Kisah Sahabat#Ibnu Abil Auja’ As Sulami Ra

Ibnu Abil Auja’ As Sulami Ra

Ibnu Abil Auja’ as Sulami diutus Nabi SAW untuk mendakwahi kaumnya, Bani Sulaim, bersama 50 orang sahabat lainnya. Ternyata keberangkatannya ini diketahui oleh seorang mata-mata yang melaporkan kepada Bani Sulaim, dan menyatakannya sebagai ancaman. Karena itu merekapun mempersiapkan diri dengan pasukan yang cukup besar.

Ketika sampai di perkampungannya dan melihat pasukan besar yang menyambut kedatangannya, IbnuAbil Auja menghampiri mereka, dan menyeru untuk masuk Islam, tetapi mereka berkata, “Kami tidak mempunyai keperluan apapun dengan apa yang kamu serukan itu…!”

Setelah itu mereka mengepung dan menyerang pasukan muslimin dengan anak panah. Tidak ada pilihan lain bagi Ibnu Abil Auja’ dan pasukannya, kecuali melakukan perlawanan. Mereka bertempur dengan dahsyatnya, tetapi karena pasukan musuh memang jauh lebih banyak, sebagian besar sahabat gugur sebagai syahid. Ibnu Abil Auja’ dengan beberapa orang sahabat berhasil lolos dalam keadaan luka parah, dan dengan susah payah kembali ke Madinah dan tiba pada bulan Safar tahun 8 hijriah.

Peristiwa ini sendiri terjadi sekembalinya Rasulullah SAW dari Umrah Qadha pada bulan Dzulhijjah tahun 7 hijrah.

Kisah Sahabat#Surahbil Bin Hasanah Ra

Syurahbil Bin Hasanah Ra

Di waktu ashar, Syurahbil bin Hasanah sedang duduk di rumahnya. Tiba-tiba datang mertuanya, Syifa binti Abdullah yang langsung saja mencela sikapnya, karena masih saja di rumah tidak bergegas ke masjid untuk shalat bersama Rasulullah SAW.

Syurahbil berkata, “Wahai bibi, jangan memarahiku. Aku hanya mempunyai sehelai pakaian (untuk shalat), dan itu sedang dipinjam Rasulullah SAW.”

Syifa jadi menyesal, karena ia baru saja ia datang pada Nabi SAW untuk meminta sesuatu, tetapi tidak memperoleh apa-apa dan ia sempat menggerutu. Ketika hal ini disampaikan kepada menantunya, Syurahbil berkata, “Wahai bibi, Itu hanya pakaian panjang yang baru saja kami tambal.”

Syifapun makin menyesali sikapnya kepada Rasulullah SAW.

Pada masa khalifah Abu Bakar, sebuah pasukan besar dikirmke Syiria atau Syam untuk memerangi pasukan Romawi. Komandan utama adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Abu Bakar menunjuk beberapa pimpinan pasukan di bawahnya seperti Amr bin Ash, Khalid bin Sa’id bin Ash, dan termasuk Syurahbil bin Hasanah.

Setelah pasukan siap diberangkatkan, ternyata ada usulan agar Khalid bin Sa’id diganti, dan Abu Bakar datang sendiri menemui Khalid untuk meminta maaf, dan memintanya bergabung sebagai prajurit biasa pada kelompok pasukan yang disukainya. Maka dengan lapang dada Khalid bin Sa’id bin al Ash berkata, “Demi Allah, tidaklah saya gembira dengan pengangkatan anda, dan tidak juga bersedih dengan pemberhentian Anda. Anak pamanku (yakni Amr bin Ash) aku sukai karena ia masih kerabatku, tetapi Syurahbillebih kucintai karena agamanya!”

Akhirnya Khalid bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh Syurahbil bin Hasanah.

Kisah Sahabat#Asma Binti Umais Ra

Asma Binti Umais Ra

Asma binti Umais termasuk sahabiah yang pernah hijrah ke Habasyah sebelum hijrah ke Madinah. Suatu ketika ia mengunjungi Ummul Mukminin Hafshah RA, yang pernah sama-sama berhijrah ke Habasyah. Umar bin Khaththab yang saat itu ada di sana menanyakan siapa wanita tersebut, Hafshah menjawab, “Dia adalah Asma binti Umais!!”

“Apakah yang berhijrah ke Habasyah dan berlayar di lautan itu?” Tanya Umar.

Asma mengiyakan. Umar berkata lagi, “Kami telah mendahului kalian dalam berhijrah (ke Madinah), sehingga kami lebih berhak kepada Rasulullah daripada kalian.”

Mendengar ucapan Umar yang bernada kebanggaan tersebut, Asma tidak terima, ia berkata, “Tidak benar seperti itu, demi Allah, kalian bersama Nabi SAW, sehingga beliau selalu memberi makan kepada kalian yang lapar, memberi nasehat kepada kalian yang bodoh. Sementara kami berada di negeri yang jauh dari orang-orang Islam lainnya dan membencinya, semata-mata karena Allah dan RasulNya.”

Asmapun bersumpah, “Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum hingga aku menceritakan perkara ini kepada Rasulullah SAW. Demi Allah aku tidak akan berdusta dan menambah-nambahkannya ketika menceritakan hal ini kepada beliau.”

Ketika Nabi SAW datang, Asma menceritakan perbedaan pendapat antara dirinya dan Umar dengan lengkap dan terperinci. Mendengar penjelasan Asma tersebut, Nabi SAW bersabda, “Umar tidak lebih berhak kepadaku daripada kalian, karena ia dan sahabat-sahabatnya hanya berhijrah sekali, sementara kalian turut serta dalam rombongan perahu dan berhijrah dua kali.”

Asma sangat puas dengan penjelasan Nabi SAW, walaupun beliau memujinya sebagai muhajirin dua kali, tidaklah membuatnya menjadi sombong, tetapi makin menambah kecintaannya Rasulullah SAW dan Islam.

Abu Musa al Asyary dan kaum Asyariyyin lainnya, ketika mendengar peristiwa Asma dan Umar tersebut, segera mendatangi Asma, dan memintanya menceritakan lagi berulang-ulang. Ia merasa bangga juga karena mereka bersama-sama dalam satu kapal dengan para sahabat yang berhijrah dari Habasyah ke Madinah.

Kisah Sahabat#Ummu Syarik Ra

Ummu Syarik Ra (Ghazyah Binti Jabir)

Ghazyah binti Jabir bin Hakim bin Hakim Al Quraisyiyah Al Amiriyah, lebih dikenal dengan nama Ummu Syarik merupakan salah satu wanita yang masuk Islam pada masa awal, ketika masih berada di Makkah. Ketika keislamannya diketahui oleh keluarganya, iapun mengalami penyiksaan sebagaimana orang-orang muslim pada masa awal. Mereka membawa Ummu Syarik dengan unta yang paling buruk ke tengah padang pasir.

Pada saat itu panas sedang memuncak, semua keluarganya masuk ke dalam tenda, sedang ia dibiarkan di tengah terik dalam keadaan berdiri dan terikat, ia diberi roti dan madutetapi tanpa air minum. Ia diperlakukan begitu buruk dan keji selama tiga hari berturut-turut sehingga pikiran, pendengaran dan penglihatannya terganggu.

Dalam keadaan seperti itu, mereka berkata, “Tinggalkan agama Muhammad dan apa yang engkau yakini itu!”

Tetapi keadaannya yang begitu lemah dan payah menyebabkan Ummu Syarik tidak bisa memahami perkataan mereka, hanya saja, untuk mengekspresikan keimanannya, jarinya menunjuk ke atas, yang ia maksudkan dengan ketauhidan yang tak bisa diganggu gugat. Merekapun membiarkannya seperti semula, dalam terik membakar dan rasa haus yang tak tertahankan.

Dalam keadaan yang makin lemah dan setengah sadar, tiba-tiba dirasakan Ummu Syarik dinginnya air dalam ember yang melekat di dadanya, spontan ia meraih dan meminumnya. tetapi baru seteguk ember itu terlepas, ketika membuka matanya, ember itu tampak tergantung tanpa tali beberapa meter di atas bumi, yang tak mungkin ia meraihnya. Tetapi ember itu turun lagi, ia meraih dan meminumnya dan kemudian terangkat lagi. Untuk ketiga kalinya turun, Ummu Syarik meminumnya sampai puas dan menyiramkannya ke kepala dan tubuhnya.

Mendengar suara air tersebut, keluarganya berhamburan keluar dari tenda dan berseru, “Darimana semua ini, wahai musuh Allah?”

Ummu Syarik yang telah memperoleh kekuatannya kembali berkat air yang telah diminumnya itu, menjawab, “Bukan aku yang musuh Allah, tetapi orang-orang yang menentang agamaNya. Apa yang kalian pertanyakanini dari sisi Allah, rezeki yang dianugerahkan Allah kepadaku.”

Anehnya, wadah air yang tadinya kering, penuh berisi air. Mereka memeriksa wadah air lainnya, dan semua berisi air dingin segar yang tidak diketahui darimana asalnya. Mereka kembali ke tempat Ummu Syarik, melepaskannya dan berkata, “Kami bersaksi bahwa Tuhanmu adalah Tuhan kami juga, yang memberikan rezeki kepadamu setelah apa yang kami lakukan padamu di tempat ini. Dialah yang mensyariatkan Islam.”

Setelah itu mereka semua masuk Islam. Ummu Syarik tetap tinggal di Makkah bersama suaminya, Abul Askar Ad Dausi hingga dakwah Nabi SAW tersebar luas dan mencapai kemasyhurannya

Kisah Sahabat#Jenazah Ahli Surga

Jenazah Ahli Surga

Seorang lelaki meninggal dunia, Rasullullah SAW ikut serta dalam pengurusan jenazah orang tersebut. Ketika akan dishalatkan, Umar bin Khaththab yang memang terkenal kritis, berseru kepada Nabi SAW, “Wahai Rasullullah, janganlah engkau shalati dia, dia seorang penjahat.”

Mendengar ucapan dan sikap Umar ini, Rasulullah SAW menghadapkan diri pada khalayak, dan menanyakan kalau ada seseorang yang melihat jenazah ini pernah melakukan suatu amalan Islam selama hidupnya. Seseorang berkata, “Benar Rasulullah, saya pernah meronda malam bersamanya di medanjihad.”

Nabi SAW menyalatkan jenazahnya dan menaburkan debu (pasir) kepadanya, kemudian beliau bersabda, “Sahabat-sahabatmu mengira engkau adalah ahli neraka, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah ahli surga.”

Lalu beliau berpaling kepada Umar dan bersabda, “Janganlah kamu bertanya mengenai amalan manusia, tetapi bertanyalah tentang fitrahnya.”

Maksud Rasulullah SAW adalah mencegah agar Umar, dan kita umat Islam semuanya, untuk tidak terlalu mengungkit amal kejelekan seseorang, sementara ia telahmeninggal, tetapi lebih dikedepankan bagaimana fitrah keislamannya, termasuk amal kebaikannya walau terlihat hanya sepele dan sedikit.

Kisah Sahabat# Dua Tawanan Musailamah Al Kadzdzab

Dua Tawanan Musailamah Al Kadzdzab

Dua orang muslim tertawan oleh orang-orang Musailamah al Kadzdzab, sang nabi palsu. Musailamah bertanya kepada salah satunya, “Engkau mengakui bahwa aku adalah rasulullah?”

“Tidak, tetapi Muhammad yang Rasulullah, sedang engkau seorang pendusta” Jawab salah satu prajurit muslim tersebut.

Musailamah sangat marah mendengar jawaban tersebut dan membunuhnya. Kemudian dihadapkan tawanan lainnya, Musailamah memberikanpertanyaan yang sama, “Engkau mengakui bahwa aku adalah rasulullah?”

Tawanan muslim ini menjawab, “Engkau, dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Suatu jawaban yang diplomatis, dan tawanan muslim itu dibebaskan oleh Musailamah. Ketika kabar ini sampai kepada Nabi SAW, dengan tersenyum beliau bersabda, “Yang pertama, ia berlalu dengan tekad dan keyakinannya, surgalah balasannya. Yang kedua, ia mengambil ruqshah (keringanan/dispensasi) Allah, tidak ada dosa baginya.”

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Zaid Al Anshari Ra

Abdullah Bin Zaid Al Anshari Ra

Pada masa Khalifah Umar, ketika sekelompok pasukan kembali dari medan pertempuran, Abdullah bin Zaidmasuk ke masjid, kemudian Umar memanggilnya dan bertanya tentang kabar yang dibawanya, ia berkata, “Sesungguhnya aku membawa berita, ya Amirul Mukmimin…”

Abdullah bin Zaid menceritakan bahwa dalam suatu pertempuran tengah berlangsung, ada sekelompok sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang sempat melarikan diri dari perang, dan mereka jadi sedih ketika melihat Umar. Mendengar ceritanya itu, Umar berkata, “Janganlah kalian bersedih hati, wahai kaum muslimin. Sesungguhnya kalian adalah dalam kumpulanku.”

Umar menghibur mereka yang bersedih, antara lain adalah Mu’az al Qary. Umar juga menjelaskan kepada sahabat Sa’ad bin Ubaid, bahwa pada jaman Nabi SAW pernah terjadi seorang sahabat mundur dari pertempuran dan beliau memakluminya. Dan setelah berlalu beberapa waktu lamanya, Nabi SAW menggelari sahabat tersebut al Qari, karena prestasi dan kemampuannya dalam hal Al Qur’an.

Abdullah bin Zaid adalah salah satu sahabat yang mengikuti perang Badar (Ahlu Badar). Ketika terjadi penyerbuan kota Madinah oleh pasukan Yazid bin Muawiyah pada Bulan Dzulhijjah tahun 36 hijriah, Amir para sahabat Anshar, yaitu Abdullah bin Hanzhalah memba’iat orang-orang Madinah atas maut. Ketika hal ini dilaporkan kepada Abdullah bin Zaid, ia berkata, “Aku tidak berba’iat kepada siapapun untuk mati, sepeninggal Rasulullah SAW.”

Walau penyerangan kotaMadinah sangatlah dilaknat, tetapi bagi Abdullah bin Zaid, ia tidak ingin ‘berjuang’ mati-matian karena yang mereka hadapi adalah masih sesama saudara muslim. Ia lebih mengedepankan ishlah, perbaikan hubungan dengan mereka itu. Hanya saja, ternyata kemudian pasukan Yazid bin Muawiyah tersebut sangatlah dzalim dan kejamnya. Banyak sekali penduduk Madinah, bahkan termasuk ratusan atau mungkin ribuan sahabat Nabi SAW ikut dibantai oleh pasukan dari Syam tersebut.

Kisah Sahabat#Ahnaf Bin Qais Ra

Ahnaf Bin Qais Ra

Ahnaf bin Qais RA adalah seorang lelaki dari Bani Sa’d. Ketika Nabi SAW mengirimkan seorang lelaki dari Bani Laits untuk mengajak kabilah Bani Sa’d untuk memeluk Islam, ia tidak memperoleh sambutan yang diharapkan, tetapi saat itu Ahnaf bin Qais berkata kepada utusan Nabi SAW tersebut, “Sesungguhnya engkau menyeru kami kepada kebaikan, dan memerintahkan kami untuk melakukan hal itu.Apakah beliau juga menyeru kepada kebaikan?”

Utusan Nabi SAW tersebut membenarkannya, dan Ahnaf-pun akhirnya memeluk Islam, walau mungkin ia hanya sendirian saat itu.

Berlalulah waktu, sampai pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Saat itu Ahnaf sedang thawaf di Baitullah, ketika seorang lelaki memegang tangannya, yang ternyata lelaki Bani Laits yang pernah berdakwah di kaumnya. Ia berkata kalau punya kabar gembira buat Ahnaf. Sepulangnya dari mengajak Bani Sa’d untuk memeluk Islam, ia menceritakan pada Nabi SAW apa yang dialaminya, termasuk ucapan Ahnaf. Nabi SAW kemudian mendoakan Ahnaf, agar Allah memberikan ampunan kepadanya.

Mendengar cerita lelaki tersebut, Ahnaf langsung berseru gembira, “Tiada aku berharap kepada sesuatu, yang lebih besar daripada harapanku atas doa Rasullullah tersebut.”

Seorang keponakan Ahnaf pernah datang kepadanya dan mengeluhkan musibah yang dialaminya, tetapi Ahnaf tidak memperdulikannya. Tetapi sang keponakan masih saja datang lagi sampai beberapa kali dengan keluhan yang sama.

Melihat perilakunya itu, Ahnaf berkata, “Wahai keponakanku, jika musibah menimpamu, keluhkanlah kepada Dzat yang memiliki jalan pemecahan masalahmu itu, jangan engkau keluhkan kepada mahlukNya. Manusia di hadapanmu ada dua macam, yaitu sahabat yang harus kau santuni, dan musuh yang harus kau caci maki. Wahai keponakanku, lihatlah salah satu matakuini, demi Allah, aku tidak bisa melihat dengannya benda-benda yang kecil ataupun gunung semenjak empat puluh tahun lalu. Dengan keadaan itu, aku tidak bisa melihat istriku dan juga anggota keluargaku.”

Kisah Sahabat#Abu Sufyan Bin Harb Ra

Abu Sufyan Bin Harb Ra

Abu Sufyan bin Harb adalah tokoh utama kaum kafir Qurasy. Setelah kekalahan di Perang Badar, dan tokoh-tokoh kaum Quraisy seperti Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Umayyah bin Khalaf, Walid bin Utbah dan beberapa lainnya, terbunuh di perang tersebut, Abu Sufyan yang muncul sebagai pemimpin Quraisy Makkah, layaknya ia seorang raja saja.

Pada hari pembebasan atau penaklukan Kota Makkah (Fathul Makkah), Abu Sufyan bin Harb sama sekali tidak diusik oleh Nabi SAW. Padahal beberapa tokoh Quraisy yang sama kerasnya memusuhi Islam seperti dirinya sempat dihalalkan darahnya (boleh dibunuh), walaupun memang pada akhirnya banyak yang diampuni oleh beliau. Bahkan ia sempat diistimewakan dengan sabda beliau, “Siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman…!”

Memang, ketika Nabi SAW bersiap-siap menggerakkan pasukan ke Makkah, Abu Sufyan telah berada di Madinah dengan maksud memperbaharui Perjanjian Hudaibiyah. Ia sempat singgah di rumah putrinya yang juga istri Rasulullah SAW, Ummu Habibah, tetapi ia tidak mendapat sambutan yang menggembirakan. Bahkan untuk duduk di tikar milik Rasulullah SAW saja ia dilarang oleh putrinya tersebut, dengan alasan masih kotor, yakni musyrik.

Abu Sufyan sempat berbicara dengan Nabi SAW tetapi beliau agak mengabaikannya. Ia juga meminta jaminan perlindungan kepada beberapa sahabat, termasuk Ali bin Abi Thalib, tetapi ia tidak memperoleh apa yang diharapkan. Kebanyakan dari mereka merasa takut, karena Nabi SAW telah memutuskan untuk menyerang dan menaklukkan Kota Makkah. Namun demikian ia memutuskan untuk tetap bersama pasukan muslimin yang sedang bergerak menuju Makkah.

Ketika pasukan muslim tiba di Marr Azh Zhahran, dengan bantuan Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW, Abu Sufyan berhasil menemui Nabi SAW, dan akhirnya ia memeluk Islam atas dorongan dari Abbas. Entah apa motivasi dasarnya, tetapi yang jelas ia mengungkapkan kekaguman dan pengakuannya bahwa pasukan muslim begitu besar, dan orang-orang Quraisy tidak akan mampu menahan jika Nabi SAW benar-benar menyerang Makkah.

Pada malam harinya pada hari Penaklukan Makkah itu, istrinya, Hindun berkata kepada Abu Sufyan bin Harb, “Sesungguhnya aku mau berbai’at kepada Rasulullah SAW.”

“Aku melihat kamu ini masih kufur!” Kata suaminya.

Hindunpun berkata, “Demi Allah! Demi Allah! Tidak pernah aku melihat sebelum ini, Allah disembah dengan sebenar-benarnya, sebagaimana telah dilakukan oleh Muhammad dan sahabat-sahabatnya di masjid ini (Masjidil Haram) pada malam hari ini. Tidaklah mereka menghabiskan malam, kecuali dengan ruku, sujud dan thawaf hingga subuh.” 

Abu Sufyan bertanya, “Apakah kamu melihat semua ini dari Allah?”

“Ya, ini memang dari Allah!!” Kata Hindun dengan tegas.

Pagi harinya, ketika ia menemui Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau berkata kepadanya, “Semalam engkau telah bertanya kepada Hindun : Apakah ini semua dari Allah? Dan ia menjawab : Ya, ini memang dari Allah.”

Seketika Abu Sufyan memandang Nabi SAW penuh kekaguman. Ia mungkin telah menyatakan diri memeluk Islam saat Nabi SAW dalam perjalanan ke Makkah. Tetapi pada pagi hari itu ia merasakan kebenaran telah merasuk ke dalam sum-sum dan jiwanya, sehingga sekali lagi ia menyatakan syahadatnya di hadapan Nabi SAW dengan segenap ketulusan hatinya. Kemudian ia berkata, “Demi Allah, tidak ada yang mendengar ucapanku itu selain Hindun!!”

Dalam perang Thaif, perang pertama yang diikutinya sebagai muslim, ketika sedang makan di kebun Abu Ya’la, Sa’id bin Ubaid berhasil memanahnya dan melukai matanya. Ia datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, mataku ini cedera di jalan Allah!”

Nabi SAW tersenyum mendengar pengaduannya tersebut. Beliau bersabda, “Jika kamu mau, aku akan berdoa kepada Allah agar penglihatanmu kembali seperti sediakala. Atau jika tidak, untukmu surga karena cederamu ini!”

“Aku memilih surga saja, wahai Rasulullah!” Kata Abu Sufyan.

Maka ia menjalani sisa hidupnya dengan mata yang cedera, dan bersabar atasnya.

Kisah Sahabat#Abu Arzah Al Aslami Ra

Abu Arzah Al Aslami Ra

Dalam suatu pertempuran, Abu Arzah al Aslami shalat sambil memegang kendali hewan kendaraannya (unta atau kudanya). Tiba-tiba saja hewan tunggangannya tersebut bergerak/berjalan lambat, mungkin sambil mencari makan, dan Abu Arzah mengikutinya dengan tetap mempertahankan shalatnya. Artinya ia tetap shalat dalam keadaan berjalan, seperti halnya shalatnya orang musafir di dalam kendaraan saat ini. Ia menjadi bahan pembicaraan dari orang-orang di sekitarnya karena shalatnya dengan berjalan/bergerak tersebut.

Setelah Abu Arzah menyelesaikan shalatnya dan kembali di antara anggota pasukannya, ia menanggapi pembicaraan mereka dengan berkata, “Sesungguhnya saya telah berperang bersama Nabi SAW sebanyak enam, tujuh atau delapan kali, dan sayamelihat beliau mempermudahnya (ketika terjadi peristiwa seperti itu). Dan saya lebih senang mengikuti kemana hewan tersebut bergerak, daripada saya membiarkannya kembali ke tempat yang disukainya, dan itu akan menyulitkan saya (mencarinya dalam pertempuran tersebut).”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai