Kisah Sahabat#Abu Dujanah Ra

Abu Dujanah Ra

Simak bin Kharasyah, atau lebih dikenal dengan nama Abu Dujanah adalah seorang sahabat Anshar. Pada perang Uhud, Nabi SAW mengangkat sebuah pedang kemudian bersabda, “Siapakah yang akan mengambil pedang ini?”

Kaum muslimin berkumpul dan berharap memperoleh pedang tersebut, tetapi Nabi SAW bersabda lagi, “Siapakah yang akan mengambilnya dengan haknya?”

Sesaat tidak ada yang menjawab, Zubair bin Awwam menyanggupinya, tetapi beliau tidak mau memberikan pedang itu kepadanya, bahkan beliau mengulangi lagi pertanyaannya. Abu Dujanah bangkit dan menghampiri Nabi SAW, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya akan mempergunakannya dengan haknya. Apakah haknya tersebut?”

“Janganlah kamu membunuh seorang muslim dengan pedang ini, dan janganlah kamu mundur dari orang kafir, sedangkan pedang ini masih ada di tanganmu!”

Abu Dujanah mengeluarkan sorban merah dan melilitkan di kepalanya, kemudian berjalan ke depan, menempatkan dirinya di antara dua pasukan. Orang-orang Anshar-pun berkata seperti biasanya kalau Abu Dujanah memakai sorban merahnya sebagai lambang semangat juangnya sampai titik darah penghabisan, “Abu Dujanah telah mengeluarkan sorban mautnya…!”

Melihat tingkah lakunya, yang telah menjadi ciri khasnya ketika berada di medanpertempuran itu, Rasulullah SAW sempat bersabda, “Sungguh itu suatu cara berjalan yang dibenci oleh Allah, kecuali di tempat ini (yakni di medan jihad, karena akan memotivasi dan membangkitkan semangat jihad anggota pasukan lainnya)…”

Setelah menerima pedang tersebut, Abu Dujanah berangkat menyerang kaum musyrikin. Setiap orang yang berhadapan dengannya, dapat ditewaskannya. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan sekumpulan wanita, salah satu dari mereka adalah Hindun bin Utbah, yang berkata dengan nada angkuh, “Kami adalah anak-anak perempuan yang mulia, berjalan di atas bantal-bantal dan bau kesturi. Jika engkau menyerang, kami akan merangkul. Jika kamu berpaling, kami pun akan berpaling.”

Melihat sikapnya tersebut, Abu Dujanah akan menyerang Hindun, tetapi wanita itu berteriak minta tolong. Beberapa saat tidak ada yang datang menolong, Abu Dujanah-pun meninggalkan mereka. Anas bin Malik yang saat itu bersamanya merasa heran dan menanyakan mengapa ia tidak membunuh wanita tersebut. Ia berkata, “Ia menjerit minta tolong, dan tidak ada seorang pun yang menolongnya, karena itu aku tidak mau menggunakanpedang Rasulullah SAW untuk membunuh wanita yang tidak mempunyai penolong seorangpun.”

Kisah Sahabat#Dzimad Al Azdy Ra

Dhimad Al Azdy Ra

Dhimad adalah lelaki dari Azd Syanu’ah, salah satu suku dari Yaman, yang mempunyai keahlian mengobati penyakit gila atau gangguan jin. Ketika ia sedang umrah di Makkah, iasempat duduk di dalam majelis dimana di dalamnya ada Abu Jahal, Utbah bin Rabiah dan Umayyah bin Khallaf. Abu Jahal menyebut nama Muhammad yang dianggapnya sebagai pemecah belah persatuan, menganggap bodoh akal orang-orang kafir Quraisy, menuduh sesat orang-orang terdahulu yang meninggal dan memaki berhala-berhala sembahan mereka. Umayyah menimpali kalau Muhammad telah terkena penyakit gila.

Sebagai orang yang memiliki keahlian mengobati penyakit gila dan gangguan jin, Dhimad merasa terpanggil mendengar informasi tersebut, ia-pun berusaha menemui Rasullullah SAW. Tetapi baru keesokan harinya ia menemukan Nabi SAW duduk di belakang maqam Ibrahim sedang shalat. Seusai shalat, iapun mengemukakan apa yang didengarnya dari orang-orang Quraisy tersebut dan maksudnya untuk mengobati. Dhimad berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbuat demikian, kecuali orang yang terkena gangguan jin!”

Mendengar ucapan yang bersifat menuduh tersebut, Rasullullah SAW bersabda, “Segala pujian hanya milik Allah SWT, aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, beriman kepada-Nya dan bertawakkal kepada-Nya. Barang siapa yang diberi petunjuk Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya.”

Dhimad terpesona mendengar perkataan Rasullullah SAW. Sebagai seorang yang terpelajar, ia mengetahui bahwa perkataan seperti bukanlah perkataan yang biasanya dilontarkan para penyair. Ia meminta beliau mengulangi perkataan itu beberapa kali dan Nabi SAW memenuhi permintaannya dengan sabar. Kemudian ia bertanya, “Kepada apakah engkau menyeru? Dan apa yang kuperoleh bila aku melakukannya?”

Nabi SAW menjawab, “Aku mengajakmu untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, kamu tinggalkan berhala-berhala dari tengkukmu, dan engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah. Dan ganjaran untukmu adalah surga.”

Serta merta Dhimad-pun menyambut seruan itu dan masuk Islam. Ia tinggal selama beberapa hari bersamaRasullullah SAW hingga mengetahui cukup banyak surah dari Qur’an, dan kemudian kembali kepada kaumnya.

