Kisah Sahabat#Abu Darda’ Ra

Abu Darda’ Ra

Uwaimir bin Malik, atau lebih dikenal dengan nama kunyahnya Abu Darda adalah seorang sahabat Anshar. Ia termasuk orang yang terakhir memeluk Islam dari kalangan kerabat atau kabilahnya. Saudaranya, Abdullah bin Rawahah beberapa kali mendakwahinya agar memeluk Islam, tetapi ia menolaknya. Abu Darda memiliki berhala dari kayu yang diberi tutup kepala, berhalanya itu ditaruh di tempat yang agak tinggi di dalam kamarnya.

Suatu ketika Abdullah bin Rawahah melihat Abu Darda keluar dari rumahnya, maka ia mendatangi rumahnya dan menemukan istrinya sedang menyisir rambut. Sang istri mengatakan kalau Abu Darda sedang keluar, Abdullah langsung memasuki kamarnya dan menurunkan berhala sembahan Abu Darda. Dengan gergaji yang telah dipersiapkannya, Abdullah memotong-motong berhala itu hingga tidak karuan lagi bentuknya.

Mendengar suara gergaji di kamar suaminya, segera saja sang istri menghampirinya, dan langsung berteriak kaget melihat apa yang dilakukan oleh Abdullah. Dengan menangis ia berkata, “Apakah engkau ingin membinasakan aku, wahai Ibnu Rawahah?”

Tanpa berkata apa-apa Abdullah bin Rawahah meninggalkan rumah Abu Darda dan membiarkan istrinya menangis. Saat Abu Darda pulang dan melihat istrinya menangis, ia menanyakan sebabnya. Istrinya berkata, “Tadi saudaramu, Abdullah bin Rawahah datang dan memasuki kamarmu, lihatlah sendiri apa yang dilakukannya….”

Setelah memasuki kamarnya, Abu Darda pun marah besar, tetapi pada saat yang sama ternyata hidayah Allah menyapanya. Akal sehatnya berkata, “Kalau saja berhala ini memang mempunyai kekuatan dan kekuasaan, mengapa ia tidak mempertahankan dirinya??”

Abu Darda menemui Abdullah bin Rawahah, memintanya mengantar menemui Rasulullah SAW, dan ia bersyahadat, menyatakan dirinya memeluk Islam.

Setelah keislamannya, Abu Darda memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pedagang dan membaktikan hidupnya untuk membela Islam, sebagaimana kebanyakan sahabat Anshar lainnya. Ia hidup dalam kezuhudan, yakni meninggalkan kesenangan dunia. Jika tidak sedang berjuang di medanjihad, ia akan menghabiskan waktu untuk menggali ilmu dari Nabi SAW, khususnya yang berkaitan dengan mengelola hati dan mengendalikan hawa nafsu. Karena itulah di kemudian hari Abu Darda dikenal sebagai sahabat ahli ilmu dan ahli hikmah.

Suatu ketika Uwaimir atau Abu Darda ini memergoki istrinya sedang bersama lelaki lain. Walaupun ia tidak melihat apa yang terjadi dan tidak ada seorang saksi yang melihat, tetapi ia meyakini telah terjadi hubungan terlarang antara lelaki itu dan istrinya. Karena itu ia datang kepada Ashim bin Adi, pimpinan Bani Ajlan meminta pendapat tentang apa yang harus dilakukannya. Apakah ia harus membunuh lelaki tersebut, yang akibatnya ia akan mendapat qishah dibunuh juga. Ashim tidak berani menyarankan sesuatu sebelum bertanya kepada Nabi SAW.

Ketika Ashim menemui Nabi SAW dengan membawa masalah tersebut, ternyata beliau mencelanya, tanpa memberi jawaban, bahkan beliau cenderung membenci pertanyaan-pertanyaan seperti itu, yang bernuansa syu’udzon. Dan ketika ia kembali kepada Uwaimir, iamenyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memberikan kebaikan kepadanya, malah ia dicela Nabi SAW.

Uwaimir memutuskan untuk menanyakan sendiri permasalahannya tersebut kepada beliau. Ia menghadap Nabi SAW, dan ternyata jeda waktu antara Ashim bin Adi dan ia menghadap, turun wahyu untuk solusi permasalahannya tersebut. Beliau menyambutnya sambil bersabda, “Allah telah menurunkan ayat Al Qur’an tentang engkau dan istrimu (Surah an Nur ayat 6-10)”

Kemudian Nabi SAW menyuruhnya menghadirkan istrinya, dan memerintahkan bersumpah dan melakukan mula’anah (saling mengutuk) sesuai dengan petunjuk yang datang dalam Surah an Nurayat 6-10). Setelah ia dan istrinya melakukan petunjuk dalam ayat tersebut, Uwaimir berkata, “Wahai Rasulullah, jika saya menahan istriku, maka saya telah menzhaliminya…”

Beliau memahami apa yang dikatakan Uwaimir, dan beliau mengijinkan ia menceraikan istrinya. Setelah mereka berlalu, beliau bersabda kepada para sahabat yang hadir, “Lihatlah, jika wanita itu melahirkan anak yang hitam, matanya lebar dan amat hitam, besar pantatnya dan besar kedua betisnya, saya menduga Uwaimir telah benar dengan tuduhannya (bahwa istrinya berzinah). Jika wanita itu melahirkan anak yang kemerah-merahan seperti cecak, saya menduga Uwaimir telah berdusta dengan tuduhannya.”

Beberapa waktu berlalu, dan ternyata wanita tersebut melahirkan seorang anak seperti yang disifatkan beliau, yang membenarkan Abu Darda. Maka anak tersebut dinasabkan kepada ibunya. Namun demikian, tidak ada penjelasan atau riwayat pasti yang menyatakan Nabi SAW menjalankan rajam kepada istri Uwaimir dan lelaki yang menzinahinya.

Dalam riwayat lain disebutkan, turunnya Surah an Nur ayat 6-10 tersebut menyangkut sahabat Hilal bin Umayyah dalam peristiwa yang hampir sama.

Abu Darda berusia panjang sehingga menemui masa-masa kejayaan Islam di mana harta melimpah ruah ke Madinah dan tempat-tempat lainnya. Namun demikian ia tetap hidup dalam kezuhudan. Bahkan ia gencar mendakwahkan untuk menghindari kesenangan dan kemewahan dunia, sebagaimana dilakukan oleh Abu Dzar. Hanya saja kalau Abu Dzar bersikap keras, dengan menampilkan ancaman-ancaman bagi orang yang bergelimang dengan keduniawiahan, Abu Darda lebih lembut. Ia lebih banyak menampilkan keutamaan dan keindahan kehidupan akhirat, dan bahayanya tipuan dunia dan kemewahannya. Kehidupan dunia hanyalah untuk mencari bekal dengan berbagai macam ibadah dan dzikr, yang manfaatnya sangat besar dalam kehidupan akhirat kelak.

Pada masa khalifah Utsman bin Affan, Abu Darda ‘dipaksa’ untuk menjadi Qadhi (hakim) di daerah Syiria, padahal ia sama sekali tidak menginginkan jabatan tersebut walau pengetahuan dan keilmuannya mendukung. Yang menjadi gubernur Syiria saat itu adalah Muawiyah bin Abu Sufyan, yang hidup bergelimang harta dan kemewahan, dan sangat sesuai dengan pola hidup masyarakatnya yang sejak di bawah Imperium Romawi memang hidup dalam kelimpahan. Sungguh sangat kontras pola kehidupan dua pejabat tersebut, yang dalam struktur pemerintahan Islam adalah setara. Tetapi bagi Abu Darda hal itu dimanfaatkan untuk terus berjuang dan berdakwah, membimbing umat untuk hidup seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Ketika di kemudian hari Muawiyah menjadi khalifah, ia melamar putri Abu Darda untuk dinikahkan dengan putranya, Yazid bin Muawiyah, yang juga telah diangkat menjadi putra mahkota. Dengan keras ia menolak lamaran tersebut, kemewahan dan tingginya jabatan Yazid tersebut sama sekali tidak membuatnya tergoda. Tidak terlalu lama setelah itu, ia bertemu seorang pemuda muslim yang sangat miskin tetapi saleh, Abu Darda menikahkan putrinya dengan pemuda tersebut. Melihat sikapnya itu, dengan heran para sahabatnya berkata, “Bagaimana mungkin engkau menolak putra khalifah sekaligus calon khalifah dan memilih seorang pemuda miskin untuk menjadi suami putrimu??”

Dengan tenang Abu Darda berkata, “Bagaimana kiranya si Abu Darda ini bila ia telah dikelilingi para pelayan dan inang pengasuh, dan terpedaya oleh kemewahan istana? Di mana letak agamanya saat itu??”

Kisah Sahabat#Abu Sa’id Al Khudri Ra

Abu Sa’id Al Khudri Ra

Ketika terjadi perang Uhud, Abu Said al Khudri RA baru berusia 13 tahun, tetapi telah ia diajak ayahnya untuk ikut bergabung dengan pasukan yang siap berangkat membela panji-panji keimanan. Sayangnya keberadaannya ini diketahui oleh Rasululllah SAW, dan beliau melarangnya mengikuti pertempuran ini. Walaupun ayahnya berdalih bahwa anaknya ini kuat dan mempunyai semangat tinggi untuk berjihad, beliau tetap saja menolak.

Ternyata ayahnya menemui syahid di medanperang Uhud ini, dan ia tidak meninggalkan harta apapun untuk anaknya yang masih kecil. Karena itu Abu Said berniat meminta bantuan keuangan kepada Nabi SAW untuk menunjang kehidupannya. Tetapi ketika ia sampai di majelis Rasulullah SAW, ia mendengar beliau bersabda, “Barang siapa yang meminta kesabaran, maka ia akan memperoleh kesabaran. Barang siapa yang meminta kesucian, maka ia akan memperoleh kesucian. Dan barang siapa yang menginginkan kekayaan, maka Allah akan memberikan kekayaan kepadanya…”

Walaupun ia belum menyampaikan maksudnya kepada Nabi SAW, ia merasa sabda beliau itu ditujukan kepadanya, dan ia memutuskan untuk membatalkan keinginannya meminta bantuan keuangan. Ia kembali pulang dengan diam-diam. Sepertinya beliau secara tidak langsung ‘memberikan’ pilihan kepada dirinya untuk memilih duniawiah, seperti keinginannya semula, atau pilihan akhirat, di mana ia harus bersabar dan menyucikan jiwanya. Dan Abu Sa’id sepertinya lebih condong untuk memilih kehidupan akhirat seperti dicontohkan Nabi SAW dan umumnya para sahabat lainnya.

Di kemudian hari, ternyata Abu Sa’id al Khudri merupakan salah satu sahabat yang banyak sekali meriwayatkan hadits Nabi SAW.

Kisah Sahabat#Imran Bin Hushain Al Khuzai Ra

Imran Bin Hushain Al Khuzai Ra

Imran bin Hushain al Khuzai, seorang sahabat dari Bani Khuza’ah yang telah memeluk Islam pada saat Nabi SAW masih berdakwah di Makkah. Ayahnya, Hushain bin Ubaid al Khuzai adalah seorang pemuka dan juga ilmuwan di antara kaumnya, yang juga sangat dihargai oleh kaum Quraisy Makkah. Suatu ketika ia sedang bersama Nabi SAW dan sahabat-sahabat lainnya, ketika ayahnya itu datang menemui Nabi SAW, atas permintaan kaum Quraisy. Imran segera memalingkan muka dan bersikap sinis melihat ayahnya tersebut. Ia sangat tahu kepandaian dan keahlian ayahnya dalam berdebat, dan ia sangat tidak rela jika Rasulullah SAW dibantah oleh ayahnya itu. 

Tetapi setelah beberapa lamanya berbincang, akhirnya ayahnya tersebut menyerah dengan logika ketuhanan yang disampaikan Nabi SAW dan Hushain bin Ubaid mengucap syahadat menyatakan dirinya memeluk Islam. Imran kaget bercampur gembira, ia segera memeluk dan mencium kepala, tangan dan kaki ayahnya dengan penuh haru. Rasulullah SAW sendiri sampai ikut menangis melihat sikap Imran tersebut. Salah seorang sahabat bertanya, “Mengapa engkau menangis, ya Rasulullah??”

Beliau bersabda, “Aku menangis melihat sikap Imran. Ketika ayahnya masuk ke sini dalam keadaan kafir, ia tidak menyambutnya, bahkan ia bersikap sinis dan memalingkan muka. Tetapi begitu ayahnya memeluk Islam, ia segera menunaikan kewajibannya sebagai anak, hal itu yang membuatku menangis terharu!!”

Sebagian riwayat menyebutkan, Imran bin Hushain ini memeluk Islam pada saat perang Khaibar, yang terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah. Kalau mengacu dengan kisah keislaman ayahnya tersebut di atas, tentu saja hal itu sangat bertentangan.Wallahu A’lam!!

Imran bin Hushain sangat rajin menghadiri majelis pengajaran Rasulullah SAW, baik ketika berada di Makkah, terlebih lagi ketika telah hijrah ke Madinah. Karena itu ia termasuk salah satu sahabat yang cukup banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW. Ia berusia lanjut hingga sempat mengalami jaman kejayaan Islam, di mana harta melimpah ruah di seluruh penjuru negeri. Namun demikian ia memilih tetap hidup sederhana dan zuhud seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Pada masa khalifah Umar bin Khaththab, Imran ditugaskan untuk menjadi pengajar bagi penduduk Bashrah. Salah satu yang menjadi muridnya adalah seorang ulama tabi’in yang terkenal, Hasan al Bahsri. Hasan al Bashri pernah berkata, “Tidak ada sahabat Nabi SAW yang datang ke Bashrah, yang keutamaannya melebihi Imran bin Hushain. Ia selalu menolak siapapun yang membuatnya lalai beribadah kepada Allah, ia layaknya malaikat yang berjalan di muka bumi!!”

Ketika terjadi pertentangan antara Khalifah Ali dan Muawiyah, Imran bin Hushain memilih tidak berpihak kepada siapapun dari keduanya. Ia berkata, “Menggembala sekelompok kambing yang sedang menyusui anak-anaknya di puncak gunung yang terpencil sampai aku mati, lebih aku sukai daripada harus melepaskan anak panah ke salah satu kelompok kaum muslimin, baik mereka itu salah, apalagi mereka itu benar!!”

Pada masa akhir hidupnya, Imran bin Hushain menderita penyakit buang air selama tigapuluh tahun dan ia tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya. Akibatnya harus dibuatkan lubang di bawah tempat tidurnya untuk kencing dan buang air besarnya. Namun demikian selama tiga puluh tahun tersebut ia tidak pernah mengeluh dan tetap bersabar dengan ujian Allah yang dialaminya. Ia juga tetap melaksanakan kewajiban-kewajiban syariat sesuai kemampuannya.

Suatu ketika salah satu saudaranya yang bernama Al Alaa’ atau Mutharrif bin Asy Syikhkhir menjenguknya dan ia menangis melihat keadaan Imran yang begitu memprihatinkan. Ia tersenyum melihat reaksi saudaranya tersebut dan berkata, “Janganlah engkau menangis. Sesungguhnya aku suka dengan apa yang disukai Allah. Aku akan menceritakan kepadamu sesuatu hal, yang semoga saja bermanfaat bagimu, tetapi jangan engkau ceritakan kepada orang lain sampai aku meninggal dunia.”

Kemudian Imran menceritakan, bahwa karena sakitnya itu, para malaikat berziarah atau mengunjungi dirinya setiap harinya, dan memberi salam kepadanya, sehingga ia merasa senang dan selalu berdoa untuk tidak sembuh dari penyakitnya tersebut hingga ajal menjemputnya.

Jika ada orang yang menyarankan agar ia berobat atau akan mengobatinya, ia akan berkata, “Sesuatu yang paling aku cintai adalah sesuatu yang dicintai Allah (yakni, ketentuan/takdir Allah kepada dirinya) !!”

Ketika waktu ajalnya makin dekat, ia berpesan kepada orang-orang sekitarnya, “Jika kalian pulang setelah menguburkanku, hendaklah kalian sembelih beberapa ekor ternak untuk menjamu mereka, layaknya jamuan dalam pesta perkawinan!!”

Kisah Sahabat#Hamzah Bin Abdul Muthalib Ra

Hamzah Bin Abdul Muthalib Ra

Hamzah bin Abdul Muthalib adalah sahabat sekaligus paman Nabi SAW. Walau sebagai paman, Hamzah seusia (lebih kurang sama) dengan beliau, bahkan ia juga saudara sesusu Nabi SAW, sama-sama dipelihara dan disusui oleh Halimah as Sa’diyah. Bahkan sebelum dibawa kepada Bani Sa’d bin Bakr, kabilahnya Halimah as Sa’diyah, keduanya pernah disusui oleh Tsuwaibah, salah satu sahaya Abu Lahab yang saat itu sedang menyusui anaknya, Masruh. Mereka berdua juga teman sepermainan dan tumbuh dewasa bersama-sama.

Hamzah adalah seorang lelaki Quraisy yang sangat terpandang dan sangat disegani. Ia sangat menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan keluarganya. Ia mempunyai kegemaran (hobbi) berburu, dan hal itu membuat dirinya makin ditakuti oleh orang-orang Quraisy lainnya.

Suatu hari di bulan Dzulhijjah tahun ke enam dari nubuwwah, ketika baru pulang dari perburuannya, seorang budak wanita milik Abdullah bin Jad’an berkata kepadanya, “Wahai Abu Ammarah (nama kunyahnya Hamzah), ketika berada di Shafa, aku melihat Abu Jahal mencaci maki dan melecehkan keponakanmu, Muhammad. Bahkan ia memukul kepalanya hingga terluka!!”

Mendengar laporan tersebut Hamzah sangat marah. Nabi SAW adalah putra kakak kandungnya, sedangkan Abu Jahal hanya saudara sepupunya. Penghinaan kepada beliau sama artinya dengan penghinaan kepada dirinya, apalagi ayahnya telah wafat. Masih dengan menenteng busur panahnya, ia berjalan berkeliling mencari Abu Jahal, setiap orang yang ditemuinya selalu ditanya keberadaan Abu Jahal. Ketika ditemuinya di dekat masjid, ia berkata, “Wahai orang yang berpantat kuning (yakni, Abu Jahal), beraninya engkau mencela anak saudaraku, sedangkan aku berada di atas agamanya…!!”

Setelah itu Hamzah memukul kepala Abu Jahal dengan busur panah yang dipegangnya hingga luka menganga. Orang-orang Bani Makhzum (kabilahnya Abu Jahal) berdiri ingin melakukan perlawanan, dan orang-orang Bani Hasyim (kabilahnya Hamzah dan Nabi SAW) juga segera berdiri di belakang Hamzah. Kalau dibiarkan mungkin bisa terjadi perang saudara saat itu. Tetapi Abu Jahal berkata kepada kaumnya, “Biarkan saja Abu Ammarah, karena aku memang telah mencaci maki anak saudaranya dengan cacian yang sangat menyakitkan!!”

Mungkin apa yang dikatakan Hamzah bahwa ia berada di atas agama Nabi SAW adalah hanya ungkapan kemarahan dan perasaan harga dirinya yang tersinggung. Tetapi bisa jadi itu memang jalan hidayah Allah, karena setelah itu ia menghadap Nabi SAW dan menyatakan dirinya memeluk Islam.

Keislaman Hamzah bin Abdul Muthalib seolah menjadi pemicu bangkitnya kekuatan Islam, apalagi tiga hari kemudian disusul dengan keislaman Umar bin Khaththab. Atas inisiatif Umar, kaum muslimin yang selama ini beribadah dan berdakwah dengan sembunyi-sembunyi, jadi berani melakukannya dengan terang-terangan. Saat itu juga, Nabi SAW mengeluarkan kaum muslimin dalam dua barisan, barisan pertama dipimpin oleh Hamzah dan barisan kedua dipimpin Umar. Mereka berjalan menuju Baitullah dengan menggemakan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir kemudian berkumpul di dekat Ka’bah. Kaum kafir Quraisy hanya bisa memandang tanpa berani berbuat apa-apa.

Ketika perang Badar mulai pecah, seorang lelaki perkasa dari Quraisy, Aswad bin Abdul Asad al Makhzumy sesumbar akan menghabisi kaum muslimin. Maka Hamzah maju menghadapi orang sombong tersebut dan dengan mudah membunuhnya. Kemudian tampillah tiga pahlawan kafir Quraisy yang masih bersaudara, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah dan Walid bin Utbah, menantang duel. Tiga orang pemuda Anshar, Auf bin Harits al Afra, Muawwidz bin Harits al Afra dan Abdullah bin Rawahah berniat menghadapi mereka, tetapi mereka hanya menginginkan sesama Quraisy saja. Maka Nabi SAW memerintahkan Hamzah, Ali dan Ubadah bin Harits yang juga bersaudara untuk menghadapinya, dan dengan mudah mengalahkan mereka. Hanya saja Ubadah sempat terluka parah, dan akhirnya gugur sebagai syahid.

Dalam perang Badar itu, Hamzah memakai tanda bulu burung pada bajunya. Ia berperang dengan perkasanya sehingga pasukan musuh porak poranda. Seorang lelaki musyrik bertanya tentang siapa dia, dan dijawab kalau dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib. Ia berkata, “Dialah yang banyak menimbulkan kesusahan pada kita.”

Dalam perang Uhud, ketika pasukan muslim porak poranda karena sebagian besar pemanah meninggalkanposnya, seorang sahabat melihat Hamzah di dekat sebuah pohon sedang berdoa, “Aku adalah singa Allah dan singa Rasul-Nya. Wahai Allah, aku berlepas diri kepadaMu dari perbuatan orang-orang musyrik, aku memohonkan ampunanMu atas apa yang dilakukan oleh mereka (kaum muslim) atas Abu Sufyan dan teman-temannya (yakni melarikan diri dari musuh).”

Setelah itu, ia terjun lagi dalam pertempuran, menghadang pasukan musyrikin walaupun keadaannya tidak berimbang, pasukan musuh terlalu banyak. Setiap orang musyrik yang mencoba mendekati dan memeranginya pasti terbunuh. Saat itu, Wahsyi mencoba mendekati sambil bersembunyi di balik pohon dan batu-batuan. Tiba-tiba muncul Siba bin Abdul Uzza, Hamzah langsung menyongsongnya sambil berkata, “Mendekatlah padaku, hai anak lelaki wanita tukang khitan…!!”

Ketika Hamzah sedang sibuk melawan dan menyerang Siba, Wahsyi bersiap menggerak-gerakkan tombaknya. Saat Hamzah sedang memukul kepala Siba dengan pukulan yang bisa menghancurkan kepalanya, Wahsyi melemparkan tombaknya ke arah Hamzah dan mengenai pinggang bagian bawahnya dan tembus di antara dua pahanya. Hamzah mencoba mengejarnya, tetapi jatuh dan syahid seketika.

Wahsyi mengambil tombaknya, mencabutnya dari tubuh Hamzah dan kembali ke kemahnya sambil menunggu peperangan usai. Ia memang tidak punya kepentingan dengan pertempuran itu. Niatnya membunuh Hamzah hanya untuk kemerdekaan dirinya dari perbudakan, dan juga hadiah yang dijanjikan oleh Hindun binti Utbah.

Usai perang, Nabi SAW mencari jenazah Hamzah dan sahabat yang melihat Hamzah tadi mengantar beliau ke dekat pohon dimana Hamzah berdoa. Ketika melihat jenazahnya yang ditoreh, diiris bahkan dirusak itu, beliau menahan nafasnya sehingga tersengal-senga, dan beliau bersabda, “Kafanilah jenazahnya..!” Bangkitlah seorang lelaki Anshar dan memberikan pakaiannya untuk dibuat kafan jenazah Hamzah. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Penghulu para syuhada di sisi Allah pada hari kiamat adalah Hamzah..!”

Kisah Sahabat#Farwah Bin Musaik Al Ghuthaifi Ra

Farwah Bin Musaik Al Ghuthaifi Ra

Farwah bin Musaik al Ghuthaifi RA seorang sahabat yang berasal dan tinggal di Saba, termasuk wilayah Yaman. Negeri itu di masa lalu dikuasai oleh Ratu Balqis yang menyembah matahari, tetapi akhirnya memeluk Islam mengikuti dakwah Nabi Sulaiman AS. Kisahnya diabadikan di dalam Al Qur’an. Sebagian penduduk Saba telah memeluk Islam, tetapi sebagian dari mereka ini kembali ke agama lamanya atau murtad. Farwah menemui Nabi SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah aku memerangi orang yang berpaling dari Islam di antara kaumku, bersama orang-orang yang masih memeluk Islam?”

Nabi SAW mengijinkan niat Farwah ini, karena secara syariah hal itu memang dibolehkan. Tetapi karena ada pertimbangan lain, Farwah bertanya lagi, “Ya Rasulullah, rasanya aku tidak akan mampu memerangi mereka, karena mereka akan bergabung dengan penduduk Saba lainnya yang masih memeluk agama lamanya. Dan mereka adalah kaum yang lebih kuat daripada kami.”

Tetapi Nabi SAW memerintahkan Farwah untuk melaksanakan niatnya yang pertama, yakni memerangi orang-orang yang murtad tersebut. Tidak masalah ia menang atau kalah, yang jelas ia telah melaksanakan kewajibannya. Kalaupun ia dan pasukannya gugur semua, surga telah menunggunya karena mereka gugur dalam keadaan syahid.

Farwah kembali ke perkemahannya, dimana kabilahnya berkumpul. Tetapi tidak berapa lama ada utusan Rasulullah SAW yang menjemputnya untuk menemui beliau lagi. Farwah kembali bergabung dengan Nabi SAW dan sahabat lainnya. Beliau memberitahukan tentang turunnya ayat tentang kaum Saba dan beliau melarang untuk memerangi kaumnya tersebut. Beliau berkata, “Serulah kaum itu kepada Islam terlebih dahulu, siapa yang bersedia, maka terimalah mereka. Jika merekamenolak, janganlah kamu tergesa memerangi sampai engkau melaporkannya kepadaku.”

Farwah menanyakan tentang nama ‘Saba’, apakah nama sebuah tempat atau nama wanita? Nabi SAW menjelaskan, “Sababukanlah nama suatu tempat atau nama seorang wanita, tetapi ia nama seorang lelaki yang menurunkan sepuluh kabilah Arab, enam di Yaman, yaitu : Azdi, Kindah, Himyar, al Asy’ariyyun, Ammar dan Madzhij. Sedang empat kabilah di Syam, yaitu : Lahm, Judzdzam, Ghassan dan Amilah.”

Setelah itu Farwah kembali kepada kabilah dan segera pulang ke Sabauntuk melaksanakan dakwah seperti yang diperintahkan Rasulullah SAW

Kisah Sahabat#Hushain Bin Ubaid Al Khuzai Ra

Hushain Bin Ubaid Al Khuzai Ra

Hushain bin Ubaid al Khuzai, ayah dari seorang sahabat yang cukup banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW, Imran bin Hushain. Ia adalah seorang tua yang punya pengaruh cukup besar di masa jahiliah sekaligus salah satu pemuka Bani Khuza’ah, sekutu dari kaum Quraisy. Ia juga terkenal sebagai seorang yang pintar berdebat dan berdiplomasi. Tetapi ia didahului (tertinggal) oleh anaknya dalam memeluk Islam.

Suatu ketika Hushain bin Ubaid diminta kaum Quraisy untuk menasehati Nabi SAW yang dianggap telah menghina dan mencaci maki berhala-berhala sesembahan mereka. Berangkatlah Hushain diiringi orang Quraisy lainnya menuju majelis dimana Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau sedang berkumpul, termasuk putranya Imran. Setibanya disana, Imran langsung berpaling melihat kehadiran ayahnya, tetapi Nabi SAW bersabda, “Berilah jalan kepada orang tua ini!!”

Setelah berhadapan dengan Nabi SAW, Hushain berkata, “Benarkah yang kami dengar tentang dirimu, bahwa engkau mencaci maki dan menjelek-jelekkan tuhan-tuhan kami, padahal kakekmu (Abdul Muthalib) dahulu adalah orang baik-baik!!”

Nabi SAW bersabda, “Hai Hushain, berapakah Tuhan yang kamu sembah?”

Hushain menjawab, “Tuhan yang kusembah itu tujuh di bumi dan satu di langit.”

Beliau bertanya lagi, “Jika kamu ditimpa musibah, kepada siapakah kamu berdoa?”

Hushain menjawab, “Kepada Tuhan yang di langit.”

Nabi SAW bersabda lagi, “Jika Tuhan yang Satu di langit itu mengabulkan doamu, sedang kalian mempersekutukanNya dengan tujuh tuhan di bumi, apakah benar engkau telah membuat ridha Tuhan yang mengabulkan doamu itu? Apakah itu cara syukurmu atau engkau takut Dia akan mengalahkanmu?”

Hushain tak berkutik dengan pernyataan beliau itu yang susah dibantah dengan logika berfikirnya, dan ia hanya tercenung merenunginya. Dalam keadaan seperti itu, Nabi SAW menjelaskan risalah Islam dan mengajaknya untuk memeluknya mengikuti jalan kebenaran, sehingga Hushain tidak beranjak dari majelis itu kecuali ia telah memeluk Islam.

Imran bin Hushain langsung berdiri dan menghampiri ayahnya, kemudian mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki Hushain yang telah memeluk Islam, sebagai penghormatan seorang anak kepada orang tuanya. Rasulullah SAW sampai menangis melihat peristiwa itu. Seorang sahabat bertanya, “Mengapa engkau menangis, ya Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Aku menangis melihat perbuatan Imran, ketika ayahnya masuk menemuiku, ia tidak bangun mendekati ayahnya bahkan tidak menoleh ke arahnya sedikitpun. Tetapi ketika Hushain memeluk Islam, ia telah menunaikan kewajibannya sebagai anak dan hak ayahnya. Dan itu membuat hatiku terharu dan berkesan.”

Ketika Hushain beranjak pulang, Nabi SAW menyuruh sahabat-sahabatnya berdiri dan mengucapkan ucapan salam dan selamat, sebagian lagi mengantarnya pulang. Orang-orang Quraisy yang tadi mengikutinya jadi tahu kalau Hushain telah memeluk Islam.

Kisah Sahabat#Khabbab Bin Arats Ra

Khabbab Bin Arats Ra

Khabbab bin Arats adalah seorang sahabat Muhajirin yang memeluk Islam pada masa-masa awal, ketika umat Islam belum mencapai duapuluh orang. Ia berasal dari golongan lemah, yakni hanya seorang budak yang bertugas membuat pedang atau peralatan dari besi lainnya. Sebagaimana sahabat-sahabat yang masuk Islam pada periode awal, ia mengalami penyiksaan yang tidak tanggung-tanggung. Statusnya sebagai budak membuat tuannya, Ummu Anmar bebas menyiksa dirinya. Ia diseterika dengan besi panas yang merah menyala, dipakaikan baju besi kemudian dijemur di panas padang pasir, juga pernah diseret di atas timbunan bara sehingga lemak dan darahnya mengalir mematikan bara tersebut.

Khabbab pernah mengeluhkan beratnya siksaan yang dialaminya kepada Nabi SAW, beliau yang saat itu tengah bersandar pada Ka’bah beralaskan burdah, bersabda,”Wahai Khabbab, orang-orang yang sebelum kalian pernah disisir kepalanya dengan sisir besi, sehingga terlepas tulang dari dari daging dan uratnya, tetapi ia tidak berpaling dari agamanya. Ada pula yang dipenggal lehernya hingga kepalanya putus, namun ia tetap teguh dengan agamanya. Sungguh Allah SWT akan memenangkan perjuangan agama ini sehingga suatu saat nanti, orang akan berkendaraan dari Shan’a hingga Hadramaut tanpa merasa takut kecuali hanya kepada Allah, sampai serigala bisa berdampingan dengan kambing (tanpa memangsanya). Namun sungguh kalian adalah orang yang suka tergesa-gesa.”

Mendengar penuturan beliau itu, Khabbab pun ikhlas dengan penderitaannya dan berteguh dengan keimanannya. Ketika Islam telah mengalami kejayaan dan berbagai harta kekayaan melimpah, Khabbab justru duduk menangis sambil berkata, “Tampaknya Allah telah memberikan ganjaran atas segala penderitaan yang kita alami, aku khawatir tidak ada lagi ganjaran yang kita terima di akhirat, setelah kita terima berbagai macam kemewahan ini!!”

Setelah itu Khabbab meletakkan seluruh hartanya pada bagian rumahnya yang terbuka, dan mengumumkan agar siapa saja yang memerlukan untuk mengambilnya tanpa meminta ijin dirinya. Ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan mengikatnya dengan tali (yakni, tidak mempertahankan hartanya tersebut), dan tidak akan melarang orang yang akan meminta/mengambilnya!!”

Setelah Khabbab terbebas dari perbudakannya karena ditebus dan dimerdekakan oleh Abu Bakar, iaberkhidmad untuk belajar Al Qur’an dan akhirnya menjadi salah seorang yang ahli (Qari) dalam Al Qur’an. Ia tengah mengajarkan Al Qur’an kepada Fathimah binti Khaththab dan suaminya ketika Umar datang menghajar keduanya karena keislamannya. Tetapi peristiwa itu justru menjadi pemicu Umar memeluk Islam.

Khabbab hampir tidak tertinggal dalam berbagai pertempuran di medan jihad. Pada Perang Badr, ia bertugas menjaga kemah Rasulullah pada malam sebelum perang, dan ia melihat Nabi SAW shalat semalaman hingga menjelang fajar. Ketika Khabbab bertanya tentang shalat yang sangat panjangitu, Nabi SAW menjawab, “Itu adalah shalat yang penuh harapan dan ketakutan, aku berdoa kepada Allah dengan tiga permintaan, dua dikabulkan dan satu lagi dicegahNya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah umatku Engkau binasakan sampai habis karena kelaparan, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, Janganlah umatku engkau binasakan sampai habis karena serangan musuh, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah terjadi perpecahan danperselisihan di antara umatku, maka Dia mencegah doaku ini.”

Kisah Sahabat#Rubayyi Binti Mu’awwidz Ra

Rubayyi Binti Mu’awwidz Ra

Rubayyi binti Mu’awwidz RA adalah salah seorang Anshar, yang telah memeluk Islam sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah, ketika Islam didakwahkan oleh utusan Nabi SAW, Mush’ab bin Umair. Ia sering ikut dalam berbagai pertempuran, tugasnya adalah membantu mengobati mujahid yang terluka dan pingsan. Ayahnya, Mu’awidz bin Afra berperan aktif atas terbunuhnya Abu Jahal di perang Badar, tetapi akhirnya menjadi syahid di perang tersebut. Pernikahannya sendiri dihadiri oleh Rasulullah SAW.

Suatu ketika beberapa orang wanita berkumpul di rumahnya, dan seperti biasanya, mereka saling menceritakan nasab dan keadaan mereka. Ketika mereka tahu, Rubayyi adalah putri dari Mu’awwidz bin Afra, pahlawan Badar yang menewaskan Abu Jahal, Asma binti Abu Bakar berkata, “Oh, jadi engkau adalah putri dari seseorang yang membunuh pemimpinnya..!”

Maksud Asma mungkin adalah suatu kekaguman, karena Abu Jahal adalah pemimpin Quraisy yang sangat ditakuti, dan ayah Rubayyi mampu membunuhnya. Tetapi menurut Rubayyi, tidaklah patut untuk menganggap pemimpin, orang-orang yang memusuhi Islam dan menyakiti pemeluk-pemeluk Islam. Karena itu, ia berkata, “Saya bukanlah anak pembunuh pemimpinnya, tetapi saya adalah anak dari seorang yang membunuh hamba sahaya.”

Ternyata Asma tidak terima dengan pernyataan Rubayyi, bahwa Abu Jahal seorang hamba. Sebagai orang Quraisy, ia tetap menghargai kebangsawanan dan tidak menyamakannya dengan hamba. Didasari oleh rasa tersinggung, ia berkata, “Aku haramkan menjual minyak wangi kepadamu…!”

“Sayapun haram membeli minyak wangi darimu,” Kata Rubayyi membalas ucapan Asma.

Memang, kebanggaan akan sesuatu tidaklah baik, bahkan ‘membanggakan’ keislaman dan keimanan. Bukan kebanggaan yang harus dilakukan, tetapi rasa syukur dengan jalan terus meningkatkan amalan-amalan shalihah.

Ketika Rasulullah SAW menganjurkan para sahabatnya untuk berpuasa (sunnah) pada tanggal 10 Muharam atau hari Asyura, Rubayyi selalu berpuasa pada hari tersebut dan mengajak anak-anaknya untuk berpuasa walaupun mereka masih kecil. Apabila mereka menangis karena lapar, ia menghiburnya dan mengajaknya bermain sehingga mereka terdiam, dan bersabar hingga menunggu waktu berbuka.

Kisah Sahabat#Shafiyyah Binti Abdul Muthalib Ra

Shafiyyah Binti Abdul Muthalib Ra

Shafiyyah binti Abdul Muthalib RA adalah bibi Nabi SAW, saudara kandung Hamzah RA. Walau tergolong wanita yang berusia lanjut, ia tak ingin tertinggal dalam jihad ketika ada kesempatan. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan dalam perang Uhud, beberapa orang yang akan melarikan diri dari medanpertempuran diancamnyadengan mengacungkan dan melemparkan tombaknya, sehingga mereka kembali ke medan pertempuran.

Dalam perang Khandaq, Nabi SAW mengumpulkan seluruh kaum wanita dalam suatu benteng, dan menunjuk Hassan bin Tsabit, yang masih sangat muda (dalam riwayat lain, urat tangannya putus hingga tak mampu mengayun senjata) untuk menjaga mereka. Hal ini diketahui oleh orang-orang Yahudi yang menjadi musuh dalam selimut di peperangan ini. Mereka berniat menyerang wanita-wanita muslim ini, saat para kaum lelaki mengalami serangan musuh dari luar, kaum kafir Quraisy dan sekutu-sekutunya.

Mereka mengirim seorang mata-mata untuk menyelidiki keadaan dalam benteng. Shafiyah melihat kehadiran mata-mata ini dan berkata kepada Hassan, “Hai Hassan, ada seorang mata-mata Yahudi akan memasuki benteng kita, keluarlah kamu dan bunuhlah dia, agar ia tidak mengetahui keadaan kita.”

Hasan bin Tsabit tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaannya. Demi keselamatan kaum muslimat, Shafiyah memutuskan untuk melakukannya sendiri. Ia mengambil patok (pasak) kemah, dan mendekati mata-mata Yahudi itu, lalu memukul kepalanya hingga tewas. Setelah itu ia menemui Hassan dan berkata, “Hai Hassan, aku telah membunuhnya, karena ia bukan muhrim saya, pergilah engkau mengambil hartanya, lepaskan pakaiannya dan penggallah lehernya!”

Sekali lagi Hassan tidak bersedia karena keadaannya, sehingga Shafiyyah sendiri melucuti sendiri barang-barang dan pakaian orang Yahudi tersebut. Ia memotong kepalanya dan menggelindingkannya ke luar benteng, sehingga orang-orang Yahudi yang bersiap menyerang benteng, berkesimpulan, “Kita sudah menduga, Muhammad tidak akan meninggalkan wanita-wanita itu sendirian. Di sana pasti ada lelaki yang ditugaskan menjaganya.”

Demikianlah, karena keberanian Shafiyyah, benteng itu selamat dari serangan kaum Yahudi, padahal ketika itu usia Shafiyyah telah mencapai 58 tahun.

Kisah Sahabat#Lelaki Berkulit Hitam

Lelaki Berkulit Hitam

Seorang lelaki yang telah memeluk Islam, datang menemui Nabi SAW yang sedang dalam suatu peperangan. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku hanya seorang lelaki berkulit hitam yang berwajah jelek, dan aku tidak mempunyai harta. Seandainya aku memerangi mereka (kaum musyrikin) sampai aku terbunuh, apakah aku akan masuk surga?”

“Ya,” Kata Nabi SAW dengan tegas.

Lelaki itu menerjunkan diri ke dalam pertempuran, berperang dengan perkasa sehingga akhirnya menemui syahidnya. Nabi SAW mendekati jenazahnya dan berkata, “Sungguh Allah telah mempertampan wajahmu, mengharumkan baumu dan memperbanyak hartamu…”

Sesaat kemudian beliau bersabda lagi, “Sungguh aku telah melihat dua istrinya dari jenis bidadari, yang bulat dan indah matanya, saling berebut menarik jubahnya, kemudian keduanya masuk di antara jubah dan kulitnya…”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai