ia lalu mengungkapkan keperluannya itu kepada saudara-saudaranya. Mereka pun mengumpulkan uang untuk membeli seorang budak, dan memberitahu kepadanya : “Inilah uang untuk membeli budak itu! Sekelompok budak sedang dibawa orang kemari. Pilihlah mana yang engkau sukai!” Ketika rombongan budak itu tiba, semua mata tertuju kepada salah seorang budak, dan mereka berkata : “Itulah budak yang cocok untuknya.”
Mereka bertanya kepada pemiliknya : “Berapa harga budak ini?” Ia menjawab “Ia tidak dijual.” Mereka meminta dengan sangat agar budak itu dijual kepada mereka, tapi pemiliknya mengatakan : “Ia telah didperuntukkan bagi Bannan al-Hammal!. Seorang wanita dari Samarkand mengirimkan kepadanya sebagai hadiah.” Dan kemudian budak itu pun dibawa kepada Bannan, dan si budak tersebut lalu menuturkan perihal dirinya kepada Bannan.
Al-Hasan al-Khayyath meriwayatkan : “Aku sedang berada bersama Bisyir al-Hafi ketika serombongan musyafir datang dan memberi salam kepadanya. Ia bertanya kepada mereka : “Dari mana Anda sekalian?” Mereka menjawab : “Kami dari Syam. Kami datang untuk memberi salam kepada Anda dan sekaligus untuk menunaikan ibadah haji.” Bisyr berkata : “Semoga Allah swt. menerima syukur Anda sekalian.” Mereka bertanya : “Maukah Anda pergi bersama kami? Bisyr menjawab : “Dengan tiga syarat : Kita tidak usah membawa (bekal) apa pun; kita tidak akan meminta apa pun kepada sipa pun dan jika ada orang memberikan sesuatu kepada kita, kita tidak akan menerimanya.”
Mereka menjawab : “Mengenai persyaratan pertama, kami setuju. Persyaratan kedua juga kami setuju. Tapi mengenai persyaratan ketiga, kami tidak setuju.” Maka Bisyr lalu berkata : “Anda semua telah datang dengan bertawakkal pada perbekalan untuk berhaji.” Kemudian ia menjelaskan : “Wahai Hasan,a da tiga macam fakir. Ada fakir yang tidak meminta-minta, tapi jika diberi ia tidak mau menerimanya, dialah tergolong fakir ruhani. Lalu, ada fakir yang tidak meminta-minta dan jika diberi sesuatu mau menerimanya, sebagai tawadhu.” Baginya di hadirat Yang Maha Suci. Dan si fakir yang meminta-minta, jika diberi menerimanya sebatas kebutuhan. Tebusannya adalah dengan memeberikan sedekah.”
Habib al-‘Ajamy ditanya : “Mengapa Anda berhenti berdagang?” Ia menjawab : “Aku telah mendapati bahwa jaminan Allah swt. itulah yang patut diandalkan.”
Diceritakan bahwa pada masa dahulu ada seorang laki-laki yang sedang melakukan perjalanan membawa sepotong roti. Ia berkata : “Jika aku memakan roti ini, aku akan mati.” Maka Allah lalu menyerahkannya kepada seorang malaikat, dengan perintah : “Jika ia memakan roti itu berilah ia rezeki. Jika ia tidak memakannya, maka janganlah engkau beri apa pun.” Sepotong roti itu tetap dipegangnya sampai ia meninggal (karena kelaparan), tanpa pernah dimakannya. Dan ketika ia meninggal, roti itu masih ada bersamanya.
Dikatakan : “Orang yang berjalan di medan tafwidh, maka tujuannya akan datang kepadanya sebagaimana pengantin wanita diiringkan kepada keluarga pengantin laki-laki. Perbedaan antara menyia-nyiakan anugerah Allah (tadhyi”) dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah (tafwidh) aalah bahwa tadhyi’ berkaitan terhadap hak-hak Allah swt. dan merupakan tindakan tercela, sedangkan tafwidh berkaitan dalam hak-hak Anda, dan merupakan tindakan yang terpuji.”
Abdullah ibnul Mubarak mengatakan : “Barangsiapa menerima uang satu sen dari sumber yang tidak halal, beraarti ia tidak bertawakkal kepada Allah.”
Abu Sa’id al-Kharraz menuturkan : “Suatu ketika aku berjalan menelusuri padang pasir tanpa membawa bekal dan tiba-tiba aku memerlukan kebutuhan yang sangat. Jauh di sana, kulihat sebuah tempat perhentian, aku senang karena aku telah sampai. Maka aku berpikir : “Aku telah menjadi tenang, dan bertawakkal kepada sesuatu selain Dia.”
Karenanya aku pun lalu bersumpah, bahwa aku tidak akan masuk ke suha tempat kecuali jika aku dibawa ke dalamnya. Aku menggali lubang dan mengubur badanku hingga sebatas dada. Tengah malam, terdengar suara bergema yang mengatakan : “Wahai penduduk desa, salah seorang wali Alalh telah menguburkan dirinya di pasir. Cari dan temukanlah ia!” Lalu jamaah datang kepadaku, mengeluarkanku dan membawaku ke Desa.”
Abu Hamzah al-Khurasany mengabarkan : “Suatu ketika aku pergi menunaikan ibadat haji. Di tengah perjalanan aku jatuh tercebur ke dalam sebuah sumur. Jiwaku mendesak agar aku segera minta tolong, tapi aku berkata : “Tidak, demi Allah, aku tidak akan minta tolong!.”Begitu aku berpikir demikian. Lewatlah dua orang laki-laki. Salah seorang diantaranya berkata : “Mari kita tutup lobang sumur ini agar tidak ada orang orang yang masuk jatuh ke dalamnya.”
Mereka membawakan jerami dan anyaman, dan menutupi bibir sumur itu dengan tanah. Aku ingin berteriak, namun aku berkata kepada diri sendiri : “Aku hanya akan berteriak kepada Dia yang lebih dekat daripada kedua orang ini.” Maka aku pun tetap diam. Setelah satu jam, tiba-tiba datanglah sessuatu yang membuka tutup lubang itu dan menjulurkan kakinya. Saat itulah kudengar suara raungan pelan yang seolah-olah mmerintahkan aku : “Berpeganglah kepadaku!” Aku tahu apa yang dimaksudkan.
Maka aku pun berpegang paa kakinya dan makhluk itu lalu menarikku ke luar dari lubang sumur. Ternyata ia seekor singa! Dan binatang itu lalu mneruskan perjalanannya. Sebuah suara gaib berseru kepadaku : “Wahai Abu Hamzah, tidakkah ini lebih baik? Satu kebinasaan menyelamatkanmu dari kebinasaan yang lain.” Aku pun terus berjalan, sambil bersyair :
Aku berteriak keras-keras kepada-Mu agar aku tampak.
Kepada-Mu apa yag kusembunyikan.
Rahasiaku mengatakan apa yang dikatakan mataku kepadanya.
Maluku terhadap-Mu mencegahku menyembunyikan nafsu
Dan Kau buat aku paham, dari-Mu tersingkapnya tabir
Membuat kelembutan-Mu dalam persoalanku
Lalu Engkau tampakkan kesaksianku pada gaibku
Sedang kelembutan bertemu kelembutan
Engkau hadirkan Diri-Mu secara gaib kepadaku,
Seakan-akan Engkau beri daku kabar gembira
Bahwa Kau dalam genggaman.
Kini kulihat Engkau, dan bagiku
Dari gentarku kepada-Mu.
Lalu Kau anugerahi sukacita kelemah-lembutan dari-Mu
Dan kasih-sayang-Mu.
Dan Kau hidupkan kembali seorang pecinta yang cintanya
Pada-Mu berarti kematian baginya
Duhai mengagumkan; hidup ada pada kematian.”
Hudzaifah al-Mar’asyi, yang telah emlayani dan menemani Ibrahim bin Adam dan para muridnya, ditanya : “Apakah kejadian paling aneh yang Anda saksikan bersamanya?” Ia menjawab : “Kami pernah menempuh perjalanan menuju Mekkah selama beberapa hari tanpa menemukan makanan. Kami datang ke kufah dan mencari tempat berteduh di sebuah reruntuhan masjid. Ibrahim melihat kepadaku dan berkata : “Wahai Huzaifah, kulihat tanda-tanda lapar pada dirimu.” Aku menjawab : “Seperti yang tuan guru lihat.” Ia lalu berkata kepadaku : “Bawalah kepadaku tinta dan selembar kertas!.”
Kubawakan apa yang yang dimintanya itu, dan ia menulis : “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Engkau adalah Dia yang diinginkan dalam setiap keadaan.” Maksud keseluruhannya adalah:
Aku pemudi, aku bersyukur, aku pengingat..
Aku lapar, aku haus, aku telanjang.
Inilah enam sifat, dan aku akan menjamin yang setengahnya.
Maka Engkau-lah penjamin yang setengahnya wahai Pencipta.
Pujiku, selain Diri-Mu bagaikan api,
Janganlah hamba-Mu yang kecil ini memasuki neraka
Lalu ia memberikan kertas bertulis itu kepadaku dan memerintahkan : “Pergilah keluar dan jangan engkau lekatkan hatimu pada sesuatu pun selain Allah swt. Berikan kertas ini kepada orang pertama yang engkau jumpai!” Aku pun pergi ke luar, dan orang pertama yang kulihat adalah seorang laki-laki yang sedang mengendarai seekor keledai. Kuberikan kertas itu kepadanya. Orang itu mengambilnya dan menangis. Ia bertanya : “Di mana orang yang telah menuliskan kata-kata pada kertas ini?”
Kukatakan kepadanya, : “Ia berada di Masjid Anu.” Ia memberikan kepadaku sebuah kantong berisi uang enamratus dinar. Kemudian aku bertemu dengan seseorang lainnya dan aku bertanya kepadanya siapa orang yang mengendari keledai itu. Ian memberitahuku bahwa orang tersebut adalah seorang Nasrani.
Aku kembali kepada Ibahim dan kuceritakan semuanya kepadanya. Ia berkata : “Jangan kau sentuh uang itu, sebab ia sedang menuju ke mari!.” Sejam kemudian orang Nasrani itu pun muncul, mencium kepala Ibrahim dan menyatakan keislamannya.”
Syukur
Allah berfirman:
‘Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat pemberian-Ku) kepadamu.”
(Qs. Ibrahim : 7).
Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya’la dan Abu Khabab, dari Atha’ yang berkata : “Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya: “Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah saw.” Beliau menangis dan bertanya : “Adakah yang beliau lakukan, yag tidak mengagumkan?” Suatu malam, beliau datag kepadaku, dan kami tidur di tempat tidur hingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku. Setelah beberapa saat, beliau berkata : “Wahai putri Abu Bakr, izinkanlah aku bangun untuk beribadat kepada Tuhanku!” Aku menjawab : “Saya senang berdekatan dengan Anda.”
Tapi aku mengijinkannya. Kemudan beliau bangun, pergi ke tempat kantong air dan berwudhu dengan mecucurkan banyak air, lalu shalat. Beliau mulai menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudian beliau ruku’ dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis. Terus menerus beliau dalam keadaan demikian sampai Bilal datang dan memanggil beliau untuk shalat subuh. Aku bertanya kepada beliau : “Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab : “Tidakkah akumenjadi seorang hamba yang bersyukur? Bagaimana aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikenadlikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan akal.!
(Qs. Al-Baqarah :164).
Dengan ayat ini, Allah swt. memiliki sifat syukur. Artinya, memberi pahala hamba yang bersyukur, sebagai balasannya adalah diterimanya syukur itu sendiri. Sebagaimana difimankan-Nya:
“Balasan bagi tindak kejahatan adalah kejahatan yang serrupa.”
(Qs. Asy.Syura : 40).
Dikatakan bahwa bersyukurnya Allah adalah pemberian balasan yang melimpah bagi amal yang sedikit, seperti kata pepatah : “Seekor binatang, dikatakan bersyukur, jika ia mencari makanan melebihi jerami yang diberikan kepadanya.” Kita mungkin dapat mengatakan bahwa hakikat bersyukur adalah memuji Sang Pemberi kebaikan dengan mengingat-ingat anugerah yang telah diberikan-Nya. Jadi bersyukurnya seorang hamba kepada Allah swt. adalah pujian kepada-Nya dengan mengingat-ingat anugerah-Nya kepadanya.
Sebaliknya bersyukurnya Allah swt. kepada hamba-Nya adalah dengan mengingat kebaikan hamba kepada-Nya. Kebaikan si hamba adalah kepatuhan kepada Allah swt. sedangkan kebaikan Allah adalah memberikan rakhmat-Nya kepada si hamba dengan menjadikan ia mampu menyatakan syukur kepada-Nya. Syukur seorang hamba, pada hakikatnya mencakup syukur secara lisan maupun penegasan dalam hati atas anugerah dan rahmat Allah swt.
Syukur dibagi menjadi : Syukur dengan lisan, yang berupa pengakuan atas anugerah dalam derajat kepasrahan, dan syukur denga tubuh, yang berarti mengambil sikap setia dan mengabdi; syukur dengan hati, adalah tenteram dalam latar musyahadah dengan erus menerus melaksanakan pemuliaan.
Dikatakan bahwa kaum cendekiawan bersyukur dengan lidah mereka, kaum pencinta bersyukur dengan perbuatan mereka, dan kaum ‘arifin beryukur dengan istiqamah mereka terhadap-Nya di dalam semua perilaku mereka.
Abu Bakr al-Warraq berkata : Syukur atas nikmat adalah memberikan musyahadah terhadap anugerah tersebut dan menjaga penghormatan.”
Hamdun al-Qashshar menegaskan : “Bersyukur atas anugerah adalah bahwa engkau memandang dirimu sebagai parasit dalam syukur.”
Al-Junayd berkomentar : “Ada cacat dalam bersyukur, karena manusia yang bersyukur melihat peningkatan bagi dirinya sendiri jadi ia sadar di sisi Allah swt. lebih dari bagian dirinya sendiri.”
Abu Utsan berkata : “Syukur berarti mengenal kelemahan dari syukurnya itu sendiri.”
Dikatakan : “Bersyukur atas kemampuan untuk bersyukur adalah lebih lengkap daripada bersyukur saja. Dengan cara memandang bahwa rasa bersyukur Anda datang karena Dia telah memberikan taufik-Nya, dna Taufiq-Nya itu termasuk nikmat yang diperuntukkan bagi diri Anda. Jadi Anda bersyukur atas kesyukuran Anda, dan kemudian Anda bersyukur terhadap kesyukuran atas kesyukuran Anda, sampai tak terhingga.
Dikatakan : “Bersyukur adalah menisbatkan anugerah kepada pemiliknya yang sejati dengan sikap kepasrahan.”
Al-Junayd mengatakan : Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat.”
Ruwayn menegaskan : “Bersyukur adalah engkau menghabiskan seluruh kemampuanmu.”
Dikatakan : “Orang yag bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada, dan orang yang sangat bersyukur adalah yang bersyukur atas apa yang tidak ada.”
Dikatakan : “Orang yang bersyukur berterima kasih atas pemberian tapi orang yang sangat bersyukur (Syakur) berterima kasih karena tidak diberi”
Dikatakan juga : “Orang yang bersyukur berterima kasih atas pemberian, dan orang yang sangat bersyukur berterima kasih atas lemelaratan.”
Dikatakan : “Orang yang bersyukur berterimakasih manakala anugerah diberikan, dan orang yang sangat bersyukur berterima kasih manakala anugerah ditunda.”
Al-Junayd menjelaskan: “Suatu waktu, ketika aku masih berumur tujuh tahun, aku sedang bermain-main di hadapan as-Sary, dan sekelompok orang yang sedang berkumpul di hadapannya, berbincang tentang syukur. Ia bertanya kepadaku : “Wahai anakku, apakah ebrsyukur itu?” Aku menjawab : “Syukur adalah jika orang tak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya.” Ia mengatakan : “Derajatmu di sisi Allah akan segera engkau peroleh melalui lidahmu, nak!.” Al Junayd mengatakan : “Aku senantiasa menangis mengingat kata-kata as-Sary itu.”
Asy-Syibli menjelaskan : “Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi Nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri.”
Abu Utsman berkata : “Kaum awam bersyukur karena diberi makanan atau pakaian, sedangkan kaum khawash bersyukur atas makna-makna yang datang di hati mereka.”
Dikatakan bahwa Daud as. Bertanya : “Ilahi, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan kesyukuran itu sendiri adalah nikmat dari-Mu.”
Allah mewahyukan kepadanya : “Sekarang, engkau benar-benar telah bersyukur kepada-Ku.”
Dikatakan bahwa Musa as. Mengatakan dalam doa munajatnya, : “Ya Allah, Engkau telah menciptakan Adam dengan Tangan-Mu, dan Engkau telah begini dan begitu. Bagaimana ia bersyukur kepada-Mu?” Allah menjawab : “Ia mengetahui bahwa semua itu berasal dari-Ku, dan dengan begitu pengetahuannya tentang semua itu adalah syukurnya kepada-Ku.”
Diriwayatkan bahwa salah seorang Sufi mempunyai sahabat yang ditahan oleh Sultan. Sufi itu diminta supaya datang, dan sahabtnya itu mengatakan kepadanya “Bersyukurlah kepada Allah swt!” Lalu sahabatnya itu didera, dan ia menulis surat kepada si Sufi, “Bersyukurlah kepada Allah swt!”
Kemudian seorang Majusi yang sedang sakit perut didatangkan dan dibelenggu, salah satu borgol ranatainya dikenakan pada kaki sahabt, dan borgol lainnya dikenakan pada kaki Majusi. Pada malam hari, si Majusi sering bangun, yang berarti sahabt itu terpaksa ikut bangun sampai si Majusi selesai melepaskan hajatnya. Ia lalu menulis surat kepada sahabtnya. “Bersyukurlah kepada Allah swt!” Sahabatnya ( si Sufi) bertanya, “Berapa lama engkau akan mengatakan kalimat ini “
Cobaan apa yang lebih berat dari ini?” Sahabatnya menjawab : “Jika sabuk yang dikenakan orang kafir pada pinggangnya dikenakan pada pinggangmu, sebagaimana belenggu kakinya juga dikenakan pada kakimu, maka apa yang akan engkau perbuat?”
Dikatakan : “Syukurnya kedua belah mata adalah bahwa engkau menyembunyikan cacat yang engkau lihat pada sahabatmu, dan syukurnya kedua telinga adalah engkau menyembunyikan cacat yang engkau dengar tentang dirinya.”
Dikatakan juga : “Manakala as-Sary berkehendak untuk mengajarku, biasanya ia mengajukan sebuah pertanyaan kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku : “Wahai Al Junayd, apakah syukur itu?” Aku menjawab : “Syukur adalah jika tidak satu bagian pun dari nikmat Allah swt. digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya.” Ia bertanya lagi : “Bagaimana engkau sampai pada (pengetahuan ini?” Aku menjawab : “Bersama majelis-majelis Anda.”
Diceritakan bahwa al-Hasan bin Ali pernah bergayut pada sebuah tiang dan bermunajat : “Tuhanku, Engkau telah memberi nikmat aku, namun tidak Engkau dapati aku bersyukur. Engkau telah mengujiku, namun tidak Engkau dapati aku bersabar. Namun Engkau tidak mencerabut nikmat karena aku tidak bersyukur, dan tidak melanggengkan bencana ketika kutinggalkan kesabaran. Tuhanku, tidak ada yang datang dari Yang Maha Pemurah, kecuali kemurahan.”
Dikatakan : “Jika tanganmu tidak bisa engkau gunakan, maka engkau mesti lebih banyak mengucap “SYUKUR” dengan lisanmu.”
Dikatakan pula : “Ada empat amal yang tidak berbuah : Mempercayakan rahasia kepada orang yang bisu; memberi nikmat kepada orang yang tidak mau bersyukur menebar benih di tanah yang tandus; dan menyalakan lampu di bawah cahaya matahari…
Juga dikatakan bahwa ketika Idris as. Memperoleh kabar gembira pengampunan, beliau memohon diberi panjang umur. Ketika ditanya tentang permohonannya itu, beliau menjawab : “Agar aku dapat bersyukur kepada-Nya, karena sebelum ini aku telah berjuang hanya untuk memperoleh ampunan.”
Kemudian salah satu malaikat mengembangkan sayapnya dan membawanyan ke langit.
Diceritakan bahwa salah seorang Nabi – Semoga Allah swt. melimpahkan salam kepadanya – berjalan melewati sebuah batu kecil yang memancarkan air, yang membuatnya kagum. Kemudian Allah menjadikan batu itu berbicara kepadanya, katanya : “Ketika aku mendengar Allah swt. berfirman:
“Takutlah neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
(Qs. At-Tahrim : 6).
Aku pun menangis karena karena takut.” Nabi itu kemudian mendoakan, agar Allah swt. melindungi batu iru dari api neraka, dan Allah lalu mewahyukan kepadanya : “Aku telah menyelamatkannya dari neraka.” Manak Nabi itu lalu meneruskan perjalanannya. Ketika kembali melwetati batu itu, ia melihat air menyembur darinya seperti sebelumnya, yang membuatnya heran.
Allah swt. menjadikan batu itu bisa berbicara, dan Nabi itu lalu bertanya : “Mengapa engkau masih mengis sedangkan Allah telah mengampunimu?” Batu itu menjawab, : “Sebelumnya adalah tangis takut dan sedih, sekarang adalah tangis syukur dan gembira.”
Dikatakan : “Orang yang bersyukur selalu meningkat karena ia berada di hadapan nikmat.” Allah swt. berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu.”
(Qs. Ibrahim : 7).
Orang yang sabar berada bersama Allah, karena ia berada di hadirat kesaksian kepada-Nya yang memberikan cobaan. Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”
(Qs. Al-Nafal :46).
Diceritakan bahwa suatu delegasi datang kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. Di antara mereka ada seorang pemuda, yang memulai membuka pembicaraan!” Umar berkata kepadanya : “Coba yang tua-tua dulu berbicara!” Mendengar itu si pemuda berkata : “Wahai Amirul Mukminin, jika urusan diserahkan kepada orang berdasarkan usianya, maka banyak dikalangan kaum Muslimin yang lebih layak menjadi khalifah dibanding Anda.”
Maka Umar berkta : “Bicaralah!” Pemuda itu menjelaskan : “Kami bukanlah delegasi yang menyampaikan keinginan, bukan pula delegasi yang menyampaikan rasa takut. Mengenai keinginan, maka kemurahan Anda telah memenuhi kebutuhan kami dari ketakutan.” Maka Umar pun bertanya kepadanya : “Lantas, siapa kalian ini?” Ia menjawab : “Kami adalah delegasi yang menyampaikan syukur. Kami datang untuk menyampaikan terima kasih kepada Anda, dan sekarang kami akan pulang.” Dan mereka lalu bersenandung.”:
Alangkah malangnya bahwa syukurku adalah diam
Atas apa yang telah kau lakukan,
Sedangkan kebaikanmu berbicara
Aku melihat anugerah darimu
Dan aku menyembunyikan
Karenanya, di tangan yang pemurah
Jadi pencuri.
Diceritkan bahwa Allah swt. menyampaikan wahyu kepada Musa as. : “Aku melimpahkan rakhmat kepada hamba-hamba-Ku : Mereka yang mendapat cobaan maupun mereka yang terampuni.” Musa bertanya : “Mengapa pula terhadap mereka yang terampuni>\?” Allah Swti. Menjawab : “Dikarenakan kecilnya syukur mereka atas dihindarkannya mereka dari penderitaan itu.”
Dikatakan : “Pujian itu bagi anfsu, dan syukur atas nikamat-nikmat anggota badan.”
Dikatakan pula : “Pujian sebagai permulaan dari-Nya, dan syukur sebagai tebusan darimu.”
Dalam hadits shahih disebutkan : “Yang pertama di panggil ke surga adalah mereka yang selalu memuji kepada Allah swt. dalam segala hal:
Dikatakan : “Pujian hanya bagi Allah terhadap apa yang diberikan-Nya, dan syukur atas yang diperbuat oleh-Nya.
Yakin
Allah swt. berfirman:
“…. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
” (Qs. Al-Baqarah :4).
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah swt. telah bersabda:
“Janganlah engkau berusaha menyenangkan hati siapa pun dengan cara membuat murka Allah, dan janganlah memuji siapa pun atas keutamaan Allah yang diberikan, janganlah mencari kepada siapa pun atas anugerah yang tidak diberikan Allah swt. kepadamu, sebab rezeki Allah tidaklah dibawakan kepadamu oleh kerakusan orang yang rakus, tidak pula bisa ditolak darimu oleh kebencian orang yang membencimu. Dengan keadilan-Nya, Allah swt, telah menempatkan ketenangan dan kesenangan hati itu dalam rasa ridha dan yakin, dan menempatkan penderitaan serta kesedihan itu dalam keraguan dan marah.”
(Hr. Thabrani, Ibnu Hibban dan Baihaqi).
Abu Abdullah al-Anthaky berkata : “Keyakinan minimal adalah bahwa manakala ia memasuki hati, maka ia memenuhinya dengan cahaya dan mengusir setiap keraguan dari dalamnya; dan dengan yakin, hati menjadi penuh rasa syukur dan takut kepada Allah swt.”
Ja’far al-Haddad menuturkan : “Abu Turab an-Nakhsyaby melihatku ketika aku berada di pdang pasir, duduk didekat sebuah mata air. Aku sudah enambelas hari lamanya tidak makaengapa engkau duduk di sini?” Aku menjawab : “Aku terombang-ambing di antara ilmu dan yakin, menunggu mana yang akan menang agar aku dapat bertindak sesuai dengannya. Jika ilmu menguasai diriku, aku akan minum; jika keyakinan yang akan menang, aku akan terus berjalan.” Ia berkata kepadaku : “Engkau akan mendapatkan suatu derajat.”
Abu Utsman al-Hiry menjelaskan : “Keyakinan adalah tidak adanya kepedulian terhadap hari esok.”
Sahl bin Abdullah menjelaskan : “Keyakinan datang dari tambahan iman dan realisasinya.” Dikatakannya pula : “Keyakinan adalah cabang iman dan yakin itu berada di bawah penegasan kebenaran iman (tashdiq).
Salah seorang Sufi mengatakan : “Keyakinan adalah pengetahuan yang dipercayakan pada hati.” Ia mengisyaratkan perkataan ini, bahwa keyakinan bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan usaha (muktasab).
Sahl menjelaskan : “Permulaan keyakinan adalah mukasyafah.” Karena itu salah seorang kaum salaf mengatakan : “Jika tabir terungkap, maka hal itu tidaklah akan menambah keyakinanku.” Kemudian beralih ke pembuktian dan penyaksian (musyahadah).
Abu Abdullah bin Khafif menegaskan : “Keyakinan adalah pemastian oleh rahasia hati melalui hukum-hukum kegaiban.”
Abu Bakr bin Thahir mengatakann : “Ilmu datang melalui penentangan terhadap keraguan, tetapi dalam keyakinan tidak ada keraguan sama sekali.”
Dengan demikian ia mempertentangkan ilmu yang diperoleh melalui usaha, dengan apa yang diperoleh melalui ilham. Jadi pengetahuan seorang Sufi pada awalnya bersifat usaha, dan pada akhirnya bersifat langsung.
Saya mendengar Muhammad Ibnul Husain menceritakan, bahwa salah seorang Sufi mengatakan : “Maqam pertama aalah ma’rifat, kemudian keyakinan, lalu pembenaran, disusul ikhlas, dan kemudian penyaksian (musyahadah) danya Tuhan, lalu taat. Istilah iman, mencakup keseluruhan istilah-istilah tersebut.”
Orang yang mengucapkan kata-kata ini menunjukkan bahwa hal pertama yang diperlukan adalah ma’rifat Allah swt. yang tidak dapat ddiperoleh, kecuali dengan memenuhi persyaratannya. Persyaratan tersebut adalah wawasan yang benar. Kemudian manakala bukti-bukti datang susul-menyusul dan menghasilkan bukti, orang tersebut terlimpahi silih bergantinya cahaya batiniah, bebas dari semua kebutuhan untuk merenungkan bukti-bukti itulah keadaan yakin, Mengenai pembenran Al-Haq (tashidiqul haq), hal iini berhubungan dengan apa yang diinformasikan-Nya kepada seseorang dengan penuh perhatian terhadap panggilan-Nya, berkenaan dengan apa yang diinformasikan-Nya kepada seseorang mengenai af’al-Nya pada tahap awalnya. Sebab tashdiq, sifatnya informatif, sedangkan ikhlas memiliki akibat dalam pelaksanaan berbagai perintah.
Setelah itu, pengungkapan tanggap si hamba dengan penuh musyahadah yang indah, setelah itu menyusul pelaksanan tindakan-tindakan kepatuhan, dengan dasar perintah tauhid, sekaligus menghindari yang terlarang dalam tauhid. Dalam konteks tersebut Imam Abu Bakr bin Furak menyinggung pengertian ini ketika saya mendengar beliau mengatakan : Dzikir dengan lisan adalah luapan yang meliputi dari kalbu.”
Sahl bin Abdullah berkomentar : “Adalah haram bagi hati untuk mencium bau keyakinan yang di dalamnya masih ada kepuasan terhadap yang selain Allah swt.”
Dzun Nuun al-Mushry berkata : “Keyakinan menyeru orang untuk membatasi keinginan duniawi, dan pembatasan ini menyeru pada zuhud, dan zuhud mewariskan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan mewariskan kemampuan untuk memandang akibat-akibatnya.” Ia juga mengatakan : “Ada tiga tanda keyakianan : Mengurangi bergaul dengan manusia Mengurangi pujian kepaa mereka saat memperoleh hadiah; dan menghindari perbuatan mencari-cari kesalahan mereka, jika mereka tidak memberi (hadiah). Selanjutnya ada tiga tanda keyakinan atas keyakinan (yaqinul yaqin), Melihat kepada Allah swt, dalam segala sesuatu, kembali kepada-Nya dalam setiap persoalan, dan berpaling dengan-Nya untuk memohon bantuan dalam segala hal.”
Al-Junayd mengatakan : “Keyakinan adalah tetapnya ilmu di dalam hati, ia tidak berbalik, tidak berpindah dan tidak berubah.”
Ibnu Atha’ mengatakan : “Sebatas derajat dimana mereka mencapai takwa kepada Allah swt, sebtas itu pula mereka akan memperoleh keyakinan.”
Tandasan takwa kepada Allah adalah penentangan terhadap perkara yang haram, dan menentang perkara yang haram identik dengan menentang diri sendiri. Jadi, sejauh derajat pemisahan mereka dari diri sendiri, sejauh itulah batas yang mereka capai dalam hal keyakinan.”
Salah seorang Sufi mengatakan : “Keyakinan adalah mukasyafah, dan mukasyafah dengan tiga cara : Mukasyafah yang bersifat informatif mukasyafah penampilan qudrat, dan mukasyafah hati terhadap hakikat iman.”
Ketahuilah bahwa dalam bahasa Sufi, muksyafah dari segi pengungkapan sesuatu ke dalam hati, manakala hati dikuasai oleh dzikir kepada-Nya tanpa adanya keraguan sedikit pun. Terkadang istilah Kasyf yang mereka maksud adalah sesuatu yang mirip dengan apa yang dilihat dalam kondisi antara tidur dan bangun. Seringkali mereka menyebut keadaan ini dengan sebutan sabaat.
Imam Abu Bakr bin Furak meriwayatkan : “Aku bertanya kepada Abu Utsman al-Maghriby : “Apakah ini, yang Anda telah mengatakan itu?” Ia menjawab : “Aku melihat orang-orang tertentu seperti ini dan seperti itu.” Lalu aku bertanya : “Anda melihat mereka dengan wujud nyata Anda atau dengan penyingkapan (mukasyafah)?” Ia menjawab : “Dengan mukasyafah.”
Amir bin Abdul Qays menjelaskan : “Seandainya tabir (kebenaran) disingkapkan, nsicaya hal itu tidak akan menambah keyakinanku.”
Dikatakan : “Keyakinan adalah penglihatan langsung yang dihasilkan oleh kekuatan iman.” Dikapatakan pula : “Keyakinan adalah musnahnya tindak-tindak perlawanan.”
Al Junayd menegaskan : “Keyakinan adalah berhentinya keraguan dalam penyaksian Yang Gaib.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkaa mengenai sabda Rasulullah saw. tentang Isa bin Maryam as. “Seandainya ia bertambah dalam hal keyakinan, nisacaya ia akan dapat berjalan di udara.”
Syeikh menjelaskan bahwa denga ucpannya itu Nabi saw. merujuk kepada keadaan beliau pada malam Mi’raj, sebab berkaitan dengan misteri-misteri Mi’raj itulah beliau mengatakan : “Kulihat buraq tinggal di belakang sedang aku terus berjalan.”
Al-Junayd mengabarkan bahwa ketika as-Sary ditanya tentang keyakinan, ia menjawab : “Keyakinan adalah ketenangan hatimu yang tidak tergoyahkan ketika pikiran-pikiran bergerak menembus dadamu dikarenakan keyakinanmu bahwa gerakan apa pun yang engkau lakukan tidak akan mendatangkan manfaat bagimu ataupun menolak darimu apa yang telah ditetapkan (Allah).”
Ali bin Sahal berkata : “Berada di dalam hadirat Allah swt. (Hudhur) lebih diutamakan daripada keyakinan. Karena hudhur bersifat menetap, sedangkan yakin bersifat bisikan.” Dengan ucapan ini seakan-akan Ali bin Sahl menempatkan keyakinan di awal kebenaran hudhur, dan menjadikan hudhur sebagai kelanjutan dari keyakinan. Ini seakan-akan ia memandang mungkin dicapainya keyakinan terlepas dari keadaan hudhur, tapi situasi sebaliknya adalah tidak mungkin. Karena itu an-Nury berkata : “Keyakinan adalah musyahadah.” Maksudnya, bahwa dalam musyahadah ada keyakinan dan tiada keraguan di dalamnya, sebab musyahadah menafikan kepercayaan yang tidak kokoh.
Abu Bakr al-Warraq berkomentar : “Keyakinan adalah landasan hati, dan iman disempurnakan?” Ia menjawab : “Wahai orang yang lemah keyakinan, apakah Dia yang mampu memelihara langit dan bumi tidak mampu menyampaikan aku ke Mekkah tanpa bergantung bekal?” Ibrahim selanjutnya menuturkan:
“Ketika aku tiba di Mekkah, kulihat pemuda itu sedang melakukan thawaf sambil berkata:
Wahai mata yang senantiasa menangis
Wahai jiwa kematian yang begitu berduka
Janganlau engkau cintai seiapapun
Selain Dia Yang Maha Agung, Tempat Bergantung.
Dan ketika ia meliahtku, ia pun bertanya : “Wahai orang tua, apakah setelah ini engkau masih berada dalam kelemahan keyakinanmu?”
Ishaq an-Nahrajury berkata : “Jika seorang ghamba menyempurnakan pengertian batiniahnya tentang yakin, maka cobaan akan menjadi nikmat baginya, dan kenyamanan menjadi malapetaka.”
Abu Bakr al Warraq berkata : “Ada tiga aspek keyakinan : Keyakinan informatif; keyakinan akan bukti (dalalat) dan keyakinan musyahadah.”
Abu Thurab an-Naksyaby menuturkan : Ketika aku melihat seorang pemuda berjala di apdang pasir tanpa bekal, aku berkata dalam hati : “Jika ia tidak punya keyakinan, niscaya akan binasa.” Aku bertanya kepadanya : “Wahai anak muda, apakah engkau berada di tempat seperti ini tanpa peerbekalan?” Ia menjawab : “Wahai orang tua, angkatlah kepalamu. Apakah engkau melihat sesuatu selain Allah swt.?” Aku pun berkata kepadanya : “Sekarang pergilah ke mana engkau mau?”
Abu Sa’id al-Kharraz menjelaskan : “Ilmu adalah apa yang membuatmu mampu untuk bertindak, dan keyakinan adalah apa yang mendorongmu bertindak.” Ibrahim al-Khawwas berkomentar : “Pernah aku berupaya mencari nafkah yang memungkinkan aku memperoleh makan yang halal. Aku menjadi nelayan. Pada suatu hari seekor ikan berenang memasuki jaringku, dan aku mengambilnya lalu meleparkan kembali jalaku ke air.
Kemudian masuklah ikan lain ke dalamnya, dan sekali lagi aKemudain terdengar sebuah suara gaib berseru : “Apakah engkau tidak bisa mencari penghidupan selain dengan cara menangkap mereka yang berdzikir kepada Kami, kemudian membunuhnya?” Mendengar itu, aku lalu merobek-robek jalaku dan berhenti mencari ikan.”
Sabar
Allah swt. berfirman:
“Bersabarlah, dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.”
(Qs. An-Nahl :217).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Aisyah menuturkan haids berikut ini dari Rasulullah sawa. Yang bersabda:
“Sabar (yang sebenarnya) itu adalah pada saat mengahadapi cobaan yang pertama.”
(H.r. Bukhari, Tirmidzi dan Nasa’i).
Kemudian sabar dibagi dalam beberapa macam: Sabar terhadap apa yang diupayakan, dan sabar terhadap apa yang tanpa diupayakan. Mengenai sabar dengan upaya, terbagi menjadi dua : Sabar dalam menjalankan perintah Allah dan sabar dalam menjauhi larangan-Nya. Mengenai sabar terhadap hal-hal yang tidak melalui upaya dari si hamba, maka kesabarannya adalah dalam menjalankan ketnetuan Allah yang menimbulkan kesukaran baginya.
AL-Junyad menegaskan : “Perjalanan dari dunia ke akhirat adalah mudah bagi orang beriman, tetapi hijrahnya dari sisi Alalh swt. adalah sulit. Dan perjalanan dari diri sendiri menuju Allah swt. adalah sulit. Dan perjalanan dari diri sendiri menuju Allah swt. adalah sangat sulit, tetapi yang lebih sulit lagi adalah bersabar bersama Allah swt.”
Ketika ditanya tentang sabar, al-Junayd menjawab : “Sabar adalah meneguk kepahitan tanpa wajah cemberut.”
Ali bin Abu Thalib r.a. mengatakan : “Hubungan antara sabar dengan iman aalah seperti hubungan antara kepala dengan badan.”
Abu Qasim al-Hakim menjelaskan: “Firman Allah swt:
“Dan bersabarlah, adalah perintah untuk beribadat, dan firman-Nya, “Dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.”
(Qs. an-Nahl :127) adalah untuk ubudiyah. Barangsiapa naik dari derajat “bagi-Mu” menuju derajat “dengan-Mu” maka ia telah beralih dari derajat ibadah ke ubudiyah.
Rasulullah saw. bersabda:
“Dengan Mu aku hidup dan dengan-Mu aku mati.”
Abu sulaiman tentag sabar , dan ia mengatakan : “Demi Allah, Kita tidak dapat bersabar dengan apa yang kita sukai, jadi bagaimana pula halnya dengan apa yang tidak kita sukai?”
Dzun Nuun berkata : “Sabar adalah menjauhi pelanggaran dan tetap bersikap rela sementara merasakan sakitnya penderitaan, dan sabar juga menampakkan kekayaan ketika ditimpa kemiskinan di lapangan kehidupan.”
Ibnu Atha’ berkata : “Sabar adalah tetap tabah dalam malapetaka dengan perilaku adab.” Dikatakan : “Sabar adalah fana’ jiwa dalam cobaan, tanpa keluhan.”
Abu Utsman berkomentar : “Orang yang paling sabar adalah yang terbiasa dalam kesengsaraan yang menimpa dirinya.” Dikatakan : “Sabar adalah menjalani cobaan dengan sikap yang sama seperti menghadapi kenikmatan.”
Abu Utsman juga berkata : “Pahala paling besar bagi ibadat adalah pahala utuk kesabaran. Tidak ada pahala lain yang melebihinya. Allah swt. berjanji:
“Dan sesungghnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”
(Qs. An-Nahl :96).
Amru bin Utsman mengatakan : “Sabar adalah berlaku teguh terhadap Allah swt, dan menerima cobaan-cobaan-Nya dengan sikap lapang dada dan tenang.”
Al-Khawwas menjelaskan : “Sabar adalah menetapi ketentuan-ketentuan Kitabullah dan Sunnah Rasul.”
Yahya bin Mu’adz mengatakan : “Sabar para pecinta adalah lebih besar daripada sabar orang zuhud. Betapa mengagumkan, bagaimana mereka bersabar?” Mereka telah menyenandungkan:
Kesabaran begitu indah di mana saja
Kecuali kepadamu,
Sabarmu tidaklah indah.
Ruwaym berkata : “Sabar adalah meninggalkan keluh kesah.”
Dzun Nuun berkata : “Sabar adalah meminta pertolongan kepada Allah swt.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : “Sabar adalah seperti namanya.” Syeikh Abu Abdurrahman melantunkan syair kepada saya, dari Abu Bakr ar-Razy, dari syair Ibnu Atha’:
Aku akan bersabar untuk ridha-Mu,
Sedang rindu menghancurkan diriku.
Cukuplah bagiku bahwa Engkau ridha.
Meskipun diriku hancur karena sabarku.
Abu Abdullah bin Khafif mengatakan : “Sabar ada tiga macam : Sabar orang yang berjuang untuk bersabar (mutashabbir), sabar orang yagn sabar (shabir) dan sabarnya orang yang sangat bersabar )Shabbar).”
Ali bin Abu Thalib r.a. berkata : “Sabar adalah gunung yang tak pernah terguling.”
Ali bin Abdullah al-bashry menuturkan : “Seorang laki-laki datang kepada as-Syibly dan bertanya : “Sabar macam manakah yang tersulit bagi orang bersabar?” Ia menjawab : “Yaitu sabar terhadap Allah swt. Tetapi orang itu menyanggah : “Bukan!” Asy-Syibly menyarankan : “Sabar untuk Allah.”
Orang itu menyanggah lagi : Bukan!” Asy-Syibly menjawab : “Sabar bersama Allah.” Sekali lagi orang itu menyanggah : “Bukan!” Asy-Syibly bertanya : “Lantas, sabar yang mana?” Orang itu menjawab : “Sabar berjauhan dengan Allah.” Mendengar jawaban itu asy-Syibly berteriak sedemikian rupa sehingga nyaris ruhnya melayang.”
Abu Muhammad Ahmad al—Jurairy menjelaskan : “Sabar tidaklah membedakan keadaan bahagia atau menderita, disertai dengan ketenteraman pikiran dalam keduanya. Bersikap sabar adalah mengalami kedamaian ketika menerima cobaan, meskipun dengan adanya kesadaran akan beban penderitaan.”
Salah seorang Sufi menyenandungkan:
Aku bersabar dan aku belum melihat kehendak-Mu atas sabarku
Dan kusembunyikan petaka yang Kau kenakan
Pada diriku, di tempat sabar.
Takut bahwa hatiku akan mengeluh tentag deritaku
Sampai air mataku mengalir, penuh rahasia
Dan aku tak tahu.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar:
“Orang yang sabar akan mencapai derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat, sebab mereka telah mendapat derajat kesertaan di sisi Allah swt. sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar.”
(Qs. Al-Nafal :46).
Dikatakan mengenai arti firman Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan kaitkanlah (dirimu kepada Allah)”
(Qs. Ali Imran : 200).
Bahwa sabar (shabr) adalah berada di bawah tahap berteguh hati dalam kesabaran (mushaabarah) dan dibawah tahap mengaitkan diri kepada Allah (muraabathah).” Dikatakan juga : “Bersabarlah’ dengan dirimu dalam taat kepada Alalh swt. Berteguhlah dalam kesabaran’ dengan hatimu dalam menghadapi cobaan-cobaan yang berkaitan dengan Allah swt. dan “kaitkanlah’ jiwamu terhadap kerinduan kepada Allah swt. Juga dikatakan : “”Bersabarlah” kepada Alalh, ‘berteguhlah dalam kesabaran’ dengan Allah, dan ‘kaitkanlah’ jiwamu dengan Allah.”
Dikatakan bahwa Allah swt. mewahyukan kepada Daud as. : “Berakhlaklah dengan Akhlak-Ku. Di antaranya adalah bahwa Aku adalah Yang Maha Penyabar.” Dikatakan : “Seraplah kesabaran. Jika ia membunuhmu, engkau akan mati sebagai syahid. Jika ia menghidupimu, maka engkau akan hidup sebagai seorang yang mulia.”
Dikatakan juga : “Kesabaran untuk Allah adalah kesukaran, sabar dengan Allah adalah baqa’, sabar jauh di dalam Allah adalah cobaan, dan sabar jauh dari Allah adalah sangat hampa.”
Para Sufi bersyair:
Kesabaran berjauhan dengan-Mu tercela akibatnya,
Namun terpujilah segala kesabaran yang lain.
Mereka juga membacakan:
Bagaimana sabar, orang yang lepas dari-Ku
Laksana utara dan selatan
Ketika orang-orang bermain-main di segala hal
Aku melihat cinta bermain dengan orang-orang itu.
Dikatakan : “Sabar dalam mencari pemenuhan hidup adalah tanda kemenangan, dan sabar dalam kesukaran adalah tanda keselamatan.”
Dikatakan : “Bersikap teguh dalam kesabaran adalah sabar dalam bersabar, sampai kesabaran tenggelam dalam kesabaran dan kesabaran berputus asa dari kesabaran, sebagaimana dikatakan syair:
Sabar orang yang sabar hingga kesabaran meminta
Pertolongan kepadanya
Sang pecinta berseru kepada kesabaran :Sabarlah!.”
Suatu ketika Syibly sedang ditahan di rumah sakit jiwa, dan sekelompok orang daang menjenguknya. Ia bertanya : Siapakah kalian?” Mereka amenjawab : “Kami adalah sahabat-sahabat tercintamu yang datang untuk mengunjungimu.” Maka syibly lalu mulai melempari mereka dengan batu hingga mereka pun berlarian. Ia berteriak, : “Wahai para pendusta, jika kalian memang sahabt-sahabatku, niscaya kalian akan sabar ketika aku uji.”
Dalam suatu riwayat disebutkan : “Demi penglihatan-Ku, apa yang dipukul oleh mereka yang memikul beban demi Aku, adalah dalam penglihatan-Ku.” Allah swt. berfirman:
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kamu.”
(Qs. Ath-Thuur :48).
Salah seorang Sufi mengabarkan : “Aku sedang berada di Mekkah – semoga Allah swt. menjaganya – dan kulihat seorang fakir sedang melakukan thawaf. Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya, melihatnya, kemudian meneruskan thawafnya. Hari berikutnya kulihat ia melakukan hal yang sama. Aku memperhatikannya selama beberapa hari, dan ia terus berbuat demikian. Lalu pada suatu hari ia berjalan mengelilingi Ka’bah, melihat kertas itu, mundur beberapa langkah, kemudian jatuh dan mati. Aku mengambil kertas yang ada di sakunya, dan dilamnya tertulis : “Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami.”
Sebagian Sufi berkata : “Aku masuk ke negeri India dan aku melihat seorang pemuda bermata satu, yang dijuluki orang “Si Fulan yang Sabar.” Ketika aku bertanya tentangnya, orang mengatakan kepadaku, : “Semasa muda, seorang sahabtnya berangkat untuk bepergian jauh. Ketika sahabtnya itu berpamitan, meneteslah air mata dari salah satu kelopak matanya, namun kelopak matanya yang sebelah lagi tidak. Ia katakan kepada bola matanya yang tidak menangis itu : “Mengapa engkau tidak menangis ata keberangkatan sahabatku?” Engkau kularang melihat dunia ini!” Lalu ditutupnya matanya itu, dan selama enampuluh tahun belum pernah dibukanya.”
Dikatakan tentang firman Allah swt:
“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.”
(Qs. Al-Ma’arij :5), bahwa : Sabar yang baik” itu adalah sabar yang mencegah diketahuinya korban yang terkena penderitaan.
Umar bin Khtahthab r.a. berkata : “Seandainya kesabaran dan syukur itu adalah dua ekor unta, bagiku akan sama saja mana yang akan kukendarai.”
Ketika terkena cobaan, Ibnu Syabramah – semoga Allah swt. merahmatinya – biasa mengatakan : “Semua ini hanyalah awan.” Dan cobaan itu akan berlalu.”
Ketika Rasulullah ditanya tentang iman, beliau menjelaskan:
“(Iman) adalah keteguhan hati dalam bersabar dan bersikap murah hati.”
(H.r. Abu Ya’la dan Baihaqi).
As-Sary ditanya tentang sabar, dan ia mulai berbicara. Lalu seekor kalajengking merayap ke kakinya dan menyengatnya beberapa kali, namun ia sama sekali tidak bergeming. Seseorang bertanya kepadanya : “Mengapa engkau tidak mencampakkannya?” Ia menjawab : “Aku malu kepada Allah swt. untuk berbicara tentang sabar sedang aku sendiri tidak sabar.”
Dalam sebuah hadis dikatakan : “Orang-orang miskin yang sabar akan bersama di majelis Allah swt. di hari Kebangkitan.”
Allah swt. mewahyukan kepada salah seorang Nabi-Nya : “Aku menurunkan cobaan kepada hamba-Ku, lalu ia berdoa kepada-Ku. Tetapi aku menangguhkan doanya dan ia mengeluh kepada-Ku. Maka Aku lalu bertanya : “Wahai hambaku, bagaimana Aku mengasihimu dari suatu yang dengannya Aku mengasihimu?” Ibnu “Uyaynah berkomentar megeai arti firman Allah swt:
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.”
(Qs. As-Sajdah : 24).
Bahwa artinya adalah : “Karena mereka memahami kepedulian pokok persoalan, maka kami angkat mereka sebagai pemimpin.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : “Kondisi bersabar adalah jika engkau tidak berkeberatan terhadap apa yang telah ditetapkan (takdir), sedangkan menampakkan cobaan tanpa mengeluh, maka hal ini tidaklah menghilangkan sabar. Allah swt. berfirman dalam kisah Nabi Ayyub as:
“Sesungguhnya Kami dapati ia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia senantiasa berpaling (kepada Kami).”
(Qs. Shaad :44).
Allah memfirmankan ini meskipun Ayyub berkata:
“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit.”
(Qs. Al-Anbiya : 83).
” Dan saya mendengar beliau mengatakan : “Allah menyebutkan ucapan Ayyub ini agar ucapan tersebut menjadi jalan ke luar bagi orang-orang yang lemah di antara ummat ini.”
Salah seorang Sufi mengatakan, Allah swt. berfirman : “Sesungguhnya Kami dapati ia seorang yang sabar (shabir).” Dia tidak berfirman : “yang paling sabar (hsabur).” Sebab Ayyub tidaklah sabar sepanjang waktu. Sebaliknya, terkadang beliau merasa senang terhadap cobaan yang menimmpa dirinya dan mendapati cobaan tersebut menyenangkan. Pada saat menyenangi cobaan tersebut, beliau bukanlah orang yang sabar; karena itu Allah tidak menyebutnya, “yang paling sabar.”
Syeikh Abu ali ad-Daqqaq menegaskan : “Hakikat sabar adalah jika si hamba keluar dari cobaan dalam keadaan seperti ketika memasukinya, sebagaimana dikatakan oleh Ayyub as. Pada akhir cobaan yang menimpa diri beliau. “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi.” Ayyub memperlihatkan sikap berbicara yang layak dengan ucapannya : “Dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yag menyayangi.” Tetapi beliau tidak berkata secara jelas, dengan kata-kata : “Limpahkanlah kasih sayang-Mu kepadaku.”
Sabar ada dua macam : Sabar para ahli ibadat (abidin) dan sabar para pecinta (muhibbin). Mengenai sabar para ahli ibadat, adalah lebih baik jika sabar macam ini dipelihara. Mengenai sabar para pecinta, sebaiknya ditinggalkan. Tentang makna kata-kata ini, para Sufi membacakan syair berikut :
Di Hari perpisahan, bahwa keputusannya
Untuk bersabar adalah satu di antara dua
Sangkaan-sangkaan dan dusta
Mengeni arti syair ini, saya telah mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan : “Ya’kub as. Telah menyiapkan dirinya untuk bersabar. Karenanya, beliau lalu mengatakan : “Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Artinya : “Sikapku adalah bersabar dengan sabar yang baik.” Namun belum sampai malam tiba, beliau sudah mengatakan:
“Aduhai duka citaku terhadap Yunus.”
(Qs. Yusuf :84).
Muraqabah
Allah swt. berfirman:
“Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.”
(Qs. Al-Ahzab :52).
Diriwayatkan dalam suatu hadis, bahwa malaikat Jibril datang kepada Rasulullah saw. dalam rupa sebagai seorang manusia. Ia bertanya:
“Wahai Muhammmad, apakah iman itu?”
Beliau menjawab: “Iman adalah bahwa engkau percaya kepada Allah swt. para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit.”
Jibril berkata: “Engkau benar.”
Jariri (perawai hadis ini) berkata: “Kami semua heran atas penegasannya terhadap kebenaran jawaban Nabi, sedangkan Jibril sendiri yang bertanya”
Kemudian Jibril bertanya lagi: “Katakanlah kepadaku, apakah Islam itu?”
Nabi saw. menjawab: “Islam yaitu hendaknya engkau menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan melaksanakan Ibadat Haji ke Baitullah.”
Jibril berkata: “Engkau benar”
Kemudian ia bertanya lagi: “Katakanlah kepadaku, apakah ihsan itu?”
Nabi menjawab: “Ihsan yaitu hendaknya engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, (namun) jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Jibril berkata: “Engkau benar.”
(Hr. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i).
Syeikh Ali ad-Daqqaq berkomentar:
bahwa sabda Nabi saw. “Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Merupakan petunjuk mengenai keadaan mawas diriepatnya ia dalam kesadaran ini merupakan muraqabah kepada Allah swt, dan inilah sumber kebaikan baginya. Ia hanya akan sampai kepada muraqabah ini setelah sepenuhnya melakukan perhitungan dengan dirinya sendiri mengenai apa yang telah terjadi di masa lampau, memperbaiki keadaannya di masa kini, tetapi berteguh di jalan yang benar, memperbaiki hubungannya dengan Allah swt. dengan sepenuh hati, menjaga diri agar setiap saat senantiasa ingat kepada Allah swt. taat kepada-Nya dalam segala kondisi. Baru setelah ia mengetahui keadaan-keadaannya. Dia melihat perbuatannya, dan Dia mendengar perkataannya. Orang yang alpa akan semua hal ini, ia akan jatuh dari titik awal wushul, lalu bagaimana ia akan mencapai taqarub?”
Al-Jurairy berkata:
“Orang yang belum mengukuhkan rasa takwa dan muraqabah dirinya kepada Allah swt. tidak akan mencapai mukasyafah dan musyahadah.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq – semoga Allah merahmatinya — berkata:
“Suatu ketika ada seorang raja mempunyai seorang menteri yang mendampingi di hadapannya. Sang menteri berpaling kepada salah seorang pelayan yang hadir, bukan karena curiga, tapi karena merasa adanya bisik-bisik di antara pelayang itu. Kebetulan sang raja juga sedang memperhatikan menterinya itu. Sang menteri khawatir bila sang raja akan mengira ia melihat kepada para pelayan itu karena curiga. Karena itu, sang menteri tetap mengarahkan pandangannya kepada mereka. Sejak hari itu sang menteri selalu datang kepada raja dengan mata memandang ke satu sisi. Inilah mawas diri seorang manusia terhadap sessamanya; maka bagaimana pula halnya mawas diri hamba terhadap Tuhannya?”
Saya mendengar seorang fakir mengabarkan:
“Ada seorang raja mempunyai seorang pelayan yang mendapat perhatian lebih dari pelayan lainnya. Tidak seorang pun di antara mereka yang lebih berharga atau lebih tampan dari pelayan yang satu itu. Sang raja ditanya tentang hal ini, maka ia lalu ingin menjelaskan kepada mereka kelebihan pelayan tersebut dari pelayan lainnya dalam pengabdian. Suatu hari ia sedang menunggu kuda bersama para pengiringnya. Di kejauhan tampak sebuah gunung bersalju. Sang Raja menatap ke arah salju itu dan membungkukkan kepala. Si pelayan lalu memacu kudanya. Orang-orang tidak tau mengapa si pelayan memacu kudanya. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa sidikit salju. Sang raja bertanya kepadanya : “Bagaimana engkau tau bahwa aku menginginkan salju?” Si pelayan menjawab : “Karena paduka menatapnya terus, dan seorang raja hanya melihat sessuatu jika mempunyai niat yang benar.” Maka sang raja lalu berkata : “Aku memberinya anugerah dan kehormatan khusus, karena bagi setiap orang ada pekerjaanya sendiri, dan pekerjannya adalah mengamati pandangan mataku dan memperhatikan keadaanku.”
Salah seorang Sufi berkomentar:
“Orang yang muraqabah kepada Allah dalam benaknya, niscaya Allah swt. akan menjaga anggota badannya.”
Ketika Abu Husain bin Hind ditanya:
“Kapankah seorang hamba mengusir domba-dombanya ari padang kebinasaan dengan tongkat panjangnya?” Ia menjawab : “Manakala ia tau bahwa seseorang sedang memperhatikannya.”
Ketika Ibnu Umar r.a. sedang berada dalam perjalanan ia melihat seorang anak laki-laki sedang mengembalakan kambing. Ibnu Umar bertanya kepadanya : “Maukah engkau menjual seekor kambingmu kepadaku?” Si anak menjawab: “Kambing-kambing ini bukan milikku.” Ibnu Umar berkata: “Katakan saja kepada pemiliknya bahwa seekor serigala telah melarikannya.” Si anak berkata: “Lantas di mana Allah?” Setelah kejadian itu, untuk beberapa waktu lamanya Ibnu Umar selalu mengatakan: “Budak itu berkata: Di mana Allah?”
Al-Junayd berkata:
“Barangsiapa mewujudan muraqabah, hanyalah takut akan hilangnya bagian dari Allah swt. tidak yang lain.”
Salah seorang syeikh mempunyai beberapa murid, dan ia lebih menyukai salah seorang muridnya dn memberinya perhatian lebih daripada murid-murid yang lain. Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjawab : “Aku akan menunjukkan kepaamu mengapa aku bersikap demikian terhadapnya.” Lalu diberikannya kepada setiap orang muridnya seekor burung dan memerintahkan kepada mereka : “Sembelihah burung-burung itu di suatu tempat di mana tidak seorang pun akan melihatnya!.” Mereka semua lalu berangkat, kemudian masing-masing kembali dengan burung sembelihannya. Tetapi murid kesayangannya itu kembali dengan membawa burung pemberian sang Syeikh yang masih dalam keadaan hidup. Ketika Syeikh bertanya : “Mengapa engkau tidak menyembelihnya?” Si murid menjawab : “Tuan memerintahkan saya untuk menyembelih burung ini di tempat yang tidak dilihat oleh siapa pun, dan saya tidak bisa menemukan tempat seperti itu.” Mendengar jawaban muridnya itu sang Syeikh lalu berkata kepada murid-murid yang lain : “Inilah sebabnya mengapa aku lebih memberikan perhatian kepadanya.”
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan:
“Tanda muraqabah adalah memilih apa yang di pilih oleh Allah swt. menganggap besar apa yang dipandang besar oleh-Nya dan menganggap remeh apa yang di pandang-Nya remeh.”
Ibrahim an-Nashr abadzy menegaskan:
“Harapan (raja’) mendorongmu untuk taat, takut (khauf) menghindarkanmu dari maksiat; dan muraqabah diri membawamu kepada jalan kebenaran hakiki.”
Ketika ditanyakan kepada Ja’far bin Nashr mengenai muraqabah, ia berkata kepada saya:
“Muraqabah adalah menjaga diri terhadap sirri dikarenakan adanya kesadaran akan pengawan Allah swt. terhadap setiap bisikan.”
Al Jurairy menjelaskan:
“Jalan kita didbangun atas dua bagian yaitu hendaknya engkau memaksa jiwamu untuk muraqabah terhadap Allah swt. dan hendaknya ilmu tampak dalam perilaku lahiriahmu.”
Abdullah al-Murta’isy berkomentar:
“ Muraqabah adalah menjaga diti atas batin sendiri dikarenakan kesadaran akan Yang Ghaib dalam setiap pandangan dan ucaparn.”
Ketika Ibnu Atha’ ditanya:
“Amal ibadat apakah yang paling baik?” Ia menjawab : “Muraqabah terhadap Allah swt di setiap waktu.”
Ibrahim al-Khawwas berkata:
“Kemawasan diri menghasilkan muraqabah; muraqabah menghasilkan ketulusan bagin dan lahir, semata kepada Allah swt.”
Abu Utsman al-Maghriby menegaskan:
“Disiplin paling utama pada diri manusia dalam menempuh tharikat ini adalah instropeksi dan muraqabah, sedang aplikasinya dengan ilmu.”
Abu Utsman menuturkan:
“Abu Hafs mengatakan kepadaku: “Manakala engkau duduk mengajar orang banyak, jadilah seorang penasihat kepada hati dan jiwamu sendiri dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh berkumpulnya mereka di sekelilingmu, sebab mereka hanya memperhatikan wujud lahiriahmu, sedangkan Allah swt. memperhatikan wujud batinmu.”
Abu Sa’id al-Kharraz mengabarkan:
“Salah seorang syeikh mengatakan kepadaku: “Engkau harus mengawasi batinmu dan bermawas diri terhadap Allah.
Suatu ketika aku sedang bepergian melalui padang pasir, dan tiba-tiba aku mendengar suara keras yang menakutkan di belakangku. Aku ingin menoleh tapi, hatl itu tak kulakukan. Lalu aku melihat sesuatu jatuh ke atas pundakku, dan aku menoleh, sedang aku menjaga batinku, lantas aku menoleh dan kulihat seekor binatang buas yang besar.”
Muhammad al-Wasithy berkata:
“Amal ibadat terbaik adalah menjaga waktu. Artinya, si hamba tidak melihat ke luar batas dirinya, tidak memikirkan sesuatu pun selain Tuhannya, dan tidak menyertakan diri dengan sesuatu pun selain waktunya.”
Ridha
Allah SWT berfirman:
“Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(Qs. Al-maidah: 119 & Al-Bayyinah :8).
Jabir r.a. mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Para penghuni surga akan berada di dalam sebuah majelis ketika suatu cahaya dari pintu gerbang surga menyinari mereka, Mereka akan mengangkat kepada dan Allah swt. akan memandang mereka dan berfirman: “Wahai penghuni surga, mintalah kepada-Ku apa yang kalian inginkan!.”
Mereka akan menjawab:
“Kami mohon agar Engkau ridha kepada kami.”
Allah swt menjawab:
“Keridhaan-Ku telah membawa kalian ke rumah-Ku, dan Aku telah memberi kalian kemuliaan-Ku. Ini adalah saat yang tepat, maka bermohonlah kepada-Ku!”
Mereka menjawab:
“Kami memohon tambahan selain ini.”
Selanjutnya Rasul saw. bersabda:
“Kemudian mereka akan dibawakan kednaraan istimewa dari mutu manikam, kendalinya dari zamrud hijau an manikam merah. Mereka menaikinya, dan kendaraan itu akan melesat cepet melebihi kecepatan peglihatan mata. Lalu Allah swt. memerintahkan buah-buahan yang lezat serta bidadari supaya dibawa kepada mereka, dan para bidadari itu akan berkata: “Kami adalah penghibur kenikmatan yang gemulai, dan kami tidak akan menjadi layu. Kami abadi dan tidak akan mati – jodoh bagi kaum beriman yang mulia.”
Selanjutnya Allah akan memerintahkan agar didatangkan minyak misik putih yang harus semerbak, dan mereka akan berputar berkeliling dibawa angin yang disebut “al-Mutsirah” sampai akhirnya mereka di bawa ke Surga “Adn, yang merupakan pusat surga. Para malaikat akan menyerukan:
“Wahai Tuhan kami, mereka telah datang.”
Allah swt. berfirman:
“Selamat datang orang-orang yang benar, selamat datang orang-orang yang taat!.”
Lalu Rasulullah saw. bersabda:
“Maka tabir pun akan disingkapkan bagi mereka. Mereka akan memandang kepada Allah swt. dan mereka akan menikmati Cahaya Yang Maha Pegasih hingga mereka tidak akan melihat satu sama lain. Kemudian Allah swt. memerintahkan : “Kembalikan mereka ke istana-istana mereka dengan hadiah.”
Rasulullah saw. menlanjutkan:
“Mereka akan dibawa kembali ke tempat tinggal mereka dan mereka akan dapat saling pandang lagi.” Lalu Rasulullah saw. menjelaskan : “Itulah yang dimaksud dengan firman Allah swt.” Sebagai hadiah dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Qs. Futhshilat : 32).” (H.r. Ibnu an-Najjar dan al-Bazzar).
Ulama Irak dan Khurasan berbeda pendapat mengenai ridha. Apakah ia termasuk keadaan ruhani (ahwah) ataukah maqam? Ulama Khurasan mengatakan:
“Ridha adalah salah satu maqam, sebagai puncak dari tawakkal kepada Allah swt. Ini berarti bahwa ridha dapat dicapai oleh si hamba dengan upayanya sendiri.”
Sedang ulama Iraq mengatakan:
“Ridha adalah salah satu ahwal, bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya si hamba. Ridha adalah sesuatu yang memasuki hati, seperti halnya haal-haal yang lain.”
Sebuah kompromi antara dua pandangan ini dapat diajukan, dengan pernyataan demikian:
“Awal ridha adalah sesuatu yang dicapai oleh si hamba dan merupakan maqam, meskipun pada akhirnya ridha merupakan kondisi ruhani (haal) dan bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya.”
Banyak orang berbicara tentang ridha, masing-masing mengungkapkan keadaan dan konsumsi ruhaninya. Maka ungkapan pendapat mereka berbeda-beda, sebagaimmana berbedanya pengalaman meneguk ruhani dan bagian masing-masing.
Sementara syarat ilmu, maka menjadi keharusan. Orang yang ridha dengan Allah swt. adalah orang yang sama sekali tidak menentang takdir-Nya.
Syeikh Abu ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Ridha bukanlah bahwa engkau tidak mengalami cobaan, ridha hanyalah bahwa engkau tidak berkeberatan terhadap hukum dan qadha Allah swt.”
Ketahuilah, kewajiban bagi hamba adalah rela terhadap ketentuan Alalh swt. yang telah diperintahkan agar ia ridha dengannya. Sebab tidaklah setiap ketentuan itu mengharuskan ia ridha, atau boleh ridha dengan qadha tersebut, misalnya kemakssiatan dan banyaknya fitnah yang menimpa kaum muslimin.
Para syeikh berkomentar:
“Keridhaan adalah gerbang Allah swt. yang terbesar.”
Maksud mereka adalah, bahwa barangsiapa mendapat kehormatan dengan ridha, berarti ia telah disambut dengan sambutan paling sempurna, dan dihormati dengan penghormatan tertinggi.”
Abdul ahid bin Zaid menjelaskan:
“Keridhaan adalah gerbang Allah yang teragung dan surga dunia.”
Ketahuilah bahwa si hamba tidak akan mendekati derajat ridha kecuali Allah swt. ridha terhadapnya, sebab Allah swt. telah berfirman:
“Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun rela kepada-Nya.”
(Qs. Al-Maidah :119).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturan:
“Seorang murid bertanya kepada gurunya: “Apakah si hamba mengetahui jika Allah ridha kepadanya?” Sang guru menjawab : “Tidak, bagaimana dapat mengetahuinya, sedang ridha-Nya gaib?” Si murid berkata : “Sungguh ia tahu hal ini! Jika aku mendapati hatiku ridha kepada Alalh swt. maka aku tahu bahwa Dia ridha kepadaku.” Maka sang guru lalu berkata : “Sungguh baik sekali ucapanmu itu, anak muda.”Ketika Musa as. Berdoa:
“Ilahi, bimbinglah aku kepada amal yang mendatangkan keridhaan-Mu.” Allah swt. menjawab : “Engkau tidak akan mampu melakukannya.” Musa bersujud dan terus memohon. Maka Allah swt. lalu mewahyukan kepadanya : “Wahai putra Imran, keridhaan-Ku ada pada keridhaanmu menerima ketetapan-Ku.”Abu Abdurrahman ad-Darany mengatakan:
“Jika si hamba membebaskan dirinya dari ingatan terhadap hawa nafsu, maka ia akan mencapai ridha.”
An-Nashr Abadzy menegaskan:
“Barangsiapa ingin mencapai derajat kerelaan, hendaklah berpegang teguh apa-apa yang paanya Allah telah menempatkan keridhaan-Nya.”
Abu Abdullah bin Khafif menjelaskan:
“Ada dua macam ridha; ridha dengan Allah swt. dan ridha terhadap apa yang datang dari-Nya. Ridha dengan Alalh swt. berarti bahwa si hamba rela terhadap-Nya sebagai Pengatur. Dan ridha terhadap apa yang datang dari-Nya berkaitan dengan apa yang telah ditetapkan-Nya.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Jalan sang pengembara ruhani (salikin) itu lebih panjang, dan itulah jalan olah ruhani. Jalan kaum terpilih (khawwash) lebh singkat, tapi lebih sulit dan menuntut agar engkau bertindak sesuai dengan keridhaan dan juga ridha dengan takdir.”
Riwaym mengatakan:
“Keridhaan adalah jika Allah meletakkan neraka Jahanam di tangan kanannya, maka ia tidak akan meminta agar Dia memindahkannya ke tangan kirinya.”
Abu Bakr bin Thahir berkomentar:
“Keridhaan adalah menghilangkan kesedihan dari hati hingga tidak sesuatu pun yang tinggal selain kebahagiaan dan kegembiraan.”
Al-Wasithy mengajarkan:
“Manfaatkanlah keridhaan sebesar-besarnya, dan jangan biarkan ia memanfaatkan dirimu, agar kemanisan dan wawasannya tidak menabirimu dari kebenran batin yang menyangkut penglihatanmu.”
Ketahuilah bahwa kata-kta al-Wasithy tersebut sangat penting. Di dalamnya terdapat peringatan yang tersirat bagi ummat, sebab ridha terhadap keadaan ruhani belaka merupakan tabir yang gmenabiri Si Pemberi derajat keadaan ruhani. Jika seseorng menemukan kesenangan dalam ridha dan mengalami nikmatnya ridha dalam hatinya, maka ia telah tertabiri oleh keadaannya sendiri dari musyahadah kebenran batin. Al-Wasithy juga mengingatkan,: “Waspadalah terhadap perasaan nikmat karena amal ibadat, sebab itu adalah racun yang membawa maut.”
Ibnu Khafifi berkata:
“Ridha adalah tenangnya hati dengan ketetapan Alalh swt. dan keserassian hati dengan apa yang menjadikan Allah swt. ridha dan dengan apa yang dipilih-Nya.”
Ketika Rabi’ah al-Adawiyah ditanya:
“Bilakah seorang hamba dipandang ridha?” Ia menjawab: “Apabila baginya penderitaan sama menggembirakannya dengan anugerah nikmat.”
Diceritakan bahwa asy-Syibly menegaskan di hdapan al-Junayd:
“Tidak da daya dan kekuatan selain dengan Alalh, (la haula wa laa quwwata illa billah)” dan al-Junayd mengatakan kepadanya: “Ucapanmu itu merupakan ungkapan dada yang sempit, dan dada sempit (sedih) karena meninggalkan ridha pada ketentuan-Nya.” Asy-Syibly lalu terdiam.
Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan:
“Ridha adalah jika engkau tidak meminta surga kepada Alalh swt. atau berlindung kepada-Nya dari neraka.
Dzun Nuun al-Mishry menjelaskan:
“Ada tiga tanda ridha, tidak punya pilihan sebelumm diputuskannya keteapan (Allah), tidak merasakan kepahitan setelah diputuskannya ketetapan, dan tetap merasakan gairah cinta ditengah-tengah cobaan.”
Dikatakan kepada al-Husain putra Ali bin Abu Thalib r.a.:
“Abu Dzar mengatakan: “Kemiskinan lebih kucintai daripada kekayaan, dan sakit lebih kucintai daripada kesehatan.” Al-Husain menjawab: “Semoga Allah mengasihi Abu Dzar. Kalau aku sendiri berpendapat, Orang yang menruh pilihan baik Allah swt. baginya, tidak akan berkeinginan selaind ari apa yang telah dipilihkan Allah swt. baginya.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan kepada Bisyr al-Hafi:
“Ridha adalah lebih baik daripada hidup zuhud di dunia ini, sebab orang yang rela tidak pernah berkeinginan akan sesuatu di luar keadaannya.”
Ketika Abu Utsman ditanya tentang sabda Nabi saw.:
“Aku memohon kepada-Mu ridha setelah diputuskannya ketetapan-Mu.” Dijelaskannya,: “Ini karena ridha sebelum diputuskannya ketetapan Allah, berarti adanya niat kuat untuk ridha, tetapi ridha setelah diputuskannya ketetapan adalah ridha itu sendiri.”
Abu Sulaiman berkata:
“Seandainya aku ingin mengetahui sebagian kecil saja tentang ridha. Sekali pun itu akan menyebabkan aku masuk ke neraka, aku akan menjadi orang yang ridha.”
Abu Umar ad-Dimasyqi mengatakan:
“Ridha adalah hilangnya kesedihan terhadap perintah yang manapun.”
Al-Junayd berkata:
“Ridha berarti meniadakan pilihan.”
Ibnu Atha menegaskan:
“Ridha adalah mengarahkan perhatian hati pada berlalunya qadha bagi si hamba, yaitu meninggalkan ketidak senangan terhdapnya.”
Ruwaym berkata:
“Ridha, tenangnya hati dalam menjalani ketetapan (Allah).”
An-Nury mengatakan:
“Ridha adalah senangnya hati atas pahitnya nasib.”
Al-Jurairy mengatakan:
“Barangsiapa ridha tanpa batas, Allah swt. akan mengangkat derajatnya di luar batas.”
Abu Turab an-Nakhsyaby menjelaskan:
“Siapa pun tidak akan pernah mendapatkan ridha manakala dalam hatinya ada seberat biji sawi dunia.”
Diriwayatkan oleh al-Abbas bin Abdul Muthalib, bahwa Rasulullah saw. menjelaskan:
“Orang yang ridha Allah sebagai Tuhannya, akan merasakan nikmatnya iman.”
(Hr. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad).
Diceritakan bahwa Umar bin Khaththab menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ary, “Amma ba’du”… bahwa segala kebaikan terletak di dalam keridhaan.
Maka jika engkau mampu, jadilah orang yang ridha, jika tidak mampu jadilah orang yang sabar.
Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa Utbah al-Ghulam biasa menghabiskan malam-malamnya hingga pagi dengan berucap:
“Jika Engkau menghukumku, aku akan mencintai-Mu, dan jika Engkau mengasihi aku, aku pun tetap mencintamu.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan:
“Manusia dibuat dari lempung, dan lempung itu tiada bernilai untuk menentang keputusan Allah swt.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata:
“ Seorang laki-laki mrah kepada salah seorang budaknya, maka si budak lalu minta bantuan seorang laki-laki lainnya untuk menjadi penengah. Ketika tuannya telah memaafkannya, si budak lalu menangis, dan si penengah bertanya: “Mengapa engkau menangis, sedangkan tuanmu telah memaafkanmu?” si tuan berkata kepadanya: “Ia menginginkan ridhaku, dan tidak ada jalan lagi baginya untuk memperolehnya. Karena itu ia menangis.”
Ubudiyah
Allah SWT berfirman:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.”
(Qs. Al-Hijr :99).
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khurdry dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Ada tujuh golonga manusia yag akan dinaungi Allah swt. dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya:
Imam yang adil pemuda yang bersemangat dalam ibadat kepada Allah swt seseorang yang hatinya berkait dengan masjid sejak saat ia keluar hingga kembali (ke masjid) dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, yang bertemu dan berpisah karena Allah, seseorang yang mengingat Allah swt. hingga air matanya mengalir serta seseorang yang digoda seorang wanita baik dan cantik, lantas menjawab dengan ucapan:
“Aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam dan seseorang yang bersedekah dengan diam-diam hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya.”
(H.r. Bukhari – Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Ubudiyah adalah lebih sempurna daripada ibadat. Karena itu, pertama-tama adalah ibadat. Lalu ubudiyah, dan akhirnya abudah.” Ibadat adalah amalan kaum awam; Ubudiyah adalah amalam kaum terpilih (khawwash); dan Abudah adalah amalan kaum yang sangat terpilih (khawwashul khawwash).”
Beliau juga mengatakan:
“Ibadat adalah untuk orang yang memiliki ilmu yaqin, ubudiyah untuk orang yang memiliki ‘ainul yaqin, dan abudah untuk orang yang memiliki haqqul yaqin.”
Beliau juga berkomentar:
“Ibadat adalah untuk orang yang sedang berrjuang keras (mujahadah), ubudiyah untuk orang yang sangat tahan menanggung kesukaran (mukabidat) dan abudah adalah sifat ahli musyahadah. Jadi, orang yang tidak mengeluh kepada Allah, jiwanya berada dalam keadaan ibadat, dan siapa yang tidak bakhil jiwanya dialah pemilik ubudiyah, dan siapa yang tidak bakhil ruhnya, dialah pemilik abudah.”
Dikatakan:
“Ubudiyah adalah menegakkan tindak-tindak ketaatan yang sejati, dengan khusyu’, memandang diri dengan mata yang terbatas, dan menydari bahwa amal-amal kebajikan hanya dapat terlaksana berkat ketentuan takdir.”
Dikatakan pula:
“Ubudiyah berarti meninggalkan ikhtiar sendiri ketika menghadapi takdir ilahi.”
Dikaakan pula:
“Ubudiyah adalah mengosongkan diri dari keyakinan akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri dan mengakui kekayaan serta anugerah yang diberikan-Nya kepadamu.”
Juga dikatakan:
“Ubudiyah adalah menyambut apa pun perintah yang diberikan kepadamu dan memisahkan dirimu dari apa pun yang engkau dilarang atasnya.”
Muhammad bin Khafifi ditanya:
“Bilakah ubudiyah itu sah?” Ia menjawab: “Apabila seseorang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt. dan memiliki kesabaran terhadap-Nya dalam menjalani cobaan-Nya.”
Sahl bin Abdullah mengatakan:
“Bagi siapa pun, ubudiyah tidaklah shahih sampai ia tidak memperdulikan empat hal : Kelaparan, ketelanjangan, kemiskinan dan kehinaan.”
Dikatakan:
“Ubudiyah adalah hendaknya engkau menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya dan menanggungkan segala perbuatan kepada-Nya.
Dikatakan pula:
“Salah satu tanda ubudiyah adalah bahwa engkau meninggalkan angan-angan sendiri dan mempersaksikan takdir.”
Dzun Nuun al-Mishry menjelaskan:
“Ubudiyah adalah bahwa engkau menjadi hamba-Nya dalam setiap kondisi, seperti halnya Dia adalah Tuhanmu di setiap kondisi.”
Ahmad Jurairy menjelaskan:
“Penghamba kenikmatan banyak sekali, tapi sedikit sekali yang menjadi penghamba Sang Pemberi nikmat.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Engkau akan menjadi hamba dari siapa pun yang mengikatmu. Jika engkau teerikat kepada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi hamba bagi dirimu sendiri. Jika engkau terikat kepda kehidupan duniawi, maka engkau akan menjadi hamba bagi kehidupan duniawimu.”
Rasulullah saw. bersabda:
“Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, celakalah hamba pakaian bagus.”
(H.r. Bukhari).
Ismail bin Nujayd menegaskan:
“Tidak satu pun langkah dapat murni di jalan ubudiyah sampai seseorang melihat bahwa amal-amal baiknya adalah riya’ dan keadaan-keadaan ruhani (haal)-nya adalah berpura-pura.”
Abdullah bin Munazil mengatakan:
“Hamba adalah hamba, selala ia tidak menuntut apap pun untuk tunduk kepada dirinya. Jika ia telah menuntut pelayan bagi dirinya, ia benar-benar gugur dari batas ubudiyah dan telah meninggalkan adab ubudiyah.”
Sahl bin Abdullah berkomentar:
“Ubudiyah hanya dapat dipandang benar pada seorang hamba manakala pengaruh kemiskinan dalam kefakiran tidak tampak, tidak ada tanda kekayaan ketika ia kaya.”
Dikatakan:
“Ubudiyah adalah penyaksian rububiyah.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata:
“Aku mendengar Ibrahim an-Nashr Abadzy mengatakan:
“Nilai seorang penghamba karen Yang Dihamba, seperti nilai seorang ‘Arif karena Allah Yang Dima’rifati.”
Abu Hafs berkata:
“Ubudiyah adalah hiasan yang indah atas diri seorang hamba. Barangsiapa meninggalkan ubudiyah berarti terlarang dari perhiasan.”
An-Nibajy mengatakan:
“Prinsip ibadat itu didasarkan pada tiga hal: Hendaknya engkau tidak menolak aturan-Nya yang mana pun tidak menahan sesuatu pun yang diminta-Nya dan hendaknya Dia tidak mendengar engkau meminta kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhamu.”
Ibnu Atha’ menjelaskan:
“Ubudiyah ada empat perilaku:
Kesetiaan pada janji, menjaga batas-batas yang telah ditetapkan Allah ridha terhadap apa pun yang dimiiki dan kesabaran terhadap apa pun yang hilang.”
Amru bin al-Makky menuturkan:
“Tidak pernah kutemui banyak manusia di Mekkah dan di tempat lain, atau yang datang mengunjungiku di berbagai waktu, tak seorang pun yang lebih besar mujahadahnya dan lebih memelihra ibadatnya dari al-Muzany – semoga Allah merahmatinya. Aku tidak pernah menjumpai seorang pun yang lebih baik dalam mengagungkan perintah-perintah Allah swt. daripadanya, yang lebih mengendalikan diri, atau yang sama pemurahnya kepada sesamanya, dibanding al-Muzany.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Tiada sesuatu pun yang lebih mulia dalam ubudiyah, juga tiada gelar yang lebih sempurna bagi seorang beriman selain sebuah nama , :ubudiyah”.
Karena alsan ini Allah swt. ketika menggambarkan sifat Rasulullah saw. pada malam Mi’raj – saat paling mulia di dunia ini – berfirman:
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.”
(Qs. Al-Isra’ :1).
Kemudian Allah swt. berfirman:
“Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah Allah wahyukan.”
(Qs. An-Najm : 10).
Maka seandainya ada gelar yang lebih agung daripada sifat ke “hamba” an, tentulah Dia telah menggunkanannya untuk beliau.”
Dalam konteks inilah syair dilantunkan:
Wahai Amru, membalaskan tumpahnya darahku
Demi Zahra’ku
Mata dan telinga tahu semua ini
Jangan panggil diriku
Kecuali “wahai hamba Zahra’”
Sungguh nama termulia
Panggilan itu bagiku.
Salah seorang Sufi berkomentar. “Ada dua hal:
Ketenangan sampai pada kelezatan, dan keterkaitan Anda atas gerakan. Jika Anda menggugurkan diri dari dua hal tersbut, Anda bakal mendapati hak ubudiyah.”
Muhammad al-Wasithy memperingatkan:
“Waspadalah terrhadap anugerah yang ditimbulkan oleh pemberian, karne abagi manusia Sufi, itu merupakan tabir.”
Abu Ali al-Jurjany berkata:
“ Merasa ridha adalah rumah ubudiyah. Sabar adalah pintunya, penyerahan total adalah rumahnya. Suara di atas pintu, kegaduhan di dalam tempat tiggal, dan keringanan jiwa ada di rumah.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Sebagaimana rububiyah sebagai sifat Allah swt. yang tak pernah sirna, maka ubudiyah adalah sifat hamba yang tak penah pisah.Sebagian Sufi bersyair:
Jika kau tanya padaku,
Aku berkata, “Inilah, aku hamba-Nya.”
Dan jika mereka tanya kepada-Nya,
Dia berkata, “Inilah, dia hamba-Ku.”
AN-Nashr Abadzy menegaskan:
“Amal-amal ibadat lebih dekat pada pencarian maaf dan ampunan atas kekurangan-kekurangan daripada permohonan imbalan dan pahala.” Ia juga mengatakan, “Ubudiyah berarti kehilangan kesadaran akan pengabdian ketika menyaksikan Yang Maha Disembah.”
Al-Junayd mengatakan:
“Ubudiyah adalah meninggalkan semua aktivitas dan kesibukan dengan cara menyibukkan diri pada hal-hal yang merupakan dasar kebebasan.”
Iradat
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki Wajah-Nya.”
(Qs. Al-An-aam :52).
Diriwayatkan oleh Anas r.a. Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan mempekerjakannya.” Seseorang bertanya: “Bagaimana Dia mempekerjakannya, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab : “Dia akan memberinya pertolongan untuk amal saleh sebelum mati.”
(H.r. Tirmidzi).
Kehendak (iradat) = (adalah konsentrasi kepda Allah swt. dalam suluk menuju kesempurnaan tauhid. Satu upaya terpuji dan menjadi tuntutan bagi hamba. Iradat ini sendiri hakikatnya bukan kehendak dirinya, dan tidak ada pilihan atas maksudnya. Bahwa, seseorang berkonsentrasi semata karena Kehendak Allah swt). adalah jalan permulaan para penempuh dan nama tahapan pertama dari mereka yang menempuh jalan menuju Allah swt. Sifat inni disebut “kehendak” (iradat) hanya karena kehendak mendahului setiap masalah sedemikian rupa, sehingga bila seorang hamba tidak meghendaki sesuatu, ia pun tidak akan melakukannya.
Manakala hal ini terjadi di awal langkah menuju Jalan Allah swt, ia disebut “kehendak” dengan diserupakan pada keinginan yang mendahului semua persoalan. Seorang murid mendapat sebutan demikian karena ia mempunyai kehendak, sebagaimana halnya seorang ‘alim dsebut demikian karena ia mempunyai ilmu. Kedua kata ini (iradat dan ilmu) merupakan isim-isim musytaqat. Tetapi di lingkungan kaum Sufi, yang mengehendaki (murid) identik dengan orang yang tidakk berkehendak itu sendiri. Seseorang yang belum menaggalan kehendak dirinya bukanlah seorang murid. Tetapi dalam pengertian bahasa, orang yang tidak mempunyai kehendak bukanlah seorang murid.
Mayoritas orang telah berbicara tentang makna Iradat, masing-masing mengungkapkan sesuai dengan kecenderungan hatinya. Sebagian besar syeikh menjelasakan, ‘Iradat adalah berpisah dari praktik-praktik yang menjadi kebiasaan.” Kebiasaan orang banyak adalah menghuni kelalaian, cenderung pada ajakan hawa nafsu, terus menerus mengikuti angan-angan kosong. Akan tetapi, seorang murid terlepas dari semua itu. Keterlepasannya itu sendiri merupakan bukti keabsahan iradatnya. Leh karenanya, keadaan demikian itu disebut iradat, karena ia terlepas dari praktik-praktik kebiasaan.”
Hakikat iradat adalah kebangkitan kalbu dalam mencari Al-Haq. Karena itu dikatakan, bahwa iradat merupakan keterpesonaan yang menyakitkan, yang menbuat remeh setiap yang menakutkan.
Sebagian Syeikh menuturkan:
“Suatu ketika aku hanya seorang diri di padang pasir dan jiwaku merasa sangat tertekan, hingga aku berteriak, “Wahai manusia, berbicaralah kepadaku. “Apakah yang engkau kehendaki?” Aku menjawab : “Aku menhendaki Allah swt.” Suara itu bertanya : “Kapankah engkau menghendaki Allah swt.?”
Maksudnya, orang yang memanggil-manggil manusia dan jin dengan kta-kata : “Berbicaralah kepadaku!.” Bagaimana ia dapat disebut menghendaki Allah swt.? Padahal sebagai seorang murid tidak akan pernah gentar dalam kehendaknya baik siang maupun malam. Ia berjuang keras secara lahiriah, ementara dalam batinnya menderita. Ia meninggalkan tempat tidurnya, batinnya sibuk sepanjang waktu, menaggung kesulitan hidup, memikul beban, mengembangkan sifat-sifat akhlak yang baik, meraih kerinduan demi kerinduan, memeluk bencana, dan meninggalkan semua bentuk.
Seperti yang terkandung dalam sebuah syair:
Kulibas malam dengan gairahnya
Tiada harimau dan serigala-serigala
Yang menakutkan,
Rinduku tenggelam meluapi rahasia batinku
Dan betapa perindu selalu tergulung jiwanya.
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Kehendak (iradat) adalah keterpesonaan yang pedih dalam sanubari, sengatan dalam hati, hasrat yang membara dalam sukma, gemuruh dalam batin, dan kilauan-kilauan dalam jwa.”
Yusuf ibnu Husain menuturkan:
“Abu Sulaiman dan Ahmad bin Abu al-Hawary mengadakan perjanjian bahwa Ahmad tidak akan menentang perintah Abu Sulaiman dalam semua hal. Pada suatu hari ia menemui Abu Sulaiman ketika yang tersebut belakangan ini sedang berbicara di majelisnya. Ahmad melaporkan: “Tungku sudah menyala, apa perintahmu?” Abu Sulaimman diam, tidak menjawab Ahmad mengulangi perkataannya hingga tiga kali, akhirnya Abu Sulaiman berkata, dengan nada seakan-akan jengkel kepadanya: “Pergilah kamu dan duduk di atasnya saja!” Lalu sejenak ia lupa akan Ahmad.
Ketika ingat, Abu Sulaiman segera memerintahkan: “Lekas jemput Ahmad! Ia ada di atas tungku, sebab ia telah berjanji pada dirinya untuk tidak menentang perintahku.” Maka orang-orang pun pergi mencari Ahmad, dan mereka menemukannya di dalam tungku, tanpa sehelai rambut pun terbakar.”
Dikatakan:
“Di antara sifat-sifat murid adalah bahwa ia senang melakukan shalat sunnah, ikhlas dalam menasihati ummat, sukacita dalam khalwat, dan sabar dalam menanti aturan, memprioritaskan kepentingan Allah swt, memiliki rasa malu di hadapan-Nya, rajin mengerjakan apa yang disenangi-Nya, mengerjakan apa yang dapat membawa kepada-Nya, qana’ah dengan menyembunyikan diri dari orang lain, dan hatinya selalu mengalami kegelisahan sampai ia wushul kepada Tuhan-Nya.”
Abu Bakr Muhammad al-Warraq mengatakan:
“Ada tiga hal yang menyiksa hati seorang murid. Pernikahan, menulis hadis dan perjalanan.” Seseorang bertanya kepadanya: “Mengapa engkau berhenti menulis hadis?” Ia menjawab : “Kehendak mencegahku untuk melanjutkan pekerjaan itu.”
Hatim al-Asham mengajarkan:
“Jika engkau datang kepada seorang murid yang menginginkan sesuatu selain yang dikehendaki, yakinlah bahwa ia telah melanjutkan kerendahan dirinya.”
Al-Kattany berkata:
“Aturan hidup yang layak bagi seorang murid mencakup hal-hal sebagai berikut : tidur hanya jika sangat mengantuk, makan hanya ketika sangat lapar, dan berbicara hanya manakala terpaksa.”
Al-Junayd mengatakan:
“Manakala Allah menghendaki kebaikan bagi seorang murid, Dia akan membawanya ke lingkungan para Sufi dan menjauhkannya dari kaum ulama pembaca buku.”
Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Pangkal iradat, engkau melakukan isyarat menuju Aeorang murid tidak dapat disebut murid sampai malaikat di sisi kirinya tidak mencatat selama duapuluh tahun.”
Abu Utsman al-Hiry menegaskan:
“Jika murid mendengar suatu tentang ilmu kaum Sufi, dan mengamalkannya, ilmu itu menjadi hikmah dalam hati hingga akhir hayatnya. Jika berbicara tentang hikmah itu, orang yang mendengarnya memperoleh manfaat. Orang yang mendengar sesuatu tentang ilmu mereka, namun tidak berbuat sesuai dengannya, hanyalah sebuah hikayat yang kelak akan dilupakannya.”
Al-Wasithy berkomentar:
“Tahapan pertama seorang murid adalah kehendak Allah swt. yang menggugurkan kehendaknya sendiri.”
Yahya bin Mu’adz mengatakan:
“Hal terlusit bagi para murid adalah bergaul dengan orang-orang yang menentang mereka.”
Yusuf bin al-Husain mengatakan:
“Jika engkau melihat seorang murid terlibat dalam usaha mencari penghidupan serta pekerjaan-pekerjaan halal, tetapi tidak sesuai dengan ketaatan aturan hukum, yakinlah bahwa tidak sesuatu hasil yang akan muncul darinya.”
Seseorang bertanya kepada al-Junayd:
“Apakah baik bagi seorang murid untuk mendengarkan cerita-cerita?” Ia menjawab: “Cerita-cerita adalah salah satu tentara Allah, yang menguatkan kalbu para murid.” Kemudian ditanyakan lagi kepadanya : “Adakah dalil yang mendukung ucapanmu itu?”
Al-Junayd menegaskan:
“Ya, dalilnya adalah firman Allah SWT:
“Dan semua kisah Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.”
(Qs. Huud :120).
Al-Junayd mengatakan:
Seorang murid yang tulus tidak membutuhkan ilmu pengethuan para ulama.” Perbedaan antara yang berkehendak (murid) dan yang dikehendaki (murad), bahwa pada hakikatnya setiap murid sesungguhnya adalah juga murad. Jika ia bukan yang dikehendaki Allah swt. niscaya tidak akan menjadi murid, sebab tiada sesuatu pun dapat terjadi kecuali dengan kehendak Allah swt. Selanjutnya, setiap murad adalah juga murid, sebab jika Allah menghendaki secara khusus, Dia akan menganugerahinya keberhasilan dalam memiliki iradat (terhadap-Nya).”
Akan tetapi, kaum Sufi membedakan antara murid dan murad. Menurut mereka, murid adalah seorang pemula. Sedangkan murad berada pada pangkalnya. Murid dibimbing melakukan pekerrjaan-pekerjaan yang menguras tenaga dan diterjunkan ke dalam kancah kesulitan bagi seorang murad, satu perintah dari Allah swt. saja sudah mencukupi, tanpa menimbulkan kesulitan bagi dirinya. Murid dipaksa untuk bekerja keras, sedangkan murad dianugerahi kenyamanan dan ketenteraman.
Sunnatullah bagi para penempuh cita-cita beraneka ragam. Mayoritas mereka berselaras melalui mujahadah, dan setelah mengalami kesulitan yag berkepanjangan, akhirnya berhasil mencapai kebenaran hakiki yang agung. Tetapi sebagian besar dari mereka yang diperlihatkan keagungan kebenaran hakiki pada aalnya, belum dicapai oleh mereka yang mengerjakan banyak olah ruhani, tetapi sebagian besar dari mereka kembali lagi, dan mujahadah setelah mendapatkan anugerah bersama mereka riyadhah, agar selaras garis-garis ketentuannya.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menjelaskan:
“Murid menanggung, sedangkan murad ditanggung.” Ia juga berrkomentar: “Musa, as. Adalah seorang murid sebab beliau berrkata:
“Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku!.”
(Qs. Thaha :25)
Nabi kita Muhammad saw. adalah seorang Murad, sebab Allah swt. berfirman mengenai diri beliau:
“Tidakkah Kami telah melapangkan dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dariapdamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu?”
(Qs. Al-Insyirah : 1-4).
Nabi Musa as. Juga memohon:
“Ya Tuhanku, tampakkanlah (Diri Mu) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau!”
Allah swt. berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku.”
(Qs. Al-A’raf : 143)
Allah swt. berfirman kepada Nabi kita:
“Apakah kamu tidak melihat kepada Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang?”
(Qs. Al-Furqan :45)
Kata-kata: “Apakah kamu tidak melihat kepada Tuhanmu?” dan: “Bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang?” Dimaksudkan sebagai tabir bagi cerita yang sebenarnya dan sebagai sarana untuk memperkuat keadaannya.”
Ketika Al-Junayd ditanya tentang murid dan murad, ia menjawab:
“Murid dikendalikan oleh aturan-aturan dan ketetapan-ketetapan ilmu, sedangkan murad ddikendalikan oleh pemeliharaan dan perlindungan Allah swt. Murid berjalan; sedang murad terbang. Bilakah manusia pejalan mampu menyusul yang terbang.?”
Dzun Nuun mengirim seseorang kepada Abu Yazid dengan pesan: “Tanyakan kepada Abu Yazid.” Berapa lama tidur dan kesantaian ini, padahal kafilah telah berlalu?” Abu Yazid mengirimkan jawabannya : “Katakan kepada saudaraku Dzun Nuun. : “Seorang laki-laki adalah yang tidur sepanjang malam kemudian bangun diperhentian sebelum kafilah tiba.” Dzun Nuun berseru : “Hebat! Inilah ucapan yang belum sampai pada keadaan kita.”
Istiqamah
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka amengeluhkan penderitaan mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, ‘Hendaknya kamu sekalian tidak takut dan tidak gelisah, dan hendaknya kamu sekalian bergembira dengan surga yang telah dijanjikan untuk kamu sekalian.”
(Qs. Fushilat :30).Riwayat dari Tsauban, bekas budak Rasulullah saw. menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Berteguh hatilah (istiqamahlah) kamu, meskipun kamu tidak akan mampu melakukan sepenuhnya. Ketahuilah bahwa bagian terbaik dari agamamu adalah shalat, dan tiada seorang yang akan memelihara wudhu, kecuali orang yang beriman.”
(H.r. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata:
“Istiqamah adalah derajat yang menjadikan urusan-urusan seseorang menjadi baik dan sempurna, dan memungkinkannya untuk mencapai manfaat-manfaat secara tetap dan teratur. Upaya dan perjuangan orang yang tidak teguh hati akan sia-sia.”
Allah swt. berfirman:
“Dan janganlah kamu seperti seorang wanita yang menguarikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.”
(Qs. An-Nahl :92).
Orang yang tidak istiqamah dalam keberadaannya tidak akan pernah meningkat dari satu tahapan ke tahapan maqam berikutnya, dan suluknya tidak akan kokoh.
Salah satu persyartan istiqamah dalam hukum kepemulaan. Sebagaimana bagi ‘arifin, istiqamah merupakan pangkalnya. Tanda istiqamah dari mereka yang mulai menempuh suluk adalah bahwa amal-amal lahiriah mereka tidak tercemari oleh kesenjangan. Bagi mereka yang berada pada tahap pertengahan (ahlul wasaith) adalah bahwa tidak ada kata “berhenti”. Tanda istiqamah mereka yang berada pada tahap akhir adalah, bahwa tidak ada tabir yang melindungi mereka dan kelanjutan wushulnya.
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menjeaskan:
“Ada tiga derajat istiqamah. Menegakkan segala sesuatu (takwim), meluruskan segala sesuatu (iqamah) berlaku teguh (istiqamah). Taqwim menyangkut disiplin jiwa; iqamah berkaitan dengan penyempurnaan hati dan istiqamah berhubungan dengan tindak mendekat kepada Allah dengan jalan sirri.”
Abu Bakr ash-Shiddiq. Ra. Berkomentar:
“Makna firman-Nya …. kemudian mereka ber istiqamah.’ Adalah bahwa mereka tidak menyekutukan Allah swt. dengan sessuatu pun.”Umar bin Khaththab r.a. mengajarkan:
“Artinya : “mereka tidak menipu orang lain seperti rubah.”
Pendapat Abu Bakr merujuk pada pelaksanaan prinsip-prinsip tauhid, sedangkan pendapat Umar merujuk kepada sikap mencegah diri dari penafsiran-penafsiran yang dipaksakan, dan pelaksanaan syarat-syarat perjanjian.
Ibnu Atha’ mengatakan bahwa ayat di atas berarti:
“Mereka istiqamah dalam membatasi hati mereka kepada Tuhan.”
Abu Ali al-Juzajany berkata:
“Jadilah pemilik istiqamah, bukan pencari karamah. Sebab nafsumu masih berkutat mencari karamah, padahal Allah swt, menuntutmu istiqamah.
Abu Ali asy-Syabbuwy menuturkan:
“Aku bermimpi bertemu dengan Nabi saw. dan aku berkata kepada Beliau : “Dikabarkan bahwa Paduka bersabda:
“Surat Huud telah membuat rambutku menjadi putih.” Apakah (rambut Paduka menjadi putih karena) kisah-kisah para Nabi ataukah karena dimusnahkannya ummat-ummat (zaman dahulu?) Beliau menjawab: “Bukan, melainkan karena firman Allah swt.”
“Maka beristiqamahlah kamu sebagaimana kamu telah diperintah!.”
(Qs. Huud :112).
Dikatakan:
Hanya orang-orang besar saja yang dapat memelihara istiqamah, sebab hal ini meninggalkan perkara yang sebelumnya disepakati dan meninggalkan adat serta kebiasaan, menegakkan ketulusan secara esensial di sisi Allah swt. Karena itu, Nabi saw. bersabda : “Beristiqamahlah kamu, mekipun kamu sekalian tidak akan mampu melakukan sepenuhnya!.”
Al-Wasithy mengatakan:
Istiqamah adalah sifat akhlak sempurna, tanpa istiqamah akhlak akan menjadi buruk.”
Asy-Syibly mengatakan:
“Istiqamah berarti engkau menghadapi setiap waktu, sebagai wahana bangkitnya.”
Dikatakan:
“Istiqmah dalam berbicara berarti meninggalkan perbuatan menggunjing orang, dalam tindakan berarti menjauhi bid’ah, dalam amal saleh berarti meninggalkan kemalasan dan dalam keadaan (haal) batin ia berarti menyingkap hijan.”
Saya mendengar Syeikh Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan bin Furak menjelaskan:
“Huruf siin dalam lafadz ‘istiqamah’ adalah siin pencapaian. Artinya, mereka memohon istiqamah dalam bertauhid, kemudian dalam menepati janji, dan dalam menjaga batas-batas perilaku mereka sesuai dengan ketetapan Allah swt.”
Ketahuilah bahwa istiqamah melahirkan ketetapan akan karamah. Allah swt. berfirman:
“Jikalau mereka tetap berjalan lurus (istiqamah) di atas tharikat itu, niscaya Kami akan memberi mereka minum dengan air yang berlimpah.”
(Qs. Al-Jin :16).
Allah swt, tidak berfirman:
“Kami akan membairkan mereka minum.” Melainkan : “Kami akan memberi mereka minum dengan air yang berlimpah.” Yang menunjukkan keabadiannya.
Al-Junayd berkata:
“Aku berjumpa denegan salah seorang penempuh jalan Allah (salik) di padang pasir di bawah sebatang, dialah Ummu Ghailan. Kutanyakan kepadanya: “Mengapa Anda duduk di situ? Ia menjawab : “Ada peristiwa, aku kehilangan sesuatu, dan aku berlalu meninggalkannya. Ketika aku kembali dari ibadat haji, aku bersama pemuda, kutemukan barang tersebut telah berpindah ke sebuah tempat yang lebih dekat ke pohon itu.”
Aku bertanya : “Mengapa Anda duduk di sini?” Ia menjawab : “Aku telah menemukan apa yang telah kucari di tempat ini, jadi tetap saja aku duduk di sini.” Al-Junayd berkata : “Aku tidak tahu mana yang lebih mulia, kegigihannya karena kehilangan keadaan, atau keteguhan hatinya tinggal di tempat di mana ia telah mencapai kehendaknya.”
Ikhlas
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”
(Qs. Az-Zumar :3).
Anas bin Malik r.a menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang Muslim jika ia menetapi tiga perkara. Ikhlas beramal hanya bagi Allah swt. memberikan nasihat yang tulus kepada penguasa, dan tetap berkumpul dengan masyarakat Muslim.”
(Hr. Ahmad, dikategorikan shahih oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar).
Ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah set. Sebagai Satu-satunya sesembahan. Sikap taat diaksudkan adalah taqarrub kepada Allah swt. mengesampingkan yang lain dari makhluk, apakah itu sifat memperoleh pujian atau pun peghormatan dari manusia. Atatupun konotasi kehendak selain taqarrub kepada Allah swt. semata.
Dapat dikatakan:
“Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk.”
Dikatakan juga “Keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu-individu manusia.”
Nabi saw. ditanya, apakah ikhlas itu? Nabi saw. bersabda:
“Aku bertanya kepada Jibril as. Tentang ikhlas, apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata:
“Aku bertanya kepada Tuhan Yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah sebenarnya? Allah swt. menjawab “Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang kucintai.”
(Hr. Al-Qazwini, riwayat dari Hudzaifah).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata:
“Keikhlasan adalah menjaga diri dari campur tangan makhluk, dan sifat shidq berarti membersihkan diri dari kesadaran akan diri sendiri. Orang yang ikhlas tidaklah bersikap riya’ dan orang yang jujur tidaklah takjub pada diri sendiri.”
Dzun Nuun al-Mishry berkomentar: “Keikhlaan hanya tidak dapat dipandang sempurna, kecuali dengan cara menetapi dengan sebenar-benarnya dan bersabar untuknya. Sedangkan jujur hanya dapat dipenuhi dengan cara berikhlas secara terus menerus.”
Abu Ya’qub as-Susy mengatakan: “Apabila mereka melihat keikhlasan dan dalam keikhlasannya, maka keikhlasan mereka itu memerlukan keikhlasan lagi.”
Dzun Nuun al-Mishry menjelaskan:
“Ada tiga tanda keikhlasan. Manakala orang yang bersangkutan memandang pujian dan celaan manusia samasaja melupakan amal ketika beramal dan jika ia lupa akan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal baiknya.”
Mengenai ikhlas manusia pilihan (khawwash), keikhlasan datang kepada mereka bukan dengan perbuatan mereka sendiri. Amal kebaikan lahir dari mereka tetapi mereka amenyadari perbuatan baiknya bukan dari diri sendiri, tidak pula peduli terhadap amalnya. Itulah keikhlasan kaum pilihan.”
Abu Bakr ad-Daqqaq menegaskan:
“Cacat keikhlasan dari masing-masing orang yang ikhlas adalah penglihatannya akan keikhlasannya itu. Jika Allah swt. menghendaki untuk memurnikan keikhlasannya. Dia akan menggugurkan keikhlasannya dengan cara tidak memandang keikhlasannya sendiri dan jadilah ia sebagia orang yang diikhlaskan Allah swt. (mukhlash) bukannya berikhlas (mukhlish).”
Sahl berkata:
“Hanya orang yang ikhlas (mukhlish) sajalah yang mengetahui riya.”
Abu Sa’id al-Kharraz menegaskan:
“Riya kaum ‘arifin lebih baik daripada ikhlas para murid.”
Dzun Nuun berkata:
“Kekikhlasan adalah apa yag dilindungi dari kerusakan musuh.”
Abu Utsman mengatakan:
“Keikhlasan adalah melupakan padnangan makhluk melalui perhatian yang terus menerus kepada khlaik.”
Huszaifah al-Mar’asyi berkomentar:
“Keikhlasan berarti bahwa perbuatan-perbuatan si hamba adalah sama, baik lahir maupun batinnya.”
Dikatakan:
“Keikhlasan adalah sesuatu yang dengannya Allah swt. berkehendak dan dimaksudkan tulus dalam ucapan serta tindakan.”
Dikatakan pula:
“Keikhlasan berarti mengikat diri sendiri pada kesadaran akan perbuatan baik.”
As-Sary mengatakan:
“Orang yang menghiasi dirinya di hadapan manusia dengan sesuatu yang bukan miliknya, berarti tercampak dari penghargaan Allah swt.”
Al-Fudhail berkata:
“Menghentikan amal-amal baik karena manusia adalah riya’, dan melaksanakannya karena manusia adalah musyrik. Ikhlas berarti Allah menyembunyikan dari dua penyakit ini.”
Al-Junayd mengatakan:
“Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dengan si hamba. Bahkan malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenainya untuk dapat dituliskannya, setan tidak mengetahuinya hingga tidak dapat merusaknya, nafsu pun tidak menyadarinya sehingga ia tidak mampu mempengaruhinya.”
Ruwaym menjelaskan:
“Ikhlas dalam beramal kebaikan berarti bahwa orang yang melakukannya tidak menginginkan pahala baik di dunia maupun di akhirat.”
Dikatakan kepada Sahl bin Abdullah:
“Apakah hal terberat pada diri manusia? Ia menjawab : “Keikhlasan, sebab diri manusia tidak punya bagian di dalamnya.”
Ketika ditanya tentang ikhlas, salah seorang Sufi menjawab:
“Ikhlas berarti engkau tidak memanggil siapa pun selain Allah swt. untuk menjadi saksi atas perbuatanmu.”
Salah seorang Sufi menuturkan:
Aku menemui Sahl bin Abdullah pada hari Jum’at di rumahnya sebelum shalat. Ada seekor ular di rumahnya, hingga aku ragu-ragu berdiri di pintu. Ia berseru : Masuklah! Tidak seorang pun dapat mencapai hakikat iman jika ia masih takut pada sesuatu pun di atas bumi.” Kemudian ia bertanya. “Apakah engkau hendak mengikuti shalat Jum’at? Aku menjawab “Jarak dari sini ke masjid di depan kita adalah sejauh perjalanan sehari semalam.
Maka Sahl lalu menggandeng tanganku, dan sesaat kemudian kami telah berada di masjid itu. Kami masuk ke dalam dan shalat, kemudian keluar. Sahl berdiri di sana, melihat ke arah orang banyak, dan berkata : Banyak orang mengucapkan “Laa ilaaha Illallaah”. Tapi yang ikhlas amatlah sedikit.”
Makhul berkata:
“Tidak seorang pun hamba yang ikhlas seama empat puluh hari, kecuali akan mendapatkan sumber hikmah memancar dari hati pada lisannya.”
Yusuf bin al Husain berkomentar:
“Milikku yang paling berharga di atas dunia inni adalah keikhlasan. Betapa seringnya aku telah berjuang untuk membebaskan hatiku dari riya’ namun setiap kali aku berhasil, ia muncul dalam warna yang lain!.”
Abu Sulaiman berkata:
“Jika seorang hamba berikhlas, maka terpotonglah waswas dan riya”.
Kejujuran
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.”
(Qs. At-Taubah :19).
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasululah SWT bersabda:
“Jika seorang hamba tetap bertindak jujur dan berteguh hati untuk bertindak jujur, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebgaia orang yang jujur, dan jika ia tetap berbuat dusta dan berteguh hati untuk berbuat dusta, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.”
(Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Kejujuran (shidq) adalah tiang penopang segala persolana, dengannya kesempurnaan dalam menempuh jalan ini tercapai, dan melaluinya pula ada tata aturan. Kejujuran mengiringi derajat kenabian, sebagaimana difirmankan Allah swt:
“…. Maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu para Nabi dan orang-orang yang menetapi kejujuran (Shiddiqin) para syuhada’ dan orang-orang saleh.”
(Qs. An-Nisa’ :69).
Kata Shidq (orang yang jujur) berasal dari kata Shidq (kejujuran). Kata Shiddiq adalah bentuk penekanan (mubalaghah) dari shadiq, dan berarti orang yang didominasi oleh kejujuran. Demikian juga halnya dengan kata-kata lain yang bermakna penekanan, seperti sikkir dan pemabuk, yang penuh anggur (khimmir). Derajat terendah kejujuran adalah bila batin seseorang selaras dengan perbuatan lahirnya. Shadiq adalah orang yang benar dalam kata-katanya. Shiddiqy adalah orang yang benar-benar jujur dalam semua kata-kata, perbuata dan keadaan batinnya.
Ahmad bin Khadhrawaih mengajarkan:
“Barangsiapa ingin agar Allah bersamanya, hendaklah ia berpegang teguh pada kejujuran, sebab Allah swt. bersama-sama orang yang jujur.”
Al-Junayd berkata:
“Orang yang jujur berubah empat puluh kali dalam sehari, sedangkan orang riya’ tetap berada dalam satu keadaan selama empat puluh tahun.”
Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan:
“Jika orang yang jujur ingin menggambarkan apa yang ada dalam hatinya, maka lisannya tidak akan mengatakannya.”
Dikatakan:
“Bersikap jujur berarti menegaskan kebenaran, meskipun terancam kebinasaan.”
An-Naqqad mengatakan:
“Sikap jujur berarti mencegah kedua rahang (syidq) dari mengucapkan apa yang terlarang.”
Abdul Wahid bin Zaid berkomentar:
“Sikap benar adalah setia kepada Allah swt. dalam tindakan,”
Sahl bin Abdullah mengatakan:
“Seorang hamba yang menipu diri sendiri atau orang lain tidak akan mencium harum semerbaknya kebenaran.”
Abu Sa’id al-Qurasyi mengatakan:
“Orang yang jujur adalah orang yang siap mati dan tidak akan malu jika rahasianya diungkapkan. Allah swt. berfirman:
“Maka, inginkanlah kematian, jika kamu orang-orang yang jujur.”
(Qs. Al-Baqarah :94).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan:
“Suatu hari Abu Ali ats-Tsaqafy sedang memberikan pelajaran, tiba-tiba Abdullah bin Munazil berkata kepadanya: “Wahai Abu Ali, siapkanlah diri Anda untuk mati, sebab tidak ada jalan untuk lari darinya. “Abu Ali menjawab : “Dan Anda, wahai Abdullah, siapkanlah diri untuk mati, sebab tidak ada jalan lari darinya. ‘Maka disaat itulah Abdullah merebahkan diri, membentangkan kedua tangannya, menundukkan kepalanya dan mengatakan : “Aku mati sekarang.” Abu Ali pun diam terpaku karenanya, dimana dirinya tidak mampu menandingi apa yang dilakukan Abdullah, karena Abu Ali masih terpaut pada dunia, sedangkan Abdullah telah terbebas dari ikatan dunia.”
Ahmad bin Muhammad ad-Dainury sedang berbicara di hadapan sekumpulan orang ketika seorang wanita di antara mereka berteriak, Abu Abbas memarahinya dengan kata-kata:
“Matilah engkau!” Wanita itu bangkit, maju beberapa langkah, berpaling kepadanya dan berkata, “Aku telah mati.” Kemudian ia jatuh ke tanah dan mati.”
Al-Wasithy berkata:
“Kejujuran adalah keyakinan yang kokoh terhadap tauhid bersama-sama dengan niat.”
Dikatakan:
“Abdul Wahid bin Zaid memandang kepada seorang pemuda di antara para sahabtnya, yang bertubuh kurus kering, dan Abdul Wahid bertanya kepadanya: “Apakah engkau telah terlalu lama memperpanjang puasamu?” Pemuda itu menjawab: “Aku juga bukan memperpanjang berbuka.
Kemudian Abdul Wahid bertanya:
Apakah engkau telah memperpanjang waktu bangun untuk shalat malammu?” Pemuda itu menjawab: Bukan, bukan pula aku telah memperpanjang tidur.” Lalu Abdul Wahid pun bertanya: Apakah yang telah membuatmu begitu kurus?” Pemuda itu menjawab: “Hasrat yang selalu berkobar dan rahasia terpendam yang abadi.” Abdul Wahid berseru, Dengarlah! Betapa beraninya pemuda ini!. Pemuda itu lalu berdiri, maju dua langkah dan berteriak: “Ya Allah, jika aku memang tulus, ambillah nyawaku sekarang juga!” lalu ia pun jatuh dan meninggalkan dunia ini.”
Abu Amr az-Zajjajy menuturkan:
Ibuku meninggal, dan aku mewarisi sebuah rumah beliau. Aku menjualnya dengan harga limapuluh dinar dan kemudain berangkat menunaikan ibadah haji. Setiba di Babilonia, seorang penggali saluran air bertanya kepadaku: “Apa yang engkau bawa ?” Aku berkata dalam hati: “Kejujuran adalah yang terbaik.” Dan aku menjawab: “Uang lima puluh dinar.” Ia berkata: “Serahkanlah kepadaku!” Maka akupun memberikan kantong uangku kepadanya. Dihitungnya jumlah semua uang di dalamnya, dan ternyata memang ada limapuluh dinar. Berkatalah ia: “Ambillah kembali uangmu!” Kejujuranmu menyentuh hatiku.” Lalu ia turun dari kudanya dan berkata: “Niaklah kudaku” Aku balik berkata: Aku tidak menginginkannya.” Ia berkata: “Harus…!” dan terus memaksaku menaiki kudanya. Ahirnya setelah aku bersedia naik di atasnya, ia berkata: Aku di belakangmu.” Satu tahun kemudian ia berhasil menyusulku, dan tinggal bersamaku hingga akhir hayatnya.”
Ibrahim al-Khawwas menjelaskan:
“Orang jujur tidak memandang kecuali kewajiban yang harus ditunaikan, atau ibadat utama bagi Allah swt.”
Al-Junayd berkata:
“Inti kejujuran adalah bahwa engkau berkata jujur di wilayah yang, apabila seseorang berkata jujur tidak akan selamat kecuali berdusta.”
Dikatakan:
“Tiga hal tidak penah lepas dari seorang jujur ucapannya, kehadiran yang kharismatis dan pancaran taat di wajahnya.”
Dikatakan pula “Allah swt. bersabda kepada Daud as.:
“Wahai Daud, barangsiapa menereima apa yang kukaakan dengan sejujurnya dalam hatinya niscaya Aku akan mengukuhkan sifat jujur di kalangan makhluk manuisa dalam lahiriahnya.”
Dikatakan Ibrahim bin Dawhah memasuki padang pasi bersma Ibrahim bin Sitanbah. Kata Ibnu Dawhah:
“Ibnu Sitanbah mengatakan kepadaku : “Campakkanlah segala apa yang mengikatmu!.” Aku melemparkan segala sesuatu yang ada padaku, kecuali uang satu dinar. Lalu ia berkata : “Wahai Ibrahim, janganlah engkau membebani pikiranku!. Campakkanlah keerikatanmu! Maka dinar itu pun lalu kulemparkan. Tapi lagi-lagi ia mengatakan. Wahai Ibrahim, campakkanlah keterikatanmu!” Lalu aku ingat bahwaaku masih memiliki beberapa tali sandal cadangan, yang lalu kulemparkan juga. Selanjutnya, dalam perjalananku, setiap kali aku memerlukan tali sandal, maka muncullah seutas tali sandal di hadapanku. Ibrahim bin Sitanbah mengatakan : “Inilah orang yang beramal dengan Allah swt. secara jujur.”
Dzun Nuun al-Mishry berkata:
“Kejujuran adalah pedang Allah, tidak satu pun di letakkan padanya, kecuali akan terpotong.
Sahl bin Abdullah mengataka:
“Awal penghianatan orang-orang jujur adalah menculnya keraguan dengan dirinya.”
Ketika ditanya tentang kejujuran, Fath al-Maushaly memasukkan tangannya ke dalam bara api seorang tukang besi. Mengambil sebatang besi yang merah membara, meletakkannya di telpak tangannya dan berkata: “Inilah kejujuran!”
Yusuf bin Asbat berkata:
“Aku lebih suka menghabiskan waktu semalam bersama Allah swt. dalam kejujuran jiwa daripada berperang dengan pedangku di Jalan-Nya.”
Abu Ali ad-Daqqaq menegaskan:
“Kejujuran adalah seperti engkau menganggap dirimu sebagaimana adanya, atau engkau dilihat seperti apa adanya dirimu.”
Ketika al-Harits al-Muhasiby ditanya tentang tanda-tanda kejujuran, ia menjawab:
“Orang yang jujur adalah orang yang manakala tidak peduli akan ketergantungan kalbu manusia kepada dirinya, tidak pula senang atas ketergantungan kalbu manusia kepada dirinya, tidak pula senang atas jasanya kepada manusia untuk dilihat, dan juga tidak peduli apakah popularitasnya di antara manusia akan lenyap. Ia bahkan tidak membenci bila perbuatan buruknya dilihat oleh orang banyak, Jika ia benci, ia perlu menambah imannya. Dan yang demikian itu bukanlah ciri akhlak orang-orang jujur.”
Salah seoran Sufi berkomentar:
“Jika seseorang tidak memenuhi satu kewajiban agama yang abadi, maka pelaksanaan keajiban-kewajiban agamanya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkeseorang bertanya: “Apakah kewajiban agama yang abadi itu?” Ia menjwab: “Kejujuran.”
Dikatakan:
“Jika engkau mencari Allah swt. dalam kejujuran, niscaya Dia akan memberimu cermin yag di dalamnya engkau akan melihat semua keajabiban dunia dan akhirat.”
Dikatakan:
“Engkau harus berlaku jujur ketika merasa takut bahwa hal itu akan mencelakakanmu, padahal itu akan bermanfaat bagimu. Janganlah menipu ketika engkau mengira hal itu akan menguntungkanmu, padahal pasti ia akan merugikanmu.”
Dikatakan juga:
“Tiap-tiap sesuatu punya arti, tapi persahabatan seorang pendusta tidak berarti apa-apa.”
Dikatakan:
“Tanda seorang pendusta adalah kegairahannya untuk bersumpah sebelum hal itu dituntut darinya.”
Ibnu Sirin mengatakan:
“Lingkup pembicaraan itu demikian luas hingga (sebetulnya) orang tidak perlu berdusta.”
Dikatakan:
“Seorang pedagang yang jujur tidak pernah melarat.”
Malu
Allah SWT berfirman:
“Tidakkah ia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”
(Qs. Al-‘Alaq :14).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Malu adalah sebagian dari iman.”
(H.r. Tirmidzi).
Juga sabda beliau suatu hari kepada para sahabtnya:
“Malulah kamu sekalian di hadapan Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.” Mereka berkata: “Tapi kami sudah merasa malu, wahai Nabi Allah, dan segala puji bagi-Nya!.” Beliau bersabda:
“Itu bukanlah malu yang sebenarnya. Orang yang ingin malu dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah swt. hendaklah menjaga pikiran dan bisikan hatinya, hendaklah ia menjaga perutnya dan apa yang dimakannya, hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur. Orang yang menghendaki Akhirat hendaklah meninggalkan perhiasan-perhiasan kehidupan duniawi. Orang yang melakukan semua ini. Berarti ia memiliki rasa malu yang sebenarnya di hadapan Allah.
” (H.r. Tirmidzi dan Hakim dan dishahihkan oleh Al-Hakim).
Sebagian hukama’ mengajarkan:
“Jagalah agar malu tetap hidup dalam hatimu dengan cara berteman dengan orang yang dipermalukan orang lain.”
Ibnu Atha’ menegaskan:
“Bagian terbesar dari ilmu adalah rasa gentar dan malu. Jika yang dua ini lenyap, tiada lagi kebaikan.”
Dzun Nuun al-Mishry berkata:
“Malu berarti bahwa engkau merasakan kegentaran dalam hatimu, sangat takut akan masa lalu yang telah engkau lakukan di hadapan Allah swt.” Ia juga mengatakan: “Cinta membuat orang berbicara, malu membuat orang terdiam, dan takut membuat orang gelisah.”
Abu Utsman mengatakan:
“Orang yang berbicara tentang malu, namun tidak merasa malu di hadapan Allah swt, berarti telah terkena istidraj.”
Abu Bakr bin Asykib menuturkan bahwa al-Hasan bin al-Haddad datang kepada Abdullah bin Munazil, yang menanyakan kepadanya, “Anda datang dari mana?” Ia menjawab: “ Dari majelis Abul Qasim sang pengingat.” Abdullah bertanya kepadanya : “Apa topik pembicaraannya?” Dijawabnya : “Tentang malu.” Abdullah berkomentar : “Menkajubkan sekali, bahwa orang yang belum pernah merasa malu di hadapan Allah dapat berbicara tentang malu?”
As-Sary berkata:
“Malu dan sukacita ruhani masuk ke dalam hati seseorang. Jika keduanya menemukan wara’ dan zuhud, maka mereka akan menetap. Jika tidak, mereka akan meneruskan perjalanan.”
Al-Jurairy mengabarkan:
“Pada generasi pertama Kaum Muslimin, orang mengamalkan agama sampai agama menjadi lemah. Pada generasi kedua, merekea menekankan kesetiaan, sampai kesetiaan lenyap. Pada generasi ketiga, mereka menekankan keksatriaan (muru’ah) sampai ia lenyap. Pada generasi keempat, mereka menekankan rasa malu sampai malu itu lenyap. Sekarang orang beramal karena hasrat dan takut.”
Dikatakan tentang firman Allah swt.:
“Dia (istri al-Aziz) telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata ia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.”
(Qs. Yusuf :24)
Pengertian:
“Tanda” di sini adalah, bahwa di saat wanita itu menutupkan selembar kain ke wajah patung yag ada di sudut ruangan. Ketika Yusuf bertanya: “Apa yang engkau lakukan?” Ia menjawab: “ “Aku merasa malu di hadapannya.” Yusuf berkata : “Aku lebih punya alasan lagi untuk malu di hadapan Allah swt.”
Dikatakan mengenai firman Allah swt:
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu.”
(Qs. Al-Qashash :24)
Bahwa ia malu Kepada Musa karena menawarkan jamuan malu seandainya Musa tidak menjawab salamnya. Malu sebagai sifat tuan rumah, adalah jenis malu yang muncul dari penghormatan kepada tamu.
Abu Sulaiman ad-Darany berkata: “Allah swt. berfirman: “Wahai hamba-Ku, selama engkau malu di hadapan-Ku, Aku akan membuat manusia lupa akan kekuranganmu, Aku akan membuat muka bumi lupa akan dosa-dosamu. Aku akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan buku catatan induk, dan Aku tidak akan meneliti amalanmu pada Hari Kebangkitan.”
Seseorang bertanya kepada seorang laki-laki yang terlihat shalat di luar masjid. “Mengapa engkau tidak masuk dan shalat di dalam?” Laki-laki itu menjawab:
“Saya malu memasuki rumah Allah karena telah bermaksiat kepada-Nya.”
Salah satu tanda bahwa seseorang memiliki rasa malu adalah, bahwa ia tidak pernah terlihat dalam situasi yang membuatnya malu.
Sebagian Sufi menuturkan:
“Suatu malam kami keluar dan melwetti rimba. Tiba-tiba mendapati seseorang tidur di tempat itu, sedang kudanya merumput dekat kepalanya. Kami membangunkan orang itu dan bertanya kepadanya. “Tidakkah engkau takut tidur di tempat yang mengerikan dan penuh binatang busa ini?” Ia mengangkat kepalanya dan menjawab : “Di hadapan-Nya, aku malu menakuti apa pun selain Dia.” Kemudian diletakkan kembali kepalanya dan meneruskan tidurnya.”
Allah swt. mewahyukan kepada Isa as:
“Nasihatilah dirimu. Jika engkau menghirauikan ansihat itu, maka nasihatilah manusia. Jika tidak, maka malulah kepda-Ku untuk menasihati manusia.”
Dikatakan bahwa ada beberapa macam malu. Yang pertama adalah malu dikarenakanpelanggaran, seperti malu Nabi Adam as. Ketika ditanya: “Apakah engkau berniat lari dari Kami?” Beliau menjawab: “Tidak, karena malu di hadapan-Mu.” Yang kedua adalah malu karena terbatas, seperti malu para malaikat yang mengatakan: “Maha Suci Engkau! Kami telah menyembah-Mu tidak sebagaimana layaknya Engkau disebah.” Yang ketiga adalah malu karena mengagungkan, seperti malu Israfil as. Yang menutupkan sayapnya ke tubuhnya karena malu kepada Allah, Yang keempat adalah malu karena kemuliaan hati, seperti malu rasulullah saw. ketika malu untuk mempersilahkan pergi tamu-tamu beliau, dan Allah swt. lalu berfirman :
“…. dan jika kamu selesai makan, keluarlah kamu semua tanpa asyik memperpanjang percakapan.”
(Qs. Al-Ahzab :53).
Yang kelima adalh malu karena enggan, seperti malu Ali bin Abu Thalib ra. Ketika menyruh Miqdad bin al-Aswad untuk menanyakan kepada Nabi saw. tentang hukumnya madzy (lendir yang mengalir dari alat kelamin laki-laki, keluar air mani) karena mengenai Fatimah r.a. Yang keenam adalah malu karena terlalu remeh untuk diungkapkan, seperti malu Musa as. Ketika munajat : “Aku mengajukan suatu kebutuhan dari dunia ini, dan aku malu meminta kepada-Mu, wahai Tuhanku.” Dan Allah lalu menjawab kepadany : “Minalah kepada-Ku, bahkan untuk adonan roti dan jerami untuk domba-dombamu.” Akhirnya, ada malu karena sifat pemberi kenikmatan, yang merupakan malu Allah swt. Dia memberikan buku yang distempel kepada seorang hamba setelah melewati Jembatan di akhirat. Di dalam buku itu tba-tiba tertulis : “Engkau telah melakukan (dosa) ini dan itu. Aku malu menunjukkannya kepadamu, karena itu pergilah; Aku telah mengampunimu.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq saya dengar berkata:
“Yahya bin Muadz berkata, Maha Suci Dzat Yang didustai hamba, sedang Dia mereasa mau, padahal dosa itu datang dari sang hamba.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan:
“Ada lima tanda celaka seorang manusia. Kerasnya hati, bengisnya mata, tiadanya rasa malu, hasrat terhadap dunia, dan lamunan yang tiada terbatas.”
Dalam salah satu kitab, Allah swt. berfirman:
“Hamba-Ku telah mempermalukan Aku dengan tidak adil. Ia berdoa kepada-Ku dan Aku merasa malu jika tidak mengabulkan doanya, tapi ia bermaksiatkepada-Ku tanpa merasa malu kepada-Ku.”
Yahya bin Muadz mengatakan:
“Bagi manusia yang malu di hadapan Allah swt. ketika ia taat, mka Allah akan malu ketika ia melakukan dosa.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata:
“Ketahuilah, bahwa malu menebabkan pencairan, sebab dikatakan bahwa rasa malu adalah mencairnya organ-organ tubuh manusia sebelah dalam ketika ia menyadari tatapan Tuhan kepadanya.
Dikatakan:
“Malu adalah mengkerutnya hati manusia untuk mengagungkan kebesaran Tuhan.”
Dikatakan juga: “Manakala seseorang duduk di hadapan sekumpulan manusia, memperingatkan dan menasihati mereka, maka kedua malaikatnya berseru kepadanya: “Peringatkanlah dirimu sebagaimana engkau memperingatkan saudaramu. Jika tidak, maka malulah engkau di hadapan Tuhanmu, sebab Dia melihatmu.”
Al-Junayd ditanya tentang malu, ia menjawab:
“Penglihatan pada rahmat Allah swt. terus tercurah dan penglihatan terhadap keterbatasan diri. Di antara keduanya kemudian melahirkan apa yang disebut “malu”.
Muhammad al-Wasithy berkomentar:
“Orang tidak akan pernah merasakan sengatan malu, yang memakai robekan batas-batas yang ditetapkan Allah atau merusak janji.”
Dikatakannya pula:
“Keringat mengalir keluar dari orang yang merasa malu. Ia adalah anugerah yang ditempatkan di dalam dirinya. Selama nafsu rendah masih ada dalam dirinya, maka ia akan dijauhkan dari malu.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Malu berarti meninggalkan semua tendensi di hadapan Allah swt.
Abu Bakr al- Wasithy bertutur:
“Ketika aku shalat dua rakaat kepada Allah swt. Tiba-tiba kau membatalkannya karena merasa malu seperti seorang pencuri (yang tertangkap basah).”
Kebebasan
Firman Allah swt.:
“…..dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mreka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).”
Qs. Al-Hasyr :9).
Syeikh berkata: “Mereka (kaum Anshar) memberikan dengan penuh kemurahan hati kepada kaum Muhajirin, sebab mereka (kaum Anshar) bebas dari keterikatan pada (harta benda) yang diterima oleh kaum Muhajirin itu, dan dengan demikian mereka mampu memberi dengan penuh kemurahan hati.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. R.a bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Apa pun yang mencukupi kebutuhan seseorang , adalah apa yang cukup untuk dirinya. Semua hanya akan berakhir pada empat hasta dan sejengkal tanah kuburan, dan segala sesuatu akan kembali pada tempat kembalinya.”
Syeikh berkata: “Kebebasan berarti bahwa si hamba bebas dari belenggu sesama makhluk kekuasaan makhluk tidak berlaku atas dirinya. Tanda absahnya kebebasan adalah, bahwa tersingkirnya pembedaan tentang segala hal dalam hatinya, sehingga semua gejala duniawi sama di hadapannya.”
Haritsah r.a. mengatakan kepada Rasulullah saw.: “Saya telah menjauhi dunia. Batu dan emas yang ada di bumi tidak da bedanya bagi saya.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan: “Orang yang datang ke dunia ini dalam keadaan bebas darinya, akan berangkat ke akhirat dalam keadaan bebas pula.” Dalam sebuah ucapannya pula: “Orang yang hidup di dunia dalam keadaan bebas dari dunia, akan bebas pula dari akhirat.”
Syeikh berkata: “Ketahuilah bahwa hakikat kebebasan diperoleh dari kesempurnaan ubudiyah, sebab jika ubudiyahnya benar, maka kebebasannya dari belenggu akan sempurna. Mengenai mereka yang menghayalkan bahwa ada waktu dimana seseorang boleh melepaskan ibadat dan berpaling dari hukum yang tersirat dalam perintah dan larangan Allah swt. sementara dirinya dalam keadaan mukallaf, maka tindakan itu keluar dari agama.”
Allah swt. berfirman kepada Rasulullah saw.:
“Beribadahlah kepada Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan.”
(Qs. Al-Hijr :99).
Para ahli tafsir sepakat bahwa “keyakinan” di sini berarti “saat kematian.”
Manakala para sufi berbicara tentang kebebasan, yang mereka maksud adalah, bahwa si hamba tidak berada di bawah perbudakan oleh sesama makhluk ataupun diperbudak oleh perubahan keadaan kehidupan duniawi ataupun ukhrowi ia akan menunggalkan diri kepada Allah Yang Esa. Tidak sesuatu pun yang memperbudaknya, baik perkara duniawi yang bersifat sementara, pencarian kepuasan bawa nafsu, keinginan, permintaan, niat, kebutuhan ataupun ambisi.
Asy-Syibly pernah ditanya: “ tidak tahukan Anda bahwa Allah Maha Penyayang?” Beliau menjawab: “Tentu. Tapi, karena aku telah tahu bahwa Dia Maha Penyayang, maka aku tidak pernah meminta kepada-Nya agar menyayangiku. Dan maqam kebebasan sungguhlah mulia.”
Abul Abbas as-Sayyary pernah bika shalat sah selain membaca Al-Qur’an, tentu sah pula membaca bait syair ini:
Setiap zaman aku menginginkan yang mustahil.
Agar kelopak mataku bisa melihat wajah kebebasan.
Para Syeikh telah berbicara banyak tentang kebebasan. Al-Husain bin Manshur mengatakan: “Barangsiapa menghendaki kebebasan, hendaklah meraih ubudiyah.”
Ketika al-Junayd disodori kasus seseorang yang kekayaan duniawinya hanya sebesar embun yang menempel di burtir kurma, ia berkata: “Hamba yang masih terikat kontrak akan tetap menjadi hamba selama ia masih memiliki satu dirham sekalipun.” Ia juga mengatakan: “Engkau tidak akan dapat mencapai kebebasan sejati selama masih ada sisa dunia dalam hakikat ubudiyah.”
Bisyr al-Hafi berkta: “Barangsiapa menginginkan rasa kebebasan dan ringan dalam ubudiyah, maka bersihkanlah batinnya, antara ia dan Allah swt.”
Al-Husain bin Mnashur berkomentar: “Ketika orang mencapai maqam ubudiyah, segalanya tampak bebas dari belenggu ubudiyah, Lalu ia melakukannya tanpa beban, Itulah maqam para Nabi dan kaum shiddiqin. Maksudnya, ia sendiri dipikul oleh maqam tersebut; tanpa kesusahan, walaupun tetap konsisten dengan syariat.”
Manshur al-Faqih membacakan syair berikut:
Tak ada seorangpun manusia atau jin yang bebas
Kebebasan baginya berlalu
Kemanisan hidup adalah kegetiran
Ketahuilah bahwa jenis kebebasan paling besar justru ketika melayani orang-orang miskin.
Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, bahwa Allah telah mengajarkan kepada Daud as.: “Jika egkau menjumpai seorang manusia yang mencari-Ku, maka jadilah dirimu sebagai pelayan.”
Nabi saw. bersabda:
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”
(H.r. Abu Abdurrahman as-Sulami).
Yahya bin Muadz mengatakan: “Generasi duniawi dilayani budak-budak laki-laki dan wanita, generasi akhirat dilayani mereka yang merdeka dan saleh.”
Ibrahim bin Adham berkata: “Orang bebas yang mulai telah keluar dari dunia lebih sbeleum ia dikeluarkan dari dunia (wafat).”
Dikatakannya pula: “Janganlah bersahabt, kecuali dengan orang mulia yang bebas, ia hanya mendengar namun tidak banyak bicara.”
Dzikir
Allah swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.”
(Qs. Al-Ahzab :41).
Diriwayatkan bawah Rasulullah saw. Bersabda:
“Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalan terbaik dan paling besih dalam pandangan Allah swt. serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka, dan mereka juga memotong lehermu?” Para sahabat bertanya: “Apakah itu,
(H.r. Baihaqi).
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Hari kiamat tidak akan datang kepada seseorang yang mengucapkan: “Allah, Allah.”
(Hr. Muslim).
Anas ra. Juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Kiamat tidak akan datang sampai lafazh, Allah, Allah,’ tidak lagi disebut-sebut di muka bumi.”
(H.r. Tirmidzi).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata: Dzikir adalah tiang penopang yang sangat kuat atas jalan menuju Allah swt. Sungguh, ia adalah landasan bagi tharikat itu sendiri. Tidak seorang pun dapat mencapai Allah swt. kecuali dengan terus menerus dzikir kepada-Nya.”
Ada dua macam Dzikir: Dzikir lisan dan dzikir hati. Si hamba mencapai taraf dzikir hati dengan melakukan dzikir lisan. Tetapi dzikir hati lah yang membuahkan pengaruh sejati. Manakala seseorang melakukan dzikir dengan lisan dan hatinya sekaligus, maka ia mencapai kesempurnaan dalam suluknya.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar: “Dzikir adalah tebran kewalian. Seseorang yang dianugerahi keberhasilan dalam dzikir berati telah dianugerahi taburan itu, dan orang yang tidak dianugerahinya berarti telah dipecat.
Dikatakan bahwa pada awal perjalanannya, Dulaf asy-Syibly biasa berjalan di jalan raya setiap hari dengan membawa seikat cambuk di punggungnya. Setiap kali kelaian memasuki hatinya, ia akan melecut badannya sendiri dengan cambuk sampai cabuk itu patah. Kadang-kadang bekal cambuk itu habis sebelum malam tiba. Jika demikian ia akan memukulkan tangan dan kakinya ke tembok manakala kelalaian mendatanginya.”
Dikatakan: “Dzikir hati adalah pedang para pencari yang dengannya mereka membantai musuh dan menjaga diri dari setiap ancaman yang tertuju pada mereka. Jika si hamba berlindung kepada Allah swt. dalam hatinya, maka manakala kegelisahan membayangi hati untuk dzikir kepada Allah swt, semua yang dibencinya akan lenyap darinya seketika itu juga.”
Ketika al-Wasithy ditanya tentag dzikir, menjelaskan : “Dzikir berarti meninggalkan bidang kealpaan dan memasuki bidang musyahadah mengalahkan rasa takut dan disertai kecintaan yang luar biasa.”
Dzun Nuun al-Mishry menegaskan: “Seorang yang benar-benar dzikir kepada Allah akan lupa segala sesuatu selain dzikirnya. Allah akan melindunginya dari segala sesuatu, dan ia diberi ganti dari segala sesuatu.”
Abu Utsman ditanya: “Kami melakukan dzikir lisan kepada Allah saw. tetapi kami tidak merasakan kemanisan dalam hati kami?” Abu Utsman measihatkan : “Memujilah kepada Allah swt, karena telah menghiasi anggota badanmu dengan ketaatan.”
Sebuah hadits yang mashur menuturkan, bahwa Rasulullah saw. mengajarkan:
“Apabila engkau melihat surga, maka merumputlah kamu semua di dalamnya.” Ditanyakan kepada Beliau : “Apakah taman suraga itu, wahai Rasulullah?” Beliau mennjawab: “Yaitu kumpulan orang-orang yang melkukan dzikir kepada Allah”
(H.r. Tirmidzi).
Jabir bin Abdullah menceritakan : “Rasulullah saw. mendatangi kami dan beliau bersabda:
“Wahai umat manusia, merumputlah di taman surga!.” Kami bertanya : “Apakah taman surga itu?” Beliau menjawab : “Majelis orang melakukan dzikir.”
Beliau bersabda: “Berjalanlah di pagi dan petang hari, dengan berdzikir. Siapa pun yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah swt. melihat pada derajat mana kedudukan Allah swt. pada dirinya. Derajat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya sepadan dengan derajat dimana hamba mendudukan-Nya dalam dirinya.”
Asy-Syibly berkata: “Bukanlah Allah swt. telah berfirman: “Aku bersama yang duduk berdzikir kepada-Ku?” Manfaat apa, wahai manusia dari orang yang duduk dalam majelis Allah swt?”
Lalu ia bersyair berikut:
Aku mengingta-Mu bukan karena aku lupa pada-Mu sesaat
Sedang bagian yang paling ringan adalah dzikir lisanku.
Tanpa gairah rindu aku mati karena cinta,
Hatiku bangkit dalam diriku, bergetar
Ketika wujud memperlihatkan Engkau adalah hadirku,
Kusaksikan Diri-Mu di mana saja,
Lalu aku bicara kepada yang ada, tanpa ucapan,
Dan aku memandang yang kulihat, tanpa mata.
Di antara karakter dzikir adalah, bahwa dzikir tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu, kecuali si hamba diperintahkan untuk ber dzikir kepada Allah di setiap waktu, entah sebagai kewajiban ataupun sunnah saja. Akan tetapi, shalat sehari-hari, meskipun merupakan amal ibadah termulia, dilarang pada waktu-waktu tertentu.
Dzikir dalam hati bersifat terus menerus, dalam kondisi apa pun, Allah swt. berfirman:
“Yaitu orang-orang yang dzikir kepada Allah, baik sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring (tidur).”
(Qs. Ali Imran :191).
Imam Abu Bakr bin Furak mengatakan: “Berdiri berarti menegakkan dzikir yang sejati, dan duduk berarti menahan diri dari seikap berpura-pura dalam dzikir.”
Syeikh Abu Abdurrahman bertanya kepada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq: “Manakah yang lebih baik, dzikir atau tafakur?” Bagaimana yang lebih berkenan bagimu?” Beliau berkata: “Dalam pandanganku dzikir adalah lebih baik dari tafakur, sebab Allah swt. menyifati Diri-Nya sebagai Dzikir dan bukannya fikir. Apap pun yang menjadi sifat Allah adalah lebih baik dari sesuatu yang khusus bagi manusia.” Maka Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq setuju dengan pendapat yang bagus ini.
Muhammad al-Kattany berkata: “Seandainya bukan kewajibanku untuk berdzikir kepada-Nya, tentu aku tidak berdzikir karena mengagungkan-Nya. Orang sepertiku berdzikir kepada Allah swt? Tanpa membersihkan mulutnya dengan seribu tobat karena berdzikir kepada-Nya.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan syair:
Tak pernah aku berdzikir kepada-Mu
Melainkan hatiku, batinku serta ruhku mencela diriku.
Sehingga seolah-olah si Raqib dari-Mu berbisik padaku,
“Waspadalah, celakalah engkau. Waspadalah terhadap dzikir!.”
Salah satu sifat khas dzikir adalah, bahwa Dia memberi imbalan dzikir yang lain. Dalam firman-Nya:
“Dzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan dzikir kepadamu.” (Qs. Al-Baqarah :152). Sebuha hadis menyebutkan bahwa Jibril as. Mengatakan kepada Rasulullah saw. bahwasanya Allah swt. telah berfirman: “Aku telah memberikan kepada ummatmu sesuatu yang tidak pernah Kuberikan kepada ummat yang lain.” Nabi saw. bertanya kepada Jibril: “Apakah pemberian itu?” Jibril menjawab: “Pemberian itu adalah firman-Nya, “Berdzikirlah kepadaKu, niscaya Aku akan berdzikir kepadamu.” Dan belum pernah memfirmankan itu kepada ummat lain yang mana pun.”
Dikatakan: “Malaikat maut minta izin dengan orang yang berzikir sebelum mencabut nyawanya.”
Tertulis dalam sebuah kitab bahwa Musa as. Bertanya: “Wahai Tuhanku, di mana engkau tinggal?”
Allah swt. berfirman:
“Dalam hati manusia yang beriman.”
Firman ini merujuk pada dzikir kepada Allah, yang bermukim di dalam hati, sebab Allah Maha Suci dari setiap bentuk “tinggal” dan penempatan. “Tinggal” yang disebutkan di isni hanyalah dzikir yang tetap dan sekaligus menjadikan dzikir itu sendiri kuat.
Ketika Dzun Nuun ditanya tentang dzikir, ia menjelaskan : Dzikir berarti tiadanya ingatan pelaku dzikir terhadap dzikirnya.” Lalu ia mebacakan syair:
Aku banyak berdzikir kepada-Mu bukan karena
Aku telah melupakan-Mu
Itu hanyalah apa yag mengalir dari lisanku.
Sahl bin Abdullah mengatakan: Tiada sehari pun berlalu, kecuali Allah swt. berseru: “Wahai hamba-Ku, engkau telah berlaku zalim kepada-Ku. Aku mengingatmu, tapi engkau melupakan-Ku. Aku menghilangkan penderitaanmu, tapi engkau terus melakukan dosa. Wahai anak Adam, apa yang akan engkau katakan besok jika engkau bertemu dengan-Ku?”
Abu Sulaiman ad-Darany berkata: “Di surga ada lembah-lembah di mana para malaikat menanam pepohonan, ketika seseorang mulai berdzikir kepada Allah. Terakdang salah seorang malaikat itu berhenti bekerja dan teman-temannya bertanya kepadanya: “Mengapa engkau berhenti?” Ia menjawab: “Sahabatku telah kendur dzikirnya.”
Dikatakan: “Carilah kemanisan dalam tiga hal: shalat, dzikir dan membaca Al-Qur’an. Kemanisan hanya dapat ditemukan di sana , atau jika tidak sama sekali, maka ketahuilah bahwa pintu telah tertutup.”
Ahmad al-Aswad menuturkan: “Ketika aku sedang melakukan perjalanan bersama Ibrahim al-Khawwas, kami tiba di suatu tempat yang dihuni banyak ular. Ibrahim al-Khawwas meletakkan kualinya dan duduk begitu pun denganku. Ketika malam tiba dan udara menjadi dingin, ular-ular pun berkeliaran. Aku berteriak kepada Syeikh, yang lalu berkata, “Dzikirlah kepada Allah!” Aku pun berdzikir, dan akhirnya ular-ular itu akhirnya pergi menjauh.
Kemudian mereka datang lagi. Aku berteriak lagi kepada Syeikh, dan beliau menyuruhku berdzikir lagi. Hal itu berlangsung terus sampai pagi.
Ketika kami bangun, Syeikh berdiri dan meneruskan perjalanan, dan aku pun berjalan menyertainya. Tiba-tiba seekor ular besar jatuh dari kasur gulungnya, Kiranya semalam ular itu telah tidur bergulung bersama beliau. Aku bertanya kepada Syeikh: “Apakah Anda tidak merasakan adanya ular itu?” Beliau menjawab: “Tidak. Sudah lama aku tidak merasakan tidur nyenyak seperti tidurku semalam.”
Abu Utsman berkata: “Seseorang yang tidak dapat merasakan keganasan alpa, tidak akan merasakan sukacita dzikir.”
As-Sary menegaskan: “Tertulis dalam salah satu kitab suci: “Jika dzikir kepada-Ku menguasai hamba-Ku, maka ia telah asyik kepada-Ku dan Aku pun asyik kepadanya.” Dikatakan pula: “Allah mewahyukan kepada Daud as.: “Bergembiralah kepada-Ku dan bersenang-senanglah dengan dzikir kepada-Ku!.”
Ats-Tsaury mengatakan: “Ada hukuman atas tiap-tap sesuatu, dan hukuman bagi seorang ahli ma’rifat adalah terputus dari dzikir kepada-Nya.”
Tertulis dalam Injil: “Ingatlah kepada-Ku ketika engkau dipengaruhi oleh kemarahan, dan aku akan ingat kepadamu ketika aku marah, Bersikap ridhalah dengan pertolongan-Ku kepadamu, sebab itu lebih baik bagimu dari pertolonganmu kepada dirimu sendiri.”
Seorang pendeta ditanya: “Apakah engkau sedang berpuasa?” Ia menjawab : “Aku berpuasa dengan dzikir kepada-Nya. Jika aku mengingat selain-Nya, maka puasaku batal.”
Dikatakan: “Apabila dzikir kepada-Nya menguasai hati manusia dan setan datang mendekat, maka ia akan meggeliat-geliat di tanah seperti halnya manusia menggeliat-geliat manakala setan-setan mendekatinya. Apabila ini terjadi, maka semua setan akan berkumpul dan bertanya: “Apa yang telah terjadi atas dirinya?” Salah seorang dari mereka akan menjawab: “Seorang manusia telah menyentuhnya.”
Sahl berkata: “Aku tidak mengenal dosa yang lebih buruk, dari lupa kepada Allah swt.”
Didkatakan bahwa malaikat tidak membawa dzikir batin seorang manusia ke langit, sebab ia sendiri bahkan tidak mengetahuinya. Dzikir batin adalah rahasia antara si hamba dengan Allah swt.”
Salah seorang Sufi menuturkan: “Aku mendengar cerita tentang seorang laki-laki yang berdzikir di sebuah hutan. Lalu aku pergi menemuinya. Ketika ia sedang duduk, seekor binatang buas mengigitnya dan mengoyak dagingnya. Kami berdua pingsan. Ketia ia siuman, aku bertanya akepadanya tentang hal itu, dan ia berkata kepadaku: “Binatang itu diutus oleh Allah. Apabila engkau kendor dalam berdzikir kepada-Nya, ia datang kepadaku dan mengigitku sebagaimana yang engkau saksikan.”
Abdullah Al-Jurairy mengabarkan: “Di antara murid-murid kami ada seorang laki-laki yang selalu berdzikir dengan mengucap “Allah” “Allah”. Pada suatu hari sebatang cabang pohon patah dan jatuh menimpa kepalanya. Kepalanya pun pecah dan darah mengalir ke tanah mebentuk kata-kata Allah-Allah.”
Futuwuwah
Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”
(Qs. Al-Kahfi :13).
Rasulullah saw. bersabda:
“Allah swt. memberikan perhatian kepada seorang hamba selama hamba itu memperhatikan kebutuhan saudaranya yang Muslim.”
(Hr. Thabrani, riwayat dari Abu Hurairah dan Zaid bin Tsabit).
Menurut Syeikh ad-Daqqaq: “Futuwwah pada prinsipnya adalah kepedulian secara terus menerus yang dilakukans eorang hamba kepada orang lain.”
Syeikh berkomentar : “Tidak ada kesempurnaan sifat Futuwwah. Kecuali hanya ada pada diri Rasulullah saw. saja, sebab pada hari Kebangkitan semua orang akan mengatakan: “Nafsi…. nafsii… (aku hanya mengurus diriku, aku hanya mengurus diriku), sementara Rasulullah saw. akan mengatakan: “Ummati …. Ummati…. (ummatku … ummatku…)”
Al Junayd mengatakan: “Futuwwah dapat ditemukan di Syam, kefasihan bahasa di Iraq, dan kejujuran di Khurasan.”
Al-Fudhail menegaskan: “Futuwwah berarti memafkan kesalahan sesama manusia.”
Dikatakan pula: “Futuwwah berarti seseorang tidak menganggap dirinya lebih tinggi dan orang lain.”
Abu Bakr al-Warraq menegaskan: “Orang yang bersifat Futuwwah adalah mereka yang tidak punya musuh.”
Muhammad bin Ali at-Tirmidzy menjelaskan: “Futuwwah berarti engkau adalah musuh bagi dirimu sendiri, demi Tuhanmu.”
Dikatakan: “Manusia yang memiliki sifat Futuwwah tidak akan pernah memusuhi siap pun.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mendengar an-Nashr Abadzy mengatakan: “Ashabul Kahfi (Mereka meninggalkan keluarganya, menuju kepada Tuhannya. Mereka kontra duniawinya, sehingga mereka dipuji karena meninggalkan duniawi demi Allah swt. Karenanya, mereka menentang arus kebiasaan, dan lelap di gua selama 309 tahun, sama sekali tidak ada perubahan fisiknya). Mereka disebut fityah karena mereka beriman kepada Allah tanpa perantara.”
Dikatakan: “Manusia yang futuwwah adalah orang yang menghancurkan berhala, sebab Allah swt. berfirman:
“Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, yang bernama Ibrahim”(Qs. Al-Anbiya :60) dan “Maka Ibrahm membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong”
(Qs. Al-Anbiya :58).
Berhala setiap manusia adalah hawa nafsunya sendiri. Jadi, orang yang melawan hawa nafsunya sendiri adalah orang yang benar-benar futuwwah.
Al-Harits al-Muhasiby berkata: “Futuwwah menuntut agar engkau berlaku adil kepada orang lain, tapi juga mau diadili oleh orang lain.”
Amr bin Utsman al-Makky mengatakan:”Futuwwah adalah memliki akhlak yang baik.”
Ketika al-Junayd ditanya tentang futuwwah, dijawabnya, “Futuwwah artinya engkau tidak membenci orang miskin tapi juga tidak konfontrasi dengan orang kaya.”
AN-Nashr Abadzy berkomentar: “Muru’ah merupakan bagian dari futuwwah. Ia berarti berpaling dari dunia dan akhirat, dengan bangga menjauhi kedunya.”
Muhammad bin Ali at-Tirmidzi mengatakan: “Futuwwah berarti bahwa ha-hal yang langgeng maupun yang musnah sama saja bagi diri Anda.”
Ahmad bin Hanbal ditanya: “Apakah futuwwah itu?” dan beliau menjawab : “Futuwwah artinya meninggalkan apa yang engkau inginkan demi apa yang engkau takuti.”
Ditanyakan kepada salah seorang Sufi: “Apakah futuwwah itu?” Ia menjawab: “Futuwwah artinya engkau tidak membedakan makan bersama dengan seorang wali ataukah seorang kafir.”
Saya mendengar salah seorang ulama mengabarkan: “Sorang Majusi mengundang Ibrahim as. Makan. Ibrahim menjawab: “Aku mau menerima undanganmu dengan satu syarat, yaitu bahwa engkau memeluk Islam.” Mendengar jawaban demikian, si orang Majusi itu lalu pergi. Kemudian Allah swt. menurunkan wahyu kepada Ibrahim: “Selama lima puluh tahun Kami telah memberinya makan sekalipun ia kafir. Apa salahnya jika engkau meneriema seporsi makanan darinya tanpa menuntutnya mengganti agama? Ibrahimm lalu mengejar si orang Majusi itu sampai tersusul, lalu minta maaf kepadanya. Ketika si Majusi bertanya kepadanya mengapa meminta maaf, Ibrahim menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi, dan orang Majusi itu pun akhirnya msuk Islam.
Al-Junayd mengatakan: “Futuwwah artinya menahan diri dari menyakiti hati orang dan menawarkan kemurahan hati.”
Sahl bin Abdullah menjelaskan: “Futuwwah artinya mengikuti sunnah.”
Dikatakan: “Futuwwah artinya setia dan menjaga ketetapan Allah.”
Dikatakan juga: “Futuwwah adalah perbuatan bijak yang engkau lakukan tanpa melihat dirimu dalam perbuatan itu.”
Dikatakan: “Futuwwah artinya engkau tidak berpaling manakala seorang yang membutuhkan datang mendekatimu.”
Ada yang berpendapat: “Futuwwah artinya engkau tidak menutup diri dari orang yang mencarimu.”
Pendapat lain: “Futuwwah artinya engkau tidak menumpuk-numpuk harta kekayaanmu dan tidak mencari-cari alasan (jika diminta).”
Dikatakan: “Futuwwah artinya menampakkan nikmat, dan menyembunyikan cobaan.”
Yang lain berkata: “Futuwwah artinya bahwa jika engkau mengundang sepuluh orang tamu, maka engkau tidak akan terpengaruh jika yang datang sembilan atau pun sebelas orang.”
Dikatakan: “Futuwwah artinya meninggalkan segala bentuk perbedaan.”
Ahmad bin Khadhrawaih berkata kepada isterinya: “Aku ingin mengadakan pesta dengan mengundang seorang luntang-lantung yang terkenal di daerahnya dengan sebutan ‘pemimpin orang-orang muda.” Isterinya berkeberatan, ‘Itu tidak benar, mengundang seorang preman muda datang ke rumah.” Ahmad bersikeras. “Keinginanku mesti dilaksanakan!.” Istrinya berkata: “Jika demikian, maka smbelihlah kambing, sapi dan keledai, dan lemparkan saja dagingnya dari pintu orang itu ke pintu rumahmu!.” Ahmad bertanya: “Aku mengerti apa yang engkau maksudkan dengan kambing dan sapi, tapi apa maksudmu dengan menyembelih keledai?” Istrinya menjawab: “Engkau mengundang seorang preman muda ke rumah kita, maka paling tidak, lebih baik engkau membuat pesta bagi anjing-anjing di tempat ini.
Dalam suatu kisah diceritakan, pada sebuah perjamuan yang dihadiri oleh beberapa orang Sufi, termsuk seorang Syeikh dari Syiraz. Ketika acara penyimakan (ceramah) dimulai, tamu-tamu tertidur. Syeikh dan Syiraz bertanya kepada tuan rumah: “Mengapa mereka tertidur?” Si tuan rumah menjawab: “Aku tidak tahu. Aku telah ebrtindak cermat dan memastikan semua makanan, kecuali terung.” Keesokan paginya mereka pergi mencari tahu tentang terung itu kepada pedagang sayuran, yang mengatakan kepada meraka: “Aku tidak punya sayuran. Maka aku lalu mencurinya dari kebun si Fulan dan menjualnya.” Merka lalu membawa si pedagang ke pemilik kebun untuk menebus halalnya. Si pemilik kebun berkata dengan heran: “Anda bersussah paya mendatangiku hanya untuk urusan seribu biji terung?” Baiklah, aku hadiahkan kepada pedagang ini kebunku ini, ditambah dua ekor sapi, seekor keledai dan bajak, agar ia tidak perlu mencuri terung lagi.”
Dikatakan, bahwa seorang laki-laki menikahi seorang wanita. Sebelum bersetubuh, ia melihat adanya cacar pada tubuh istrinya itu. Laki-laki itu berseru kepada orang banyak: “Mataku terkena penyakit. Aku telah menjadi buta!” Pengantin wanita itu pun lalu dibawa ke rumah suaminya. Setelah dua puluh tahun berselang wanita itu meninggal. Laki-laki itu mendadak membuka matanya. Ketika seseorang bertanya kepadanya apa yang telah terjadi, ia menjelaskan,: “Aku sesungguhnya tidak pernah buta. Aku berpura-pura buta agar istriku tidak merasa malu.” Seseorang berkata kepadanya: “Engkau telah melampaui semua orang dalam hal futuwwah!.”
Dzun Nuun al-Mishry mengajarkan: “Orang yang menginginkan perllaku yang utama hendaklah mencontoh para pemikul air dari Baghdad!” Seseorang bertanya kepadanya: “Bagaimana mereka itu?” Ia menjawab: “Ketika aku dibawa ke hadapan khalifah atas tuduhan sebagai zindiq, aku melihat seorang pemikul air yag memakai sorban, berpakaian kain Mesir yang bagus, memebawa kendi-kendi tanah liat yang bagus.
Aku berkata kepada seseorang: Ini pasti pelayan minum Sutan!” Ia berkata kepadaku: “Bukan, ini adalah pelayan minum orang banyak>” Aku mengambil sebuah cangkir, minum darinya dan menyuruh sahabt-sahabtku: Berilah ia satu dinar!” Pembawa air itu menolaknya seraya berkata: “Anda adalah seorang tahanan. Bukanlah sikap futuwwah bila menerima sesuatu dari Anda.”
Dikatakan oeh sebagian teman-teman kami: “Tidak da tempat dalam futuwwah bagi tindakan mengambil keuntungan dari sahabt sendiri.” Ia adalah seorang pemuda bernama Ahmad bin Sahl si pedagang, dan saya membeli sepotong jubah linen darinya. Ia hanya memintaku membayar seharga modal yang dikeluarkannya untuk membeli jubah itu. Saya bertanya kepdanya: “Apakah Anda tidak mau mengambil sedikit keuntungan?” Ia menjawab: “Tentang harga jubah itu, aku mau menerima pembayaran Anda, tapi aku tidak mau membebankan kewajiban apa pun terhadap Anda. Aku tidak akan mengambil keuntungan, sebab tidak ada tepat dalam futuwwah bagi tindakan mengambil keuntungan dari sahabt sendiri.”
Dikisahkan, seorang laki-laki yang mengaku futuwwah datang dari Naisabur ke Nasa, dimana seseorang mengundangnya makan bersama sekelompok orang yang memiliki sifat futuwwah. Ketika mereka selesai makan, seorang budak wanita datang untuk menuangkan air guna membasuh tangan mereka.
Laki-laki dari Naisabur itu menarik tangannya dan berkata: “Berdasarkan aturan futuwwah, tidaklah diperbolehkan seorang gadis menuangkan air untuk laki-laki.” Tetapi orang lainnya yang hadir di sana berkata,: “Aku telh datang ke sini selama bertahun-tahun tanpa mengetahui apaka laki-laki atau wanita yang menuangkan air untuk membasuh tangan kita?”
Manshur al-Maghriby menuturkan: “Seseorang ingin menguji Nuh al-Ayyar an-Naisabury. Ia menjual kepada Nuh seorang budak wanita yang diberi pakaian laki-laki, dengan pernyataan tersirat bahwa budak itu adalah budak laki-laki. Budk itu mempunyai wajah cantik yang bersinar cemerlang. Nuh membelinya dengan perkiraan bahwa budak itu laki-laki. Budak itu tinggal bersamanya selama berlbulan-bulan.
Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah tuanmu tahu bahwa engkau adalah seorang gadis?” Ia menjawab : “Tidak, ia belum pernah menyentuhku, karena mengira bahwa aku laki-laki.”
Dikatakan, seorang laki-laki beringas diperintahkan untuk menyerahkan seorang budak laki-laki miliknya kepada sulan, tapi ia menolak. Ia lalu dihukum dera seribu kali, namun demikian masih tetap menolak menyerahkan budaknya. Malam itu udara sangat dingin dan ia terkena junub. Setelah bangun, ia pun segera mandi dengan air yang sangat dingin. Seseorang mengatakan kepadanya: “Engkau mengambil resiko mati dengan dengan mandi air dingin ini.” Dijawabnya: “Aku malu kepda Alalh swt. karena aku rela menderita seribu kali pukulan cambuk demi seorang makhluk, tapi tidak bersedia menahan dinginnya amandi demi Dia.”
B Sekelompok ahli ahli futuwah pergi mengunjungi seorang laki-laki yang terkenal karena futuwwahnya. Laki-laki itu menyuruh pelayannya membawa tilam makanan. Si pelayan tidak mengerjakan perintahnya, maka orang itu lalu memanggilnya hingga berulang-ulang. Para tamu saling berpandangan seraya berkata: “Ini tidak benar. Dala aturan futuwwah, seseorang tiak boleh mempekerjakan perintahnya, maka orang itu lalu memanggilnya sekali lagi dan sekali lagi.”
Laki-laki itu bertanya kepda pelayannya: “Mengapa begitu lama engkau baru datang membawakan tilam itu?” Si pelayan menjawab: “Ada seekor semut pada tilma itu. Tidaklah patut menurut futuwwah, membentangkan tilam uantuk para tamu yang ahli futuwwah manakala ada semut di atasnnya, sebalikya, tidaklah benar pula mencampakkan semut dari kain tilam itu. Jadi, saya meunggu sampai semut itu merayap meninggalkan tilam.” Para tamu berkata kepaa pelayan itu: “Engkau telah menunjukkan pemahaman yang tinggi. Orang sepertimu patut dilayani para ahli futuwwah.”
B Suatu ketika ada seorang jamaah haji yang bermalam di Madinah. Ia mengira kantong berisi uangnya dicuri orang. Ia keluar, melihat Ja’far ash-Shadiq dan memegang tangannya serta bertanya: “Apakah engkau yang mencuri kantongku?” Ja’far bertanya: “Apakah isi kantongmu itu?” Laki-lai itu menjawab: “Uang sebanyak seribu dinar!” Ja’far lalu membawa laki-laki itu ke rumahnya dan memberinya uang seribu dinar.
B Laki-laki itu kembali ke penginapan dan menemukan pundi-pundi yag dikiranya hilang tadi. Lalu ia pun pergi menemui Ja’far ash-Shadiq dan minta maaf kepdanya serta mengembalikan uangnya. Tapi Ja’far menolak mengambil uangnya kembali dan berkata: “Aku tidak pernah menuntut kembali barang yang telah aku berikan.” Orang itu bertanya kepda seseorang yang ada di tempat itu: “Siapa laki-laki itu?” Yang daitanya menjawab: “Ja’far ash-Shadiq.”
Diriwayatkan bahwa Syaqiq al-Balkhy bertanya kepada Ja’far bin Muhammad (ash-Shadiq) tentang futuwwah. Kata Ja’far balik bertanya: “Apakah pendapatmu?” Syaqiq menjawab: “Futuwwah, jika kita diberi sesuatu, kita bersyukur dan jika tidak diberi, kita bersabar.” Ja’far berkata: “Najing-anjing kita di Madinah juga bersikap begitu.” Syaqiq bertanya: “Wahai cucu Putri Rasulullah, kalau begitu apakah futuwwah itu dalam pandangan Anda?” Ja’far menjawab: “Futuwwah adalah, jika kita diberi sesuatu, kita berikan kepada orang lain, dan jika tidak diberi, kita bersyukur.”
Al-Murta’isy mengabarkan: “Kami bersama Abu Hafs menjenguk seorang yang sedang sakit, dan kami berangkat serombongan. Abu Hafs bertanya kepada si sakit: “Apakah engkau ingin sembuh?” Ia menjawab: “Ya, Maka si sakit lalu bangkit dan berjalan bersama kami, demi kami semua lalu jatuh sakit dan dikunjungi orang-orang lain.”
Firasat
Allah berfirman:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat anda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (firasat)”
(Qs. Al-Hijr :75).
Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan: “Orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda” adalah orang-orang yang mempunyai firasat.
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khurdy, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Waspadalah terhadap firasat seorang Mukmin, sebab ia melihat dengan nur Allah swt.”
(H.r. Bukhari dan Tirmidzi).
Firasat adalah nuansa yang datang meyelusup secara tiba-tiba ke dalam hati, yang menafikan segala sesuatu yang berlawanan dengannya; dengan demikian ia memiliki ketentuan hukum dalam hati. Firasat mempunyai akar kata yang sama dengan kata farisah, yang berarti mangsa binatang buas. Jiwa si hamba tidak dapat menetang firasat, yag merupakan kriteria potensi keimanan. Siapa pun yang lebih kuat imnnya, lebih tajam pula firasatnya.
Abu Sa’id al-Kharraz berkomentar: “Seseorang yang melihat dengan cahaya firasat identik melihat dengan cahaya Al-Haq muatan ilmunya datang dari Al-Haq, tidak bercampur dengan kealpaan ataupun kelalaian. Bahkan, ketentuan Allah mengalir melaui lisan si hamba.”
Adapun perkataan al-Kharraz: “Ia melihat dengan cahaya Al-Haq.” Adalah cahaya yang dikhususkan Allah kepadanya.
Muhammad al-Wasithy mengatakan: “Firasat terdiri dari cahaya yang cemerlang dalam hati, yang membuat si ahli ma’rifat mampu membawa rahasia-rahasia dari satu alam ghaib lainnya, sedemikian rupa, hingga ia dapat melihat hal-hal dengan cara dimana Allah swt, memperlihatkan kepdanya, hingga ia dapat berbicara melalui sukma budinya..”
Diriwayatkan bahwa Abul Hasan ad-Dailamy menuturkan: “Aku pergi ke Anthakia karena mendengar keberadaan seorang kulit hitam yang berbicara tentag hal-hal rahasia. Aku tinggal di sana sampai ia turun dari Gunung Lukam. Ia membawa barang-barang halal yang dijualnya. Aku lapar karena sudah dua hari tidak makan.
Maka aku lalu bertanya kepadanya; Berapa harganya ini?” Kubuat ia percaya bahwa aku akan membeli barang dagangannya. Ia berkata kepadaku, ‘Duduklah di situ, jika barang-barang ini sudah terjual aku akan memberimu uang yang dengannya engkau dapat membeli makanan!” Maka aku lalu meninggalkannya dan pergi ke pedagang yang lain untuk membuatnya mengira bahwa aku sedang menawar dagangannya.
Kemudian aku kembali kepadanya dan berkata: “”Jika engkau bermaksud menjual barang ini, maka katakanlah kepadaku berapa harganya!.” Ia menjawab :“Engkau sudah dua hari kelaparan. Duduklah! Jika barang ini telh terjual, aku akan memberimu uang untuk membeli sesuatu.” Maka ku pun duduk, dan ketika barangnya telah terjual, ia memberiku uang dan pergi meninggalkanku. Aku mengikutinya, dan ia berpaling kepadaku serta berkata: “Jika engkau membutuhkan sesuatu, mintalah kepada Allah swt! Tetapi bila hawa nafsumu memperoleh sesuatu dari terpenuhinya kebutuhan itu, maka engkau terhijab dari Allah swt.”
Muhammad al-Kattany berkata: “Firasat adalah mukasyafah dalam tahap yakin, dan menyatakan kegaiban. Ia adalah salah satu tahapan keimanan.”
Dikatakan bahwa asy-Syafi’y dan Muhammad bin al-Hasan – semoga Allah swt. merahmati mereka – sedang berada di Masjidil Haram ketika seseorang masuk ke Masjid.
Muhammad bin al-Hasan berkata: “Aku punya firasat bahwa ia adalah seorang tukang kayu.”
Dan asy-Syafi’y berkata: “Aku punya firasat bahwa ia adalah seorang tukang besi.” Ketika mereka bertanya kepada orang itu, ia menjawab, “Dahulu, aku pernah menjadi tukang besi, namun sekarang aku adalah tukang gkayu.”
Abu Sa’id al-Kharraz berkata: “Orang gyang mampu menyimpulkan (al-mustanbith) adalah orang yang selalu menaruh perhatian kepada yang gaib. Tiada sesuatu pun yang tersembunyi atau terjaga dari pandangannya.
Ia adalah orang yang ditunjuk dalam firman Allah swt.
“……tentulah orang-orang yang mampu menemukan kebenaran akan mengetahui persoalannya.”
(Qs. An-Nisa’ :83).”
Orang yang membaca firasat, akan mengetahui intuisi dan juga mengetahui apa yang ada di lubuk hati yang dalam dengan cara menyimpulkan dan melalui alamat-alamat.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (firasat).”
(Qs. Al-Hijr :75)
, yakni bagi orang-orang ma’rifat terhadap tanda-tanda yang diungkapkan Allah mengenai dua kelompok manusia, yaitu wali-wali Allah dan musuh-musuh-Nya.
Seseorang yang memiliki firasat, melihat dengan cahaya Allah swt, yang mendaklah kamu menjadi orang-orang gyang mengenal Tuhan (rabbaniyyin)” (Qs. Ali Imran :9), yakni para ulama ahli hikmah yang berakhlak dengan Allah swt. Yang Haq, baik secara ideologis maupun moral. Mereka bebas dari apa yang telah dikatakan orang lain, atau memberi perhatian kepada mereka, atau dipedulikan oleh mereka.
Dalam suatu riwayat disebutkan, Abdul Qasim al-Munady sedang menderita sakit. Ia adalh syeikh besar di kalangan syeikh di Naisabur. Maka Abul Hasan al-Busyanjy dan al-Hasan al-Haddad pun pergi menjenguknya. Di tengah jalan mereka membeli sebutir apel setengah dirham dengan menghutang. Ketika mereka telah sampai ke rumahnya, Abul Qasim bertanya: “Kegelapan apa lagi ini?” Mereka lalu pergi ke luar dan saling bertanya, kesalahan apa yang telah mereka lakukan. Mereka berpikir dan kemudian menyimpulkan, barangkali kesalahan itu adalah bahwa mereka belum membayar harga apel itu.
Maka mereka pun lalu pergi kepada si penjual buah, membayar apel itu dan kembali ke rumah Abul Qasim. Ketika Abul Qasim melihat mereka, ia berkata: “Aneh sakli. Orang dapat keluar dari kegelapan dengan begitu cepat. Ceritakan kepadaku apa yang telah kalian lakukan!” Ketika mereka telah menceritakan apa yang telah terjadi. Abul Qasim membenarkan, Ya” masing-masing dari kalian berdua mengharapkan yang lain membayar apel itu, tapi malu memintanya. Jadi pembelian apel itu tidak tuntas. Alasan pembelian apel itu adalah karena diriku, dan hanya aku saja yang melihat kegelapan itu pada diri kalian berdua.” Sementara Abul Qasim sendiri pun biasa pergi ke pasar setiap hari untuk berjualan. Apabila ia telah memperoleh keuntungan yang cukup baginya .. antara seperenam hingga setengah dirham — maka ia akan pulang dan kembali pada kesibukan utamanya, yaitu waktu utama dan mewaspadai hatinya.”
Al Husain bin Manshur berkata: “Apabila Allah berkehendak untuk melimpahkan rahasia maka, Dia akan mengamanatkan rahasia-rahasia kepada hati, yang kemudian dipahaminya dan dipermaklumkannya.”
Ketika salah seorang Sufi ditanya tentang firasat, ia menjawab, “Firaat berarti ada ruh-ruh yang bekeliling di dalam langit dan mengamati makna hakiki dari masalah-masalah gaib. Mereka berbicara tentang rahasia-rahasia penciptaan dengan bahasa nyata, bukan kata-kata yang bersifat speklulasi atau dugaan.”
Diceritakan bahwa Zakariya asy-Syikhtany terlibat perselingkuhan dengan seorang wanita sebelum ia bertobat. Suatu ketika setelah menjadi salah seorang murid terkemuka Abu Utsman al-Hiry, ia berdiri di depan gurunya sambil berpikir tentang si wanita itu. Abu Utsman menganggkat dan memandangnya sambil bertanya: “Apakah engkau tidak merasa malu.”
Pada awal hubungannya saya dengan Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq — Semoga Allah merahmatinya — sebuah majelis pengajian diadakan untuk diri saya di Masjid al-Mutarriz. Suatu ketika saya minta izin untuk pergi selama beberapa waktu ke Nasa, dan beliau mengizinkan. Suatu hari saya berjalan dengan beliau ke tempat pengajiannya, tiba tiba saya berpikir : “Seandainya beliau mau menggatikan saya mengajar di pengajian-pengajianku ketika saya pergi.”
Beliau berpaling kepada saya dan berkata : “Aku akan menggantikanmu di pengajian salama engkau pergi.” Saya terus berjalan. Sejenak terlintas dalam pikiran bahwa beliau sakit, dan akan menyushkan jika beliau mengajar dua hari dalam seminggu. Saya ingin agar beliau mengurangi kelas dan dan mengajar menjadi sekali (sehari) seminggu> Beliau berpaling kapda saya dan berkata: “Kalau aku tidak dapat menggantikanmu mangajar dua kali seminggu, aku hanya akan melakukannya sekali seminggu.” Selagi saya berjalan terus, sejenak pikiran lain terlintas dalam hati, dan beliau pun berpaling kepada saya dan mengatakan masalahnya sebagaimana yang sedang saya pikirkan.
“Wahai Abul Abbas, campakkanlah bisikan kotor itu! Allah memiliki kebaikan-kebaikan lembut yang tersembunyi.”
Az. Zubaidy mengabarkan: “Aku sedang berada di dalam sebuah masjid di Baghdad bersama sekelompok fakir, sudah berhari-hari kami tidak menerima sesuatu pun. Aku datang kepada al-Khawwas untuk meminta sesuatu. Ketika pandangannya jatuh kepadaku, ia bertanya: “Kebutuhan yang membawamu ke sini, diketahui Allah atau tidak?” Aku menjawab: “Tentu saja Dia mengetahuinya.” Maka al-Khawwas pun memerintahkan: Kalau begitu, jagalah ketenanganmu dan jangan perlihatkan kebutuhanmu kepada sesama makhluk! Aku pun pergi, dan tidak alma kemudian kami diberi makanan yang melebihi kebutuhan kami.”
Dikatakan, “Suatu hari Sahl bin Abdullah sedang berada di dalam masjid jami.” Ketika seekor burung merpati jatuh dari angkasa karena panas dan lelah. Sahl berseru: “Syeikh al-Kirmany baru saja wafat atas kehendak Allah swt. Orang-orang yang berada di tempat itu menuliskan ucapannya, dan memang benarlah apa yang dikatakannya itu.”
Dikatakan : “Abu Abdullah at-Targhundy, salah seorang pembesar pada masanya, bepergian ke Thous. Sesampai di kHarwa, ia menyuruh temannya: “Belilah sedikit roti!.” Temannya itu pun membeli roti secukupnya untuk merek berdua, tetapi Abu Abdullah berkata kepadanya: “Belilah lebih banyak lagi!.” Temannya dengan segera membeli roti lagi sekiranya cukup untuk sepuluh orang, seolah-olah ia sengaja menganggap ucapan Abu Abdullah sebagai isapan jempol semata. Ketika mereka tiba di atas gunung, bertemulah dengan sekelompok orang yang telah diikat oleh kawanan penyamun. Karena sudah agak lama mereka tidak menelan sesuap makanan, orang-orang tersebut pun meminta makanan kepada mereka berdua. Abu Abdullah berkata: “Bentangkanlah tilam untuk mereka!.”
Aku berada bersama Syiekh Imam Abu Ali ketika orang-orang yang hadir mulai membicarakan tentang bagaimana Syeikh Abu Abdurrahman as-Sulamy bangit dari tempat duduknya ketika acara penimakan, sebagaimana layaknya para fakir. Syeikh Abu Ali berkata,: “Mengenai erilaku Abu Abdurrahman, apakah diam tidak lebih baik baginya?” Barangkali beliau memerintahkan kepadaku: “Pergilah kepada as-Sulamy! Engkau akan menemukannya sedang duduk di perpustakaannya. Di atas buku-buku itu ada sebuah buku empat persegi yang kecil berwarna merah birisi puisi-puisi karya al-Husain ban Manshur. Ambillah buku itu, tanpa berkata apapun kepadanya dan bawalah kepadaku!” Waktu itu siang hari. Ketika aku pergi kepada as-Sulamy, ia sedang berada di perpustakaannya, dan buku yang disebutkan Abu Ali ada di tempat yag beliau sebutkan.
Ketika aku duduk, Syeikh Abu Abdurrahman as-Sulamy mulai berkata, Suatu ketika ada seseorang yang mencela salah seorang ulama karena perilakunya dalam penyimakan. Orang yang sama ini pada suatu hari terlihat sedang berada sendirian di rumahnya, menari berputar-putar seperti halnya orang yang sedang mengalami keleburan ruhani. Ketika seseorang bertanya akepadanyamengapa ia berlaku demikian, ia menjawab: “Aku menemui sebuah masalah yang membingungkan. Tiba-tiba penyelesaiannya diungkapkan kepadaku. Aku begitu gembira sehingga tidak mampu menguasai diri dan mulai menari berputar-putar.
Mereka berkata tentang orang ini: “Seorang dengan kedudukan seperti itu bertindak seperti biasanya.”
Ketika kuperhatikan apa yag diperintahkan oleh Syeikh Abu Ali kepadaku dan semuanya dalam keadaan seperti yang beliau gambarkan, maka aku menyadari apa yang dikatakaApa yang harus kulakukan, dalam keadaan terjepit di antara mereka begini?” Aku berpikir-pikir dan memutuskan bahwa tidak ada pandangan lain selain kejujuran.”
Syeikh Abu Ali mengabarkan sebuah buku tertentu kepadaku dn menyuruhku mengambilnya tanpa meminta izin kepada Anda. Aku takut kepada Anda. Tapi juga tidak mau menurut Anda. Apa yang harus aku lakukan?”
As-Sulamy mengambil jilid keenam dri buku wacana al-Husain dimana terdapat juga sebuah bab karangannya sendiri yang diberi judul Ash-Shayhur fi Naqdid Duhur dan berkata: “Bahwalah ini kepadanya dan katakan: “Saya menelaah buku ini, dan saya menyalin beberapa baris darinya ke dalam tulisan saya.” Maka aku pun pergi dari hadapannya.”
AL-Hasan al-Haddad menuturkan: “Aku sedang berada bersama Abul Qasim al-Munady dan sekelompok fakir (Sufi) yang sedang menjadi tamunya ketika ia menyuruhku pergi ke luar dan mencarikan makanan untuk mereka. Aku merasa senang menerima tugas ini, sekalipun Abul Qasim tahu bahwa bila aku adalah seorang yang sangat miskin. Aku membawa sebuha keranjang besar dan pergi ke luar.
Di jalan menuju ke pasar Sayyar, aku berjumpa dengan seorang syeikh yang berpakaian sangat bagus. Aku mengucapkan salam kepadanya dan berkata:
Ada sekelompok sufi yang sedang berkumpul di dekat sini. Mungkin anda punya sesuatu untuk diberikan kepada meraka?” Syeikh itu lalu menyuruh pelayannya membawa keluar persediaan makanannya berupa roti, daging dan angur. Ketika aku kembali ke rumah Aul Qasim al-Munady, ia menghmabur dari dalam rumah sambil berseru kepadaku: “Kembalikan makanan itu ke asalnya di mana engkau memperolehnya tadi!”
Aku kembali dan meminta maaf kepada syeikh yang memberi makanan itu dan berkata: “Saya tidak menemukan Sufi-sufi itu. Mungkin mereka sudah pergi.” Kukembalikan makanan itu kepadanya dan kuteruskan langkahku pergi ke pasar. Aku berhasil memperoleh sedikit makanan, yang segera ku bawa ke rumah Abul Qasim. Ia menyuruhku masuk ke dalam. Ketika aku menceritakan kepadanya semua yang terjadi, ia berkata: “Ya itulah Ibnu Sayyar, seorang pecinta dunia yang dekat dengan penguasa, Kalau engkau mencari makanan untuk para Sufi, carilah seperti ini, bukan seperti tadi itu.”
Abul Husain al-Qarafi mengisahkan: “Aku mengunjungi Abul Khayr at-Tinaty, dan ketika aku berpamitan kepadanya, ia mengantarku sampai ke pintu masjid dan berkata: “Wahai Abul Husain, aku tahu engkau tidak membawa bekal, karenanya bawalah dua butir apel ini!” Kuterima apel itu, kumasukan ke dalam saku, lalu aku berangkat. Tiga hari lamanya aku tidak memperoleh makanan, karena itu kuambil satu apel dan kumakan. Kemudian aku berpikir-pikir mau memakan apel yang kedua, dan kudapati kedua apel itu masih ada dalam kantongku. Aku terus memakan apel-apel itu, dan kedua apel itu ada terus dalam kantongku sampai aku tiba di pintu gerbang kota Mosul.
Aku berkata dalam hati: “Kedua apel ini telah merusak kondsi tawakkalku kepada Allah, karena keduanya telah menjadi semacam bekal bagiku.” Maka aku terakhir kalinya kuambil kedua apel itu dan melihat sekelilingku. Tiba-tiba kulihat seorang fakir memakai jubah sedang meratap.” Aku sangat menginginkan apel itu.” Maka kuberikan kedua apel itu kepadanya. Ketika aku merenung masalah apel tersebut, terlintas dalam pikiranku bahwa Syeikh Abu Khayr mungkin telah mengirim kedua apel itu kepada orang ini, dan aku hanya menjadi perantara kebaikannya itu. Kucari orang kafir itu, tapi ia sudah lenyap.
Ada seorang pemuda yang belajar kepada Junayd. Ia mampu membaca pikiran orang . Al-Junayd diberitahu akan hal ini, dan ia lalu bertanya kepada pemuda itu :Benarkah apa yang dikatakan orang tentang dirimu?” Pemuda itu lalu berkata kepada al-Junayd: “Yakinlah tentang sesuatu.” Al-Junayd menjawab: “Aku telah yakin.” Pemuda itu berkata: “Anda sedang meyakini ini dan itu.” AL-Junayd berkata, “Bukan.” Pemuda itu meminta al-Junayd mengulangi keyakinannya dua kali lagi, dan setiap kali Al-Junayd mengatakan bahwa tebakan si pemuda salah, dan saya yakin akan hati saya.” Al-Junayd mengakui: “Kamu memang benar ketika tiga kali kamu mengatakan apa yang sedang kuyakini, tetapi aku ingin menguji apakah hatimu akan berubah atau tidak.”
Ibrahim ar-Raqqy jatuh sakit. Dibawakanlah obat kepadanya dalam sebuah mangkok, yang lalu diminumnya. Kemudia ia berkata: “Sebuah insiden yang besar telah terjadi di kerajaan hari ini. Aku tidak akan makan atau minum sebelum aku tahu insiden apa itu.” Setelah beberapa hari datanglah kabar bahwa al-Qurthuby telah memasuki Mekkah al-Mukarramah pada saat itu, dan ia terbunuh pada perang besar-besaran tersebut.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa ia mengabarkan: “Aku datang kepada Utsman bin Affan r.a. Setelah eku melihat seorang waniat di jalan. Aku telah membayangkan wajahnya yang cantik. Utsman berkata: “Salah seorang di antara kamu telah datang kepadaku hari ini dengan bekas-bekas zina di matanya.” Aku bertanya kepadanya: Apakah mungkin ada wahyu setelah Rasulullah saw. wafat?” Beliau berkata: “Tidak, tapi adan kemampuan mata hati, bukti dan firasat yang benar.”
Ahmad al-Kharraz mengatakan: “Aku masuk ke Masjidil Haram di mana aku melihat seorang fakir yang memakai dua potong jubah, sedang meminta-minta kepada orang gbanyak. Aku berkata dalam hati: “Orang seperti ini merupakan beban bagi orang banyak.” Si fakir itu melihat kepadaku dan berkata:
“Ketahuilah bahwa Allah mengetahui semua yang ada di dalam jiwamu, karena itu berhati-hatilah terhadap-Nya.”
(Qs. Al-Baqarah: 235).
Setelah aku minta maaf kepadanya di dalam hati, lantas ia berkata: “Dan Dia-lah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya.”
(Qs. Asy-Syuura :25).”
Ibrahim al-Khawwas berkata: “Suatu hari ketika aku sedag berada di masjid besar Baghdad, ada sekelompok fakir di sana. Tiba-tiba,seorang pemuda gagah perkasa dengan keharumannya yang menyebar di samping juga sanat ramah serta tampan rupawan datang kepada kami sambil tersenyum. Aku berkata kepada sahabt-sahabtku: “Pikirankau mengatakan bahwa anak muda ini seorang Yahudi.” Mereka semua tidak setuju dengan ucapanku itu. Aku keluar dan begi juga pemuda itu. Kemudian ia kembali kepada mereka dan bertanya: “Apa yang dikatakan syeikh itu tentang diriku?” Mereka semua merasa malu untuk mengatakan kepadanya, tetapi pemuda itu terus mendesak hingga akhirnya mereka mengungkapkan.: “Ia mengatakan bahwa engkau seorang Yahudi.” Setelah itu anak muda itu datang kepadaku, membungkuk di hdapanku, dan berikrar masuk Islam.”
Ketika seseorang bertanya tentang perbuatannya tadi, ia berkata, “Kami membaca dalam kitab suci kami bahwa firasat orang-orang yang jujur tidak pernah keliru.” Lalu aku berkata: “Sebenarnya, aku menguji orang-orang Islam. Aku mencari-cari di antara mereka dan memutuskan, jika da seorang kyang jujur di antara mereka, maka ia adalah seorang Sufi, sebab para Sufi berbicara dengan firman Alalh swt. Aku menyembunyikan identitasku dan mengelabui mereka. Ketika Syeikh ini mengetahui siapa diriku sebenarnya dengan firasatnya, maka tahulah aku bahwa ia adalah penegak kebenaran yang jujur.” Dan pemuda ini kemudian menjadi salah seorang Sufi besar.”
Ahmad al-Jurairy bertanya: “Adakah di antara kalian yang tahu apabila Alalh berkehendak membuat peristiwa besar di kerajaan memberitahunya, sebelum kejadian itu terjadi?” Kami menjawab: “Tidak”. Ia berkata: “Menangislah kamu sekalian karena adaya hati yang belum pernah menemukan sesuatu dari Allah swt!.”
Abu Musa ad-Dailamy mengatakan: “Ketika aku bertanya kepada Abdurrahman bin Yahya tentang tawakkal, ia menjelaskan, Tawakkal berarti bahwa jika engkau memasukan tanganmu sebatas pergelangan tangan ke dalam mulut ular, engkau tidak merasa takut kepada apa-pun selain Allah swt. Kemudian aku pergi kepaa Abu Yazid untuk bertanya kepadanya tentang tawakkal. Aku mengetk pintu rumahnya, dan dari balik pintu ia menjawab: “Apakah kata-kata Abdurrahman tidak cukup untukmu?” Aku meminta: “Bukakan pintu!.” Ia menjawab: “Engkau tidak datang untuk mengunjungiku, dan jawabannya sudah ada di balik pintu.” Pintu pun tidak dibukakan untuk-ku. Aku lalu pergi dan menunggu hingga satu tahun lamanya. Kemudian aku ingin pergi kepadanya lagi dan ia berkata. “Selamat datang. Sekarang engkau datang kepadaku sebagai tamu. “ Aku tinggal bersamanya selama sebulan, dan tidak ada bisikan hatiku yang tertuang, melainkan ia selalu mengatakannya kepadaku. Ketika mengucapkan selamat berpisah kepadaku, aku meminta kepadanya: “Berikanlah sepatah kata lagi yang bermanfaat!” Ia berkata: Ibuku mengatakan kepdaku bahwa ketika ia mengundang aku, setip kali ada makanan halal yang disuguhkan kepadanya, maka tangannya dapat mengambil makanan itu, tetapi jika ada sesduatu yang syubhat di dalamnya, tangannya tidak mau diulurkan.”
Ibrahim al-Khawwas mengabarkan: “Aku pergi ke padang pasir, di mana kau mengalami banyak cobaan. Ketika tiba di Mekkah, aku menemukan keajaiban. Secara tidak terduga ada seorang tua berseru kepdaku: “Wahai Ibrahim, aku ada bersamamu ketika engkau di pdang pasir, tetapi aku tidak berbicara kepdamukarena takut kalau-kalau aku emnggangu keadaan batinmu. Sekarang, keluarlah waswas dari dirimu!.”
Diakbarkan bahwa meskipun a-Furghani al-Murghinany pergi setiap tahun menunaikan ibadat haji, melewati Naisabur tanpa singgah ke kediaman Abu Utsman al-Hiry. Ia menjelaskan: “Suatu ketika aku pergi menjenguknya dan memberi salam kepadanya, tetapi ia tidak membalas salamku. Aku bertanya kepadanya: “Seorang Muslim datang menemui seorang Muslim lainya dan mengucapkan salam, namun tidak memperoleh balasan? Abu Utsman menjawab, “Apaakah seperti itu, seseorang yang gmelakukan ibadat haji, meninggalkan ibunya dan tidak memperlakukannya dengan penuh horamt? Mendengar ucapannya itu, aku kembali ke Furghanah dan tinggal di sana menemani ibuku hingga akhir hayat beliau. Kemudian aku pergi menemui Abu Utsman, dan ketika masuk ke rumahnya, ia menerimaku dan menyuruhku duduk.” Setelah itu, al-Furghani tinggal bersamanya terus menerus. Ia meminta agar ditugaskan merawat piaraannya, yang menjadi pekerjaannya sampai Abu Utsman wafat.”
Khayr an-Nassaj berkata: “Suatu hari aku sedang duduk-duduk di rumahku ketika instinkku mengatakan bahwa al-Junayd sedang berada di depan pintu. Tapi aku mengingkari instinkku itu. Untuk kedua dan ketiga kalinya instinkku itu muncul lagi, hingga akhirnya aku berjalan ke arah pintu, dan benarlah ia ada di sana. Al-Junayd bertanya: “Mengapa engkau tidak datang pada instink yang pertama?”
Muhammad ibnul Husain al-Bisthamy mengabarkan: “Ketika aku pergi menjenguk Abu Utsman al-Maghriby, aku berkata dalam hati: “Barangkali ia menginginkan sesuatu dariku.” Abu Utsman berkata: “Manusia tidak cukup puas bahwa aku menerima pemberian mereka. Sehingga mereka menambah permintaanku pada diri mereka,”
Salah seorang fakir menuturkan: “Aku sedang berada di Baghdad. Terketuk olehku bahwa al-Murta’isy akan datang kepadaku dengan membawa uang limabelas dirham hingga aku dapat membeli kantong makanan, tali dan sandal yang dapat kupergunakan untuk pergi ke padang pasir. Tba-tiba kudengar pintu diketuk orang. Aku membukanya, dan kulihat al-Murtha’isy berdiri di sana, membawa sebuah pundi-pundi kain. Ia memerintahkan “Ambillah ini” Aku berkata: “Wahai syeikh, aku tidak menginginkannya.” Ia bertanya, Lantas mengapa engkau mengganggu aku? Berapa uang yang engkau inginkan? Aku menjawab: “Limabelas dirham.” Ia berkata: “Inilah uang itu, lima belas dirham.”
Salah seorang Sufi berpendapat mengenai firman Allah swt. “Dan apakah orang-orang yang sudah mati kemudian ia Kami hidupkan?”
(Qs. Al-An’am :122), dimaksudkan adalah mati hatinya. Kemudian Allah menghidupkannya melalui cahaya firasat, dalam hati itu pula ditampakkan cahaya musyahadah, yang tentu tidaklah sama dengan orang yang berjalan dalam keadaan alpa dengan kealpaannya.
Dikatakan: “Firasat seseorang benar, berarti ia telah naik ke tahapan musyahadah.”
Abul Abbas Ahmad bin Masruq berkata: “Seorang yang cukup tua datang kepada kami. IA berbicara tentang tasawuf secara menawan, dan instinknya sanat bagus. Ia menyuruh kami, dalam suatu ucapannya: “Katakanlah kepadaku apa yang ada dalam benak kalian!.” Pikiranku mengatakan bahwa ia adalah seorang Yahudi. Pikiran itu seakan-akan merupakan peringatan yang mendesak, maka aku pun mengungkapkannya kepada al-Jurairy. Ungkapanku itu membuat perasaannya tertekan, tetapi aku menegaskan: “Aku tidak punya pilihan lain, kecuali mengatakannya kepada orang ini.” Maka aku pun berkata kepadanya: “Engkau menyuru kami mengatakan kepadamu apa pun yang ada dalam pikiran kami. Pikiranku mengatakan baha engkau adalah seorang Yahudi.”
Sesaat ia menundukkan kepala, lalu mengangkatnya, dan mengaku: “Engkau benar, dan aku sekarang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Ia menjelaskan: “Aku telah mencoba menempuh jalan semua agama, dan aku berkata dalam hati “Jika berada dengan suatu kaum, diantaranya memiliki suatu kebenaran, maka kebenaran aan bersamamnya. Maka aku lalu bergaul dengan kalian untuk menguji kalian. Ternyata kalian berada dalam kebenaran. “ Ia kemudian menjadi Muslim yagn sangat baik.
Diriwayatkan oleh al-Junayd bahwa as-Sary suka mendorong al-Junayd agar berceramah kepada orang banyak. Al-Junayd berkata: “Aku merasa takut berbicara di depan mereka? Pada suatu malam jum’at aku bermimpi bertemu dengan Nabi saw. Beliau memerintahkan kepadaku “Berkhutbahlah kepada orang banyak!” Aku terbangun, lalu pergi ke rumah as-Sary sebelum subuh, dan mengetuk pint rumahnya. Ia bertanya: “Engkau tidak percaya kepadaku, hingga Nabi sendiri yang mengatakannya kepadamu?” Pagi itu al-Junayd duduk di depan orang banyak di masjid, dan tesebarlah kabar bahwa al-Junayd sedang berceramah.
Seorang pemuda Nasrani yang menyamar datang kepada al-Junayd dan bertanya: “Katakanlah kepadaku, wahai syeikh, apa makna perkataan Rasulullah : “Waspadalah terhadap firasat orang Mukmin, karena ia melihat dengan cahaya Alalh swt?” LA- Junayd mendundukkan kepalanya, kemudian menganggkatnya dan berkata “Masuklah ke dalam Islam. Saat keislamanmu telah tiba.” Si Pemuda Nasrani itu pun masuk Islam.
Akhlak
Allah swt. berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yag agung.”
(Qs. Al-qalam :4).
Diriwayatkan oleh Anas bahawa seseoarng bertanya kepada Nabi saw. “Wahai Rasulullah, siapakah di antara orang-orang beriman yang paling utama imannya?” Beliau menjawab:
“Yaitu mereka yang paling baik akhlaknya.”
(Hr. Ibnu Majah).
Akhlak yang baik adalah keutamaan sejarah hidup hamba; sehingga mutiara-mutiara seseorang dapat tampak. Manusia itu terlapisi oleh fisiknya, namun terungkap oleh akhlaknya.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq juga berkta: “Allah swt. menganugerahi Nabi-Nya saw. dengan keistimewaan sifat beliau, dengan pujian yang sama sekali tidak pernah dipujikan kepada makhluk lain.
Karena itu Allah swt. berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
Muhammad al-Wasithy mengatakan: “Allah swt. memberi predikat beliau dengan akhlak yang agung, karena beliau merelakan diri dari dunia dan akhiratnya, dan merasa puas hanya dengan Allah swt. semata.”
Al-Wasithy juga mengatakan: “Akhlak yng mulia berarti orang tidak bertengkar dengan orang lain, tidak memushi oleh mereka, karena hamba itu diluapi kedahsyatan ma’rifat kepada Allah swt.”
Al-Husain bin Manshur menjelaskan: “Akhlak mulia adalah, bahwa engkau tidak terpengaruh kekasaran orang banyak, setelah engkau memperhatikan Al-Haq.”
Abu Sa’id al-Kharraz mengatakan: “Akhlak mulia berarti engkau tidak mempunyai cita-cita selain Allah swt.”
AL-Kattany menegaskan: “Tasawuf adalah akhlak. Barangsiapa bertambah dalam akhlak berarti bertambah pula dalam tasawuf.”
Riwayat dari Ibnu Umar r.a. yang mengatakan: “ Jika engkau mendengar aku mengatakan kepada seorang budak.” Semoga Allah melaknatimu.” Maka saksikanlah bahwa aku telah memerdekakannya.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan: “Jika seseorang bertindak dengan akhlak mulia dalam segala hal, tapi ia memperlakukan ayamnya dengan buruk, maka tidak dapat dianggap berakhlak baik.”
Dikatakan: “Apabila Ibnu Umar melihat salah seorang budaknya melaksanakan shalat dengan baik, beliau akan memerdekakannya. Budak-budaknya semua tahu akan hal itu, dan mereka mengerjakan shlat dengan baik hanya semata agar dilihat olehnya. Sekalipun demikian, Ibnu Umar masih tetap memerdekakan mereka. Ketika seseorang hendak menipu kami demi Allah, maka kami akan membiarkan diri kami ditipu demi Dia.
Al-Harits al-Muhasiby mengatakan: “Kita akan merasa rugi jika kehilangan tiga hal: Wajah cerah disertai dengan kesantunan, kata-kata yang diucapkan dengan baik dan disertai kejujuran, serta persaudaraan yang kuat dipadu dengan kesetiaan.”
Abdullah bin Muhammad ar-Razy mengatakan: “Akhlak berarti memandang rendah apa pun yang datang darimu, dan mengagungkan yang datang dari Alalh swt.”
Al-Ahnaf bin Qays ditanya: “Siapa yang mengajarkan akhlak kepadamu?” Ia menjawab: “Qays bin Ashim al-Munaqqary.” Orang itu bertanya lagi:”Bagaimana akhlaknya?” Al-Ahnaf menuturkan, “Suatu ketika ia sedang duduk-duduk di rumahnya ketika seorang budak wanita masuk dengan membawa tusuk daging yang membara. Benda itu jatuh menimpa salah seorang anaknya, yang kemudian meninggal dunia. Budak itu sangat berduka. Qays mengatakan kepadanya: “Jangan khawatir, Engkau kumerdekakan, karena Allah.”
Syah al-Kirmany menuturkan: “Satu tanda akhlak yang baik adalah, bahwa engkau mencegah bahaya, dan secara rela menanggung kerugian yang mereka timpakan kepadamu.”
Rasulullah saw. bersabda:
“Engkau tidak akan dapat memberikan kebahagiaan orang lain dengan hartamu, karenanya berilah kebahagiaan dengan wajah yang manis dan akhlak yang baik.”
(H.r. Al-Bazzar dan Hakim).
Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun al-Mishry: “Sipakah orang yang paling banyak cemas?” Ia menjawab: “Orang yang paling buruk akhlaknya.” Wagab menegaskan: “Jika seorang hamba mempraktikkn akhlak mulia selama empatpuluh hari. Allah akan menjadikan akhlak mulia sebagai sifat bawaan baginya.”
Ketika menafsirkan firman Allah saw.:
“Dan pakaianmu, hendaklah engkau bersihkan.”
(Qs. Al-Muddattsir :4).
Hasan al-Bashry menjelaskan bahwa ayat ini berarti: “Dan akhlakmu itu, perindahlah.”
Seorang Sufi memiliki seekor domba betina. Ketika ia menemukan salah satu kakinya terpotong, ia bertanya: “Siapakah yang melakukan ini?” Salah seorang budaknya menjawab: “Saya” Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal itu, si budak menjawa: “Untuk membuat tuan bersedih karenanya.” Sufi itu menjawab: “Itu tidak terjadi, tapi aku merasa sakit karena tindakanmu itu. Pergilah, engkau kumerdekakan.”
Ibrahim Bin Adham ditanya: “Apakah Anda pernah senang di dunia ini?” Ia menjawab: “Ya, dua kali. Yang pertama, ketika aku sedang duduk-duduk dan seorang laki-laki datang mengencingiku. Yang kedua, ketika aku sedang duduk-duduk dan seorang laki-laki datang menempelengku.”
Dikatakan bahwa manakala anak-anak melihat Uways al-Qarany, mereka selalu melemparinya dengan batu. Karena itu ia mengatakan kepada mereka:” Jika memang kalian memang harus melempariku, gunakanlah batu yang ekcil agar kakiku tidak terluka, yang membuatku terhalang shalat.”
Suatu ketika seorang laki-laki memaki Ahnaf bin Qays dan menghinanya. Orang itu mengikuti di belakangnya. Ketika al-Ahnaf sampai di dekat lingkungan kediamannya sendiri, ia berhenti dn menasihati orang itu,: “Wahai anak muda, jika engkau masih punya kata-kata untuk diucapkan, katakanlah sekarang, sebelum salah seorang tetangga dekat yang bodoh mendengar, dan menjawab kata-katamu.”
Hatim al-Asham ditanya: “Haruskah seseorang menanggung beban dari setiap orang?” Ia menjawab: “Ya, kecuai dari dirinya sendiri.”
Diceritakan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib r.a. suatu ketika memanggil salah seorang budaknya, tapi si budak tidak menjawab. Beliau mengulangi panggilannya dua hingga tiga kali, tapi si budak masih tetap tidak menjawab. Ketika beliau datang melihat budak itu dan menemukannya sedang tidur-tiduran, Ali bertanya: “Apakah engkau tidak mendengar panggilanku?” Ia menjawab: “Ya, saya mendengar.” Beliau bertanya: “Lantas mengapa engkau tidak datang?” Si budak menjawab: “Saya merasa aman dari hukuman tuan, jadi saya malas.” Ali berkata kepadanya: “Pergilah, engkau merdeka karena Allah swt.”
Diceritakan bahwa ketika Ma’ruf al-Karkhy pergi berwudlu, ia meletakkan Al-Qur’an dan jubahnya. Seorang wanita datang dan membawanya. Ma’ruf mengikutinya dari belakang. “Wahai saudaraku, aku adalah Ma’ruf al-Karkhy, engkau tidak apa-apa atas perbuatanmu ini. Apakah engkau punya seorang laki-laki yang dapat membaca Al-Qur’an?” Wanita itu menjawab: “Tidak.” Ma’ruf bertanya: “Seorang suami?” “Tidak,” jawab wanita itu. Ma’ruf lalu berkata, “Kalau begitu, berikanlah Al-Qur’an itu kembali kepadaku dan ambillah jubah itu!.”
Para pencuri memasuki rumah Syeikh Abu Abdurrahman as-Sulamy dan mencuri segala sesuatu yang berharga. Salah seorang sahabt kami mendengar Syeikh tersebut menuturkan: “Suatu hari aku melewati pasar dan kulihat jubahnya sedang dilelang, tapi aku berpaling menjauh tanpa menaruh perhatian sedikit-pun padanya.”
Al-Jurairy mengabarkan: “Aku baru saja pulang dari Mekkah, dan hal pertama yang kulakukan adalah mengunjungi al-Junayd agar tidak mengangan-angan diriku. Aku memberi salam kepadanya dan pulang ke rumah. Keesokan harinya ketika aku shalat subuh di masjid, aku melihatnya berdiri pada shaf di belakangku. Aku berkata: “Aku mendatangimu kemarin hanya supaya engkau tidak mengharap-hrap diriku.” Ia menjawab: “Itulah keutamaanmu. Dan itulah hakmu.”
Ketika Abu Hafs ditanya tentang akhlak, ia mengatakan: “Akhlak adalah pilihan Allah swt. untuk Nabi-Nya saw. dalam firman-Nya : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf.”
(Qs. Al-A’raf :119).
Dikatakan: “Akhlak berarti engaku dekat orang banyak, tapi asing terhadap urusan mereka.”
Dikatakan pula: “Akhlak yang baik adalah bagaimana menerima perlakuan kasar manusia dan ketentuan Al-Haq tanpa merasa sedih dan cemas.”
Dikatakan bahwa Abu Dzar memberi minum untanya di sebuah bak kolam air. Tiba-tiba ada sebagian orang yang menabraknya. Bak air itu pecah. Abu Dzar duduk, kemudian berbaring. Seseorang bertanya kepadanya mengapa berbuat begitu. Ia menjawab “Rasulullah saw. memerintahkan kita, bahwa jika seseorang merasa marah, hendaklah ia duduk sampai marahnya reda. Jika tidak reda juga, hendaklah ia berbaring.”
Tertulia dalam kitab Injil: “Hambaku, ingatlah kepada-Ku ketika engkau sedang marah, maka Aku akan mengingatkanmu ketika Aku marah.”
Luqman berkata kepada nakanya: “Ada tiga macam orang yang tidak dikanli kecualai pada tiga perkara : “Seorang murah hati ketika marah, seorang pemberani di saat perang, dan seorang saudraa saat dibutuhkan.”
Musa as. Berkata: “Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar tidak dikatakan kepadaku, hal-hal yang bukan diriku, “Allah mewahyukan kepadanya: “Aku tidak pernah melakukan hal itu untuk Diri-Ku. Bagaimana Aku bisa melakukannya untukmu?”
Yahya bin Ziyad al-Haritsy ditanya, berkaitan dengan seorang budak yang buruk perilakunya. “Mengapa engkau masih tetap memeliharanya?” Ia menjawab, “Agar aku dapat belajar bermurah hati.”
Tentang firman Allah swt. “…..dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Qs. Ar-Ruum:20), mempunyai makna bahwa “lahir” berarti pembentukan fisik manusia, dan “batin” adalah penyucian akhlak.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Aku lebih suka berteman seorang penjahat penuh dosa, tapi akhlaknya baik daripada seorang saleh yag akhlaknya buruk.”
Dikatakan: “Akhlak yang baik berarti menanggung penderitaan dengan penuh kegembiraan.”
Diceritakan, bahwa Ibrahim bin Adham pergi ke salah satu padang pasir yang luas. Tiba-tiba seorang tentara muncul di hadapannya dan bertanya: “Di mana kampung paling ramai?” Ibrahim menunjuk ke kuburan. Tentara itu lalu memukul kepala Ibrahim bin Adham. Ketika akhirnya ia melepaskan Ibrahim, seseorang mengatakan kepadanya, “Itu tadi Ibrahim bin Adham, Sufi dari Khurasan.”
Tentara itu lalu meminta maaf kepada Ibrahim bin Adham. Ibrahim berkata: “Ketika engkau memukulku aku berdoa kepada Alalh swt. agar memasukanmu ke dalam surga.” Tentara itu bertanya, “Mengapa?” Ibrahim menjawab: “Sebab aku tahu bahwa aku akan memperoleh pahala karena pukulan-pukulanmu. Aku tidak ingin nasibku menjadi baik dengan krugianmu, dan perhitungan amalmu menjadi buruk karena diriku.”
Diriwayatkan, ada seorang laki-laki mengundang Sa’id bin Ismail al-Hiry ke rumahnya. Ketika Sa’id muncul di muka pintu rumah orang itu, orang itu mengatakan kepadanya, “Wahai Syeikh, ini bukan waktu yang baik bagi tuan untuk masuk ke dalam rumahku. Anda benar-benar menyesal. Maaf silahkan pergi.” Ketika Sa’id datang lagi ke rumahnya, orang itu menyuruhnya pergi lagi seraya mengatakan, “Maaf tuan, Ia meminta maaf kepada Sa’id dan menyuruhnya supaya datang lagi pada suatu waktu tertentu. Sa’id pun pergi. Ketika datang lagi, orang itu mengatakan hal yang sama. (Persitiwa itu sampai berulang empat kali). Akhirnya orang itu menjelaskan: “Wahai Syeikh, aku hanya ingin menguji Anda.” Ia lalu memintaa maaf kepada Sa’id dan memuji-mujinya. Sa’id menjawab: “Jangan memujiku karena sifat yang juga dimiliki oleh seekor anjing; jika anjing dipanggil, ia datang, jika diusir, ia pergi.”
Dikdisahkan bahwa Sa’id al-Hiry sedang mewetati jalan menjelang tengah hari ketika seseorang di atas atap menumpahkan seember abu ke atas kepadalanya. Kawan-kawannya menjadi marah dan mulai meneriaki orang yang menumpahkan Abi itu. Sa’id berkata: “Jangan mengatakan apa-apa! Orang yang layak memeperoleh neraka, tapi hanya dikenai abu saja tidak berhak untuk marah.”
Dikatakan, Salah seorang dari fakir sedag gmenjadi tamu di rumah Ja’fat bin Handzalah, yang leyaninya sebaik mungkinn. Fakir itu berkata: “Anda bertul-betul orang yang baik. Sayang Anda seorang Yahudi.” Ja’far menjawab: “Agamaku tidak mempegaruhi caraku melayani kebutuhamu. Berdoalah agar jiwamu disembuhkan dan aku memperoleh hidayatnya!.”
Diceritakan bahwa Abdullah al-Khayyath mempunyai pelanggan jahitan baju seorang Majusi. Orang itu biasa mebayarnya dengan uang dirham palsu dan Abdullah menerima saja uang palsu itu. Suatu hari ketika Abdullah sedang sibuk di Suraunya, orang Majusi itu datang untuk mengambil pakaian pesanannya dan mencoba membayarnya dengan dirham-dirham palsu, yang diberikan kepada muridnya, namun oleh murid itu ditolaknya. Akhirnya si orang Majusi itu mebayar dengan uang dirham asli.
Ketika Abdullah kembali, ia bertanya kepada mudirnya: “Dimana pakaian pesanan orang Majusi itu?” Si pembantu menceritakan apa yang telah terjadi. Abdullah memarahinya. Katnya: “Engkau telah melakukan kesalahan. Selama beberapa waktu, kami telah melakukan bisnis dengan caranya itu, dan aku bersabar saja. Dirham-dirham palsu itu biasanya kulemparkan ke dalam sumur agar ia tidak menipu orang lain, selain diriku.”
Dikatakan: “Akhlak yang buruk menyempitkan hati pelakunya. Sebab ia tidak memberikan ruang bagi apa pun selain hawa nafsunya sendiri, dan hati menjadi seperti sebua ruangan sempit yang hanya cukup bagi pemiliknya.”
Dikatakan pula: “Akhlak yang baik berarti bahwa engkau tidak peduli siapa pun yang berdiri di sebelahmu dalam shaf ketika shalat.”
Dikatakn juga: “Suatu tanda keburukan akhlak Anda, manakala Anda hanya tertuju pada keburukan akhlak orang lain.”
Rasulullah saw. ditanya: “Apakah yang disebut celaka itu? Beliau menjawab: “Akhlak yang buruk.”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. baha seseorang memohon kepada Rasulullah saw.:
“Wahai Rasulullah! Mohonlah kepada Allah swt. agar membinasakan orang-orang musyrik itu!” Beliau menjawab : “Aku diutus sebagai rahmat, bukan sebagai penyiksa.”
(H.r. Muslim).
Kedermawanan Hati
Alah swt. berfirman:
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)”
(Qs. Al-Hasyr :9).
Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. Rasulullah saw. bersabda:
“Orang-orang yang dermawan dekat dengan Allah swt, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari nerka. Sedangkan orang-orang bakhil jauh dari Allah swt. jauh adari manusia, jauh dari surga dan dekat pada neraka. Orang-orang bodoh yang pemurah lebih disukai Allah swt. ketimbang orang yang tekun ibadat tetapi bakhil.”
(Hr. Tirmidzi, Baihaqi dan Thabrani.).
Tidak ada perbedaan dalam bahasa ilmu pengetahuan antara kata juud dan sakha’. Allah tidak digambarkan dengan sifat sakah’ hanya karena tidak adanya ketentuan pasti dari-Nya. Hakikat murah hati (juud), manakala seseorang tidak merasa keberatan ketika mencurahkan dirinya kepada orang lain.
Sementara sebagian kalangan Sufi, derma (sakha’) adalah tahap pertama, disusul oleh Juud, kemudian memprioritaskan orang lain (itsar). Orang yang memberikan kepada sebagian manusia dan menyisakan untuk sebagian lainnya, ia adalah pemilik sakah’. Sedangkan orang yang menyerahkan lebih banyak miliknya, dan menyisakan sedikit untuk dirinya, ia adalah orang yang memiliki juud. Orang yang berada dalam keadaan sangat membutuhkan, tetapi masih mengutamakan kebutuhan orang lain dengan memberikan miliknya yang hanya cukup untuk hidupnya, itulah sifat itsar.
Saya mendengar dari Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq, bahwa asma’ binti Kharijah al-Fazzary mengatakan: “Aku tidak mau menolak seseorang yang datang meminta kepadaku. Jika ia seorang yang terhormat, aku memberinya untuk menjaga kehormatannya. Jika ia seorang rendahan, ia membuatku mempu menjaga kehormatanku sendiri.”
Dikatakan bahwa Muwarriq al-‘ijly dahulu pintar sekali dalam cara-caranya menunjukkan kebaikan budi kepada sahabat-sahabat dekatnya. Ia biasa meninggalkan uang seribu dirham kepada mereka dan berkata: “Tolong jaga uang ini sampai aku kembali!” Kemudian, ia menulis surat kepada mereka: “Uang itu boleh kalian ambil.”
Dikatakan, seseorang dari Manbij bertemu dengan seseorang dari Madinah, Orang manbij bertanya tentang orang tersebut. “Ia dari mana?” Dikatakan kepadanya bahwa orang itu dari Madinah. “Seseorang dari kota Anda, bernama Hakam bin Abdul Muthalib datang gkepada kami dan membuat kami kaya.”
Orang Madinah itu bertanya: “Bagaimana mungkin?” Ia tidak datang kepada Anda, kecuali sekedar selembar jubah bulu domba!” Orang Manbij itu menjawab: “Ia tidak menjadikan kami kaya harta. Namun ia mengajarkan kepadakami kemurahan hati. Dengan begitu kami lalu saling memberi satu sama lain hingga kami menjadi kaya.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan: “Suatu ketika Ghulam al-Khalil membawa para Sufi di hadapan Khalifah. Sang Khalifah lalu menyuruh agar mereka dipenggal lehernya. Sementara al-Junyad terlindung oleh kedudukannya yang terhormat di lapangan fiqih. IA dapat memberikan fatwa sesuai dengan mazhab Abu Tsur.
Mengenai asy-Syahham, ar-Raqqam, an-Nury dan lain-lainnya, merek itu ditangkap, dan tikar dibentangkan untuk pemenggalan kepala mereka. An-Nury melangkah ke depan dan si Algojo bertanya kepadanya: “Apakah engkau sadar apa yang akan menimpa dirimu?” Ia menjawab: “Ya” Si Algojo bertanya lagi: “Lantas apa yang membuatmu begitu bersemangat tampil ke depan?” Ia menjawab: “Aku ingin agar kawan-kawanku dapat menikmati hidup beberapa saat lagi.”
Si Algojo merasa bingung bercampur heran atas jawaban An-Nury, dan melaporkan hal itu kepada Khaliafah, yang kemudian diteruskan oleh para Sufi itu kepada seorang hakim untuk diperiksa perkaranya. Sang Hakim mengajukan beberapa pertanyaan seputar Fiqih kepada Abul Husain an-Nury, dan dijawabnya semua, lantas ia mengatakan: “Di samping itu, sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang jika mereka berdiri, berdiri bersama Allah, dan apabila bicara, mereka bicara bersama Allah.” Ia terus berbicara dan kata-katanya membuat sang Hakim menangis. Hakim itu lalu mengirim pesan kepada Khalifah: “Jika orang-orang ini dianggap zindiq, maka tidak ada lagi seorang Muslim pun di muka bumi ini.”
Dikisahkan, Ali ibnul Fudhail membeli barang-barang dari penjaja-penjaja terdekat. Seseorang berkata: “Anda akan menghemat uang jika mau pergi ke pasar.” Ia menjawab: “Penjaja-penjaja ini telah datang ke dekat rumah kita denegan harapan dapat menyediaka jasa kepada kita.”
Dikatakan: “Seorang laki-laki mengirimkan seorang budak wanita kepada Jabalah, ketika ia sedang berada bersama murid-muridnya. Ia berkata: “Betapa buruknya bila aku menerima budak ini sementara Anda semua ada di sini. Aku tidak ingin mengisitimewakan salah seorang dari Anda dengan memberikan budak ini, sedangkan Anda semuanya mempunyai hak atas budak itu dan juga atas penghormatanku. Budak ini tidak dapat dibagi-bagi di antara Anda sekalian.” Jumlah mereka sebanyak delapanpuluh orang. Akhirnya Jabalah memerintahkan agar didtangkan seorang budak wanita atau laki-laki untuk masing-masing muridndya itu.”
Dikatakan: “Suatu hari, Ubaydullah bin Abu Bakrah kehausan di tengah perjalanan. Lalu ia meminta air di rumah seorang wanita. Wanita itu mengisi sebuah cangkir untuknya dan berdiri di belakang pintu, seraya berkata: “Menjauhlah dari pintu dan suruhlah salah seorang budakmu untuk mengambil cangkir ini dariku, karena aku adalah seorang wanita Arab, dan budakku telah meninggal dua hari yang lalu!”
Ubaydullah meminum air itu lalu mengatakan kepada budaknya, “Ambilkan uang sepuluh ribu dirham untuknya!.” Wanita itu berseru: “Subhanallah, Anda menghinaku?” Mendengar tanggapan wanita itu, Ubaydullah menyuruh budaknya untuk menyerahkan duapuluh ribu dirham. Lalu wanita itu berkata: “Aku mohon kepada Allah swt. agar Anda dimaafkan.” Ubaydullah berkata lagi, “ Ambilkan tigapuluh ribu untuknya!.” Saat itulah si wanita membanting daun pintu rumahnya dan berteriak: “Anda benar-benar memalukan!” Tatapi Ubaydullah berhasil memberikan kepadanya uang tigapuluh ribu dirham itu, yang juga diterimanya. Sorenya, jumlah pelamarnya telah menjadi berlipat ganda.
Dikatakan: “Kedermawanan hati berarti bertindak pada saat munculnya instink yang pertama.”
Saya mendengar salah seorang murid Abul hasan al-Busyanjy – semoga Allah merahmatinya – menuturkan: “Abul Hasan al-Busyanjy sedang berada di dalam toilet. Ia memanggil salah seorang muridndya dan memerintahkan: “Ambillah baju ini dariku dan berikan kepaa si Fulan!” Seseorang bertanya kepadanya: “Tidak dapatkah Anda menunggu sampai Anda keluar dari toilet?” Ia menjawab: “Aku tidak yakin apakah aku tidak berubah pikiran dan batal memberikan baju ini.”
Qays bin Sa’d bin Ubadah pernah ditanya: “Pernahkah Anda melihat orang yang lebih pemurah dari diri Anda sendiri?” Ia menjawab tegas: “Ya.” Pernah kami berhenti di padang pasir di rumah seorang wanita. Suaminya pulang, dan ia berkata kepadanya: “Engkau punya banyak tamu.” Maka suaminya itu lalu mengambil seekor unta, menyembelihnya, dan memberitahukan, “Ini untuk Anda semua.”. Keesokan hari ia mengambil seekor unta lagi dan mengatakan: “Ini untuk Anda.” Kami berkeberatan: “Tapi unta yang Anda sembelih kemarin itu baru kami makan sedikit saja. “Ia menjawab: “Saya tidak pernah meninggalkan daging basi kepada tamu-tamu saya.”
Kami tinggal di rumah orang itu selam dua atau tiga hari lagi sementara hujan terus menerus turun, dan ia pun terus melakukan hal yang sama. Ketika hendak berangkat meneruskan pejalanan, kami tinggalkan uang seratus dinar di rumahnya dan berkata kepada isterinya: “Mintakan maaf untuk kami kepada suami Anda!” Lalu kami berangkat meneruskan perjalanan. Pada tengah hari tiba-tiba ada teriakan seseorang di belakang kami: “Berhenti wahai gerombolan orang jahat! Kalian semua mau membayar keramah-tamahanku? Lalu ia memaksa kami kembali dan mengatakan: “Anda mengambilnya kembali, atau saya tusuk Anda dengan tommbak saya ini!.” Uang itu kami ambil kembali dan kami pun terus melanjutkan perjalanan.
Kemudian orang itu bersyair:
Jika kau ambil kembali pahala
Karena apa yang telah kuberikan
Maka biarlah kehinaan
Bagi peraihnya.
Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary berkunjung ke rumah salah seorang sahabtnya. Tidak seorang pun yang ada di rumah itu dan pintu rumah dikunci. Ia berkata: “Orang ini seorang Sufi, tapi mengunci rumahnya? Hancurkan saja kuncinya?” Maka meraka pun membongkar kunci rumah itu. Diperintahkannya agar mereka membawa barang-barang yang ditemukan di rumah itu untuk dijual ke pasar. Kemudian mereka mendiami rumah itu.
Ketika si empunya rumah datang, ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian istrinya masuk rumah itu, dan ia masih mempunyai pakaian. Dilemparkannya pakaian itu sambil berucap: “Wahai para sahabt, ini juga bagian dari milik duniawi kami, maka juallah pula!” Suaminya bertanya kepadanya: “Mengapa engkau lebih suka menderita seperti ini?” Si istri menjawab: “Diamah!” Bagi seorang syeikh seperti itu, yang menghormati kita dengan memperlakukan kita penuh keakraban dan yang melaksanakan urusan-urusan kita, juga menyisakan untuk kita sesuatu yang dapat kita hinakan.”
Bisyr ibnul Harits mengatakan: “Menaruh perhatian kepada seorang yang bakhil membuat hati jadi keras.”
Dikatakan, ketika Qays bin Sa’id bin Ubadah jatuh sakit, sahabt-sahabatnya tidak datang menjenguknya, karena itu ia bertanya tentang mereka. Dikatakan kepadanya: “Mereka malu karena hutang-hutangnya kepada Anda. “Ia berteriak: “Semoga Allah melaknat uang yang mencegah seorang saudara mengunjungi saudaranya.!” Qays bin Sa’d lalu mengirim seorang utusan untuk mempermaklumkan bahwa barangsiapa mempunyai hutang kepadanya, hutang itu dihalalkan. Sore itu pintu rumahnya rusak karena desakan orang-orang yang datang mengunjunginya.
Dikatakan kepada Abdullah bin Ja’far, “Anda memberi cukup banyak jika diminta, tetapi Anda menggerutu jika ditentang meskipun sedikit.” Ia menjawab, “Aku memberikan hartaku, tapi aku menggerutu dengan nalarku.”
Diceritakan bahwa Abdullah bin Ja’far pergi menengok salah satu perkebunanya di pedesaan. Di tengah perjalanan, ia berhenti di sebuah kebun kurma suatu kaum dimana seorang budak hitam sedang bekerja. Ketika si budak itu mengeluarkan bekal makanannya, seekor anjing masuk ke dalam kebun itu dan mendatanginya. Budak itu lalu meemparkan sepotong roti, dan anjing itu memakannya. Ia melemparkan sepotong lagi, dan sepotong lagi roti pada anjing itu, yang terus lahap memakannya.
Abdullah bin Ja’far, yang melihat hal itu, bertanya kepada si budak: “Wahai budak, berapa banyak makanan yang engkau terima tiap hari?” Ia menjawab: “Seperti yang anda saksikan adi.” Abdullah bertanya, “Lantas mengapa engkau berikan makananmu pada anjing itu, bukannya engkau makan sendiri.?” Si budak menjelaskan: “Di tempat ini tidak ada anjing. Anjing itu telah datang dari jauh dalam keadaan lapar, dan saya tidak mau mengusirnya.” Abdullah bertanya lagi: “Bagaimana engkau makan hari ini?” Si budak menjawab: “Saya akan berlapar saja hari ini.” Abdullah berkata : “Aku telah dicela orang karena terlalu pemurah! Ternyata budak ini lebih pemurah dariku.” Maka ia lalu membeli kebun kurma itu, sekaligus dengan budak itu dan alat-alat kerjanya, kemudian memerdekakan budak itu dan memberikan kebun itu kepadanya.”
Diceritakan bahwa seorang laki-laki mengunjungi seorang sahabatnya, lalu mengetuk pintu rumah sahabtnya itu. Si sahabat bertanya kepadanya: “Ada apa?” Laki-laki itu menjawab: “Aku punya hutang sebanyak empat ratus dirham yang memberatkan hatiku.” Maka laki-laki itu lalu mengambil uang empatratus dirham dan memberikannya kepada sahabatnya. Setelah itu ia masuk ke dalam sambil menangis. Istrinya bertanya kepadanya: “Mengapa engkau tidak mengjukan alasan kepadanya, bahwa Anda dalam keadaan susah?” Suaminya menjawab: “Aku menangis karena kau tidak melihat kondisi yang menimpanya sehingga terpaksa mengungkapkannya kepadaku.”
Mutharrif asy-Syakhir mengajarkan: “Apabila salah seorang di antaramu membutuhkan sesuatu dariku, hendaklah menyampaikannya melalui pesan tertulis, sebab aku tidak suka melihat hinanya wajah seseoarng yang sangat membutuhkan.”
Diceritakan bahwa seseorang ingin membuat gara-gara terhadap Abdullah bin Abbas. Ia membawa orang-orang tekemuka di kota dan mengatakan kepada mereka bahwa Abdullah telah mengundang mereka ke rumahnya untuk makan siang hari itu juga. Mereka pun pergi ke rumah Abdullah, dan pekarangan rumahnya pun penuh dengan kehadiran mereka. Abdullah bertanya: “Ada apa ini?” Seseorang memberitahukan kepadanya apa yang telah terjadi. Dengan segera Abdullah menyuruh orang untuk membeli buah-buahan dan roti serta memasak makanan. Semunaya itu dikerjakan tepat pada waktunya. Ketika semua makanan telah habis dimakan, ia bertanya kepada para wakilnya,: “Apakah mungkin bagiku untuk menyediakan makanan begini banyaknya setiap hari?” Mereka menjawab: “Ya”. Maka Abdullah pun mengatakan: “Jika demikian, biarlah semua orang ini menjadi tamuku setiap hari.”
Saya mendengar Syeikh Abu Abdurrahman as-Sulamy menuturkan: “Ketika Syeikh Abu Sahl ash-Sha’luky sedang berwudhu di pekarangannya, seorang laki-laki datang meminta sedekah. Abu Sahl tidak membawa sesuatu pun, karenanya ia lalu berkata: “Tunggu sampai aku selesai!” Orang itu pun menunggu. Begitu Abu Sahl selesai, ia berkata kepada orang itu: “Ambillah botol minyak wangi ini dan pergilah!” Orang itu mengambil botol itu lalu pergi. Abu Sahl menunggu sampai ia merasa yakin bahwa orang itu sudah pergi jauh kemudian ia berteriak: “Ada orang mencuri botol minyak wangi!” Orang-orang pun mengejar “si pencuri” tetapi tidak berhasil menyusulnya. Abu Sahl berbuat demikian hanya karena keluarganya sering mengecamnya atas tindakannya yang sering menyerahkan hartanya untuk orang lain.
Syeikh Abu Sahl memberikan jubahnya kepada seorang laki-laki di saat musim dingin. Karena hanya itu satu-satunya jubah milik beliau, maka beliau memakai jubah wanita jika hendak pergi mengajar. Suatu delegasi ulama-ulama terkenal yang terdiri dari wakil-wakil dari setiap bidang ilmu datang dari Persia. Delegasi tersebut mencakup pra fuqaha tekemuka, ahli kalam, ahli nahawu. Sedangkan panglima tentara, yakni Abul Hasan, memerintahkan Abu Sahl untuk menyambut kedatangan mereka. Beliau mengenakan pakaian perang di balik jubah wanita yang dipakainya, lalu menaiki kendaraannya. Sang Panglima berkata: “Ia mengejekku di hdapan seluruh penduduk kota, dengan berkendaraan memakai jubah wanita!” Tetapi Abu Sahl kemudian berdebat dengan seluruh anggota delegasi terssebut, dan berhasil memenangkannya.
Saya juga mendengar Syeikh Abu Abdurrahman as-Sulamy – semoga Allah merahmatinya – mengabarkan bahwa Syeikh Abu Sahl tidak pernah memberikan sedekah kepada siapa pun dengan tangannya sendiri. Bahkan hartanya ia lempar ke tanah agar diambil orang yang membutuhkannya, dan berkata: “Dunia ini bagiku kecil nilainya dibanding kau melihat ke arahnya, sementara tanganku di atas tangan seseorang.” Ia menyitir sabda Rasulullah saw. “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.”
(Hr. Muslim dan Tirmidzi).
Abu Marrtsad – rahimahullah — salah seorang yang murah hati, dan karenanya salah seorang penyair telah memujinya. Beliau mengatakan: “Aku tidak punya sesuatu pun untuk kuberikan kepadamu. Laporkan kepada Hakim, dengan tuduhan bahwa aku berhutang kepadamu sepuluh ribu dirham, untuk ku akui, sehingga hakim itu menahanku. Sebab keluargaku pasti tidak membiarkan diriku ditahan.” Si penyair itu pun menuruti perintahnya dan ia tidak dapat berbuat banyak, kecuali Abu Martsad harus menyerahkan sepuluh ribu dirham agar ia keluar dari tahanan. An Abu Martsad pun keluar setelah ditunaikan hutangnya.
Sorang laki-laki meminta sedikit sedekah kepada Hasan bin Ali bin Abu Thalib r.a. Maka beliau lalu memberi orang itu sebanyak lima puluh ribu dirham dan limaraus dinar. Beliau menyuruh orang itu mencari kuli untuk mengangkut uang itu. Orang itu pun lalu mencari kuli. Kemudain al-Hasan memberikan kepadanya selendangnya, sambil berkata: ”Upah kuli itu, kutanggung juga.” Ketika seorng wanita meminta makok madu kepada Lsyts bin Sa’id, ia menyuruh orang membawa sekantong kulit penuh madu kepada wanita tersebut. Seseorang mengkritik atas tindakannya itu, dan dijawab oleh Layts, “Ia meminta sesuai dengan kebutuhannya, dan aku memberi sesuai dengan kesenanganku.”
Salah seorang Sufi menuturkan: “Aku Shalat Subuh di masjid al-Asy’ats di Kufah, karena aku sedang mencari salah seorang yang berhutang kepada kepadaku. Seusai menunaikan shalat, seseorang meletakkan satu stel pakaian dan sepasang ssandal di hadapan setiap orang yang ada di masjid itu, termasuk juga diriku. Aku bertanya: Apa ini?” Orang-orang menjawa :Al-Asy’ats telah kembali dari Mekkah, dan beliau menyruh hal ini dilakukan kepada seluruh jamaah masjid.”. Aku berkata: “Akan tetapi aku orang luar. Aku datang ke kota ini hanya untuk mencari salah seorang yang berhutang kepadaku.” Mereka berkata: “Hadiah ini untuk semua yang hadir.”
Diceritakan, bahwa menjelang wafat, asy-Syafi’y r,a, memerintahkan : “Perintahkan si Fulan agar memandikan aku!” Namun orang yang dimaksud tidak ada di sana. Ketika ia datang kepadanya dikatakan tentang pesan asy-Syafi’y tersebut. Maka ia minta untuk melihat pembukuan asy-Syafi’y, dan ia menemukan bahwa asy-Syafi’y punya hutang sebanyak tujuh puluh ribu dirham. Orang itu kemudian menyelesesaikan huang itu dan berkaa: “Inilah tugasku memandikan beliau.”
Diceritakan bahwa ketika asy-Syafi’y kembali ke Mekkah dari San’a beliau membawa uang sepuluh ribu dinar. Seseorang mengatakan kepada beliau:Anda harus membeli budak wanita dengan uang itu.” Mendengar itu, beliau lalu memasang sebuah tanda di luar kota Mekkah dan menumpahkan dinar-dinar tersebut. Kepada setiap orang yang datang ke kemah, beliau memberinya segenggam uang. Ketika waktu dhuhur tiba, beliau berdiri dan mengibas-ngibaskan jubah, dan ternyata tidak sekeping yang pun yang tertinggal.
Dikisahka, bahwa as-Sary pergi kelaut pada hari raya, dan bertemu dengan seorang penting. Tetapi as-Sary hanya melihat sekilas saja kepadanya. Seseorang berkaa: “Itu orang penting.” Ia menjawab: “Aku tahu siapa dia, tetapi telah dituturkan bahwa apabila dua orang Muslim berjumpa, maka seratus bagian rahmat Allah dibagikan kepada mereka berdua :sembilan puluh persen untuk orang yang lebih bergembira di antara mereka berdua. Aku ingin agar ia memperoleh bagian yang lebih banyak.
Diceritakan bahwa suatu hari Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib r.a. sedang menangis. Seseorang bertanya kepada beliau: “Apa yang membuat Anda menangis?” Beliau menjawab: “Tidak seorang pun tamu yang datang kepadaku selama seminggu. Aku takut bila Allah swt. telah menghinaku.” Dikatakan bahwa Anas bin Malik r.a. mengatakan: “Zakat atas rumah adalah hendaknya sebuah kamar disediakan di dalamnya untuk tamu.”
Mengenai firman Allah SWT:
“Sudah sampaikah kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan?”
(Qs. Adz-Dzariyat :24).
Yang dimaksud bahwa tamu-tamu yang dimuliakan, karena Ibrahim as. Sendiri yang melayani mereka. Juga dikatakan demikian, karena si tamu seorang mulia dengan sendirinya juga seorang yang mulia.
Ibrahim ibnul Junayd menuturkan: “Ada empat perbuatan yang tidak boleh dihindari oleh seseorang, walaupun ia seorang prnguasa: “Berdiri dari tempat duduknya untuk ayahnya, melayani tamunya, melayani seorang ulama yang pernah menjadi gurunya, dan bertanya tentang apa yang tidak diketahuinya.”
Ibnu Ababs r.a. bekomentar tentang firman Allah SWT:
“Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian.”
(Qs. An-Nuur :61).
Ayat ini bermakna: “Mereka akan merasa berdosa jika di antara mereka makan sendirian. Maka Allah lalu mengizinkan hal itu bagi mereka.” Dikatakan bahwa Abdullah bin Amir bin Kurayz sekali waktu sedang menjamu seorang laki-laki dengan baik. Ketika orang itu hendak berangkat, budak-budak Abdullah menolak membantunya. Ketika ditanya tentang hal ini, Abdullah menjawab: “Mereka enggan membantu orang yang meninggalkan kami.”
Abdullah bin Bakuwayh melantunkan syair al-Muntanabby dalam konteks di atas:
Jika kau tinggalkan kaum
Padahal mereka mampu
Untuk tidak memisahkan dirimu dengan mereka
Maka orang yang berangkat
Kan menjadi susah
Abdullah bin Mubarak berkata: “Kemurahan jiwa dengan tidak menengok milik orang lain lebih baik dari kemurahan hati dalam memberikan milik sendiri.”
Salah seorang Sufi berkata: “Pada suatu hari yang sangat dingin aku pergi ke Bisyr ibnul Harits. Ia telah melepskan sebagian dari pakaiannya, dan menggil kedinginan. Aku bertanya kepadanya: “Wahai Abu Nashr, orang lain mengenakan pakaian tambahan pada hari seperti ini. Mengapa Anda berpakaian begitu tipis?” Ia menjawab: “Aku ingat kepada orang-orang miskin dan keadaan mereka, dan aku tidak punya apa pun untuk diberikan kepada mereka. Maka aku ingin sama-sama menderita seperti halnya mereka, kedinginan.”
Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan: “Kedermawanan hati bukanlah jika orang kaya memberi kepada orang miskin. Kedermawanan hakiki adalah jika orang miskin memberi kepada orang kaya.”
Ghairah
Allah swt. berfirman:
“Katakanlah, Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang lahir ataupun yang batin.”
(Qs. Al-A’raf :33).
Rasulullah saw. telah bersabda:
“Tidak ada yang lebih pencemburu daripada Allah swt.Di antara cemburu-Nya adalah Dia melarang perbuatan keji, baik kekejian yang lahir maupun keji yang batin.”
(Hr. Bukhari – Muslim, Ahmad dan Tirmidzi).
Diriwayat oleh Abu Huraiarah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Allah itu pencemburu dan orang Mukmin juga pencemburu. Cemburu Allah swt. adalah sifat yang muncul bilamana seorang hamba yang beriman melakukan apa yang telah dilarang-Nya.”
(H.r. Bukhari-Muslim dan Tirmidzi).
Cemburu adalah rasa tidak suka jika orang lain memiliki sesuatu. Allah digamabarkan bersifat Ghirah (cemburu), berarti bahwa Allah tidak ridha manakala ada tuhan lain di sisi-Nya, yang sesungguhnya adalah Hak Allah ketika hamba –Nya taat kepadan-Nya.
Diriwayatkan dari as-Sary as-Saqathyketika dibacakan ayat:
“Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat suatu hijab yang tidak dapat ditembus.”
(Qs. Al-Isra’:45).
As-Sary berkata kepada murid-muridnya: “tahukah kamu apakah yang hijab itu? Itu adalah hijab cemburu. Tidak ada yang lebih pencemburu daripada Allah swt.”
Dengan kata-kata: ”Itu adalah hijab cemburu”, maksud as-Sary bahwa Allah swt. tidak memberikan kemampuan kepada orang-orang kafir untuk mengetahui kebenaran agama.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata: “Alah swt. telah mengingatkan beban kehinaan pada kaki orang-orang yang malas dalam beribaddat kepada-Nya. Dia menempatkan mereka pada jarak yang ajuh dari-Nya dan menajdika mereka terlambat lagi dari kedudukan yang dekat kepada-Nya.”
Dalam makna ini mereka, para Sufi bersyair:
Aku pencinta setia kepada yang kucintai, tetapi
Pertolongan mana yang bisa kuperoleh
Dengan buruknya pandangan para tuan?
Kaum Sufi juga mengatakan tentang masalah ini: “Sorang yang sakit tidak terjenguk, dan orang yang sangat mengingini tidaklah diingikan.”
Al-Abbas az-Zauzany mengatakan: “Aku dianugerahi kebaikan dalam permulaan perjalanan ruhaniku. Aku mengetahui apa yang masih tersissa antara aku dan tujuanku. Pada suatu malam aku bermipi tergelincir dari puncak gunung yang ingin kucapai. Aku sangat sedih (ketika bangun). Kemudian aku tertidur lagi, dan mendengar sebuah suara mengatakan: “Wahai Abbas, Allah tidak menghendaki engkau mencapai tujuan yang engku upayakan. Tetapi Dia telah membawakan hikmah kepada lidahmu.” Ketika aku bangun pagi aku benar-benar telah dianugerahi ilham ucapan-ucapan yang penuh hikmah.”
Syeikh Abi Ali ad-Daqqaq menuturkan: “Suatu ketika ada seorang syeikh yang mengalami kondisi ruhani dan saat-saat bersama Allah swt. Setelah itu ia tidak tampak beberapa lama di antara orang-orang miskin. Ketika muncul kembali, tidak dalam keadaan sebagaimana sebelumnya, mereka bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. Ia menjawab : “Duh, hijab telah terjadi.”
Selama dalam majelis, tiba-tiba terjadi sesuatu yang merasuki hati mereka yang hadir, Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq biasa berkata: “Ini adalah kecemburuan Allah swt. Dia tidak menghendaki mereka mengalami nuansa lebih dari saat yang jernih ini.”
Dalam hal ini, para Sufi bersyair berikut:
Juwita berhasrat datang kepada kami
Sampai ketika ia memandang cermin
Keindahan wajahnya
Telah menawan dirinya.
Sebagian Sufi ditanya: “Apakah engkau ingin melihat-Nya?” ia amenjawab: “Tidak” Ia ditanya: “Mengapa?” Ia menjawab: “Aku ingin menyucikan Keindahan yang begitu agung dari segala pandangan seperti prsepsiku.”
Para Sufi bersyair:
Aku iri kepada mataku yang memandangmu
Hingga kutundukkan ketika aku melihatmu
Kulihat dirimu menampakkan keindahan-keindahan
Yang membuatku terpesona
Aku cemburu
Darimu
Padamu.
Asy-Syibly pernah ditanya: “Kapankah engkau istirahat?” Ia menjawab: “Jika kudapati baha tiada lagi orang berdzikir kepada-Nya.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq telah mengomentari sabda Nabi saw. ketika beliau baru saja menyelesaikan akad jual beli seekor kuda dengan seorang Badui. Orang Badui itu menuntut agar penjualan dibaalkan, maka Nabi membatalkannya. Kemudian si Badui berkata: “Semoga Allah swt. memberimu umur panjang. Dari golong apa engkau?” Nabi menjawab: “Seorang laki-laki dari suku Quraisy.” Salah seorang sahabat yag hadir mencela si Badui: “Kekuarang ajaran mana yang lebih besar daripada tidak mengenali Nabimu?” Syeikh Abu Ali berkata: “Nabi saw. bersabda: “Sorang glaki-laki dari suku Quraisy.” Itu adalah karena cmeburu. Jika tidak, tentu beliau akan menjawab kepda siapapun yang bertanya kepada beliau, siapa diri belaiu yang sebenarnya. Kemudian Allah swt. menjadikan sahabt tersebut mengungkapkan identitas beliau kepada si Badui dengan bertanya: “Kekurang ajaran mana yang lebih besar dariapda tidak mengenali Nabimu?”
Sebagian Sufi berkata: “Cemburu adalah sifat orang-orang pemula. Orang yang sudah mencapai kemanunggalan tidaklah mengalami cemburu, tidak pula memiliki predikat ikhtiar, tidak pula peduli atas apa yang terjadi di kerajaan. Allah swt. sematalah yang lebih utama dari segalanya, dalam segala ketentuan yang dikehendaki-Nya.”
Sa’id bin Salam al-Maghriby mengatakan: “Cemburu adalah amal para murid. Sedangkan mereka yang telah mencapai hakikat kebenaran, tidak ada rasa cemburu.”
Dulaf asy-Syibly menjelaskan: “Ada dua macam cemburu; Cemburu manusia satu sama lain dan cemburu Allah terhadap hati manusia.” Diteaskannya juga: “Cemburu Allah menyangkut nafas manusia, jika nafs itu dihembuskan untuk selain Alalh swt.”
Seharusnya dikatakan: Ada dua macam cemburu: Pertama cemburu Allah kepada manusia, artinya Dia tidak ingin ada sesuatu yang melimpahi makhluk. Dan kedua, cemburu hamba terhadap Allah swt. berarti penolakannya untuk mengabdikan keadaan-keadaan atau nafasnya kepada selain Allah.” Karenanya tidak dapat dikatakan :Aku cemburu kepada Allah swt.” Tapi hendaklah mengatakan: Aku cemburu demi Allah swt.” Cemburu kepada Allah swt, adalah kebodohan dan mungkin dapat meninggalkan agama. Tetapi cemburu demi Allah, melahirkan pengagungan hak-Nya dan penjernihan amal-amal kebajikan kepada-Nya.
Ketahuilah, bahwa Sunnatullah atas wali-wali-Nya adalah – jika mereka menemukan kepuasan pada selain Allah, mendengarkan kepada selain Allah, atau memperbolehkan yang selain Allah untuk bersemayam dalam hati mereka, maka hal itu akan menimbulkan kegelisahan dalam hati mereka – Allah bagitu cemburu akan hati mereka hingga Dia mengembalikan mereka kepada Diri-Nya, dalam keadaan kosong dari semua hal lain yang memberikan kepuasan kepada mereka, dari semua yang mereka pedulikan dan dari semua yang mereka perbolehkan bersemayam di hati mereka. Sebagaimana Nabi Adam as.
Ketika hatinya tersirat keinginan hidup abadi di surga, justru sebaliknya beliau dikeluarkan dari surga. Ini juga terjadi kepada Ibrahim as. Di saat keberadaan Ismail membuat beliau bangga dan kagum, Allah memerintahkan untuk menyembelihnya, sampai Ismail keluar dari dalam hati Ibrahim. “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipis (nya) (untuk dikorbankan)” (Qs. Ash-Shaffaat :103), dan Ibrahim telah menyucikan batinnya melalui perintah-Nya, lalu Allah menggantikan dengan domba.
Muhammad bin Hissan menuturkan: “Sekali waktu, ketika aku sedang mengelilingi pegunungan Libanon, seorang pemuda datang kepadaku. Tubuhnya telah terbakar oleh badai pasir dan anin, Ketika melihatku, ia berpaling dan lari. Aku mengikutinya dan berkata: Berilah aku sepatah kata nasihat!.” Ia menjawab: “Waspadalah, karena Dia pecemburu. Dia tidak mau menemukan sesuatu selainDiri-Nya dalam hati hamba-Nya.”
An-Nashr Abadzy berkata: “Alalh swt. adalah Pencemburu. Salah satu tanda cemburu-Nya adalah bahwa Dia tidak menjadikan jalan menuju Diri-Nya selain Dari-Nya sendiri.”
Diriwayatkan bahwa Alalh swt. menyampaikan wahyu kepada sala seorang Nabi-Nya: “Si Fulan membutuhkan Aku dan Aku pun membutuhkannya. Jika ia memenuhi kebutuhan-Ku, Aku pun akan memenuhi kebutuhannya.” Nabi tersebut – semoga Allah melimpahkan keselamatan kepadanya – bertanya dalam munajatnya: “Wahai Tuhanku, abagaimana mungkin Engkau membutuhkan sesuatu?” Allah menjawab: “Ia telah menemukan ketenangan selain Aku. Maka hendaknya ia mengosongkan hatinya. Aku akan memenuhi kebutuhannya.”
Diceritakan bahwa Abu Yazid al-Bisthamy bermimpi melihat sekelompok bidadari. Ia memandang mereka, sehingga beberapa hari waktunya terbengkelai. Kemudian ia bermimpi melihat mereka lagi. Tetapi kali ini ia tidak menoleh kepada mereka, seraya berkata: Kalian semua mengalihkan perhatianku.”
Dikatakan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah jatuh sakit paa suatu hari, dan seseorang bertanya tentang sebab sakitnya. Ia menjawab: “Karena aku memalingkan hatiku ke surga, maka Allah mendidikku dan bagi-Nya berhak menegcamku. Aku tidak akan melakukannya lagi.”
Diriwayatkan bahwa as-Sary as-Saqathy mengabarkan: “Satu ketika aku sedang mencari salah seorang sahabatku. Aku menjelajahi beberapa gunung dan bertemu dengan segerombolan orang yang semuanya berpenyakit, buta atau lumpuh. Ketika aku bertanya kepada mereka apa yang sedang mereka kerjakan di temepat itu, mereka menjawab: “Kami diberitahu bahwa di sini tinggal seorang laki-laki yang keluar (dari gua) sekali setahun. Jika ia berdoa untuk orang banyak, mereka akan sembuh.” Aku lalu menunggu sampai orang itu keluar. Ia berdoa untuk orang-orang itu dan mereka pun sembuh. Aku mengikutinya, datang ke dekatnya dan bertanya: “Apakah obat untuk penyakit batinku? Ia menjawab: “Wahai Sary, pergilah dariku, agar Alalh swt. Yang Pencemburu, tidak melihatmu mencari ketenangan dari selain Dia. Itu akkan merendahkan derajatmu di sisi-Nya.”
Sisi lain kecemburuan adalah, bahwa sebagian orang cemburu ketika melihat orang lain berdzikir kepada-Nya dengan alpa sehingga tidak mungkin rasanya memandang mereka, yang membuatnya menderita.
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaqberkomentar tentang kejadian ketika seorang badui masuk ke dalam masjid Nabi dan kencing. Para sahabat berdatangan untuk mengeluarkan orang itu. Abu Ali mengatakan: “Orang Badui itu berperilaku buruk sekali, tetapi justru rasa malu justru menimpa para sahabat. Begitu juga halnya dengan seorang hamba. Apabila ia mengetahui kemahakuasaan dan kebesaran Allah swt. maka ia akan marah manakala mendengar seseorang berdzikir kepada Allah dengan ceroboh, atau manakala melihat seseorang melakukan ketaatan ibadat tanpa benar-benar disertai pernghormatan kepada-Nya.”
Diceritkan, bahwa salah seorang putra Abu Bakr asy-Syibly yang bernama Abul Hasan, meinggal dunia. Sebagai tanda berkabung, ibunya memotong seluruh rambutnya. Asy-Syibly pergi ke rumah pemandian dan mencukur jenggotnya hingga licin. Setiap orang yang datang untuk mengucapkan dukacita bertanya: “Apa yag telah engkau lakukan, wahai Abu Bakr?” Ia menjawab: “Aku mengikuti contoh yang diberikan istriku.” Salah seorang di antara mereka bertanya lagi: “Katakanlah kepadaku, wahai Abu Bakr, mengapa Anda melakukan hal ini?” Ia menjawab: “Aku tahu bahwa orang-orang akan datang untuk menyatakan belassungkawa dengan menyebut nama Allah secara sembrono dengan mengatakan: “Semoga Allah memberikan ganti kepadamu.” Aku mengorbankan jenggotku untuk menebus kesembronoan mereka dalam meneyebut-nyebut nama Allah swt.”
Ketika an-Nury mendengar seseorang menyerukan adzan, ia berteriak: “Bohong dan racun!” Sebaliknya ketika mendengar seekor anjing menggonggong, ia berkata: “Iya, aku siap melayanimu!.”
Seseorang berkomentar: “Ini adalah bid’ah. Ia mengatakan kepada seorang beriman yang bersaksi atas tauhid, “Bohong dan racun.” Sementara ia mengatakan, “Ya siap melayanimu.” Pada anjing yang menggonggong” Ketika ditanya alasan ucapannya itu, an-Nury menjelaskan: “Orang itu menyebut-nyebut nama Allah swt. dengan penuh kealpaan, sedangkan anjing itu, Allah swt. telah berfirman: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah.”
(Qs. Al-Isra :44).
Suatu ketika asy-Syibly menyerukan adzan. Usai mengucapkan dua kalimah syahadat, ia berkata: “Seandainya Engkau tidak memerintahkan aku menyebut demikian, niscaya aku tidak akan menyebutkan yang lain bersama dengan-Mu.
B Suatu ketika seseorang mendengar seorang lainnya berseru: “Maha Agung Allah.” Ia menjawab: “Aku lebih ska mengagungkan-Nya, dengan cara tidak seperti itu.”
Abul Hasan al-Khazafany berkata: “Laa ilaaha illallaah dari dalam kalbu, dan Muhammadarrasuulullaah dari telingaku, maka orang yang hanya melihat perkataan ini pada tekstualnya saja akan menyangka bahwa ia telah menghina syariat. Namun sesungguhnya tidaklah demikian. Sebab, bahaya bagi tipu daya, justru ketika disandarkan pada Kekuasaan Allah swt. sementara justru menghina dalam pelaksanaannya.”
Kewalian
Allah swt. berfirman:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(Qs. Ynus : 62).
Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Allah swt. berfirman: “Barangsiapa yang menyakiri seorang wali, berarti telah memaklumkan perang terhadap-Ku melawan dia. Seorang hamaba bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Kuperintahkan kepadanya. Dia senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya. Tak pernah Aku merasa ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keragguanku mencabut nyawa seorang hamba-Ku yang beriman, karena dia tidak menyukai kematian dan Aku tak suka menyakiti hatinya tetapi maut itu adalah sesuatu yang tak bisa dihindarkan!.”
(H.r. Ahmad, Hakim dan Tirmidzi).
Kata wali mempunyai dua makna. Yang pertama berasal dari bentuk fa’iil (subyek) dalam pengertian maf’ul (obyek). Artinya orang yang diambil alih kekuasaannya oleh Allah swt. Sebagaimana telah difirmankan oleh-Nya: “…… dan Dia mengambil alih urusan (yatawalla) orang-orang saleh.” (Qs. Al-A’raf :196). Sejenakpun si wali tidak mengurusi dirinya.
Arti yang kedua berasal dari bentuk fa’iil dalam pengertian penekanan (mubalaghah) dari faa’il. Yaitu orang yang secara aktif melaksanakan ibadat kepada Allah dan mematuhi-Nya secara terus menerus tanpa diselingi kemaksiatan. Kedua arti ini mesti ada pada seorang wali untuk bisa dianggap sebagai wali yang sebenarnya, dengan menegakkan hak-hak Allah swt. atas dirinya sepenuhnya, disamping perlindungan Allah swt. padanya, di saat senang maupun susah.
Salah satu persayaratan seorang wali adalah bahwa Allah melindunginya dari mengulangi dosa-dosa (mahfudz), seperti halnya salah satu persyaratan seorang Nabi adalah bahwa dia terjaga dari segala dosa (ma’shum). Sipa pun yang berbuat dengan cara yang menyimpang dari stariat Allah swt. berarti telah tertipu.
Suatu ketika Abu Yazid al-Bisthamy berangkat untuk mencari seseorang yang oleh orang-orang lain digambarkan sebagai seorang wali. Ketika sampai ke masjid orang tersebut, dia lalu duduk dan menunggu orang tersebut keluar. Orang itu pun keluar setelah meludah di dalam masjsid. Abu Yazid pun pergi begitu saja tanpa memberi salam kepadanya, dan berkata: “Inilah orang yang tak bisa dipercaya untuk melaksanakan adab yang benar seperti dinyatakan dalam hukum Allah. Bagaimana mungkin dia bisa diandalkan untuk menjaga rahasia-rahasia Allah swt.?”
Terdapat ketidakpercayaan di kalangan kaum Sufi mengenai apakah diperbolehkan bagi seseorang untuk menyadari bahwa dirinya adalah seorang wali atau bukan. Sebagian mereka mengatakan: “Hal itu tidak didperbolehkan. Sang wali harus selalu instropeksi dirinya dengan pandangan penuh hina. Jika suatu karamah terjadi melalui dirinya, dia merasa takut jika keadaan akhirnya berlawanan dengan keadaan sekarang.” Para Sufi yang berpendapat seperti ini menjadikan syarat kewalian, harus selaras dengan keteguhannya hingga akhir hayat.
Akan tetapi, sebagian sufi mengatakan: “Boleh saja seorang wali mengetahui bahwa dirinya adalah wali, dan kesetiaan pada kewalian sampai akhir hayat sang wali bukanlah persyaratan untuk mencapai derajat kewalian di saat ini.”
Jika kesetiaan seperti itu merupakan prasyarat untuk mencapai derajat kewalian, bahwa seorang wali akan dianugerahi suatu karamah tertentu yang dengannya Allah memberitahukan kepadaanya mengenai kepastian keadan akhirnya. Sebab, kepercayaan terhadap karamah seorang wali adalah wajib. Yakni, walaupun ia dipisahkan rasa takut akan keadaan akhirnya, namun sikapnya mengagungkan dan memahabessarkan bisa meningkatkan kondisi batin secara lebih efektif daripada banyaknya rasa takut itu sendiri.
Ketika Nabi saw. bersabda: “Sepuluh orang sahabtku akan berada di surga.”
Maka sepuluh orang itu sangat percaya kepada sabda Rasulullah saw. dan mengetahui kepastian nasib mereka. Hal ini tidaklah membuat cacat keadaan mereka. Sebab di antara syarat sahnya memahami secara benar mengenai kenabian menuntut pemahaman mengenai definisi mukjizat, di samping itu juga pengetahuan tentang hakikat karamah. Karena itu tidaklah mungkin bagi seorang wali, manakala dia menyaksikan suatu karamah terjadi di depan matanya, tidak mungkin ia tidak membedakan antara karamah dan lainnya.
Jika menyaksikan hal seperti itu, sang wali mengetahui bahwa dia berada di jalan yang benar.
B Sang wali juga diperkenankan mengetahui realita yang akan datang dengan tetap konsisten pada kekinian perilakunya. Dianugerahi pengetahuan ini sendiri adalah suatu karamah. Ajaran tentang karamah wali adalah benar, sebagaimana dipersaksikan oleh banyak riwayat Sufi. Di antara syeikh yang menyapakati hal ini dan pernah saya jumpai adalah Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq.
Ibrahim bin Adham pernah bertanya kepada seseorang: “Apakah engkau ingin menjadi wali Allah>” Dia menjawab: “Ya” Ibrahim bin Adham lalu berkata: “Kalau begitu janganlah engkau menginginkan harta kekayaan duniawi ataupun ukhrowi. Kosongkanlah dirimu untuk Allah swt. semata. Palingkanlah mukamu kepada-Nya agar Dia berpaling kepadamu dan menjadikanmu wali-Nya.”
Yahya bin Mu’adz menggambarkan para wali sebagai berikut: “Mereka adalah hamba-hamba yang berpakaian kesukacitaan jiwa setelah mengalami penderitaan, dan yang memeluk ruhani setelah mujahadah ketika mereka mencapai tahapan kewalian.”
Abu Yazid al-Bisthamy mengatakan: “Wali-wali Allah adalah pengantin-pengantin-Nya, dan tak seorang pun yang boleh melihat para pengantin selain mereka yang termasuk dalam keluarganya. Mereka ditabiri dalam ruang khusus di hadirat-Nya oleh kesukacitaan jiwa (uns). Tak seorang pun yang melihat mereka, baik di dunia ini maupun di akhirat.”
Saya mendengar Abu Bakr ash-Shaidalany, salah seorang yang saleh menuturkan: “Suatu ketika aku berulangkali memperbaiki batu nisan makam Abu Bakr at.Thamastany di pekuburan al-Hirah dan mengukir namanya pada nisan itu. Namun tiba-tiba digali dan dicuri orang meskipun makam-makam yang lain tidak. Karena bingung menghadapi hal ini, aku bertanya kepda Abu Ali ad-Daqqaq, yang kemudian menjelaskan kepadaku: “Syeikh itu lebih suka tidak dikenal orang di dunia ini, tapi engkau ingin memberinya batu nisan yang akan memperbaiki kenangan kepadanya. Allah swt. tidak ingin kecuali tetap menyembunyikannya sebagaimana keadaan dirinya yang lebih disukainya waktu hidupnya.”
Sa’id bin Salam al-Maghriby mengatakan: “Kadang-kadang seorang wali termasyhur ke mana-mana, namun ia tidak akan tergoda oleh kemasyhurannya itu.”
An-Nashr Abadzy berkata: “Para wali tidak mengajukan tuntutan mereka justru merasa hina dan tersembunyi.” Dia juga mengatakan: “Pangkal perjalanan para wali adalah langkah pertama para Nabi.”
Sahl bin Abdullah mengatakan: “Wali adalah dia yang selalu melakukan perbuatannya selaras dengan Allah swt.”
Yahya bin Mu’adz menyatakan: “Seorang wali berbuat sesuatu tidak demi riya’, tidak pula munafik. Betapa sedikitnya sahabat-sahabat seseorang yang berwatak seperti itu!.”
Abu Ali al-Juzajany berkata: “Seorang wali adalah yang fana’ keadaannya namun tetap dalam musyahadah akan Allah swt. Allah mengambil alih urusan-urusannya hingga, dengan pengarahan itu, cahaya kewalian melimpah. Dia tidak tahu apa tentang ddirinya sendiri, tak ada tempat berpijak selain Allah swt.”
Abu Yazid mengabarkan: ”Jatah para wali yang sudah ditentukan berasal dari empat Asma Allah. Masing-masing kelompok wali berbuat sesuai dengan salah satu Asma tersebut: Al-Awwal (Yang Terdahulu), Al-Akhir (Yang Akhir), Adz-Dzahir (Yang lahir) dan Al-Bathin (Yang batin). Manakala seorang Wlai fana’ dari nama-nama tersebut setelah memakainya, maka dialah manusia kamil yang sempurna.
Wali yang jatahnya berasal dari Asma Allah Adz-Dzahir akan menyaksikan kekuasaan-Nya Wali yag mendapatkan bagian dari Al-Bathin, akan menyaksikan hal-hal yang mengalir dalam rahasia batin dari cahaya-Nya. Wali yang bagiannya dari al-Awwal disebutkan dengan masa lampau; Wali yang namanya berasal dari al-Akhir akan berhubungan dengan masa yang akan datang. Masing-masing diberi keterbukaan menurut kemampuannya, kecuali wali yang telah dipilih oleh Alalh swt. dan dipelihara untuk diri-Nya.”
Kata-kata Abu Yazid ini menunjukkan kelompok terpilih di antara hamba-hamba Allah derajatnya lebih tinggi dari bagian-bagian ini, tidak hanya sibuk dengan masa depan, atau pun masa lalu dalam benaknya, juga bukan karena jalan-jalan ruhani yang telah dilewatinya. Demikian keadaan ruhani mereka yang telah mencapai hakikat; mereka terhapus dari sifat-sifat makhluk.
Seperti difirmankan Allah SWT:
“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur.”
(Qs. Al-Kahfi :18).
Yahyan bin Mu’adz mengatakan: “Seorang wali adalah wewangian Allah di bumi, yang dicium banunya oleh pafa shiddiqin, hingga bau itu menyentuh kalbunya, smapai mereka terbelenggu rindu pada Tuhannya. Ibarat mereka senantiasa bertambah menurut derajat akhlaknya.
Muhammad al-Wasithy ditanya: “Bagaimana seorang wali dibesarkan dalam kewaliannya?” Dia menjawab: “Pada awalnya, dia dibesarkan dengan ibdadatnya. Untuk mencapai kematangannya, dia dibesarkan dengan tabir melalui kelembutan-Nya. Kemudian Dia mengembalikan ke dalam sifat-sifatnya yang terddahulu dan akhirnya Dia menjadikannya menikmati rasa ketegauhannya dalam waktu-waktunya.”
Dikatakan: “Tanda kewalian ada tiga: Disibukkan dengan Allah swt, dia lari kepada Allah swt, dan dia hanya bercita-cita kepada Allah swt.”
Alh-Kharraz berkata: “Jika Allah swt. berkehendak mengangkat salah seorang hamba-Nya menjadi wali, maka Dia akan membuka baginya pintu gerbang dzikir kepada-Nya. Jia dia telah merasakan manisnya dzikir, maka Dia akan membukakan baginya pintu kedekatan. Lantas dinaikan ke atas kesukacitaan ruhani. Kemudian dia ditempatkan-Nya di atas tahta tauhid. Kemudian dibukakan tabir dan dimasukan ke dalam rumah Ketunggalan.
Disibakkan baginya Keagungan dan Kebesaran Ilahi. Manakala matanya memandang Kebesaran dan Keagungan, ia tetap tanpa dirinya. Pada saat seperti itu si hamba menjadi fana’. Setelah itu ia akan berada di dalam perlindungan Allah swt, bebas dari keccenderungan dirinya sendiri.”
Abu Turab an-Nakhsyaby mengatakan: “Manakala hati seorang menjadi terbiasa berpaling dari Allah swt. maka kejadian itu diketahui oleh para wali Allah swt.”
Dikatakan: “Salah sifat seorang wali adalah bahwa dia tak punya rasa takut, sebab takut adalah suatu keadaan yang dibenci yang menempati di masa datang. Atau menunggu kekasih yang hilang di masa lalu. Sedangkan wali adalah anak waktunya, tak ada gambaran di depan hingga ia harus takut, atau tak ada harapan, karena harapan itu sendiri adalah menunggu yang tercnta untuk datang, atau bahkan yang dibenci kelak terbuka kedoknya. Hal itu juga berada di luar lingkup masa kini. Sang wali juga tak pernah merasa sedih, sebab sedih adalah penderitaan dalam waktu. Bagaimana mungkin orang yang telah merasakan cahaya ridha dan tentramnya selaras dengan-Nya akan tertimpa kesedihan?
Allah swt. berfirman:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran pada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(Qs. Yunus :62).
Do’a
Allah swt. berfirman:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan dalam kerahasiaan.”
(Qs. A-A’raf :55).
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.”
(Qs. Al-Mu’min :60).
Rasulullah saw. telah bersabda:
“Doa adalah inti ibadat.”
(H.r. Tirmidzi, dari Anans bin Malik).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata: “Doa adalah kunci bagi setiap kebutuhan. Doa adalah tempat beristirahat bagi mereka yang membutuhkan, tempat berteduh bagi yang terhimpit, kelegaan bagi perindu.”
B Allah ”Mereka menggenggamkan tangannya.”
(Qs. At-Taubah :67).
Ditafsirka bahwa ayat ini bermakna: “Mereka tidak mengangkat tangan mereka dengan terbuka untuk berdoa kepada kami.” Sahl bin Abdullah menuturkan: “Percayakanlah rahasai-rahasiamu kepada-Ku. Kalau tidak, maka melihatlah kepada-Ku, kalau tidak, maka dengarkanlah Aku, Kalau tidak, maka menunggulah di pintu-Ku. Jika tak satu pun dari ini semua yang engkau lakukan, ketakanlah kepada-Ku apa kebutuhan-mu.”
Sahl juga berkata: “Doa yang paling dekat untuk dikabulkan dalah doa seketika.” Yang maksudnya adalah doa yang terpaksa dipanjatkan oleh seseorang dikarenakan kebutuhannya yang mendesak terhadap apa yang didoakannya.
Abu Abdullah al-Makanisy berkata: “Aku sedang bersama al-Junayd ketika seorang wanita datang dan meminta kepadanya: “Berdoalah untukku agar Allah mengembalikan anakku kepadaku, karena dia telah hilang.” Al-Junayd mengatakan kepadanya: “Pergilah, dan bersabarlah.” Kemudian wanita itu berlalu, kemudian kembali lagi meminta al-Junayd agar beroda lagi. Al-Junayd menjawab: “Pergilah dan bersabarlah.”
Hal ini berlangsung berkali-kali, dan setiap kali al-Junayd mengatakan agar wanita itu bersabar. Akhirnya wanita itu berkata: “Kesabaranku telah habis. Sudah tidak ada lagi sisa kesabaranku.” Al-Junayd menjawab: “Jika demikian halnya, pulanglah sekarang, sebab anakmu telah kembali.” Wanita itu pun pulang, dan menemukan anaknya. Dia kembali kepada al-Junayd: “Bagaimana engkau bisa tahu?” Dia menjawab: “Allah swt. telah berfirman:
“Atau siapakah yang memperkenan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.”
(Qs. an-Naml: 62).”
Orang berbeda pendapat mengenai mana yag lebih baik : Berdoa atau berdiam diri dan bersikap ridha. Di antara mereka ada sebagian yang berekata:
“Doa adalah otak ibadat.” Adalah lebih baik melaksanakan apa pun yang merupakan amal ibadat daripada melewatkannya. Di samping itu, berdoa adalah hak Tuhan atas manusia. Kalaupun Dia tidak mengabulkan doa si hamba dan si hamba tidak memperoleh manfaat dengan doa-nya, namun sang hamba telah melaksanakan hak Tuhannya, sebab doa adalah ungkapan lahiriah kebutuhan penghambaan.”
Abu hazim al-A’raj berkata: “Dihalangi berdoa adalah lebih menyedihkan hatiku daripada terhalangi tidak dikabulkan.”
,B>R Ada orang lain yang menegaskan: “Diam dan tidak berbuat apa-apa dalam menjalani ketetapan Tuhan adalah lebih sempurna daripada berdoa. Bersikap ridha atas apa pun yang dipilih Allah untuk kita adalah lebih utama. Sehubungan dengan alasan ini, al-Wasithy mengatakan: “Memilih apa yang telah ditetapkan bagimu dalam zaman azali adalah lebih baik bagimu daripada menentang kedaan yang ada sekarang.”
Nabi saw. bersabda: “Allah swt. berfirman dalam hadits qudsi: “Aku memberi kepada orang yang terlalu sibuk mengingat-Ku hingga tak sempat berdoa, lebih banyak daripada yang Ku-berikan kepada mereka yang berdoa”.
Ada kelompk kaum yang berkata: “Si hamba harus sberdoa dengan lidahnya, sementara pada saat yang sama dia juga bersikap ridha, dan dengan demikian menggabungkan keduanya itu.”
Pendapat yang lebih utama dalam hal ini adalah mengatakan bahwa waktu dan situasi itu berbeda-beda. Dala situasi tertentu, doa adalah lebih baik daripada diam, yaitu sebagai perilaku adab seorang hamba. Sementara dalam keadaan alin, berdiam diri adalah lebih baik daripada doa, yaitu sebagai alasan etika pula. Ini hanya bisa diketahui dalam waktu, karena pengetahuan mengenai waktu, jika seseorang mendapati hatinya condong untuk untuk berdoa, maka berdoa adalah paling baik. Jika dia mendapati hatinya condong kepada diam diri, maka berdiam diri lebih baik.
Benar juga dikatakan bahwa tidaklah patut bagi si hamba untuk tidak mengabaikan penyaksian terhadap Tuhannya Yang Maha Luhur ketika berdoa. Dia juga harus memberikan perhatian cermat kepada keadaan berdoanya, maka berdoa adalah paling baik baginya. Jika ia mengalami semacam kendala dan hatinya merasa sempit ketika berdoa, maka yang paling baik baginya adalah meninggalkan berdoa pada saat itu. Jika dia tidak mengalamami yang manapun dari kedua hal ini, maka terus berdoa atau pun meninggalkannya adalah sama saja baiknya. Jika kepeduliannya yang utama adalah pada keadaan ma’rifat dan berdiam diri, maka menghindari berdoa adalah lebih baik baginya. Dalam soal-soal yang menyangkut nasib kaum Muslimin atau yang berkaitan dengan kewajiban seseorang terhadap Allah, maka berdoa adalah lebih baik daripada tidak, tapi dalam perkara-perkara yang menyangkut kebutuhan diri sendiri, maka berdiam diri adalah lebih baik.
Dalam sebuah hadis disebutkan: “Apabila seorang hamba yang dicintai Allah berdoa, maka Allah berfirman: “Wahai Jibril, tundalah memenuhi kebutuhan hamba-Ku itu, karena Aku senang mendengarkan suaranya.” Apabila seseorang yang tidak disukai Allah beroda, Dia berfirman: “Wahai Jibril, penuhilah kebutuhan hamba-Ku itu, karena Aku tak suka mendengar suaranya.”
Diceritakan bahwa Yahya bin Sa’id al-Waththan bermimpi melihat Allah swt. dan ia berkata: “Wahai Tuhanku, betapa banyak kami telah beroda kepadamu, tapi Engkau tidak mengabulkan doa kami!.” Dia menjawab: “Wahai Yahya, itu karena Aku senang mendengarkan suaramu.”
Nabi saw. menjelaskan:
“Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, apabila seseorang yang dimurkai Allah berdoa, Dia akan menolaknya. Lalu orang itu berdoa lagi, akhirnya Allah swt. berfirman kepada para malaikat-Nya : “Hamba-Ku menolak untuk beroda kepada selain pada-Ku, maka Aku pun mengabulkan doanya.”
(H.r. Ali ra. Dan dikeluarkan oleh al-Hakim).
Al-Hasan meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. yang menuturkan: “Pada masa Nabi saw. ada seorang laki-laki yang berdagang antara Syam dan Madinah serta dari Madinah ke Syam. Dia biasa bepergian, tanpa begabung dengan kafilah-kafilah demi tawakkal kepada Allah swt. Sekali waktu, ketika dia bepergian dari Syam ke Madinah, seorang penyamun mencegatnya dan berkata kepadanya: “Berhenti!” Pedagang itu pun berhenti dan berkata kepada si penyamun: “Ambillah barang-barangku tapi jangan kau rintangi jalanku!” Si penyamun menjawab: “Urusan harta bukan urusanku, tapi dirimulah yang kukehendaki.” Maka pedagang itu menjawab: “Apa yang kau kehendaki dariku, bukankah urusanmu itu hartaku?” Ambillah abrang-barang itu dan enyahlah!>” Si penyamun mengulangi apa yang telah dikatakannya. Si pedagang berkata : “Tunggulah sampai aku berwudhu dan berdoa kepada Tuhanku.” Maka si pedagang pun bangkit, berwudhu, lalu shalat empat rakaat. Setelah itu dia mengangkat tangannya ke langit dan berdoa
“Wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Penyayang, Wahai pemilik ‘Arasy yang Agung, wahai Yang dari-Nya segala sesuatu berasal dan kepada-Nya sesuatu kembali, Wahai Yang Maha melakukan apa yang dikehendaki-Nya, aku memohon kepada-Mu dengan cahaya Wajah-Mu yang memenuhi segenap penjuru ‘Arasy-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan kekuasaan yang dengannya Engkau memerintah makhluk-Mu, dan dengan kasih sayang-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Maha Penolong, tolonglah aku.!.
Diucapkannya doa itu tiga kali. Ketika ia selesai berdoa, tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda yang berwarna abu-abu dan berpakaian hijau dengan memegang tombak yang terbuat dari cahaya. Ketika si penyamun melihat si penegndara kuda itu, ditinggalkannya si pedagang dan disongsongnya si pengendara kuda itu. Ketika sudah dekat, si penunggang kuda itu menyerang si penyamun sehingga si penyamun terlempar dari atas kudanya. Kemudian penunggang kuda mendatangi si pedagang dan memerintahkan: “Bangkit dan bunuhlah dia!” Namun si pedagang itu balik berkata: “Siapa Anda?” Aku tak pernah membunuh seseorang, dan diriku tak layak membunuhnya.”
Lalu penunggang kuda itu menuju si penyamun langsung membunuhnya. Kemudian mendatangi si pedagang, sambil memberi tahu: “Aku adalah seorang malaikat dari langit ke tiga. Ketika engkau berdoa untuk pertama kalinya, kami mendengar bunyi gaduh di pintu gerbang langit. Kami berkata “Sebuah kejahatan telah terjadi.” Ketika engkau berdoa untuk kedua kalinya, pintu langit terbuka dan terlihat seberkas nyala api. Ketika engkau berdoa untuk ketiga kalinya, Jibril As. Turun ke langit kami dan berteriak: “Siapakah yang mau menolong orang yang tertekan ini?” Aku memohon kepada Allah swt. agar diizinkan membunuh penyamun itu. Ketahuilah, wahai hamba Allah, bahwa Allah akan memberikan kelapangan dan pertolongan kepada siapa saja yang beroda dengan doamu tadi pada setiap saat yang penuh tekanan, malapetaka dan keputus-asaan.”
Setelah itu si pedagang melanjutkan perjalanannya dengan aman sampai ke Madinah dan pergi menemui Nabi saw. serta menceritakan kisahnya kepada beliau, juga tentag doa yang diucapkannya. Nabi saw. bersabda kepadanya: “Allah telah mengilhamimu dengan Nama-Namanya yang paling Indah, yang jika disebutkan dalam Doa, niscaya Dia akan mengabulkannya. Jika Dia dimohon denga Nama-nama itu, Dia akan menganugerahkan-Nya.”
Di antara etika berdoa adalah adanya kehadiran hati. Berdoa tak boleh dilakukan dengan hati yang lalai.
Diriwayatkan bahwa Nabi saw. telah bersabda:
“Sesungguhnya Alalh swt. tidak akan menjawab doa seorang hamba yang hatinya alpa.”
(H.r. Tirmidzi dan Ahmad).
Persyaratan lain adalah bahwa makanan si hamba haruslah diperoleh secara halal. Nabi saw. menegaskan:
“Perbaikilah kerjamu, niscaya doamu dikabulkan.”
(H.r. Thabrani).
Dikatakan: “Doa adalah kunci bagi kebutuhan seorang pendosa; bagaimana aku bisa berdoa kepada-MU?” Bagaimana aku tidak akan berdoa kepada-Mu, sedang engkau Maha Pemurah?”
Diceritakan bahwa Musa as. Berjalan melewati seorang laki-laki yang sedangberdoa dengan renah hati kepada Allah. Musa berkata, “Ya Allah, seandainya kebutuhannya ada dalam tangnaku, niscaya akan kupenuhi doanya.” Allah swt. mewahyukan kepada Musa: “Aku lebih pengasih kepadanya daripadamu. Dia memang berdoa kepada-Ku, tapi hatinya terpaut pada domba-dombanya. Sedang aku tidak akan mengabulkan doa seorang hamba-Ku yang hatinya terpaut pada selian Aku.” Ketika Musa mengatakan kepada orang itu apa yang diwahyukan Allah swt. kepadanya itu, dia segera memalingkan hatinya dengan pernuh perhatian kepada Allah swt. dan urusannya pun selesai.
Seseorang bertanya kepada Ja’far ash-Shadiq: “Apa sebabnya, kita berdoa tetapi tidak pernah dikabulkan?” Beliau menjawab: “Itu karena engkau berdoa kepada tuhan yang engkau tak punya pengetahuan tentang –Nya”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan: “Ya’qub bin Lyats ditimpa penyakit yang mebuat para dokter tidak berdaya. Mereka lalu berkata kepadanya: “Di negeri tuan ada seorang laki-laki saleh bernama Shal bin Abdullah. Jika ia berdoa untuk tuan, niscaya Allah swt. akan mengabulkan doanya.” Ya’kub pun lalu mengundang Sahl dan memerintahkan,: “Berdoalah kepada Allah untukku.” Sahl berkata: “Bagaimana doaku untukmu akan dikabulkan, sedangkan engkau berlaku zalim kepada orang banyak di dalam penjaramu?” Maka Ya’kub lalu melepskan semua orang yang ada dalam penjaranya.
Sahl lalu berdoa: “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperlihatkan kepadanya hinanya ketidakpatuhan kepada-Mu dengan menyembuhkan penyakitnya.” Ya’kub bin Layts lalu sembuh. Dia mencoba memberi Sahl harta kekayaan, tetapi Sahl menolak. Seseorang berkata kepada Sahl: “Jika saja engkau menerimanya, engkau bisa memberikannya kepada orang miskin.” Beberapa waktu kemudian, sat Sahl sedang memandangi kerikil-kerikil di padang pasir, kerikil-kerikil itu tiba-tiba berubah menjadi batu permata. Dia bertanya kepada para sahabatnya: “Apakah perlunya bagi orang yang telah diberi anugerah seperti ini, menerima harta kekayaan dari Ya’kub bin Layts?”
Diceritakan bahwa Salih al-Marry sering menegaskan: “Barangsiapa yang gigih mengetuk pintu, berarti sudha dekat saat terbukanya pintu itu baginya.” Rabi’ah Adwiyah bertanya kepadanya: “Sampai kapan engkau akan mengatakan begitu?” Kapankah pintu itu tertutup hingga orang terpaksa memintanya agar dibuka?” Salih menjawan: “Seorang laki-laki yang sudah tua tak tahu akan kebenaran, dan seorang wanita mengetahuinya!”.
As-Syary berkata: “Suatu ketika aku menghadiri pengajian Ma’ruf al-Karkhy. Seorang laki-laki datag kepadanya dan meminta: “Wahai Abu Mahfudz, berdoalah kepda Allah untukku, agar Dia mengembalikan kantongku. Kantong itu dicuri orang; isinya uang seribu dinar.” Ma’ruf tetapdiam. Untuk ketiga kalinya orang itu mengulangi permintaannya. Kemudian Ma’ruf menjawab: “Apa yang harus kukatakan?” Kukatakan, apa yang telah kuriwayatkan dari Nabi-Nabi-Mu dan Wali-wali-Mu yang suci?”
Kemudain Ma’ruf mengembalikan kepda-Nya. Tapi orang itu tetap mendesak: “Berdoaah kepada Allahemudian aku bertemu dengan dia lagi, sedang matanya bisa melihat. Aku bertanya kepadanya “Bagaimana penglihatanmu bisa pulih kembali?” Dia menjawab, bahwa dalam mimpinya ada suara bersuara: “Katankalah wahai Yang Maha Dekat, wahai yang Maha Mengabulkan, wahai yang mendengarkan Doaku, wahai yang Maha Baik dalam kehendak-Nya, kembalikanlah penglihatanku.” Kuulangi doa ini dan Allah swt, lalu mengembalikan penglihatanku.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata: “Aku menderita sakit yang parah di mataku ketika untuk pertama kalinya aku kembali dari Marv ke Anisabur. Sudah agak lama aku tak bisa tidur. Suatu pagi aku tertidur lelap dan kudengar seseorang bertanya kepadaku: “Tidakkah Allah mencukupi bagi hamba-Nya?” (Qs. Az-Zumar :36). Aku terbangun dan kudapati penyakitku telah hilang dari mataku dan rasa sakitnya pun telah berhenti. Sesudah itu aku tak pernah menderita sakit mata lagi.”
Diceritakan bahwa Muhammad bin Khuzaymah berkata: “Aku sedang berada di Iskandiriyah ketika Ahmad bin Hanbal meninggal dunia. Aku betul-betul merasa sedih, hingga aku bermimpi bertemu dengan Ahmad bin Hanbal. Klihat dia sedang melenggang. Aku bertanya: “Wahai Abu Abdullah, gerakan apa ini?” Dia menjawab: “Ini adalah cara bergerak hamba-hamba di Rumah Kedamaian.” Aku bertanya: “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu?” Dia menjawab: “Dia telah mengampuniku, menempatkan sebuah mahkota di atas kepalaku, dan memberikan sepasang sandal emas untuk kupakai.
Allah berfirman kepadaku: “Wahai Ahmad, semua ini karena engkau telah menjaga Al-Qur’an sebagai firman-Ku.” Kemudian Dia berfirman: “Wahai Ahmad, berdoalah kepda-Ku dengan kata-kata yang engkau terima dari Sufyan ats-Tdaury, yang dulu engkau ucapkan waktu engkau madih hidup.” Maka aku pun berdoa: “Wahai Tuhan semesta, dengan kekuasaan-Mu atas segala sesuatu, ampunilah segala dosaku dan janganlah Engkau tanyai aku tentang sesuatu pun.” Kemudian Allah mempermaklumkan: “Wahai Ahmad, inilah surga. Masuklah! Lalu aku pun masuk.”
Suatu hari ada seorang pemuda yang memegang kain penutup Ka’bah dan berkata: “Tuhanku, Tuhanku, tak ada seorang pun yang mesti didekati selain Engkau, tidak ada pula seorang perantara yang bisa disuap. Jika aku mematuhi-Mu, itu adalah karena limpahan rahmat-Mu, dan segala Puji adalah bagi-Mu. Jika aku menetang-Mu, itu adalah karena kejahilan dan kesombonganku. Engkau punya rgumentasi yang tak terbantah terhadap diriku melalui bukti-Mu terhadap diriku dan melalui ketiadaan argumentasiku terhadap-Mu, kecuali jika engkau mengampuniku.” Kemudian dia mendengar seuah suara batin yang berseru: “Anak muda ini telah dibebaskan dari neraka.”
Dikatakan: “Manfaat doa adalah menampakkan kebutuhan di sisi-Nya. Jika doa tidak dilakukan, Allah swt, akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya.”
Dikatakan juga: “Doa awam dilakukan dengan ucapan, doa kaum zahid dilakukan dengan tindakan, dan doa kaum ‘Arifin dilakukan dengan ihwal hati.”
Juga dikatakan: “Doa terbaik adalah doa yang dikobarkan dengan kesedihan.”
Salah seorang Sufi mengtakan: “Jika engkau berdoa kepada Allah swt. agar dianugerahkan sesuatu dan doamu dikabulkan, maka bedoalah, siapa tahu saat itulah memang saat dikabulkannya doamu.”
Dikatakan: “Kidah kaum pemula terucap lewat doa, namun lidah mereka yang telah mencapai hakikat terbelenggu dalam kebisuan.”
Ketika al-Wasithy diminta berdoa, dia menjawab: “Aku takut bahwa jika aku berdoa, Allah swt, akan berfirman kepadaku : “Jika engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang telah ditetapkan untukmu, berarti engkau meragukan Aku. Jika engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak ditetapkan bagimu, berarti engkau tidak memuji-Ku sebagaimana seharusnya. Namun jika engkau bersikap ridha terhadap keputusan-Ku, Aku akan memberikan anugerah lebih dari harapanmu.”
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mubarak berkata: “Sudah limapuluh tahun aku tidak beroda, dan aku tidak menginginkan orang lain berdoa untukku.”
Dikatakan : “ Doa adalah tangga bagi orang-orang yang berdosa.”
Dikatakan juga : “Doa adalah saling bertukar pesan. Selama kedua pihak tetap bertukar demikian, semuanya akan baik.”
Dikatakan : “Orang-orang yang berdosa mengucapkan doa dengan air mata.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengataka : “Jika seorang berdoa menangis, berarti dia telah membuka hubungan dengan Allah swt.”
Tentag hal ini, para Sufi bersyair berikut:
Air mata pemuda mengungkapkan
Apa yang disembunyikan
Nafasmu menjelaskan hati
Yang menyembunyikan rahasia berdoa berarti meninggalkan dosa-dosa.” Dikatakan: “Doa adalah cara seorang pecinta mengungkapkan kerinduannya.” Dikatakan : “Diizinkan berdoa, lebih baik dari anugerah.”
AL-Kattany menyatakan: “Allah swt. tidak menganugerahkan kaum beriman, untuk mengungkapkan rasa bersalah, kecuali untuk membuka pintu kemaafan.”
Dikatakan juga: “Beroda menyebabkan engkau hadir di hadorat Allah swt. Sedang dikabulkannya doamu menjadikan engkau berpaling menjauh. Dan berdiri saja di pintu, lebih baik daripada pergi dengan membawa balasan.”
Dikatakan: Doa berarti menghadapAllah swt. dengan ungkapan rasa malu.”
Dikatakan: “Satu persyaratan doa adalah bertumpu pada keputusan Allah swt. bersama ridha.”
Dikatakan pula: “Bagaimana engkau akan menunggu ijabah doa, sedang engkau menghalangi jalannya dengan melakukan dosa-dosa?”
Seseorang meminta kepada salah seorang Sufi agar didoakan: “Doakan aku.” Dijawab: “Engkau cukup dengan Allah swt. daripada unsur lain yang kau jadikan perantara antara dirimu dengan Diri-Nya.”
Abdurrahman bin Ahmad berkata: “Aku mendengar ayahku menceritakan bahwa seorang wanita datang kepada Tqy bin Mukhlad dan mengatakan kepadanya: “Orang-orang Binzantium telah menawan anakku. Aku tak punya apa-apa lagi di rumahku selain anakku itu. Aku juga tidak bisa menjual rumahku. Jika saja tuan bisa membawa saya kepada seseorang yang bisa menebusnya, sebab saya sudah tidak tahu lagi mana siang mana malam. Saya tidak bisa tidur ataupun beristirahat.” Taqy berkata kepadanya: “Baiklah, pergilah sampai-sampai aku melihat masalah ini, Insya Allah.” Kemudian Syeikh itu menundukkan kepadalnya dan menggerak-gerakkan bibirnya. Kami menunggu bebereapa saat lamanya. Kemudian wanita itu datang lagi bersama anaknya dan bersseru kepada Syeikh tersebut: “Anakku telah kembali dengan selamat, dan dia punya cerita untuk tuan.”
Anakknya itu lalu mengisahkan: “Saya sedang berada dalam tawanan seorang gpangeran Bizantium bersama dengan sekelompok tawanan. Sang Pangeran menegaskan seseorang untuk menyuruh kami bekerja setiap hari. Orang itu membawa kami kembali dari bekerja setelah matahari terbenam dengan dikawal oleh orang itu. Tiba-tiba rantai yang mengikat saya terputus dan jatuh dari kaki saya.”
Anak muda itu menyebutkan hari dan saat di mana peristiwa itu terjadi, dan saat itu adalah persis ketika wanita itu mendatangi Syeikh Taqy saat beliau berdoa. Si pemuda melanjutkan ceritanya: “Pengawal memukul saya dan berteriak : “Engkau telah memutusakn rantai ini!.”
Saya berkata: “Tidak, ia jatuh sendiri dari kaki saya!.” Orang itu kebingungan dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia memanggil teman-temannya, lalu memanggil pandai besi. Mereka lalu merantai saya lagi. Tapi begitu saya berjalan beberapa langkah, rantai itu terlepas lagi dari kaki saya. Mereka tercengang dan kemudain memanggil para pendeta mereka. Para pendeta itu bertanya kepada saya: “Apakah engkau punya Ibu?” Saya katakan “Ya”. Mereka lalu berkata: “Doa ibumu telah dikabulkan. Alalh swt. telah membebaskanmu. Kami tak bisa lagi merantaimu.” Kemudian mereka memberi saya makanan dan bekal lalu menyruh seorang pengawal mengatarkan saya sampai ke daerah kaum Muslimin.”
Kefakiran
Allah swt. berfirman:
“(Infaq itu) untuk orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; Mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena (mereka) memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.”
(Qs. Al-Baqarah :273).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda:
“Orang-orang miskin akan memasuki surga limaratus tahun sebelum orang-orang kaya. (Limaratus tahun itu) sama dengan setengah hari (surga).”
(H.r. Tirmidzi).
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Orang miskin itu bukanlah dia yang berkeliling ke sana ke mari dengan hrapan diberi orang sesuap dua suap, sebutir atau dua butir kurma.” Seseoarang bertanya : “Kalau begitu, siapakah orang miskin itu wahai Rasulullah?” Nabi saw, menjawab : “Dia adalah orang yang tidak menemukan kepuasan atas kekayaannya, dan malu minta manusia, tidak pula orang banyak mengetahui hal ihwal mereka hingga mereka bisa diberi sedekah.”
(H.r. Ahmad).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar, tentang ucapan Nabi saw.: “dan malu meminta” artinya adalah bahwa mereka malu kepada Allah swt. untuk meminta-minta dari orang banyak, bukan malu kepada manusia.
Kefakiran adalah simbol para wali dan hiasan para Sufi, pilihan Alalh swt. pada orang takwa piluhan dan para Nabi. Sedangkan para Sufi fakir merupakan pilihan Allah swt. bagi hamba-hamba-Nya. Mereka adalah pengemban rahasia-rahasia-Nya di antara para hamba-Nya, yang dengan mereka Dia menjaga para makhluk dan yang dengan keberkatan mereka rezeki disebarkan di kalngan manusia.
Orang-orang fakir yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Alalh swt. pada Hari Kebangkitan, seperti dikatakan dalam hadis riwayat Umar bin Khaththab r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
“Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin. Kaum fakir yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah swt. pada Hari Kebangkitan.”
(hr. Ibnul Laal, dan Ibnu Umar).
Diceritakan bahwa seorang laki-laki membawakan uang sebganyak sepuluh ribu dirham kepada Ibrahim bin Adham, tetapi Ibrahim tidak menerimanya dan berkata: “Engkau mau mengahapus namaku dari daftar orang-orang miskin dengan uang sepuluh ribu dirham!. Aku tidak akan menerimanay.!” Mu’adz an-Nasafi menegaskan: “Allah tidak pernah membinasakan suatu kaum, apa pun kejahatan yang mereka lakukan, kecuali jika mereka merendahkan dan menghina kaum miskin.”
Dikatakan, manakala para fakir tidak memiliki kebajikan lain dalam pandangan Allah selain keinginan mereka agar rezeki dilimpahkan dan dimurahkan di kalangan kaum Muslimin, niscaya itu sudah cukup bagi mereka, sebab mereka perlu memberli barang-barang dan orang-orang kaya perlu menjualnya. Begitulah halnya dengan kaum miskin yang awam, maka bagaimana pula halnya dengan kaun yang terpilih di kalangan mereka.?”
Ketika Yahya bin Mu’adz ditanya tentang kefakiran, dia menjawab: “Hakikat kefakiran adalah bahwa seseorang tidak butuh lagi selain Allah, dan tanda kefakiran adalah tidak adanya harta benda.”
Ibrahim al-Qashshar mengatakan: “Kefakiran adalah pakaian yang mewariskan ridha, apabila fakir memakainya.”
Seorang fakir dari Zauzan datang kepada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq padatahun 394 atau 395 Hijriyah. Dia memakaia pakaian yang terbuat dari kain yang sangat kasar dan kopiah dari kain yang sama. Salah seorang sahabat Syeikh itu bertanya dengan nada bergurau : “Berapa harga pakaianmu ini?” Dia menjawab: “Aku membayarnya dengan dunia ini, dan akhirat ditawarkan kepadaku untuk ditukar dengannya. Tapi aku tidak akan menjualnya dengan harta tersebut.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan : “Suatu ketika seorang misikin mendatangi sebuah pertemuan untuk meminta sedekah, seraya berkata : “Saya sudah tiga tidak makan.” Salah seorang syeikh yang hadir di situ berkata : “Engkau dusta!” Kemiskinan adalah rahasia Tuhan. Dia tidak mempercayakan rahasia-Nya kepda orang yang memamerkannya kepada siapa pun yang dikehendakinya!.”
Hamdun al-Qashshar menyatakan : “Manakala iblis dan tentaranya berkumpul, mereka tidak bergembira sebagaimana kegembiraan mereka yang disebabkan tiga hal : “Seorang Muslim membunuh sesama Muslim, seseorang yang mati dalam keadaan kafir, dan sebuah hati yang menyimpan ketakutan pada kemiskinan.”
Al-Junayd berkata : “Wahai orang-orang fakir, kamu semua dijadikan terkenal oleh Allah swt, dan dihormati karena-Nya. Tetapi perhatikanlah bagaimana keadaanmu manakala kamu berada sendirianbersama-ny.” Al Junayd ditanya : “Keadaan manakah yang lebih baik : miskin dan bergantung pada Tuhan, atau dijadikan kaya oleh-Nya?” Dia menjawab : “Jika kemiskinan seseorang adalah shahih, maka kekayaannya adalah shahih di sisi-Nya. Jika kekayaannya di sisi-Nya adalah shahih, maka kemiskinan dan ketergantungannya pada –Nya juga tersempurnakan. Jangan bertanya, : “Manakah yang lebih bai?” Sebab keduanya adalah keadaan yang salah satunya tidak akan lenyap tanpa yang lain.”
Ruwaym ditanya tentang tanda seorang miskin : “Miskin berarti menyerahkan jiwa kepada ketentuan-ketentuan Allah swt.” Dikatakan pula bahwa ada tiga tanda seorang miskin : Dia melindungi batinnya, dia melaksanakan kewajiban-kewajiban agamnya, dia menyembunyikan kemiskinannya. Seseorang bertanya kepada Abu Sa’id al-Kharraz : “Mengapa kemurahan hati orang kaya tidak sampai kepada orang miskin?” Dia menjawab : “Karena tiga alasan : “Kekayaan mereka didapatkan dengan jalan yang tidak halal, mereka tidak dimampukan untuk memberi sedekah, dan penderiaan orang miskin itu memang dikehendaki.”
Dikatakan bahwa Allah swt. mewahyukan kepada Musa as. : “Jika engkau berjumpa dengan orang-orang miskin, tanyakanlah tentang mereka seperti engkau tanyakan kepada orang-orang kaya. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka campakkanlah ke tanah semua yag telah Kuajarkan kepadamu.” Diriwayatkan bahwa Abu Darda’ menegaskan : “Aku lebih suka jatuh dari tembok istana dan remuk daripada duduk bersama orang kaya, karena aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:
“Waspadalah untuk duduk-duduk bersama orang mati!.” Seseorang bertanya : “Siapakah orang mati itu?” Beliau menjawab “ Orang-orang kaya.”
(Hr. Tirmidzi dan Hakim).
Seseorang berkata kepada ar-Rabi’ bin Khaitsam : “Harga-harga telah naik!.” Dia menjawab : “Kita tidak berharga untuk dibuat lapar oleh Allah. Dia hanya melakukan hal itu pada wali-wali-Nya.”
Ibrahim bin Adham mengatakan : “Kami meminta kemiskinan tapi diberi kekayaan; orang lain meminta kekayaan dapi kemiskinan datang kepada mereka.” Seorang laki-laki bertanya kepada Yahya bin Mu’adz : “Apakah kemiskinan itu?” Dia berkata : “Takut pada kemiskinan itu sendiri.” Orang itu lantas bertanya lagi : “Lantas, apa kekayaan itu?” Dia menjawab : Rasa aman di sisi Allah Swt.”
Ibnu Karainy berkata : “Orang miskin yang sejati, menjauhi kekayaan agar kekayaan tidak mendatanginya dan merusak kemiskinannya; sebagaimana halnya orang kaya menjauhi kemiskinan, agar kemiskinan tidak mendatanginya dan merusak kekayaannya.”
Abu Hafs ditanya : “Dengan cara pa orang miskin mendektai Allah?” Dia menjawab : “Orang miskin tidak memiliki apa-apa selain kemiskinannya yang dengan kemiskinan itu dia mendekati Allh swt.”
Allah swt. mewahyukan kepada Musa a.s. : “Maukah engkau memperoleh pahala amal kebajikan yang setara dengan pahala seluruh ummat manusia di Hari Kiamat nanti?” Musa menjawab : “Ya” Allah swt. berfirman : “Kunjungilah orang sakit dan pastikanlah bahwa orang-orang miskin punya pakaian.” Musa lalu menyisihkan tujuh hari setiap bulan untuk mengunjungi oang-orang miskin dan memeriksa pakaian mereka serta mengunjungi orang sakit.”
Sahl bin Abdullah menyatakan : “Ada lima mutiara jiwa : Seorang miskin yang berpura-pura kaya, orang lapar yang berpura-pura kenyang, seorang yang bersedih yang berpra-pura bahagia, seseorang yang punya musuh tapi memperlihatkan kecintaan terhadapnya, seseorang yang berpuaa di siang hari dan bangun di malam hari tanpa memperlihatkan kelelahan.”
Bisyr ibnul Harits berkata : “Maqam yang paling baik adalah maqam keyakinan yang kokoh dalam kesabaran melalui kemiskinan sampai masuk liang lahat.”
Dzun Nuun mengatakan : “Suatu tanda kemurkaan Allah kepada seorang hamba adalah bahwa so hamba merasa takut kepada kemiskinan.”
Asy-Syibly berkomentar : “Tanda kemiskinan yang paling kecil adalah jika seluruh kekayaan dunia ini diberikan kepada seseorang dan kemudian disedekahkannya sampai habis dalam waktu satu hari, tetapi kemudian terlintas dalam pikirannya untuk menyimpan hartanya bagi esok hari. Yang demikian itu tidak bisa dianggap benar dalam kemiskinannya.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata : “Orang bertanya mana yang lebih baik; kemiskinan atau kekayaan. Menurut pendapatku, yang paling baik adalah bahwa seseorang diberi rezeki yang cukup untuk menghidupinya dan dia lalu menjaga dirinya dalam batas tersebut.”
Ibnul Jalla’ ditanya tentang kemiskinan. Dia diam saja, kemudian mengundurkan diri dan pergi. Sesaat kemudian dia kembali dan berkata : “Aku punya empat keping mata uang itu, Aku amlu kepada Allah swt. untuk membicarakan kemiskinan.” Kata Ibnul Jalla’, Kemudian aku pergi dan mengeleuarkan uang itu. Barulah aku berbicara tentang kemiskinan.”
Ibrahim ibnul Muwallad berkata : “Aku bertanya kepada Ibnul Jalla’ : “Kapankah orang-orang miskin patut disebut miskin?” Dia menjawab : “Jika tak ada lagi sesuatu pun darinya yang tersisa padanya.” Ibrahim bertanya : “Bagaimana bisa begitu?” Dia menjawab : “Jika dia memilikinya, berarti dia tidak memiliki kemiskinan. Tapi jika dia tak lagi memilikinya, berarti dia memiliki sebutan kemiskinan itu.”
Dikatakan bahwa keadaan miskin yang benar adalah jika si miskin tidak merasa puas dengan aspek mana pun dari kemiskinannya selain dengan Dia yang dibutuhkannya.
Abdullah ibnul Mubarak menyatakan : “Membuat diri sendiri tampak kaya sedangkan ia dalam keadaan miskin, adalah lebih baik daripada kemiskinan.”
Banan al-Mishry menuturkan: “Suatu ketika aku sedang duduk-duduk di Mekkah, dan seorang pemuda berada di depanku. Seorang laki-laki datang kepadanya dengan membawa sebuah pundi-pundi berisi uang dan meletakkannya di hadapan pemuda itu. Pemuda itu berkata : “Aku tak membutuhkannya.” Orang itu berkata : “Kalau begitu, bagi-bagikanlah kepada orang-orang miskin.” Petang harinya kulihat pemuda itu ada di lembah sedang mengemis. Aku bertanya : “Alangkah baiknya jika engkau menyimpan sedikit dari uang tadi untuk dirimu sendiri.” Dia menjawab : “Siapa yang tahu kalau aku masih akan terus hidup sampai petang ini.?”
Abu Hafs berkata : “Cara paling baik bagi seorang hamba untuk menemui Tuhannya adalah dengan terus menerus fakir kepada-Nya dalam setiap keadaan, memathi Sunnah dalam semua amal perbuatan, dan mencari rezeki dengan jalan yang halal.”
Al-Murta’isy berkomentar : “Yang paling baik adalh bahwa cita-cita orang miskin itu tidak melampaui langkah-langkahnya.”
Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary menuturkan:
“Ada empat orang yang merupakan model manusia pada masa mereka. Yang pertama, yaitu Yusuf bin Asbat, tidak mau menerima pemberian apa pun dari saudara-saudaranya ataupun dari penguasa. Dia mewarisi uang sebanyak tuju puluh ribu dirham dari saudara laki-lakinya tapi dia tidak mau menerima satu sen pun darinya. Ia hidup dengan menjual daun kurma.
Yang kedua, Abu Ishaq al-Fazzary, mau menerima pemberian dari saudara-saudaranya ataupun dari penguasa. Pemberian itu dihabiskannya untuk kebutuhan orang-orang miskin yang kemiskinannya tersembunyi dan yang tidak meminta-minta sedekah. Adapun pemberian dari menguasa, maka itu diberikannya kepada orang-orang yag patut menerimanya di kalangan warga Tarsus.
Yang ketiga , Abdullah bin Mubarak, mau menerima pemberian dari saudara-saudaranya, lalu dibagi-bagikannya kepada orang lain secara adil, tetapi ia tidak mau menerima dari penguasa.
Yang keempat, Makhlad bin-alHussain, mau menerima pemberian dari penguasa, tapi tidak dari saudara-saudaranya. Dia mengatakan : “Penguasa tidak menganggap ada orang yang wajib untuk diberi, sedangkan saudara-saudara menganggap ada.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq – semoga Allah swt. merahmati – berkata : “Ada sebuah hadis yang mengatakan. “Orang yang merendahkan diri di hadapan orang kaya dikarenakan kekayaannya, berarti ia teleh kehilangan dua pertiga agamanya.: Ini disebabakan bahwa seorang manusia terdiri dari hati, lidah dan nafsu. Jika dia merendahkan diri dengan nafsu dan lidahnya, maka dia kehilangan dua pertiga agamanya. Tetapi jika dia merendahkan diri di hadapan orang kaya itu dengan hatinya juga, maka dia kehilangan seluruh agamanya.”
Dikatakan : “Seorang miskin dalam menjalani kemiskinannya dituntut paling tidak agar dia memiliki empat hal; ilmu yang akan menjadi pertimabngannya, sikap zuhud yang akan mengendalikan dirinya, keyakinan yang akan menguatkan imannya, dan dzikir yang akan membawakan kegembiraan jiwanya.”
Dikatakan juga : “Orang yang menginginkan kemiskinan untuk kemuliaannya, ia mati dalam keadaan fakir. Barangsiapa ingin miskin agar tidak disibukkan dengan selain Allah, akan mati dalam keadaan kaya.”
Al-Muzayyin menyatakan : “Berbagai jalan kepada Alalh swt. lebih banyak daripada bintang di langit. Tapi sekarang tak satu pun diantaranya yang tersisa selain kemiskinan dan kemiskinan adalah jalan yang terbaik di antara jalan-jalan itu.”
Ketika ditanya tentang hakikat kemiskinan, Asy-Syibly menjawab : “Hakikat kemiskinan adalah bahwa si hamba tidak merasa puas selain Allah swt.”
Manshur bin Khalaf al-Maghriby menuturkan : “Abu Sahl al-Khasysyab al-Kabir mengatakan kepadaku : “Kemiskinan adalah kemiskinan dan kehinaan.” Aku menjawab : “Bukan, justru katakan, : “Kemiskinan dan lumpur.” Aku membalas : “Bukan, kemiskinan dan tahta Ilahi.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar tentang hadis nabi saw.:
“Hampir-hampir kefakiran itu menjadi kekufuran.”
(H.r. Abu Nu’aim dan Thabrani).
Maka Syeikh mengatakan : “Bahaya yang bisa timbul dari sesuatu adalah berbandnig terbalik dengan manfaat dan kebajikan yang terkandung di dalamnya. Apa pun yang sangat bermanfaat dalam dirinya sendiri, mengandung bahaya yang paling besar pada sisi lainnya. Begitulah halnya dengan iman. Karena ia sifat yang paling baik, maka kebalikannya adalah kekafiran. Karena bahaya yang terkandung dalam kemiskinan adalah bahwa ia bisa menjadi kufur kepada Allah swt. menunjukkan bahwa kemiskinan adalah sifat yang paling mulia.”
AL-Junayd mengaarkan : “Jika engkau bertemu dengan seorng miskin, hadapilah ia dengan budimu, bukan dengan ilmu mu. Kebaikan budi akan mendekatkannya, sedang ilmu akan menakutkannya.” Saya bertanya : “Wahai Abul Qasim, apakah ilmu benar-benar menjauhkan orang miskin?” Dia menjawab : “Ya, jika si orang miskin bersikap benar dalam kemiskinannya, dan engkau mencurahkan ilmumu kepadanya, maka ilmumu itu akan meleleh seperti melelehnya timah kena api.”
Mudzaffar al-Qurmisainy berkata : “Orang miskin adalah orang yang tak membutuhkan suatu kebutuhan dirinya kepada Allah swt.” Ucapan ini mempunyai makna yang samar-samar jika dipahami oleh orang yang tak memahami tujuan sang Sufi. Ucapan ini semata-mata menunjukkan dihentikannya mengajukan tuntutan, berakhirnya pilihan, dan ridha terhadap apa pun yang ditakdirkan Alalh swt.”
Abdullah bin Khafifi mengatakan : “Kemiskinan berati tidak memiliki harta benda dan meninggalkan aturan-aturan manusiawi.”
Abu Hafs berkata : “Kemiskinan tidaklah sempurna bagi siapa pun sampai dia lebih mengutamakan memberi daripada menerima. Kemurahan hati bukanlah orang yang berpunya memberi kepada yang tidak punya, melainkan orang yang tidak ebrpunya memberi kepada orang yang punya.”
Ibnul Jalla menegaskan : “Seandainya tidak karena adanya tujuan lebih agaug dalam tawadlu; niscaya akan menjadi cara orng miskin untuk berjalan dengan sikap penuh kebanggaan.”
Yusuf bin Asbat berkata : “Salam empatpuluh tahun aku hanya memiliki dua lembar baju.”
Salah seorang Sufi menuturkan : “Aku melihat seolah-olah Hari Kiamat sudah tiba. Sebuah suara mengatakan : “Bahwa Malik Bin Dinar dan Muhammad bin Wasi’ ke dalam surga.” Maka aku perhatikan siapa di antara keduanya yang lebih dahulu msuk, dan ternyata orang itu adalah Muhammad bi Wasi’. Ketika aku bertanya mengapa dia didahulukan, dijelaskan kepadaku : “Dia hanya memiliki selembar baju, sedangkan Malik dua.”
Muhammad al-Masuhy berkata : “Orang miskin adalah orang yang tidak membutuhkan terhadap sesuatu pun bagi dirinya dari harta benda duniawi.”
Sahl bin Abdullah ditanya : “Kapankah orang miskin bisa beristirahat?” Dia menjawab : “Jika dia tidak mengharapkan apa pun bagi dirinya sendiri selain saat kekiniannya.”
Di hadapan Yahya bin Mu’adz, orang-orang Sufi berdiskusi soal kefakiran dan kekayaan, dia berkata : “Bukanlah kemiskinan ata kekayaan yag memiliki bbot di Hari Perhitungan. Hanya kesabaran dan syukurlah yang akan ditimbang. Jadi kelak akan dikatakan; Orang ini bersyukur, atau orang ini bersabar.”
Dikatakan Allah sw. Mewahyukan kepada sebgain pra Nabi-Nya : “Jika kamu ingin mengetahui ridha-Ku padamu, maka lihatlah bagaimana ridhanya si fakir kepadamu.”
Abu Bakr bin Nashr az-Zaqqaq berkata : “Orang yang tidak punya rasa takut kepada Allah swt. bersama dengan kemiskinannya berarti seluruh makanan yang dikonsumsinya benar-benar makanan haram.”
Dikatakan bahwa orang-orang miskin di pengajian-pengajian Sufyan ats-Tsaury adalah laksana para pangeran. Abu Bakr bin Thahir menyatakan, : Di antara aturan-aturan orang miskin adalah bahwa dia tidak punya keinginan, kalaupun dia berkeinginan juga, jangan sampai keinginannya melebihi kebutuhannya.”
Ibnu Atha’ membacakan syair untuk para Sufi: Meraka berkata, esok adalah hari raya. Apa yang akan kau pakai? Kukatakan, Jubah kehormatan yang diberi-Nya. Yang mecurahkan cinta dengan penuh kemurahan hati Kemiskinan dan kesabaran, adalah pakaianku yang di bawanya Ada satu hati bagi kekasihnya, yaitu Hari Jum’at dan hari Raya Pakaian yang paling layak untuk menemui Kekasih pada hari Ziarah adalah pakaian yang dicintai-Nya. Tahun-tahun penuh berkabung bagiku jika Kau tak ada, Wahai Harapanku, Hari Raya adalah hari ketika aku melihat dan mendengar suara-Mu.
Ketika ditanya tentang orang miskin sejati, Abu Bakr al-Msihry menjawab : “Dia adalah orang yang tidak memiliki sesuatu dan tidak pula berkeinginan memiliki sesuatu.”
Dzun Nuun al-Mishry berkata : “Aku lebih menyukai rasa fakir kepada Alalh swt. secara langgeng, dibanding memasuki dunia Sufi dengan penuh takjub.”
Abu Abdullah al-Hushry menuturkan : “Abu Ja’far al-Haddad bekerja selama duapuluh tahun, dengan penghasilan satu dinar setiap hari. Uang itu dibelanjakannya untuk orang-orang miskin sementara dia sendiri berpuasa, setelah itu dia akan berkeliling mencari sedekah setalah shalat maghrib untuk berbuka puasa.
An-Nury menyatakan : “Tanda seorang miskin adalah kerelaan manakala dia tidak punya apa-apa dan memberi dengan murah hati manakala dia punya banyak rezeki.”
Muhammad bin Ali al-Kattany berkata : “Ada seorang pemuda bersama kami di Mekkah yang memakai pakaian kumal dan bertambal-tambal Dia tidak pernah ikut serta dalam percakapan kami ataupun duduk bersama kami. Dalam hati aku sangat merasa sayang kepadanya. Suatu ketika aku diberi uang duaratus dirham dari sumber yang halal. Uang itu kubawa kepadanya.
“Uang ini telah datang kepadaku dari sumber yag halal. Belanjakanlah untuk keperluanmu.” Saraya memandang kepadaku dengan sikap merendahkan, dia mengungkapkan apa yang selama ini tidak kukeetahui.”
Saya membeli kesempatan untuk bisa duduk bersama Alalh swt. dalam pengabdian yang leluasa ini dengan harga tujuh puluh ribu dinar dari harta benda dan kebun-kebun saya. Sekarang Anda hendak menyesatkan saya dari keadaan saya sekarang ini dengan uang itu ke tanah.” Ia lalu berdiri dan menolaknya. Aku duduk dan mengumpulkan uang itu dari tanah. Belum pernah aku menyaksikan kegagahan seperti kegagahan pemuda itu ketika ia berjalan pergi, ataupun kehinaan seperti kehinaanku ketika aku mengumpulkan uang itu.”
Abu Abdullah bin Khafif mengatakan : “Aku belum pernah diwajibkan membayar zakat fitrah pada akhir Bulan Ramadhan selama empat puluh tahun, sementara aku diterima dengan penuh penghormatan di kalangan kaum terpilih maupun kaum awam.”
Ketika ad-Duqqy ditanya tentang perilaku buruk di kalangan para fakir di hadapan Allah dalam urusan-urusan mereka, dia berkata, “Perilaku buruk itu adalah kejatuhan mereka dari upaya mencari hakikat menjadi upaya mencari Ilmu.”
Khayr an-Nassaj menuturkan : Alu memasuki sebuah masjid dan melihat ada seorang kafir di situ. Ketika dia melihatku, dipegangnya bajuku sambil memohon : “Wahai Syeikh, kasihanilah aku, karena penderitaanku sangat besar!” Aku bertanya : “Apa yang kau derita?” Dia menjawab : “Aku telah tidak lagi diberi cobaan, dan selalu dalam keadaan sehat wal afiat!.” Aku memandangnya, tiba-tiba ia telah dibukakan sedikir harta dunia.” Abu Bakr al-Warraq berkata : “Berbahagialah orang yang miskin di dunia dan di akhirat.” Ketika ditanya apa maksud perkataannya itu, dia menjawab : “Penguasa di dunia tidak menunut pajak darinya, dan Yang Maha Kuasa di akhirat tidak membuat hisab dengannya.”
Tasawuf
Kesucian (Shafa”) adalah sifat terpuji dalam setiap ucapan, Lawannya, yakni kekotoran yang tercela.
Dari Yazid bin Abu Ziyad, dari Abu Juhaifah yang menuturkan : “Pada suati hari rasulullah saw. keluar menemui kami dengan roman wajah yang berubah, lalu beliau bersabda: “
“Kesucian dunia telah lenyap, yang tinggal hanya kekotoran. Hari ini, kematian adalah penghargaan bagi setiap Muslim.”
(H.r. Daraquthi, namun riwayat dari Jabir)
Kata Sufi telah menjadi sebutan umum bagi kelompok ini. Jadi seseorang dikatakan seoran Sufi dan kelompoknya disebut Sufiyah. Orang yang berusaha menjadi Sufi disebut mutashawwif, dan jumlahnya disebut mutashawwifah.
Tidak ada bukti etimologis ataupun analogis dengan kata lain dalam bahasa Arab yang bisa diturunkan dari sebutan Sufi. Penafsiran yang paling masuk akal adalah bahwa Sufi banyak serupa dengan laqab (gelar).
Ada orang-orang gyang mengatakan bahwa kata Sufi diambil dari kata souf (bulu). Jadi, Tashawwuf (tasawuf) digunakan dengan artian “memakai kain bulu” sebagamana kata taqammus digunakan dengan arti “memakai baju” (qamis). Itu hanya satu panangan saja. Tapi sesungguhnya kaum Sufi tidak mencirikan dirinya dengan memakai pakaian dari bulu.
Ada pendapat mengatakan bahwa kaum Sufi berhubungan dengan serambi (Shuffah) masjid Rasulullah saw. Tetapi kata Shuffah tidaklah dihubungkan dengan Sufi.
Kelompok lain mengatakan bahwa kata Sufi berasal dari kata shafa’, yang berarti “kemurnia”. Pengertian kata Sufi dan shafa’ tidaklah mungkin ditinjau dari sudut bahasa. Sebagian orang mengatakan bahwa kata Sufi berasal dari shaff, yang berarti barisan, seakan-akan dikatakan hati mereka ada di barisan depan dalam muhadharah di hadapan Allah swt. Ini memang benar dalam arti. Namun kata Sufi tidak bisa menjadi bentuk fa’il dari kata shaff.
Kesimpulannya, kelompok ini begitu terkenal sehinga tidaklah perlu mencari analogi atau penurunan akar kata untuk sebutan bagi mereka. Setiap orang yang berbicara tentang arti tasawuf, selalu bertanya, apa arti tasawuf?” Dan siapa yang disebut Sufi?” Setiap ungkapan selalu dikaitkan denganpengamalamannya sendiri. Kami akan menyebutkan sebagia ucapan mereka secara sekilas ssaja.:
Ketika Muhammad al-Jurairiy ditanya tentang tasawuf, dia menjelaskan : “Tasawuf berarti memasuki setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhllak yang tercela.”
Al-Junayd ditanya soal Tasawuf, ia menjawab : “Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu, dan menghidupkan dirimu dengan-Nya.”
Al-Husain bin Manshur al-Hallaj, ketika ditanya tentang Sufi menjawab : “Kesendirianku dengan Dzat, tak seorang pun yang menerimanya, dan juga tak menerima siapapun.”
Abu Hamzah al-Baghdady berkata : “Tanda Sufi yang benar adalah dia menjadi miskin setelah kaya, hina setelah mulia, dan dia bersembunyi setelah terkenal. Tanda seorang Sufi palsu adalah dia menjadi kaya setelah miskin, menjadi obyek penghormatan tinggi setelah mengalami kehinaan, dan dia menjadi masyhur setelah tersembunyi.”
Amr bin Utsman al-Makky al-Qashshab mengatakan : “Tasawuf adalah ahlak mulia, dari orang yang mulia, di tengah-tengah kaum yang mulia.”
Ketika ditanaya tentag tasawuf, Sumnun berkata : “Tasawuf berarti engkau tidak memiliki apa pun, tidak pula dimiliki oleh apa pun.”
Ruwaym ditanya tentang tasawuf : “Tasawuf artinya menyerahkan diri kepada Allah dalam setiap keadaan ap pun yang dikehendaki-Nya.”
Al-Junay ditanya tentagn Tasawuf : “Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Allah Swt. tanpa keterikatan apa pun.”
Ruwaym bin Ahmad berkata : “Tasawuf didasarkan pada tiga sifat : memeluk kemiskinan dan kefakiran, mencapai sifat hakikat dengan memberi, dengan cara mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan diri sendiri; dan meninggalkan sikap menentang dan memilih.”
Ma’ruf al-Kahkhy menjelaskan : “Tsawuf artinya memihak pada hakikat-hakikat, dan memutuskan harapan dari semua yang ada pada makhluk.”
Hamdun al-Qashshar berkata : “Bersahabtlah dengan para Sufi, karena mereka melihat alasan-alasan untuk memaafkan perbuatan-perbutan yang tak baik, dan bagi mereka perbuatan-perbuatan baik pun bukan sesuatu yang besar, bahkan mereka bukan menganggapmu besar karena mengerjakannya.”
AL-Kharraz menjawab, ketika ditanya tentang hali tasawuf : “Mereka adalah kelompk manusia yang mengalamai pelapangan, yang mencampakkan segala milik mereka sampai mereka kehilangan segala-galanya. Kemudain mereka diseru oleh rahasia-rahasia yang lebih dekat di hatinya : “Ingatlah!” Menangislah kalian karena Kami.”
Al-Junayd berkata : “Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.” Dia berkata pula : “Para sufi adalah anggota dari suatu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka.” Selanjutnya dia juga menjelaskan lagi : “Tasawuf adalah dzikir bersama ekstase yang disertai penyimakan, dan tinndakan yang didasari Sunnah.”
Al-Junayd menyatakan : “Kaum Sufi adalah seperti bumi, selalu semua kotoran dicampakkan kepadanya, namun tidak menumbuhkan kecuai segala tumbuhan yang baik. Dia juga mengatakan : “Seorang Sufi adalah bagaikan bumi, yang diinjak orang saleh maupun pendosa; Juga seperti mendung memayungi segala yang ada; “Seperti air hujan, mengairi segala sesuatu.” Dia melanjutkan : “Jika engkau melihat seorang Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah wujud batinnya rusak.”
Sahl bin Abdullah berkata : “Sufi adalah orang yang memandang darah dan hartanya tumpah secara gratis.”
Ahmad an-Nury berkata : “Tanda seorang Sufi adalah dia merasa rela manakala tidak punya, dan peduli orang lain ketika ada.”
Muhammad bin Ali al-Kattany menegaskan : “Tasawuf adalah akhlak yang baik. Barangsiapa yang melebihimu dalam kahlak yang baik, berarti ia melebihimu dalam tasawuf.”
Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary mengatakan : “Tasawuf adalh tinggal di pintu sang kekasih sekalipun engkau di usir.” Dia juga mengatakan : “Tasawuf adalah sucinya taqarrub setelah kotornya kejauhan dari-Nya.”
Dikatakan : “Orang yang paling kotor adalah seorang Sufi yang amat kikir.”
Dikatakan : “Tasawuf adalah tangan yag kosong dan hati yang baik.”
Asy-Syibly mengatakan : “Tasawuf adalah duduk bersama Allah swt. anpa hasrat.”
Dikatakan : “Sufi adalah orang yang mengisyaratkan dari Allah swt, sedangkan manusia mengisyaratkan kepada Alalh swt.”
Asy-Syibly mengatakan : Sufi terpisah dari manusia dan bersambung dengan Allah swt. sebagaimana difirmankan Allah swt. kepada Musa: “Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.”
(Qs. Thaha :41).
Dan memisahknnya dari yang lain. Kemudian Allah swt. berfirman kepadanya : “Engkau tidak akan melihat-Ku.” Asy-Syibly juga mengatakan : “Para Sufi adalah anak-anak dipangkuan Tuhan Al-Haq.” Katanya : “Tasawuf adalah kilat yang menyala.” Dan “Tasawuf terlindung dari memandang makhluk.”
Ruway berkata : “Para Sufi akan tetap penuh dengan kebaikan selama mereka bertengkar satu dengan yang lain. Tapi segera setelah mereka berdamai, maka tak ada lagi kebaikan pada mereka.”
Al-Jurairy mengatakan : “Tasaswuf berarti kesadaran atas keadaan-keadaan diri sendiri dan berpegang pada adab.”
Al Muzayyin menegaskan : “Tasawuf adalah kepasrahan kepada Al-Haq.”
Askar an-Naksyaby menyatakan : “Seorang Sufi tidaklah dikotori oleh sesuatu pun, tapi menyucikan segala sesuatu.”
Dikatakan : “Pencarian tidaklah meletihkan sang Sufi, dan hal-hal duniawi tidaklah mengganggunya.”
Ketika Dzun Nuun al-Mishry ditanya tentang orang-oarng Sufi, dia menjawab : “Mereka adalah kaum yang mengutamakan Allah swt. di atas segala-galanya dan yang diutamakan oleh Allah swt. di atas segala makhluk yang ada.”
Muhammad al-Wasithy mengatakan : “Mula-mula para Sufi diberi isyarat, kemudian menjadi gerakan-gerakan, dan sekarang tak ada sessuatu pun yang tinggal selain kesedihan.”
An-Nury ditanya tentang Sufi, dan dia menjawab : “Sufi adalah manusia yang menyimak pendengaran dan yang mengutamakan sebab-sebab yang diridhai.”
Abu Nashr as-Sarraj ath-Thausy berkata : “Aku bertanya kepada Ali-al-Hushry.’ Sipakah, menurutmu sufi itu?” Dia menjawab : “Yang tidak dibawah bumi dan tidak dinaungi langit.” Dengan ucapannya, menurut saya, ini al-Hushry merujuk pkepada nuansa keleburan.”
Dikatakan : “Sufi adalah orang yang manakala ddisuguhi dua keadaan atau dua akhlak yang baik, dia akan memilih yang lebih baik diantaranya.”
As-Syibly ditanya : “Mengapa para Sufi itu disebut sufi?” Dia menjawab : “Hal itu karena adanya sessuatu yang membekas pada jiwa mereka. Jika bukan demikian halnya, niscaya tidak akan ada nama yang dilekatkan pada mereka.”
Ahmad ibnul Jalla’ ditanya : “Apakah yang disebut Sufi?” Dia menjawab : “Kita tidak mengenal mereka melalui prasyarat ilmiah, namun kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang miskin, sama sekali tak memiliki sarana-sarana duniawi. Mereka bersamma Allah swt. tanpa terikat pada suatu tempat, tetapi Allah swt. tidak menghalanginya dari mengenal semua tempat. Karenanya disebut Sufi.”
Abu Ya’qub al-Mazabily menjelaskan : “Tasawuf adalah keadaan dimana semua atribut kemanusiaan terhapus.”
Abul Hasan as-Sirwany mengatakan : “Sufi adalah yang bersama ilham, bukan dengan wirid-wirid yang menyertainya.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata : “Yang terbaik untuk diucapkan tentang masalah ini adalah : “Iilah jalan yang cocok kecuali bagi kaum yang jiwanya telah digunakan Allah swt. untuk menyapu kotoran binatang.”
Abu Ali pada suatu hari menyatakan : “Seandinya sang fakir tak punya apa-apa lagi yag tersisa selain ruhnya, dan ruhnya itu ditawarkannya kepada anjing-anjing di pintu ini, niscaya tak seekor pun yang akan menaruh perhatian kepadanya.”
Syeikh Abu Sahl ash-Sha’luky berkata : “Tasawuf adalah berpaling dari sikap menetang ketetapan Allah swt.”
Al-Hushry berkomentar : “ Sang Sufi tiada setelah ketiadaannya, dan tidak pula tiada setelah keberadannya.” Ucapan ini tidak mudah dipahami. Kata-kata : “Dia tiada setelah ketiadaannya,” berarti bahwa setelah cacat-cacatnya hilang , cacat-cacat itu tidak akan kembali. Perkataan. : “Tidak pula dia tiada setelah keberadaanya,” berarti bahwa dia sibuk bersama Alalh swt. tidak akan gugur karena gugurnya makhluk. Sluruh peristiwa dunia tidaklah mempengaryhinya.
Dikatakan : “Sang Sufi terhapuskandalam kilasan yang diterimanya dan Alalh swt.”
Dikatakan pula : ‘Sang Sufi terkungkung dalam pelaksanaan Rububiyah dan tertutupi melalui pelaksanaan ubudiyah.”
Juga dikatakan : “Sufi itu tidak berubah. Tapi seandainya dia berubah, dia tidak akan ternodai.”
Adab
Allah SWT berfirman:
“Penglihtannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.”
(Qs. An-Najm :17).
Dikatakab bahwa ayat ini berarti: “Nabi melaksanakan adab di hadirat Allah.”
Allah swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
(Qs. At-Tahrim :6).
Mengomentari ayat ini, Ibnu Ababs mengatakan:
“Didiklah dan ajarilah mereka adab.”
Diriwaayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa Nabi saw. telah bersaabda:
“Hak seorang anak atas bapaknya adalah si Bapak hendaknya memberinya nama yang baik, memberinya susu yang murni dan banyak, serta mendidiknya dalam adab dan akhlak.”
Sa’id bin al-Musayyab berkata:
“Barangsiapa yang tidak mengetahui hak-hak Allah swt. atas dirinya dan tidak pula metetahui dengan baik perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, berarti tersingkir dari adab.”
Nabi saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mendidik dalam adab dan menjadikan sangat baik pendidikanku itu.”
(H.r. Baihaqi).
Esensi adab adalah gabungan dari semua akhlak yang baik. Jadi orang yang beradab orang yang pada dirinya tergabung perilaku kebaikan, dari sini munculah istilah ma’dubah yang berarti berkumpul untuk makan-makan.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata:
“Seorang hamba akan mencapai surga dengan mematuhi Allah swt. Dan akan mencapai Allah swt. dengan adab menaati-Nya.” Beliau juga mengatakan: “Aku melihat seseorang yang mau menggerakkan tangannya untuk menggaruk hidungnya dalam shalat, namun tangannya terhenti.”
Jelas bahwa yang beliau maksudkan adalah diri beliau sendiri. Syekh Abu Ali ad-Daqqaq tak pernah bersandar pada apa pun jika sedang duduk. Pada suatu hari beliau sedang berada dalam suatu kumpulan, dan saya ingin menenpatkan sebuah bantal di belakang beliau, sebab saya melihat beliau tidak punya sandaran. Setelah saya meletakkan bantal itu di belakangnya, beliau lalu bergerak sedikit untuk menjauhi bantal itu. Saya mengira beliau tidak menyukai bantal itu karena tidak dibungkus sarung bantal. Tetapi beliau lalu menjelaskan:
“Aku tidak menginginkan sandaran”
Setelah itu saya merenung, ternyata beliau memang tidak pernah mau bersandar pada apa pun.”
Al-Jalajily Bashry berkomenetar:
“Tauhid menuntut keimaman. Jadi orang yang tidak punya iman tidak bertauhid. Iman menuntut syariat. Jadi orang yang tidak mematuhi syariat berarti tak punya iman dan tauhid. Mematuhi syariat menuntut adab. Jadi orang yang tak mempunyai adab tidak mematuhi syarita, tidak memiliki iman dan tahud.”
Ibnu Atha’ berkata:
“Adab berarti terpaku dengan hal-hal yang terpuji.” Seseorang bertanya: “Apa artinya itu?” Dia meenjawab: “Maksudku engkau harus mempraktikan adab kepada Allah swt. baik secara lahir dan batin. Jika engkau berperilaku demikian, engkau memiliki adab, sekalipun bicaramu tidak seperti bicaranya orang Arab.”
Kemudian dia membacakan Syair:
Bila berkata, ia ungkapkan dengan manisnya
Jika diam, duhai cantinya
Adullah al-Jurairy menuturkan:
“Selama duapuluh tahun dlam khalwatku, belum pernah aku melonjorkan kaki satu kali pun ketika duduk. Melaksanakan adab pada Allah swt. adalah lebih utama.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Orang gyang bersekutu dengan raja-raja tanpa adab, ketololannya akan menjerumuskan pada kematian.”
Diriwayatkan ketika Ibnu Sirin itanya:
“Adab mana yang lebih mendekatkan kepada Allah swt?” Dia menjawab: “Ma’rifat mengenai Ktuhanan-Nya, beramal karena patuh kepada-Nya, dan bersyukur kepada-ya atas kesejahteraan dari-Nya, serta bersabar dalam menjalani penderitaan.”
Yahya bin Mu’adz berkata:
“Jika seorang ‘Arif meninggalkan adab di hadapan Yang Dima’rifati, niscaya dia akan binasa bersama mereka yang binasa.
Syeih Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:
“Meninggalkan adab mengakibatkan pengusiran. Orang yang berperilaku buruk dipelataran akan dikirim kembali ke pintu gerbang. Orang gyang berperilaku buruk di pintu gerbang akan dikirim untuk menjaga binatang.”
Diriwayatkan kepada Hasan al-Bashry:
“Begitu banyak yang telah dikatakan tentang berbagai ilmu sehubungan dengan adab. Yang mana diantaranya yang paling bermanfaat di dunia dan paling efektiff untuk akhirat?” Dia menjawab: “Memahami agama, zuhud di dunia , dan mengetahui apa kewajiban-kewajiban terhadap Allah swt.”
Sahl bin Abdullah mengatakan:
“Para sufi adalah mereka yang meminta pertolongan Alalh swt. dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan yang senantiasa memelihara adab terhadap-Nya.”
Ibnul Mubarak berkta:
“Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak pengetahuan.” Dia juga mengatakan: “Kita mencari ilmu tentang adab setelah orang-orang beradab meninggalkan kita.”
Dikatakan:
“Tiga perkara yang tidak akan membuat orang merasa asing:
1). Menghindari orang yang berakhlak buruk
2). Memperlihatkan adab
3). Mencegah tindakan yang menyakitkan.”
Syeikh Abu Abdullah al-Maghriby membacakan syair berikut ini, tentang adab:
Orang asing tak terasing
Bila dihiasi tiga pekerti
Menjalan adab, diantaranya
Dan kedua berbudi baik.
Dan ketiga menjauhi orang-orang berakhlak buruk.
Ketika Abu Hafs tiba di Baghdad, al-Junayd berkata kepadanya:
“Engkau telah mengajar murid-muridmu untuk berperilaku seperti raja-raja!” Abu Hafs menjawab: “Memperlihatkan adab yang baik dalam lahiriahnya, merupakan ragam dari adab yang baik dalam batinnya.”
Abdullah ibnul Mubarak berkata:
“Melaksanakan adab bagi seorang ‘arif adalah seperti halnya tobatnya pemula.”
Manshur bin Khalaf al-Maghriby menuturkan: “Seseorang mengharapkan kepada seorang Sufi: “Alangkah jeleknya adabmu!.” Sang Sufi menjawab: “Aku tidak mempunyai adab buruk.” Orang itu bertanya: “Siapa yang mengajarmu adab?” Si Sufi menjawab: “Para Sufi.”
Abu an Nashr as-Sarraj mengatakan:
“Manusia terbagi tiga kategori dalam hal adab:
“1) Manusia duniawi, yang cenderung mempriorotaskan adabnya dalam hal kefasihan bahasa Arab dan sastra, menghafalkan ilmu-ilmu pengetahuan, nama-nama kerajaan, serta syair-syair Arab
2). Manusia religius yang mempriortaskan dalam olah jiwa, mendidik fisik, menjaga batas-batas yang didtetapkan Allah, dan meninggalkan hawa nafsu
3). Kaum terpilih (ahlul Khususiyah), yang berkepdulian pada pembersihan hati, menjaga rahasia, setia kepada janji, berpegang pada kekinian, menghentikan perhatian kepada bisikan-bisikan sesat, menjaankan adab pada saat-saat memohon, dan dalam tahapan-tahapan kehadiran dan taqarrub dengan-Nya.”
Diriwaytakan bahwa Sahl bin Abdullah mengatakan:
“Orang yang gmenundukkan jiwanya dengan adab berarti telah menyembah Allah dengan tulus,”
Dikatakan:
“Kesempurnaan adab tidak bisa dicpaai kecuali oleh para Nabi – Semoga Allah melimpahkan salam kepada mereka — dan penegak kebenaran (shiddiqin).”
Abdullah ibnul Mubarak menegaskan: “Orang berbeda pendapat mengenai apa yagn disebut adab. Menurut kami, adab adalah mengenal diri.”
Dulaf asy-Syibly berkata:
“Ketidak mampuan menahan diri dalam berbicara dengan Allah swt. berarti meninggalkan adab.”
Dzun Nuun al-Mishry berkomentar:
“Adab seorang ‘arif melampaui adab siapapun. Sebab Allah yang dima’rifati yang mendidik hatinya.”
Salah seorang Sufi mengatakan:
“Allah swt. berfirman:
“Barangispaa yang Aku niscayakan tegak bersama Asma dan Sifat-Ku, maka Aku niscayakan adab padanya. Dan siapa yang Ku-buka padanya jauh dari hakikatDzat-Ku, maka Aku niscayakan kebinasaan padanya. Pilihlah, mana yang engkau sukai; adab atau kebinasaan.”
Suatu hari Ibnu Atha’ yang menjulurkan kakinya ketika sedang berada bersama murid-muridnya, berkata:
“Meninggalkan adab di tengah-tengah kaum yang memiliki adab adalah tindakan yang beradab.” Statemen ini didukung oleh hadis yang menceritakan Nabi saw. sedang berada bersama Abu Bakr dan Umar. Tiba-tiba Utsman datang menjenguk beliau. Nabi menutupi paha beliau dan bersabda. “Tidakkah aku malu di hadapan orang yang malaikat pun malu di hadapannya.??” Dengan ucapannya itu, Nabi menunjukkan bahwa betatapun beliau menghargai keadaan Utsman, namun keakraban antara beliau dengan Abu Bakr dan Umar lebih beliau hargai.
Mendekati makna kontseks ini mereka bersyair berikut:
Dalam diriku penuh santun nan ramah,
Maka, bila berhadapan dengan mereka
Yang memiliki kesetiaan dan kehormatan,
Kubiarkan jiwaku mengalir wujudnya yang spontan.
Aku berbicara apa adanya
Tanpa malu-malu
Al-Junayd menyatakan:
“Manakala cinta sang pecinta telah benar, ketentuan-ketentuan mengenai adab telah gugur.”
Abu Utsman al-Hiry mengatakan:
“Makala cinta telah menghujam sang pecinta, adab akan menjadi keniscayaannya.”
Ahmad an-Nury menegaskan:
“Barangsiapa tidak menjalankan adab di saat kini, maka sang waktunya akan dendam padanya.”
Dzun Nuun al-Mishry berkata:
“Jika seorang pemula dalam Jalan Sufi berpaling dari adab, maka dia akan dikembalikan ke tempat asalnya.”
Mengenai ayat:
“Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru kepada Tuhannya,’ (Ya Tuhan), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”
(Qs. Al-Anbiya :83).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq memberikan penjelasan:
“Ayub tidak mengatakan : “Kasihanilah aku.” (Irhamny), semata karena beradab dalam berbicara pada Tuhan.”
Begitu juga Isa as. Mengatakan:
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.”
(Qs. Al-Maidah :118).
“Seandainya aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya.”
(Qs. Al-Maidah :116).
Komentar Syeikh ad-Daqqaq:
“Nabi Isa mengucapkan “ Aku tidak menyatakan’ (lam aqul), semata karena menjaga adab di hadapan Tuhannya.”
Al-Junayd menuturkan: “Pada hari Jum’at di antara orang-orang salihin datang kepadaku, dan meminta: “Kirimlah salah seorang fakir kepadaku untuk memberikan kebahagiaan kepadaku dengan makan bersamaku.” Aku pun lalu melihat ke sekitarku, dan kulihat seorang fakir yang kelihatan lapar. Kupanggil dia dan kukatakan kepadanya: “Pergilah bersama syeikh ini dan berilah kebahagiaan keapdanya.” Tak lama kemudian orang itu kembali kepadaku dan berkata: “Wahai Abu Qasim, si fakir itu hanya makan sesuap saja dan pergi meninggalkan aku!” Aku menjawab: “Barangkali Anda mengatakan sesuatu yagn tak berkenan pada benaknya.” Dia menjawab: “Aku tidak mengatakan apa-apa.”
Aku pun menoleh, tiba-tiba si fakir duduk di dekat kami dan aku bertanya ke padanya: “Mengapa engkau tidak memenuhi kegembiraannya?” Dia menjawab: “Wahai Syeikh, saya meninggalkan Kufah dan pergi ke Baghdad tanpa makan sesuatu pun. Saya tidak ingin kelihatan tak sopan di hadapan Anda karena kemiskinan saya, tetapi ketika Anda memanggil saya, saya gembira karena Anda mengeathui kebutuhan saya sebelum saya mengatakan apa-apa.
Saya pun pergi bersamanya, sambil mendoakan kebahagiaan surga baginya. Ketika saya duduk di meja makannya, dia menyuguhkan makanan, dan berkata, Makanlah ini, karena aku menyukainya lebih dari uang sepuluh ribu dirham.” Katika saya mendengar ucapannya itu, tahulah saya bahwa citarasanya rendah sekali. Karenanya, saya tak suka makan makanannya.” Aku menjawab: “Tidakkah kau telah mengatakan kepadamu bahwa engkau bertindak tak beradab dengan tidak membiarkannya bahgia?” Dia berkata : “Wahai Abul Qasim, saya bertobat!.” Maka aku pun menyuruhnya kembali kepada orang saleh itu dan menggembirakan hatinya.”