Beberapa waktu berselang setelah Rasullullah SAW sudah di Madinah, beliau mengirim sepasukan jamaah jihad di daerah Yaman. Di suatu daerah, pasukan tersebut memperoleh ghanimah 20 ekor unta, Ali bin Abi Thalib yang memimpin pasukan, kemudian mengetahui kalau daerah itu adalah daerahnya Dhimad al Azdy, maka ia menyuruh pasukannya untuk mengembalikan ghanimah tersebut, walau tidak bertemu secara langsung dengan Dhimad.

Kisah Sahabat#Utsman Bin Mazh’un Ra

Utsman Bin Mazh’un Ra

Utsman bin Mazh’un merupakan golongan awal yang masuk Islam, sebelum mencapai dua puluh orang, sehingga ia termasuk dalam golongan as sabiqunal awwalin. Pada awal keislamannya, ia pernah berhijrah ke Habasyah sampai dua kali untuk menghindari siksaan kaum kafir Quraisy. Ketika berhembus kabar bahwa orang-orang Quraisy telah menerima Islam, ia kembali ke Makkah. Tetapi ternyata itu hanya kabar bohong, bahkan mereka telah bersiap untuk menangkap dan menyiksa para sahabat yang baru kembali dari Habasyah tersebut. Untung bagi Utsman, pamannya Walid bin Mughirah (ayah Khalid bin Walid), menyatakan memberikan perlindungan keamanan kepadanya, sehingga orang-orang kafir Quraisy tidak bisa menyiksanya.

Utsman bebas bergerak dan berjalan dimana saja di Makkah karena perlindungan Walid tersebut, tetapi ia melihat kaum muslimin lainnya dalam ketakutan, sebagian dalam derita penyiksaan. Ia jadi merasa tidak nyaman walau dalam keamanan, karena itu ia mengembalikan jaminan perlindungan pamannya tersebut, sehingga bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh saudara muslim lainnya. Ketika Walid menanyakan alasannya, ia berkata, “Aku hanya ingin berlindung kepada Allah dan tidak suka kepada yang lain-Nya…”

Suatu ketika ia melewati majelis orang kafir Quraisy yang sedang mendengarkan lantunan syair dari seorang penyair bernama Labid bin Rabiah. Seperti biasanya, para hadirin akan memberi applaus. Utsman bin Madz’un ikut memberi applaus ketika Labid menyampaikan salah satu baitnya, “Ingatlah, segala sesuatu selain Allah akan binasa.”

Labidpun meneruskan bait syairnya, “Dan semua nikmat niscaya pasti sirna.”

Spontan Utsman berteriak, “Dusta…!! Nikmat surga tidak akan pernah sirna…”

Mendengar ada orang yang membantah syairnya, Labid jadi marah, ia meminta agar orang Quraisy bertindak karena ada yang mulai berani merusak forum mereka. Seseorang bangkit untuk memukul Utsman, tetapi ia membalas pukulannya tersebut, akibatnya salah satu matanya bengkak karena terpukul. Pamannya, Walid bin Mughirah, yang berada di sebelahnya berkata, “Kalau saja engkau masih berada dalam perlindunganku, matamu tidak akan mendapat musibah seperti itu!!”

Mendengar komentar pamannya itu, Utsman justru menjawab dengan semangat, “Bahkan aku merindukan ini terjadi padaku, dan mataku yang satunya menjadi iri dengan apa yang dialami oleh saudaranya. Aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih mulia daripada kamu!”

Ketika telah tinggal di Madinah, Utsman bin Mazh’un meninggal karena sakit, tidak gugur dalam pertempuran sebagai syahid. Hal ini sempat menimbulkan prasangka yang buruk, bahkan Umar bin Khaththab sempat berkata, “Lihatlah orang ini (yakni Utsman) yang sangat menjauhi kebesaran dunia (yakni zuhud), tetapi ia mati tidak dibunuh (mati syahid) !!”

Persangkaan seperti itu terus bersemayam dalam pikiran banyak orang sampai akhirnya Nabi SAW wafat karena sakit dan tidak dalam pertempuran. Umar-pun berkata, “Alangkah sedihnya, orang yang paling mulia di antara kita telah meninggal dunia.”

Prasangka seperti itupun jadi hilang, mereka tidak lagi memandang remeh kematiannya yang tidak dibunuh atau syahid di medang perang. Dan hal itu makin menguat ketika Khalifah Abu Bakar-pun meninggal juga karena sakit, tidak terbunuh di medan pertempuran. Kali ini Umar berkata, “Alangkah sedihnya, orang yang paling baik di antara kita telah meninggal dunia.” Utsman merupakan sahabat yang pertama meninggal di Madinah dan orang muslim pertama yang pertama kali dimakamkan di Baqi. Beberapa waktu kemudian putri Nabi SAW yang juga istri Utsman bin Affan, Ruqayyah binti Muhammad meninggal, Nabi SAW bersabda, “Pergilah, wahai putriku, susullah saudara kita yang saleh, Utsman bin Mazh’un..!!”

Kisah Sahabat#Syuja’ Bin Wahb Ra

Syuja’ Bin Wahb Ra

Syuja’ bin Wahb al Asadi diperintahkan Rasullullah SAW untuk menyampaikan surat kepada Kisra, Raja Persia, yang berisi ajakan untuk masuk agama Islam. Ketika sampai di Persia, Kisra mengumpulkan para pembesarnya di aula istana yang telah dihias untuk menyambut utusan Nabi SAW. Syuja’ diijinkan masuk aula istana Kisra, danseseorang diminta untuk mengambil suratNabi SAW tersebut dari tangan Syuja’, tetapi Syuja menolaknya, ia berkata tegas, “Aku diperintahkan Rasulullah SAW untuk menyerahkan surat ini langsung ke tanganmu!”

Setelah diijinkan, ia mendekati Kisra dan menyerahkan surat tersebut. Kisra memerintahkan juru tulisnya yang berasal dari kota Hiirah, yang mengerti bahasa Arab untuk membaca surat tersebut, sekaligus menerjemahkannya. Ketika awal suratyang berbunyi, “Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Kisra, Raja Persia…!”

Kisra langsung berteriak marah. Ia tersinggung karena nama Nabi SAW disebutkan terlebih dahulu daripada namanya sebagai Raja Persia. Diambilnya surat tersebut dari tangan jurutulisnya dan ia merobek-robeknya. Dengan marah pula ia mengusir Syuja’ dari aula istana Kisra.

Melihat situasi yang memanas tersebut, Syuja’-pun bergegas keluar dan menaiki kendaraannya, kemudian memacunya agar secepat-cepatnya pergi dari tempat itu. Ia berkata, “Demi Allah aku tidak perduli akan berada dimana dari dua jalan ini, karena aku telah menyampaikan suratRasulullah SAW kepada Kisra.”

Setelah sampai di hadapan Rasulullah SAW, Syuja’ menceritakan apa yang terjadi, dan beliau bersabda, “Sebenarnya Kisra telah mengoyak-koyak kerajaannya sendiri, sebagaimana ia merobek-robek suratku.” Beberapa waktu setelah itu, sebenarnya Kisra memerintahkan orang-orangnya untuk memanggil Syuja’ untuk menghadapnya lagi, tetapi Syuja’ tidak tersusul. Kisra memerintahkan wakilnya di Yaman, Badzan untuk mengirimkan dua orang menemui Nabi SAW, dan memerintahkan Beliau untuk menghadap Kisra. Ketika dua orang utusan yang bernama Abanauah dan Jadd Jamirah ini sampai di Madinah dan menghadap Nabi SAW, beliau menyuruh mereka beristirahat dahulu dan menemui beliau lagi esok harinya. Dalam pertemuan keesokan harinya itu, Nabi SAW mengabarkan bahwa Allah telah membinasakan Kisra, dan membuat putranya yang bernama Syiruyah mengalahkan dan membunuhnya.

Kisah Sahabat#Huwaithib Bin Abdul Uzza Ra

Huwaithib Bin Abdul Uzza Ra

Huwaithib bin Abdul Uzza adalah salah seorang pembesar Quraisy. Ketika mengikuti perang Badar di pihak kaum musyrikin, sebenarnya ia telah melihat suatu i’tibar bagaimana seribu pasukannya yang bersenjata dan perbekalan lebih lengkap dikalahkan oleh 313 orang muslim dengan persenjataan dan perbekalan seadanya, bahkan hanya dua orang yang menunggang kuda. Saat itu ia melihat gambaran, bagaimana malaikat yang bergerak di antara langit dan bumi berkelebat menyerang, menangkap dan menawan kawan-kawannya, sehingga terbersit dalam hatinya ucapan, “Orang itu (Nabi Muhammad SAW) adalah lelaki yang terpelihara…!” 

Huwaithib tidak menceritakan apa yang dilihatnya ini pada siapapun, tetapi hal itu tidak juga membuka hatinya untuk memeluk Islam. Bahkan sampai selesainya perjanjian Hudaibiyah, dimana makin banyak orang-orang Quraisy yang mengikuti Islam, baik kalangan biasa ataupun tokoh-tokohnya, ia belum tergerak juga untuk mengikuti jejak mereka.

Pada saat Nabi SAW dan sahabatnya melaksanakan umrah Qadhiyyah (umrah qadha’), umrah pengganti karena saat perjanjian Hudaibiyah itu gagal/terhalang, setahun setelah perjanjian Hudaibiyah, Huwaithib bersama Suhail bin Amr ditugaskan untuk mengusir Nabi SAW dan kaum muslimin dari Makkah jika waktunya telah habis.

Setelah tiga hari berlalu sesuai dengan waktu yang diberikan kaum Quraisy, Huwaithib dan Suhail menemui Nabi SAW , dan berkata, “Waktu yang menjadi syaratmu telah selesai, maka keluarlah engkau dari negeri kami ini…!”

Nabi SAW berkata kepada Bilal untuk mengumumkan kepada umat Islam lainnya, “Hai Bilal, hendaknya tidak ada seorangpun yang turut bersama kita ke Makkah, yang masih ada di sini sebelum matahari terbenam.”

Kemenangan Nabi SAW dan kaum muslimin saat Fathul Makkah membuat Huwaithib ketakutan, ia mengungsikan keluarganya ke berbagai tempat yang dianggapnya aman. Ketika berada di kebun bani Auf, ia bertemu dengan Abu Dzar al Ghiffary, ia berusaha lari, tetapi Abu Dzar justru memanggilnya dengan lembut, dan menanyakan keadaannya. Antara mereka berdua memang ada keakraban dan kasih sayang, karena itu ia tidak ragu untuk menghampiri Abu Dzar dan menyatakan ketakutannya akan dibunuh. Ia juga menceritakan kalau keluarganya telah diungsikan untuk keamanan mereka.

Menanggapi kekhawatirannya itu, Abu Dzar mengatakan kalau sebenarnya dia dan penduduk Makkah lainnya aman dengan jaminan keselamatan dari Allah SWT, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW ketika memasuki kotaMakkah. Abu Dzar juga meminta agar ia mengumpulkan lagi keluarganya dan kembali ke rumahnya, dan ia menyetujuinya. Sambil mengawal Huwaithib dan keluarganya, Abu Dzar terus berteriak, “Sesungguhnya Huwaithib telah diberi jaminan keselamatan, maka jangan seorangpun yang menyalakan api kemarahan kepadanya…”

Setelah sampai di rumah Huwaithib, Abu Dzar segera pergi. Tetapi beberapa saat kemudian ia kembali lagi, dan mengatakan kalau ia menemui Nabi SAW dan menceritakan apa yang dilakukannya, dan Nabi SAW membenarkan tindakannya, Huwaithib jadi merasa tenang. Abu Dzar berkata kepadanya, “Wahai Abu Muhammad, sampai kapan kamu tetap begini? Kamu telah terlewat dari banyak peperangan, karenanya kamu terlewat dari banyak kebaikan. Temuilah Rasulullah SAW dan masuklah Islam, kamu pasti akan selamat. Sesungguhnya beliau adalah sebaik-baiknya manusia, paling lembut hati dan paling banyak menyambung silaturahmi di kalangan mereka. Kemuliaannya adalah kemuliaanmu, ketinggiannya adalah ketinggianmu.”

Huwaithib merenungi perjalanan hidupnya selama memusuhi Rasulullah SAW, dan perlakuan beliau selama ini, terutama setelah memperoleh kemenangan besar di Fathul Makkah itu. Akhirnya hati Huwaithib tergerak dengan saran Abu Dzar itu, ia minta diantarkan untuk menemui Nabi SAW. Mereka berdua mendapati Nabi SAW bersama Abu Bakar di Bathha’. Huwaithib menyampaikan salam seperti diajarkan oleh Abu Dzar, beliau menjawab salamnya, dan ia bersyahadat menyatakan keislamannya. Nabi SAW amat bersyukur dan gembira atas hidayah Allah yang membawanya memeluk Islam. Ketika Nabi SAW mempersiapkan pasukan karena ancaman serangan dari beberapa kabilah Arab yang bersekutu dalam Perang Hunain, beliau meminjam uang dari Huwaithib untuk membiayai pasukan, dan ia meminjami sebanyak empat puluh ribu dirham. Ia ikut menyertai Nabi SAW dalam perang Thaif dan Hunain, dan setelah selesainya perang Hunain, beliau mengembalikan uang milik Huwaithib dan memberinya ghanimah sebanyak seratus ekor unta.

Kisah Sahabat#Abbas Bin Ubadah Ra

Abbas Bin Ubadah Ra

Abbas bin Ubadah bin Nadhlah merupakan sahabat Anshar yang mula-mula memeluk Islam (as sabiqunal awwalun). Ia berasal dari Bani Sulaim bin Auf, Suku Khazraj dan termasuk salah satu dari duabelas orang yang berba’iat kepada Rasulullah di Aqabah yang pertama. Ia juga menyertai Ba’iatul Aqabah yang kedua, sebagai tonggak awal pembentukan negeri muslim di Madinah. 

Pada Ba’iatul Aqabah kedua itu, setelah Abul Haitsam berpidato kepada kaumnya, suku Aus, untuk menerima dan membela Nabi SAW, Abbas bin Ubadah juga berpidato kepada kaumnya, Suku Khazraj dengan ajakan yang sama. Antara lain ia berkata,”…jika kalian menyaksikan harta benda kalian musnah, dan orang-orang terhormat di antara kalian terbunuh, apakah kalian akan melemparkan beliau ke dalam kehancuran, dan tidak melindunginya dari musuh? Jika itu terjadi, maka Demi Allah, itu adalah kehinaan kalian di dunia dan di akhirat…. Bawalah beliau, korbankanlah harta kalian dan tidak mengapa orang-orang terhormat kalian terbunuh, karena demi Allah, itu akan menjadi kebaikan dunia dan akhirat.”

Prosesi Ba’iatul Aqabah kedua itu terjadi pada sepertiga malam yang terakhir pada salah satu hari tasyriq. Memang dipilih waktu yang sepi dan gelap untuk tidak diketahui oleh kaum kafir Quraisy. Tetapi setelah seluruh proses ba’iat itu selesai, ada seorang kafir yang memergoki kumpulan tersebut. Ia berteriak di tempat ketinggian, “Wahai orang-orang yang ada di dalam rumahnya, apakah kalian menghendaki Muhammad dan orang yang berkumpul bersamanya, yang telah keluar dari agama nenek moyangnya? Lihatlah, mereka berkumpul di tempat penggembalaan kalian….”

“Demi Allah, ini krisis Aqabah… ” Kata Nabi SAW.

Mendengar ucapan Nabi SAW ini, Abbas bin Ubadah berkata, “Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, jika engkau berkenan, besok kami akan menghabisi penduduk Mina dengan pedang-pedang kami….”

Tetapi Nabi SAW bersabda, “Kami tidak diperintahkan untuk itu, kembalilah kalian ke tenda kalian…!!”

Mereka kembali ke tenda masing-masing dan tidur. Keesokan harinya, beberapa pembesar Quraisy datang ke perkemahan penduduk Yatsrib, dan menanyakan kebenaran peristiwa semalam. Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin rombongan haji dari Yatsrib, dengan tegas berkata, “Itu bohong, kaumku tidak mungkin bertindak secara lancang melangkahiku. Apapun yang dilakukan penduduk Yatsrib, mereka selalu meminta pertimbangan dariku…!!”

Sementara itu, tujuhpuluh lebih orang yang telah memeluk Islam berbaur dengan yang lainnya, dan sama sekali tidak berkomentar apa-apa. Kaum Quraisy tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada bukti dan saksi yang menguatkan dugaannya tersebut.

Inilah titik tolak awal bangkitnya Islam, dua suku terkuat di Madinah yang sebelumnya saling berperang bersedia berkorban untuk mendukung Nabi SAW. Dua tokohnya, Abbas bin Ubadah dari Khazraj dan Abul Haitsam at Tayyihan dari Aus, berhasil meyakinkan kaumnya untuk berdiri di belakang Nabi SAW demi menegakkan dan memenangkan Islam

Kisah Sahabat#Adi Bin Hatim R

Adi Bin Hatim Ra

Adi bin Hatim adalah seorang penduduk di sekitar Madinah, tetapi ia tidak termasuk penganut agama jahiliah (penyembah berhala) seperti umumnya penduduk Madinah. Ketika ia mendengar Nabi SAW akan hijrah ke Madinah, ia sangat tidak menyukai hijrah beliau itu dengan kebencian yang amat mendalam. Karena itu ia pergi hingga sampai negeri sang kaisar yakni Romawi. Tetapi ternyata ia merasa lebih tidak senang dengan tempatnya itu, melebihi ketidak-sukaan akan hijrahnya Nabi SAW ke Madinah.

Sementara di tempat lain, pasukan berkuda Nabi SAW menangkap beberapa orang, yang salah satunya adalah seorang wanita tua, yang masih bibinya Adi bin Hatim, yang hidup sendirian. Ketika dihadapkan kepada Nabi SAW, wanita tua itu berkata, “Wahai Nabi, sang duta berada jauh dari kami dan anak kami juga telah pergi, sedangkan aku wanita tua yang tidak punya pelayan, maka berbuat baiklah kepadaku, semoga Allah berbuat baik kepadamu pula.”

Ketika Nabi bertanya tentang siapa sang duta itu, Wanita itu menjawab, “Adi bin Hatim.”

Ali bin Abi Thalib yang berada di sebelah Rasulullah SAW menyarankan wanita itu untuk meminta hewan tunggangan kepada Nabi SAW untuk mencari kerabatnya. Ia mengikuti saran Ali tersebut dan beliau memenuhinya. Kemudian wanita tua itu pergi mencari keberadaan keponakannya tersebut, yang ditemukannya di daerah Aqrab, termasuk wilayah Romawi. Ia berkata, “Sesungguhnya aku telah melakukan perbuatan yang belum pernah dilakukan ayahmu. Temuilah Nabi SAW itu, baik dengan berharap atau dengan takut. Sesungguhnya si fulan telah menemui beliau dan telah memperoleh sesuatu darinya, begitu juga dengan si fulan yang lain.”

Adi bin Hatim yang pada dasarnya sangat tidak suka dengan tempatnya di wilayah Romawi, memutuskan untuk kembali ke Madinah. Dipikirnya, kalau lelaki itu (yakni Nabi SAW) memang pendusta, ia tidak akan bisa memberinya mudharat sedikitpun. Tapi kalau lelaki itu benar, ia pasti akan mengenali kebenarannya.

Adi bin Hatim menemui Nabi SAW di Madinah sesuai dengan saran bibinya. Beliau menyerunya kepada agama Islam, tetapi dijawab Adi menjawab, “Aku telah mempunyai agama!!”

Mendengar jawabannya itu, Nabi SAW bersabda, “Aku lebih tahu tentang agamamu tersebut dibandingkan engkau sendiri!!”

Adi bin Hatim keheranan dengan pernyataan beliau tersebut. Tentunya Nabi SAW telah memperoleh pemberitahuan dari Jibril tentang dirinya. Belum sempat Adi berkata apa-apa, beliau bersabda lagi, “Bukankah kamu berasal dari kalangan penganut Ar-Rukuusiyyah? Dan kamu memakan seperempat ghanimah (rampasan perang) dari kaummu, padahal itu haram menurut agamamu! Akupun tahu apa yang menghalangi kamu untuk memeluk Islam, engkau berkata bahwa orang-orang yang mengikutiku hanya orang-orang yang lemah, sedang orang-orang Arab sendiri telah mengusirku?”

Ar-Rukuusiyyah adalah agama perpaduan antara Nashrani dan agama kaum Shabiin. Adi hanya bisa membenarkan apa yang disabdakan oleh Nabi SAW.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi, “Apakah engkau tahu sebuah tempat bernama Hiirah? Demi Dzat Yang jiwaku di TanganNya, Allah akan menyempurnakan agama ini, hingga seorang wanita di Hiirah akan bepergian seorang diri dengan aman untuk thawaf di Baitullah. Begitupun Allah akan membuka perbendaharaan kekayaan Kisra bin Hurmuz, harta bendanya akan dibagi-bagikan, sehingga tiada seorangpun yang bersedia menerimanya.”

Seperti yang diyakininya, Adi ternyata mengenali kebenaran itu dan membawanya memeluk Islam, walaupun memang ia belum mengerti “ramalan” Nabi SAW tentang wanita dari Hiirah dan Kisra bin Hurmuz. Bisa dimaklumi, karena waktu itu sering terjadi perampokan kafilah-kafilah di perjalanan, dan yang paling sering dan paling ditakuti adalah perampokan yang menimpa wanita-wanita Hiirah. Sedang Kisra bin Hurmuz saat itu sedang berkuasa dengan kuatnya di Persia dan tentaranyapun sangat ditakuti negeri-negeri lainnya. Hanya Kaisar Romawi yang bisa mengimbangi kekuatannya.

Waktu berlalu bertahun-tahun kemudian, suatu ketika Adi bin Hatim sedang thawaf di Ka’bah, dan ia melihat seorang wanita dari Hiirah, suatu kota tua di daerah Kufah, sedang thawaf sendiri tanpa pengawalan dan perlindungan seorangpun. Begitupun setelah Rasullullah SAW wafat, ia menyertai suatu pasukan yang mengalahkan tentara Persia, dan membuka harta kekayaan Kisra bin Hurmuz.

Dua peristiwa masa depan yang disampaikan Rasulullah SAW ketika menyerunya memeluk Islam, ternyata ia mengalaminya sendiri, dan itu makin meneguhkan dan mempertebal keimanannya kepada Allah dan Rasulullah SAW.

Kisah Sahabat#Utsman Bin Affan Ra

Utsman Bin Affan Ra, Dzun Nurain

Utsman bin Affan berasal dari kalangan bangsawan Suku Quraisy, kaya raya dan pengusaha yang sukses. Ia termasuk kelompok sahabat yang pertama-tama memeluk Islam. Dalam perjalanan pulang dari perniagaannya di Syam, di sebuah tempat teduh antara Ma’an dan Zarqa, ia tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya itu ia mendengar seorang penyeru agar mereka yang tidur segera bangun, karena Ahmad telah bangkit di Makkah!!

Setibanya di Makkah, iasegera menemui sahabatnya, Abu Bakar dan menceritakan mimpinya. Ternyata Abu Bakar telah memeluk Islam, dan menceritakan tentang dakwah baru yang disampaikan Nabi SAW. Utsman yang sebelumnya memang begitu takjub dan terpesona dengan ketinggian dan kemuliaan akhlak Nabi SAW, segera saja meminta Abu Bakar mengantarnya menghadap Rasulullah SAW untuk berba’iat memeluk Islam.

Ketika keislamannya diketahui keluarganya, pamannya yang bernama Hakam bin Abul Ash bin Umayyah menangkap dan mengikatnya dengan tali, kemudian berkata, “Apakah kamu membenci agama nenek moyangmu dan lebih suka pada agama baru tersebut? Demi Allah, aku tidak akan melepaskan ikatanmu selamanya, jika kau tidak kembali ke agama nenek moyangmu!!”

Tetapi keimanan telah merasuki jiwanya sehingga dengan tegas ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan meninggalkan agama ini selama-lamanya, dan tidak akan berpisah dengannya.”

Melihat keteguhannya yang rasanya tidak akan tergoyahkan, akhirnya Hakam melepaskan ikatannya.

Utsman bin Affan merupakan sahabat yang pengusaha dan kaya raya sebagaimana Abdurrahman bin Auf. Mereka berdua juga sangat dermawan, dan termasuk dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga semasa hidupnya. Hanya saja tentang Abdurrahman bin Auf, Nabi SAW pernah bersabda bahwa ia akan masuk surga perlahan-lahan, dalam riwayat lain, dengan merangkak, karena hisab kekayaannya. Sebagaimana Nabi Sulaiman AS adalah nabi yang perlahan-lahan masuk surga karena hisab kekayaannya. Karenanya Nabi SAW menyatakan, “Abdurrahman bin Auf adalah Sulaimannya ummatku!!”

Tetapi menyangkut Utsman bin Affan, beliau justru menyatakan, “Tidak ada yang membahayakan Utsman, setelah apa yang dilakukannya hari ini….”

Ungkapan ini disabdakan Nabi SAW setelah apa yang dibelanjakan Utsman bin Affan di jalan Allah untuk perang Tabuk. Pasukan yang dibentuk untuk menghadapi serangan pasukan Romawi ini disebut dengan Jaisyul Usrah (Pasukan di Masa Sulit), karena waktu itu musim panas, kekeringan dan paceklik melanda jazirah Arab. Tidak mudah menghimpun dana dan perbekalan sementara kebanyakan kaum muslimin sendiri dalam kesulitan menjalani hidup sehari-hari.

Utsman bin Affan yang tengah mempersiapkan kafilah dagang ke Syam dengan 200 ekor unta lengkap barang dan perbekalannya berikut 200 uqiyah,langsung dibelokkan ke masjid Nabi SAW untuk pasukan Tabuk. Itu belum cukup juga, ia menambah dan menambah hingga mencapai 900 unta dan 100 kuda, riwayat lain menyebutkan sebanyak 940 unta dan 60 kuda, lengkap dengan perlengkapan dan perbekalannya. Masih belum puas bersedekah, Utsman datang ke kamar Nabi SAW dan menyerahkan 700 uqiyah emas, riwayat lain menyebutkan 1000 atau 10.000 dinar, yang langsung diterima oleh tangan Rasulullah SAW sendiri.

Ungkapan dan sabda Nabi SAW tersebut mungkin merupakan puncak kekaguman dan penghargaan beliau atas pengorbanan Utsman atas kekayaannya, demi kepentingan ummat dan agama Islam.

Pada awal hijrah ke Madinah, kaum Muhajirin mengalami kesulitan air. Sebenarnya ada mata air yang mengeluarkan air tawar yang segar dan enak yang disebut Sumur Raumah. Sayangnya mata air ini dikuasai oleh orang Yahudi, yang menjualnya satu geriba air dengan segantang gandum. Kaum Muhajirin yang kebanyakan meninggalkan kekayaannya di Makkah tentu saja tak mampu membayarnya.

Nabi SAW mengharapkan ada sahabat yang membeli telaga tersebut untuk kepentingan umat muslim, maka tampillah Utsman bin Affan memenuhi harapan Nabi SAW. Pada awalnya si Yahudi menolak menjualnya, maka Utsman bersiasat dengan membeli separuhnya saja. Si Yahudi setuju dengan harga 12.000 dirham, dengan pembagian, satu hari untuk Utsman dan satu hari untuk si Yahudi.

Ketika giliran waktu untuk Utsman, kaum muslimin dan masyarakat Madinah yang membutuhkan air dipersilahkan untuk mengambilnya dengan gratis dan tanpa batas. Karena itu mereka menampung untuk dua hari. Ketika tiba giliran waktu untuk si Yahudi, tak ada lagi orang yang membeli air darinya sehingga ia kehilangan pendapatannya dari telaga tersebut. Akhirnya ia menjual bagiannya tersebut kepada Utsman seharga 8.000 dirham, sehingga masyarakat Madinah bisa memperoleh air segar telaga tersebut kapan saja dengan cuma-cuma.

Ketika kaum muslimin di Madinah makin banyak dan masjid tidak lagi bisa menampung, Nabi SAW bermaksud melakukan perluasan dengan membeli tanah dan bangunan di sekitar masjid. Tampillah Utsman untuk merealisasikan maksud Nabi SAW tersebut, dan tanpa segan ia mengeluarkan 15.000 dinar. Begitupun setelah Fathul Makkah, Nabi SAW bermaksud memperluas Masjidil Haram dengan membeli tanah dan bangunan sekitar masjid, sekali lagi Utsman tampil memenuhi harapan Nabi SAW dengan mengeluarkan sedekah 10.000 dinar.

Masih banyak lagi kisah kedermawanan Utsman sehingga tak heran jika Nabi SAW berkata, bahwa teman beliau di surga adalah Utsman bin Affan.

Satu peristiwa lagi di jaman Khalifah Abu Bakar, saat itu paceklik melanda kota Madinah, kaum musliminpun mengalami berbagai kesulitan. Ketika dilaporkan kepada Abu Bakar, iaberkata, “Insya Allah, besok sebelum sore tiba, akan datang pertolongan Allah…”

Pagi hari esoknya, datanglah kafilah dagang Utsman dari Syam yang penuh dengan bahan makanan pokok. Berkumpullah para pedagang, termasuk dari kaum Yahudi yang biasa memonopoli perdagangan bahan makanan, mereka berlomba melakukan penawaran. Utsman berkata, “Berapa banyak kalian akan memberi saya keuntungan?”

“Sepuluh menjadi duabelas.” Kata seorang pedagang.

“Ada yang lebih tinggi?” Tanya Utsman.

“Sepuluh menjadi limabelas.” Pedagang lain menawar. 

“Siapa yang berani menawarnya lebih dari itu, padahal seluruh pedagang Madinah berkumpul di sini?”

Utsman bertanya, “Ada yang berani memberi keuntungan sepuluh menjadi seratus, atau sepuluh kali lipat?”

“Apa ada yang mau membayar sebanyak itu?”

“Ada, yakni Allah SWT….” Kata Utsman dengan tegas. Parapedagang itupun berlalu pergi, dan Utsman membagi-bagikannya dengan cuma-cuma kepada warga fakir miskin Madinah dan mereka yang memerlukannya.

Kisah Sahabat#Ummu Habibah Ra

Ummu Habibah Ra, Ummul Mukminin

Ummu Habibah RA adalah anak dari tokoh kaum musyrik Makkah Abu Sufyan bin Harb. Pada masa jahiliah ia menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy, dan kemudian bersama-sama memeluk Islam. Karena tekanan dan siksaan dari kaum musyrikin, mereka berdua ikut berhijrah ke Habasyah. Sayangnya disana Ubaidillah murtad dan mati dalam keadaan musyrik (beragama Nashrani). 

Sebelum suaminya murtad, Ummu Habibah, yang nama aslinya adalah Ramlah binti Abu Sufyan, memimpikan wajah suaminya terlihat sangat buruk dan menakutkan. Keesokan harinya, suaminya memutuskan untuk memeluk agama Nashrani. Tentu saja Ummu Habibah menjadi panik, namun demikian Allah meneguhkan pendiriannya dan tetap bertahan dalam keislamannya.

Ketika Nabi SAW mengirimkan suratkepada Najasyi, lewat sahabat Amr bin Umayyah adh Dhamry, beliau juga menyampaikan lamaran kepada Ummu Habibah RA, dan meminta tolong Najasyi menyampaikan lamarannya ini. Najasyi menyuruh seorang wanita bernama Abraha untuk menyampaikan berita ini sekaligus menjemput Ummu Habibah. Memperoleh kabar ini, Ummu Habibah begitu gembira, sehingga ia melepas perhiasan yang dipakainya dan diberikannya kepada Abraha, beberapa benda berharga yang dimilikinya juga diberikannya kepada utusan Najasyi tersebut.

Najasyi yang saat itu baru saja memeluk Islam, menikahkan Rasulullah SAW dengan Ummu Habibah, dan memberikan mahar sebanyak 400 dinar emas. Orang-orang yang hadir pada majelis Najasyi saat itu juga diberikan hadiah uang dinar dan juga makanan. Ummu Habibah pun berangkat ke Madinah untuk dipertemukan dengan Rasulullah SAW. Najasyi mengirimkan banyak sekali barang-barang hadiah dan minyak wangi ke Madinah, sebagai bingkisan pernikahan beliau itu.

Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharram tahun 7 Hijriah. Sebagian riwayat menyatakan bahwa pernikahan terjadi pada tahun 6 hijriah, dan Ummu Habibah baru pindah ke Madinah untuk tinggal bersama Rasulullah pada tahun 7 hijriah. Mengenai tahun kewafatan Ummu Habibah, banyak perbedaan pendapat, sebagain meriwayatkan tahun 44 hijriah, ada yang tahun 42 hijriah, 55 hijriah atau juga 50 hijriah, wallahu a’lam.

Saat berlangsungnya perjanjian Hudaibiyah, Abu Sufyan yang masih kafir datang ke Madinah, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi Ummu Habibah. Saat melihat kasur terhampar, Abu Sufyan akan mendudukinya, tetapi putrinya tersebut bergegas melipat dan menyingkirkannya. Tentu saja Abu Sufyan terkejut, ia bertanya, “Apakah aku tidak boleh duduk di atasnya? Tidak pantaskah aku untuk mendudukinya?”

“Kasur ini hanya untuk Rasulullah SAW,” Kata Ummu Habibas dengan tegas, “Ayah masih kafir dan tidak suci, bagaimana mungkin aku akan membiarkan ayah akan mendudukinya?”

“Setelah kita berpisah, ternyata engkau mempunyai perangai yang buruk,” Kata Abu Sufyan dengan kecewa.

Tentu saja hal itu bukan perangai buruk Ummul Mukminin, Ummu Habibah RA. Sebaliknya hal ini adalah wujud kecintaan dan penghormatannya kepada Nabi SAW, jauh melebihi kecintaan pada siapapun di dunia ini, termasuk orang tuanya sendiri.

Hal sama juga ditunjukkannya ketika ayahnya meninggal dunia. Walau meninggalnya dalam keislaman, Ummu Habibah memakai wewangian pada malam ketiga setelah kewafatan ayahnya. Ia berkata, “Sebenarnya saya tidak terlalu suka memakai wewangian, tetapi Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang wanita tidak boleh berkabung lebih dari tiga hari, kecuali untuk suaminya. Ia boleh berkabung selama empat bulan sepuluh hari jika suaminya meninggal. Karena itu saya memakai wewangian agar tidak dianggap masih berkabung atas kematian ayah saya.”

Kisah Sahabat#Maimunah Binti Harits Ra

Maimunah Binti Harits Ra, Ummul Mukminin

Maimunah binti Harits RA nama aslinya adalah Barrah, nama Maimunah diberikan Rasulullah SAW setelah beliau menikahinya. Dua orang saudaranya menjadi istri paman Nabi SAW, yaitu Ummu Fadhl Lubabah binti Harits menjadi istri Abbas RA, dan Salma binti Harits menjadi istri Hamzah RA. Ayahnya adalah Harits bin Hazn. Ia juga masih termasuk bibi dari Khalid bin Walid dari pihak ibu. Menurut sebagian riwayat, sebelumnya ia telah menikah dua kali, salah satunya dengan Abu Rahn bin Abdul Uzza. Setelah menjadi janda, ia menyerahkan urusannya kepada Abbas, suami saudaranya.

Nabi SAW melaksanakan Umrah Wadha pada tahun 7 hijriah, sebagai pelaksanaan salah satu klausul perjanjian Hudaibiyah. Beliau tinggal selama tiga hari dan sebagian besar penduduk Makkah tinggal di luar kota, sehingga kaum muslimin bebas melaksanakan aktivitas dan ibadah, seperti ketika di Madinah. Ternyata keadaan ini menarik perhatian orang-orang Makkah, sehingga ada yang kemudian memeluk Islam, salah satunya adalah Barrah. Karena keislamannya ini, Abbas menemui Rasulullah SAW, dan meminta beliau untuk bersedia menikahi Barrah. Ternyata beliau menyetujui permintaan pamannya ini, dan memberikan mas kawin sebesar 400 dirham.

Saat itu Nabi SAW dan kaum muslimin telah tiga hari berada di Makkah, datanglah Suhail bin Amr dan Huwaithib bin Abdul Uzza dan meminta beliau dan rombongan dari Madinah untuk segera meninggalkan Makkah. Beliau meminta tangguh beberapa hari untuk melaksanakan walimah dan perjamuan pernikahannya dengan Barrah, sekaligus mengundang mereka untuk hadir, tetapi permintaan ini ditolak. Akhirnya rombongan dari Madinah keluar dari kotaMakkah, dan menetap di suatu tempat bernama Sarif selama beberapa hari. Beliau meninggalkan pembantunya, Abu Rafi’ RA di Makkah, dan diminta membawa Maimunah menyusul rombongan Nabi SAW. Ketika mereka berdua sampai di Sarif, pernikahanpun dilangsungkan, dan beliau mengganti nama Barrah dengan Maimunah.

Maimunah menikah dengan Nabi SAW pada bulan Dzulqaidah tahun 7 hijriah, ketika itu ia berusia 26 tahun. Ia meninggal pada tahun 51 hijriah ketika berusia 71 tahun di Sarif, tempat ia disusulkan dan dinikahi dengan Nabi SAW, dan dimakamkan disana. Tetapi sebagian riwayat menyebutkan ia wafat pada tahun 61 hijriah pada usia 81 tahun.

Aisyah RA menyatakan bahwa di antara istri-istri Nabi SAW lainnya, Maimunah adalah wanita yang paling salehah, dan sangat menjaga hubungan silaturahmi. Maimunah juga selalu menyibukkan diri dengan shalat dan pekerjaan rumah tangganya. Para ahli sejarah sepakat, bahwa Maimunah adalah istri yang terakhir dinikahi Nabi SAW.

Suatu ketika Maimunah memerdekakan budak perempuannya, tetapi ia lupa tidak meminta ijin dahulu kepada Nabi SAW. Saat itu memang bukan sedang gilirannya didatangi beliau, sementara niatnya untuk memerdekakan telah begitu menguat, sehingga begitu saja ia melakukannya. Ketika tiba giliran Nabi SAW mengunjunginya, ia berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah tuan telah merasa bahwa saya telah memerdekakan budak perempuan saya?”

“Apakah engkau telah melakukannya?” Tanya Nabi SAW.

“Sudah…!!” Kata Maimunah. Memang, Nabi SAW selalu memotivasi siapapun, apalagi keluarga dekat termasuk istri-istri beliau untuk tidak menunda-nunda jika ingin berbuat kebajikan. Tetapi dalam kasus ini, beliau melihat ada manfaat yang lebih besar dari apa yang telah dilakukan oleh Maimunah, yakni membantu meringankan beban kerabatnya. Beliau bersabda, “Seandainya budak tersebut engkau berikan kepada bibimu, niscaya engkau memperoleh pahala yang lebih besar….!!”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai