Kisah Sahabat#Umair Bin Wahb Al Jumahi Ra

Umair Bin Wahb Al Jumahi Ra

Umair bin Wahb al Jumahi adalah salah seorang pahlawan dan ahli peperangan kafir Quraisy, karena kepiawaiannya ia sering disebut sebagai ‘Setan Quraisy’ pada masa jahiliahnya. Pada perang Badar, ia menjadi salah satu komandan pasukan, dan sempat memperingatkan Abu Jahal, komandan pasukan tertinggi saat itu untuk mundur saja, tetapi sarannya diabaikan. Tetapi setelah kekalahan kaum kafir Quraisy di perang tersebut, jiwa kepahlawanan Umair seakan terusik. Karena itu ia sempat sesumbar untuk membunuh Rasulullah SAW. Hanya karena keadaannya yang miskin, banyaknya hutang, dan kewajibannya menanggung kehidupan keluarga, membuatnya terhalang melaksanakan niatnya itu. 

Mendengar perkataan Umair tersebut, Shafwan bin Umayyah, yang ayahnya tewas di perang Badr, yaitu Umayyah bin Khalaf, bekas tuan dari budak Bilal bin Rabbah, melakukan pertemuan rahasia dengan Umair bin Wahb di suatu tempat sepi di dekat sebuah batu besar. Ia memberikan penawaran kepada Umair bin Wahb untuk membalaskan dendam membunuh Rasulullah SAW, di mana perjalanannya ke Madinah akan dibiayai, hutang-hutangnya dilunasi dan kehidupan keluarganya akan dijamin. Umair bin Wahb setuju dengan penawaran itu.

Umair bin Wahb berangkat ke Madinah dengan pedang terhunus. Sesampainya di Madinah, Umar bin Khaththab melihat kedatangannya dan melaporkannya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, musuh Allah Umair bin Wahb datang, ijinkanlah saya membunuhnya!!”

Nabi SAW melarang Umar bertindak apapun, namun demikian ia sendiri yang menyambut Umair dan sambil berpesan kepada orang-orang Anshar, “Waspadalah terhadap lelaki keji ini, bawalah dia kepada Rasulullah SAW…!”

Sesampainya di hadapan Nabi SAW, beliau langsung bersabda, “Wahai Umair, untuk apa engkau kemari ?”

Umair mencoba mengelabui Nabi SAW dengan mengatakan, bahwa kedatangannya untuk menebus tawanan yang ditahan pasukan muslim di perang Badar. Soal pedangnya yang terhunus dikatakannya hanya karena lupa saat turun dari kendaraannya tadi. Tetapi Nabi SAW terus mendesak, dengan bersabda, “Jujurlah, apa yang membawamu kemari ?”

Saat Umair bertahan dengan alasannya soal tawanan itu, Rasulullah SAW bersabda,”Lalu apa yang dijanjikan Shafwan bin Umayyah di dekat batu itu ?”

Umair bin Wahb terkejut, dan berkata, “Ia tidak menjanjikan sesuatupun.”

Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah engkau menyanggupi untuk membunuhku, dengan imbalan ia akan membayar hutang-hutangmu dan menjamin kehidupan keluargamu? Namun Allah pasti akan mencegah niatmu itu.”

Umair berkata seakan tak percaya, “Demi Allah, saat itu tidak ada orang lain selain aku dan Shafwan, sungguh benar apa yang engkau katakan. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.”

Rasulullah SAW sangat gembira dengan keislamannya tersebut, dan berkata pada para sahabatnya, “Ajarilah saudaramu ini Al Qur’an dan lepaskanlah tawanan yang ia inginkan.”

Sementara di Makkah, Shafwan bin Umayyah telah menggembar-gemborkan rencananya itu pada penduduk Makkah dan selalu menanyakan kepada orang-orang yang datang atau lewat dari Madinah. Tetapi ia jadi kecewa ketika kabar yang didengarnya bukan tentang terbunuhnya Rasulullah SAW tetapi justru masuk islamnya Umair bin Wahb.

Saat kembali ke Makkah, Umair justru menjadi pendakwah dan tidak ada orang kafir Quraisy yang berani menghalanginya. Setelah beberapa waktu lamanya tinggal di Makkah, iaberhijrah ke Madinah bersama banyak sekali orang Quraisy yang telah masuk Islam karena ajakannya.

Setelah peristiwa Fathul Makkah, Umair bin Wahb-lah yang mengajak Shafwan bin Umayyah kembali ke Makkah setelah dia akan melarikan diri ke Yaman. Sedikit banyak Umair merasa bahwa keislamannya tidak lepas dari peran sahabatnya itu, walau saat itu dengan niat yang salah. Ia ingin Shafwan merasakan kenikmatan di dalam Islam, sebagaimana ia telah merasakannya. Dan akhirnya sahabatnya itu memeluk Islam setelah selesainya Perang Hunain.

Kisah Sahabat#Bujair Bin Zuhair Ra & Ka’ab Bin Zuhair Ra

Bujair Bin Zuhair Ra Dan Ka’ab Bin Zuhair Ra

Bujair bin Zuhair dan Ka’ab bin Zuhair bin Abi Sulma al Muzanni adalah dua bersaudara, mereka berangkat ke Madinah untuk menemui Nabi SAW. Ketika sampai di al Azzaf, sumber air Bani Asad, Bujair menyuruh Ka’ab menunggu di suatu peternakan di tempat itu sementara ia akan menemui Nabi SAW. Setelah bertemu dengan Nabi SAW dan mendengar risalah yang beliau bawa, Bujair langsung memeluk Islam.

Berita keislaman Bujair ternyata telah sampai kepada Ka’ab sebelum Bujair sendiri menyampaikannya. Ka’abmarah sekali karena saudaranya itu berpindah agama. Ia adalah seorang penyair, karena itu ia menyusun suatu syair sebagai ekspresi kemarahannya, dan menganggap Rasulullah SAW sebagai penyebabnya. Isi syair tersebut cukup melukai perasaan Nabi SAW, sehingga ketika mendengarnya, beliaupun menghalalkan darah Ka’ab. Artinya, para sahabat yang bertemu dengannya, diijinkan untuk membunuhnya.

Bujair yang masih tinggal bersama Rasulullah SAW untuk memperdalam keislamannya, segera saja menulis suratkepada Ka’ab tentang perintah beliau itu, akhirnya ia berkata dalam suratnya, “Selamatkanlah dirimu, tetapi aku tidak menganjurkan engkau untuk melarikan diri…”

Beberapa waktu kemudian Bujair menulis suratlagi kepada Ka’ab. Kali ini ia menceritakan tentang Islam, kemudian di akhir suratnya ia berkata, “Tidak seorangpun menemui Nabi SAW kemudian ia bersyahadat memeluk Islam, melainkan persaksiannya itu akan diterima oleh beliau. Karena itu, setelah menerima suratini, terimalah Islam dan masuklah ke dalam Islam.”

Ka’abpun memenuhi saran saudaranya. Ia menunggangi kendaraannya menuju Madinah, menambatkannya di luar masjid dan masuk ke dalam mendekati Nabi SAW. Ketika itu Nabi SAW dan sahabat-sahabatnya dalam suatu kumpulan dengan hidangan yang tersedia. Setelah berhadapan, Ka’ab mengucap salam dan menyatakan keislaman dengan bersyahadat, kemudian memohon perlindungan keselamatan atas dirinya, tanpa memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.

Nabi SAW menerima persaksian keislamannya dan memenuhi permintaannya, kemudian beliau bersabda, “Siapakah dirimu ini?”.

“Saya adalah Ka’ab bin Zuhair.” Kata Ka’ab.

Nabi SAW tersenyum melihat ‘siasat’ yang dilakukannya, dan beliau berkata, “Engkau yang mengatakan dalam syair……” Kemudian Nabi SAW meminta Abu Bakar untuk membaca syair tersebut.

Ka’ab membenarkan, tetapi juga meralat adanya bagian yang dirubah sehingga terkesan sangat meremehkan Nabi SAW. Sekali lagi Ka’ab meminta maaf kepada Nabi SAW, kemudian melantunkan syair lain yang isi memuji dan menyanjung Nabi SAW dan agama Islam, sehingga Nabi SAW menjadi senang.

Dua orang bersaudara ini bersama kembali, kali ini untuk memperdalam dan memperbaiki keislamannya, di sisi manusia terbaik, Rasulullah SAW.

Kisah Sahabat#Qais Bin Sala’ Ra

Qa’is Bin Sala’ Ra

Qa’is bin Sala’ adalah seorang sahabat Anshar. Saudara-saudaranya pernah mengadukan kepada Rasulullah SAW bahwa ia telah memubazirkan hartanya dan bermewah-mewah dengannya. Waktu Nabi SAW mempertanyakan masalah itu, Qa’is bin Sala’berkata, “Wahai Rasulullah SAW, aku mengambil bagianku dari buah kurma dan menafkahkannya di jalan Allah, dan kepada orang yang menemaniku.”

Mungkin karena setelah menafkahkannya itu, harta bagiannya dari kurma itu menjadi habis, saudara-saudaranya mengadukan sikapnya itu kepada Rasulullah SAW. Tetapi justru beliau menepuk dadanya, dan berkata kepadanya sampai tiga kali, “Nafkahkanlah, maka Allah akan menafkahimu.”

Pada suatu kesempatan Qa’is berjuang di jalan Allah, ia menunggangi unta yang kuat dengan perbekalan yang sangat banyak. Dan hari itu, ia yang paling banyak dan paling mudah berinfak daripada anggota keluarganya yang lain.

Kisah Sahabat#Samurah Bin Jundub Ra

Samurah Bin Jundub Ra

Samurah bin Jundub RA masih belum dewasa ketika terjadi perang Uhud. Ia bersama beberapa anak lainnyayang mempunyai semangat juang tinggi untuk membela panji keislaman, dikeluarkan dari barisan pasukan perangUhud oleh Nabi SAW karena belum cukup umur. Tetapi salah seorang di antaranya, Rafi bin Khadij, karena permintaan ayahnya dibolehkan oleh Nabi SAW ikut karena ia mempunyai keahlian memanah, dan menunjukkan kemampuannya di hadapan beliau.

Melihat dibolehkannya Rafi ikut bertempur, Samurah berkata kepada ayah tirinya, Murrah bin Sinan RA, “Wahai ayah, Rafi dibolehkan ikut berperang sementara saya tidak. Padahal saya lebih kuat daripada Rafi. Kalau diadu tanding, pasti saya dapat mengalahkan Rafi..” Melihat semangat yang begitu menggebu dari anaknya ini, Murrah menyampaikan hal ini pada Nabi SAW, beliaupun mengadakan adu kekuatan antara Rafi dan Samurah, dan ternyata Samurah memenangkannya, sehingga iapun dbolehkan ikut serta dalam pertempuran di Uhud itu. Ketika itu Samurah berusia 15 tahun, sama seperti Rafi.

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Abdullah Bin Ubay Ra

Abdullah Bin Abdullah Bin Ubay Ra

Abdullah bin Abdullah bin Ubay adalah anak dari tokoh munafik, Abdullah bin Ubay, yang memeluk Islam dan menjadi salah satu sahabat pilihan yang shalih. Sebelum kedatangan Nabi SAW ke Madinah, ayahnya, Abdullah bin Ubay hampir diangkat jadi raja Madinah, kemudian gagal karena kebanyakan penduduknya memeluk Islam dan menjadikan Nabi SAW sebagai tokoh sentralnya, karena itulah ia begitu membenci Nabi SAW walau pada lahirnya ia beragama Islam juga.

Ketika Rasulullah SAW mendengar pimpinan Banu Musthaliq, Al Harits bin Abu Dhirar menghimpun pasukan untuk memerangi kaum muslimin, Beliau menyusun pasukan dan segera berangkat ke tempat Banu Musthaliq. Dalam pasukan yang dipimpin sendiri oleh Nabi ini ikut juga sekelompok kaum munafik, termasuk pimpinannya, Abdullah bin Ubay.

Setelah pertempuran usai dan dalam perjalanan kembali ke Madinah, Abdullah bin Ubay berkata pada kelompoknya, “Jika kita kembali ke Madinah, orang-orang yang terhormat akan mengusir orang-orang yang terhina.”

Ucapan “terhina” ini dimaksudkan pada Nabi SAW dan sahabat Muhajirin yang terusir dari Makkah. Ketika kabar ini sampai kepada Nabi SAW lewat sahabat Zaid bin Arqam, Umar bin Khaththab meminta Nabi menyuruh Abbad bin Bisyr untuk membunuh tokoh munafik tersebut. Tetapi Abdullah bin Ubay mengingkari kalau telah mengatakan itu, sehingga terjadi suasana yang tegang dan penuh prasangka, sampai akhirnya turun ayat yang membenarkan Zaid bin Arqam.

Melihat perkembangan situasi tersebut, Abdullah bin Abdullah bin Ubay mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, jika engkau menginginkan ayahku dibunuh, perintahkanlah aku untuk membunuhnya! Karena kalau orang lain yang engkau perintahkan membunuh, aku khawatir aku tidak bisa bersabar untuk tidak menuntut balas atas kematiannya, yang karenanya aku akan masuk neraka. Semua orang Anshar tahu, aku adalah orang yang berbakti pada orang tuaku.”

Rasulullah SAW menjawab, “Baiklah, berbaktilah kepada orang tuamu, ia tidak melihat darimu kecuali kebaikan.”

Tahulah Abdullah bahwa Rasulullah memaafkan ayahnya. Namun demikian, sebagai wujud kecintaan yang lebih besar kepada Allah dan Rasul-Nya daripada orang tuanya, Abdullah menghadang dengan pedang terhunus, dan melarang ayahnya masuk kota Madinah, kecuali jika Nabi SAW telah mengijinkannya. Ketika mencoba memaksa, Abdullah menyerangnya dengan pedangnya itu sehingga ia mundur kembali. Dengan terpaksa ia mengirim utusan untuk meminta ijin Rasulullah SAW bagi tokoh munafik tersebut memasuki kota Madinah.

Bagaimanapun juga, Abdullah adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ayahnya, dan itu telah lama terbentuk sebelum Islam memasuki kota Madinah. Anak tetaplah anak, dan ketika ayahnya tersebut meninggal, kesedihan merasuki hatinya. Ia tahu bahwa orang tuanya itu mungkin hanya pantas berada di neraka, namun demikian ia ingin menunjukkan bakti terakhirnya. Ia datang kepada Nabi SAW meminta baju gamis beliau untuk mengkafani jenazahnya, dan beliau mengabulkannya. Sekali lagi ia datang kepada beliau untuk menyalatkan jenazahnya, dan beliau mengabulkannya, walau Umar sempat memprotes keras. Tetapi setelah itu turun ayat 84 dari surat at Taubah, yang melarang beliau untuk menyalati jenazah orang munafik dan berdiri di atas kuburan mereka.

Kisah Sahabat#Basyir Bin Sa’id Ra

Basyir Bin Sa’id Ra

Basyir bin Sa’id atau Abu Athiyah adalah salah seorang sahabat Anshar. Suatu ketika ia sedang bekerja menggali parit beserta sahabat-sahabat lainnya, sebagai benteng pertahanan kotaMadinah, karena adanya rencana serangan besar-besaran dari pasukan Quraisy yang bersekutu dengan pasukan suku Ghathafan. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh umat Islam dalam keprihatinan, karena secara umum sebenarnya mereka dalam keadaan kekurangan bahan makanan. Tetapi itu memang satu-satunya cara yang mungkin untuk mempertahankan Madinah dari serangan musuh yang jumlahnya sangat besar.

Saat istirahat di siang harinya, istri Basyir, Amrah binti Rawahah memanggil anak perempuannya untuk mengantarkan segenggam kurma pada bapaknya tersebut. Kurma itu dibungkusnya dengan ujung kain bajunya, dan ia mulai berjalan berkeliling mencari ayahnya. Ketika ia melewati Rasulullah SAW, beliau memanggilnya dan bertanya, “Kemarilah Nak, apa yang kau bawa itu?”

Anak perempuan itu menjawab, “Aku diutus oleh ibuku mengantarkan segenggam kurma ini untuk ayahku, Basyir bin Sa’id.”

Nabi SAW memanggilnya, dan meminta ia untuk meletakkan kurma itu pada telapak tangan Nabi SAW. Putri Basyir ini melaksanakan perintah beliau itu, dan ternyata tidak memenuhi tangan beliau. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan seorang sahabat untuk membentangkan kain, dan beliau meletakkan segenggam kurma di atasnya. Kemudian beliau berkata kepada sahabat tadi, “Panggillah para pekerja khandaq untuk menyantap makan siang kiriman istri Basyir bin Sa’id.”

Putri Basyir yang masih berdiri tak jauh dari situ tampak tidak mengerti, tetapi sahabat tersebut kemudian berteriak keras, “Wahai pekerja khandaq, berkumpullah di sini untuk menyantap makan siang kiriman istri Basyir bin Sa’id!!” Berkumpullah para pekerja khandaq di sekeliling kain tersebut, termasuk Basyir sendiri, dan mulai menyantap kurma dengan lahap. Yang sungguh ajaib, kurma terus bertambah banyak ketika orang-orang mengambilnya. Ketika semua orang telah merasa kenyang, kurma itu masih tersisa cukup banyak di pinggir kain.

Kisah Sahabat#Abdullah Bin Unais Ra

Abdullah Bin Unais Ra

Suatu ketika Nabi SAW memanggil Abdullah bin Unais dan berkata, “Aku memperoleh kabar bahwa Khalid bin Sufyan bin Nubayh al Hudzali telah mengumpulkan banyak oranguntuk menyerangku. Sekarang ini ia ada di Uranah (suatu tempat dekat Arafah), pergilah engkau ke sana untuk membunuhnya.”

Abdullah bin Unais berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepada saya ciri-cirinya agar saya bisa mengenalinya!!”

Tetapi Nabi SAW tidak menjelaskan ciri-ciri fisiknya, beliau hanya berkata, “Apabila kamu melihatnya, kamu akan menggigil karenanya..!”

Bisa dibayangkan, bagaimana dengan melihatnya saja bisa menggigil, itu artinya Khalid bin Sufyan ini seorang yang sangat berwibawa, malah mungkin menakutkan. Tetapi Rasulullah SAW telah memberikan tugas ini kepadanya dan bukan kepada sahabat lainnya, tentunya dengan pertimbangan dan doa, bahwa ia bisa melakukannya. Tanpa banyak pertanyaan lagi, ia segera berangkat menuju Uranah, dengan menyandang pedang di pinggangnya. Sambil berjalan, otaknya terus berputar menyusun rencana dan strategi, bagaimana caranya membunuh musuh Allah dan Rasulullah SAW tersebut

Ibnu Unais sampai di Uranah pada waktu ashar, dan ia melihat seorang lelaki yang dikelilingi beberapa wanita. Memang benar perkataan Nabi SAW, begitu melihatnya ia merasa benar-benar menggigil, tetapi sama sekali tidak ada ketakutan di hatinya. Tiba-tiba ia sadar kalau harus shalat ashar, dan tidak mungkin ia membuka jati dirinya sebagai seorang muslim dengan melakukan shalat, karena sudah dalam jarak pandang Khalid. Ia berijtihad melakukan shalat sambil berjalan, ruku dan sujud dilakukan dengan isyarat kepala.

Ketika sampai di hadapannya, Khalid bertanya, “Siapakah engkau ini?”

Ibnu Unais berkata, “Aku hanyalah seorang lelaki Arab biasa, tetapi kudengar engkau sedang mengumpulkan orang banyak untuk membunuh lelaki itu (yakni Nabi SAW), aku datang untuk membantu usahamu itu, kalau diijinkan.”

Khalid sangat senang mendengar ucapan Ibnu Unais tersebut, “Silakan bergabung, aku memang telah merencanakannya.”

Ibnu Unais bergabung dan berbincang-bincang dengan Khalid sambil terus berjalan bersama. Begitu ahlinya Ibnu Unais ‘berakting’ sehingga dalam beberapa saat saja mereka berdua tampak sangat akrab layaknya seorang sahabat lama. Sampai suatu ketika ada kesempatan seperti yang direncanakannya, dan ia segera memancung Khalid hingga terbunuh seketika tanpa sedikitpun perlawanan. Parawanita yang mengikutinya menangis dan Ibnu Unais meninggalkannya begitu saja.

Ketika Abdullah bin Unais tiba di hadapan Nabi SAW, beliau langsung berkata, “Inilah wajah yang telah mendapat kemenangan!!”

“Aku telah membunuhnya, wahai Rasulullah!” Kata Ibnu Unais.

Beliau sangat gembira dengan hasil kerjanya itu, dan mendoakannya dengan kebaikan, dan para sahabat lain juga memberi ucapan selamat kepadanya. Kemudian Nabi SAW bangkit dan mengajaknya masuk ke dalam rumah dan beliau memberinya sebatang tongkat. Beliau berpesan agar ia menyimpan tongkat itu dengan sebaik-baiknya.

Ibnu Unais keluar menemui orang banyak, dan mereka menanyakan tentang tongkat tersebut. Ia hanya menjawab kalau Nabi SAW yang memberikannya dan memintanya untukmenyimpannya dengan baik. Mereka berkata, “Mengapa engkau tidak kembali kepada Rasulullah SAW dan menanyakan kegunaan tongkat tersebut?”

Suatu saran yang masuk akal, maka Ibnu Unais mengikuti saran tersebut, dan ia kembali menemui Nabi SAW dan menanyakan tentang tongkat tersebut. Beliau bersabda, “Ini adalah sebagai tanda antara diriku dan kamu pada hari kiamat, karena pada hari itu sedikit sekali orang yang datang dengan membawa amal salih.”

Ia keluar lagi dan menyampaikan penjelasan Rasulullah SAW tersebut. Mereka berkata, “Sungguh beruntung engkau ini, ya Ibnu Unais!!” Sejak saat itu, Abdullah bin Unais tidak pernah berpisah dengan tongkat dari Nabi SAW tersebut, dan ia menyatukannya dengan pedangnya, yang selalu menyertainya dalam berbagai perjuangan jihad di jalan Allah. Ketika hampir meninggal, ia mewasiatkan agar tongkat tersebut juga ikut dikafani bersama jenazahnya.

Kisah Sahabat#Amr Bin Salamah Ra

Amr Bin Salamah Ra

Amr bin Salamah RA tinggal di suatu daerah yang sering dilalui orang-orang yang akan ke Madinah atau kembali dari kotaitu. Ia masih anak-anak ketika orang-orang menceritakan tentang Nabi SAW dan wahyu-wahyu yang beliau terima. Ternyata Allah memberikan kelebihan kepada Amr kemampuan untuk menghafal, sehingga dari pembicaraan tersebut ia bisa menghafal beberapa ayat-ayat Al Qur’an, walaupun ia belum memeluk Islam.

Setelah Fathul Makkah, Amr dan ayahnya serta beberapa orang dari kaumnya segera memeluk Islam, mereka belajar tentang syariat dan peribadatan dalam Islam. Ketika tiba masalah shalat jamaah, dicarilah imam, yakni yang paling banyak dan baik hafalan Al Qur’annya. Dan ternyata Amr bin Salamah yang terpilih, karena ia telah banyak mengetahui dan menghafal Al Qur’an sebelumnya. Padahal ia yang paling muda saat itu.

Kisah Sahabat#Dzil Jausyan Adh Dhibabi Ra

Dzil Jausyan Adh Dhibabi Ra

Dzil Jausyan Adh Dhibabi adalah seorang penunggang kuda terbaik dari kalangan Bani Amir. Ia mempunyaiseekor kuda terbaik bernama Al Qarha yang cukup terkenal. Ia belum masuk Islam, tetapi ia menghargai keberadaan Nabi SAW di Madinah. Setelah selesai Perang Badr, iamenunggangi kuda keturunan Al Qarha, untuk diberikan kepada Nabi SAW sebagai hadiah dan penghargaannya.

Tetapi Nabi SAW tidak mau menerimanya begitu saja, kecuali jika menukarnya dengan baju-baju besi pilihan yang berasal dari ghanimah Perang Badr.Dzil Jausyan tidak mau dengan tukar-menukar itu, karena niatnya sejak awal memang untuk dihadiahkan tanpa pengganti, bahkan seandainya ditukar dengan yang lebih berharga seperti budak, ia tetap tidak bersedia. Sebaliknya Rasulullah SAW pun tidak bersedia karena memang tidak memerlukannya.

Nabi SAW menyerunya masuk Islam sehingga ia akan menjadi orang-orang yang pertama dalam Islam (As Sabiqunal Awwalun). Tetapi seruan Nabi SAW belum diterimanya, dengan alasan kaum beliau sendiri masih menyakiti dan menghasut untuk tidak mengikuti agama Islam. Bahkan kekalahan kaum Qureisy di Badr belum bisa meyakinkannya, ia berkata, “Aku akan masuk Islam jika engkau dapat menaklukan Ka’bah dan mendudukinya.”

Maka Nabi SAW bersabda, “Semoga engkau masih hidup saat itu, dan engkau bisa menyaksikan peristiwa itu.”

Rasulullah SAW memerintahkan Bilal untuk mengambilkan sekarung kurma terbaik sebagai perbekalan, saat Dzul Jausyan akan kembali ke kabilahnya. Beliau juga memujinya sebagai penunggang kuda terbaik dari kalangan Bani Amir.

Waktupun berlalu, seseorang membawa kabar ke kabilah Bani Amir kalau Nabi SAW telah menaklukan Mekkah dan mendudukinya, Dzul Jausyan berseru, “Celaka, ibuku kehilangan diriku (ungkapan penyesalan orang-orang Arab), seandainya aku memeluk Islam saat itu, dan meminta darinya sepetak tanah dari Hiirah, pasti beliau akan memberikannya.”

Begitulah, sesuai janjinya kepada Rasullullah SAW, Dzul Jausyan akhirnya memeluk Islam.

Kisah Sahabat#Dzakwan Bin Abdul Qais Ra

Dzakwan Bin Abdul Qais Ra

Dzakwan bin Abdul Qais RA berasal dari Bani Zuraiq dari suku Khazraj. Ia merupakan salah satu dari 12 sahabat Anshar yang mengikuti Ba’iatul Aqabah yang pertama.Malam sebelum terjadinya perang Uhud, Rasulullah SAW mengatur penjagaan, untuk menghindari kemungkinan penyerangan di waktu malam. Setelah menunjuk 50 orang sahabat untuk menjaga keseluruhan pasukan, beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang bersedia menjagaku?”

Salah seorang sahabat berdiri, dan beliau bersabda, “Siapakah engkau?”

“Nama saya Dzakwan.” Kata lelaki yang berdiri itu.

Nabi SAW menyuruhnya duduk kembali, kemudian beliau bertanya lagi, “Siapa lagi yang bersedia menjagaku?”

Salah seorang sahabat berdiri, dan beliaupun bersabda, “Siapakah engkau?

“Nama saya Abu Saba!” Kata lelaki itu.

Nabi SAW menyuruhnya duduk kembali, kemudian beliau lagi bertanya seperti itu. Kali inipun seseorang berdiri, dan beliau bertanya lagi seperti tadi, “Siapakah engkau?”

“Nama saya Ibnu Abdul Qais.”

Nabi SAW memerintahkan tiga orang itu untuk menghadap di tenda beliau. Tetapi ternyata hanya satu orang saja yang hadir, beliaupun bertanya, “Dimana dua orang temanmu tadi?”

“Wahai Rasulullah SAW,” Kata orang itu, “Saya-lah orangnya yang berdiri sampai tiga kali itu. Saya ini Abu Saba’, Dzakwan bin Abdul Qais”

Rasulullah SAW pun tersenyum dan mendoakannya dengan kebaikan, dan memerintahkan dirinya untuk menjaga beliau. Jadilah dia begadang semalaman untuk menjaga tenda Rasulullah SAW sendirian.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai